Selasa, 27 Oktober 2026

A Dog Called Money: Tentang Keberhasilan-Keberhasilan Kecil yang Sering Kita Lupakan




Saya selalu merasa bahwa salah satu cara paling menyenangkan untuk mempelajari sesuatu adalah melalui cerita. Bahkan untuk topik yang biasanya membuat dahi berkerut, seperti keuangan dan investasi. Dan rupanya Bodo Schäfer memahami hal itu.

Melalui A Dog Called Money, penulis dan motivator keuangan asal Jerman ini mengajarkan dasar-dasar pengelolaan keuangan lewat persahabatan seorang anak perempuan bernama Kira dengan seekor anjing Labrador yang bisa berbicara. Ya, anjing yang bisa berbicara. Dan bukan sembarang anjing, karena ia ternyata jauh lebih pandai mengelola uang daripada kebanyakan manusia dewasa.Kira menemukan anjing tersebut dalam keadaan terluka, kemudian merawat dan memberinya nama Money. Dari anjing inilah Kira mulai belajar tentang uang, bagaimana mengelolanya, menabung, berinvestasi, hingga merencanakan masa depan.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana, bahkan menurut saya sangat cocok dibaca anak-anak yang baru mulai mengenal konsep keuangan, atau dibaca bersama mereka. Tetapi jangan salah, orang dewasa pun rasanya masih perlu belajar banyak hal dari Money. Terutama mereka yang setiap awal bulan berjanji akan lebih hemat, tetapi entah bagaimana selalu menemukan alasan untuk berbelanja.

Saya tidak sedang menyindir siapa-siapa. Tentu saja.

Ada banyak pelajaran dalam buku ini. Kira diajak menuliskan hal-hal yang benar-benar ia inginkan dan mengubahnya menjadi tujuan yang jelas, bukan sekadar angan-angan. Ia juga belajar membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta membangun kebiasaan mengelola uang sejak dini.

Salah satu gagasan yang paling mudah diingat adalah "angsa bertelur emas": sebagian uang yang disisihkan dan tidak boleh dibelanjakan, agar bisa terus "bertelur" dalam bentuk bunga atau hasil investasi. Perumpamaan yang sederhana, tetapi cukup kuat untuk menjelaskan konsep yang sering terdengar rumit bagi anak-anak, bahkan bagi sebagian orang dewasa.

Meskipun demikian, saya tidak sepenuhnya sepakat jika keberhasilan finansial dipandang terutama sebagai persoalan pola pikir dan kemauan individu. Kenyataannya, tidak semua orang memulai kehidupan dari titik yang sama. Ada persoalan penghasilan, kesempatan, tanggungan keluarga, dan keadaan ekonomi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menabung lebih rajin atau berpikir lebih positif. Tetapi ada satu gagasan dalam buku ini yang tetap membekas bagi saya, dan justru tidak secara langsung berhubungan dengan uang.

Menulis jurnal keberhasilan setiap hari.

Money mengajarkan Kira untuk mencatat hal-hal yang berhasil dilakukannya. Bukan hanya pencapaian besar, tetapi juga keberhasilan-keberhasilan kecil yang mungkin terasa terlalu remeh untuk dituliskan. Awalnya saya bertanya-tanya, apa hubungannya menulis keberhasilan dengan menjadi pandai mengelola uang?. Tetapi setelah dipikirkan, gagasan ini ternyata cukup masuk akal.

Kita sering kali begitu mudah mengingat kegagalan sendiri. Satu pekerjaan yang tidak selesai bisa membuat kita merasa tidak produktif seharian. Satu kesalahan kecil bisa terus teringat sampai berhari-hari. Sementara sepuluh pekerjaan lain yang berhasil diselesaikan justru dianggap biasa saja. Seolah-olah keberhasilan baru layak disebut keberhasilan kalau cukup besar untuk membuat orang lain terkesan. Padahal siapa yang membuat aturan seperti itu?

Dalam psikologi, Albert Bandura memperkenalkan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan yang diperlukan guna mencapai hasil tertentu. Salah satu sumber penting pembentukan self-efficacy adalah mastery experiences, pengalaman ketika seseorang berhasil melakukan sesuatu melalui usahanya sendiri. Pengalaman keberhasilan dapat membantu membangun keyakinan bahwa kita mampu menghadapi tantangan berikutnya.

Di sinilah saya mulai melihat hubungannya dengan uang. Orang yang yakin pada kemampuannya cenderung lebih berani mengambil langkah: mulai menabung secara teratur, belajar berinvestasi, meminta kenaikan gaji, atau merintis usaha kecil. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya "memang tidak bisa mengatur uang" sering kali berhenti bahkan sebelum mencoba. Dan pengalaman keberhasilan itu tidak harus selalu berupa pencapaian spektakuler.


Saya jadi teringat betapa senangnya saya ketika berhasil membuat sebuah dashboard dengan memanfaatkan berbagai fungsi Excel dan Google Sheets. Mengubah deretan angka yang membingungkan menjadi grafik warna-warni yang menarik hati ternyata memberikan kepuasan tersendiri.

Padahal cuma grafik!

Perasaannya kurang lebih sama dengan ketika berhasil mencoba resep masakan baru dan melihat anak-anak makan dengan lahap. Atau ketika akhirnya menamatkan sebuah buku tebal yang sudah lama menunggu di rak. Hal-hal sederhana yang mungkin tidak akan dianggap sebagai pencapaian oleh siapa pun, tetapi tetap membutuhkan usaha. Dan mengapa tidak boleh disebut keberhasilan?

Saya kemudian teringat pada penelitian Teresa Amabile dan Steven Kramer dalam The Progress Principle(2011). Melalui penelitian terhadap pengalaman sehari-hari para pekerja, mereka menemukan bahwa kemajuan dalam pekerjaan yang bermakna, bahkan kemajuan kecil sekalipun, berkaitan dengan motivasi dan pengalaman emosional yang lebih positif.

Barangkali kita memang tidak selalu membutuhkan pencapaian besar untuk merasa mampu. Kadang, menyadari bahwa hari ini kita berhasil melakukan sesuatu yang kemarin belum bisa kita lakukan sudah cukup untuk memberikan sedikit tambahan keyakinan pada diri sendiri.

Tentu saja, penelitian tersebut tidak secara langsung membuktikan bahwa menulis jurnal keberhasilan setiap hari akan membuat seseorang lebih sukses. Tetapi setidaknya ada alasan psikologis yang masuk akal mengapa kebiasaan mencatat kemajuan kecil layak dicoba.

Saya juga sempat berpikir, apakah jurnal keberhasilan ini sama dengan jurnal bersyukur yang belakangan cukup popular.  Rupanya keduanya memiliki penekanan yang berbeda. Dalam jurnal bersyukur, kita diajak memperhatikan hal-hal baik yang kita alami atau terima. Sementara dalam jurnal keberhasilan, perhatian diarahkan pada sesuatu yang berhasil kita lakukan. Misalnya, saya bisa bersyukur karena anak-anak menikmati masakan saya. Tetapi saya juga bisa mengakui bahwa saya berhasil mencoba resep baru, meskipun sebelumnya khawatir hasilnya tidak enak. Yang pertama adalah rasa syukur. Yang kedua adalah pengakuan terhadap usaha dan kemampuan diri sendiri. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Hanya saja, saya merasa jurnal keberhasilan menawarkan sesuatu yang selama ini mungkin kurang saya lakukan: memberikan pengakuan kepada diri sendiri. Sebab kita sering kali lebih murah hati memberikan pujian kepada orang lain daripada kepada diri sendiri.

Ketika teman berhasil menyelesaikan pendidikan, mendapat pekerjaan baru, atau mempelajari keterampilan tertentu, kita dengan mudah mengatakan bahwa mereka hebat. Tetapi ketika berhasil melakukan sesuatu, kita justru menganggapnya biasa.

Ah, cuma begitu.

Ah, orang lain juga bisa.

Ah, masih banyak yang lebih hebat.

Lalu kapan kita merasa cukup berhasil untuk mengakui usaha sendiri?

Saya rasa di sinilah kebiasaan menulis jurnal keberhasilan menjadi berharga. Bukan untuk membuktikan bahwa setiap hari kita harus produktif atau selalu mencapai sesuatu. Apalagi menjadikan hidup sebagai perlombaan mengumpulkan pencapaian. Justru sebaliknya. Kita diajak memperluas pengertian tentang keberhasilan, termasuk dengan mengakui usaha-usaha kecil yang selama ini luput dari perhatian.

Saya juga tidak lupa pada keberatan saya sebelumnya. Jurnal keberhasilan tidak akan menaikkan gaji, melunasi utang, atau mengubah keadaan ekonomi yang memang sulit. Tetapi justru karena ada begitu banyak hal yang berada di luar kendali kita, rasanya penting untuk tetap menghargai bagian kecil yang masih bisa kita usahakan. 

Tentu ada hari ketika semua rencana berantakan. Ada pekerjaan yang tidak selesai, kesalahan yang terlanjur dibuat, atau persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Dan saya tidak merasa kita perlu memaksakan diri mencari sisi positif dari semuanya. Tidak semua hari harus menyenangkan. Tidak semua kegagalan harus segera ditemukan hikmahnya.

Tetapi juga tidak adil jika kita begitu rajin mengingat semua yang salah, sementara hal-hal yang berhasil justru berlalu tanpa pernah dihitung. Maka, dari sekian banyak pelajaran yang ditawarkan A Dog Called Money, kebiasaan menulis jurnal keberhasilan inilah yang paling ingin saya coba.

Mungkin saya akan menuliskan keberhasilan memahami satu rumus Excel yang sebelumnya terasa rumit. Menyelesaikan pekerjaan yang sudah lama tertunda. Berhasil memasak sesuatu yang baru. Atau memberanikan diri melakukan hal yang selama ini saya hindari. Hal-hal yang barangkali tidak akan mengubah dunia, tetapi tetap menjadi bagian dari perjalanan saya. Dan kalau suatu hari tidak ada keberhasilan yang ingin saya tuliskan, ya sudah. Tidak perlu mengarang pencapaian hanya agar halaman jurnal tidak kosong. Saya tidak ingin mengubah kebiasaan baik menjadi tuntutan baru yang melelahkan.

Pada akhirnya, saya menyukai A Dog Called Money bukan semata-mata karena buku ini mengajarkan cara mengelola uang. Saya menyukainya karena melalui cerita sederhana tentang seorang anak perempuan dan anjingnya, saya diingatkan bahwa rasa percaya terhadap kemampuan diri bisa dibangun sedikit demi sedikit. Bukan melalui keyakinan kosong bahwa kita pasti berhasil, melainkan melalui pengalaman nyata bahwa kita pernah mencoba, belajar, dan menyelesaikan sesuatu.

Suatu hari nanti, ketika sedang merasa tidak cukup pintar atau tidak cukup mampu, saya ingin bisa membuka kembali halaman-halaman jurnal itu. Bukan untuk menyangkal kegagalan yang pernah terjadi, melainkan untuk mengingat bahwa kegagalan bukan satu-satunya cerita tentang diri saya.

Barangkali selama ini saya tidak kekurangan alasan untuk merasa bangga pada diri sendiri. Saya hanya terlalu jarang berhenti sejenak untuk menyadarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A Dog Called Money: Tentang Keberhasilan-Keberhasilan Kecil yang Sering Kita Lupakan

Saya selalu merasa bahwa salah satu cara paling menyenangkan untuk mempelajari sesuatu adalah melalui cerita. Bahkan untuk topik yang biasan...