Rabu, 26 Maret 2014

Memoirs of A Geisha




Buku MEMOIRS OF A GEISHA-nya Arthur Golden, sudah membuat saya terpesona sejak halaman pertama. Karena tak terlalu suka nonton, saya baru ngeh kemudian bahwa buku ini sempat difilmkan dengan judul yang sama, dimana di film tersebut Zang Zi Yi berperan sebagai Sayuri, tokoh utamanya.




Buku ini bercerita tentang perjuangan seorang gadis kecil bernama Chiyo, anak seorang nelayan miskin dari daerah kumuh Yoroido, yang "dijual" oleh Tuan Tanaka (yang semula dianggap sahabat oleh Chiyo), ke okiya Nitta di Kyoto.

Okiya adalah sebutan untuk rumah-rumah geisha, dimana di rumah tersebut ada geisha yang bertugas sebagai pencari nafkah bagi okiya-nya, dan seorang pemilik yang disebut "Ibu", yang lebih berperan sebagai manajer keuangan.

Tugas "Ibu" ini termasuk mencari bibit-bibit baru yang akan dijadikan geisha selanjutnya. Bibit baru ini biasanya didatangkan dari daerah-daerah miskin, gadis-gadis sebatang kara yang dinilai memiliki bakat atau kelebihan tertentu. Gadis-gadis kecil tersebut biasanya dibeli dengan sejumlah uang, dan yang lucu harga yang dibayarkan oleh "Ibu" untuk membeli si gadis akan menjadi utang yang harus dibayar oleh gadis tersebut setelah menjadi geisha. Utang tersebut akan terus bertambah jumlahnya seiring dengan membengkaknya biaya yang dihabiskan si gadis untuk biaya sekolah, makan, pakaian dan obat-obatan jika sakit.

Jika si gadis tersebut gagal dalam proses menjadi geisha, maka ia harus menjadi pelayan seumur hidup di okiya tersebut. Dan jika ia berhasil, ia harus berusaha keras agar semua utangnya pada okiya lunas sehingga ia bisa bebas untuk pergi dari okiya, tak jarang ini membuat seorang geisha tak bisa keluar dari okiya yang membesarkannya sampai ia tua dan mati, meskipun ada beberapa geisha terkenal yang pada usia tertentu sudah sanggup membayar lunas utangnya dengan penghasilannya yang tinggi sehingga "Ibu" mengadopsinya menjadi anak yang berarti okiya tersebut menjadi miliknya juga.

Dalam kasus Chiyo, ia dijual berdua dengan Satsu, kakaknya, sayangnya Satsu yang dalam penilaian "Ibu" kalah cantik dari Chiyo, dijual ke jorou-ya, rumah pelacuran. Sementara Chiyo, dengan mata abu-abunya yang cemerlang dinilai menarik sehingga layak untuk mendapat pendidikan menjadi geisha. Sayangnya Hatsumomo, geisha terkenal yang menjadi seniornya di okiya Nitta menyadari kelebihan Chiyo sehingga sejak hari pertamanya di okiya, ia selalu mempersulit Chiyo, dengan cara-cara kotor yang menjijikkan.

Pendidikan Chiyo tengah berjalan beberapa bulan saat suatu hari Hatsumomo memberinya celah yang membuatnya mencoba melarikan diri dengan Satsu, sayangnya meski Satsu berhasil lolos, Chiyo tertangkap dan sebagai hukumannya ia diberhentikan dari pendidikan geishanya dan hanya menjadi pelayan.

Selama hampir dua tahun, ia hanya menjalankan tugas-tugas sebagai pelayan, sampai suatu hari ia tersedu dengan keadaan putus asa di pinggir sungai setelah ditekan secara mental oleh Hatsumomo, tiba-tiba saja seorang pria yang dipanggil Ketua menghampirinya dan menghiburnya. Pertemuan ini ternyata membuat semangat Chiyo untuk menjadi geisha bangkit kembali, ia menetapkan tujuannya untuk menjadi geisha agar suatu hari bisa bertemu lagi dengan Ketua yang misterius tersebut.

Gayung bersambut, karena kamudian Mameha, geisha terkenal lain yang menjadi saingan Hatsumomo mendatangi "Ibu" dan menyatakan kesediaannnya untuk menjadi kakak bagi Chiyo. Dalam dunia geisha memang dikenal istilah kakak-adik, dimana geisha yang senior akan mengangkat seorang adik melalui upacara dan membimbing si adik untuk menjadi geisha yang terkenal, dan tentu saja si senior akan mendapat keuntungan dari penghasilan adiknya.

Karena Mameha yang meminta, Ibu yang pada awalnya tak mempedulikan Chiyo akhirnya merubah sikapnya dan mau untuk kembali membiayai pendidikan geisha Chiyo. Menyaingi Mameha yang mengangkat Chiyo, Hatsumomo pun mengangkat Labu menjadi adiknya. Chiyo dan Labu digembleng dengan keras oleh kedua senior yang sedang bersaing itu, meskipun pada akhirnya terbukti -setelah berhasil mengatasi semua tipu muslihat keji dan kelicikan Hatsumomo- Chiyolah yang lebih sukses.

Dengan nama geisha-nya: "Sayuri", ia bahkan memecahkan rekor tertinggi dalam pelelangan mizuage-nya (mizuage bisa diartikan sebagai keperawanan) dengan harga 11.500 yen. Bayangkan nilainya jika saat itu honor seorang geisha dibayar per-ohana. Zaman dulu setiap kali seorang geisha tiba di pesta, pengelola rumah minum menyalakan sebatang dupa setiap satu jam, yang disebut satu ohana atau 'bunga', banyaknya honor yang diterima didasarkan pada berapa batang dupa yang telah terbakar. Harga sebatang ohana ditentukan oleh Kantor Pendaftaran (semacam perserikatan), kala itu nilainya untuk geisha-biasa 3 yen per jam. Tetapi untuk geisha yang sangat terkenal, mereka berani memasang tarif satu ohana per lima belas menit, bahkan perlima menit. Maka nilai mizuage Sayuri hampir setara dengan kerja setahun lebih.

Meskipun demikian ia belum sanggup membayar utangnya pada okiya, sebelum ia mendapat danna. Danna adalah sebutan bagi pria yang menjadi "suami" bagi geisha, suami ini hanya bersifat temporer, tapi ia akan menjadi sumber dana untuk pengeluaran geisha yang sangat besar. Geisha yang kaya biasanya mempunyai seorang danna yang royal di belakangnya, tak mungkin dari penghasilannya menghibur tamu setiap malam ia bisa menutupi kebutuhan hidupnya yang sangat tinggi.

Selain kosmetiknya, perlu untuk diketahui bahwa kimono yang digunakan oleh seorang geisha pun nilainya sangat mahal. Sebelum mempunyai penghasilan, biasanya calon geisha menggunakan kimono yang dimiliki dan menjadi aset okiya yang ditinggalinya. Kimono ini terdiri dari berlapis-lapis kain sutra tebal berikut obi yang sangat panjang berwarna mencolok. Obi yang dikenakan para geisha ternyata menjadi salah satu penanda identitas, mereka yang mengenakan obi dengan model lebih sederhana dan bisa dibuka dari depan biasanya bersedia untuk tidur dengan konsumennya, sementara mereka yang mengenakan obi yang panjang dan rumit dengan cara membuka dari belakang adalah geisha berkelas yang tidak menyalahi pengertian dari kata geisha itu sendiri (Geisha :芸者 "seniman") adalah seniman-penghibur (entertainer) tradisional jepang ).

Kimono para geisha ini biasanya sangat rendah di bagian tengkuk, karena tidak seperti di Barat yang menganggap kaki dan paha sebagai bagian erotis dari tubuh wanita, di Jepang tengkuk dianggap sebagai bagian yang paling menarik. Tengkuk para geisha biasanya digambar dengan pola yang jika menatapnya membuat kita merasa mengintip kulit dari balik jemari yang direnggangkan, dan konon efek rangsangan seksualnya bagi pria sangat luar biasa ^^.





Sayuri yang terbukti sedang naik daun ternyata memiliki banyak peminat untuk menjadi danna-nya. Salah satunya adalah Nobu salah satu pemilik Iwakamura Elektrik, yang kemudian baru diketahui bahwa ia adalah teman baik Ketua yang selama ini diimpikan oleh Sayuri, (bahkan menjadi satu-satunya alasan Sayuri menjadi geisha). Tak diragukan lagi, Nobu-san sangat menyayangi Sayuri, sayangnya situasi perang yang sedang menghadang Jepang membuat Mameha lebih memilih Jenderal Tottori sebagai danna untuk Sayuri.



Keberadaan danna ini ternyata sangat menguntungkan untuk sayuri, karena ini membuatnya diangkat sebagai anak adopsi oleh Ibu yang berarti Hatsumomo dan Labu tersingkir dari persaingan, selain itu saat perang mulai berdampak buruk bagi banyak orang Sayuri tetap hidup layak karena pelindungan dari jenderalnya.



Sayangnya saat pengeboman oleh Sekutu, Jepang harus mengakui kalah perang, sang jenderal dicopot dari posisinya dan Sayuri kehilangan semua fasilitas istimewanya. Gion dan distrik-distrik geisha lainnya ditutup dan para geisha harus menyelamatkan hidupnya masing-masing. Ada yang bekerja di pabrik, ataupun menjadi pelacur, dan kali ini Sayuri cukup beruntung berkat bantuan Nobu yang ternyata masih peduli padanya ia mendapat pekerjaan di keluarga Arashino yang awalnya pembuat kimono terkenal kini menjadi pembuat parasut untuk keperluan tentara.

Sayuri menjalani kehidupan yang sulit, tapi setidaknya ia masih bisa bertahan hidup sampai saat perang berakhir Nobu memintanya kembali untuk menjadi geisha. Ia mengemban misi penting kali ini, untuk berusaha menjadi geisha favorit bagi Menteri yang kepadanyalah bergantung nasib perusahaan Iwakamura. Sayuri menyadari jalannya untuk mendekati Ketua semakin sulit, tapi ia memenuhi permintaan tersebut untuk membalas budi Nobu yang menyayanginya dengan tulus.

Tempat minum teh, dan geisha yang berperan di dalamnya sedikit banyak ikut andil dalam banyak keputusan politik penting di Jepang, karena tak bisa disangkal perbincangan politis, maupun kesepakatan-kesepakatan tak resmi banyak dibicarakan disitu, dan geisha bisa menjadi salah satu penyebab berubahnya sebuah keputusan.

Setelah melewati masa yang berat akhirnya Iwakamura Elektrik mendapat kembali semua keberuntungannya, aset perusahaannya kembali meningkat, dan keuntungan mulai mengalir lagi. Kali ini Nobu mengajukan diri untuk menjadi danna-nya. Sayuri merasa terjebak, ia menyayangi Nobu tetapi tak ingin menjadikannya sebagai danna, bagaimana pun Sayuri masih mengharapkan cinta dari Ketua. Sayangnya dengan permintaan Nobu untuk menjadi danna-nya itu berarti tak mungkin baginya mendekati Ketua. Persahabatan Ketua dan Nobu sangat erat, maka Sayuri yakin Ketua tak akan melakukan hal yang melukai hati Nobu, apalagi menyangkut wanita yang dicintainya.

Setengah putus asa Sayuri mencari cara untuk membuat Nobu membencinya dan membatalkan diri jadi danna-nya, akhirnya ia melakukan hal yang terlarang bagi seorang geisha. Dalam suatu perjalanan yang melibatkan Ketua, Nobu, Menteri dan Labu, ia mengatur untuk berhubungan seksual dengan Menteri dan menyuruh Labu membawa Nobu untuk melihat apa yang tengah dilakukannya. Sayangnya Labu yang ternyata menyimpan dendam pada Sayuri malah membawa Ketua sehingga yang menjadi saksi perbuatan terlarangnya adalah Ketua, orang yang paling diinginkannya seumur hidupnya.

Tak terkirakan betapa putus asanya Sayuri. Tapi nasib ternyata masih berpihak padanya, Ketua yang melihat hal ini memang merasa benci pada Sayuri tapi melihat tatapan mata Sayuri ia mengingat tatapan gadis kecil yang dulu dilihatnya di tepi sungai, maka Ketua memaksa Labu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah mendapat cerita yang sebenarnya Ketua menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi, dan pada malam perjanjian Nobu menjadi danna Sayuri, Ketua datang menggantikan posisi Nobu. Dari perbincangan selanjutnya ternyata diketahui bahwa Ketua lah yang menyuruh Mameha mendatangi Ibu untuk menjadi kakak bagi Sayuri. Ketua-lah yang sebenarnya menciptakan banyak kesempatan untuk Sayuri menjadi geisha yang sukses seperti sekarang ini.

Yah begitulah, akhir ceritanya they are living happily ever after. Sayuri dan Ketua tinggal di Amerika, dan dengan bantuan seorang akuntan Sayuri bisa membereskan masalah keuangannya dengan Ibu, menjadi manusia merdeka bahkan mendapat uang bagiannya . Sayuri membuka rumah minum tehnya sendiri di Amerika, dan menjadi istri simpanan Ketua sampai Ketua meninggal dunia.

Dan kesimpulan akhir dari posting saya kali ini adalah : you have to read this book!.


Terima kasih ^^



*)Gambar saya ambil dari:
 http://en.wikipedia.org/wiki/Memoirs_of_a_Geisha_(film) dan http://www.fbphoto.ca/geisha-and-maiko-of-gion/


RONGGENG DUKUH PARUK, Trilogi dari Ahmad Tohari



 
Akhirnya buku ini tamat juga dibaca dengan segenap perasaan. Meski getir dan hanya getir yang terasa saat kututup lembaran terakhirnya. Ada detil sebuah desa yang begitu melarat di sudut kepalaku, efek dari penggambaran sang pengarang yang dengan sempurna meninggalkan kesan seperti-membaca-sebuah-lukisan di bukunya. Ada juga perih yang entah kenapa hadir saat terpikir olehku, kadang takdir mempermainkan seseorang dengan begitu rupa.

Tapi salah siapa, jika Srintil kecil yang baru sebelas tahun, seorang gadis yatim piatu miskin tiba-tiba saja diklaim telah dihinggapi indang ronggeng. Ia menyelamatkan Dukuh Paruk dari kehilangan tradisi, karena ronggeng dalam perspektif Dukuh Paruk, adalah sebuah dunia yang ada karena suatu alasan, jagat ronggeng adalah jagat perempuan dalam semesta hubungan lelaki dan perempuan. Mengabaikan nilai-nilai normatif, karena sebaliknya, menjadi ronggeng adalah sebuah kehormatan. Penerus tradisi warisan Ki Secamenggala, leluhur semua warga Dukuh Paruk yang telah menjelma menjadi dewa, pusat dunia kecil mereka, desa terpencil yang luar biasa miskin, terbelakang, dan naif. Dan ronggeng adalah satu-satunya hal yang membuat eksistensi mereka diakui di dunia luar.

Buku ini bercerita dalam kacamata Rasus, pria muda teman sepermainan Srintil yang juga sama-sama yatim piatu. Tak seperti warga Dukuh Paruk lain yang bangga dengan bakat meronggeng dalam diri Srintil, Rasus justru sebaliknya, ia ingin Srintil tak pernah menjadi ronggeng. Kehilangan ibu di usia belia membuatnya mencitrakan sosok ibu dalam diri Srintil. Dan ia tak terima jika citra ibunya ternyata bisa tidur dengan siapa saja yang sanggup membayar. Tapi Srintil kecil tampaknya senang menjadi ronggeng, ia menerima semua perhatian yang memang wajar ia terima karena kecantikannya. Meskipun demikian, pada malam bukak klambu, semacam pelelangan keperawanan sang ronggeng, Srintil dengan suka rela menyerahkan keperawanannya kepada Rasus. Tubuh seorang ronggeng adalah milik semua orang, tetapi jika seorang ronggeng boleh jatuh cinta, sudah jelas kepada siapa hati Srintil diberikan. Meski demikian Rasus tetap merasa Dukuh Paruk merenggut orang yang dicintainya, karena setelah malam bukak klambu dilakukan, Srintil resmi menjadi ronggeng yang boleh menjadi gendak dengan menarik bayaran. Dan setelah malam itu, Rasus meninggalkan dukuhnya dengan hati yang mendendam.

Alkisah kemudian, setelah perjalanan yang panjang Rasus menjadi tentara, ia bahkan sempat pulang ke kampungnya untuk menumpas segerombolan perampok, sempat tidur dengan Srintil (tanpa dipungut bayaran tentunya), bahkan Srintil sempat mengutarakan kesediaannya untuk dinikahi Rasus, tapi Rasus sadar benar, seorang ronggeng tak mungkin menikah, maka ditinggalkannya Srintil dengan hati yang berkeping-keping.

Proses kelahiran Srintil menjadi ronggeng diceritakan pada buku pertama trilogi ini, Surat Buat Emak, dan buku yang kedua: Lintang Kemukus Dini Hari, memotret masa-masa suram Indonesia saat terjadi kerusuhan politik tahun 1965. Seorang komunis bernama Bakar muncul di Dukuh Paruk. Citranya yang sangat tipikal komunis digambarkan dengan lugas oleh Ahmad Tohari: dingin, tanpa gairah syahwat, sangat menentang klenik dan kepalanya hanya diisi dengan teori merebut kembali hak rakyat dan meruntuhkan kaum borjuis. Dengan segala keterbelakangannya, warga Dukuh Paruk tak menyadari bahwa Bakar telah membuat pertunjukan ronggeng Srintil menjadi alat propaganda bagi partai komunis yang diusungnya.

Dan ketika partai komunis tersebut gagal mengambil alih tampuk kekuasaan, Dukuh Paruk yang sudah dicap sebagai antek mereka harus menerima hukuman atas ketidaktahuannya. Lintang kemukus adalah musibah. Desa tersebut dibakar dengan Srintil dan beberapa orang lainnya ditangkap dan dipenjarakan tanpa ada proses pengadilan yang jelas. Ahmad Tohari seolah membenarkan sejarah, bahwa benar di Indonesia telah terjadi pembantaian atas orang-orang yang dituduh PKI, ataupun yang memiliki keterkaitan sekecil apapun dengan PKI.

Saat teman-temannya yang lain dipulangkan, Srintil malah ditahan lebih lama, hampir dua tahun ia menjadi tahanan. Satu-satunya alasan paling logis kenapa ia lebih lama menjadi tahanan adalah agar sang mayor dan pajabat tentara setempat bebas membawanya kapan saja. Dan saat kembali ke dukuhnya, Srintil sudah kadung menahan duka jiwa yang berlarat-larat, ia memutuskan berhenti menari, bahkan berhenti menjadi gendak bagi siapa pun. Ia hanya ingin menikah dan punya anak, meski sadar Nyai Kartareja dukun ronggengnya telah memijit rahimnya hingga kering meranggas, ia tak mungkin punya anak.

Dan penantiannya tak kunjung bersambut, satu-satunya calon suami yang dinantikannya bahkan hanya memberi kegamangan. Rasus, yang kini telah diangkat menjadi Prajurit Dua sebenarnya dilanda kebingungan yang sama. Ia seorang tentara, menikahi seorang bekas tahanan yang dicap komunis sama dengan ia harus siap meninggalkan pekerjaannya, mendapat cemoohan bahkan yang lebih buruk juga sama-sama mendapat cap merah. Lagi-lagi Rasus memilih melarikan diri keluar dari Dukuh Paruk.

Tinggallah lagi-lagi Srintil sendirian, menata hati dan harga dirinya, menyadari bahwa seorang bekas tahanan PKI ternyata tak layak mengangkat muka.

Dalam buku yang ketiga, Jantera Bianglala, Ahmad Tohari menggambarkan bagaimana efek dari kerusuhan politis itu terhadap psikologis sebuah desa. Desa yang sudah terpencil itu kian terpuruk, menyadari diri sebagai kawula dari pihak yang berkuasa, tapi tak merasakan kehadiran sang penguasa sebagai among saat mereka sedang dihancurkan. Tinggallah sisa-sisa Dukuh Paruk mencoba bangkit lagi, sendirian, dalam kemelaratan dan pengasingan oleh dunia luar. Toh mereka tetap hidup, meski tak lebih dari sekedar hidup. Derap kaki tentara menimbulkan trauma dalam diri setiap penduduk dewasa, menunjukkan seberapa dalam luka yang ditimbulkan oleh pergulatan kekuasaan yang sama sekali mereka buta tentangnya. Hanya terseret, tak lebih dari itu. Dukuh Paruk tetap melarat dan terbelakang, tapi kali ini lebih parah, identitas dan tradisi mereka dicabut dengan paksa.

Dan perlahan, saat derap pembangunan menunjukkan bunyinya di lahan luas pesawahan sekeliling Dukuh Paruk, perlahan keterpencilan mereka mencair, pria yang dewasa diajak menjadi kuli proyek, sedang yang wanita membuka warung. Dan para petinggi proyek lagi-lagi menyadari kecantikan Srintil yang terlalu menonjol di dukuh yang kumuh itu. Setelah beberapa orang gagal menjadikan Srintil sebagai gendaknya, maka Bajus (salah satu petinggi proyek) memilih mendekati Srintil dengan cara yang sopan. Selama 6 bulan kedekatan mereka, tak pernah sekalipun disentuhnya kulit Srintil, maka diam-diam Srintil pun menginginkan Bajus menikahinya.

Tapi lagi-lagi malapetaka, karena tujuan Bajus kemudian hanyalah mengumpankan Srintil kepada bosnya, agar Si Bos memberikan proyek yang diimpikan Bajus. Sogokan halus dengan Srintil sebagai pelicinnya. Tapi Srintil yang sudah ditinggalkan indang ronggengnya menolak dengan keras keinginan Bajus, kali ini ia begitu terpukul atas perlakuan Bajus, yang tidak terima penolakan Srintil dan memaki dengan kasar masa lalu Srintil sebagai antek PKI. Luka yang tak pernah sembuh itu berdarah kembali, detik itu juga Srintil kehilangan kesadarannya, menjadi gila dan tak mengenali siapa pun, bahkan Rasus yang kemudian pulang dan mendapati bahwa semuanya sudah terlambat.

Saat menutup lembaran buku ini, entah kenapa hati saya perih sekali. Kemiskinan dan keterbelakangan selalu menjadi masalah yang berlarat-larat di negeri ini. Di negeri yang kaya ini.

Dan kesimpulan akhir saya, novel Ahmad Tohari ini adalah novel yang kaya, konflik batin antar pelaku yang rumit, huru hara politis, kepunahan suatu tradisi, berikut penggambaran yang detil dan mengalir. Untuk para pecinta buku, trilogi ini sebuah mahakarya yang harus anda baca.

Terima kasih.



Note:
Pada novel cetakan terbaru dari Gramedia, ketiga seri dari trilogi ini dijadikan satu dalam sebuah buku, dan beberapa bagian yang selama 22 tahun dilarang cetak, ditampilkan kembali dengan utuh.

*gambar saya copy dari  http://id.wikipedia.org/wiki/Ronggeng_Dukuh_Paruk

Rabu, 19 Maret 2014

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

 Akhirnya selesai sudah step demi step yang harus dilakukan dalam rangka membuat sebuah blog. dan tak terlalu muluk, blog ini tidaklah dibuat untuk menjaring sebanyak mungkin visitor, karena tujuan awal pembuatan blog ini hanyalah untuk menyalurkan keinginan saya untuk menulis, tak kurang dan tak lebih.

Konon katanya, seperti halnya melukis, menulis pun merupakan sebuah media untuk penyembuhan jiwa. "Art Theraphy", begitu kata orang-orang yang sepakat bahwa menuangkan perasaan ke dalam sapuan warna warni di atas kanvas ataupun dalam bentuk struktur kalimat-kalimat tertulis bisa mengurai tekanan dan keruwetan dalam pikiran sehingga mampu menyembuhkan stress atau depresi.

Saya mungkin termasuk salah seorang yang percaya pada pendapat di atas.

Tetapi mengingat rekor "melukis" saya hanyalah menggambar sebuah gunung dengan jalan yang diapit dua buah sawah ketika SD dulu, maka saya memilih menulis alih-alih melukis sebagai art theraphy untuk jiwa saya. Bukan apa-apa, saya malah akan semakin tertekan ketika melihat hasil lukisan saya sendiri jika memang dipaksa harus melukis juga.

Sebenarnya hasil tulisan saya pun sama sekali tak bisa dibilang bagus. Tapi masih lumayanlah dibanding hasil lukisan saya. Dan mengingat hampir setengah tahun ini otak saya beku hingga tak sanggup menulis bahkan sebaris kalimat sekalipun, maka saya anggap ini kemajuan besar ketika tiba-tiba saya berminat untuk kembali mengetik sederet "kalimat-kalimat tak penting" di atas keyboard.

Isi blog ini ke depannya, mungkin hanya akan berupa catatan remeh temeh seputar kehidupan sehari-hari. Tapi semoga catatan remeh temeh ini bisa menjadi media untuk saya menyembuhkan diri sendiri, menjadi kepingan puzzle yang akan mengantarkan saya pada pencarian makna yang sesungguhnya. Hingga suatu hari nanti, saya bisa berkata pada diri saya sendiri, bahwa hidup yang saya miliki adalah hidup yang layak dijalani.


Kamis, 13 Maret 2014

Gelas Kaca


Bukan karena tak sayang, jika Nan (bukan nama sebenarnya), akhirnya memutuskan untuk menitipkan putra semata wayangnya yang baru kelas 4 SD pada ibunya. Tapi apalah daya, Nan hanya seorang janda tanpa penghasilan setelah bercerai 10 tahun yang lalu. Hingga ketika ada seorang duda beranak empat datang melamar, Nan menyambutnya. Sayangnya, kelakuan putra Nan yang produk “broken home”, membuat suami baru Nan jengah dan jengkel. Hingga Nan akhirnya diultimatum, tetap menjadi istrinya tapi sang anak tak boleh dibawa.

Apa boleh buat, malu terus menerus jadi beban keluarga, membuat Nan menyanggupi persyaratan itu. Demi sang suami, ia mengeraskan hatinya, mengurus empat anak tiri, dan menelantarkan putra sendiri. Nan sudah lelah tanpa penghasilan, tanpa tempat bersandar. Sebagai kompensasi, ia menyisihkan uang pemberian suaminya untuk diberikan pada sang anak. Sayang, jumlahnya jauh dari cukup hingga tetap saja, sang anak jadi beban si nenek. Keadaan lebih parah karena putranya yang kecewa merasa ditelantarkan dan kelakuannya pun semakin liar dan tak terkendali.

Sementara itu Nan yang lain datang padaku di suatu pagi sambil tersedu. Ditunjukkannya mata kiri yang lebam dan jari kaki yang tampak dibalut kain perban seadanya. Warna merahnya masih tampak, memberi gambaran tentang seberapa dalam luka dibaliknya. Sambil terisak, ia bercerita, suaminya marah-marah tadi malam, dan semua luka itu adalah jejak kemarahan suaminyaseketika hati ini bergolak, menyadari bahwa ini bukan lagi marah seorang suami, tapi penganiayaan. Dengan lantang saya memberinya satu solusi mutlak: lapor polisi, lalu minta cerai. Tapi betapa kagetnya saya karena perempuan itu malah terisak semakin keras dan menggeleng. “Anak-anak saya bagaimana?”.

Dan saya tersadar, Nan yang ini hanya seorang perempuan yang SD pun tak tamat, tak punya keahlian apa-apa. Suaminya yang tukang becak adalah pencari nafkah utama dalam keluarganya. Nan sudah tak punya ibu bapa. Saudara-saudaranya pun sudah lelah memperjuangkan hidup masing-masing, jangankan menolong Nan. Jika Nan meminta cerai, ia tak punya lagi bahkan sekedar tempat bernaung. Dan empat anaknya pun jadi masalah tersendiri. Maka Nan, menguatkan hatinya sendiri, kembali pada satu-satunya orang yang melindunginya sekaligus menyiksanya lahir batin.

.

Kedua kisah di atas bukan cerita sinetron, atau pun kisah fiktif yang saya karang- karang sendiri. Mereka ada, mereka nyata. Kisah-kisah pedih para perempuan yang termarjinalkan oleh sebuah lembaga bernama perkawinan. Sempat terpikir cerita-cerita seperti itu hanya dialami oleh kalangan bawah. Ternyata saya salah, karena saya kenal beberapa wanita yang juga terabaikan. Mereka adalah istri rekan-rekan suami saya di kantor. Dosen-dosen senior yang berpoligami. Keluarga mereka berada, tapi tetap saja sang istri tak mampu menuntut apa-apa ketika suaminya lebih mengutamakan istri muda. Ironis, karena para suami itu adalah dosen sebuah Perguruan Tinggi Islam yang saya yakin betul, tahu dan mengerti aturan berpoligami.

Tolong, jangan salah sangka dulu.

Saya bukan feminis. Saya tidak benci pria ataupun perkawinan itu sendiri. Saya juga tidak ingin mempermasalahkan kesetaraan gender ataupun emansipasi wanita. Saya hanya merasa terganggu dengan fakta di sekeliling saya, tentang para wanita yang tertindas, terabaikan dan terampas haknya oleh suaminya sendiri. Dan mereka tak bisa memerdekakan diri sendiri hanya karena satu alasan klasik: tak punya penghasilan sendiri.

Maka salahkah saya, jika berpikir setiap wanita itu harus mampu mencari uang sendiri. Karena dengan punya penghasilan sendiri, ia akan lebih mandiri dan tak akan menggantungkan hidupnya pada suami yang juga hanya manusia biasa, bisa berubah hatinya, bisa sakit dan dipisahkan oleh ajal.

Saya kenal beberapa orang yang mencibir karena saya ingin terus kuliah. Dengan alasan perempuan toh hanya akan berakhir di dapur-dapur juga, mereka berpendapat perempuan tak usah sekolah tinggi-tinggi. Sekilas pendapat itu ada benarnya. Tapi apakah mereka bisa menjamin setiap perempuan itu bisa menikah dengan laki-laki baik yang akan menjaganya seumur hidup. Keinginan setiap wanita memang begitu, tapi bukankah banyak kasus dimana suami justru malah jadi penyiksa paling kejam untuk makhluk lemah itu.

Tapi jika perempuan itu berpendidikan, ia akan lebih mampu melindungi dirinya sendiri, meneruskan kehidupan dengan normal, jika terpaksa tanpa suaminya sekalipun. Ia tak perlu jadi wanita lemah yang menggantungkan nasib sepenuhnya dan menyerahkan hitam putih hidupnya pada laki-laki.

Bagaimanapun juga, saya percaya, perempuan yang terpelajar akan lebih terhormat di mata suaminya.
Bukankah jadi perempuan itu sulit, mereka harus mempersembahkan kesetiaan tertinggi untuk suami dan keluarga, mereka dicerca ketika memilih berkarir, tetapi apa jaminan untuk mereka.

Adakah uang pensiun untuk para Ibu Rumah Tangga yang “dipecat” saat suaminya menemukan wanita lain yang lebih baik, seringnya mereka dipulangkan hanya bawa badan dan anak saja. Mending jika mereka masih punya orang tua yang akan melindungi, jika tidak...
Adakah hukum yang melindungi para janda yang tak mampu, sehingga mereka tak terdorong melakukan hal-hal negatif untuk mencari suami yang akan menafkahi, tak peduli dengan cara kotor sekalipun.

Adakah hukum yang menjamin para istri akan aman seumur hidupnya, saat mereka mengorbankan waktu, potensi dan cita-citanya untuk suami dan keluarganya.
Mungkin di negara ini belum...

Disadari atau tidak, wanita tetaplah masih jadi warga negara kelas dua. Mereka harus jadi istri dan ibu yang baik, dikecam ketika bekerja di luar, tapi tak ada jaminan untuknya sebagai ibu dan istri.
Saya jadi teringat cerita teman saya yang sekolah di Iran. Di negerinya Ahmadinejad ini, sedikit sekali ditemukan kasus poligami. Bukan karena dilarang oleh negara, tapi karena mahalnya mahar yang harus dibayar oleh seorang pria saat menikah (besar mahar rata-rata 500 juta jika dikonversi ke rupiah). Hingga tak jarang mahar itu menjadi utang seumur hidup suami pada istrinya. Jadi untuk menikahi satu orang wanita saja mahalnya minta ampun, bagaimana ingin menambah istri.

Teman saya ini pernah mencandai teman Irannya dengan mengatakan kebudayaan Iran mempersulit pernikahan yang seharusnya dimudahkan. Dengan enteng, si teman Iran ini menjawab, sistem pernikahan di negerinya melindungi dan menjamin hak wanita hingga jika bercerai sekalipun, si wanita masih punya bekal. Sementara sistem di Indonesia memang mempermudah pernikahan tapi membuat wanita tanpa jaminan apa-apa, jika terjadi perceraian.
Dan saya seolah diberi jawaban pada kerinduan-kerinduan saya.

Saya rindu pada aturan hukum yang mampu membuat setiap wanita menjadi sebaik-baik ibu tanpa harus mengkhawatirkan masa depannya sebagai istri dan ibu. Tapi saya juga rindu pada sistem yang mampu membuat setiap wanita itu “terjaga”, sehingga ia benar-benar layak untuk mahar yang sedemikian mahal dari suaminya.
Tapi sebelum kerinduan itu mencapai muaranya, saya tetap pada kesimpulan semula, setaat apa pun seorang istri pada suaminya ia tetap harus jadi perempuan mandiri.


Bandung, 26 Mei 2009

Salam

NNF

Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI

Judul Buku                 : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Penulis                         : Yusi Avianto Pareanom Penerbit         ...