Jumat, 30 Januari 2015

Sinopsis Film: THE IMITATION GAME



Sometimes it is the people who no one imagines anything of who do the things that no one can imagine.

Terkadang, justru orang yang tak dibayangkan yang melakukan hal-hal yang tak terbayangkan.






Tiga puluh lima ribu rupiah mungkin jumlah yang tak seberapa. Tapi jika dengan tiga puluh lima ribu rupiah kita bisa mendapatkan banyak hal seperti hiburan, bahan untuk berpikir dan merenung serta pengetahuan, maka saya yakin tiga puluh lima rupiah itu akan menjadi berarti. Dan tiga puluh lima ribu rupiah yang saya habiskan untuk menonton film ini memang berarti dan tak terbuang sia-sia. Film ini sudah memikat bahkan sejak opening yang bisa dibilang tak biasa.

Are you paying attention? Good. If you are not listening carefully, you will miss things. Important things. I will not pause, I will not repeat myself, and you will not interrupt me. You think that because you're sitting where you are, and I am sitting where I am, that you are in control of what is about to happen. You're mistaken. I am in control, because I know things that you do not know.

What I will need from you now is a commitment. You will listen closely, and you will not judge me until I am finished. If you cannot commit to this, then please leave the room. But if you choose to stay, remember you chose to be here. What happens from this moment forward is not my responsibility. It's yours. Pay attention.

Sebuah rumah porak poranda akibat upaya perampokan. Kepolisian mendapat laporan tentang perampokan tersebut justru dari tetangga korban. Sementara Alan Turing, sang pemilik rumah malah menanggapi kedatangan polisi yang berniat membantu dengan sikap menyebalkan dan menegaskan tak perlu ada penyelidikan lebih lanjut. Yang aneh tak ada barang yang hilang, maka penolakan Turing terhadap upaya penyelidikan malah membangkitkan kecurigaan Deteftif Nock. Instingnya mengatakan, Turing, profesor matematika yang mengajar di Cambridge ini menyembunyikan sesuatu. Ia pun mulai menyelidiki aktifitas Cambridge, dan kejutan lain ia temukan: catatan perang Alan Turing kosong. Ketiadaan catatan ini semakin mengukuhkan kecurigaan Nock. Dugaannya sementara: Turing adalah mata-mata Sovyet.

Dan waktu pun berjalan mundur.

Tahun 1941, saat pecah Perang Dunia Kedua, Turing mendaftar ke dalam tim khusus yang bertugas untuk memecahkan kode perang. Tim ini bekerja dengan kerahasiaan tingkat tinggi. Motivasi Turing hanya satu: kegemarannya memecahkan kode rahasia. Dan meskipun ia jenius di bidang matematika dan layak disebut sebagai salah satu ahli matematika terbaik di dunia hampir saja ia ditolak. Alasannya sederhana: Turing tak bisa bahasa Jerman. 

Seluruh argumen Turing tentang kode perang adalah urusan matematika yang tak perlu kemampuan berbahasa Jerman dengan keras kepala ditolak oleh Cdr. Alastair Denniston yang mewawancarainya. Saat hampir diusir, Turing mengucapkan satu kata sakti yang membuat Denniston berubah pikiran: Enigma, alat rahasia yang digunakan tentara Jerman untuk saling berkomunikasi. Semua komando penyerbuan, setiap serangan pengeboman maupun invasi tiba-tiba dikirim oleh Hitler ke tentara Nazi melalui Enigma. Bahasa sandi adalah bahasa yang umum digunakan dalam perang. Tapi sandi yang digunakan Enigma adalah yang paling rumit di dunia. Meskipun Inggris berhasil menyadap setiap pesan dari Enigma, tapi mereka tak pernah mampu menerjemahkan artinya. Ini berarti semua serangan tentara Jerman terjadi begitu saja tanpa bisa dihindari, dan dengan langkah perang yang tak terbaca Jerman berhasil menginvasi hampir seluruh Eropa. Maka untuk mengalahkan Jerman, kunci untuk menerjemahkan Enigma adalah syarat mutlak yang harus dikuasai. Sayangnya semua orang berpikir Enigma adalah mesin rumit yang mustahil dipecahkan. Tapi semakin rumit Enigma semakin Turing merasa tertantang.

Alan Turing
:
I like solving problems, Commander. And Enigma is the most difficult problem in the world.
Cmd Denniston
:
Enigma isn't difficult, it's impossible. The Americans, the Russians, the French, the Germans, everyone thinks Enigma is unbreakable.
Alan Turing
:
Good. Let me try and we'll know for sure, won't we?.


Turing akhirnya diterima. Tapi di luar dugaan, ternyata ia harus bekerja dalam tim. Padahal meskipun jenius dalam bidang matematika, kemampuan bersosialisasi Turing nyaris sempurna gagal. Dengan ketidakmampuannya memahami makna tersirat di balik suatu kalimat, dan sikap apa adanya yang tanpa basa basi, Turing menjadi anggota tim yang paling dibenci. Alih-alih membantu pekerjaan teman-teman satu timnya, Turing malah sibuk sendiri. Setiap hari, waktu kerjanya habis dengan kesibukannya merancang diagram-diagram dan sederet perhitungan, ia tengah membangun sebuah mesin dengan kemampuan di atas Enigma. Filosofinya sederhana: Enigma adalah sebuah mesin yang diciptakan dengan sangat baik. Dan untuk mengalahkan sebuah mesin diperlukan mesin lain yang lebih baik.

Sayangnya sikap Turing yang dianggap menyebalkan membuat teman-teman timnya mengajukan keluhan kepada Denniston dan Turing hampir dipecat. Tak kehabisan akal, Turing mengirim surat langsung kepada Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris.  Di luar dugaan, bukan hanya tak mengizinkan Turing keluar dari tim, Churchill bahkan memberikan perntah untuk menjadikan Turing sebagai kepala tim.

Dengan kewenangannya yang baru, Turing meminta biaya 100.000 poundsterling untuk biaya membuat mesinnya dan kemudian memecat dua orang anggota tim. Ia menyeleksi anggota tim yang baru dengan sebuah teka teki silang sebagai ujian. Tak disangka yang lolos ujian adalah seorang wanita muda bernama Joan Clarke.

Joan tak hanya menjadi satu-satunya perempuan yang menjadi anggota tim dengan kemampuan yang bahkan membuat kagum Turing, tapi ia pun membawa angin segar kepada seluruh tim. Ia menasihati Turing tentang bagaimana harus bersikap kepada anggota timnya yang lain. Tujuannya sederhana: Turing memerlukan semua bantuan yang tersedia untuk dapat memecahkan Enigma. Dan anggota timnya tak akan tergerak untuk membantu jika mereka tak menyukai Turing.

Adalah upaya yang sangat mengharukan, ketika Turing pada suatu pagi membagikan apel kepada semua temannya dan kemudian mencoba menceritakan sebuah lelucon (yang pasti sudah dihapalkannya terlebih dahulu) dengan gaya khasnya yang kaku dan canggung. Lelucon yang disampaikan dengan gaya orang membaca buku teks ini memang bisa dibilang gagal memancing tawa, tetapi teman-temannya kini mulai melihat Turing dengan cara yang berbeda. Bantuan yang dibutuhkannya mulai berdatangan, meski lagi-lagi Joan yang harus mengajarinya mengucapkan terima kasih.

Akhirnya mesin ciptaannya selesai dan mulai dioperasikan. Tapi sayang, belum juga menunjukkan hasil yang diinginkan. Denniston yang tak menyukai Turing menjadikan ketidakberhasilan ini sebagai alasan untuk dapat memecat Turing. Beruntung teman-teman setimnya datang membantu, menjadi martir untuk Turing sehingga tak mungkin Denniston memecat Turing tanpa memecat semua anggota timnya yang lain, yang meskipun tak sejenius Turing tapi tetap merupakan yang terbaik dalam bidangnya masing-masing di Inggris.

Maka Denniston memberikan waktu satu bulan untuk Turing menunjukkan bahwa mesin mahal ciptaannya mampu beroperasi menafsirkan Enigma. Sampai disini Turing menemui jalan buntu. Christopher (nama mesin ciptaan Turing) telah terus bekerja, tapi tak juga berhasil. Christopher sama tersesatnya dengan Turing, tak tahu apa yang harus dicari. Seiring berjalannya waktu, kesabaran anggota timnya pun mulai semakin menipis.

Bahkan Joan pun berniat mengundurkan diri meski dengan alasan yang berbeda, usianya sudah 25 tahun dan orang tuanya memaksa Joan untuk segera menikah. Tak ingin ditinggalkan Joan, Turing pun memutuskan untuk melamar Joan dan keduanya pun bertunangan. Padahal ada rahasia besar yang disembunyikan Turing, bahwa dirinya sebenarnya adalah seorang homoseksual. Tak diragukan lagi kepedulian Turing terhadap Joan, tapi tetap saja Turing tidak mencintai Joan seperti pria normal mencintai wanita pada umumnya.

Saat pesta pertunangan mereka, Turing berbagi keresahan ini dengan Cairncross. Tak disangka Turing malah disarankan untuk menyimpan rahasia ini. Di tengah pesta, Helen teman Joan melakukan aksi “flirting” dengan Hugh. Tanpa sengaja, Helen menceritakan rekan sepekerjaannya di radio yang ternyata orang Jerman dan selalu mengirimkan pesan dengan kode awal CILLY. Hal ini menarik minat Turing, karena sepengetahuan Turing orang Jerman memiliki aturan untuk memulai pesan dengan lima huruf random. Fakta ini seketika menyadarkan Turing pada satu mata rantai penting dalam pesan-pesan yang dikirim Enigma. Semua pesan pasti selalu berupa laporan cuaca yang diakhiri oleh kalimat “Heil Hitler” (Salam Hitler). Berdasarkan fakta ini, Christoper bisa mempersempit pencariannya hanya pada rangkaian huruf yang sering muncul.

Adegan ketika tiba-tiba Turing mendapat ilham bisa dibilang adegan yang sangat seru dan komikal. Ia tiba-tiba saja meninggalkan pesta dan berlari kencang menuju tempat kerjanya, tanpa sempat menunjukkan kartu identitas kepada penjaga. Joan dan teman-teman setimnya yang lain pontang panting mengejar Turing dan memperlihatkan kartu identitas kepada penjaga dengan hiruk pikuk dan tergopoh-gopoh. Sementara itu Turing yang telah sampai di ruang kerja terlebih dulu bersikap tak kalah hebohnya, ia mencari-cari arsip pesan yang disadap dari Enigma kemudian berlari kepada Christopher dan mulai mengeset ulang. Semua orang antusias sekaligus tegang. Dan saat Christopher berhenti berbunyi, Turing segera mencatat huruf-huruf yang ditunjukkan Christopher.

Eureka.

Isi pesannya adalah koordinat tempat yang akan diserang oleh tentara Nazi, bukan lagi racauan tak penting tentang cuaca yang cerah. Mereka berhasil memecahkan kode Enigma. Dan semua orang seketika larut dalam euforia keberhasilan. Turing menangis penuh emosi sementara teman-teman setimnya yang lain memeluknya satu persatu.

Tapi ternyata setelah mereka mampu memecahkan Enigma pun masalah tak lantas selesai begitu saja. Saat mereka tengah menerjemahkan serangkaian pesan Enigma yang lain, Joan menemukan bahwa serangan berikutnya akan ditujukan terhadap konvoi yang akan berlangsung beberapa menit lagi. Hugh langsung mengambil telepon untuk lapor pada Denniston. Tapi Turing lagi-lagi bertindak dengan alur pikiran yang tak dimengerti semua orang. Ia merebut telepon dari Hugh dan memutus sambungan telepon hingga Hugh menonjoknya sampai berdarah. Turing menyeka hidungnya yang berdarah dan memulai penjelasnnya pada Hugh dengan kalimat:

Kamu tahu kenapa orang-orang sangat menyukai kekerasan?, karena kekerasan itu menyenangkan. Manusia menemukan bahwa kekerasan itu sangatlah memuaskan. Tapi hilangkan kepuasan itu, maka aksi kekerasan itu akan menjadi…kosong.”

Dan mulailah argumentasi Turing: jika konvoi yang sudah direncanakan jauh-jauh hari ini tiba-tiba saja dibatalkan, tidakkah itu malah akan memancing kecurigaan Jerman bahwa Enigma sudah dipecahkan. Jika Jerman sampai curiga bagaimana jika mereka mengubah lagi setelan Enigma dan akan sia-sialah pekerjaan yang sudah dikerjakan selama dua tahun untuk memecahkan Enigma.

Semua mengakui argument Turing sangatlah benar. Maka ketika Peter yang kakaknya mengikuti konvoi tersebut memohon kebijaksanaan Turing untuk memberitahu Denniston, keputusan Turing tak berubah: Peter harus merelakan kakaknya dibantai.

Perang memang tak pernah menyenangkan.

Turing kemudian menemui Menzies, memintanya menyimpan rahasia tentang Enigma, dan melakukan politik tingkat tinggi dengan memunculkan gosip dari sumber lain, agar ketika ada serangan Jerman yang bisa dicegah, Nazi tak akan curiga bahwa Enigma telah dipecahkan.

Dan perang pun terus berlanjut. Ada beberapa serangan yang dibiarkan terjadi, dan beberapa lagi yang bisa dicegah. Tapi selalu dengan perhitungan statistik dimana jumlah optimum yang tak akan memancing kecurigaan Jerman. Dan dengan cara tersebut, Inggris menang perang.

Semua anggota tim kembali pada kehidupan masing-masing. Turing pun kembali pada kesendiriannya. Ia memutuskan pertunangannya dengan Joan, beberapa saat setelah Enigma berhasil dipecahkan. Alasan sebenarnya: karena Turing mengkhawatirkan keselamatan Joan. Tapi alasan yang dikatakannya pada Joan: karena ia seorang homoseksual. Tercengang dengan jawaban Joan yang tidak menyatakan keberatan akan orientasi seksual Turing yang aneh, akhirnya Turing mengucapkan kalimat yang tak termaafkan: Turing hanya memanfaatkan Joan untuk memecahkan Enigma.

Di akhir kisah, Turing divonis dengan tuduhan ketidaksenonohan karena perilaku homoseksualnya. Pada masa itu, hukum Inggris menyatakan homoseksual adalah salah satu tindakan kriminal. Turing diberi pilihan: hukuman 2 tahun penjara, atau pengebirian secara kimia. Turing memilih yang kedua meskipun pengobatan yang harus dijalaninya berdampak pada kesehatannya. Joan yang datang berkunjung bersedia menjadi saksi untuk meringankan vonis terhadap Turing, tapi Turing menolak semua bantuan. Ia tak ingin berpisah dengan Christopher. Dan setelah masa hukumannya selesai, Turing bunuh diri.


Saya tak punya kapabilitas untuk menilai sebuah film. Tapi menurut pandangan saya sebagai orang awam, ini film yang sangat sangat bagus. Acting Benedict Cumberbatch memerankan Turing bisa dibilang sempurna. Ia membuat kita hanyut dalam emosi Turing, tergelak dengan penafsirannya yang terlalu harfiah untuk setiap patah kata, gemas dengan kesombongan dan arogansinya.

Humor yang disampaikan pun tak berlebihan tapi tetap menggelitik. Contohnya adalah ketika Christopher menunjukkan pada Turing buku tentang kriptografi. Christopher menjelaskan bahwa kriptografi adalah ilmu yang membuat kita bisa saling bertukar pesan melalui sebuah kode yang meskipun bisa dibaca semua orang tapi hanya bisa dipahami orang–orang tertentu saja atau dengan kata lain kriptografi adalah ilmu tentang kode atau sandi rahasia, yang dengannya kita tak perlu khawatir rahasia kita akan terbongkar meskipun pesan kita sampai ke tangan yang salah. Mendengar penjelasan Christopher dengan polosnya Turing bertanya: “Apa bedanya kriptografi dengan bicara?. Bukankah ketika berbicara pun orang-orang tak pernah mengatakan dengan jelas maksud ucapan mereka. Mereka mengatakan sesuatu yang lain dan kamu diharapkan untuk memahami artinya”. (Ini menjelaskan sikap Turing yang selalu bersikap terlalu harfiah).

Beberapa kritikus menilai film ini kekurangan adegan seksual untuk menegaskan disorientasi Turing. Tapi menurut saya justru ini menjadi sebuah kelebihan, karena tanpa adegan seksual sekalipun film ini tak akan khawatir kekurangan penonton.

Juga pesan moral yang terselip dalam banyak bagian cerita. Membuat film ini bermakna dan bukan hanya sekedar hiburan belaka. Ada satu bagian yang sangat saya suka, yaitu ketika Turing akan memutuskan pertunangannya dengan Joan. Di luar dugaan Turing, Joan ternyata tak keberatan dengan disorientasi seksual Turing, bahkan ia sempat berkata:

“Lantas kenapa?, aku sudah menduganya, selalu. Tapi kita tak seperti orang-orang yang lain. Kita saling mencintai dengan cara kita masing-masing, dan kita bisa bersama-sama menjalani kehidupan yang kita inginkan. Kamu tidak akan menjadi suami yang sempurna?, aku bisa berjanji bahwa aku pun tak akan menjadi istri yang sempurna. Aku tak akan duduk manis diam di rumah seharian menunggu kamu pulang bekerja. Aku akan bekerja. Kamu akan bekerja. Dan kita bisa tetap saling memiliki hubungan kita masing-masing. Kita bisa tetap saling memiliki pikiran kita masing-masing. Dan itu kedengarannya lebih baik dari kebanyakan pernikahan lainnya. Karena aku peduli padamu. Dan kamu peduli padaku. Dan kita saling memahami lebih daripada yang pernah orang-orang lakukan”.

Perkataan Joan entah kenapa membuat saya berpikir ulang mengenai pernikahan. Joan mungkin bukan tipikal wanita rumah tangga yang akan mengabdikan hidupnya untuk keluarga. Tapi dengan kecerdasannya, ia akan menjadi rekan yang setara untuk Turing. Ia akan menjadi satu-satunya yang memahami Turing dengan semua keanehannya. Memaafkan keterbatasan linguistic Turing dalam menyampaikan maksud sebenarnya, yang sering menjadi sumber kesalahpahaman jika ia bicara dengan orang selain Joan.

Berapa banyak pernikahan yang menjelma menjadi aksi saling menguasai dan ternyata banyak dijalani oleh orang normal, tapi konsep pernikahan yang ditawarkan Joan sepertinya lebih baik dan sempurna untuk Turing dengan semua keabnormalannya.

Dan akhirnya, seperti yang disampaikan Turing di awal film, setelah seluruh cerita Turing selesai, bagaimana penilaian anda?. Mesin ciptaan Turing mampu mempersingkat perang selama dua tahun. Diperkirakan ia telah mencegah jatuhnya korban sekitar 14 juta jiwa. Ia pun telah meletakkan pondasi untuk ilmu baru yang menjadi cikal bakal komputer. Tapi jasa-jasanya seolah terhapus karena orientasi seksualnya yang menyimpang.

Entah bagaimana penilaian anda, tapi baru pada tahun 2013, Ratu Elizabeth menganugerahinya pengampunan dan mengakui jasa-jasanya.





Minggu, 25 Januari 2015

Non Fiction Reading Challenge 2015-Master Post


Meskipun sangat suka membaca, harus saya akui bahwa membaca buku non fiksi tak pernah semudah membaca buku fiksi. Saya mampu menamatkan buku fiksi yang saya suka dalam waktu singkat, tapi perlu usaha ekstra keras untuk saya saat harus menyelesaikan bahkan satu buku nonfiksi. Padahal lagi-lagi harus saya akui, seiring dengan bertambahnya beban pekerjaan, tuntutan untuk membaca buku bergenre non fiksi ini semakin tinggi.

Untuk menyemangati  diri sendiri, ditambah dengan beban penelitian (satu disertasi  filsafat dan satu tesis teknik sipil) yang harus saya rampungkan semester ini, maka saya memutuskan untuk mengikuti Non Fiction Reading Challenge 2015  dan tantangan Yuk Baca Buku Non Fiksi 2015. Yah, saya sangat perlu penyemangat untuk menyelesaikan disertasi dan tesis ini sekaligus, yang sangatlah tak mungkin tanpa  proses membaca bermacam-macam textbook atau buku-buku penunjang lainnya. Beruntung saat blogwalking dan iseng-iseng  mencari  reading challenge yang bisa saya ikuti tahun ini, saya menemukan www.lensabuku.com dan https://foodszone.wordpress.com yang menjadi host reading challenge diatas.

Disertasi saya akan mengangkat tema teologi pembebasan Tan Malaka dari sudut pandang filsafat manusia, maka buku-buku yang harus saya baca adalah adalah buku-buku teks filsafat manusia dan buku-buku karangan Tan Malaka yang kebetulan sudah ada di rumah tapi hampir tak tersentuh, yaitu:

1.             Madilog, Tan Malaka
2.             Dari Penjara ke Penjara Bagian I, Tan Malaka
3.             Dari Penjara ke Penjara Bagian II, Tan Malaka
4.             Dari Penjara ke Penjara Bagian III, Tan Malaka
5.             Massa Aksi, Tan Malaka
6.             Pandangan Hidup, Tan Malaka
7.             Gerpolek, Tan Malaka
8.             Pergulatan Menuju Republik 1897-1925, Harry A. Poeze
9.             Pergulatan Menuju Republik 1925-1945, Harry A. Poeze
10.         Parlemen atau Sovyet, Tan Malaka
11.         (masih  banyak lagi huhuhu… )

 


Sementara untuk materi tesis, saya ingin mengangkat tema kehandalan struktur bangunan gedung beserta analisis biaya untuk maintenance atau renovasi. Maka saya juga harus mulai mencicil literatur-literatur yang berkaitan dengan tema tersebut. Daftar diatas masih akan bertambah panjang dengan buku-buku filsafat manusia dan buku-buku teknik sipil yang juga harus saya baca.

Saat menulis judul-judul buku diatas, saya mulai merasa ngeper sendiri, menyadari fakta akan banyak sekali PR saya semester ini.  Karena saya percaya pekerjaan akan terasa berat jika hanya dibayangkan, maka lebih baik, ayo mulai membaca ^^.

Jumat, 16 Januari 2015

Sinopsis The Silkworm (Ulat Sutra), Robert Galbraith




Tokoh-tokoh dalam cerita ini:

Cormoran Strike
:
Tokoh utama cerita ini. Nama Cormoran diambil dari nama raksasa dalam cerita mitologi Inggris: Jack dan Kacang Ajaib. Corm digambarkan sebagai seorang laki-laki dengan badan tinggi besar (tingginya 192 cm), muka seperti petinju, dan rambut ikal yang tak pernah rapi.
Kematian ibunya membuat Corm mengundurkan diri dari pertengahan kuliahnya di Oxford dan kemudian bergabung dengan Angkatan Darat Inggris. Kemampuan analisanya yang tajam dan instingnya untuk mendeteksi bahaya membuat ia terkenal di seluruh Korps Angkatan Darat. Sampai kemudian sebuah ledakan bom di Afganishtan merenggut sebelah kakinya. Setelah pensiun dari Angkatan Darat, Corm menjadi seorang detektif partikelir. Meskipun Corm adalah putra tertua penyanyi rock gaek John Rokeby yang seharusnya hidup dengan bergelimang kemewahan, tapi ia sempat mengalami kesulitan keuangan yang cukup parah. Sampai kemudian ia sukses menyelesaikan kasus Lula Landry (lihat buku The Cuckoo’s Calling). Kasus ini telah mengangkat popularitasnya, memperbaiki bisnisnya sekaligus membuatnya dimusuhi oleh Kepolisian Metro.
Robin Venetia
:
Asisten sekaligus sekretaris pribadi Corm. Seorang wanita cerdas yang menarik dengan rambut pirang. Kecintaan Robin pada dunia penyelidikan membuat ia tetap bertahan bekerja dengan Corm meskipun di tempat lain ia bisa mendapat dua kali dari gaji yang diterimanya dari Corm. Sama seperti Corm, Robin pun drop out dari kuliah psikologinya, dengan alasan yang masih belum dibaginya kepada Corm.
Leonora Quine
:
Seorang ibu rumah tangga dengan penampilan lusuh dan kepribadian yang lugu dan sedikit aneh. Ia datang kepada Corm untuk meminta bantuan menemukan suaminya, Owen Quine, yang sudah sepuluh hari menghilang. Tak disangka Corm malah menemukan suaminya sudah menjadi mayat dan kepolisian menetapkan Leonora sebagai tersangka. Corm yakin Leonora tak bersalah dan akhirnya memutuskan untuk membantu Leonora dengan membuktikan bahwa bukan ia pembunuh suaminya.
Owen Quine
:
Penulis novel bergaya gothic dengan tokoh-tokoh hermafrodhite. Suami dari Leonora Quine. Ia digambarkan sebagai seorang penulis yang kurang sukses tetapi delusionis dan sangat haus publisitas. Ia dikenal sering merajuk dengan melakukan aksi menghilang untuk membuat orang-orang disekitarnya khawatir. Aksi menghilangnya yang terakhir ternyata berujung pada sebuah pembunuhunan yang keji dan brutal. Bombyx Mori, novel Quine yang terakhir menjadi petunjuk untuk mengungkap siapa sebenarnya pembunuh yang telah mengakhiri hidup Quine.
Orlando Quine
:
Putri tunggal pasangan Quine, seorang gadis berumur dua puluh empat tahun dengan kebutuhan khusus. Orlando menyukai menggambar dan mempunyai kebiasaan menyambar benda yang menarik minat (meskipun bukan miliknya) kemudian menyembunyikan benda tersebut di saku Cheeky Monky, boneka orang utan besar yang selalu digendongnya. Siapa sangka jika di saku Cheeky Monky inilah, Corm menemukan petunjuk yang mengarah pada siapa pembunuh Quine yang sebenarnya.
Matthew John Cunliffe
:
Tunangan Robin, pria tinggi dan tampan tapi selalu cemburu pada sosok seorang Cormoran Strike.
Kathryn Kent
:
Kekasih gelap Owen Quine, penulis novel fantasi erotis yang karyanya ditolak berbagai penerbit.
Nina Lascelles
:
Salah seorang pegawai di perusahaan penerbitan Ropper Chard. Ia adalah seorang wanita mungil yang telah membantu Cormoran Strike untuk mencurikan naskah Bombyx Mori.
Al Rokeby
:
Adik Cormoran beda ibu. Dari semua putra Rokeby, hanya Al yang menunjukkan niat untuk menjalin kedekatan dengan Corm. Al selalu mengagumi sekaligus iri pada keberanian Corm yang memilih untuk hidup mandiri dan menolak semua bantuan yang ditawarkan Rokeby. Al membantu Corm meringkus  pembunuh Quine yang mencoba melarikan diri.
Richard Anstis
:
Perwira kepolisian Metro yang diselamatkan nyawanya oleh Corm saat di Afganishtan. Anstis adalah orang yang bertanggung jawab dalam penyelidikan kasus pembunuhan Quine. Sayangnya, bahkan hutang budinya di masa lalu tak membuat ia mau percaya pada Corm yang memberitahunya bahwa ia telah salah menangkap pembunuh Quine.
Michael Fancourt
:
Teman Quine yang kemudian berubah menjadi musuh. Fancourt adalah penulis yang jauh lebih sukses dari Quine. Perselisihannya dengan Quine dimulai saat istri Fancourt bunuh diri setelah membaca tulisan parodi yang mengejek novel tulisannya. Fancourt menuduh Quine-lah yang membuat parody itu.
Joe North
:
Sahabat Fancourt dan Quine, penulis brilian yang sayangnya mati dalam usia muda karena virus HIV. Sebelum kematiannya ia mewariskan sebuah rumah di Talgarath Road kepada kedua sahabatnya, dengan persyaratan rumah tersebut hanya boleh digunakan untuk kegiatan yang menyangkut dengan seni.
Phillip Midgley
:
Teman Kathryn Kent, seorang transgender yang kepadanya Quine sempat membacakan sepenggal bagian Bombyx Mori sebelum tewas terbunuh.
Charlotte Campbell
:
Seorang model yang cantik jelita. Mantan tunangan Corm yang telah menjalani hubungan putus sambung selama 16 tahun sebelum kemudian benar-benar berakhir saat Corm memilih pergi. Charlotte digambarkan sebagai seorang wanita cantik yang rusak dengan kebiasaannya berdusta dan kepribadiannya yang meledak-ledak. 
Jerry Waldegrave
:
Salah seorang yang selalu bersikap baik pada Quine, tapi kemudian juga ikut dipermalukan. Dalam Bombyx Mori ia digambarkan sebagai Cutter, makhluk yang memiliki tanduk di bawah topinya dan mencoba menenggelamkan makhluk katai yang dibawa-bawa dalam karungnya.
Daniel Chard
:
CEO perusahaan penerbitan Ropper Chard, dikabarkan bahwa ia adalah seorang gay yang mempunyai hobi melukis telanjang pria-pria muda. Dalam Bombyx Mori ia dilecehkan sebagai “Phallus Impidicus”.
Dorcus Pengelly
:
Klien Liz Tassel, seorang pengarang novel erotis. Salah satu bukunya yang berjudul Di Atas Karang Jahanam memasang sampul suatu tempat dengan tebing-tebing berbahaya di Gwithian: Hell’s Mouth yang  kemudian dijadikan sebagai tempat untuk membuang barang bukti oleh pembunuh Owen Quine.
Dave Polworth
:
Teman masa kecil Corm di Cornwall. Seorang insinyur sipil yang juga penyelam amatir dan sangat menyukai tantangan. Dave adalah orang yang membantu Corm mengambil barang bukti yang ditenggelamkan di laut.
Elizabeth Tassel
:
Agen dari Quine, seorang wanita paruh baya berwajah biasa, dengan kepribadian yang bengis dan intimidatif. Digosipkan bahwa ia mencintai Fancourt namun tak pernah ditanggapi. Selama bertahun-tahun Liz Tassel telah menjadi penyokong keuangan keluarga Quine. Ia memiliki kebiasaan merokok yang parah dan penyakit batuk akut yang tak sembuh-sembuh. Liz tak pernah menikah maupun punya pacar. Satu-satunya sahabatnya adalah seekor anjing Dobermann tua.

Kesuksesan Cormoran Strike memecahkan kasus pembunuhan Lula Landry telah menyebabkan banyaknya permintaan investigasi yang harus ia tangani. Kebanyakan kasus yang harus ditanganinya adalah pengintaian terhadap kekasih-kekasih yang tidak setia. Bayaran yang diterimanya tak sedikit tapi pengintaian seperti itu tidaklah menjadi tantangan yang mampu mebangkitkan minatnya. Maka ketika pada suatu hari Leonora Quine yang tidak terlihat memiliki banyak uang datang untuk meminta bantuan menemukan suaminya, Corm serta merta bersedia membantu. Padahal sebelum itu, kesulitan keuangan yang dialami Corm membuat ia hanya mau menangani kasus dengan bayaran yang tidak murah.
Proses pencarian terhadap Owen Quine ternyata tidaklah sederhana. Di Talgarath Road, dalam sebuah rumah yang tak pernah dikunjunginya selama berpuluh-puluh tahun bahkan sejak pertama kepemilikannya, Owen ditemukan sudah menjadi mayat dengan kondisi yang sangat mengerikan. Pembunuhnya telah mengatur arena pembunuhan menjadi seperti sebuah altar persembahan korban. Tubuh Quine yang telanjang terikat di bawah jendela besar, dengan bagian perut yang growong serta banyak bagian tubuh yang hangus terkena asam klorida pekat yang telah dipercikkan secara brutal bukan hanya pada seluruh tubuh korban, tapi juga ke bagian rumah yang lain.
Tak cukup sampai disitu, tujuh set peralatan makan diatur di sekeliling mayat korban, menambah kesan ganjil dan brutal dalam pembunuhan tersebut. Leonora sebagai istri korban langsung menjadi tersangka. Semua bukti memang tampak memberatkan Leonora. Sikapnya yang tidak menunjukkan tanda-tanda berkabung setelah berita kematian suaminya, latar belakangnya sebagai pegawai di tempat pemotongan daging berikut catatan pembelian burqa dan tambang dari kartu kreditnya. Ia pun dianggap memiliki motif mengingat Quine bukanlah tipe suami dan ayah yang baik, bahkan diketahui jika Quine memiliki seorang kekasih simpanan dan kurang bertanggung jawab sebagai kepala keluarga. Kepolisian menahan Leonora atas tuduhan pembunuhan, sementara Cormoran malah bertekad untuk membuktikan sebaliknya. Nuraninya terusik dan kasus ini dengan seluruh keganjilannya demikian menantang sehingga ia berkeras untuk melanjutkan penyelidikan meskipun tak ada imbalan besar yang akan diperolehnya.
Penyelidikan ini tidaklah berlangsung mudah, cairan asam yang secara brutal disiramkan di tempat kejadian telah menghapus jejak apapun yang mungkin tertinggal, mengacaukan waktu kematian dan mempersulit penyelidikan.  Ditambah dengan sikap kepolisian yang sudah antipati terhadap Corm membuat Corm kehilangan akses terhadap semua informasi yang penting terkait dengan kasus ini.
Bombyx Mori, karya terakhir mendiang Quine akhirnya menjadi satu-satunya rujukan yang diharapkan menyimpan petunjuk. Novel ini bukanlah karya yang enak dibaca, bahkan sebaliknya novel ini penuh dengan keganjilan dan kecabulan yang membuat muak pembacanya. Merujuk pada novel ini, penulisnya pastilah sakit jiwa. Ada banyak tokoh dalam cerita yang dengan akurat menggambarkan sosok-sosok nyata dalam lingkaran kehidupan Quine. Dan penggambaran tokoh-tokoh tersebut dalam Bombyx Morii begitu menyinggung dan bisa membuat Quine terkena tuntutan pencemaran nama baik.
Tokoh-tokoh tersebut adalah Leonora, Elizabeth Tassel, Fancourt, Waldegrave, Chard, juga Kathryn dan Pippa. Merujuk pada orang-orang ini, Corm mulai mempersempit pencarian. Ia mulai menelusuri orang-orang yang sudah membaca naskah awal Bombyx Mori dan mulai menyelidiki orang-orang tersebut, alibi sampai karakter dan kehidupan pribadinya. Wawancara demi wawancara dilakukan, anehnya beberapa orang yang diwawancarai Corm mengatakan pendapat yang sama bahwa Bombyx Mori ditulis bukan hanya oleh Quine sendiri. Keganjilan ini semakin mengusik mengingat Pippa sendiri pernah berkata bahwa sepenggal bagian yang dibacakan Quine untuknya dari draft naskah Bombyx Mori berbeda dengan Bombyx Mori yang sekarang beredar.
Tokoh dalam Bombyx Mori yang kemudian menarik perhatian Corm adalah Cutter, yang tak bisa tidak merujuk pada Jerry Waldegrave dalam kehidupan nyata. Kenapa sosok Cutter ini harus membawa-bawa karung berisi manusia cebol yang ingin ditenggelamkannya.
Penyelidikan selanjutnya menyampaikan Corm pada fakta yang lebih mengejutkan: isteri Waldegrave, Fenella, sempat terlibat skandal dengan Fancourt sehingga ketika Fenella hamil, ia sempat ingin mengaborsi bayinya karena tak jelas itu anak siapa. Cutter dan si cebol dalam karung adalah simbolisme estetoris dari kejadian ini.
Sebelum menghilang, Quine sempat menyusun sebuah rencana pertengkaran pura-pura dengan Liz Tassel di sebuah restoran terkenal dengan tujuan publisitas untuk bukunya. Sejumlah saksi menyebutkan bagaimana dalam pertengkaran tersebut Quine berteriak-teriak tentang “Fancourt dan pelirnya yang lembek”, fakta bahwa Fancourt yang ternyata mandul dan diketahui dengan jelas oleh Quine, tapi  anehnya bertentangan dengan penggambaran dalam Bombyx Morri yang malah menunjukkan kemungkinan Fancourt. sebenarnya adalah ayah biologis dari puteri Waldegrave.
Satu fakta sederhana ini membuat Corm sampai pada kesimpulan Bombyx Mori yang sekarang beredar bukan Bombyx Mori yang ditulis oleh Owen Quine dan melalui serangkaian pemikiran ia pun menemukan siapa pembunuhnya. Ia hanya perlu menemukan bukti fisik.
Bersama Robin ia mendatangi Orlando, dan dengan sedikit trik mereka berhasil mendapatkan sebuah pita mesin ketik milik Quine dahulu dan selembar kertas sampul buku dengan gambar tebing di Gwithian.
Corm kemudian meminta Dave melakukan untuknya pencarian yang berbahaya itu. Menyelam ke dasar laut di tebing-tebing curam Gwithian untuk mencari barang bukti yang mungkin ditenggelamkan disitu. Dan Dave berhasil.
Sementara itu Robin yang diberi tugas mencari kotoran anjing Dobermann milik Liz Tassel juga berhasil. Hasil uji laboratorium mendeteksi kandungan usus manusia dalam kotoran anjing tersebut.
Langkah selanjutnya adalah bagaimana menyudutkan si pelaku karena kepolisian Metro malah menolak mengakui kebenaran semua hasil kesimpulan Corm.
Dengan bantuan Al dan Robin, Corm akhirnya mampu membekuk si pembunuh yang ternyata adalah…. Liz Tassel.
Novel kedua Robert Galbraith ini semakin membuktikan kemampuan J.K. Rowling dalam menulis cerita detektif. Tak seperti Hercule Poirot maupun Sherlock Holmes yang kehidupan pribadinya hampir tak pernah disinggung, dalam novel Galbraith ini kehidupan pribadi sang detektif dibuka begitu saja kepada pembaca. Kisah masa kecilnya, kesulitan hidupnya bahkan cerita cintanya. Cormoran bukanlah seorang detektif hebat yang berhati dingin minus kehidupan pribadi. Justru sebaliknya di belakang daya ingatnya yang tajam, kecerdasan dan ketajaman analisis serta imajinasinya yang mampu mendeteksi keganjilan dalam suatu kejadian, ia tetap hanya seorang manusia biasa. Yang menghabiskan masa kecil dengan ibu yang nomaden dan tak stabil, diacuhkan  oleh ayah kandungnya yang bintang terkenal dan kemudian terlibat dalam sebuah kisah cinta yang tragis.
Dan sisi manusiawi Cormoran Strike telah membuat saya jatuh cinta pada tokoh ini. Bagaimana ia, dengan perawakan yang tak bisa dibilang rupawan dan kaki buntung setengah tapi memiliki ketenangan dan kepercayaan diri yang apa adanya sehingga membuat Matthew dengan segala kelebihannya justru merasa begitu terganggu.
Bagaimana ia yang berhak menikmati fasilitas dan kemewahan hidup dari ayahnya tapi memilih mandiri meskipun itu berarti kesulitan dan ketidaknyamanan hidup.
Bagaimana ia menjadi sosok yang bekerja bukan hanya untuk uang, tapi untuk sesuatu yang jauh lebih bernilai dari itu, pemenuhan untuk tuntutan rasa keadilan, sekaligus pelarian dari masalah cinta yang rumit dengan mengerahkan konsentrasi tak terpecah mengurai simpul-simpul yang rumit dari sebuah kasus.

Two thumbs up untuk J.K. Rowling. Di The Cuckoo’s Calling saya masih menemukan keganjilan-keganjilan logika, tapi di buku kedua ini keganjilan itu tak saya temukan.

Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI

Judul Buku                 : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Penulis                         : Yusi Avianto Pareanom Penerbit         ...