Tampilkan postingan dengan label Resensi Sensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Sensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 November 2026

Resensi MERAWAT LUKA BATIN: Buku yang Tak Kunjung Selesai Dibaca

 



Sudah hampir dua bulan buku Merawat Luka Batin karya dr. Jiemi Ardian ini menemani saya ke mana-mana. Masuk tas, dibawa ke kantor, menemani perjalanan, sesekali dibuka ketika ada waktu luang. Namun, sampai hari ini, saya belum juga selesai membacanya.

Bukan karena bukunya membosankan. Justru sebaliknya.

Membaca buku ini rasanya seperti mengikuti kuliah satu semester yang seluruh materinya dimampatkan ke dalam sebuah buku. Padat, penuh pengetahuan, dan menuntut perhatian lebih dari sekadar membaca sambil lalu.

Ada bagian-bagian yang membuat saya harus berhenti sejenak, mencoba memahami apa yang baru saja saya baca. Kadang saya perlu kembali ke halaman sebelumnya, mengulang satu atau dua paragraf, lalu membiarkan isinya mengendap sebelum melanjutkan. Tidak semua hal bisa langsung dicerna, apalagi ketika yang sedang dibicarakan adalah sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan manusia: luka batin, emosi, dan cara kita memahami diri sendiri.

Barangkali itulah yang membedakan buku ini dari bacaan yang biasa saya habiskan dalam beberapa hari. Saya tidak merasa sedang mengejar halaman terakhir. Saya justru merasa perlu memberi waktu kepada diri sendiri untuk memahami apa yang disampaikan penulis.

Ada perbedaan antara mengetahui sebuah konsep dan benar-benar memahaminya. Lebih jauh lagi, ada jarak yang tidak selalu pendek antara memahami sesuatu secara intelektual dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya juga mulai menyadari bahwa membaca buku tentang kesehatan mental tidak otomatis membuat seseorang lebih memahami dirinya sendiri. Pengetahuan bisa membantu kita mengenali dan memberi nama pada apa yang kita rasakan, tetapi proses mengolahnya tentu tidak sesederhana membalik halaman buku.

Saat ini saya sedang mencoba menyusun rangkuman dari apa yang saya baca. Bukan pekerjaan mudah, karena saya ingin memastikan bahwa saya benar-benar memahami gagasannya, bukan sekadar memindahkan kalimat-kalimat dari buku ke dalam catatan.

Jadi, untuk sementara, tulisan ini belum bisa disebut resensi yang utuh. Anggap saja sebagai catatan perjalanan membaca sebuah buku yang membutuhkan waktu lebih panjang daripada biasanya.

Rangkumannya masih dalam proses. Akan saya perbarui setelah selesai.

Dan mungkin, untuk buku yang berbicara tentang merawat luka batin, tidak ada alasan untuk terburu-buru menyelesaikannya.

 

 

Selasa, 27 Oktober 2026

A Dog Called Money: Tentang Keberhasilan-Keberhasilan Kecil yang Sering Kita Lupakan




Saya selalu merasa bahwa salah satu cara paling menyenangkan untuk mempelajari sesuatu adalah melalui cerita. Bahkan untuk topik yang biasanya membuat dahi berkerut, seperti keuangan dan investasi. Dan rupanya Bodo Schäfer memahami hal itu.

Melalui A Dog Called Money, penulis dan motivator keuangan asal Jerman ini mengajarkan dasar-dasar pengelolaan keuangan lewat persahabatan seorang anak perempuan bernama Kira dengan seekor anjing Labrador yang bisa berbicara. Ya, anjing yang bisa berbicara. Dan bukan sembarang anjing, karena ia ternyata jauh lebih pandai mengelola uang daripada kebanyakan manusia dewasa. Kira menemukan anjing tersebut dalam keadaan terluka, kemudian merawat dan memberinya nama Money. Dari anjing inilah Kira mulai belajar tentang uang, bagaimana mengelolanya, menabung, berinvestasi, hingga merencanakan masa depan.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana, bahkan menurut saya sangat cocok dibaca anak-anak yang baru mulai mengenal konsep keuangan, atau dibaca bersama mereka. Tetapi jangan salah, orang dewasa pun rasanya masih perlu belajar banyak hal dari Money. Terutama mereka yang setiap awal bulan berjanji akan lebih hemat, tetapi entah bagaimana selalu menemukan alasan untuk berbelanja.

Saya tidak sedang menyindir siapa-siapa. Tentu saja.

Ada banyak pelajaran dalam buku ini. Kira diajak menuliskan hal-hal yang benar-benar ia inginkan dan mengubahnya menjadi tujuan yang jelas, bukan sekadar angan-angan. Ia juga belajar membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta membangun kebiasaan mengelola uang sejak dini.

Salah satu gagasan yang paling mudah diingat adalah "angsa bertelur emas": sebagian uang yang disisihkan dan tidak boleh dibelanjakan, agar bisa terus "bertelur" dalam bentuk bunga atau hasil investasi. Perumpamaan yang sederhana, tetapi cukup kuat untuk menjelaskan konsep yang sering terdengar rumit bagi anak-anak, bahkan bagi sebagian orang dewasa.

Meskipun demikian, saya tidak sepenuhnya sepakat jika keberhasilan finansial dipandang terutama sebagai persoalan pola pikir dan kemauan individu. Kenyataannya, tidak semua orang memulai kehidupan dari titik yang sama. Ada persoalan penghasilan, kesempatan, tanggungan keluarga, dan keadaan ekonomi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menabung lebih rajin atau berpikir lebih positif. Tetapi ada satu gagasan dalam buku ini yang tetap membekas bagi saya, dan justru tidak secara langsung berhubungan dengan uang.

Menulis jurnal keberhasilan setiap hari.

Money mengajarkan Kira untuk mencatat hal-hal yang berhasil dilakukannya. Bukan hanya pencapaian besar, tetapi juga keberhasilan-keberhasilan kecil yang mungkin terasa terlalu remeh untuk dituliskan. Awalnya saya bertanya-tanya, apa hubungannya menulis keberhasilan dengan menjadi pandai mengelola uang?. Tetapi setelah dipikirkan, gagasan ini ternyata cukup masuk akal.

Kita sering kali begitu mudah mengingat kegagalan sendiri. Satu pekerjaan yang tidak selesai bisa membuat kita merasa tidak produktif seharian. Satu kesalahan kecil bisa terus teringat sampai berhari-hari. Sementara sepuluh pekerjaan lain yang berhasil diselesaikan justru dianggap biasa saja. Seolah-olah keberhasilan baru layak disebut keberhasilan kalau cukup besar untuk membuat orang lain terkesan. Padahal siapa yang membuat aturan seperti itu?.

Dalam psikologi, Albert Bandura memperkenalkan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan yang diperlukan guna mencapai hasil tertentu. Salah satu sumber penting pembentukan self-efficacy adalah mastery experiences, pengalaman ketika seseorang berhasil melakukan sesuatu melalui usahanya sendiri. Pengalaman keberhasilan dapat membantu membangun keyakinan bahwa kita mampu menghadapi tantangan berikutnya.

Di sinilah saya mulai melihat hubungannya dengan uang. Orang yang yakin pada kemampuannya cenderung lebih berani mengambil langkah: mulai menabung secara teratur, belajar berinvestasi, meminta kenaikan gaji, atau merintis usaha kecil. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya "memang tidak bisa mengatur uang" sering kali berhenti bahkan sebelum mencoba. Dan pengalaman keberhasilan itu tidak harus selalu berupa pencapaian spektakuler.


Saya jadi teringat betapa senangnya saya ketika berhasil membuat sebuah dashboard dengan memanfaatkan berbagai fungsi Excel dan Google Sheets. Mengubah deretan angka yang membingungkan menjadi grafik warna-warni yang menarik hati ternyata memberikan kepuasan tersendiri. Perasaannya kurang lebih sama dengan ketika berhasil mencoba resep masakan baru dan melihat anak-anak makan dengan lahap. Atau ketika akhirnya menamatkan sebuah buku tebal yang sudah lama menunggu di rak. Hal-hal sederhana yang mungkin tidak akan dianggap sebagai pencapaian oleh siapa pun, tetapi tetap membutuhkan usaha. Dan mengapa tidak boleh disebut keberhasilan?.

Saya kemudian teringat pada penelitian Teresa Amabile dan Steven Kramer dalam The Progress Principle (2011). Melalui penelitian terhadap pengalaman sehari-hari para pekerja, mereka menemukan bahwa kemajuan dalam pekerjaan yang bermakna, bahkan kemajuan kecil sekalipun, berkaitan dengan motivasi dan pengalaman emosional yang lebih positif.

Barangkali kita memang tidak selalu membutuhkan pencapaian besar untuk merasa mampu. Kadang, menyadari bahwa hari ini kita berhasil melakukan sesuatu yang kemarin belum bisa kita lakukan sudah cukup untuk memberikan sedikit tambahan keyakinan pada diri sendiri.

Tentu saja, penelitian tersebut tidak secara langsung membuktikan bahwa menulis jurnal keberhasilan setiap hari akan membuat seseorang lebih sukses. Tetapi setidaknya ada alasan psikologis yang masuk akal mengapa kebiasaan mencatat kemajuan kecil layak dicoba.

Saya juga sempat berpikir, apakah jurnal keberhasilan ini sama dengan jurnal bersyukur yang belakangan cukup popular.  Rupanya keduanya memiliki penekanan yang berbeda. Dalam jurnal bersyukur, kita diajak memperhatikan hal-hal baik yang kita alami atau terima. Sementara dalam jurnal keberhasilan, perhatian diarahkan pada sesuatu yang berhasil kita lakukan. Misalnya, saya bisa bersyukur karena anak-anak menikmati masakan saya. Tetapi saya juga bisa mengakui bahwa saya berhasil mencoba resep baru, meskipun sebelumnya khawatir hasilnya tidak enak. Yang pertama adalah rasa syukur. Yang kedua adalah pengakuan terhadap usaha dan kemampuan diri sendiri. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Hanya saja, saya merasa jurnal keberhasilan menawarkan sesuatu yang selama ini mungkin kurang saya lakukan: memberikan pengakuan kepada diri sendiri. Sebab kita sering kali lebih murah hati memberikan pujian kepada orang lain daripada kepada diri sendiri.

Ketika teman berhasil menyelesaikan pendidikan, mendapat pekerjaan baru, atau mempelajari keterampilan tertentu, kita dengan mudah mengatakan bahwa mereka hebat. Tetapi ketika berhasil melakukan sesuatu, kita justru menganggapnya biasa.

Ah, cuma begitu.

Ah, orang lain juga bisa.

Ah, masih banyak yang lebih hebat.

Lalu kapan kita merasa cukup berhasil untuk mengakui usaha sendiri?.

Saya rasa di sinilah kebiasaan menulis jurnal keberhasilan menjadi berharga. Bukan untuk membuktikan bahwa setiap hari kita harus produktif atau selalu mencapai sesuatu. Apalagi menjadikan hidup sebagai perlombaan mengumpulkan pencapaian. Justru sebaliknya. Kita diajak memperluas pengertian tentang keberhasilan, termasuk dengan mengakui usaha-usaha kecil yang selama ini luput dari perhatian.

Saya juga tidak lupa pada keberatan saya sebelumnya. Jurnal keberhasilan tidak akan menaikkan gaji, melunasi utang, atau mengubah keadaan ekonomi yang memang sulit. Tetapi justru karena ada begitu banyak hal yang berada di luar kendali kita, rasanya penting untuk tetap menghargai bagian kecil yang masih bisa kita usahakan. 

Tentu ada hari ketika semua rencana berantakan. Ada pekerjaan yang tidak selesai, kesalahan yang terlanjur dibuat, atau persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Dan saya tidak merasa kita perlu memaksakan diri mencari sisi positif dari semuanya. Tidak semua hari harus menyenangkan. Tidak semua kegagalan harus segera ditemukan hikmahnya.

Tetapi juga tidak adil jika kita begitu rajin mengingat semua yang salah, sementara hal-hal yang berhasil justru berlalu tanpa pernah dihitung. Maka, dari sekian banyak pelajaran yang ditawarkan A Dog Called Money, kebiasaan menulis jurnal keberhasilan inilah yang paling ingin saya coba.

Mungkin saya akan menuliskan keberhasilan memahami satu rumus Excel yang sebelumnya terasa rumit. Menyelesaikan pekerjaan yang sudah lama tertunda. Berhasil memasak sesuatu yang baru. Atau memberanikan diri melakukan hal yang selama ini saya hindari. Hal-hal yang barangkali tidak akan mengubah dunia, tetapi tetap menjadi bagian dari perjalanan saya. Dan kalau suatu hari tidak ada keberhasilan yang ingin saya tuliskan, ya sudah. Tidak perlu mengarang pencapaian hanya agar halaman jurnal tidak kosong. Saya tidak ingin mengubah kebiasaan baik menjadi tuntutan baru yang melelahkan.

Pada akhirnya, saya menyukai A Dog Called Money bukan semata-mata karena buku ini mengajarkan cara mengelola uang. Saya menyukainya karena melalui cerita sederhana tentang seorang anak perempuan dan anjingnya, saya diingatkan bahwa rasa percaya terhadap kemampuan diri bisa dibangun sedikit demi sedikit. Bukan melalui keyakinan kosong bahwa kita pasti berhasil, melainkan melalui pengalaman nyata bahwa kita pernah mencoba, belajar, dan menyelesaikan sesuatu.

Suatu hari nanti, ketika sedang merasa tidak cukup pintar atau tidak cukup mampu, saya ingin bisa membuka kembali halaman-halaman jurnal itu. Bukan untuk menyangkal kegagalan yang pernah terjadi, melainkan untuk mengingat bahwa kegagalan bukan satu-satunya cerita tentang diri saya.

Barangkali selama ini saya tidak kekurangan alasan untuk merasa bangga pada diri sendiri.  Saya hanya terlalu jarang berhenti sejenak untuk menyadarinya.

Kamis, 15 Oktober 2026

Resensi CINTA TAK ADA MATI


Judul buku                : Cinta Tak Ada Mati

Penulis                      : Eka Kurniawan

Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun Terbit            : 2018

Jumlah halaman      : 153 halaman

 

Cinta Tak Ada Mati merupakan kumpulan tiga belas cerpen Eka Kurniawan yang pernah diterbitkan di berbagai media sepanjang tahun 2000 hingga 2011.

Tidak ada satu tema besar yang benar-benar mengikat seluruh cerita dalam buku ini. Masing-masing memiliki tokoh, persoalan, dan keanehannya sendiri. Tetapi seperti yang saya tangkap dari karya-karya Eka Kurniawan lainnya, ada kesan yang kurang lebih sama: lugas, ganjil, dan mengganggu. Cerita boleh saja sudah selesai, tetapi ada sesuatu yang masih tertinggal di kepala. Kadang berupa pertanyaan, kadang rasa tidak nyaman, atau sekadar perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan manusia-manusia dalam cerita tersebut.

Saya jadi teringat Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma yang baru saya baca minggu lalu. Meskipun gaya bercerita kedua penulis ini berbeda, keduanya meninggalkan kesan yang hampir serupa: membuat saya terus memikirkan tokoh-tokohnya, bahkan setelah buku ditutup.

Lalu saya mulai bertanya-tanya, apakah memang demikian salah satu kekuatan karya sastra?. Apakah sebuah cerita dianggap berhasil justru ketika ia tidak memberikan kenyamanan, tidak selalu menawarkan tokoh yang bisa disukai, dan tidak merasa berkewajiban menyelesaikan semua persoalan dengan baik-baik?. Dan sebenarnya, apa yang membedakan sebuah karya sastra dengan roman picisan?. Apakah kerumitan cerita, kedalaman karakter, keindahan bahasa, atau kemampuannya membuat pembaca mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa?. Entahlah. Mungkin ini bisa menjadi bahan penelitian yang menarik.

Satu hal yang saya sukai dari kumpulan cerpen ini adalah bagaimana setiap cerita memiliki ciri khasnya sendiri. Eka tidak hanya menghadirkan tokoh dan konflik yang berbeda-beda, tetapi juga bermain-main dengan bentuk tulisan, pilihan bahasa, hingga cara mengakhiri cerita. Dalam Bau Busuk, misalnya, keseluruhan cerita ditulis dalam satu paragraf panjang. Kalimat-kalimatnya terus mengalir, dipisahkan oleh koma, dan baru menemukan satu titik di ujung cerita. Bayangkan membaca satu cerpen tanpa diberi kesempatan berhenti pada tanda titik!. 

Awalnya saya merasa bentuk penulisan semacam ini cukup melelahkan. Tetapi kemudian saya berpikir, mungkin justru itulah efek yang ingin diciptakan. Pembaca seolah dipaksa mengikuti aliran cerita tanpa jeda, tanpa kesempatan benar-benar menarik napas. Entah apakah itu memang maksud Eka, tetapi saya menyukai keberaniannya mempermainkan sesuatu yang biasanya kita anggap sebagai aturan dasar dalam menulis.

Lain lagi dengan Pengakuan Seorang Pemadat Indis. Cerpen ini menggunakan ejaan dan susunan kalimat yang mengingatkan kita pada bahasa Indonesia sebelum Ejaan yang Disempurnakan. Pilihan tersebut membuat cerita terasa seperti berasal dari masa yang berbeda, seolah kita sedang membaca sebuah pengakuan yang ditulis jauh sebelum zaman sekarang. Saya rasa ini menarik. Sebab ternyata bukan hanya isi cerita yang dapat membangun suasana, melainkan juga bagaimana kata-kata dituliskan. Ejaan yang biasanya kita anggap sekadar urusan teknis ternyata dapat menjadi bagian dari pengalaman membaca.

Kemudian ada Penjaga Malam, yang justru membuat saya penasaran karena akhir ceritanya menggantung. Apa sebenarnya yang terjadi pada keempat orang yang sedang berjaga malam itu?. Saya menunggu penjelasan yang lebih terang, tetapi cerita keburu selesai. Dan begitulah, pembaca ditinggalkan bersama pertanyaan yang harus dijawab sendiri. Saya tidak selalu menyukai akhir cerita yang menggantung. Kadang rasanya seperti diajak masuk ke sebuah ruangan, diperlihatkan sesuatu yang ganjil, lalu ditinggalkan begitu saja sebelum sempat bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tetapi harus diakui, cara seperti ini cukup berhasil membuat sebuah cerita terus hidup dalam pikiran pembacanya.

Cerpen Surau meninggalkan kesan yang berbeda lagi. Kali ini bukan semata-mata karena bentuk penulisannya, melainkan karena ironi pada akhir cerita. Seorang anak sejak kecil terus-menerus diperintahkan untuk salat, bahkan menerima hukuman keras jika tidak melakukannya. Tetapi ketika dewasa, ia justru tidak pernah lagi salat, bahkan sampai lupa bacaan-bacaannya. Saya merasa akhir cerita ini begitu miris.

Ada sesuatu yang patut direnungkan tentang cara orang dewasa mengajarkan agama kepada anak-anak. Apakah kepatuhan yang dibangun melalui rasa takut benar-benar akan tumbuh menjadi keyakinan?. Atau justru ada kemungkinan bahwa ketika seseorang akhirnya terbebas dari hukuman, ia ikut meninggalkan seluruh kebiasaan yang dahulu dipaksakan kepadanya?. Tentu tidak berarti setiap anak yang dididik dengan keras akan meninggalkan agamanya ketika dewasa. Tetapi melalui cerita ini, Eka seperti memperlihatkan ironi bahwa sesuatu yang terus-menerus dipaksakan belum tentu benar-benar tertanam. Barangkali anak itu dahulu salat bukan karena memahami atau menghayati ibadahnya, melainkan karena takut dihukum. Dan ketika rasa takut itu tidak lagi ada, tidak ada pula sesuatu yang membuatnya ingin mempertahankan kebiasaan tersebut. Setidaknya, itulah yang saya tangkap.

Empat cerpen ini saja sudah memperlihatkan betapa beragamnya cara Eka Kurniawan bercerita. Ada yang bereksperimen dengan tanda baca, ada yang menggunakan ejaan lama, ada yang sengaja membiarkan pembacanya penasaran, dan ada pula yang menutup cerita dengan ironi yang terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dua cerpen lainnya, Kutukan Dapur dan Si Lesung Pipit, menarik perhatian saya karena sama-sama mengangkat persoalan perempuan dan penindasan yang mereka alami. Saya menyukai bagaimana Eka Kurniawan, sebagai penulis laki-laki, mampu menghadirkan persoalan tersebut tanpa semata-mata menjadikan perempuan sebagai objek dalam cerita. Setidaknya, itulah kesan yang saya tangkap dari kedua cerpen ini.

Perempuan tidak hanya hadir untuk melengkapi kehidupan tokoh laki-laki. Pengalaman, penderitaan, dan ketidakadilan yang mereka hadapi justru menjadi persoalan yang patut diperhatikan. Bagi saya, cara seorang penulis menggambarkan perempuan dalam karyanya bukan perkara sepele. Sastra memang tidak harus menjadi alat pendidikan moral, dan tokoh-tokohnya pun tidak wajib berperilaku baik. Tetapi pilihan sudut pandang seorang penulis tetap dapat memperkuat atau justru mempertanyakan cara masyarakat memandang kelompok tertentu.

Karena itu, saya cukup menyukai ketika Eka memilih menghadirkan cerita yang memungkinkan pembacanya melihat ketidakadilan terhadap perempuan, alih-alih sekadar mengulang penggambaran perempuan sebagai objek hasrat atau pelengkap cerita laki-laki. ini menjadi penting karena sebuah karya yang dilemparkan ke khalayak memiliki gaung yang harus dipertanggungjawabkan. Dan tak seperti penulis laki-laki lainnya yang sering menampilkan perempuan dalam karyanya sebagai objek semata, Eka Kurniawan memilih untuk menyuarakan sebaliknya.

Namun, dari ketiga belas cerpen tersebut, yang paling membekas bagi saya justru cerita yang menjadi judul buku ini: Cinta Tak Ada Mati. Cerpen ini berkisah tentang Mardio, seorang lelaki tua yang selama enam puluh tahun mencintai perempuan yang sama. Enam puluh tahun!.

Bayangkan, menghabiskan hampir seluruh kehidupan dengan perasaan yang tidak pernah benar-benar memperoleh balasan. Sekilas, kisah semacam ini mungkin terdengar romantis. Tentang kesetiaan, keteguhan hati, dan cinta yang tidak lekang oleh waktu. Tetapi semakin jauh membaca, saya justru mulai mempertanyakan apakah perasaan Mardio masih bisa disebut cinta, atau sebenarnya telah berubah menjadi obsesi. Sebab ada perbedaan antara mencintai seseorang dengan terus mempertahankan perasaan terhadap seseorang, bahkan ketika kenyataan sudah berkali-kali menunjukkan bahwa cinta tersebut tidak bersambut. Apakah kesetiaan selalu merupakan sesuatu yang patut dikagumi?. Atau pada titik tertentu, kesetiaan justru bisa menjadi bentuk ketidakmampuan menerima kenyataan?. Saya rasa Eka sengaja membiarkan pembacanya berada di wilayah yang tidak nyaman itu. Dan ketika tiba di penghujung cerita, sebuah kejutan membuat saya benar-benar tercengang. Saya tidak akan membocorkannya di sini. Rasanya lebih menyenangkan jika pembaca menemukan sendiri bagaimana Eka mengakhiri kisah Mardio. Tetapi satu hal yang menarik: setelah mengetahui akhir ceritanya, saya justru terdorong memikirkan kembali seluruh perasaan Mardio sejak awal. Barangkali memang itulah kelebihan Eka Kurniawan.

Ia tidak selalu menuliskan cerita yang membuat kita menyukai tokohnya. Tidak pula berusaha menjadikan setiap peristiwa mudah diterima atau dipahami. Kadang tokoh-tokohnya begitu ganjil, tindakannya sulit dibenarkan, dan akhir ceritanya malah membuat kita semakin banyak bertanya. Tetapi justru karena itulah ceritanya sulit dilupakan. Saya juga menyukai gaya bahasa Eka yang relatif lugas. Bahkan ketika bereksperimen dengan bentuk tulisan, ia tetap mampu menghadirkan cerita yang terasa hidup. Ada humor, kejanggalan, kekejaman, dan ironi yang disampaikan seolah-olah semua itu merupakan bagian biasa dari kehidupan. Padahal, setelah direnungkan, banyak hal dalam ceritanya yang sama sekali tidak biasa.

Setelah menamatkan Cinta Tak Ada Mati, saya tidak merasa memperoleh tiga belas cerita yang seluruhnya memberikan jawaban atau kesimpulan yang jelas. Sebaliknya, saya justru mendapatkan lebih banyak pertanyaan. Tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lain, tentang ketidakadilan yang kadang dianggap wajar, tentang cinta yang mungkin tidak selalu seindah yang dibayangkan, dan tentang batas yang begitu tipis antara sesuatu yang kita anggap mulia dengan sesuatu yang sebenarnya merusak. 

Saya kembali teringat pertanyaan di awal: apakah karya sastra yang baik memang harus meninggalkan kegelisahan?. Tentu tidak selalu. Ada banyak karya bagus yang justru memberikan kehangatan, penghiburan, atau kegembiraan. Tetapi saya mulai berpikir bahwa salah satu hal yang membuat sastra menarik adalah kemampuannya memperlihatkan kehidupan manusia tanpa harus selalu membuatnya tampak indah.

Manusia bisa mencintai sekaligus menyakiti. Bisa merasa benar ketika sedang berbuat salah. Bisa begitu setia, tetapi sebenarnya tidak mampu melepaskan. Bisa pula menjalankan sesuatu dengan patuh selama bertahun-tahun, tanpa pernah benar-benar memahami mengapa ia melakukannya. Dan mungkin karena itulah tokoh-tokoh Eka Kurniawan terasa mengganggu. Bukan semata-mata karena mereka aneh, melainkan karena sebagian keanehan itu sesungguhnya tidak terlalu jauh dari kehidupan manusia yang kita kenal.

Buku ini selesai saya baca, tetapi rupanya tidak semua ceritanya ikut selesai di kepala.

 

Minggu, 11 Oktober 2026

Resensi LELAKI HARIMAU

 


Judul: Lelaki Harimau
Penulis: Eka Kurniawan
Terbit pertama: 2004


Dari dua novel Eka Kurniawan yang pernah saya baca, Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau, saya lebih menyukai yang kedua.

Bukan berarti Cantik Itu Luka tidak bagus. Novel itu memiliki cakupan cerita yang begitu luas, dengan sejarah, politik, kekerasan, dan berbagai persoalan manusia yang saling berkelindan. Tetapi Lelaki Harimau memberikan pengalaman membaca yang berbeda. Ceritanya lebih ringkas, lebih terarah, dan memiliki akhir yang membuat saya ingin kembali memikirkan seluruh kejadian sejak halaman pertama.

Saya memang menyukai gaya bercerita Eka Kurniawan. Lugas, tidak bertele-tele, dan tepat sasaran. Ia bisa menceritakan sesuatu yang begitu brutal dengan kalimat yang tenang, bahkan kadang terasa jenaka. Tidak banyak dramatisasi yang tidak perlu. Dan justru karena itu, ceritanya menjadi semakin mengganggu.

Lelaki Harimau dibuka dengan sebuah pembunuhan. Margio, seorang pemuda, membunuh Anwar Sadat dengan cara yang sangat brutal. Tidak ada upaya menyembunyikan identitas pelaku. Sejak awal kita sudah tahu siapa yang membunuh siapa.

Lalu apa lagi yang mau diceritakan?. Rupanya banyak sekali.

Eka Kurniawan membawa pembaca menelusuri kehidupan Margio, keluarganya, dan orang-orang yang terhubung dengan peristiwa pembunuhan tersebut. Cerita bergerak maju mundur, membuka satu demi satu kejadian yang semula tampak tidak berkaitan, sampai perlahan kita mulai memahami bahwa pembunuhan itu bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.

Rupanya, Eka Kurniawan menyimpan pertanyaan yang jauh lebih menarik: mengapa Margio membunuh Anwar Sadat?. Jawabannya baru terungkap menjelang akhir novel. Dan ketika sampai di bagian itu, saya merasa seluruh cerita mendadak berubah makna.

Saya merasa bahwa Lelaki Harimau bukan semata-mata cerita tentang pembunuhan, dendam, atau seekor harimau putih yang bersemayam dalam tubuh seorang pemuda. Bagi saya, ini juga cerita tentang perempuan-perempuan yang hidup dalam masyarakat patriarkal, dan bagaimana mereka harus menanggung akibat dari kekuasaan laki-laki atas tubuh, perasaan, dan kehidupan mereka.

Terutama Nuraeni.

Nuraeni menikah dengan Komar bin Syueb, laki-laki kasar yang menjadikan kehidupan rumah tangga mereka begitu menyedihkan. Ia mengalami kekerasan fisik, penghinaan, dan pemaksaan hubungan seksual dalam perkawinannya. Bagian terakhir ini penting untuk disebutkan. Hubungan seksual yang dipaksakan oleh suami terhadap istrinya tetap merupakan kekerasan seksual, atau marital rape. Perkawinan tidak serta-merta memberikan hak kepada seseorang untuk menguasai tubuh pasangannya.

Dan melalui kehidupan Nuraeni, kita melihat bagaimana perkawinan yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi tempat berlangsungnya kekerasan. Yang menyedihkan, Nuraeni seperti tidak memiliki pilihan lain. Kemiskinan struktural adalah masalah berlarat-larat yang tidak memberikan alternatif pilihan bagi perempuan. Nuraeni bertahan dalam rumah tangga yang tidak memberinya kebahagiaan. Untuk melipur lara, perlahan-lahan ia mulai bicara sendiri pada panci sampai dibilang sinting bahkan oleh anak-anaknya sendiri.  Sementara anak-anaknya tumbuh menyaksikan kekerasan tersebut. Margio, terutama, menyimpan kemarahan yang begitu besar terhadap ayahnya.

Kemudian Nuraeni bekerja di rumah Kasia, istri Anwar Sadat. Di sinilah ada perubahan kecil yang menurut saya sangat menyentuh. Nuraeni mulai tersenyum. Ia mulai bersenandung. Perempuan yang sebelumnya begitu murung perlahan terlihat lebih hidup. Bayangkan, setelah sekian lama menjalani kehidupan yang menyakitkan, akhirnya ada sesuatu yang membuat perempuan ini kembali menemukan kegembiraannya. Tetapi rupanya kebahagiaan itu datang melalui hubungan dengan Anwar Sadat.

Dan di sinilah tragedi berikutnya dimulai. Saya melihat hubungan Nuraeni dan Anwar bukan sekadar perselingkuhan antara dua orang dewasa. Ada ketimpangan kekuasaan yang perlu diperhatikan. Nuraeni adalah perempuan yang bekerja di rumah keluarga Anwar, sementara Anwar berada dalam posisi yang lebih kuat secara sosial dan ekonomi. Hubungan itu pun berawal dari perilaku seksual Anwar terhadap Nuraeni yang dapat dibaca sebagai pelecehan, bukan sebuah kisah cinta yang sejak awal berlangsung setara. Sungguh menyedihkan. Nuraeni yang sebelumnya mengalami kekerasan dari suaminya justru kembali berada dalam hubungan dengan laki-laki yang memiliki kuasa atas dirinya.

Namun, Nuraeni kemudian benar-benar jatuh cinta. Dan saya rasa, di situlah letak tragedinya. Bagi Nuraeni, hubungan itu menjadi sesuatu yang berarti. Ia kembali tersenyum, kembali bersenandung, dan tampak menemukan alasan untuk menikmati hidup. Tetapi bagi Anwar Sadat, hubungan tersebut ternyata tidak memiliki arti yang sama. Margio pun tampaknya mengalami pergulatan perasaan yang rumit. Ia tidak sepenuhnya menerima hubungan ibunya dengan Anwar, tetapi ia juga melihat sendiri bagaimana ibunya mulai bahagia.

Bagaimana mungkin seorang anak yang sepanjang hidupnya menyaksikan penderitaan sang ibu tidak merasa lega melihat perempuan itu akhirnya bisa tersenyum?. Tentu saja hubungan tersebut tidak bisa dibenarkan begitu saja. Apalagi Kasia, istri Anwar Sadat, telah memperlakukan Nuraeni dengan sangat baik.

Dan di sinilah saya ingin membicarakan perempuan lain yang nasibnya juga menarik: Kasia. Porsinya dalam cerita memang tidak sebesar Nuraeni. Tetapi bagi saya, ia juga merupakan korban dari tatanan patriarkal yang sama. Kasia adalah perempuan yang bekerja, memiliki penghasilan, dan berperan penting dalam menopang kehidupan rumah tangganya. Secara finansial, ia memiliki kemandirian yang tidak dimiliki Nuraeni.

Namun, kemandirian ekonomi ternyata tidak otomatis membuat seorang perempuan terbebas dari ketidakadilan dalam perkawinan. Anwar Sadat digambarkan sebagai parasit, tidak punya pekerjaan, tapi hobinya main serong.

Ia tak punya pekerjaan sejak berhenti menjual lukisan, ia merupakan teman bermain catur Mayor Sadrah, sponsor klub sepak bola kota, dan berburu perempuan. Kelakuannya yang terakhir, dilakukan lebih bergairah daripada melukis, menemukan gadis-gadis dan meniduri mereka, kadang-kadang janda dan istri orang jika mau. Ia membanggakan kemaluannya yang sekukuh tanduk (h. 16).

Dan tampaknya Kasia memilih menulikan telinga demi mempertahankan kehidupan rumah tangga. Saya jadi berpikir, betapa seringnya perempuan ditempatkan dalam situasi yang serba salah.

Nuraeni tidak bahagia karena suaminya kasar dan memperlakukannya dengan semena-mena. Sementara Kasia, meskipun mandiri secara finansial, juga harus menanggung perilaku suami yang sudah tidak bekerja juga tidak setia. Dua perempuan dengan keadaan ekonomi yang berbeda, tetapi sama-sama terluka oleh laki-laki dalam kehidupan mereka.

Dan ironisnya, kebahagiaan yang sempat ditemukan Nuraeni justru ikut menyakiti Kasia. Di titik ini, saya tidak ingin membenarkan perselingkuhan Nuraeni hanya karena ia merupakan korban KDRT.  Tetapi saya juga tidak ingin melihat Nuraeni semata-mata sebagai perempuan yang merebut suami orang. Manusia rupanya memang tidak sesederhana itu. Seseorang bisa menjadi korban dalam satu hubungan, tetapi sekaligus ikut melukai orang lain dalam hubungan yang berbeda. Dan dua hal tersebut bisa sama-sama benar. Cerita kemudian mencapai titik yang paling mengejutkan ketika Anwar Sadat mengakui kepada Margio bahwa ia tidak mencintai Nuraeni.

Perempuan yang selama ini begitu menderita, yang akhirnya menemukan alasan untuk tersenyum lagi, ternyata jatuh cinta kepada laki-laki yang tidak memiliki perasaan yang sama. Saya kasihan kepada Nuraeni. Tetapi saya juga memahami kemarahan Margio.

Bukan berarti saya membenarkan pembunuhan yang dilakukannya. Hanya saja, setelah mengetahui seluruh kehidupan keluarganya, kemarahan Margio menjadi jauh lebih dapat dipahami. Ia telah menyaksikan ibunya diperlakukan dengan kejam oleh ayahnya. Kemudian, ketika ibunya akhirnya tampak bahagia bersama laki-laki lain, ia harus mendengar bahwa laki-laki tersebut ternyata tidak mencintainya. Dan seluruh kemarahan yang selama ini terpendam akhirnya meledak.

Inilah plot twist yang menurut saya luar biasa.

Eka Kurniawan tidak menyembunyikan identitas pembunuh. Ia justru menyembunyikan alasan pembunuhan tersebut, lalu perlahan mengajak kita memahami peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya. Ketika alasan itu akhirnya terungkap, yang saya rasakan bukan hanya keterkejutan, tetapi juga kesedihan.

Menariknya, jika dibaca dari sudut pandang perempuan, saya merasa Eka Kurniawan cukup berpihak kepada mereka. Setidaknya, ia tidak memberikan akhir yang menyenangkan bagi laki-laki yang selama ini menyakiti perempuan. Komar bin Syueb mati, dan bahkan kematiannya digambarkan dengan cara yang ganjil, seolah bumi pun enggan menerimanya. Sementara Anwar Sadat harus menemui ajal yang begitu mengenaskan di tangan Margio.

Saya sampai berpikir, barangkali Eka memang sengaja tidak memberikan kematian yang damai kepada kedua laki-laki tersebut. Tentu ini bisa saja merupakan tafsir saya sebagai pembaca. Tetapi ada semacam pembalasan yang terasa simbolis: laki-laki yang sepanjang hidupnya menggunakan kekuasaan untuk menyakiti perempuan akhirnya tidak memperoleh akhir yang terhormat. Meski demikian, kematian keduanya tidak otomatis membuat kehidupan perempuan-perempuan yang mereka sakiti menjadi lebih baik.

Komar mati, tetapi penderitaan Nuraeni tidak serta-merta terhapus. Anwar Sadat mati, tetapi kematiannya juga tidak mengembalikan kebahagiaan yang sempat ditemukan Nuraeni, apalagi memperbaiki luka yang dialami istrinya. Dan Margio, anak yang begitu marah melihat penderitaan ibunya, justru menjadi pelaku kekerasan berikutnya. Barangkali di sinilah kritik yang paling menyedihkan dalam novel ini. Kekerasan tidak selalu berakhir ketika pelakunya mati. Ia bisa meninggalkan luka yang panjang, bahkan melahirkan kekerasan baru pada generasi berikutnya. 

Saya takjub pada bagaimana Eka Kurniawan menghadirkan harimau putih dalam tubuh Margio. Unsur magis itu membuat ceritanya terasa ganjil, tetapi sekaligus memberi ruang bagi pembaca untuk menafsirkan kemarahan yang selama ini tersimpan dalam diri Margio. Apakah harimau itu benar-benar ada, atau merupakan cara lain untuk menggambarkan sesuatu yang liar dan tidak terkendali dalam diri manusia?. Saya rasa kita tidak harus memilih satu jawaban. Justru itulah yang membuat novel ini menarik.

Lelaki Harimau bukan novel yang panjang, tetapi berhasil memuat persoalan yang tidak sederhana: kekerasan dalam rumah tangga, pemaksaan seksual dalam perkawinan, pelecehan, perselingkuhan, ketimpangan kekuasaan, dan kemarahan seorang anak yang tumbuh dalam keluarga penuh kekerasan.

Semua itu disampaikan dengan gaya bercerita yang saya sukai: lugas, tajam, dan tidak bertele-tele. Setelah menamatkannya, saya tidak lagi terlalu memikirkan betapa mengerikannya cara Anwar Sadat dibunuh. Saya justru memikirkan Nuraeni dan Kasia.

Dua perempuan yang berbeda, dengan kehidupan yang berbeda, tetapi sama-sama harus menanggung akibat dari perilaku laki-laki yang seharusnya memperlakukan mereka dengan lebih baik. Dan mungkin itulah yang membuat Lelaki Harimau begitu membekas bagi saya.

Pada awalnya kita mengira sedang membaca kisah tentang seorang laki-laki yang membunuh laki-laki lain. Tetapi setelah seluruh cerita terbuka, saya justru menemukan kisah tentang perempuan-perempuan yang terluka. Dan betapa menyedihkannya, bahkan ketika laki-laki yang menyakiti mereka akhirnya mati, bukan berarti luka mereka ikut selesai.

Sabtu, 10 Oktober 2026

Resensi THE TWITS: Pasangan Paling Menyebalkan Sedunia



Penulis

: Roald Dahl

Penerbit

: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit

: 2003

Jumlah halaman

: 103 halaman

Jika seseorang memiliki pikiran-pikiran jelek, maka itu akan terlihat di wajahnya. Dan ketika orang itu memiliki pikiran-pikiran jelek setiap hari, setiap minggu, setiap tahun, wajahnya menjadi semakin jelek sampai begitu jeleknya sehingga kamu hampir tidak sanggup melihatnya.

Seseorang yang memiliki pikiran-pikiran baik tidak akan pernah bisa menjadi jelek. Kamu boleh punya hidung yang miring, mulut yang bengkok, dagu berlipat, dan gigi yang tonggos, tapi jika kamu memiliki pikiran yang baik, itu akan memancar keluar dari wajahmu bagaikan sinar matahari dan kamu akan selalu terlihat manis.

Saya sudah menyukai buku-buku Roald Dahl sejak remaja. Dulu saya membaca Danny, the Champion of the World,  Matilda, Charlie and the Chocolate Factory, dan Esio Trot. Entah mengapa, saya selalu menyukai cara Dahl bercerita, meskipun harus diakui, buku-bukunya memang aneh dan sebetulnya cukup gelap.

Belakangan saya baru mengenal istilah dark humor, macabre, dan grotesque, yang rupanya cukup tepat untuk menggambarkan sebagian cerita Dahl. Bayangkan saja, buku-buku yang diperuntukkan bagi anak-anak, tetapi isinya manusia-manusia kejam, hukuman yang kadang mengerikan, dan orang dewasa yang kelakuannya jauh lebih buruk daripada anak-anak.

Tetapi mungkin justru di situlah letak daya tariknya. Di balik cerita-cerita absurd tersebut, saya merasa Dahl sedang menyindir banyak hal tentang manusia. Keserakahan, kesombongan, kebodohan, penyalahgunaan kekuasaan, sampai kebiasaan orang dewasa yang merasa dirinya selalu benar.

Dan hebatnya, semua itu disampaikan tanpa perlu berceramah panjang lebar. Kita cukup membaca ceritanya, tertawa karena kelakuan tokoh-tokohnya yang luar biasa konyol, lalu sesekali menyadari bahwa manusia-manusia seperti itu ternyata tidak sepenuhnya fiktif.

Membaca The Twits membuat saya kembali merasakan hal yang sama.

Buku ini bercerita tentang sepasang suami istri, Mr. Twit dan Mrs. Twit, yang barangkali layak mendapatkan penghargaan sebagai pasangan paling menjijikkan sekaligus paling menyebalkan dalam sejarah cerita anak-anak.

Mr. Twit adalah laki-laki tua berjanggut lebat yang tidak pernah membersihkan janggutnya dengan benar. Akibatnya, berbagai sisa makanan tersangkut di sana, dari potongan telur, ikan, sampai makanan-makanan lain yang entah sudah berapa lama menghuni wajahnya.

Sementara istrinya, Mrs. Twit, digambarkan sebagai perempuan yang tidak kalah mengerikan. Keduanya sama-sama licik, kejam, dan gemar mempermainkan satu sama lain.

Kalau biasanya pasangan suami istri saling memberikan kejutan sebagai bentuk kasih sayang, pasangan ini juga gemar memberikan kejutan. Bedanya, kejutan mereka berupa tipu daya yang dirancang untuk membuat pasangannya ketakutan atau menderita.

Mrs. Twit pernah memasukkan mata palsunya ke dalam gelas minuman suaminya. Mr. Twit membalas dengan menyelipkan seekor katak ke tempat tidur istrinya, lalu meyakinkannya bahwa makhluk tersebut adalah sesuatu yang mengerikan. Belum cukup sampai di situ, Mr. Twit juga mengerjai istrinya dengan membuatnya percaya bahwa tubuhnya terus memanjang dan harus menjalani proses penyusutan.

Ya Tuhan, rumah tangga macam apa ini?

Saya membayangkan betapa melelahkannya hidup bersama seseorang yang setiap hari sibuk memikirkan cara baru untuk membuat kita sengsara. Tetapi rupanya kedua orang ini memang berjodoh. Sama-sama menyebalkan, sama-sama kejam, dan sama-sama tidak punya keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Yang menarik, kejahatan mereka tidak berhenti pada urusan rumah tangga. Di halaman rumahnya, pasangan Twit memelihara sekelompok monyet bernama Muggle-Wumps yang mereka paksa berdiri terbalik. Mereka juga memiliki kebiasaan menangkap burung dengan mengoleskan lem pada cabang-cabang pohon, kemudian menjadikan burung-burung malang itu sebagai bahan pai.

Dan di sinilah cerita mulai bergerak dari sekadar rangkaian keisengan menjijikkan menjadi kisah pembalasan yang cukup menghibur. Para monyet, dibantu burung-burung yang selama ini menjadi sasaran kekejaman pasangan Twit, akhirnya menyusun rencana untuk memberikan pelajaran kepada kedua manusia tersebut.

Tentu saja, karena ini cerita Roald Dahl, pembalasannya pun tidak biasa.

Saya menyukai bagaimana Dahl menciptakan dunia yang begitu absurd, tetapi tetap membuat pembacanya penasaran. Ceritanya sederhana, bahkan terkesan berlebihan, namun justru di situlah kelucuannya. Kita tidak diminta memikirkan apakah seluruh kejadiannya masuk akal. Kita hanya perlu mengikuti kegilaan dua manusia yang begitu sibuk berbuat jahat sampai akhirnya menjadi korban kejahilan mereka sendiri.

Salah satu hal yang menarik dari The Twits adalah cara Dahl menggambarkan hubungan antara pikiran dan penampilan seseorang. Ia menulis tentang bagaimana pikiran yang buruk dapat membuat wajah seseorang terlihat buruk pula, sementara pikiran yang baik dapat membuat seseorang tampak menyenangkan meskipun secara fisik tidak sempurna.

Tentu saja, dalam kehidupan nyata, penampilan seseorang tidak menentukan baik buruknya watak. Tetapi sebagai bagian dari dunia dongeng Dahl yang penuh karikatur, gagasan itu digunakan untuk memperkuat gambaran tentang pasangan Twit yang memang luar biasa menyebalkan.

Ilustrasi Quentin Blake juga menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari cerita. Gambar-gambarnya yang tampak berantakan justru cocok sekali dengan dunia Dahl yang aneh dan kacau. Sulit membayangkan Mr. Twit dengan janggut menjijikkannya tanpa ilustrasi tersebut.


Membaca The Twits mengingatkan saya bahwa buku anak-anak tidak selalu harus menghadirkan tokoh yang manis atau cerita yang lembut. Kadang-kadang, cerita tentang dua manusia tua yang jahat, monyet-monyet yang dipaksa berdiri terbalik, dan burung-burung yang hampir dijadikan pai justru bisa menjadi bacaan yang sangat menghibur.

Saya juga menyukai bahwa Dahl tidak berusaha membuat pasangan Twit memiliki masa lalu menyedihkan untuk menjelaskan kelakuan mereka. Tidak ada upaya panjang untuk membuat pembaca bersimpati. Mereka memang digambarkan sebagai dua manusia yang luar biasa buruk perangainya. Dan anehnya, justru itu yang membuat cerita ini menyenangkan.

The Twits bukan cerita yang rumit. Alurnya sederhana, tokohnya berlebihan, dan humornya kadang cukup menjijikkan. Tetapi buku ini memiliki daya tarik khas Roald Dahl: nakal, imajinatif, sedikit gelap, dan tidak takut membuat tokoh orang dewasa terlihat konyol.

Setelah menamatkannya, saya hanya sampai pada satu kesimpulan. Mungkin Mr. dan Mrs. Twit bukanlah pasangan yang cocok. Mereka hanya dua manusia yang terjebak dalam kehidupan bersama yang sama sekali tidak bahagia, dan entah bagaimana mulanya mereka berdua akhirnya menjadi pasangan yang terus-menerus saling menyakiti. Celakanya, ketidakbahagiaan itu tidak berhenti pada mereka berdua. Monyet-monyet dan burung-burung malang di sekitar rumah pun harus ikut menanggung akibatnya.

Dan barangkali di situlah sindiran Roald Dahl. Rumah tangga yang dipenuhi kebencian bukan hanya menyengsarakan penghuninya, tetapi juga bisa menyakiti siapa pun yang berada di sekitarnya.

Seperti biasa, Dahl membuat kita tertawa pada sesuatu yang absurd, sebelum menyadari bahwa yang ditertawakan sebenarnya tidak terlalu jauh dari kehidupan kita sendiri.


Resensi KUDASAI: Saat Semua Tokohnya Seperti Minta Ditabok






Penulis

: Brian Khrisna

Penerbit

: MediaKita

Tahun terbit

: 2019

Jumlah halaman

: 456 halaman


Mengandung spoiler.

Tidak semua buku yang selesai dibaca meninggalkan kesan menyenangkan. Ada buku yang membuat kita ingin segera membaca karya lain dari penulisnya, ada yang membuat kita termenung berhari-hari, dan ada pula yang setelah halaman terakhir ditutup justru membuat kita bertanya-tanya: duh, tadi tuh, sebenarnya habis baca apa, sih?.

Sayangnya, Kudasai karya Brian Khrisna masuk kategori terakhir untuk saya.

Kekecewaan pertama justru datang dari judulnya. Kudasai merupakan kata dalam bahasa Jepang yang kurang lebih berarti “tolong” atau “mohon”. Saya pikir novel ini akan sedikit banyak bersinggungan dengan Jepang. Ternyata tidak. Dan sampai halaman terakhir, terlepas dari ketiadaan unsur Jejepangan ini, saya masih kesulitan menemukan hubungan yang cukup kuat antara judul dan ceritanya.

Padahal premisnya menarik.

Chaka menikah dengan Twindy, perempuan cantik, kaya, mandiri, dan sukses memimpin firma arsitektur. Twindy bisa dibilang alpha female: dominan, percaya diri, terbiasa memegang kendali, dan tahu apa yang diinginkannya. Sementara Chaka mengelola kafe, mengurus rumah tangga, dan memiliki selera humor yang lumayan menghibur.

Pernikahan mereka bermula bukan karena cinta, tetapi perlahan Chaka justru benar-benar jatuh cinta kepada istrinya.

Dan menurut saya, itu sangat masuk akal.

Coba pikirkan. Twindy cantik, mapan, dan mampu menawarkan masa depan yang lebih stabil. Tentu cinta bukan semata-mata persoalan kecantikan dan kekayaan. Tetapi kebersamaan, kenyamanan, dan kehidupan yang dibangun setiap hari merupakan alasan yang sangat manusiawi untuk menumbuhkan perasaan. Justru bagian ini yang paling mudah saya terima. Yang sulit saya terima adalah kelakuan tokoh-tokohnya.

Mari mulai dari Twindy.

Saya sebenarnya menyukai gagasan menghadirkan tokoh perempuan yang kuat, mandiri secara finansial, dan tidak bergantung pada laki-laki. Tetapi Twindy ini bukan sekadar dominan. Ia juga gampang sekali marah, gemar membentak Chaka, dan sedikit-sedikit meminta cerai.

Ya ampun, Twindy. Menikah itu bukan langganan internet yang setiap kali kesal bisa langsung minta berhenti berlangganan.

Perempuan kuat tentu boleh memiliki temperamen keras. Tetapi menjadi mandiri dan sukses tidak otomatis membenarkan kebiasaan memperlakukan pasangan dengan buruk. Saya justru menyayangkan karakter Twindy karena potensinya sangat besar untuk mengeksplorasi hubungan suami istri dengan pembagian peran yang tidak konvensional.

Sayangnya, yang lebih sering saya temukan justru pertengkaran dan ancaman perceraian.

Lalu Chaka.

Ya Tuhan, Chaka ini juga tidak kalah menyebalkan.

Di satu sisi ia digambarkan sebagai laki-laki humoris, gemar bercanda, dan pandai melontarkan lelucon. Tetapi di sisi lain, ia begitu cengeng, pasif, dan tidak berdaya menghadapi persoalannya sendiri.

Memang, orang humoris bisa saja menyimpan kesedihan. Saya tidak mempermasalahkan laki-laki yang menangis atau memiliki perasaan rapuh. Yang mengganggu adalah bagaimana Chaka terus-menerus terlihat tidak mampu mengambil keputusan dengan tegas.

Lebih lucu lagi, meskipun sering takut menghadapi Twindy, dalam hati Chaka justru gemar mengomel dan melontarkan komentar-komentar tidak menyenangkan tentang istrinya.

Jadi, istrinya suka membentak, suaminya suka mengumpat dalam hati. Pasangan yang luar biasa komunikatif, bukan?.

Dan persoalan Chaka tidak berhenti di situ.

Ia meninggalkan Anet, mantan kekasihnya, tanpa memberikan penjelasan yang layak. Alasannya, ia ingin Anet membencinya agar perempuan itu berhenti berharap. Saya tahu, mungkin penulis ingin menggambarkan pengorbanan. Tetapi bagi saya, itu bukan romantis. Itu pengecut.

Mengapa Chaka merasa berhak menentukan apa yang terbaik bagi Anet tanpa memberikan kesempatan kepada perempuan itu untuk memahami keadaan dan menentukan pilihannya sendiri?. Bukankah kejujuran, betapapun menyakitkan, jauh lebih menghargai seseorang daripada menghilang dan membiarkannya hidup dalam tanda tanya?.

Lalu setelah bertahun-tahun ditinggalkan, Anet tiba-tiba muncul kembali sebagai pelanggan di kafe Chaka. Dari sekian banyak kafe di muka bumi ini, tentu saja harus kafe Chaka.

Kebetulan memang bisa terjadi dalam kehidupan nyata. Tetapi kebetulan yang menjadi fondasi konflik besar seharusnya dibangun dengan lebih meyakinkan. Bagi saya, pertemuan mereka terasa terlalu dipaksakan demi menggerakkan cerita.

Dan bagaimana dengan Anet?. Duh, Anet ini juga lemah sekali.

Saya memahami bahwa ditinggalkan tanpa penjelasan bisa sangat menyakitkan. Tetapi kepasrahannya terhadap Chaka membuat saya semakin sulit bersimpati. Ia terlalu lama terjebak dalam perasaan terhadap laki-laki yang bahkan tidak cukup berani untuk menjelaskan mengapa hubungan mereka harus berakhir.

Jadi, ada Twindy yang sedikit-sedikit marah dan meminta cerai, Chaka yang pengecut sekaligus gemar mengomel dalam hati, serta Anet yang terlalu pasrah pada masa lalu.

Duh, Tuhan. Semua tokohnya rasanya ingin saya tabok satu-satu.

Tentu karakter dalam novel tidak harus sempurna. Justru tokoh yang memiliki kelemahan sering kali lebih menarik karena terasa manusiawi. Tetapi kelemahan karakter seharusnya dikembangkan menjadi sesuatu yang membuat pembaca memahami perjalanan batinnya. Dalam Kudasai, saya justru merasa sifat-sifat menyebalkan itu terlalu sering menjadi bahan bakar konflik tanpa diimbangi perkembangan karakter yang cukup meyakinkan.

Dan ketika cerita akhirnya berujung pada kematian Chaka karena bunuh diri, saya bukannya merasa tersentuh, melainkan semakin kecewa. Bukan karena orang yang humoris, memiliki pasangan yang baik, atau hidup berkecukupan tidak mungkin mengalami penderitaan psikologis yang berat. Tentu saja mungkin. Tetapi dalam sebuah novel, saya berharap pergulatan batin tokohnya dibangun dengan cukup kuat sehingga akhir yang tragis terasa sebagai bagian yang utuh dari cerita.

Sayangnya, saya tidak mendapatkan pengalaman membaca seperti itu.

Padahal Kudasai sebenarnya menawarkan banyak persoalan menarik: pernikahan tanpa cinta, pembagian peran suami istri, harga diri laki-laki, kesetiaan, dan bagaimana seseorang berdamai dengan masa lalunya. Sayangnya, semua potensi tersebut kalah oleh konflik yang terasa dipaksakan dan tokoh-tokoh yang tidak cukup berkembang.

Mungkin ada pembaca yang menyukai novel ini karena merasa terhubung dengan kesedihan para tokohnya. Sah-sah saja.

Tetapi bagi saya, karakter yang menyedihkan belum tentu berhasil membuat pembaca merasa sedih. Begitu pula konflik yang rumit belum tentu menghasilkan cerita yang kuat. Ada sesuatu yang harus dibangun di antara keduanya: alasan yang cukup meyakinkan bagi pembaca untuk peduli.

Dan itulah yang tidak saya dapatkan dari Kudasai.

Setelah menutup buku ini, kesan saya tetap sama: premisnya menarik, tetapi alurnya lemah, bodorannya garing, beberapa kebetulannya terlalu dipaksakan, dan hampir semua tokohnya membuat saya kehabisan kesabaran.

Mungkin Kudasai memang bukan buku untuk saya.

Dan untuk sekali ini, saya tidak merasa perlu memaksakan diri menemukan pelajaran hidup yang mendalam dari sebuah novel yang sejak awal tidak berhasil saya nikmati. Tidak apa-apa juga, kan?. Tidak semua buku harus disukai. Bahkan ketika banyak orang lain menyukainya.

Hanya saja, setelah selesai membaca, saya masih bertanya-tanya mengapa novel ini diberi judul Kudasai. Kalau kudasai berarti “tolong”, rasanya saya ingin menggunakan kata itu untuk menyampaikan satu permintaan sederhana:

Tolong, bisakah setidaknya dalam novel ini ada satu tokoh saja yang cukup waras.


Resensi MERAWAT LUKA BATIN: Buku yang Tak Kunjung Selesai Dibaca

  Sudah hampir dua bulan buku  Merawat Luka Batin  karya dr. Jiemi Ardian ini menemani saya ke mana-mana. Masuk tas, dibawa ke kantor, menem...