Jumat, 26 Desember 2014
Sinopsis Film THE HOBBIT: THE BATTLE OF THE FIVE ARMIES
Minggu, 21 Desember 2014
Tips Mengatasi Kloset Duduk yang Mampet
Sabtu, 20 Desember 2014
Tips Mengatasi Sakit Mata pada Bayi...
Jumat, 19 Desember 2014
Sinopsis Novel SUPERNOVA: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh
"Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara
Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara
Kau hadir dengan ketiadaaan
Sederhana dalam ketidakmengertian
gerakmu tiada pasti
Namun aku terus disini
Mencintaimu
Entah kenapa"
- Dee -
Tiga belas tahun yang lalu, novel ini sudah membuat saya jatuh cinta bahkan sejak saya membuka halaman-halaman pertamanya dan menemukan puisi ini.
Sang Puteri naik ke langit.
Ksatria kebingungan.
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang,
tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu.
Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Ksatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara.
Ksatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi.
Ksatria sedih, tapi tak putus asa.
Ksatria memohon pada angin.
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi,
lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun Sang Puteri masih jauh di awang-awang,
dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa.
Sampai satu malam ada Bintang Jatuh yang berhenti mendengar tangis dukanya.
Ia menawari Ksatria untuk melesat secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya,
maka ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,
menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.
Ksatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada Bintang Jatuh menjadi sebuah nyawa.
Dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada serpih detik yang mematikan.
Bintang Jatuh menggenggam tangannya.
“Inilah perjalanan sebuah Cinta Sejati,” ia berbisik,
“tutuplah matamu, Ksatria. Katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan keberadaannya.”
Melesatlah mereka berdua.
Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati ksatria mungil,
tapi hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan ia merasakannya… “Berhenti!”
Bintang Jatuh melongok ke bawah,
dan ia pun melihat sesosok puteri cantik yang kesepian.
Bersinar bagaikan Orion di tengah kelamnya galaksi.
Ia pun jatuh hati.
Dilepaskannya genggaman itu.
Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.
Ksatria melesat menuju kehancuran.
Sementara Sang Bintang mendarat turun untuk dapatkan Sang Puteri.
Ksatria yang malang.
Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan Aurora.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.
Kamis, 11 Desember 2014
Resensi Film SUPERNOVA; Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh; Great Novel, Poor Movie
Jujur saja, saya bukan termasuk orang yang hobi nonton. Karena itulah di kolom isian hobby pada form standar biodata, saya selalu mengisi "membaca" alih-alih "menonton". Maka jangan harap saya akan rela berdesak-desakkan untuk mengantri tiket sebuah film yang baru tayang perdana, seheboh apapun pemberitaan tentang film tersebut. Tapi film SUPERNOVA: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, adalah film yang telah membuat saya rela mencuri waktu beberapa jam dari keseharian saya khusus untuk menonton bahkan pada hari tayang perdananya tanggal 11 Desember 2014 kemarin. Semata karena novelnya adalah salah satu buku favorit yang sangat saya suka dan mungkin telah saya baca ulang entah sudah berapa puluh kali hingga saat ini.
To: Indah_widya_a, trims udah bayarin nonton film ini karena sayang banget kalo harus bayar sendiri demi film seperti ini hahaha…., next time i'll treat you mate, ayo kamu mau nonton apa? ^^
Selasa, 02 Desember 2014
Kakek Tua Penjual Amplop dan Lima Ratus Rupiah
Hari ini memang istimewa.
Alhamdulillah.
Macet parah membuat perjalanan dari rumah ke kampus tiga puluh menit lebih lama dari biasanya. Printer di rumah kebetulan sedang cuti—sebab kehabisan tinta—jadi begitu tiba di kampus saya masih harus berlari-lari ke UKSI untuk mencetak tugas. Sepanjang jalan saya sudah membayangkan kemungkinan terburuk:
Bagaimana kalau setelah semua kerempongan ini saya malah tidak boleh masuk kelas?
Ternyata dosen mata kuliah pagi itu baru tiba dari San Francisco malam sebelumnya. Beliau mengaku masih jet lag dan, tidak seperti biasanya yang sangat tepat waktu, pagi itu memilih menunggu sampai semua peserta hadir sebelum mulai mengajar.
Alhamdulillah.
Kadang-kadang kemalangan kecil kita memang bisa diselamatkan oleh jet lag orang lain. =D
Sambil menunggu kuliah dimulai, saya menemui Pak Undang dan memesan nasi pepesnya yang terkenal seantero Sipil untuk makan siang nanti.
Berasaaa jadi mahasiswa lagi. =D
Tiga jam kemudian kuliah selesai. Setelah berdadah-dadah dengan teman sekelas, saya langsung menuju Salman. Ada buku yang harus dikembalikan ke Salman Reading Corner. Sudah kena denda pula.
Tapi ketika berjalan menuju kompleks Salman, langkah saya mendadak berhenti. Tas lusuh itu. Tumpukan amplop. Kresek-kresek hitam. Saya mengenalnya. Tidak mungkin salah. Pak Darta.
Pak Darta adalah penjual amplop yang dulu sering saya temui di sekitar Salman ketika masih kuliah S1. Lima tahun saya meninggalkan kampus. Dan lima tahun pula saya tidak melihat beliau. Tapi siang itu rasanya seperti tidak banyak yang berubah. Beliau masih duduk dengan dagangan yang sama: amplop-amplop yang di zaman korespondensi serba elektronik seperti sekarang bahkan saya sendiri sudah jarang tahu harus digunakan untuk apa.
Dulu saya sering membeli dagangannya. Bukan karena membutuhkan amplop sebanyak itu. Kebutuhan saya terhadap amplop bahkan mungkin tidak sebanding dengan frekuensi saya membelinya. Tapi entah kenapa, setiap melewati Pak Darta, kaki saya hampir selalu berbelok ke arahnya. Dan lima tahun kemudian, rupanya kebiasaan itu belum hilang.
Saya memilih beberapa bungkus. “Janten sabaraha, Pak?”
Tidak ada jawaban. Saya menunggu sebentar, lalu baru teringat pendengaran beliau memang sudah berkurang sejak dahulu. Saya mengulang pertanyaan sedikit lebih keras.
“Anu tilu sarebu lima ratus, Neng. Janten opat rebu lima ratus. Anu alit ieu mah sarebu. Sadayana lima rebu lima ratus.”
Tangannya yang gemetar memasukkan amplop-amplop itu ke dalam kresek hitam. Lalu beliau menambahkan, “Tapi sawios, janten lima rebu wae.”
Saya terdiam. Lima tahun.
Dan ternyata yang berubah dari harga dagangannya hanya sedikit. Sementara beliau masih sempat memberi saya potongan lima ratus rupiah. Lima ratus rupiah. Nilainya mungkin tidak seberapa. Tapi tiba-tiba saya memikirkan berapa lembar amplop yang harus beliau jual untuk mendapatkan lima ratus rupiah itu. Dan entah kenapa, mata saya mulai panas.
Awalnya saya sudah berniat memberikan uang lebih. Tangan bahkan sudah bersiap mengambilnya. Tapi kemudian saya urungkan. Saya membayar lima ribu rupiah seperti yang beliau minta. Entah benar atau tidak, saat itu saya merasa ingin menerima pemberiannya.
Sebab mungkin kebaikan tidak selalu harus bergerak dari orang yang merasa punya lebih banyak kepada orang yang dianggap punya lebih sedikit. Pak Darta ingin memberi saya diskon lima ratus rupiah. Maka kali itu, biarlah saya menjadi orang yang menerima. Barangkali menerima dengan baik juga merupakan salah satu cara menghargai orang yang sedang ingin memberi. Saya memasukkan amplop ke tas.
Dan ketika itulah tangan saya menyentuh sesuatu. Nasi pepes Pak Undang.
Ah.
Makan siang saya.
Saya menatap bungkusan itu sebentar, lalu menatap Pak Darta. “Pak, parantos tuang?”
Belum.
Saya menawarkan nasi pepes itu kepadanya. Dan betapa leganya ketika beliau mau menerimanya. Tidak ada lagi hitung-hitungan tentang lima ratus rupiah. Tidak ada yang berutang kebaikan kepada siapa. Beliau memberi sesuatu kepada saya. Saya kebetulan punya sesuatu yang bisa diberikan kepadanya. Selesai. Sesederhana itu.
Saya melanjutkan perjalanan ke Salman dengan beberapa bungkus amplop di dalam tas dan tanpa nasi untuk makan siang. Anehnya, hati terasa penuh. Mungkin karena pertemuan dengan Pak Darta mengingatkan saya pada sesuatu yang sering terlupakan ketika hidup sedang terlalu sibuk.
Bahwa memberi tidak selalu menjadi hak istimewa orang yang punya lebih banyak. Orang yang hidup sederhana pun masih punya sesuatu untuk diberikan. Lima ratus rupiah. Senyuman. Potongan harga. Atau sekadar keinginan untuk tidak mengambil lebih dari yang menurutnya menjadi haknya.
Dan mungkin kita juga tidak selalu harus buru-buru membalas setiap kebaikan agar merasa impas. Kadang cukup diterima. Disimpan baik-baik. Lalu suatu hari diteruskan kepada orang lain.
Ketika pulang dari kampus, Bandung masih macet. Sama seperti pagi tadi. Mobil-mobil masih merayap. Klakson masih bersahutan. Tidak ada keajaiban besar yang terjadi hari itu. Saya cuma terlambat datang ke kampus. Mencetak tugas terburu-buru. Kuliah tiga jam. Kena denda buku. Membeli amplop yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Dan kehilangan jatah makan siang.
Tapi entah kenapa, hari itu terasa istimewa.
Mungkin karena pagi tadi saya memulai perjalanan dengan sibuk menghitung segala hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Sementara sore itu saya pulang dengan menghitung sesuatu yang berbeda. Dosen yang kebetulan jet lag. Pertemuan dengan seseorang yang sudah lima tahun tidak saya jumpai. Diskon lima ratus rupiah. Dan sebungkus nasi pepes yang ternyata menemukan orang yang lebih tepat untuk memakannya.
Hal-hal kecil. Tapi rupanya cukup untuk membuat perjalanan pulang dalam kemacetan Bandung terasa sedikit lebih menyenangkan. Saya menyetir sambil bernyanyi kecil. Dan sekali lagi berkata dalam hati: Alhamdulillah.
Resensi MERAWAT LUKA BATIN: Buku yang Tak Kunjung Selesai Dibaca
Sudah hampir dua bulan buku Merawat Luka Batin karya dr. Jiemi Ardian ini menemani saya ke mana-mana. Masuk tas, dibawa ke kantor, menem...
-
Time flies.... Rasanya baru kemarin, belajar tergopoh-gopoh semalam suntuk untuk ujian masuk S2 ITB, dari mulai bahasa Inggris, TPA, da...
-
"Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dah...
.jpg)



