Kamis, 28 Desember 2017

Diary Penuh Namanya

Beres-beres  rumah. Menyapu semua debu, mensortir barang dan buku-buku lama.

Ada yang tertinggal di sela tumpukan barang-barang tak penting itu: diary tebal bersampul coklat, terisi penuh dengan tulisan tanganku, sampai halamannya yang terakhir. Peninggalan masa remaja yang tak bisa dibilang gilang gemilang, tapi membacanya serasa membuka lagi lembaran-lembaran kenangan, mengingatkan episode-episode hidup yang karena waktu, terasa sudah memudar ruhnya.

Ada banyak kisah disana, kejadian remeh dan sepele, hal-hal kecil yang banyak terjadi pada kehidupan seorang anak SMA. Memasang target juara umum, menginginkan sebuah gaun yang ternyata terlalu mahal, berseteru dengan teman, kenangan saat camping dan...jatuh cinta.

Tanpa kusadari ternyata hanya ada satu nama yang menjadi benang merah dalam diary itu, nama yang  entah kenapa mengisi hampir setiap lembarannya. Bahkan dalam cerita kehujanan sepulang sekolah pun bisa-bisanya nama itu ada disana.

Nama kamu, ya, hanya nama kamu.

Kamu, kakak kelas ketika SD, satu sekolah ketika SMP, dan hampir menjadi seorang kekasih ketika SMA. Ajaib, bagaimana aku bisa mencintai kamu begitu lama, menempuh jarak hingga berbilang tahun, sementara setiap berjumpa menatap matamu saja aku tak pernah sanggup. Hanya cinta yang bisu, tapi bukankah itu yang membuat indah cinta pertama. Saat cinta hanyalah cinta, tanpa pretensi dan dugaan apapun di dalamnya.

Mencintai kamu, entah kenapa membuatku ingin jadi perempuan baik-baik, membuatku ingin jadi perempuan pintar, atau setidaknya jadi seseorang yang bisa dibanggakan, seperti energi positif saat menatap pelangi sehabis hujan, atau menghirup tanah yang basah saat hujan pertama. Cinta monyet anak SD yang bertransformasi menjadi cinta yang memanusiakan setelah bertahun terlampaui.

Tapi entah kenapa alam seolah berkomplot untuk menjauhkanku darimu. Kamu tahu?, aku menunggumu berjam-jam siang itu, di Agen Bus Budiman Ciawi sementara kamu tak pernah datang hingga bis terakhir menjemputku. Sementara itu akhirnya aku pun tahu, seharian kamu menungguku di tempat berbeda dan tentu saja aku pun tak pernah datang untukmu. Sayang saat itu belum ada HP.

Dari sekian kali janji bertemu yang tak pernah jadi, kamu hanya bisa bilang: "Mungkin bukan jodoh". Satu kalimat sederhana  yang membuat seluruh persepsiku tentangmu hancur berantakan. Kamu, yang selalu kuanggap mewakili semua hal tentang impian dan keberanian mewujudkannya, ternyata hanya seorang pria yang dengan mudahnya menyerah pada takdir. Padahal aku ingin kamu berkata, "Jika Tuhan menuliskan kita memang bukan jodoh, aku akan berusaha agar Tuhan berkenan menghapus kata 'bukan' itu". Takdir bisa dirubah, tahukah kamu?, dan aku percaya itu dengan segenap imanku.

Maka bagaimana bisa aku mencintai orang selemah itu, bagaimana bisa aku menggantungkan harapan pada orang yang bahkan tak mau berjuang untuk impiannya sendiri, atau….
Aku yang tak layak untuk sekedar jadi impian bagimu?.

Dan dengan praduga aku-tak-layak-jadi-impian-bagimu, yang semakin dikuatkan dengan kehadiran wanita lain disisimu, aku belajar untuk merelakanmu.

Menenggelamkan diri dalam tumpukan buku-buku pelajaran, melarikan semua duka dan putus asa dalam deretan rumus dan perhitungan. Dan dengan getir mengakui, bahwa semakin keras upayaku menafikanmu, semakin deras pula rindu itu menyergapku. Sialnya hanya aku yang merasakan kegetiran itu sendirian. Kamu tahu  kenangan bisa membunuh  pelan-pelan?, karena sangat menyakitkan ketika aku ingat semuanya, aku  ingat setiap baris puisi yang kamu buat untukku, aku ingat rasa coklat yang kamu beri di hari ulang tahunku, aku ingat bunyi derai hujan saat kita menunggu bis berdua, aku ingat, aku ingat semua potongan kenanganku bersamamu.

Dan aku ingat bahwa tak satupun janji yang pernah kamu penuhi. Kenyataan yang selama ini selalu kusangkal tapi kini terlalu nyata untuk kuabaikan.

Dan buku menjadi benteng pertahanan terakhirku. Pelarianku yang gila pada buku pelajaran ternyata membuatku masuk ITB, dan entah kenapa setelah terluka olehmu Tuhan membuka mataku pada cinta lain yang selalu menungguku dan selalu kuabaikan selama lima tahunku dalam bayang-bayangmu.

Meski sulit dijalani, perjuanganku menata hati sepeninggalmu ternyata berbuah manis. Aku belajar banyak hal dan mendapatkan banyak  hal juga dari setiap luka yang kamu goreskan.

Karena kamu, jiwaku utuh kini.  Aku punya pekerjaan yang baik dan kusukai, juga cinta yang selalu kucari, yang kupikir  ada padamu  dan ternyata malah kutemukan pada diri orang yang selalu kuabaikan. Ia,  pria disamping ku kini, yang mencintaiku seperti adanya aku, yang kepadanya aku menyandarkan banyak hal, yang membuatku merasakan seperti apa mencintai tanpa kekhawatiran cinta itu tak berbalas.

Dan jika Tuhan memperkenankan kita untuk bertemu lagi di masa depan, aku ingin mengucapkan terima kasih dari hati terdalam padamu. Karena aku sampai di titik ini dalam hidupku, sebagiannya karena kamu. Terima kasih…

Dan diary coklat itu kusatukan dengan tumpukan barang-barang buangan. Terlalu banyak yang harus kusyukuri saat ini, sampai tak tersisa waktu untuk menoleh ke belakang.



*Untuk D, kuharap kamu mendapat semua hal terbaik.

Jumat, 27 Oktober 2017

SAAT KITA TAK LAGI JADI SAHABAT...

Pernahkah?, sekali saja dalam hidup, kamu memutuskan untuk mencoret nama seseorang dari hatimu?. Seseorang yang pernah punya arti, seseorang yang pernah kamu anggap lebih dari saudara, ialah seseorang yang pernah kamu panggil sahabat. 

Saya pernah, dan rasanya sungguh tak enak. 

Dan jika diingat-ingat lagi mungkin ada dua orang yang saya perlakukan seperti itu. Orang pertama adalah sahabat saya sejak SD, sebut saja namanya Ina. Persahabatan kami yang dimulai sejak SD berlangsung terus hingga SMA, bahkan hingga saya lulus SPMB dan kemudian kuliah sementara  Ina memutuskan untuk menikah dengan guru SMA-nya. Tak ada masalah sebenarnya, hanya saja lambat laun, mungkin karena kesibukan saya di kampus dan kesibukan Ina sebagai ibu rumah tangga, hubungan kami terputus begitu saja. Tak ada lagi surat-menyurat di akhir minggu (karena tiga tahun terakhir dalam masa persahabatan ini,  kami tinggal di kota yang berbeda), tak ada lagi kunjungan-kunjungan akrab setiap saya kebetulan pulang ke kampung halaman. Bahkan entah kenapa sekarang rasanya ada sekat yang tak bisa ditembus setiap saat kami bertemu. Hanya ada perbincangan-perbincangan sopan yang terasa berjarak, padahal dulu kami akan dengan heboh bercerita setiap detail kejadian yang kami alami di saat-saat tak bersama. Hingga lambat laun akhirnya saya pun memutuskan untuk tak menghubunginya duluan.

Kadang sedih rasanya, saat menyadari bahwa persahabatan kami terputus bukan serta merta karena ada masalah, tapi lebih karena kami mulai saling mengabaikan hingga perlahan kami mulai saling menjelma menjadi orang asing. Lebih pedih lagi saat kesadaran berikutnya hadir, bahwa setelah hubungan kami menjadi seperti ini, rasanya akan sulit untuk mengembalikannya kembali seperti dulu. Nyaris tak mungkin, ada sesuatu yang mengganjal yang tak bisa dijelaskan bagaimana dan kenapa bisa seperti itu. Satu-satunya yang tampak jelas hanyalah fakta bahwa kini kami sekedar "teman" dan bukan lagi "sahabat". 

Orang berikutnya adalah teman saya ketika SMA yang lucunya mulai menjadi sahabat saya setelah menikah. Sebut saja namanya Opi. Persahabatan kami terjalin saat saya dan suami mulai sering berkunjung ke rumahnya. Dan karena usia perkawinan kami tak terpaut jauh, bisa dibilang kami berangkat memulai bahtera rumah tangga kami dari nol bersama-sama. Saya tahu persis perjuangannya membangun rumah tangga dari awal, dari mulai menjadi pedagang ikan di pasar tradisional sampai akhirnya bisnisnya meningkat pesat dengan menjadi pemasok rumah makan-rumah makan besar di seputaran kota Bandung. Saat rumah tangga kami masih saja berkutat dengan gaji bulanan yang hanya cukup untuk bertahan hidup setiap bulan, Opi sudah mampu membeli rumah dan kendaraan dengan uang cash. 

Tapi seperti kebanyakan episode kehidupan yang melesat cepat juga menukik tajam, Opi juga tersandung masalah hingga kemudian bercerai dan terbelit hutang dalam jumlah yang tidak sedikit. Saya masih tetap menganggapnya sahabat bahkan saat hidup Opi tengah hancur-hancuran seperti ini. Tak juga lantas berpikiran negatif saat ia melarikan uang saya dan suami dalam jumlah yang cukup besar. Saya percaya, di luar kesalahannya dalam rumah tangga, Opi adalah sahabat baik yang tak akan mungkin mengkhianati saya dan suami.

Begitulah, hampir dua tahun sudah Opi menghilang tanpa kabar sampai pada suatu hari ia menelepon saya. Sedikit pun saya tak mengungkit masalah uang yang ia pinjam, bahkan saya masih mempersilakannya datang ke rumah kami, menawarinya tempat usaha dengan asumsi mungkin sekarang ia akan belajar dari kesalahan masa lalu dan mencoba memperbaiki diri. Saya memang cukup kaget saat tahu bahwa sekarang ia menjadi istri muda seorang pejabat di kejaksaan, tapi di luar fakta itu saya mencoba untuk tidak berubah sikap.

Hati saya mulai merasa terganggu saat ia meminjam uang lagi pada saya. Jumlahnya memang tak banyak, tapi jumlah yang sedikit namun sering ini rasanya mengganggu. Apalagi saat ia mulai menawarkan barang-barang pribadinya untuk dijual, saya merasa semakin tak nyaman. Akhirnya saya memilih untuk memutuskan hubungan saya dengannya. Saya sengaja tak membalas semua pesannya ataupun mengangkat teleponnya. dan lambat laun hati saya pun mulai terbiasa dengan ketidakhadirannya dalam hidup saya. Mungkin sikap saya ini salah, tapi saya tak bisa mengingkari ada sisi hati saya yang merasa ia memanfaatkan saya habis-habisan. 

Dan begitulah, sampai hari ini ternyata kebekuan hati saya tak juga kunjung mencair. Sama sekali tak tersentuh meski Opi mencoba menghubungi saya berkali-kali. Entahlah, mungkin suatu hari, saat saya sudah menjadi orang baik, saya akan mencoba menghubunginya duluan. Sementara untuk saat ini, biarkanlah seperti ini saja dahulu.

Dua kasus diatas sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk memberitahukan pada saya: kehilangan sahabat itu menyakitkan.  Atau lebih tepatnya, kehilangan orang yang pernah kita sayangi itu menyakitkan, entah itu sahabat, pacar, saudara. Maka untukmu yang saat ini masih memiliki sahabat atau orang yang dekat dengan kita, genggamlah erat tangannya. Jangan sekalipun mengabaikan karena bisa jadi satu pengabaian kecil akan menjadi awal mula dari keterasingan yang merusak hubungan selamanya. Dan saat itu terjadi akan sulit sekali untuk memperbaiki, untuk merekatkan kembali hubungan yang sudah renggang.



*saat menulis ini entah kenapa hati saya rasanya pedih sekali... 




Kamis, 12 Oktober 2017

HILANGNYA EMPATI PARA KARTINI





Tahun 2014 silam, nama Dinda sempat menjadi nama yang terkenal di kalangan para netizen, sayangnya Dinda terkenal bukan karena prestasi , tapi karena keluhannya di media sosial mengenai ibu hamil. Cerita dimulai ketika Dinda, yang adalah seorang commuter ini keberatan ketika kursi kereta yang sudah didapatkannya dengan susah payah harus diberikan begitu saja pada seorang ibu hamil. Padahal perjuangan Dinda untuk bisa dapat tempat duduk di KRL ini sungguh luar biasa, Dinda sampai harus bangun pagi dan pergi menuju stasiun yang jauh dari rumahnya. Dalam perspektif Dinda, seharusnya ibu hamil ini pun melakukan hal yang sama jika memang ingin dapat tempat duduk, bukan dengan seenaknya begitu saja meminta tempat duduk dari penumpang lain.

Curhatan Dinda ini menjadi viral dan mendapat banyak reaksi negatif, selain menuai hujatan dan caci maki bahkan banyak dibuat meme-meme yang kocak tapi jleb-banget menanggapi curhatan Dinda ini.  Dinda yang awalnya bersikeras untuk tidak merasa salah, akhirnya memutuskan untuk meminta maaf melalui media sosial yang sama. 

Sangsi sosial yang diberikan pada Dinda oleh warga netizen ini ternyata tak lantas memberi efek jera. Pada bulan Juni 2017 silam, kasus Dinda ini berulang lagi, kali ini seorang mahasiswi bernama Shafira Nabila Cahyaningtyas yang menjadi bintang utamanya. Ceritanya hampir sama persis, Shafira yang sedang enak-enak tidur di kereta dibangunkan petugas keamanan kereta dan dianjurkan untuk memberikan tempat duduknya pada seorang ibu hamil. Merasa tak terima, mahasiswi ini marah-marah di media sosial.











Lagi-lagi, curhatan mengenai ibu hamil ini menjadi viral juga. Kecaman dan hujatan dari netizen sempat membuat akun media sosial mahasiswi ini ditutup. Tak seperti Dinda, Shafira cukup beruntung karena tak ada meme anekdot yang beredar tentang dirinya. (*Meskipun untuk saya pribadi, dihujat dan dicaci maki orang ramai walaupun hanya sekedar di media sosial itu sudah lebih dari cukup untuk dibilang menyakitkan sih =D).

Entah mengapa, untuk saya fenomena Dinda dan Shafira ini menarik untuk diamati. Dalam perspektif pemerintah, curhatan Dinda dan Shafira ini bisa menjadi masukan yang penting terkait dengan ketersediaan infrastruktur, sarana prasarana yang memadai serta regulasi yang melindungi. Di sisi lain, Dinda dan Shafira ini menjadi PR untuk lembaga-lembaga pendidikan. Bagaimana bisa, produk pendidikan tinggi seperti Dinda dan Shafira ini ternyata tak memiliki kemampuan untuk berempati, untuk merasakan emosi yang dirasakan orang lain. Bukan tidak mungkin jika keduanya adalah puncak dari gunung es "ketidakempatian" yang tidak kelihatan. 

Dan saya memang merasakan "gunung es" tersebut. Qadarullah, saya hamil lagi. Saat usia kehamilan saya masih sekitar dua bulanan, sama sekali tidak ada tanda kehamilan yang bisa dilihat oleh orang lain sekilas dari tampilan fisik saya.  Maka saya pun merasa maklum ketika naik angkutan umum, sama sekali tak ada yang berkenan memberikan tempat duduknya untuk saya. Tapi pernah suatu kali, saya merasa marah juga. Di bus Transjakarta menuju Gambir yang saya naiki sepulang kerja pada suatu sore, seorang ibu hamil berdiri di depan kursi yang diisi seorang gadis muda yang duduk bersebelahan dengan ibu-ibu yang membawa anak kecil. Saya perkirakan dari besar perutnya, mungkin usia kandungan ibu hamil ini sudah masuk trisemester akhir. Satu menit, dua menit, saya tunggu si gadis muda ini untuk berdiri. Ia tetap bergeming meski petugas di pintu sudah berteriak-teriak untuk memberikan kursi bagi si ibu hamil. Sepuluh menit kemudian, si gadis muda ini masih tetap duduk. Melihat sama sekali tak ada gelagat ia akan memberikan kursinya untuk si ibu hamil, akhirnya saya jengkel juga. Saya colek bahu si gadis muda, dan dengan kekesalan yang ditahan-tahan, saya minta si gadis muda memberikan kursinya untuk si ibu hamil. Nggilani, si gadis muda ini berdiri dengan sikap malas-malasan yang tak ditutup-tutupi. Sampai saya siap-siap jika ia akan balik mengomeli saya meskipun untungnya ternyata ia memilih untuk tak berkata apa-apa.

Sepanjang sisa perjalanan, saya mengamati si gadis muda ini. Dari mulai kerudungnya yang tak menutupi dada, sampai kemejanya yang ngatung. Ingin sekali menemukan sedikit saja raut sakit dari wajahnya agar saya mendapat pembenaran di balik alasan ketakpeduliannya pada ibu hamil yang jelas-jelas berdiri di depan mukanya. Sayang sekali, pengamatan saya malah menunjukkan bahwa ia sehat-sehat saja. Hingga saya memutuskan bahwa alasan di balik sikapnya murni karena ia memang tak peduli. Dan akhirnya saya hanya bisa menghela nafas.

Pada kesempatan yang lain (lagi-lagi di bus TransJakarta), sayalah yang dicuekin oleh penumpang wanita di depan saya. Maka bagaimana mungkin saya berinisiatif meminta tempat duduk saat tak terlihat sedikit pun tanda ada yang peduli pada wanita berperut buncit ini. Dan lagi-lagi saya hanya bisa menghela nafas.

Mungkin di zaman ini, memang perlu untuk para wanita muda ini mengalami sendiri bagaimana rasanya mengandung. Mengalami sendiri agar bisa merasakan bagaimana kondisi fisik wanita itu melemah kala ada janin yang tumbuh di rahimnya. Bukankah Allah pun memberikan keringanan (rukhshah) untuk tidak berpuasa  bahkan pada bulan Ramadhan salah satunya adalah pada wanita hamil.

Kondisi fisik setiap calon ibu memang berbeda-beda, ada yang dianugerahi tubuh yang kuat selama masa kehamilan, tetapi banyak juga yang tubuhnya melemah, seperti yang saya rasakan pada masa kehamilan yang keenam ini. Pola makan dan waktu tidur saya kacau balau. Hampir setiap malam, saya baru bisa tidur setelah pukul 01.00 dinihari, alhasil, kepala saya pusing setiap bangun shubuh. Dan bisa ditebak bagaimana lemasnya badan saya sepanjang hari. Duduk di kursi saja punggung dan pinggang saya sakit, bagaimana bisa saya harus berdiri sepanjang perjalanan pergi dan pulang bekerja. Alhamdulillah, di masa sekarang ini ada layanan transportasi online. Sungguh sangat membantu untuk saya yang berdomisili cukup dekat dari tempat kerja.

Tapi bayangkan untuk para commuter yang harus berganti 2 hingga 3 kali moda transportasi untuk sampai ke tempat kerja, bagaimana borosnya jika harus bergantung pada transportasi online. Padahal rezeki setiap orang itu berbeda-beda, bersyukurlah untuk yang diberi kelonggaran sehingga bisa naik moda transportasi yang nyaman untuk pulang dan pergi bekerja. Tapi bagaimana untuk mereka yang oleh Allah tak diberi kelonggaran yang sama, mereka yang menghitung dengan persis berapa anggaran untuk transportasi setiap bulan sehingga transportasi umum yang murah menjadi satu-satunya pilihan.  Hingga bahkan ketika hamil pun mereka harus bertahan dengan moda transportasi umum tersebut.

Berdesak-desakan, berebut kursi, dengan tubuh yang kian melemah setiap bulan seiring dengan membesarnya janin dalam kandungan. Tetap menjalani itu semua walau dengan resiko mempertaruhkan keselamatan diri sendiri dan calon bayi yang dikandung karena kewajiban untuk ikut mencari nafkah. Sampaikah pemikiran para wanita muda yang tak peduli itu kesana. Entahlah, mungkin memang harus merasakan sendiri dahulu agar bisa peduli.







*note: gambar saya dapat dari google dengan kata kunci pencarian Dinda, Shafira dan ibu hamil. 


                                                                                                                                                                                         




Kamis, 28 September 2017

Cinta dalam Dimensi Seorang Snape (Harry Potter dan Relikui Kematian)




If you loved Lily Evans, if you truly loved her, then your way forward is clear.”
Snape seemed to peer through a haze of pain, and Dumbledore’s words appeared to take a long time to reach him.
“What — what do you mean?”
“You know how and why she died. Make sure it was not in vain. Help me protect Lily’s son.”
(Deathly Hallows, Chapter 33, The Prince's Tale).



[Snape] stood up. “You have used me.”
“Meaning?”
“I have spied for you and lied for you, put myself in mortal danger for you. Everything was supposed to be to keep Lily Potter’s son safe. Now you tell me you have been raising him like a pig for slaughter-”
“But this is touching, Severus,” said Dumbledore seriously. “Have you grown to care for the boy, after all?”
“For him?” shouted Snape. “Expecto Patronum!
From the tip of his wand burst the silver doe: she landed on the office floor, bounded once across the office, and soared out of the window. Dumbledore watched her fly away, and as her silvery glow faded he turned back to Snape, and his eyes were full of tears.
After all this time?
“Always,” said Snape.
(Deathly Hallows, Chapter 33, The Prince's Tale).



Snape adalah karakter yang sama sekali tak pernah masuk dalam hitungan saya sejak pertama mengenal serial Harry Potter. Bagaimana bisa masuk hitungan, sejak buku pertama ia selalu digambarkan sebagai sosok guru yang menyebalkan, selalu pilih kasih terhadap Draco Malfoy yang merupakan musuh Harry, begitu pun setiap tindakan ataupun gerak geriknya selalu menunjukkan kebencian yang sengit terhadap Harry. Dengan semua penggambaran seperti itu, mana bisa ia jadi tokoh yang mendapat simpati dari pembaca.

Namun pelan-pelan citra terhadap dirinya mulai berubah. Terungkap kemudian bahwa justru Snape telah beberapa kali menyelamatkan hidup Harry, bahkan sejak tahun pertama Harry ada di Hogwarts. Terungkap juga bagaimana cintanya Snape pada ibunya Harry, yang kemudian menjadi alasan kuat bagi Dumbledore untuk tetap percaya pada Snape bahkan ketika Snape harus menjadi agen ganda. 

Dan jika kemudan Harry menamai salah satu putranya dengan nama depan Snape, menurut saya itu sangat layak untuk Snape mengingat semua pengorbanan yang telah dilakukannya. Tak mudah menjadi seorang Snape, pada usia remaja, kemiskinan dan kecenderungannya akan ilmu hitam membuatnya menjadi bulan-bulanan murid lain yang lebih popular (dalam hal ini James Potter dan gengnya), di usia beranjak dewasa wanita yang dicintainya sejak kecil malah menikah dengan orang lain, dan di masa dewasanya ia menjadi sosok yang selalu dianggap berada di bawah bayang-bayang Voldemort hingga ia tak pernah mendapat kepercayaan penuh dari rekan sejawatnya sendiri di Hogwarts. 

Dan memang tak mudah juga bagi Snape untuk menjadi seorang agen ganda. Ia mempertaruhkan nyawanya sendiri dengan memainkan peran berpihak pada Voldemort padahal kesetiaan tertingginya adalah untuk Dombledore. Satu-satunya yang membuat ia mampu menjalaninya mungkin hanya satu: motivasinya untuk menjaga anak Lily Evans, cinta sejatinya, tetap hidup.

Bahkan saat membunuh Dumbledore pun, siapa yang meyangka bahwa itu semata untuk menjalankan perintah dari Dumbledore sendiri, untuk menyelamatkan Draco Malfoy, untuk mencegah jiwa Draco rusak karena menjadi seorang pembunuh.

Snape memang karakter yang sangat unik. Tokoh yang lebih mudah untuk dicap sebagai antagonis karena memang demikianlah pembawaannya.  Lebih mudah untuk menyematkan cap penjahat pada Snape alih-alih mengakui kepahlawanan yang selalu dilakukannya di belakang layar.

Ada satu bagian yang akan selalu saya kenang dari buku Harry Potter dan Relikui Kematian, yaitu saat Snape protes pada Dumbledore: 

Dumbledore menarik nafas dalam-dalam dan berujar pelan. ”Memberitahunya bahwa pada malam ia dapat bertahan hidup, Lily memasang tameng baginya dengan nyawanya sendiri. Kutukan Maut memantul kepada Voldemort dan seserpih jiwa Voldemort tercabik dari keseluruhannya dan menempel pada satu-satunya jiwa yang masih hidup didalam bangunan rumah mereka. Sebagian dari jiwa Voldemort hidup dalam jiwa Harry. Dan selama jiwa itu ada, Voldemort tidak akan mati.” Dumbledore menarik nafas dalam. ”Dan Voldemort sendiri yang harus melakukannya. Ini penting.”

”Jadi... Anak itu harus mati?” Severus Snape terperangah, ia terkejut mendapat pernyataan seperti demikian. ”Kupikir... selama bertahun-tahun ini... kita melindunginya untuknya. Untuk Lily.”

”Kita melindunginya, karena perlu sekali untuk mendidiknya, membesarkannya, membiarkannya mencoba kekuatannya,” kata Dumbledore.

”Kau mempertahankannya untuk tetap hidup supaya bisa mati pada saat yang tepat?” Snape menarik nafas panjang. ”Aku sudah menjadi mata-mata untukmu, berbohong untukmu. Semuanya dimaksudkan untuk menjaga anak Lily Potter tetap selamat. Sekarang kau memberitahuku kau membesarkannya seperti hewan yang akan disembelih—”

”Ini mengharukan,  Severus. Apakah kau kini telah menyukai anak itu, akhirnya?”

”Menyukai dia?” teriak Snape. ”Expecto Patronum!” Dari ujung tongkat sihir Snape muncul sesosok rusa betina keperakan. Rusa itu mendarat di lantai kantor dan melesat keluar dari jendela. Dumbledore mengawasinya terbang menjauh, dan ketika cahaya perak memudar, dia menoleh kembali kepada Snape, dan matanya penuh dengan air mata.

”Setelah sekian lama ini?”

”Selalu.” 


Dumbledore kaget, karena bentuk patronus Snape masih berbentuk rusa betina, persis sama dengan patronusnya Lily, padahal bertahun sudah Lily meninggal.

Ya, bertahun sudah Snape mencintai Lily, selalu disampingnya bahkan sejak kecil saat Lily belum menyadari kekuatannya sendiri sebagai seorang penyihir. Cinta itu disimpannya terus bahkan hingga saat Lily memutuskan untuk menikah dengan musuh bebuyutannya sejak sekolah: James Potter. Saat Lily terbunuh mungkin adalah titik balik dalam hidup Snape, ia menyeberang ke pihak Dumbledore dan memastikan bahwa tujuan hidupnya kemudian hanya satu: menjaga anak Lily tetap hidup, setelah ia gagal menjaga hidup Lily yang selalu dicintainya.




Siapa sangka jika cinta tak bersyaratnya pada Lily-lah yang membuat alur hidupnya berubah, dari pengikut sihir hitam yang keji menjadi pahlawan yang kebesaran jiwanya tak diragukan lagi meski selalu berada di balik layar. Fragmen-fragmen singkat saat Harry melihat ke dalam pensieve ingatan terakhir Snape:  Snape memeluk jasad Lily yang tak bernyawa dengan jeritan dan tangis pilu, Snape yang kemudian mendatangi Dumbledore dalam keadaan kacau balau, Snape yang mengacak-acak kamar Sirius untuk menyobek foto Lily dan bagian terakhir surat yang tertera tanda tangan Lily, semakin mengokohkan fakta bahwa ya, terlepas kepada siapa akhirnya Lily memutuskan untuk memberikan hatinya, cinta Snape tetap tak berubah.

Cinta tak bersyarat seperti itu, saya yakin tak semua orang punya. Dan entah kenapa, tiba-tiba saja saya merasa, satu fragmen Snape menyihir patronus yang sama persis dengan patronus Lily di depan Dumbledore, setara dengan kisah cinta berjilid-jilidnya Isabella Swan dan Edward Cullen.



*gambar saya ambil dari https://www.pinterest.com/source/abby27nix.deviantart.com/ dan http://vitrinugraha.blogspot.co.id/2013/08/dibalik-seorang-severus-snape.html


Senin, 25 September 2017

Menghilangkan Flek Hitam di Wajah (2)



“Merawat kulit itu adalah tentang belajar bersyukur dan menghargai diri sendiri"




Entah karena kurang telaten atau bagaimana, tapi cara yang saya posting sebelumnya pada Menghilangkan Flek Hitam di Wajah ternyata tak berhasil. Flek hitam di wajah saya tak lantas berkurang atau bahkan entah karena faktor usia atau apa, flek-flek hitam itu rasanya malah menyebar dan semakin banyak. 


Saya mulai mencoba dan mempraktekkan banyak tips yang saya peroleh dari google, diantaranya:


  1. Dengan jeruk nipis, yang diaplikasikan di wajah setiap pagi dan malam hari. Cara ini direkomendasikan banyak orang sebagai salah satu metode yang ampuh, sayangnya tak berhasil untuk saya. Yang ada kulit muka saya perih dan pada suatu malam suami saya komentar: "Berasa tidur sama es teh lemon", duh...
  2. Dengan asam jawa, yang diaplikasikan di wajah setiap pagi dan malam hari, dibiarkan mengering dan kemudian dibasuh dengan air hangat. Well... muka saya memang terasa lebih halus, tapi flek hitamnya tetap saja tuh.
  3. Produk-produk yang diiklankan mampu menyamarkan noda hitam dan mencerahkan wajah seperti Pond’s dan Olay. Ini mungkin karena saya yang kurang telaten, tapi setelah sekian bulan pemakaian tak kunjung melihat perubahan yang berarti akhirnya rangkaian produk dari dua brand besar tersebut malah saya hibahkan.
  4. Bio Oil, produk ini sejatinya sih digunakan untuk mengobati stretch mark, tapi demi membaca salah satu kegunaan yang tertera di botolnya adalah untuk mengatasi uneven skin tone dan ageing skin lantas saya pun iseng mencobanya di muka. Sayangnya lagi-lagi karena saya yang cukup pembosan, setelah menghabiskan botol kedua, saya memutuskan untuk menghentikan penggunaan Bio Oil ini di muka saya.
Akhirnya saya kembali menghabiskan banyak waktu di depan komputer, untuk membaca berbagai review produk-produk kecantikan. Dan setelah membaca review dari banyak produk, pilihan saya kemudian jatuh pada SK II. Memang mahal sih, tapi membaca banyak review dari beauty blogger yang cocok dengan brand ini sungguh membuat ngiler. Apalagi ditambah dengan testimony produk ini awet untuk berbulan-bulan, hingga jika dikalkulasi anggaran tiap bulan menggunakan produk ini bisa sama bahkan jauh lebih murah dibanding biaya perawatan ke dokter.


Pada awalnya saya sempat tergoda untuk membeli produk SK II lewat online shop. Alasannya sederhana, harga yang ditawarkan online shop ternyata jauh lebih murah dari harga di gerai resmi. Tapi setelah  banyak membaca lagi, saya menemukan kasus-kasus dijualnya produk SKII yang palsu di luaran sana.  Karena saya belum tahu seperti apa produk SK II yang asli, maka saya memutuskan untuk pemakaian perdana saya harus beli ke gerai resmi. Simple saja, agar ketika nanti saya melanjutkan pemakaian dan membeli di situs online, saya tidak akan tertipu karena sudah punya pembanding produk yang asli. 


Produk SK II pertama yang saya beli adalah PITERA Welcome Set, produk ini terdiri dari Facial Treatment Clear Lotion 30ml, Facial Treatment Essence 75ml  dan R.N.A.Power Radical New Age 15g. Sayangnya saya tidak sempat mengambil foto produknya, jadi foto yang saya tampilkan disini berasal dari situs resmi SK II Indonesia.




Sebelum membeli produk ini, kulit saya dites dengan magic ring oleh beauty advisornya. Hasil yang diperoleh cukup membuat hati saya pedih (duh berlebihan ya ^^), karena berdasarkan hasil tes, noda hitam yang menjadi masalah terbesar saya setara dengan orang berusia 35 tahun, 5 tahun lebih tua dari usia saya sekarang, dan tak cukup sampai disitu, ternyata masih ada calon flek yang bersembunyi di bawah lapisan kulit. 


SK II mengeluarkan beberapa rangkaian produk untuk menghilangkan flek hitam, tetapi beauty advisornya menyarankan untuk pemakaian pertama cukup dengan PITERA Welcome Set ini saja dulu. Jika ternyata nanti ada tahap purguing,  pemakaian sebaiknya tetap dilanjutkan. Setelah tahap purguing ini terlewati barulah direkomendasikan untuk menambah rangkaian produk SK II yang lain. 

Alhamdulillah, kulit saya ternyata sama sekali tidak mengalami purguing, maka di bulan kedua saya memutuskan mencoba juga Whitening Power Spot Specialist.  Penampakannya seperti ini:






Dan hasilnya: bintik-bintik hitam saya semakin banyak, Sodara. Hadeuh... Merasa kecewa dengan hasilnya, saya memutuskan untuk berkonsultasi lagi dengan beauty advisornya. Jawaban yang saya dapat cukup melegakan ternyata. Jadi kata si beauty advisornya,  tahapan awal dari cara kerja serum SK II untuk menyamarkan flek hitam ini justru dengan mengangkat semua flek hitam termasuk yang masih calon ke atas permukaan kulit. Maka wajar jika pada tahap awal flek hitam ini terlihat semakin banyak dan semakin jelas. Setelah semua flek hitam terangkat ke permukaan kulit, barulah serum akan bekerja untuk menyamarkan. Selain itu, hal yang perlu dingat adalah flek hitam tidak muncul begitu saja di wajah. Biasanya flek ini muncul sedikit-sedikit akibat kebiasaan perawatan wajah yang salah dalam jangka waktu lama. Maka tidak masuk akal jika untuk menghilangkannya bisa dilakukan dengan instant. Saya dianjurkan untuk bersabar  dan meneruskan pemakaian semua rangkaian produk SK II yang saya punya seperti biasa. 


Sampai hari ini, hampir satu tahun sudah saya mencoba berdisiplin menggunakan rangkaian produk perawatan SK II. Saya belum berani bilang flek hitam di wajah saya hilang seluruhnya, tapi kemarin saya bertemu dengan seorang teman lama. Komentar pertamanya cukup membesarkan hati: “Nu, kulit wajahnya bersih ya sekarang”.


Di luar keinginan, saya kok senang ya mendengar komentarnya. =D


Kesimpulan: SKII ini recommended banget, repurchase?, yes, mahal pun saya bela-belain deh. Bukan apa-apa, dibanding membeli make-up yang berfungsi sebagai corrector, saya memilih berinvestasi pada perawatan kulit jangka panjang saja. Hehehe…


*gambar saya copy dari https://creativepool.com/ianperkins/projects/sk-ii-face-the-wild-for-sk-ii








Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI

Judul Buku                 : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Penulis                         : Yusi Avianto Pareanom Penerbit         ...