Kamis, 04 Juni 2026

Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI




Judul Buku                : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Penulis                      : Yusi Avianto Pareanom

Penerbit                    : baNANA publisher

Jumlah Halaman       : 468 halaman

Edisi                         : keempat, cetakan keempat, Februari 2026

 

Maut tak perlu ditantang, bila waktunya datang ia pasti menang, hlm. 17        

Kenangan, dari apa kau terangkai?. Bagaimana aku mesti mengerat dan membaginya kepada yang lain? Tanpa bisa kutahan, air mataku menetes, hlm. 248-249

Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekedar makan dan tidur sebelum disembelih, hlm. 320

Ia bertanya apakah aku orang yang berbahagia, hlm. 330

 

Sepertinya saya terkena reading slump, berganti-ganti dari satu buku ke buku lain tanpa benar-benar menamatkannya. Lalu kemudian saya menyadari, semua buku yang saya baca ternyata adalah buku nonfiksi yang cenderung “berat”. Oke, daripada berlanjut terus seperti itu, saya putuskan beralih sejenak ke buku fiksi. Dan random saja, saya ikut lagi rekomendasi dari klub buku, kebetulan lainnya,  sedang ada diskon, yeaaay. Biasanya, rekomendasi dari klub buku selalu bagus, rekomendasi kali ini pun tak gagal, karena ternyata Raden Mandasia Si pencuri Daging Sapi ini seru dengan banyak u dan tanda seru.

Cerita dimulai dengan adegan yang sangat komikal: dikejar-kejar orang karena habis maling, dan tertangkap, dan babak belur sampai pingsan berhari-hari. Saya pikir cerita ini akan berpusat di Raden Mandasia sesuai judulnya, namun ternyata tidak, karena yang menjadi tokoh utama cerita adalah “aku”, Raden Sungu Lembu, yang sepanjang hidup membawa dendam terhadap Watugunung, penguasa Gilingwesi,  yang adalah ayah kandung dari Raden Mandasia. 

Kisah tentang Raden Mandasia hanya muncul ketika menceritakan perjalanan mereka berdua. Meskipun demikian sempat terceritakan pula, kenapa Raden Mandasia disebut Si Pencuri Daging Sapi, karena memang Raden Mandasia ini hobinya literally mencuri beberapa bagian daging sapi yang dipotong dari sapi hidup dan disembelih sendiri, meski dengan cara yang terbilang cukup bermartabat untuk ukuran seorang pencuri: setelah mencuri ia selalu meletakkan uang yang bahkan lebih banyak dari harga sapinya itu sendiri.

 

Sesuai yang tertera di bagian cover: Sebuah dongeng dari  Yusi Avianto Pareanom, kisah dalam buku ini memang dongeng, namun tentu dongeng untuk orang dewasa, salah satunya karena kata makian yang bertebaran di sepanjang cerita.

 

Anjing, anjing, anjing, aku mengumpat-umpat mengikuti Raden Mandasia yang masih tertawa-tawa, hlm. 18

 

Salah satu yang memilih tunduk adalah Banjaran Waru, kerajaan yang dipimpin barisan monyet pengecut yang jahanamnya satu trah denganku, hlm. 199

 

Pada beberapa kesempatan, kata makian yang digunakan cukup lucu: Tapir Pincang =D

 

Hal lain yang saya amati, buku ini sangat sedikit menceritakan tentang perempuan, hanya ada Nyi Banyak, Melur, Nyai Manggis, Mayssa, Putri Tabassum, Zahra si Tukang Tenung, Dewi Sinta dan Dewi Landep. Kecuali Nyi Banyak, tokoh-tokoh perempuan ini pun hanya hadir sebagai objek seksual belaka.

 

Namun demikian, terlepas dari umpatan serta beberapa adegan kekerasan dan seksual yang terlalu detail, seperti layaknya cerita dongeng yang kadang too good to be true, (namun karena itulah kita semua menyukai dongeng), kisah dalam buku ini pun menyimpan beberapa pesan moral atau pelajaran yang bisa diambil:

1.    Jangan berhenti belajar apapun, diceritakan bahwa Sungu Lembu ini adalah anak yang sangat rajin belajar, ia adalah pembaca yang rakus, murid yang banyak bertanya, namun juga pesilat yang tangguh. Kemampuan otaknya berbanding lurus dengan ketangguhan fisiknya. Ia juga dianugerahi dengan ingatan lidah, sanggup memetakan semua bahan dari makanan yang dicicipi sekaligus mampu mengenali segala jenis racun bahkan dalam dosis yang samar-samar. Tentu saja ini adalah bakat, namun kemampuan berikutnya yaitu tahan terhadap racun hanya diperoleh melalui disiplin dan latihan keras mencicipi semua jenis racun dengan resiko kematian itu sendiri. Selain itu, ia pun ternyata sangat ambis, dalam salah satu episode perjalanan ketika berlayar, ia merasa malu karena ternyata Raden Mandasia yang kelihatannya diam saja yang berhasil menyeimbangkan laju perahu dengan merobek layar. Ia sedikit merasa terpukul ketika Raden Mandasia bilang “Aku pun belajar, Lembu”, padahal Sungu Lembu yang sibuk kesana kemari sepanjang pelayaran. Pada perjalanan selanjutnya, Sungu Lembu dengan rajin menulis catatan perjalanan, dan karena itulah ia kemudian dipercaya menjadi pencatat saat terjadi perang besar antara Gilingwesi dan Gerbang Agung.

2.  Perempuan harus juga punya kemampuan untuk bertahan hidup. Para perempuan dalam buku ini hadir dengan cerita hidup yang getir, jika bukan jadi korban perkosaan, jadi pelacur atau wanita penghibur, mereka hadir seolah jadi objek yang diwariskan. Entah jika ini karena alur cerita terjadi pada masa Nusantara yang masih berupa kerajaan-kerajaan sehingga cenderung patriarki dan begitulah adanya nasib jadi perempuan. Meskipun demikian, dari takdir yang getir, Nyai Manggis sanggup menjadi pemilik rumah dadu dan berpartisipasi dalam kelompok perlawanan terhadap rezim yang berkuasa.

3. Kekuasaan memungkinkan terjadinya perubahan yang lebih baik untuk kepentingan bersama, namun kekuasaan pun acap kali merubah orang baik menjadi orang jahat. Watugunung tidak pernah ingin jadi raja, dahulu nama kerajaan itu adalah Medang Kamulan, namun penguasanya lemah dan tak memikirkan kepentingan rakyat, ketika Watugunung diminta menjadi raja, ia melakukan banyak perbaikan di wilayahnya yang kemudian berganti nama menjadi Gilingwesi, dan memang banyak sekali kemajuan yang diperolehnya. Gilingwesi berkembang menjadi kerajaan yang besar, makmur dan sejahtera.  Namun kemajuan itu pun menumbuhkan perasaan untuk lanjut menaklukkan daerah-daerah lain di sekitarnya. Sehingga terjadilah penyerbuan ke Gerbang Agung yang sebetulnya tidak perlu dan ternyata menjadi titik balik kehancuran Gilingwesi. 

Ada harga yang harus kau bayar sebagai penguasa untuk membuat bawahanmu gembira, hlm 435.

Kami membesar tetapi mulai keropos di sana-sini. Orang-orang yang dulu baik menjadi mencong, yang pintar menjadi pemalas, yang lembut hati menjadi keji. Raden mungkin tak sempat melihatnya karena yang Raden pikirkan hanyalah menghabisiku, hlm. 442.

4.    Perang selalu membawa petaka, begitu pun ambisi untuk memperluas daerah kekuasaan. 

Raden Mandasia sangat ingin mencegah terjadinya rencana penyerangan Gilingwesi terhadap Gerbang Agung. Alih-alih terus memperluas daerah kekuasaan, ia meyakini bahwa sebaiknya Gilingwesi fokus saja pada perbaikan di dalam kerajaan. Karena banyak daerah taklukan yang sebetulnya masih menyimpan api dendam di dalam sekam, dan banyak gerakan-gerakan perlawanan yang sebetulnya belum mampu dilunakkan. Kemudian memang terbukti, penyerangan yang dilakukan terhadap Gerbang Agung menjadi titik kehancuran Gilingwesi.

Perang jarang membawa manfaat. Mungkin Ayah Prabu baru sadar sekarang, hlm. 430.

Banyak orang paham memulai perang, tapi tak pernah benar-benar paham bagaimana mengakhirinya. Tujuan awal yang semula terdengar mulia menjadi tak jelas lagi di medan pertempuran. Penjagalan makin mengerikan dari hari ke hari. Kau mengira sudah melihat sebuah kekejaman di medan perang dan merasa itulah puncaknya. Ternyata masih ada kekejaman lain yang melampaui. Begitu setiap saat, hlm. 425.

5. Ketika mengenal baik seseorang, betulkah bahwa kita sudah betul-betul mengenalnya?. Saat Raden Mandasia wafat, Sungu Lembu baru sadar bahwa ia ternyata tak tahu banyak detail tentang sahabatnya itu. 

Raden Mandasia adalah hal paling dekat yang bisa kusebut sebagai teman dan kami ternyata saling mengenal sedikit saja, hlm. 431.

Entah bagaimana potongan ini juga menghantamku begitu saja. Dalam hal hubungan dengan orang lain di sekitar, bukankah sering kita sebetulnya tak tahu apa-apa. Begitu pun juga aku kepadamu.

 

Pada cover akhir, tercetak bahwa buku ini memperoleh tiga penghargaan, Prosa Terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, Prosa Pilihan Majalah Tempo 2016 dan Fiksi Terbaik Rolling Stone Indonesia 2016. Ketiga penghargaan ini rasanya memang sangat layak sekali. Dan saya sepakat: Meminjam berbagai Khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis dan maki-makian Anda dalam waktu berdekatan-mungkin bersamaan.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI

Judul Buku                 : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Penulis                         : Yusi Avianto Pareanom Penerbit         ...