Jumat, 27 Oktober 2017

SAAT KITA TAK LAGI JADI SAHABAT...

Pernahkah?, sekali saja dalam hidup, kamu memutuskan untuk mencoret nama seseorang dari hatimu?. Seseorang yang pernah punya arti, seseorang yang pernah kamu anggap lebih dari saudara, ialah seseorang yang pernah kamu panggil sahabat. 

Saya pernah, dan rasanya sungguh tak enak. 

Dan jika diingat-ingat lagi mungkin ada dua orang yang saya perlakukan seperti itu. Orang pertama adalah sahabat saya sejak SD, sebut saja namanya Ina. Persahabatan kami yang dimulai sejak SD berlangsung terus hingga SMA, bahkan hingga saya lulus SPMB dan kemudian kuliah sementara  Ina memutuskan untuk menikah dengan guru SMA-nya. Tak ada masalah sebenarnya, hanya saja lambat laun, mungkin karena kesibukan saya di kampus dan kesibukan Ina sebagai ibu rumah tangga, hubungan kami terputus begitu saja. Tak ada lagi surat-menyurat di akhir minggu (karena tiga tahun terakhir dalam masa persahabatan ini,  kami tinggal di kota yang berbeda), tak ada lagi kunjungan-kunjungan akrab setiap saya kebetulan pulang ke kampung halaman. Bahkan entah kenapa sekarang rasanya ada sekat yang tak bisa ditembus setiap saat kami bertemu. Hanya ada perbincangan-perbincangan sopan yang terasa berjarak, padahal dulu kami akan dengan heboh bercerita setiap detail kejadian yang kami alami di saat-saat tak bersama. Hingga lambat laun akhirnya saya pun memutuskan untuk tak menghubunginya duluan.

Kadang sedih rasanya, saat menyadari bahwa persahabatan kami terputus bukan serta merta karena ada masalah, tapi lebih karena kami mulai saling mengabaikan hingga perlahan kami mulai saling menjelma menjadi orang asing. Lebih pedih lagi saat kesadaran berikutnya hadir, bahwa setelah hubungan kami menjadi seperti ini, rasanya akan sulit untuk mengembalikannya kembali seperti dulu. Nyaris tak mungkin, ada sesuatu yang mengganjal yang tak bisa dijelaskan bagaimana dan kenapa bisa seperti itu. Satu-satunya yang tampak jelas hanyalah fakta bahwa kini kami sekedar "teman" dan bukan lagi "sahabat". 

Orang berikutnya adalah teman saya ketika SMA yang lucunya mulai menjadi sahabat saya setelah menikah. Sebut saja namanya Opi. Persahabatan kami terjalin saat saya dan suami mulai sering berkunjung ke rumahnya. Dan karena usia perkawinan kami tak terpaut jauh, bisa dibilang kami berangkat memulai bahtera rumah tangga kami dari nol bersama-sama. Saya tahu persis perjuangannya membangun rumah tangga dari awal, dari mulai menjadi pedagang ikan di pasar tradisional sampai akhirnya bisnisnya meningkat pesat dengan menjadi pemasok rumah makan-rumah makan besar di seputaran kota Bandung. Saat rumah tangga kami masih saja berkutat dengan gaji bulanan yang hanya cukup untuk bertahan hidup setiap bulan, Opi sudah mampu membeli rumah dan kendaraan dengan uang cash. 

Tapi seperti kebanyakan episode kehidupan yang melesat cepat juga menukik tajam, Opi juga tersandung masalah hingga kemudian bercerai dan terbelit hutang dalam jumlah yang tidak sedikit. Saya masih tetap menganggapnya sahabat bahkan saat hidup Opi tengah hancur-hancuran seperti ini. Tak juga lantas berpikiran negatif saat ia melarikan uang saya dan suami dalam jumlah yang cukup besar. Saya percaya, di luar kesalahannya dalam rumah tangga, Opi adalah sahabat baik yang tak akan mungkin mengkhianati saya dan suami.

Begitulah, hampir dua tahun sudah Opi menghilang tanpa kabar sampai pada suatu hari ia menelepon saya. Sedikit pun saya tak mengungkit masalah uang yang ia pinjam, bahkan saya masih mempersilakannya datang ke rumah kami, menawarinya tempat usaha dengan asumsi mungkin sekarang ia akan belajar dari kesalahan masa lalu dan mencoba memperbaiki diri. Saya memang cukup kaget saat tahu bahwa sekarang ia menjadi istri muda seorang pejabat di kejaksaan, tapi di luar fakta itu saya mencoba untuk tidak berubah sikap.

Hati saya mulai merasa terganggu saat ia meminjam uang lagi pada saya. Jumlahnya memang tak banyak, tapi jumlah yang sedikit namun sering ini rasanya mengganggu. Apalagi saat ia mulai menawarkan barang-barang pribadinya untuk dijual, saya merasa semakin tak nyaman. Akhirnya saya memilih untuk memutuskan hubungan saya dengannya. Saya sengaja tak membalas semua pesannya ataupun mengangkat teleponnya. dan lambat laun hati saya pun mulai terbiasa dengan ketidakhadirannya dalam hidup saya. Mungkin sikap saya ini salah, tapi saya tak bisa mengingkari ada sisi hati saya yang merasa ia memanfaatkan saya habis-habisan. 

Dan begitulah, sampai hari ini ternyata kebekuan hati saya tak juga kunjung mencair. Sama sekali tak tersentuh meski Opi mencoba menghubungi saya berkali-kali. Entahlah, mungkin suatu hari, saat saya sudah menjadi orang baik, saya akan mencoba menghubunginya duluan. Sementara untuk saat ini, biarkanlah seperti ini saja dahulu.

Dua kasus diatas sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk memberitahukan pada saya: kehilangan sahabat itu menyakitkan.  Atau lebih tepatnya, kehilangan orang yang pernah kita sayangi itu menyakitkan, entah itu sahabat, pacar, saudara. Maka untukmu yang saat ini masih memiliki sahabat atau orang yang dekat dengan kita, genggamlah erat tangannya. Jangan sekalipun mengabaikan karena bisa jadi satu pengabaian kecil akan menjadi awal mula dari keterasingan yang merusak hubungan selamanya. Dan saat itu terjadi akan sulit sekali untuk memperbaiki, untuk merekatkan kembali hubungan yang sudah renggang.



*saat menulis ini entah kenapa hati saya rasanya pedih sekali... 




Kamis, 12 Oktober 2017

HILANGNYA EMPATI PARA KARTINI





Tahun 2014 silam, nama Dinda sempat menjadi nama yang terkenal di kalangan para netizen, sayangnya Dinda terkenal bukan karena prestasi , tapi karena keluhannya di media sosial mengenai ibu hamil. Cerita dimulai ketika Dinda, yang adalah seorang commuter ini keberatan ketika kursi kereta yang sudah didapatkannya dengan susah payah harus diberikan begitu saja pada seorang ibu hamil. Padahal perjuangan Dinda untuk bisa dapat tempat duduk di KRL ini sungguh luar biasa, Dinda sampai harus bangun pagi dan pergi menuju stasiun yang jauh dari rumahnya. Dalam perspektif Dinda, seharusnya ibu hamil ini pun melakukan hal yang sama jika memang ingin dapat tempat duduk, bukan dengan seenaknya begitu saja meminta tempat duduk dari penumpang lain.

Curhatan Dinda ini menjadi viral dan mendapat banyak reaksi negatif, selain menuai hujatan dan caci maki bahkan banyak dibuat meme-meme yang kocak tapi jleb-banget menanggapi curhatan Dinda ini.  Dinda yang awalnya bersikeras untuk tidak merasa salah, akhirnya memutuskan untuk meminta maaf melalui media sosial yang sama. 

Sangsi sosial yang diberikan pada Dinda oleh warga netizen ini ternyata tak lantas memberi efek jera. Pada bulan Juni 2017 silam, kasus Dinda ini berulang lagi, kali ini seorang mahasiswi bernama Shafira Nabila Cahyaningtyas yang menjadi bintang utamanya. Ceritanya hampir sama persis, Shafira yang sedang enak-enak tidur di kereta dibangunkan petugas keamanan kereta dan dianjurkan untuk memberikan tempat duduknya pada seorang ibu hamil. Merasa tak terima, mahasiswi ini marah-marah di media sosial.











Lagi-lagi, curhatan mengenai ibu hamil ini menjadi viral juga. Kecaman dan hujatan dari netizen sempat membuat akun media sosial mahasiswi ini ditutup. Tak seperti Dinda, Shafira cukup beruntung karena tak ada meme anekdot yang beredar tentang dirinya. (*Meskipun untuk saya pribadi, dihujat dan dicaci maki orang ramai walaupun hanya sekedar di media sosial itu sudah lebih dari cukup untuk dibilang menyakitkan sih =D).

Entah mengapa, untuk saya fenomena Dinda dan Shafira ini menarik untuk diamati. Dalam perspektif pemerintah, curhatan Dinda dan Shafira ini bisa menjadi masukan yang penting terkait dengan ketersediaan infrastruktur, sarana prasarana yang memadai serta regulasi yang melindungi. Di sisi lain, Dinda dan Shafira ini menjadi PR untuk lembaga-lembaga pendidikan. Bagaimana bisa, produk pendidikan tinggi seperti Dinda dan Shafira ini ternyata tak memiliki kemampuan untuk berempati, untuk merasakan emosi yang dirasakan orang lain. Bukan tidak mungkin jika keduanya adalah puncak dari gunung es "ketidakempatian" yang tidak kelihatan. 

Dan saya memang merasakan "gunung es" tersebut. Qadarullah, saya hamil lagi. Saat usia kehamilan saya masih sekitar dua bulanan, sama sekali tidak ada tanda kehamilan yang bisa dilihat oleh orang lain sekilas dari tampilan fisik saya.  Maka saya pun merasa maklum ketika naik angkutan umum, sama sekali tak ada yang berkenan memberikan tempat duduknya untuk saya. Tapi pernah suatu kali, saya merasa marah juga. Di bus Transjakarta menuju Gambir yang saya naiki sepulang kerja pada suatu sore, seorang ibu hamil berdiri di depan kursi yang diisi seorang gadis muda yang duduk bersebelahan dengan ibu-ibu yang membawa anak kecil. Saya perkirakan dari besar perutnya, mungkin usia kandungan ibu hamil ini sudah masuk trisemester akhir. Satu menit, dua menit, saya tunggu si gadis muda ini untuk berdiri. Ia tetap bergeming meski petugas di pintu sudah berteriak-teriak untuk memberikan kursi bagi si ibu hamil. Sepuluh menit kemudian, si gadis muda ini masih tetap duduk. Melihat sama sekali tak ada gelagat ia akan memberikan kursinya untuk si ibu hamil, akhirnya saya jengkel juga. Saya colek bahu si gadis muda, dan dengan kekesalan yang ditahan-tahan, saya minta si gadis muda memberikan kursinya untuk si ibu hamil. Nggilani, si gadis muda ini berdiri dengan sikap malas-malasan yang tak ditutup-tutupi. Sampai saya siap-siap jika ia akan balik mengomeli saya meskipun untungnya ternyata ia memilih untuk tak berkata apa-apa.

Sepanjang sisa perjalanan, saya mengamati si gadis muda ini. Dari mulai kerudungnya yang tak menutupi dada, sampai kemejanya yang ngatung. Ingin sekali menemukan sedikit saja raut sakit dari wajahnya agar saya mendapat pembenaran di balik alasan ketakpeduliannya pada ibu hamil yang jelas-jelas berdiri di depan mukanya. Sayang sekali, pengamatan saya malah menunjukkan bahwa ia sehat-sehat saja. Hingga saya memutuskan bahwa alasan di balik sikapnya murni karena ia memang tak peduli. Dan akhirnya saya hanya bisa menghela nafas.

Pada kesempatan yang lain (lagi-lagi di bus TransJakarta), sayalah yang dicuekin oleh penumpang wanita di depan saya. Maka bagaimana mungkin saya berinisiatif meminta tempat duduk saat tak terlihat sedikit pun tanda ada yang peduli pada wanita berperut buncit ini. Dan lagi-lagi saya hanya bisa menghela nafas.

Mungkin di zaman ini, memang perlu untuk para wanita muda ini mengalami sendiri bagaimana rasanya mengandung. Mengalami sendiri agar bisa merasakan bagaimana kondisi fisik wanita itu melemah kala ada janin yang tumbuh di rahimnya. Bukankah Allah pun memberikan keringanan (rukhshah) untuk tidak berpuasa  bahkan pada bulan Ramadhan salah satunya adalah pada wanita hamil.

Kondisi fisik setiap calon ibu memang berbeda-beda, ada yang dianugerahi tubuh yang kuat selama masa kehamilan, tetapi banyak juga yang tubuhnya melemah, seperti yang saya rasakan pada masa kehamilan yang keenam ini. Pola makan dan waktu tidur saya kacau balau. Hampir setiap malam, saya baru bisa tidur setelah pukul 01.00 dinihari, alhasil, kepala saya pusing setiap bangun shubuh. Dan bisa ditebak bagaimana lemasnya badan saya sepanjang hari. Duduk di kursi saja punggung dan pinggang saya sakit, bagaimana bisa saya harus berdiri sepanjang perjalanan pergi dan pulang bekerja. Alhamdulillah, di masa sekarang ini ada layanan transportasi online. Sungguh sangat membantu untuk saya yang berdomisili cukup dekat dari tempat kerja.

Tapi bayangkan untuk para commuter yang harus berganti 2 hingga 3 kali moda transportasi untuk sampai ke tempat kerja, bagaimana borosnya jika harus bergantung pada transportasi online. Padahal rezeki setiap orang itu berbeda-beda, bersyukurlah untuk yang diberi kelonggaran sehingga bisa naik moda transportasi yang nyaman untuk pulang dan pergi bekerja. Tapi bagaimana untuk mereka yang oleh Allah tak diberi kelonggaran yang sama, mereka yang menghitung dengan persis berapa anggaran untuk transportasi setiap bulan sehingga transportasi umum yang murah menjadi satu-satunya pilihan.  Hingga bahkan ketika hamil pun mereka harus bertahan dengan moda transportasi umum tersebut.

Berdesak-desakan, berebut kursi, dengan tubuh yang kian melemah setiap bulan seiring dengan membesarnya janin dalam kandungan. Tetap menjalani itu semua walau dengan resiko mempertaruhkan keselamatan diri sendiri dan calon bayi yang dikandung karena kewajiban untuk ikut mencari nafkah. Sampaikah pemikiran para wanita muda yang tak peduli itu kesana. Entahlah, mungkin memang harus merasakan sendiri dahulu agar bisa peduli.







*note: gambar saya dapat dari google dengan kata kunci pencarian Dinda, Shafira dan ibu hamil. 


                                                                                                                                                                                         




Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI

Judul Buku                 : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Penulis                         : Yusi Avianto Pareanom Penerbit         ...