Tampilkan postingan dengan label Keseharian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keseharian. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 September 2017

Menghilangkan Flek Hitam di Wajah (2)



“Merawat kulit itu adalah tentang belajar bersyukur dan menghargai diri sendiri"




Entah karena kurang telaten atau bagaimana, tapi cara yang saya posting sebelumnya pada Menghilangkan Flek Hitam di Wajah ternyata tak berhasil. Flek hitam di wajah saya tak lantas berkurang atau bahkan entah karena faktor usia atau apa, flek-flek hitam itu rasanya malah menyebar dan semakin banyak. 


Saya mulai mencoba dan mempraktekkan banyak tips yang saya peroleh dari google, diantaranya:


  1. Dengan jeruk nipis, yang diaplikasikan di wajah setiap pagi dan malam hari. Cara ini direkomendasikan banyak orang sebagai salah satu metode yang ampuh, sayangnya tak berhasil untuk saya. Yang ada kulit muka saya perih dan pada suatu malam suami saya komentar: "Berasa tidur sama es teh lemon", duh...
  2. Dengan asam jawa, yang diaplikasikan di wajah setiap pagi dan malam hari, dibiarkan mengering dan kemudian dibasuh dengan air hangat. Well... muka saya memang terasa lebih halus, tapi flek hitamnya tetap saja tuh.
  3. Produk-produk yang diiklankan mampu menyamarkan noda hitam dan mencerahkan wajah seperti Pond’s dan Olay. Ini mungkin karena saya yang kurang telaten, tapi setelah sekian bulan pemakaian tak kunjung melihat perubahan yang berarti akhirnya rangkaian produk dari dua brand besar tersebut malah saya hibahkan.
  4. Bio Oil, produk ini sejatinya sih digunakan untuk mengobati stretch mark, tapi demi membaca salah satu kegunaan yang tertera di botolnya adalah untuk mengatasi uneven skin tone dan ageing skin lantas saya pun iseng mencobanya di muka. Sayangnya lagi-lagi karena saya yang cukup pembosan, setelah menghabiskan botol kedua, saya memutuskan untuk menghentikan penggunaan Bio Oil ini di muka saya.
Akhirnya saya kembali menghabiskan banyak waktu di depan komputer, untuk membaca berbagai review produk-produk kecantikan. Dan setelah membaca review dari banyak produk, pilihan saya kemudian jatuh pada SK II. Memang mahal sih, tapi membaca banyak review dari beauty blogger yang cocok dengan brand ini sungguh membuat ngiler. Apalagi ditambah dengan testimony produk ini awet untuk berbulan-bulan, hingga jika dikalkulasi anggaran tiap bulan menggunakan produk ini bisa sama bahkan jauh lebih murah dibanding biaya perawatan ke dokter.


Pada awalnya saya sempat tergoda untuk membeli produk SK II lewat online shop. Alasannya sederhana, harga yang ditawarkan online shop ternyata jauh lebih murah dari harga di gerai resmi. Tapi setelah  banyak membaca lagi, saya menemukan kasus-kasus dijualnya produk SKII yang palsu di luaran sana.  Karena saya belum tahu seperti apa produk SK II yang asli, maka saya memutuskan untuk pemakaian perdana saya harus beli ke gerai resmi. Simple saja, agar ketika nanti saya melanjutkan pemakaian dan membeli di situs online, saya tidak akan tertipu karena sudah punya pembanding produk yang asli. 


Produk SK II pertama yang saya beli adalah PITERA Welcome Set, produk ini terdiri dari Facial Treatment Clear Lotion 30ml, Facial Treatment Essence 75ml  dan R.N.A.Power Radical New Age 15g. Sayangnya saya tidak sempat mengambil foto produknya, jadi foto yang saya tampilkan disini berasal dari situs resmi SK II Indonesia.




Sebelum membeli produk ini, kulit saya dites dengan magic ring oleh beauty advisornya. Hasil yang diperoleh cukup membuat hati saya pedih (duh berlebihan ya ^^), karena berdasarkan hasil tes, noda hitam yang menjadi masalah terbesar saya setara dengan orang berusia 35 tahun, 5 tahun lebih tua dari usia saya sekarang, dan tak cukup sampai disitu, ternyata masih ada calon flek yang bersembunyi di bawah lapisan kulit. 


SK II mengeluarkan beberapa rangkaian produk untuk menghilangkan flek hitam, tetapi beauty advisornya menyarankan untuk pemakaian pertama cukup dengan PITERA Welcome Set ini saja dulu. Jika ternyata nanti ada tahap purguing,  pemakaian sebaiknya tetap dilanjutkan. Setelah tahap purguing ini terlewati barulah direkomendasikan untuk menambah rangkaian produk SK II yang lain. 

Alhamdulillah, kulit saya ternyata sama sekali tidak mengalami purguing, maka di bulan kedua saya memutuskan mencoba juga Whitening Power Spot Specialist.  Penampakannya seperti ini:






Dan hasilnya: bintik-bintik hitam saya semakin banyak, Sodara. Hadeuh... Merasa kecewa dengan hasilnya, saya memutuskan untuk berkonsultasi lagi dengan beauty advisornya. Jawaban yang saya dapat cukup melegakan ternyata. Jadi kata si beauty advisornya,  tahapan awal dari cara kerja serum SK II untuk menyamarkan flek hitam ini justru dengan mengangkat semua flek hitam termasuk yang masih calon ke atas permukaan kulit. Maka wajar jika pada tahap awal flek hitam ini terlihat semakin banyak dan semakin jelas. Setelah semua flek hitam terangkat ke permukaan kulit, barulah serum akan bekerja untuk menyamarkan. Selain itu, hal yang perlu dingat adalah flek hitam tidak muncul begitu saja di wajah. Biasanya flek ini muncul sedikit-sedikit akibat kebiasaan perawatan wajah yang salah dalam jangka waktu lama. Maka tidak masuk akal jika untuk menghilangkannya bisa dilakukan dengan instant. Saya dianjurkan untuk bersabar  dan meneruskan pemakaian semua rangkaian produk SK II yang saya punya seperti biasa. 


Sampai hari ini, hampir satu tahun sudah saya mencoba berdisiplin menggunakan rangkaian produk perawatan SK II. Saya belum berani bilang flek hitam di wajah saya hilang seluruhnya, tapi kemarin saya bertemu dengan seorang teman lama. Komentar pertamanya cukup membesarkan hati: “Nu, kulit wajahnya bersih ya sekarang”.


Di luar keinginan, saya kok senang ya mendengar komentarnya. =D


Kesimpulan: SKII ini recommended banget, repurchase?, yes, mahal pun saya bela-belain deh. Bukan apa-apa, dibanding membeli make-up yang berfungsi sebagai corrector, saya memilih berinvestasi pada perawatan kulit jangka panjang saja. Hehehe…


*gambar saya copy dari https://creativepool.com/ianperkins/projects/sk-ii-face-the-wild-for-sk-ii








Kamis, 18 Februari 2016

MENGHILANGKAN FLEK HITAM DI WAJAH

“Jangan percaya pada perempuan yang tak bisa mengurus bahkan kulitnya sendiri” 
–Njai Ontosoroh, Tetralogi Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer-


Filosofi ini mungkin tak sepenuhnya benar, tapi menurut saya ungkapan yang diucapkan Nyai Ontosoroh ini juga tak sepenuhnya salah. Maka jadilah saya pun ikut percaya, seorang perempuan, bagaimanapun sibuknya tetap harus bisa menjaga kulitnya.  
Selain itu sebagai seorang Muslim, saya meyakini bahwa salah satu bentuk syukur kepada sang Pencipta adalah dengan menjaga dan merawat apa yang sudah dianugerahkan kepada kita. Apalagi sebagai perempuan yang merasa sama sekali tak cantik, setidaknya saya ingin punya kulit yang jika tak bisa dibilang bagus, cukuplah terlihat terawat, tidak berlebihan bukan? T_T
Jangan salah arti dulu, bukan berarti saya menganjurkan untuk berdandan habis-habisan, karena jujur saya sendiri sama sekali tak bisa berdandan. Saya dibesarkan di tengah keluarga yang tak pernah mempedulikan masalah penampilan. Maka tak heran jika saya tumbuh menjadi perempuan yang sangatlah canggung dalam urusan berdandan. Ditambah dengan teman-teman saya yang kebanyakan laki-laki, semakin jauhlah kata berdandan dari kamus keseharian saya.
Saya tak punya bahkan sekedar bedak, apalagi segala macam blush on warna warni, atau segala jenis lipstick, foundation, mascara, atau apa itu peralatan kosmetik dengan beragam namanya.  Saya sama sekali tak pernah ke salon.  Facial, peeling atau apalah itu segala jenis perawatan di salon adalah istilah yang sama sekali asing untuk saya. Perawatan yang saya tahu dan cukup rajin saya lakukan hanyalah maskeran dengan bahan-bahan alami, dengan madu, putih telur, asam jawa atau buah lemon. Sejauh ini saya cukup puas dengan hasilnya. Karena target saya hanyalah menjaga agar kulit wajah saya tidak kusam. Tapi begitulah, setelah kelahiran anak saya yang kelima, saya mulai malas-malasan merawat wajah. Melihat kaca saja tidak pernah, apalagi maskeran dan lain-lain.
Maka betapa paniknya saya, setelah sekian lama tak pernah bercermin (saya serius saat bilang tak pernah melihat cermin), saya melihat flek-flek hitam yang mulai membayang di pipi saya. Saya mulai sedikit menyesali kecuekan saya yang belakangan ini sama sekali tak pernah ambil pusing dengan urusan muka.
Mulailah saya rajin mencari-cari obat kulit yang tepat untuk masalah wajah saya. Saya mulai menanyai orang-orang di sekitar saya, mulai dari si teteh pengasuh anak saya yang kebetulan memiliki wajah yang kinclong sampai ibu-ibu sepuh tetangga saya yang sering bertemu di pengajian. Si teteh pengasuh merekomendasikan cream wajah bermerk Temulawak, sebuah brand dari Malaysia yang katanya ampuh sekali mengatasi semua masalah kulit wajah. Tertarik dengan promosinya, saya pun ikut-ikutan membeli. Harganya murah saja, hanya 75.000 rupiah untuk satu paket perawatan yang terdiri dari krim malam, krim siang dan sabun muka. Tapi saya agak ragu saat melihat tekstur si krim yang lengket dan menurut hidung saya berbau tidak enak. Curiga mengandung mercury, maka setelah hanya sempat dipakai satu kali, krim-krim tersebut akhirnya saya hibahkan pada si teteh.  
Kemudian, saya bertanya lagi pada teman SMA saya dulu, sayangnya, teman saya ini malah menyarankan untuk membeli serangkaian produk dari sebuah MLM ternama yang membuat dahi saya mengernyit saat mendengar harganya.
Saran yang akhirnya saya ikuti sepenuh hati datang  dari Ibu Sepuh tetangga saya di kompleks. Usia beliau sudah mendekati kepala 7, tetapi kulit wajahnya bersih dan halus. Untuk ukuran seorang yang sudah sepuh saya bisa menilai kulit wajah Ibu ini termasuk juara, maka mulailah saya mendekati si Ibu, mengeluarkan segenap kemampuan saya untuk mendekati beliau.  Dan tadaaaa….si Ibu bersedia membagi rahasia kulit wajahnya yang bersih dan mulus bahkan hingga usia sesepuh itu: bedak dingin Saripohatji.
Untuk yang belum tahu, beginilah penampakan Saripohatji ini:

Kemasannya sederhana, konon katanya memang beginilah kemasannya dari sejak pertama kali diproduksi, belum pernah sekalipun dirubah atau diperbaharui. Instruksi penggunaan bedak yang ada di dalam kemasan pun, tak kalah jadulnya. Masih menggunakan ejaan yang belum disempurnakan berikut tata kalimat yang membuat  dahi mengernyit sebelum memahami artinya. Harganya pun murah saja, hanya dua ribu rupiah perbungkus.
Saya menggunakan bedak ini dua kali sehari setiap akan mandi. Untuk melindungi kulit muka saat siang, saya barengi juga dengan menggunakan POND’S Flawless White, sementara untuk perawatan malam hari saya menggunakan La Tulipe,  Hyperpigmented Spot Lightening, Aaaaa… tak terbiasa dengan perawatan kosmetik, tetiba saja saya merasa menjadi korban iklan =(
Perubahannya memang tak kelihatan sekaligus. Tapi setelah dua minggu kulit wajah  saya tak kusam lagi. Apakah flek hitam saya bisa sepenuhnya hilang?. Semoga saja, nanti saya review lagi =D.

Selasa, 01 Desember 2015

APA YANG SEBAIKNYA DIBAWA SAAT MENENGOK IBU MELAHIRKAN?


“ Teman-teman mohon sarannya, apa yang sebaiknya dibawa saat menengok ibu melahirkan, kalau bisa sesuatu yang bermanfaat dan ngga akan digarselin :P “
Postingan salah satu teman di grup yang saya ikuti beberapa hari yang lalu ini entah kenapa cukup mengusik untuk saya. Mengusik, karena kalimat di akhirnya itu loh: tidak akan digarselin (keterangan: garsel=garage sale).
Jadi, grup yang saya ikuti ini, selain menjadi ajang untuk silaturahim antar alumni kampus juga membuka forum untuk anggota grup yang akan menjual barang-barang prelovednya, maka menjadi wajar jika barang-barang bekas kado yang didapat setelah melahirkan termasuk item yang cukup sering ditawarkan (dengan harga miring tentunya).
Kebetulan sekali, saya baru saja melahirkan dan Alhamdulillah juga mendapat banyak kado. Dari gendongan, tas bayi, baju-baju newborn sampai peralatan makan. Dan jujur saja, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pemberi kado, hampir sebagian besar dari kado-kado tersebut akhirnya hanya saya simpan. Bukan apa-apa, saya hanya merasa terlalu sayang jika kado-kado tersebut dibuka dan digunakan, sementara peralatan dede bayi sendiri sudah bisa dibilang cukup lengkap. Maka jadilah kado-kado tersebut hanya bertengger manis di lemari.
Apa yang saya alami, saya yakin demikianlah juga yang dialami oleh para ibu yang kemudian menggarsel kado-kado tersebut. Kebanyakan ibu-ibu sudah mempersiapkan segala sesuatu keperluan bayi mereka sebelum melahirkan. Maka memberikan lagi perlengkapan bayi mungkin sepertinya hanya akan berujung pada “disimpan di lemari dan (untuk kasus teman-teman di grup saya) akhirnya digarsel”. Sebagian berpendapat kurang etis menggarsel kado, sebagian lagi berpendapat itu sepenuhnya hak penerima kado. Tapi terlepas dari kontraversi pendapat diatas, postingan teman yang meminta saran apa yang sebaiknya diberikan pada ibu melahirkan agar tak digarsel cukup menarik untuk dibahas.
Jadi, apa yang sebaiknya diberikan pada ibu melahirkan?. =P
Mungkin hanya para ibu saja yang mengerti, pasca melahirkan seorang ibu akan merasakan kelelahan yang luar biasa. Bukan hanya secara fisik, tapi juga mental. Sebagian ibu bahkan sampai mengalami baby blues yang cukup akut. Maka menurut hemat saya, akan lebih baik jika kado yang diberikan adalah untuk si ibu alih-alih untuk si bayi. Misal makanan yang bisa jadi booster ASI, atau bisa juga voucher untuk spa atau perawatan diri di salon. Atau benda-benda yang memang sekiranya akan dibutuhkan oleh si ibu. Misal jika si ibu adalah ibu bekerja, tentu ia akan butuh pompa ASI, segambreng botol, dan tas khusus ASI untuk persiapan nanti jika bekerja kembali. Jika si ibu adalah ibu rumah tangga, saya yakin ia akan senang sekali jika mendapat aneka lulur atau rangkaian produk perawatan tubuh. Intinya berikanlah perhatian pada ibunya, bukan hanya pada bayinya. Jangan lupa, meski dari luar terlihat baik-baik saja, kondisi ibu pasca melahirkan itu tidak bisa dibilang sehat.
Jika misalnya tetap berkeras untuk memberikan kado buat si bayi pun, pilihlah sesuatu yang pasti akan digunakan, misal baju dan celana ukuran beberapa bulan lebih besar, karena baju-baju newborn pastilah sudah dipersiapkan si ibu. Bisa juga sepatu prewalker atau barang-barang yang akan digunakan dede bayi setelah agak besar.
Nah, itu kado untuk ibu melahirkan versi saya. Silakan jika mau menambahkan =D.

Minggu, 28 Juni 2015

Punya Anak Banyak, Salah Siapa?


Punya banyak anak di zaman sekarang ini adalah sebuah anakronisme a.k.a menentang kelaziman a.k.a siap-siap untuk dicemooh. Setidaknya begitulah yang kadang saya rasakan. Ungkapan “banyak anak, banyak rezeki” yang dahulu begitu akrab di telinga, sekarang lebih sering digantikan dengan berbagai pertimbangan yang sebenarnya sangat masuk akal: biaya pendidikan, kesehatan, waktu, perhatian orang tua, sampai pertanyaan apakah kita sanggup memberikan kehidupan yang layak kepada setiap anak. Maka ketika saya hamil anak kelima, komentar pun berdatangan.

“Memangnya enggak KB?”

“Lho, hamil lagi? Repot banget dong.”

Ada pula yang lebih menusuk:

“Kamu kayak kucing ya, beranak terus.”

Atau,

“Ya ampuuun, hamil lagi? Enggak kasihan sama kakak-kakaknya? Mereka kan masih butuh perhatian.”

Ada juga komentar yang mungkin sebenarnya disampaikan karena perhatian.

“Hamil anak kelima? Wah, kamu kaya ya. Saya punya anak dua saja khawatir terus.”

Atau nasihat seorang Uwa:

“Punya anak mah dua saja tapi berkualitas dan jadi orang semua. Daripada banyak tapi enggak keurus. Biaya sekolah makin ke sini makin mahal, De.”

Kalau dipikir sekarang, mungkin sebagian orang memang tidak bermaksud jahat. Dan sebagian kekhawatiran mereka bahkan masuk akal. Punya banyak anak memang membutuhkan biaya, tenaga, waktu, dan perhatian yang tidak sedikit. Masalahnya, ketika sedang hamil, lelah, dan diam-diam saya sendiri sedang mempertanyakan kemampuan menjadi ibu, kalimat-kalimat itu masuk ke tempat yang paling rapuh.

Iya ya.

Kenapa saya hamil lagi?

Apa anak-anak saya kurang terurus?

Apa saya terlalu ceroboh?

Apa saya sebenarnya ibu yang buruk?

Pertanyaan orang lain akhirnya berubah menjadi pertanyaan saya kepada diri sendiri. Dan sejujurnya, memang tidak mudah. Saat itu kuliah S2 saya belum selesai. Pekerjaan rumah dikerjakan tanpa khadimat. Suami punya pekerjaan dan kesibukan lain. Anak-anak masih kecil dan membutuhkan hal berbeda pada waktu yang sering kali bersamaan.

Ada hari ketika cucian menumpuk, si sulung minta dibuatkan kostum untuk tugas seni, anak kedua mencari pensil warna, anak ketiga berteriak mencari kaus kaki, sementara si bungsu menangis minta ASI. Di saat yang sama, tugas kuliah mengejar deadline. Dan saya sedang hamil lagi.

Pada hari-hari seperti itu saya sering menangis sendirian. Bukan tangisan penuh hikmah. Bukan pula tangisan seorang ibu hebat yang kemudian tersenyum dan berkata semua akan baik-baik saja. Saya cuma capek. Kadang bahkan sangat capek.

Ada saat ketika saya bertanya kepada Tuhan: Kenapa Engkau menitipkan anak lagi ketika yang sudah ada saja rasanya belum mampu kujaga sebaik-baiknya?

Ketika anak pertama tidak menjadi juara kelas, saya berpikir mungkin kalau anak saya cuma satu atau dua, saya akan punya lebih banyak waktu menemaninya belajar. Ketika anak kedua terlalu banyak bermain game, saya membayangkan seandainya punya lebih banyak waktu, mungkin saya bisa lebih sering mengajaknya beraktivitas.

Begitu terus.

Setiap kekurangan anak terasa seperti bukti kegagalan saya sebagai ibu. Dan setiap kegagalan saya hubungkan lagi dengan jumlah anak. Mungkin karena itulah komentar orang begitu mudah melukai. Sebab jauh sebelum mereka meragukan kemampuan saya, sebenarnya saya sendiri sudah lebih dulu meragukannya.

Butuh waktu bagi saya untuk melihat semuanya dengan sedikit lebih jernih. Saya tidak harus berpura-pura bahwa mempunyai banyak anak selalu menyenangkan. Memang repot. Memang mahal. Memang melelahkan. Dan perhatian orang tua memang harus dibagi.

Mengakui semua itu tidak berarti saya kurang bersyukur kepada Allah atas kehadiran anak-anak saya. Justru mungkin saya baru bisa benar-benar bersyukur ketika berhenti memaksa diri mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Karena di tengah semua kerepotan itu, ada begitu banyak hal yang ternyata berjalan baik. Kehamilan-kehamilan saya bisa dilewati. Persalinan saya dimudahkan. Anak-anak lahir dan tumbuh.

Dan rumah yang kadang begitu berisik sampai membuat kepala rasanya mau pecah itu, ternyata juga rumah yang dipenuhi manusia-manusia yang sangat saya sayangi. Saya tidak perlu membandingkan keberuntungan saya dengan kesulitan perempuan lain untuk mengetahui bahwa semua itu adalah karunia. Cukup melihat kehidupan saya sendiri. Dan berkata: Alhamdulillah.

Saya juga perlahan belajar bahwa anak bukan medali keberhasilan orang tua. Punya satu, dua, lima, atau tidak punya anak sama sekali tidak membuat seseorang lebih baik daripada orang lain. Setiap keluarga mempunyai cerita, pertimbangan, kemampuan, bahkan luka yang tidak selalu kita ketahui. Maka saya tidak ingin menjadikan pengalaman saya sebagai argumen bahwa punya banyak anak lebih baik. Tidak juga ingin mengatakan bahwa kekhawatiran tentang biaya, pendidikan, atau kesiapan orang tua tidak penting. Semuanya penting.

Saya hanya sedang mencoba berdamai dengan kehidupan yang kebetulan diberikan kepada saya. Kehidupan dengan rumah yang ramai. Cucian yang sepertinya berkembang biak sendiri. Barang sekolah yang selalu hilang lima menit sebelum berangkat. Anak yang memanggil “Mamah” hampir bersamaan dari empat penjuru rumah. Dan seorang ibu yang berkali-kali merasa tidak sanggup, tapi besok pagi tetap bangun dan mencoba lagi.

Ada satu ayat yang sering saya pegang ketika merasa kewalahan: bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dulu saya memahaminya dengan sangat sederhana: Kalau Allah memberi saya semua ini, berarti saya pasti mampu. Sekarang saya rasa maknanya bagi saya sedikit berbeda. Mampu bukan berarti tidak pernah lelah. Bukan berarti tidak boleh menangis. Bukan berarti rumah harus selalu rapi, anak-anak harus selalu berprestasi, makanan harus selalu tersedia sempurna, dan seorang ibu harus sanggup mengerjakan semuanya sambil tetap tersenyum.

Mungkin “mampu” kadang cuma berarti diberi kekuatan untuk menjalani hari ini. Besok, minta kekuatan lagi. Saya juga tidak tahu apa hikmah dari setiap kehamilan yang datang ketika saya merasa belum siap. Saya tidak ingin sok tahu menebak-nebak maksud Tuhan. Yang saya tahu, anak-anak itu sudah ada di sini. Dan mereka adalah orang-orang yang saya cintai.

Maka tugas saya sekarang bukan membuktikan kepada siapa pun bahwa saya sanggup mempunyai banyak anak. Bukan pula membuktikan bahwa komentar orang lain salah. Tugas saya jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih sulit: belajar menjadi ibu yang lebih baik untuk mereka. Tidak harus ideal. Tidak harus sempurna. Cukup terus belajar. 

Kadang berhasil.

Kadang salah.

Kadang sabar.

Kadang setelah marah malah masuk kamar lalu menyesal sendiri. =D

Dan ketika rasanya terlalu berat, saya masih mengatakan doa yang kurang lebih sama seperti dulu: Ya Allah, berat sekali amanah yang Engkau titipkan. Tapi mereka sudah Kau hadirkan dalam hidup saya dan saya mencintai mereka. Maka ketika saya lelah, beri saya kekuatan. Ketika saya salah, beri saya kesempatan memperbaiki. Dan ketika saya merasa tidak mampu, tolong ingatkan bahwa saya tidak harus menjalani semuanya sendirian.

Mungkin itu saja. Bukan pembelaan tentang kenapa saya punya banyak anak. Bukan pula ajakan agar orang lain melakukan hal yang sama. 

*Hanya catatan seorang ibu yang pernah berkali-kali bertanya apakah dirinya sanggup dan sampai hari ini masih terus belajar menjawabnya.

**Edisi mengingatkan diri sendiri.

 

Minggu, 21 Desember 2014

Tips Mengatasi Kloset Duduk yang Mampet

Aaaaaaaaaaaaaargh……….. sungguh bencana.

Kloset di rumah mampet.

Dan Bumi sebagai pengguna terakhir, mau tak mau langsung diinterogasi: "Nggak tau Umi, Bumi pakai seperti biasa kok, tapi pas Bumi udah pencet tombol siramannya, klosetnya malah mampet…", jawabnya takut-takut.

"Mainan Bumi dari saku jatuh mungkin, kelereng, stik atau apa?", tanyaku tak puas.

"Bumi ngga bawa-bawa mainan di saku, Umi…", jawabnya lagi.

Oke…oke…, mari kita atasi ya Nak. Pertama-tama, pakai masker. langkah kedua cari sesuatu, benda apapun yang bisa digunakan untuk mendorong  apapun itu yang mungkin nyangkut di saluran kloset. Akhirnya pilihan jatuh pada besi bekas potongan tulangan beton yang tidak terpakai. Sayangnya anatomi kloset duduk yang tidak saya pahami membuat besi tulangan tadi tak berguna meski sudah saya coba dorong berkali-kali.

Langkah terakhir: tanya Mbah Google. Dari hasil googling, saya baru tahu kalau ternyata ada beberapa alternatif untuk mengatasi kloset yang mampet.

Alternatif pertama: gunakan alat penyedot WC  bernama plunger.

Alternatif kedua: siram kloset dengan 1kg NaCl (garam dapur) yang dilarutkan dengan air panas.

Alternatif ketiga: dengan soda kue dan cuka.

Alternatif keempat: gunakan soda api.

Alternatif kelima: panggil tukang sedot WC.

Dari kelima alternatif ini, hanya alternatif ketiga yang paling memungkinkan untuk saya. Alasannya sederhana, saya tak punya plunger, ataupun satu kilogram garam yang bisa saya buang begitu saja ke kloset. Saya juga tak punya soda api di rumah dan menurut beberapa sumber, penggunaan soda api ini sebaiknya dihindari karena selain bisa merusak pipa saluran, juga bisa mematikan bakteri pengurai di septic tank. Untuk memanggil  tukang sedot WC pun rasanya saya terlalu malas. Sedangkan soa kue dan cuka adalah pelengkap masak standar yang kebetulan ada di dapur saya.

Dan mulailah saya bekerja dengan kedua bahan tersebut. Pertama-tama saya menuangkan soda kue ke dalam kloset (karena saya tak punya timbangan kue, akhirnya saya pakai ilmu kira-kira saja), kemudian saya tuangkan cuka (di petunjuknya disebutkan akan timbul gelembung-gelembung di kloset setelah tahap ini dilakukan,  tapi entah kenapa saya tak menemukan gelembung sama sekali),  dan terakhir siram dengan air panas setelah beberapa menit. Setelah dibiarkan selama kurang lebih 6 jam, kloset akan berfungsi lagi seperti semula (katanya).

Tapi.....

Ternyata saya belum beruntung, setelah saya biarkan bahkan sampai semalaman, kloset saya masih mampet, air pembuangannya tetap tak mau mengalir meski sudah saya coba bantu dengan pendorong berkali-kali. Putus asa dan pusing sendiri akhirnya kloset saya tutup dan saya tempeli pengumuman: "TIDAK DAPAT DIGUNAKAN".

Dan begitulah, kloset tersebut tetap tak berfungsi. Pikiran bahwa kami masih bisa menggunakan kamar mandi yang lain membuat urusan kloset ini terabaikan meskipun tetap saja ternyata mengganggu pikiran (semakin jadi pikiran dengan Abinya anak-anak yang terus-terusan nanya: "Mi, klosetnya udah bener?", huhuhu...)

Setelah dua hari, saya sedikit marah saat mendapati Bumi yang tengah iseng memencet-mencet tombol penyiramnya.

"Bumi, kan udah tau klosetnya mampet!", sembur saya.

"Ngga kok Umi, nih udah jalan lagi", jawabnya santai sambil memencet tombol penyiram dan terdengar suara air menyedot tanda klosetnya sudah tak mampet lagi. Seketika saya merasa lega dan senang sendiri.

"Sama Bumi diapain?", tanya saya penasaran.

"Nggak diapa-apain, Mi, cuman dipencet-pencet aja penyiramnya".

"Oh iya?", tanya saya tak percaya.

Tapi kemudian saya ngeh juga, mungkin soda kue dan cuka yang saya tuang sebelumnya akhirnya bereaksi dan menghasilkan gas yang mampu mendorong si penyebab mampet, tapi reaksinya sangat lambat sehingga perlu waktu yang cukup lama. 

Tapi bagaimana pun juga Alhamdulillah, berkurang satu pekerjaan rumah yang tak saya harapkan hari ini. =D



Sabtu, 20 Desember 2014

Tips Mengatasi Sakit Mata pada Bayi...

Melakukan perjalanan dengan membawa serta seorang bayi memang selalu menakjubkan. Entah kenapa, mungkin karena semua orang sepakat bahwa bayi adalah makhluk kecil yang menggemaskan hingga dengan satu kali pandang saja orang sudah merasa sayang. Tiba-tiba saja banyak orang yang menyapa dan menunjukkan keramahan pada makhluk mungil itu, sekedar bertanya pada ibunya: "Laki-laki atau perempuan?" dan pertanyaan standar: "Sudah berapa bulan usianya?". Dan obrolan pun akan berlanjut ke hal-hal kecil lainnya.

Pun kali itu, ketika pada suatu kesempatan saya terpaksa melakukan perjalanan ke luar kota dengan travel sambil membawa si bungsu yang baru berusia 15 hari. Wanita yang duduk di samping saya sudah mencuri-curi pandang pada si kecil bahkan sejak ia mulai meletakkan tasnya di samping saya. Sayangnya saya yang memang pada dasarnya malas mengobrol hanya tersenyum sopan dan memilih untuk berusaha tidur sepanjang perjalanan. Di pertengahan perjalanan, ia yang tahu saya ternyata tak bisa tidur, mulai menyapa si kecil. Dan mengalirlah obrolan itu, cerita hidup yang tak saya tanya tapi mengalir begitu saja. Tentang kehidupan rumah tangga yang sebenarnya cukup pribadi tapi dibaginya begitu saja dengan saya. Saya menanggapinya sekedar untuk sopan santun. Baru pada bagian beliau menceritakan pengalaman mengurus anak-anaknya saya mulai memasang perhatian lebih.

"Saya ini dulu orang ngga punya Neng, empat anak saya waktu masih kecil belum pernah ke dokter setiap kali sakit".

Dan saya langsung takjub mendengarnya, bagaimana bisa tak perlu ke dokter, padahal saya tahu persis,  usia 0-5 tahun kondisi kesehatan seorang anak berada pada masa rentannya. 

"Saya obatin sendiri kalau mereka sakit. Kalau demam dan panas, saya balur badannya dengan minyak kelapa yang sudah dicampur irisan bawang merah. Kalau badannya gatal-gatal saya balur bagian yang gatal dengan parut kunyit yang sudah dipanasin dengan sedikit minyak kelapa".

Wah, canggih juga ini ibu, pikir saya dalam hati.

"Kalau sakit mata saya tetesin ASI ke matanya", dan saya langsung tercengang mendengarnya, 

"Oh iya Bu?, bukannya katanya ASI itu tajem ya, emang ngga apa-apa di kematain?". 

"Coba aja sendiri", jawab beliau dengan yakinnya.

Dan begitulah berbekal sepotong pembicaraan dengan beliau, pada suatu pagi ketika saya mendapati si kecil bangun dengan mata yang merah dan kotoran mata yang saking banyaknya membuat matanya susah terbuka, saya mencoba mengobatinya sendiri. Saya menetesi kedua matanya dengan ASI. Tapi sampai siang kondisi mata adik belum juga membaik, masih merah dengan kotoran mata yang terus menerus ada lagi-ada lagi. Saya coba tetesi ASI sekali lagi. Dan ajaib, saat sore hari adik terbangun dari tidur siangnya matanya sudah sembuh.

Alhamdulillah…

Senang sekali rasanya, mengetahui obat yang sederhana tapi ternyata sangat manjur ini. Sayangnya, dulu saya tak sempat minta contact person si Ibu untuk mengucapkan terima kasih (dan minta tips-tips canggih lainnya) =D.

Resensi MERAWAT LUKA BATIN: Buku yang Tak Kunjung Selesai Dibaca

  Sudah hampir dua bulan buku  Merawat Luka Batin  karya dr. Jiemi Ardian ini menemani saya ke mana-mana. Masuk tas, dibawa ke kantor, menem...