Kamis, 11 Desember 2025
MENSYUKURI LUPA
Berpisah Jalan
Ketika semesta sudah merestui sebuah perpisahan, percayalah bahwa kalian tidak akan bertemu lagi di kebetulan manapun. Bahkan meskipun kalian tinggal di kota yang sama atau bahkan jika kalian bekerja di satu instansi dalam gedung yang sama. Percayalah.
Selalu akan ada momen, entah itu terlambat 5 menit, atau masuk melalui pintu yang berbeda, atau semua cara unik semesta lainnya yang tidak membiarkan kalian bertemu. Meskipun kita tahu, ada rindu yang belum usai, ada doa yang diam-diam dilangitkan untuk bisa bertemu, sebentar saja.
Tapi semesta bukan tempat untuk menggoda luka. Ia akan menutup semua pintu, memisahkan kalian dalam ruang dan waktu yang selalu tak pernah beririsan, hingga pelan-pelan kalian menyadari, bahwa ini memang perpisahan yang mutlak.
Butuh waktu yang cukup lama untuk menghilangkan perasaan. Maka masing-masing dari kalian, akan saling merindukan dalam diam. Mencoba melanjutkan hidup sambil menghapus jejak-jejak kenangan yang aku yakin bertebaran dimana-mana. Di sinar matahari pagi, di tangga MRT, di selasar rumah sakit, di semua tempat yang pernah kalian lalui bersama. Tak ada yang berubah dari matahari, tak ada yg berubah dari semua tempat itu, yang berubah hanya persepsi kalian. Karena kehilangan, entah bagaimana, justru menyadarkan bahwa ternyata ada ruang kosong yang tak bisa begitu saja diisi orang lain.
Lalu untuk berdamai dengan sakit yang rasanya terus menerus menghantui, kalian akan memilih cara seperti apa?.
Kalau aku, biasanya aku akan melarikan diri pada buku-buku, pada hitungan-hitungan rumit, pada pekerjaan. Dan jujur, sebagai hadiahnya aku berhak mengenakan jas almamater dengan lambang gajah Ganesha satu dekade yang lalu, karena kehilangan. Sakit yang tak tertahankan membuat aku belajar mati-matian, aku membawa buku kemana-mana, membaca dimana-mana, di angkot, di teras masjid, sambil menunggu teman, tak sedetik pun kubiarkan pikiran ini kosong. Dan entah bagaimana, sakit dan sedih itu menjelma energi, untuk hidup lebih baik, untuk terus berprogres. Hingga jika suatu saat nanti ternyata semesta mempertemukan kembali karena tahu hati ini sudah rela, yang ditampilkan adalah versi terbaik diri, bukan sosok yang remuk karena tidak bisa berdamai dengan luka perpisahan.
Aku harap, sekarang pun begitu.
Jumat, 18 Juli 2025
AREM-AREM
"Kamu dimana?, kenapa belum sampai kantor?", begitu bunyi pesan teks yang kuterima pagi ini. Tergopoh-gopoh, aku berlari dari parkiran. Dan kamu tertawa melihatku yang kusut sesampai tiba di ruangan.
"Kebiasaan memang", komentarmu dengan geligi yang terlihat manis saat terbahak.
Aku meletakkan tasku, membuka laptop, dan bersiap untuk mulai bekerja. Tiba-tiba kamu menyodorkan satu buah arem-arem padaku.
"Eh", komentarku dengan tatapan bertanya,
"Buat kamu, hehehe...".
"Terima kasiih", lalu aku memakan arem-arem itu dengan lahap.
Siangnya, saat makan siang bersama, tiba-tiba terlintas tentang arem-arem tadi pagi.
"Tadi pagi, kamu beli arem-arem dari mana?, bekel dari rumah?", tanyaku.
"Engga, dikasi sama Bu Ar itu", jawabmu.
"Oiya, semua orang dikasi?", tanyaku lagi.
"Cuma sedikit kok, jadi aku ngambil satu".
"Hah, cuma satu, jadi yg aku makan tadi pagi itu sebetulnya jatah kamu dan kamu belum makan?",
"Iya..."
aku langsung merasa bersalah, "Kenapa ngga bilang kalau kamu belum makan, aku pikir kamu punya beberapa dan buat aku satu"...
"Ngga apa-apa, kok, seneng lihat kamu makannya gembul", jawab kamu.
"Aaaaaa....bukan gitu, duh aku jadi ngga enak, nanti arem-aremnya kuganti ya...",
Sungguh, aku berjanji dalam hati untuk mengganti arem-arem itu besok, sepertinya di Monami juga ada itu arem-arem.
Siapa sangka, ternyata tak pernah ada besok untukku. Dan sampai hari ini, setelah dua belas tahun berlalu, aku tak pernah punya kesempatan untuk mengganti arem-arem itu.
Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI
Judul Buku : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Penulis : Yusi Avianto Pareanom Penerbit ...
-
Time flies.... Rasanya baru kemarin, belajar tergopoh-gopoh semalam suntuk untuk ujian masuk S2 ITB, dari mulai bahasa Inggris, TPA, da...
-
Holaaa..... Waktu cuti selama tiga bulan pasca melahirkan anak keenam ternyata tak membuat saya lebih produktif dalam mengisi blog ini....


