Seberapa sering kita mengeluh karena tiba-tiba melupakan sesuatu yang penting?.
Lupa janji temu yang sudah dibuat. Lupa password rekening bank atau akun media sosial. Lupa materi yang semalam mati-matian dipelajari. Dan yang mungkin paling sering: lupa menyimpan barang.
Saya, jujur saja, termasuk pelupa yang cukup akut. Sering sekali saya kehilangan barang semata-mata karena lupa kalau tadi membawanya, lalu meninggalkannya entah di mana. Pernah saya hampir mendapat nilai E dalam mata kuliah Gambar Rekayasa gara-gara tabung gambar berisi tugas besar tertinggal di tempat print. Pernah juga kehilangan satu tempat pensil lengkap dengan segala alat tulis, alat gambar, dan kalkulator karena tertinggal di studio.
Jam tangan hilang? Pernah.
Handphone? Pernah juga.
Jadi selama bertahun-tahun saya selalu menganggap lupa sebagai semacam kekurangan. Saya sering berharap Tuhan memberi saya ingatan yang tajam. Terutama untuk urusan pelajaran dan pekerjaan. Rasanya menyenangkan sekali kalau bisa membaca sesuatu satu kali lalu mengingatnya bertahun-tahun kemudian. Mungkin karena sejak kecil kita juga terbiasa menghubungkan ingatan yang kuat dengan kecerdasan.
Dalam novel-novel detektif yang saya baca, tokoh-tokoh pintarnya hampir selalu punya kemampuan mengingat yang luar biasa. Mereka ingat percakapan kecil bertahun-tahun lalu, posisi sebuah benda di tempat kejadian perkara, wajah seseorang yang hanya berpapasan beberapa detik, bahkan detail-detail kecil yang bagi manusia biasa seperti saya mungkin sudah hilang sebelum sampai rumah. Saya iri pada orang-orang seperti itu.
Dulu.
Sebab semakin bertambah usia, semakin saya menyadari bahwa mungkin Tuhan memang tidak menciptakan ingatan manusia untuk menyimpan semuanya. Dan mungkin itu bukan kekurangan. Mungkin justru belas kasih.
Ada hal-hal yang memang ingin kita ingat selama mungkin. Wajah ibu. Suara seseorang yang kita sayangi. Tawa anak-anak ketika masih kecil. Rumah tempat kita tumbuh. Perjalanan yang menyenangkan. Percakapan sederhana yang entah kenapa tinggal di kepala bertahun-tahun. Aroma tertentu. Lagu tertentu. Seseorang tertentu.
Tapi hidup tidak hanya memberi kita hal-hal semacam itu.
Ada juga perkataan yang ingin sekali tidak pernah kita dengar. Ada hari yang kalau boleh memilih ingin kita hapus dari kalender. Ada penghinaan, pengkhianatan, kehilangan, rasa malu, kegagalan, dan berbagai jenis patah hati yang ketika baru terjadi rasanya mustahil akan bisa dilupakan. Dan anehnya, waktu benar-benar melakukan sesuatu terhadap ingatan. Tidak selalu menghapusnya. Tapi mengaburkannya. Pelan-pelan.
Mula-mula kita masih mengingat semuanya. Kalimatnya. Tanggalnya. Jamnya. Baju yang kita pakai. Cuaca hari itu. Tempat kita berdiri ketika sesuatu terjadi. Bahkan kadang-kadang kita masih ingat bagaimana dada terasa sesak ketika mendengarnya.
Lalu waktu berjalan. Setahun. Dua tahun. Entah berapa lama. Dan suatu hari kita mencoba mengingat kembali percakapan itu, tapi beberapa kalimat sudah hilang. Kita masih tahu bahwa kita pernah terluka, tetapi tidak lagi ingat persis bagaimana rasanya. Wajah seseorang yang dulu begitu jelas mulai kehilangan detailnya. Suaranya tidak lagi bisa diputar sempurna di kepala. Dan sesuatu yang dahulu memenuhi hampir seluruh pikiran kita perlahan-lahan hanya menjadi satu ingatan di antara ribuan ingatan lain. Saya rasa di situlah saya mulai melihat lupa dengan cara berbeda.
Barangkali kita memang membutuhkan lupa agar bisa melanjutkan hidup.
Bayangkan kalau setiap rasa sakit yang pernah kita alami tersimpan dengan intensitas yang persis sama seperti ketika pertama kali terjadi. Setiap kehilangan tetap terasa seperti kemarin. Setiap perkataan buruk masih terdengar sama kerasnya. Setiap orang yang meninggalkan kita tetap terasa seperti baru saja menutup pintu. Betapa melelahkannya hidup.
Mungkin manusia memang tidak dirancang untuk membawa semua masa lalunya dalam keadaan utuh. Ada yang harus memudar agar kita punya ruang untuk hari ini. Ada yang harus menjadi samar supaya sesuatu yang baru bisa masuk.
Bukan berarti peristiwa itu tidak penting. Bukan pula berarti kita harus memaksa diri untuk melupakan sesuatu yang masih terasa sakit. Justru saya pikir lupa tidak bekerja seperti itu. Semakin keras kita berkata, aku harus lupa, biasanya semakin rajin pikiran mengingatkan.
Seperti ketika seseorang mengatakan: jangan bayangkan gajah berwarna merah muda. Dan tentu saja sekarang yang muncul di kepala adalah gajah berwarna merah muda. Mungkin karena lupa bukan sesuatu yang bisa diperintah. Ia datang diam-diam. Bekerja ketika kita sedang sibuk menjalani kehidupan. Ketika kita bangun pagi dan pergi bekerja. Ketika bertemu orang baru. Ketika tertawa pada sesuatu yang lucu. Ketika menemukan buku yang bagus. Ketika pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Ketika hidup pelan-pelan terisi lagi oleh hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ingin kita lupakan.
Lalu suatu hari kita tersadar: Oh. Ternyata kemarin aku tidak memikirkannya sama sekali.
Besoknya mungkin teringat lagi. Tidak apa-apa. Lalu lupa lagi. Ingat lagi. Lupa lagi. Sampai jarak antara satu ingatan dengan ingatan berikutnya semakin panjang. Mungkin begitulah manusia sembuh. Bukan dengan tiba-tiba kehilangan seluruh ingatan, tapi dengan perlahan-lahan berhenti tinggal di dalamnya.
Tentu tidak semua hal harus dilupakan. Ada rasa sakit yang justru perlu diingat supaya kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Ada orang yang harus kita maafkan tanpa harus kita beri kesempatan yang sama untuk menyakiti kita lagi. Ada kejadian yang meninggalkan pelajaran dan, meskipun lukanya sudah sembuh, bekasnya mungkin memang perlu tetap ada.
Jadi mungkin berdamai dengan lupa bukan berarti berharap semua masa lalu terhapus. Saya juga tidak ingin kehilangan semua ingatan. Saya hanya ingin suatu hari bisa mengingat tanpa ikut terluka. Mengingat seseorang tanpa ingin kembali. Mengingat suatu kejadian tanpa lagi bertanya, kenapa? Mengingat kehidupan yang pernah saya bayangkan tanpa merasa bahwa kehidupan saya sekarang adalah versi yang lebih buruk hanya karena berjalan berbeda.
Barangkali pada akhirnya yang kita butuhkan memang bukan benar-benar lupa. Melainkan jarak. Jarak yang cukup jauh sampai sebuah kenangan berhenti menjadi tempat tinggal dan kembali menjadi apa adanya: sesuatu yang pernah terjadi.
Lucu juga kalau dipikir-pikir. Dulu saya berdoa supaya tidak gampang lupa. Supaya bisa mengingat pelajaran lebih lama. Supaya tidak kehilangan barang. Supaya otak saya bisa menyimpan semuanya dengan rapi seperti lemari arsip yang setiap saat bisa dibuka kembali. Sekarang saya justru bersyukur otak manusia tidak bekerja seperti itu.
Bahwa ada nama yang lama-lama jarang muncul di kepala. Ada wajah yang pelan-pelan kabur. Ada percakapan yang kata-katanya mulai tertukar. Ada sakit yang dulu terasa seperti tidak akan pernah selesai, tapi ternyata suatu hari benar-benar tidak terasa sesakit itu lagi.
Mungkin lupa memang bukan musuh ingatan. Mungkin lupa adalah cara pikiran memberi ruang agar kita tetap bisa hidup setelah sesuatu terjadi.
Dan kalau memang begitu, saya tidak lagi terlalu marah ketika sesekali lupa menaruh kunci, lupa membawa sesuatu, atau berdiri di depan kulkas sambil bingung sebenarnya tadi mau mengambil apa.
Ya, tetap menyebalkan sih. =D
Tapi setidaknya sekarang saya tahu bahwa kemampuan yang sama yang membuat saya berkali-kali kehilangan barang, juga memberi saya sebuah kemungkinan yang jauh lebih penting: bahwa tidak ada ingatan yang harus terasa sama selamanya. Bahwa yang hari ini memenuhi kepala, suatu hari mungkin hanya mampir sesekali. Bahwa sesuatu yang hari ini masih membuat dada sesak, mungkin suatu saat bisa saya ingat sambil biasa saja. Dan bahwa seseorang yang hari ini rasanya mustahil dilupakan— pelan-pelan, entah kapan, mungkin akan menjadi sekadar seseorang yang pernah saya kenal.
Jadi mungkin untuk pertama kalinya, saya ingin mensyukuri sifat pelupa saya.
Karena kalau saya bisa melupakan tempat saya menyimpan handphone, kalkulator, jam tangan, tabung gambar, dan entah berapa banyak benda lain sepanjang hidup ini, harusnya ada harapan bahwa suatu hari nanti, aku pun bisa melupakan kamu.


