Kamis, 11 Desember 2025

MENSYUKURI LUPA









lupa/lu·pa/ v 1 lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran (ingatan) lagi: karena sudah lama, ia -- akan peristiwa itu; 2 tidak teringat: dia -- membawa buku tulis; 3 tidak sadar (tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya, dan sebagainya): semenjak jatuh dia sering -- akan keadaan sekelilingnya; 4 lalai; tidak acuh: jangan -- akan kewajibanmu.


Hal yang diingat adalah hal yang tidak dilupakan dan hal yang tidak diingat adalah hal yang dilupakan*

Seberapa sering kita mengeluh karena tiba-tiba saja melupakan sesuatu yang penting?, lupa akan janji temu yang sudah dibuat, lupa password rekening bank atau akun sosmed, lupa materi yang baru dipelajari, yang paling sering terjadi adalah lupa menyimpan suatu barang. Dan saya jujur saja, termasuk pelupa yang cukup akut. Sering sekali saya kehilangan barang atau benda penting semata karena saya lupa kalau membawa barang tersebut dan ketinggalan. Pernah, saya hampir mendapat nilai E dalam mata kuliah Gambar Rekayasa gara-gara tabung gambar yang berisi tugas besar saya ketinggalan di tempat ngeprint. Pernah juga saya kehilangan satu tempat pensil penuh berisi segala alat tulis, alat gambar dan kalkulator gara-gara ketinggalan di studio. Ketinggalan jam tangan bahkan handphone lalu hilang, oh pernah juga.

Keseringan lupa ini terkadang sangat mengganggu. Sering saya berharap, Tuhan memberi saya ingatan yang tajam dan tak gampang lupa, terutama untuk urusan pelajaran dan pekerjaan. Karena sejauh yang saya pahami, mereka yang pintar dan cerdas itu memiliki ingatan yang sangat baik. Dalam beberapa novel detektif yang saya baca, para detektif yang menjadi tokoh utama ceritanya, dianugerahi Tuhan ingatan jangka panjang yang sangat detail, bahkan ada beberapa yang punya ingatan fotografis.

Namun seiring berjalannya usia, saya mulai menemukan bahwa kemampuan untuk melupakan justru adalah anugerah yang harus disyukuri. Karena dengan lupa, kita bisa hidup dengan lebih damai dan tenang. Tanpa "lupa", betapa tersiksanya mereka yang harus berkompromi dengan ingatan yang traumatis.  Tanpa lupa, bayangkan, bagaimana konflik internal yang terjadi di dalam hati kita sendiri, yang membuat kita terus menerus dihantui oleh ingatan menyakitkan. 

Sigmund Freud bahkan menyatakan bahwa lupa sebetulnya adalah salah satu bentuk penting pertahanan diri manusia. Melalui mekanisme represi, manusia menekan ingatan menyakitkan sehingga hanya ada di alam bawah sadar, dan ini penting untuk melindungi pikiran sadar dari penderitaan emosional. 

Bukankah Maha Sempurna Allah dengan segala ciptaan-Nya.



*dari web, tercantum Sumadi Suryabrata, 2006: 47, tapi saya tidak menemukan buku ataupun rujukannya yang sah.


Berpisah Jalan

Ketika semesta sudah merestui sebuah perpisahan, percayalah bahwa kalian tidak akan bertemu lagi di kebetulan manapun. Bahkan meskipun kalian tinggal di kota yang sama atau bahkan jika kalian bekerja di satu instansi dalam gedung yang sama. Percayalah. 

 

Selalu akan ada momen, entah itu terlambat 5 menit, atau masuk melalui pintu yang berbeda, atau semua cara unik semesta lainnya yang tidak membiarkan kalian bertemu. Meskipun kita tahu, ada rindu yang belum usai, ada doa yang diam-diam dilangitkan untuk bisa bertemu, sebentar saja. 

 

Tapi semesta bukan tempat untuk menggoda luka. Ia akan menutup semua pintu, memisahkan kalian dalam ruang dan waktu yang selalu tak pernah beririsan, hingga pelan-pelan kalian menyadari, bahwa ini memang perpisahan yang mutlak.

 

Butuh waktu yang cukup lama untuk menghilangkan perasaan. Maka masing-masing dari kalian, akan saling merindukan dalam diam. Mencoba melanjutkan hidup sambil menghapus jejak-jejak kenangan yang aku yakin bertebaran dimana-mana. Di sinar matahari pagi, di tangga MRT, di selasar rumah sakit, di semua tempat yang pernah kalian lalui bersama. Tak ada yang berubah dari matahari, tak ada yg berubah dari semua tempat itu, yang berubah hanya persepsi kalian. Karena kehilangan, entah bagaimana, justru menyadarkan bahwa ternyata ada ruang kosong yang tak bisa begitu saja diisi orang lain. 

 

Lalu untuk berdamai dengan sakit yang rasanya terus menerus menghantui, kalian akan memilih cara seperti apa?.

 

Kalau aku, biasanya aku akan melarikan diri pada buku-buku, pada hitungan-hitungan rumit, pada pekerjaan. Dan jujur, sebagai hadiahnya aku berhak mengenakan jas almamater dengan lambang gajah Ganesha satu dekade yang lalu, karena kehilangan. Sakit yang tak tertahankan membuat aku belajar mati-matian, aku membawa buku kemana-mana, membaca dimana-mana, di angkot, di teras masjid, sambil menunggu teman, tak sedetik pun kubiarkan pikiran ini kosong. Dan entah bagaimana, sakit dan sedih itu menjelma energi, untuk hidup lebih baik, untuk terus berprogres. Hingga jika suatu saat nanti  ternyata semesta mempertemukan kembali karena tahu hati ini sudah rela, yang ditampilkan adalah versi terbaik diri, bukan sosok yang remuk karena tidak bisa berdamai dengan luka perpisahan.

 

Aku harap, sekarang pun begitu.

 

Jumat, 18 Juli 2025

AREM-AREM

 





"Kamu dimana?, kenapa belum sampai kantor?", begitu bunyi pesan teks yang kuterima pagi ini. Tergopoh-gopoh, aku berlari dari parkiran. Dan kamu tertawa melihatku yang kusut sesampai tiba di ruangan. 

"Kebiasaan memang", komentarmu dengan geligi yang terlihat manis saat terbahak. 

Aku meletakkan tasku, membuka laptop, dan bersiap untuk mulai bekerja. Tiba-tiba kamu menyodorkan satu buah arem-arem padaku.

"Eh", komentarku dengan tatapan bertanya, 

"Buat kamu, hehehe...".

"Terima kasiih", lalu aku memakan arem-arem itu dengan lahap.

Siangnya, saat makan siang bersama, tiba-tiba terlintas tentang arem-arem tadi pagi.

"Tadi pagi, kamu beli arem-arem dari mana?, bekel dari rumah?", tanyaku.

"Engga, dikasi sama Bu Ar itu", jawabmu.

"Oiya, semua orang dikasi?", tanyaku lagi.

"Cuma sedikit kok, jadi aku ngambil satu".

"Hah, cuma satu, jadi yg aku makan tadi pagi itu sebetulnya jatah kamu dan kamu belum makan?", 

"Iya..."

aku langsung merasa bersalah, "Kenapa ngga bilang kalau kamu belum makan, aku pikir kamu punya beberapa dan buat aku satu"...

"Ngga apa-apa, kok, seneng lihat kamu makannya gembul",  jawab kamu.

"Aaaaaa....bukan gitu, duh aku jadi ngga enak, nanti arem-aremnya kuganti ya...", 

Sungguh, aku berjanji dalam hati untuk mengganti arem-arem itu besok, sepertinya di Monami juga ada itu arem-arem.

Siapa sangka, ternyata tak pernah ada besok untukku. Dan sampai hari ini, setelah dua belas tahun berlalu, aku tak pernah punya kesempatan untuk mengganti arem-arem itu.


Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI

Judul Buku                 : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Penulis                         : Yusi Avianto Pareanom Penerbit         ...