MENSYUKURI LUPA









lupa/lu·pa/ v 1 lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran (ingatan) lagi: karena sudah lama, ia -- akan peristiwa itu; 2 tidak teringat: dia -- membawa buku tulis; 3 tidak sadar (tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya, dan sebagainya): semenjak jatuh dia sering -- akan keadaan sekelilingnya; 4 lalai; tidak acuh: jangan -- akan kewajibanmu.


Hal yang diingat adalah hal yang tidak dilupakan dan hal yang tidak diingat adalah hal yang dilupakan*

Seberapa sering kita mengeluh karena tiba-tiba saja melupakan sesuatu yang penting?, lupa akan janji temu yang sudah dibuat, lupa password rekening bank atau akun sosmed, lupa materi yang baru dipelajari, yang paling sering terjadi adalah lupa menyimpan suatu barang. Dan saya jujur saja, termasuk pelupa yang cukup akut. Sering sekali saya kehilangan barang atau benda penting semata karena saya lupa kalau membawa barang tersebut dan ketinggalan. Pernah, saya hampir mendapat nilai E dalam mata kuliah Gambar Rekayasa gara-gara tabung gambar yang berisi tugas besar saya ketinggalan di tempat ngeprint. Pernah juga saya kehilangan satu tempat pensil penuh berisi segala alat tulis, alat gambar dan kalkulator gara-gara ketinggalan di studio. Ketinggalan jam tangan bahkan handphone lalu hilang, oh pernah juga.

Keseringan lupa ini terkadang sangat mengganggu. Sering saya berharap, Tuhan memberi saya ingatan yang tajam dan tak gampang lupa, terutama untuk urusan pelajaran dan pekerjaan. Karena sejauh yang saya pahami, mereka yang pintar dan cerdas itu memiliki ingatan yang sangat baik. Dalam beberapa novel detektif yang saya baca, para detektif yang menjadi tokoh utama ceritanya, dianugerahi Tuhan ingatan jangka panjang yang sangat detail, bahkan ada beberapa yang punya ingatan fotografis.

Namun seiring berjalannya usia, saya mulai menemukan bahwa kemampuan untuk melupakan justru adalah anugerah yang harus disyukuri. Karena dengan lupa, kita bisa hidup dengan lebih damai dan tenang. Tanpa "lupa", betapa tersiksanya mereka yang harus berkompromi dengan ingatan yang traumatis.  Tanpa lupa, bayangkan, bagaimana konflik internal yang terjadi di dalam hati kita sendiri, yang membuat kita terus menerus dihantui oleh ingatan menyakitkan. 

Sigmund Freud bahkan menyatakan bahwa lupa sebetulnya adalah salah satu bentuk penting pertahanan diri manusia. Melalui mekanisme represi, manusia menekan ingatan menyakitkan sehingga hanya ada di alam bawah sadar, dan ini penting untuk melindungi pikiran sadar dari penderitaan emosional. 

Lagi-lagi, Maha Sempurna Allah dengan segala ciptaan-Nya.



*dari web, tercantum Sumadi Suryabrata, 2006: 47, tapi saya tidak menemukan buku ataupun rujukannya yang sah.


Komentar

Postingan Populer