Berpisah Jalan
Ketika semesta sudah merestui sebuah perpisahan, percayalah bahwa kalian tidak akan bertemu lagi di kebetulan manapun. Bahkan meskipun kalian tinggal di kota yang sama atau bahkan jika kalian bekerja di satu instansi dalam gedung yang sama. Percayalah.
Selalu akan ada momen, entah itu terlambat 5 menit, atau masuk melalui pintu yang berbeda, atau semua cara unik semesta lainnya yang tidak membiarkan kalian bertemu. Meskipun kita tahu, ada rindu yang belum usai, ada doa yang diam-diam dilangitkan untuk bisa bertemu, sebentar saja.
Tapi semesta bukan tempat untuk menggoda luka. Ia akan menutup semua pintu, memisahkan kalian dalam ruang dan waktu yang selalu tak pernah beririsan, hingga pelan-pelan kalian menyadari, bahwa ini memang perpisahan yang mutlak.
Butuh waktu yang cukup lama untuk menghilangkan perasaan. Maka masing-masing dari kalian, akan saling merindukan dalam diam. Mencoba melanjutkan hidup sambil menghapus jejak-jejak kenangan yang aku yakin bertebaran dimana-mana. Di sinar matahari pagi, di tangga MRT, di selasar rumah sakit, di semua tempat yang pernah kalian lalui bersama. Tak ada yang berubah dari matahari, tak ada yg berubah dari semua tempat itu, yang berubah hanya persepsi kalian. Karena kehilangan, entah bagaimana, justru menyadarkan bahwa ternyata ada ruang kosong yang tak bisa begitu saja diisi orang lain.
Lalu untuk berdamai dengan sakit yang rasanya terus menerus menghantui, kalian akan memilih cara seperti apa?.
Kalau aku, biasanya aku akan melarikan diri pada buku-buku, pada hitungan-hitungan rumit, pada pekerjaan. Dan jujur, sebagai hadiahnya aku berhak menggunakan jas almamater dengan lambang gajah Ganesha satu dekade yang lalu, karena kehilangan. Sakit yang tak tertahankan membuat aku belajar mati-matian, aku membawa buku kemana-mana, membaca dimana-mana, di angkot, di teras masjid, sambil menunggu teman, tak sedetik pun kubiarkan pikiran ini kosong. Dan entah bagaimana, sakit dan sedih itu menjelma energi, untuk hidup lebih baik, untuk terus berprogres. Hingga jika suatu saat nanti ternyata semesta mempertemukan kembali karena tahu hati ini sudah rela, yang ditampilkan adalah versi terbaik diri, bukan sosok yang remuk karena tidak bisa berdamai dengan luka perpisahan.
Aku harap, sekarang pun begitu.


Komentar
Posting Komentar