Masa kecil saya selalu riuh dan penuh orang. Ditemani ibu-ibu bercaping yang menjemur padi di pekarangan rumah yang seperti lapangan kecil, dan di lain hari saat semua padi sudah selesai dijemur, ibu-ibu yang sama ini juga yang akan sibuk membantu Ne Haji “olah”, ini adalah istilah yang merujuk pada kegiatan membuat jenis makanan tertentu dalam jumlah banyak. Makanan yang biasa dibuat biasanya sejenis renginang, opak, kicimpring, kemplang, juga makanan-makanan tradisional lainnya yang dibuat dari hasil bumi dan memerlukan waktu sangat lama dalam pengolahannya. Ada satu ruangan khusus tempat penyimpanan makanan di rumah kami, namanya ‘goah’, sejenis kamar biasa, tapi literally isinya hanya makanan, dan entah bagaimana kamar itu tak pernah kosong. Selalu ada segala kriuk-kriuk yang saya sebut diatas termasuk bernyiru-nyiru ulen, bertandan-tandan pisang, dan entah apa lagi dalam kaleng besar-besar. Termasuk diantara kegiatan “olah” itu adalah juga membuat minyak goreng dan gula aren. Aki memang punya beberapa pohon kelapa dan pohon nira yang hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng dan gula aren di rumah sepanjang tahun.
Seiring bertambahnya usia, saya tahu, ibu-ibu ini adalah para penggarap yang mengolah sawah nenek, jumlahnya puluhan karena biasanya penggarap sawah itu termasuk suami istri. Diantara para penggarap ini ada satu yang termasuk paling sering hadir membantu olah di rumah kami, kami biasa memanggilnya Ma Engkar, setelah cukup besar, saya baru tahu bahwa nama lengkapnya Ma Engkar Kartini, nama yang berima, khas Sunda sekali. Sambil menghadapi tungku api dan wajan berukuran besar, Ma Engkar akan mengerjakan tugasnya sambil berbincang dengan saya, anak kecil yang kala itu selalu ingin ikut membantu (baca: ngerecoki) apa saja. Dari sekian banyak perbincangan kami, ada satu yang sampai sekarang masih saya ingat: “cerita tentang PKI”.
Suara Ma Engkar memberat saat menceritakan aksi PKI yang konon terjadi waktu beliau masih kecil (ajaibnya, sepanjang ingatan saya kala itu Ma Engkar sudah tua, tapi tidak bertambah tua lagi bahkan setelah 30 tahun berlalu dan kami bertemu kembali dalam versi saya yang justru sudah menua). Menurut ceritanya, seluruh PKI itu jahat, mereka membantai banyak sekali ajengan di desa. Tapi yang paling jahat, justru kaum wanitanya PKI, kata Ma Engkar namanya Gerwani. Mereka membunuh para jenderal, dan menari-nari di depan jenazah yang sudah mereka bunuh, selain itu para Gerwani pun menjadi milik bersama para pria PKI. Saya ingat, cerita itu cukup membuat saya jeri sehingga akhirnya dengan kesadaran penuh saya minta Ma Engkar mengganti cerita.
Berpuluh tahun kemudian, saat membaca buku ini, entah bagaimana yang pertama terbersit di benak saya justru adalah kenangan tentang Ma Engkar dan cerita Gerwaninya.
Judul buku : Dari Dalam Kubur
Penulis : Soe Tjen Marching
Penerbit : CV. Marjin Kiri
Jumlah Halaman : 508 halaman
Kisah ini bukan fiktif belaka. Nama tokoh, tempat dan peristiwa bahkan lebih nyata dari segala kisah nyata.
Buku ini merupakan hasil rekomendasi yang saya dapat dari salah satu akun klub buku, membaca banyak ulasannya, saya merasa harus beli. Namun sayangnya, buku ini ternyata cukup langka, saya harus ikut pre order dan perlu waktu tiga bulan untuk buku ini kemudian sampai di tangan. Ketika mulai membaca, saya merasa perlu berterima kasih kepada yang sudah merekomendasikan buku ini, karena buku ini ternyata luar biasa, bagus bagus banget, meskipun saat membaca buku ini saya frustasi sekali, harus berhenti berkali-kali, mengusap mata yang tetiba basah, dan menguatkan hati untuk melanjutkan membaca lagi, karena untuk saya buku ini terlalu sarat emosi, dan ceritanya jauh lebih jeri dari cerita Ma Engkar yang saya dengar waktu kecil.
Jika diringkas, buku ini bercerita tentang sebuah keluarga Tionghoa yang menjadi korban kerusuhan politik tahun 1965. Uniknya, buku ini menceritakan sudut pandang seluruh anggota keluarga yang kemudian dituangkan dalam lima bagian buku: Karla, Mama, Papa, Metamorfosa dan Laire.
Bagian pertama Karla, merupakan bagian paling panjang dalam buku, menceritakan kisah dari sudut pandang Karla, anak perempuan Djie Feng. Bagian ini terasa sangat personal karena menceritakan rumitnya hubungan anak perempuan dengan ibunya. Baru mulai sudah begitu darderdor, tak tanggung-tanggung, cerita dibuka dengan Karla yang ingin membunuh ibunya. Namun kemudian, seiring cerita, entah bagaimana kita terseret pada emosi Karla dan akhirnya memahami bahkan memaklumi kenapa Karla begitu membenci ibunya, sosok yang sempat Karla puja ketika masih kecil.
Pada bagian ini pula, kita akan dibawa untuk menyelami bagaimana sentimen rasis terjadi begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari, dan ia hadir dalam berbagai bentuk, dari mulai celetukan atau sindiran halus, sampai pada pengucilan dan menggembung menjadi insiden besar berupa penjarahan.
Dalam halnya Karla, kebenciannya yang berlarat-larat pada ibunya, membuat ia menafikan juga identitasnya sebagai keturunan Tionghoa, sehingga ketika cerita mulai menyentuh tragedi 1998 dimana bukan hanya terjadi penjarahan terhadap rumah-rumah, tapi juga terjadi pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Tionghoa, hati Karla tak tersentuh dan bahkan ia malah bersyukur karena tak ikut menjadi korban.
Pada bagian kedua, Mama, kita akan membaca kisah dari sudut pandang Djie Feng, ibu Karla yang kemudian berganti nama menjadi Lydia Maria. Pada bagian ini kita bukan hanya akan mengerti, tapi juga bersimpati dan akhirnya membenarkan semua tindakan yang ia lakukan terhadap Karla. Djie Feng ternyata adalah mantan tahanan politik yang masuk penjara dengan suka rela untuk menggantikan adik iparnya, Lan Ing yang dianggap dekat dengan anggota Gerwani (Widya, Ratna, Fan, Bu Yatmi). Padahal anggota Gerwani inilah yang sudah menyelamatkan Lan Ing dari KDRT dan memberikan jalan keluar untuk Lan Ing mencari penghidupan.
Pada bagian kedua ini, saya mendapat gambaran bahwa kegiatan Gerwani sebetulnya adalah kegiatan yang positif, mereka mengajarkan baca tulis, membangkitkan kesadaran politik pada kaum perempuan, juga memberikan solusi ketika terjadi kasus KDRT. Namun propaganda membuat mereka menjadi sosok yang menari telanjang dan membunuh para jenderal.
Beberapa artikel harian Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha bertanggal 7 Oktober sampai 11 Oktober menyiarkan bahwa para Gerwani telah memerkosa, mencungkil mata para jenderal dan melakukan kekejian luar biasa lainnya: "Ada yang dipotong kelaminnya". (halaman 245)
Penculikan dan penahanan yang dilakukan terhadap mereka juga membuat mereka ada pada posisi dijauhi semua orang, tak ada yang mau menolong.
Karena dicurigai Gerwani saja sudah cukup untuk membuatnya layak diperkosa, dibunuh, disiksa, dan dibuang kayak binatang, (halaman 323)
Pada bagian ini saya teringat pada cerita Ma Engkar, dan itu tentu bukan kesalahan Ma Engkar, saya yakin mungkin bukan hanya Ma Engkar, tapi juga banyak orang lagi yang segenerasi dengannya sudah termakan propaganda tersebut.
Kisah pada bagian Mama ini menjadi bagian yang paling traumatis dalam buku ini. Pemerkosaan dan penyiksaan yang terjadi selama penahanan pada semua tahanan perempuan diceritakan dengan begitu lugas, tak ada sama sekali upaya penghalusan bahasa sehingga saya ikut mual, ikut frustasi, dan pada satu titik ikut juga merasa ingin bunuh diri.
Panas luar biasa itu membakar kulit saya, kemudian disusul oleh yang lain: puntung-puntung rokok itu menancap di leher, perut, payudara, bahkan puting saya. Tubuh saya mengepul dengan bau kulit dan daging terbakar, dia mendesis pelan: “Ayo ngaku...lonte Cina...ngaku...” diikuti teriakan sipir-sipir lainnya mengingatkan saya pada pesta suku Indian dalam buku-buku Winnetou. (halaman 286)
Setelah semalam dia mengunyah tubuh-tubuh kami dengan buas dan bernafsu, esoknya dia meminta kami duduk untuk mendengar petuahnya tentang Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Keadilan, Tentang bagaimana bejatnya diri ini, bagaimana kami harus menjadi manusia yang bermoral dan beradab. Suaranya menggelegar: “Ulang kata-kata saya, PANCASILA...” (halaman 289)
Keluar dari penjara, Djie Feng ternyata hamil, dan ironisnya semua orang melarang ia mengaborsi kandungannya.
Perut saya tambah besar. Saya bunting lagi, dan tentu saja sponsornya bukanlah Han. Ketua RT yang menceramahi saya setiap bulan, juga terlihat bergairah karena dia bisa menyemprot: “Orok dari mana? Barang laki mana saja sudah masuk ke sana?” Saya sudah belajar untuk menunduk sambil mematikan rasa. (halaman 313)
Mereka tak peduli pada hancurnya dan robeknya tubuh saya, pada darah yang berceceran di mana-mana.
Kelahiran dianggap rahmat dan melahirkan adalah kodrat. Karena wanita harus jadi ibu. Siapa pun yang meratapi hal ini adalah perempuan yang ndak tahu diri.
Saya yakin hanya manusia kuatlah yang sanggup menahan payahnya mengandung anak si pemerkosa selama sembilan bulan dan tetap mencintai si anak yang ketika lahir ternyata begitu mirip penjahat itu. Bukan salah Djie Feng jika dalam perjalanannya ia menjadi begitu keras pada Karla, bagaimana pun ia hanya manusia biasa, tapi dengan kapasitasnya sebagai manusia biasa ia sudah menunjukkan hati yang begitu luas. Dan melihat dari sudut pandangnya, semua yang ia lakukan ternyata semata untuk kebaikan Karla. Mungkin ini juga menjadi pembelajaran, bahwa suatu kisah apapun itu, tak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja, karena ketika dilihat secara utuh dari semua sudut pandang, konteks bisa berubah, sehingga tak lagi hanya ada hitam dan putih semata.
Sejujurnya, saya cukup kesulitan mereview, saking kayanya pembahasan dalam novel ini. Kamu akan menemukan sejarah gelap yang sampai saat ini belum diakui oleh mereka yang bertanggung jawab. Tentang satu tragedi setara genosida, tentang penghapusan paksa mereka yang dilabeli PKI. Anggap saja buku ini adalah salah satu upaya untuk merawat ingatan, karena entah berapa generasi sudah tak mampu lagi mengenali sejarah dengan utuh. Kamu akan menemukan diskriminasi rasis yang saking nyatanya kamu baru akan tersadar memang seperti itulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kamu akan menemukan pemaksaan terhadap tubuh dan rahim perempuan, serta upaya luar biasa untuk berdamai dengan ingatan yang menyakitkan. Kamu juga akan menemukan banyak sekali kritik terhadap pemerintah.
Modal negeri ini sudah digadaikan dengan murah kepada asing oleh germo-germo yang berhasil menjadi pejabat tinggi. Tambang-tambang bangsa ini bakal segera dikeduk dan diboyong keluar dengan pembagian yang sama sekali ga adil. Hanya kantong para germo itulah yang makin mengembung. Ya pasti, zaman ini rasanya lebih makmur karena banyak duit. Tapi rakyat ga bakal sadar kalau modal mereka sudah hilang. Seperti juga orang yang menjual rumah mereka bakal punya uang berlimpah tapi ga ada lagi persediaan untuk anak cucu mereka di masa depan. Ga bisakah mereka sadar hal ini?(halaman 354)
Buku ini membuat saya meninjau ulang kembali pengetahuan hampir seperti dogma yang saya peroleh seputar apa yang terjadi pada tahun 1965. Karena itu pula, usai menamatkan buku ini saya langsung memesan buku Soe Tjen Marching lainnya: Yang Tak Kunjung Padam.



.jpeg)


