Rabu, 28 Desember 2016

BALADA TESIS (Untuk yang sedang Galau karena Tesis)



Alhamdulillah…akhirnya lulus sidang juga… T_T

Adalah Pak Indra Djati Sidi, dosen penguji (a.k.a dosen pembimbing) saya yang berperan penting dalam selesainya tesis ini. Tanpa beliau, saya mungkin tak akan pernah lulus dari kampus ini, tanpa beliau saya mungkin tak akan mengerjakan tesis ini dengan sepenuh hati, dan tanpa beliau tesis ini mungkin hanya akan jadi sekedar syarat sebuah kelulusan.

Tapi Pak Indra Djati-lah yang tetap memotivasi saya di saat terpuruk, dan mengajarkan pada saya banyak hal yang jauh lebih penting dari reliabilitas bangunan. Saya masih ingat, di suatu sore yang suram di gedung CIBE, entah untuk yang ke-berapa puluh kalinya dalam 3 bulan itu, saya menunggu beliau yang sedang membimbing mahasiswa lain, dan saya mendengar aliran suaranya keluar dari ruangan:

“Menjadi master itu de, bukan sekedar kamu bisa menghitung struktur gedung, tapi menjadi master itu adalah tentang bagaimana kamu bisa menaklukkan diri kamu sendiri, bagaimana kamu bisa menyelesaikan semua masalah hidup yang terintegrasi dengan masalah sekolah kamu. Ngga ada alasan pekerjaan saya, anak saya, istri saya, suami saya, ngga ada, kamu harus bisa menyelesaikan semua itu sekaligus. Dan ngga boleh ada korban, kamu jangan mengorbankan keluarga kamu untuk studi kamu, begitu juga sebaliknya. Disitu juga akan diuji ketangguhan kamu, mungkin nanti kamu akan begadang setiap malam, belajar, harus minum kopi, tapi jika kamu mampu melewati semua itu, kamu akan dapat feel: saya layak menjadi seorang master. Jangan terbiasa mencari-cari alasan untuk sebuah kesalahan, tapi belajarlah untuk bertanggung jawab dan menghadapi semua konsekuensi kesalahan kamu.”

Di luar ruangan beliau, saya tertegun, rasanya sekawanan samurai menusuk telinga saya. Beliau berkata-kata pada mahasiswa bimbingannya yang lain, tapi betapa saya merasa bahwa semua kata-kata itu ditujukan pada saya.

Dan mungkin kata-kata itulah yang menjelma cambuk bagi saya, yang memaksa saya untuk tak menyerah meski rumit sekali jalan yang harus saya tempuh bahkan untuk sekedar bisa sidang. Belajar, belajar dan belajar. Setumpuk jurnal dan buku teks, sederet rumus berikut perhitungan struktur dan probabilitas, sekian bulan hampir gila dalam pengertian konotatif dan denotatif, sampai pada satu titik saya muak bahkan sekedar melihat diagram tegangan-regangan baja atau tabel distribusi normal.

Saya ingat suatu sore menjelang Maghrib yang lain di selasar Salman, dua orang mahasiswa (entah dari jurusan apa) membicarakan mata kuliah yang sedang mereka ambil.

“Ini susah banget sih, untung aja kita ngga ngambil jurusan sipil, katanya kalau sipil itungannya lebih dari ini loh, mereka harus desain juga sampai tulangan diameternya berapa jumlahnya berapa, belum nanti ngitung kapasitasnya, kalau belum kuat ulangi lagi desainnya, uuh susah banget".

Dan di pinggir mereka saya yang duduk sedari pagi mengusel-usel hitungan kapasitas balok, kolom dan pelat dengan cara manual dan pendekatan probabilitas, tetiba merasa diserang angin duduk. Rasanya mendengar humor yang paling ironi seharian itu, rasanya ingin memeluk mereka erat-erat sambil nangis dan teriak histeris: ”IYA DEE, BENER BANGEET, SUSAAAH DE, SAMPAI SEKARANG AJA SAYA MAU GILAA”, lalu tertawa terbahak-bahak untuk kemudian menangis tersedu-sedu karena terharu: akhirnya ada yang mengerti perasaan saya.

Untungnya saya takut diciduk Ibu penjaga mukena yang sedari tadi duduk di tangga.

Saya memilih diam, mengambil hp dan berlaku seperti remaja alay: mengetik wa dan curhat pada Gilang (teman saya yang juga akan sidang) tapi ternyata curhatan saya nyasar di grup whatsapp Tukang Kaos Naek Haji (teman-teman saya ketika SMA). Halah….

Rasanya belum pernah hidup saya serumit ini. Tapi sungguh saya mencoba untuk menjadikan nasihat Pak Indra Djati sebagai pedoman. Saya berusaha keras untuk tak mengeluh, pulang ke rumah saya mencoba untuk menghilangkan dahulu semua keruwetan hati dan pikiran saya, menghadapi tingkah kelima anak saya sambil menahan marah sampai rasanya tak bisa bernafas, mengerjakan tesis sambil menyusui si bungsu yang sering terbangun tengah malam hingga akhirnya saya memilih untuk memangku dia semalaman sambil mengetik daripada mengambil resiko ikut tertidur lelap (*percayalah mengeloni seorang bayi itu mendamaikan jiwa sampai bikin ikut ngantuk juga huhuhu…). Saya berusaha tetap menyelesaikan pekerjaan rumah, mencuci, memasak, beres-beres seperti biasa, tanpa khadimat dengan pikiran penuh rumus, percayalah itu tak mudah. Saya tetap membantu berjualan di pasar meski sambil membawa laptop dan segebung kertas. Saya berusaha, sungguh saya berusaha…

Pernah, sebagian hati saya menyesali, kenapa mengambil tema tesis yang terlalu teknis yang sama artinya dengan terlalu rumit, tapi sebagian hati saya yang lain berkata, tema tesis ini memang benar-benar saya inginkan, teringat lagi semangat dan tekad di awal kuliah dulu, bahwa sekaliii saja setidaknya saya membuat karya yang benar-benar saya sukai dan benar-benar menjadi karya yang serius, bukan sekedar syarat kelulusan saja.

Maka saya juga berusaha tak mengeluh, ketika satu hari menjelang sidang masih ada revisi untuk mencari beban rata-rata terhadap beban ultimate :”Jangan pakai penelitian Galambos, pakai saja judgement pribadi kamu, sense of engineering kamu, mikir kamu sedikit”.

Oke.

Padahal merubah hubungan beban rata-rata terhadap beban ultimate sama dengan merubah lagi variabel awal yang sama artinya dengan: saya harus mengulangi lagi seluruh rangkaian perhitungan, dari awal.

Dan berlangsunglah drama itu. Sidang jam setengah lima, draft saya baru selesai jam setengah tiga, setengah jam kemudian berakrobat membuat presentasi, lalu ngeprint dan lain-lain. Tepat waktu, mepet sekali.

Sidang dimulai.

"Tesis kamu menarik, karena ada tiga hal disini: pengujian material, perhitungan struktur dan probabilitas".

Kalimat pembuka dari Pak Ivan cukup membesarkan hati. Tapi pertanyaan selanjutnya alamaaak.... bolehkah saya jadi cacing dan mencari lubang?.

Satu hal penting yang menyelamatkan saya di ruang sidang adalah pertanyaan Pak Indra Djati: “Kenapa kamu pilih metoda indeks keandalan?, kenapa tidak indeks kondisi atau capacity strength saja?.”

Ini pertanyaan jebakan, esensi dari seluruh isi tesis saya, Alhamdulillah, Allah tak lantas membuat kebas seluruh otak saya: “Karena baik kapasitas maupun beban yang menimpa struktur Pak, diyakini bersifat acak atau random, akibatnya ada ketidakpastian disitu dan karena itu sebaiknya didekati dengan konsep probabilitas”.

Pak Indra Djati mengangguk puas, satu detik saya merasa lega, hanya satu detik, karena detik berikutnya ketahuan saya salah menentukan turunan kedua dari f’c sehingga varians yang saya dapat bernilai negative, daaan revisi lagi.

Begitulah,entah bagaimana akhirnya saya dapat keluar dari ruang sidang,samar2 saya ingat Pak Indra Djati, Pak Dhemi dan Pak Ivan berkata: "Selamat ya kamu lulus".

Sidang saya selesai jam 18.00 WIB. Dan hujan mengguyur kampus ITB sesorean ini. Sendirian saya duduk di selasar sipil, tak ada hal yg lebih saya inginkan selama satu tahun terakhir ini selain lulus sidang. Tapi setelah benar2 lulus, saya malah gemetar. Antara lega dan sedih, antara bahagia tapi juga pilu. Sendirian saya menatap lagi selasar sipil yang lengang dan sepi. Dengan pedih mengakui bahwa saya mencintai kampus ini, kampus yang telah membuat saya patah hati dan jatuh bangun berkali-kali.

Saya bersyukur, memilih tema reliabilitas bangunan,saya bersyukur dipertemukan dgn Pak Indra Djati,saya bersyukur Allah mempercayai saya utk mengandung dan melahirkan Angit dan Asy saat kuliah S2 ini,saya bersyukur Allah memberi saya suami yg telah menempa saya utk menjadi tangguh dan mendidik Air,Bumi dan Badai menjadi anak2 yg juga kuat, saya bersyukur memiliki sahabat sebaik Indah, saya bersyukur dipertemukan dengan Bobby, Gilang,Ainna,Dani dan teman2 lainnya yg selalu mendukung dan mendoakan. Saya bersyukur utk semua kesulitan yg saya tempuh karena itu membuat saya mencoba memaknai lagi hidup yang tengah saya jalani.

Tetiba saja kata2 Pak Indra Djati dahulu terdengar lagi di kepala saya: "Jika kamu mampu melalui semua ini,kamu boleh berkata saya layak menjadi master".

Di tengah hujan saya tersedu lagi, sendirian.

*Seandainya seluruh dosen seperti Bapak.







Kamis, 18 Februari 2016

MENGHILANGKAN FLEK HITAM DI WAJAH

“Jangan percaya pada perempuan yang tak bisa mengurus bahkan kulitnya sendiri” 
–Njai Ontosoroh, Tetralogi Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer-


Filosofi ini mungkin tak sepenuhnya benar, tapi menurut saya ungkapan yang diucapkan Nyai Ontosoroh ini juga tak sepenuhnya salah. Maka jadilah saya pun ikut percaya, seorang perempuan, bagaimanapun sibuknya tetap harus bisa menjaga kulitnya.  
Selain itu sebagai seorang Muslim, saya meyakini bahwa salah satu bentuk syukur kepada sang Pencipta adalah dengan menjaga dan merawat apa yang sudah dianugerahkan kepada kita. Apalagi sebagai perempuan yang merasa sama sekali tak cantik, setidaknya saya ingin punya kulit yang jika tak bisa dibilang bagus, cukuplah terlihat terawat, tidak berlebihan bukan? T_T
Jangan salah arti dulu, bukan berarti saya menganjurkan untuk berdandan habis-habisan, karena jujur saya sendiri sama sekali tak bisa berdandan. Saya dibesarkan di tengah keluarga yang tak pernah mempedulikan masalah penampilan. Maka tak heran jika saya tumbuh menjadi perempuan yang sangatlah canggung dalam urusan berdandan. Ditambah dengan teman-teman saya yang kebanyakan laki-laki, semakin jauhlah kata berdandan dari kamus keseharian saya.
Saya tak punya bahkan sekedar bedak, apalagi segala macam blush on warna warni, atau segala jenis lipstick, foundation, mascara, atau apa itu peralatan kosmetik dengan beragam namanya.  Saya sama sekali tak pernah ke salon.  Facial, peeling atau apalah itu segala jenis perawatan di salon adalah istilah yang sama sekali asing untuk saya. Perawatan yang saya tahu dan cukup rajin saya lakukan hanyalah maskeran dengan bahan-bahan alami, dengan madu, putih telur, asam jawa atau buah lemon. Sejauh ini saya cukup puas dengan hasilnya. Karena target saya hanyalah menjaga agar kulit wajah saya tidak kusam. Tapi begitulah, setelah kelahiran anak saya yang kelima, saya mulai malas-malasan merawat wajah. Melihat kaca saja tidak pernah, apalagi maskeran dan lain-lain.
Maka betapa paniknya saya, setelah sekian lama tak pernah bercermin (saya serius saat bilang tak pernah melihat cermin), saya melihat flek-flek hitam yang mulai membayang di pipi saya. Saya mulai sedikit menyesali kecuekan saya yang belakangan ini sama sekali tak pernah ambil pusing dengan urusan muka.
Mulailah saya rajin mencari-cari obat kulit yang tepat untuk masalah wajah saya. Saya mulai menanyai orang-orang di sekitar saya, mulai dari si teteh pengasuh anak saya yang kebetulan memiliki wajah yang kinclong sampai ibu-ibu sepuh tetangga saya yang sering bertemu di pengajian. Si teteh pengasuh merekomendasikan cream wajah bermerk Temulawak, sebuah brand dari Malaysia yang katanya ampuh sekali mengatasi semua masalah kulit wajah. Tertarik dengan promosinya, saya pun ikut-ikutan membeli. Harganya murah saja, hanya 75.000 rupiah untuk satu paket perawatan yang terdiri dari krim malam, krim siang dan sabun muka. Tapi saya agak ragu saat melihat tekstur si krim yang lengket dan menurut hidung saya berbau tidak enak. Curiga mengandung mercury, maka setelah hanya sempat dipakai satu kali, krim-krim tersebut akhirnya saya hibahkan pada si teteh.  
Kemudian, saya bertanya lagi pada teman SMA saya dulu, sayangnya, teman saya ini malah menyarankan untuk membeli serangkaian produk dari sebuah MLM ternama yang membuat dahi saya mengernyit saat mendengar harganya.
Saran yang akhirnya saya ikuti sepenuh hati datang  dari Ibu Sepuh tetangga saya di kompleks. Usia beliau sudah mendekati kepala 7, tetapi kulit wajahnya bersih dan halus. Untuk ukuran seorang yang sudah sepuh saya bisa menilai kulit wajah Ibu ini termasuk juara, maka mulailah saya mendekati si Ibu, mengeluarkan segenap kemampuan saya untuk mendekati beliau.  Dan tadaaaa….si Ibu bersedia membagi rahasia kulit wajahnya yang bersih dan mulus bahkan hingga usia sesepuh itu: bedak dingin Saripohatji.
Untuk yang belum tahu, beginilah penampakan Saripohatji ini:

Kemasannya sederhana, konon katanya memang beginilah kemasannya dari sejak pertama kali diproduksi, belum pernah sekalipun dirubah atau diperbaharui. Instruksi penggunaan bedak yang ada di dalam kemasan pun, tak kalah jadulnya. Masih menggunakan ejaan yang belum disempurnakan berikut tata kalimat yang membuat  dahi mengernyit sebelum memahami artinya. Harganya pun murah saja, hanya dua ribu rupiah perbungkus.
Saya menggunakan bedak ini dua kali sehari setiap akan mandi. Untuk melindungi kulit muka saat siang, saya barengi juga dengan menggunakan POND’S Flawless White, sementara untuk perawatan malam hari saya menggunakan La Tulipe,  Hyperpigmented Spot Lightening, Aaaaa… tak terbiasa dengan perawatan kosmetik, tetiba saja saya merasa menjadi korban iklan =(
Perubahannya memang tak kelihatan sekaligus. Tapi setelah dua minggu kulit wajah  saya tak kusam lagi. Apakah flek hitam saya bisa sepenuhnya hilang?. Semoga saja, nanti saya review lagi =D.

Jumat, 12 Februari 2016

PEREMPUAN-PEREMPUAN TANGGUH


Seandainya semangat menjalani hidup bisa digambarkan sebagai grafik sinusoidal yang punya puncak dan lembah, maka ketika itu saya sedang berada jauh di dasar lembah.

Saya jenuh.

Capek.

Bosan dengan rutinitas dan beban hidup yang rasanya tidak pernah selesai. Belakangan saya tahu, dalam bahasa kekinian kondisi seperti ini mungkin cukup didiagnosis dengan: kurang piknik. =P

Ya, mungkin saya memang kurang piknik.

Tapi rupanya badan saya juga ikut menyerah. Saya demam tinggi sampai tulang-tulang terasa ngilu. Setelah demam turun, sekujur tubuh malah ditumbuhi bentol-bentol besar yang gatalnya minta ampun. Ditambah pusing yang tidak kunjung hilang. Lengkap sudah.

Untung saya punya sepasukan bocah yang sudah cukup bisa diandalkan untuk sekadar mencuci piring, membereskan rumah, dan memasak nasi. Urusan lauk? Biarlah sementara menjadi ladang rezeki warung sate sebelah rumah. =D

“Umah istirahat saja, mudah-mudahan cepat sembuh,” kata anak saya yang paling besar.

Maka saya menurut. Untuk beberapa hari saya benar-benar berhenti. Tidak memikirkan pekerjaan rumah, toko, bahkan tesis. Ketika badan mulai membaik, saya keluar kamar dan menemukan empat ember pakaian kotor, remah-remah makanan di bawah meja, dan berkeresek-keresek sampah yang rupanya sudah beberapa hari lupa dibuang.

Saya menarik napas panjang. Baiklah. Rupanya hari pertama kesembuhan akan dirayakan dengan kerja rodi. Baru saja tangan menyentuh deterjen, telepon rumah berbunyi. “Mi, tolong ke toko. Ada pesanan banyak.” Suara si Abi. Saya kembali menghela napas.

Bukan apa-apa. Pekerjaan di toko jauh lebih melelahkan daripada pekerjaan rumah. Tapi telepon yang ditutup buru-buru menandakan ia benar-benar butuh bantuan. Berangkatlah saya.

Sepanjang perjalanan, hati saya gerimis.

Saya mulai menghitung satu per satu peran yang sedang saya jalani: istri, ibu dari lima anak yang masih kecil, ibu rumah tangga tanpa khadimat, membantu pekerjaan suami, membantu usaha keluarga, sekaligus mahasiswa pascasarjana. Dua puluh empat jam rasanya terlalu sedikit. Tesis terbengkalai. Pekerjaan rumah tidak pernah benar-benar selesai. Dan pekarangan belakang rumah sudah menjelma hutan dalam pengertian konotatif sekaligus denotatif.

Tolong. Memangnya saya sanggup mencabuti rumput dari tanah hampir sembilan ratus meter sendirian? T_T

“Apa lagi sih yang dicari?” Begitu kadang komentar tetangga. Entahlah. Hari itu saya sendiri tidak punya jawabannya. Saya hanya sedang sangat lelah. Dan ketika manusia sedang lelah, rupanya dunia gampang sekali terlihat lebih muram daripada biasanya. Hari itu saya sempat merasa menjadi perempuan paling malang sedunia. Dramatis memang. Tapi begitulah rasanya saat itu.

Lalu datanglah seorang perempuan ke toko. Sebut saja Mbak Sum. Usianya sekitar 33 tahun. Tubuhnya kecil, bahkan hampir sama mungilnya dengan saya. “Satu ekor saja, Mbak,” katanya memesan bebek. “Saya baru jualan pecel lele.”

Sambil menunggu pesanannya selesai, kami mengobrol. Mbak Sum punya dua anak. Suaminya bekerja sebagai satpam di sebuah gereja. Untuk menambah penghasilan keluarga, ia membuka warung pecel lele. Saya masih ber-ooh-ooh biasa sampai kemudian tahu bahwa ia menjalankan warung itu sendirian.

“Yang pasang tenda sama dorong gerobak siapa, Mbak?”

“Saya sendiri.”

“Yang masak?”

“Saya sendiri juga.”

“Yang belanja ke pasar?”

“Saya sendiri, Mbak. Semuanya sendiri. Paling nanti anak bantu cuci piring.”

Saya melongo.

“Kalau pekerjaan rumah ada yang bantu mungkin, ya?”

“Enggak ada. Tadi malam saja saya nyuci sampai jam satu. Di rumah juga buka usaha air isi ulang. Kalau ada yang minta diantar, ya saya antar.”

Saya menatap tubuh mungil di depan saya.

Dalam hati: Ini orang makan apa, sih? =D

Saya mulai bertanya macam-macam. Bagaimana mengatur waktu? Kapan tidur? Tidak capek?. Jawabannya sederhana. Ya capek. Tapi dijalani.

Sampai kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat percakapan kami berubah. “Satu-satunya yang bikin saya sedih itu waktu anak saya bilang, ‘Mama, ayo pulang. Eneng belum bikin PR.’ Saya sampai nangis, Mbak. Waktu saya habis buat jualan sampai enggak punya waktu nemenin anak bikin PR.”

Matanya berkabut. Dan saya mendadak diam. Beberapa jam sebelumnya saya juga sedang menyalahkan diri sendiri karena merasa tidak punya cukup waktu untuk anak-anak. Ternyata di depan saya ada seorang ibu yang membawa rasa bersalah yang hampir sama.

Bentuk hidup kami berbeda. Tapi rupanya kegelisahan seorang ibu bisa sangat mirip. Kita ingin memberikan kehidupan yang baik kepada anak-anak, maka kita bekerja. Tapi pekerjaan itu mengambil waktu bersama mereka. Lalu kita merasa bersalah. Kalau tidak bekerja, mungkin kita juga akan merasa bersalah karena tidak mampu memberikan lebih banyak. Seperti lingkaran yang tidak ada ujungnya.

Sore harinya saya membeli salak untuk anak-anak. Ibu penjualnya biasa berdagang di emperan toko milik Uwa saya, jadi kami sempat mengobrol. “Ibu mah, De, berangkat dari Sumedang jam dua malam. Sampai sini jam tiga. Beres-beres dagangan, jualan di pasar subuh sampai jam delapan, terus pindah ke sini sampai sore.”

Saya kembali terdiam. Dua perempuan dalam satu hari. Dua kehidupan yang sebelumnya tidak saya ketahui. Dua orang yang setiap hari bangun dan mengerjakan apa yang memang harus dikerjakan. Saya tidak tahu apakah mereka merasa tangguh. Mungkin tidak.

Barangkali kalau ditanya, mereka hanya akan menjawab seperti Mbak Sum:

“Ya dijalani saja.”

Dan justru itu yang membuat saya terus memikirkan mereka sepanjang perjalanan pulang.

Dulu, ketika pertama kali mengalami hari itu, saya sempat merasa malu. Kalau dibandingkan Mbak Sum, aku mah apa atuh?. Saya masih bisa tidur lebih lama. Masih bisa duduk sebentar ketika tidak ada pembeli. Masih punya banyak kemudahan yang mungkin tidak mereka miliki. Lalu saya berpikir saya tidak berhak mengeluh.

Sekarang saya tidak yakin pemikiran itu sepenuhnya benar. Lelah saya tetaplah lelah. Lelah Mbak Sum adalah lelah Mbak Sum. Dan lelah si Ibu penjual salak adalah miliknya sendiri. Tidak ada gunanya menaruh semuanya di atas timbangan lalu menentukan siapa yang paling pantas merasa berat.

Hidup bukan olimpiade penderitaan.

Mungkin pelajaran hari itu bukan bahwa saya harus berhenti mengeluh karena ternyata ada orang yang hidupnya lebih susah. Pertemuan itu hanya membuat saya menengok keluar dari kepala saya sendiri. Ketika sedang terpuruk, dunia saya mengecil sampai isinya cuma cucian empat ember, toko, tesis yang tidak selesai-selesai, lima anak yang membutuhkan saya bersamaan, dan pekarangan sembilan ratus meter yang sukses menjadi hutan.

Saya lupa bahwa di luar sana, jutaan manusia juga sedang bangun pagi membawa bebannya masing-masing. Termasuk perempuan-perempuan seperti Mbak Sum. Mereka bisa lelah. Bisa menangis. Bisa merasa bersalah kepada anak-anak. Dan keesokan harinya tetap bangun untuk menjalani hidup lagi. Bukan karena mereka manusia super. Justru karena mereka manusia biasa.

Sebelum pulang, kalimat Mbak Sum masih terngiang di kepala saya. “Ah, saya mah belum seberapa, Mbak. Saya yakin di luar sana masih banyak ibu-ibu lain yang jauh lebih bekerja keras daripada saya.”

Mungkin benar. Tapi sore itu saya tidak lagi ingin mencari siapa perempuan yang paling kuat. Saya hanya ingin pulang. Memeluk anak-anak. Membereskan cucian kalau masih sanggup. Kalau tidak, ya besok saja. Rumput belakang rumah?. Biarkan dulu dia menikmati kemerdekaannya. =D

Aneh memang.

Masalah saya tidak ada satu pun yang selesai setelah bertemu Mbak Sum dan ibu penjual salak. Tesis masih menunggu. Toko tetap harus diurus. Cucian masih empat ember. Dan saya tetap seorang ibu yang sesekali kelelahan menghadapi hidupnya sendiri. Tapi hati saya terasa sedikit berbeda.

Mungkin karena hari itu saya diingatkan bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa berat. Kadang menjadi kuat hanya berarti mengakui,

“Ya Allah, saya capek.”

Lalu beristirahat sebentar. Menangis kalau memang ingin menangis. Dan ketika tenaga sudah kembali, bangun untuk mencoba lagi. Maka malam itu doa saya bukan lagi meminta supaya tidak pernah lelah. Saya rasa itu permintaan yang terlalu muluk untuk manusia. Saya hanya berdoa:

Ya Allah, berilah kekuatan kepada perempuan-perempuan yang hari ini sedang berjuang menjalani hidupnya.

Yang bekerja.

Yang mengurus rumah.

Yang menjaga anak-anak.

Yang sedang sakit.

Yang sedang lelah.

Dan yang diam-diam menangis karena merasa dirinya belum cukup baik.

Termasuk, sesekali, diri saya sendiri.


*gambar saya copy dari: http://www.kompasiana.com/cipto-wardoyo/wanita-tangguh_550dcd06813311ae77b1e76f

Resensi MERAWAT LUKA BATIN: Buku yang Tak Kunjung Selesai Dibaca

  Sudah hampir dua bulan buku  Merawat Luka Batin  karya dr. Jiemi Ardian ini menemani saya ke mana-mana. Masuk tas, dibawa ke kantor, menem...