Judul buku : Let Them Theory
Penulis : Mel Robbins dan Sawyer Robbins
Alih Bahasa : Johanes Wimbo Satwiko
Penerbit : PT. Gramedia, Jakarta
Jumlah Halaman : 305 halaman
“God, grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference.”1)
Ini adalah bagian yang sangat terkenal dari Serenity Prayer (Doa Ketenangan). Maknanya adalah tentang menerima dengan ikhlas apa yang berada di luar kendali kita, berani bertindak atas apa yang masih bisa kita ubah, dan memiliki kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.
Membaca keseluruhan buku Let Them Theory, saya merasa bahwa sebenarnya inti dari buku ini adalah dua hal yang diucapkan pada serenity prayer: keikhlasan untuk menerima apa yang bisa dikendalikan (Let Them), dan keberanian untuk bertindak atas apa yang bisa kita rubah (Let Me).
Dan ketika selanjutnya saya membaca buku Merawat Luka Batin-nya dr. Jiemi Ardian, saya merasa menemukan benang merah yang menghubungkan ketiga gagasan ini. Stress yang berujung depresi dan emosi negatif lainnya sering berakar dari ketidakmampuan kita untuk melepaskan kendali atas hal-hal yang ada di luar kuasa. Dan pada akhirnya memang perlu kemampuan tersendiri untuk membedakan mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak.
Ide pada buku Let Them Theory ini sebetulnya tidak benar-benar baru, karena aliran filsafat Stoic juga secara garis besar bicara tentang ide yang sama. Yang membuat buku ini digandrungi banyak orang, mungkin karena gagasan yang ingin disampaikan, dikemas dengan cerita yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Kasus pertama yang disampaikan Mel (penulis), adalah pesta dansa putranya. Bagaimana ia stress sendiri ketika ternyata banyak hal tidak berjalan sesuai dengan rencana, dan merasa keadaan sangat parah ketika kemudian ia tahu ternyata tempat makan malam belum dipesan. Mel merasa sangat tertekan dan ketika putrinya menegur, Mel baru tersadar, ini kan pesta putranya dan teman-temannya, bukan acara Mel sendiri. Lalu kenapa ia harus merasa berkepentingan pada bagaimana acara akan berjalan. Ya sudah biarkan saja, terserah mereka sebagai penyelenggara pesta mau bagaimana.
Mel mengatakan ketika ia belajar mengatakan “biarkan saja” dalam berbagai situasi, ia merasa banyak ketegangan mengendur dan di luar dugaan, banyak hal dalam hidupnya yang juga ikut berubah.
Ketika kita sudah mengerjakan semua tugas dengan baik, ternyata atasan tidak menaikkan gaji kita ya sudah, biarkan saja. Ketika orang yang kamu bantu ternyata tidak berterima kasih, ya sudah biarkan saja. Ketika pasangan yang kamu cintai mengkhianatimu, ya sudah biarkan saja. Ketika orang yang kamu harapkan menjadi teman ternyata mengabaikanmu, ya sudah biarkan saja.
Karena pada prinsipnya, kita tidak bisa merubah atau mengendalikan orang lain. Kita tidak bisa memaksa orang yang sudah kita bantu untuk menghargai kita, kita juga tidak bisa memaksa orang yang kita cintai untuk mengembalikan cinta dengan intensitas yang sama, seperti halnya kita juga tidak bisa memaksa orang menyukai kita padahal kita sudah melakukan yang terbaik untuk mereka.
Biarkan saja.
Lepaskan apa yang memang tidak bisa kamu kendalikan. Kita tidak bisa memaksa semua orang bersikap seperti apa yang kita mau bahkan setelah semua upaya luar biasa yang kita lakukan untuk dan terhadap mereka.
Tapi agar hidup ini seimbang, setelah biarkan saja, masih ada lanjutannya: biarkan aku.
Jika biarkan mereka fokus pada upaya melepaskan energi dari hal-hal di luar kendali, maka biarkan aku terpusat pada bagaimana mengerahkan energi untuk hal-hal yang bisa kita rubah.
Ketika kita sudah mengerjakan semua tugas dengan baik, ternyata atasan tidak menaikkan gaji kita ya sudah, biarkan saja. Tapi selanjutnya, biarkan aku untuk mengembangkan kemampuan lain dan berupaya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.
Ketika orang yang kamu bantu ternyata tidak berterima kasih, ya sudah biarkan saja. Tapi biarkan aku untuk tidak meletakkan harga diriku pada seberapa banyak ucapan terima kasih yang diterima. Ia yang menunjukkan sikap tak berbudi, ya sudah, biarkan, tapi aku memilih tetap jadi orang baik dan meninjau ulang apakah bantuanku justru membuat orang ini tidak berupaya dan aku selalu punya pilihan untuk mengalihkan bantuan kepada orang lain.
Ketika pasangan yang kamu cintai mengkhianatimu, ya sudah biarkan saja. Tapi kita selalu punya pilihan untuk tetap mencintai diri sendiri, membeli barang yang kita suka, melakukan hal-hal yang membuat bahagia, serta menjadi orang yang jauh lebih baik dari segi fisik, kompetensi dan karakter. Fokuskan energi pada hal yang bisa kita rubah dan perbaiki, dan tetap ingat, bahwa ‘biarkan aku’ juga menawarkan kebebasan untuk memilih dan meninjau apakah kebersamaan masih layak diperjuangkan atau tidak.
Ketika orang yang kamu harapkan menjadi teman ternyata mengabaikanmu, ya sudah biarkan saja. Karena pertemanan dipengaruhi tiga hal: waktu yang dihabiskan bersama, jarak yang memisahkan atau mendekatkan dan terakhir energi atau frekuensi yang sesuai atau tidak. Jika teman sekolahmu perlahan-lahan menjauh ya sudah biarkan saja, karena secara alami memang akan begitu. Setelah tumbuh semakin dewasa, kalian akan terpisah oleh jarak, juga akan kehilangan waktu untuk terus bersama-sama karena tanggung jawab yang berbeda. Energi juga bisa berubah, karena manusia terus tumbuh dan bertransformasi. Tapi setelah itu, “biarkan aku” untuk mengalihkan energi dengan menjalin persahabatan dengan orang baru. Sapa orang duluan, tawarkan makanan kepada tetangga atau teman kerjamu, ciptakan dan mulailah hubungan pertemanan yang lain.
Selanjutnya buku ini pun membahas cara jika kita ingin orang lain berubah. Contoh yang disampaikan di buku, misal kita prihatin terhadap pola hidup pasangan yang sangat tidak sehat, alih-alih marah-marah ketika melihat dia malas-malasan di sofa sambil makan junk food dan menonton tivi, kita bisa mulai dengan teori biarkan saja dulu. Mencintai seseorang berarti kau harus menerima orang itu apa adanya.
Ketika kita memaksa pasangan kita yang malas untuk berubah dan memulai hidup sehat juga berolahraga, yang ada malah ia akan merasa tertekan dan semakin defensif. Mel menjelaskan ada tiga hal yang membuat kenapa perubahan itu terasa sulit:
1. Orang dewasa hanya berubah ketika mereka menginginkannya. Tak peduli sekeras apapun kamu paksa, kamu marah, kamu motivasi, jika memang pada dasarnya orang tak mau berubah, semua kemarahan, paksaan dan suntikan motivasi kamu akan sia-sia.
2. Manusia cenderung bergerak menuju hal yang menyenangkan. Ini ilmu saraf, pada dasarnya otak manusia akan menghindari hal yang menyakitkan dan akan selalu memilih apa yang terasa menyenangkan. Junk food terasa lebih enak dari sayuran, dan rebahan di sofa selalu terasa lebih nyaman dari berlari di luar rumah.
3. Setiap orang di muka bumi selalu berpikir bahwa mereka adalah pengecualian. Statistik menunjukkan bahwa orang yang selalu minum minuman manis rawan terkena penyakit diabetes, tapi entah bagaimana satu bagian dalam otak kita akan merasa bahwa itu hanya berlaku untuk orang lain, dan tidak untuk kita sendiri.
Tiga hal ini menunjukkan bahwa tekanan tidak selalu bisa membuat orang berubah. Karena itu kita perlu menerapkan teori biarkan saja. Selanjutnya, kita mulai dengan “biarkan aku”, untuk bergerak duluan, untuk mulai makan sehat, rajin berolahraga. Dengan begitu kita memberikan contoh dan menunjukkan bagaimana makan sehat dan olah raga ternyata menyenangkan serta memberikan banyak dampak positif. Setelah jangka waktu tertentu, apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri ternyata lebih efektif untuk memengaruhi daripada omelan-omelan yang malah memicu pertengkaran. Karena secara psikologis kita adalah makhluk sosial yang menerima pengaruh dari sekitarnya.
Kurang lebih seperti itulah inti dari buku ini.
Biarkan saja, tapi jangan berhenti disitu, lanjutkan dengan biarkan aku.
Note:
1) Doa terkenal ini ditulis oleh seorang teolog asal Amerika Serikat bernama Karl Paul Reinhold Niebuhr pada awal tahun 1930-an. Kutipan ini sangat populer di seluruh dunia dan sering digunakan sebagai motivasi dalam gerakan pemulihan diri (seperti Alcoholics Anonymous), terapi psikologis, serta petunjuk moral untuk fokus pada hal-hal yang berada di bawah kendali kita sendiri.
