Minggu, 20 September 2026

Resensi MENCARI SIMETRI: Tentang Cinta, Pilihan dan Jalan yang Tidak Kita Ambil


Judul buku                            : Mencari Simetri

Penulis                                  : Annisa Ihsani

Penerbit                                : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Jumlah halaman                  : 238 halaman

Tahun terbit                         : 2019

 

Temanku Sita pernah berkata. Semua orang memiliki Armin mereka sendiri. Sebelum aku sempat bertanya kenapa dia menggunakan nama Armin layaknya nomina serbaguna, dia melanjutkan, "Kau tahulah, orang yang menghubungimu setiap hari, mengajakmu jalan bareng, kadang-kadang bahkan memegang tanganmu, tapi tidak pernah benar-benar menjadi pacarmu."

 

Ini adalah kalimat pembuka novel ini.

Berbeda dengan karya Annisa Ihsani lainnya, novel ini tidak berisi informasi sains atau teori ilmiah rumit apa pun. Bahkan di luar dugaan, novel ini terasa sangat teenlit untuk saya.

Berkisah tentang April, perempuan berusia 29 tahun yang tengah gamang menghadapi hidup. Ia punya pekerjaan yang disukai, meski bukan jenis karier yang bisa dibanggakan. Ia punya sahabat-sahabat akrab, meski satu demi satu semuanya berumah tangga, punya anak, dan sibuk dengan keluarga kecilnya sendiri. Ia juga punya Armin, teman dekat yang diam-diam sudah dicintainya selama enam tahun, tapi hubungan mereka tak pernah beranjak ke mana-mana. Armin menawarkan kehangatan dan kedekatan yang dirindukan April, tapi tak pernah benar-benar memberi janji bahwa hubungan mereka akan lebih dari sekadar sahabat, sementara usia April sendiri terus merambat naik.

Masalahnya dengan Armin adalah, dia memiliki semacam sensor yang mendeteksi kalau aku sudah melenceng terlalu jauh dari orbitku mengelilinginya. Setiap kali aku memutuskan untuk mengabaikannya, menyimpan cintaku untuk orang lain yang membalas perasaanku, dia selalu tahu. Dan dia selalu menarikku kembali, seakan berkata, Oh tidak, April, tidak semudah itu kau kabur. Dan seperti orang bodoh, aku terus jatuh kembali ke dalam gravitasinya.

Ternyata ada istilah khusus untuk jenis perhatian seperti ini: breadcrumbing, remah-remah perhatian yang diberikan sekadarnya agar seseorang tidak benar-benar pergi, tapi tak pernah cukup pasti untuk menjadi sebuah hubungan yang memiliki nama.

Begitu juga yang dialami April selama enam tahun kedekatannya dengan Armin.

Lelah dengan ketidakpastian ini, akhirnya April mencoba membuka hati untuk Lukman, pria mapan dengan karier menjanjikan yang bahkan sudah punya rumah sendiri (in this economy, aaaaaa). Sayangnya, ternyata perasaan memang tak bisa dipaksakan, dan akhirnya April memilih mundur.

Satu hal yang saya cermati dari novel-novel Annisa Ihsani adalah latar belakang tokohnya yang sering berasal dari keluarga yang hangat dan harmonis. Begitu pun dalam novel ini. Meskipun April harus menjadi caregiver papanya yang terkena Alzheimer, di antara banyak hal yang perlahan terhapus dari ingatan sang Papa, ia tetap menjadi sosok yang memberi April semacam tempat untuk pulang.

Ketika April bimbang mengenai Lukman, papanya mengatakan:

"Dia memang anak yang baik," ulang Papa, "tapi jangan sampai itu membuatmu mengira kau berutang sesuatu kepadanya."

Saya suka sekali kalimat sederhana ini. Menjadi laki-laki baik tidak otomatis membuat seorang perempuan berkewajiban mencintainya. Kebaikan bukan utang yang harus dibayar dengan pernikahan. Dan ketika April kembali membicarakan Armin, percakapan mereka bahkan lebih sederhana.

"Selalu ada saja hambatannya dengan Armin. Waktunya tidak pernah tepat. Salah satu dari kami selalu punya pacar lain. Sekalinya sudah sama-sama single, dia sudah tidak tertarik lagi...."

"Barangkali memang tidak jodoh."

"Tidak sesederhana itu, Pa."

Papa menoleh ke arahnya dan berkata lembut,

"Kadang-kadang memang sesederhana itu."

Entah kenapa dialog ini justru menjadi salah satu bagian yang paling saya suka. Kita sering kali ingin mencari penjelasan yang rumit untuk sesuatu yang sebenarnya sederhana. Mungkin karena menerima bahwa seseorang memang bukan untuk kita terasa jauh lebih menyakitkan daripada terus mencari alasan kenapa hubungan itu tidak pernah berhasil. Salah waktu. Belum siap. Keadaan tidak memungkinkan. Dia sedang punya pasangan. Kita sedang punya pasangan. Padahal mungkin memang tidak jodoh.

Dan saya suka bagaimana Papa tidak pernah menyuruh April buru-buru memilih siapa pun hanya karena usianya hampir kepala tiga. Ia tidak mengatakan bahwa Lukman adalah laki-laki baik maka terimalah. Ia juga tidak mengatakan bahwa enam tahun mencintai Armin berarti April harus terus menunggu. Ia hanya mengingatkan bahwa keputusan sebesar itu tetap milik April. Barangkali salah satu kemewahan terbesar seorang anak perempuan adalah mempunyai rumah yang tidak membuatnya merasa harus menikah hanya supaya punya tempat untuk pulang.

Di pertengahan cerita, ada satu bagian lain yang cukup menggelitik untuk saya.

Kata Armin sambil nyengir:

"Tapi pilihan apa pun yang kuambil, sepertinya aku akan tetap penasaran dengan pilihan yang tidak kuambil. Bahkan kalaupun nantinya terbukti pilihanku baik-baik saja, aku curiga aku akan terus dihantui perasaan bahwa ada yang lebih baik di jalan yang tidak kuambil. Apa ini masuk akal atau aku sedang meracau?"

Membaca bagian ini, saya malah jadi teringat Kierkegaard, filsuf eksistensial asal Denmark yang banyak berbicara tentang kecemasan, kebebasan, pilihan, dan konsekuensi menjadi manusia.

Dalam salah satu bagian Either/Or, Kierkegaard bermain-main dengan gagasan bahwa menikah ataupun tidak menikah sama-sama dapat berakhir dengan penyesalan. Bukan semata-mata karena pilihannya salah, melainkan karena setiap kali memilih satu kemungkinan, kita sekaligus menutup kemungkinan yang lain. Dan mungkin memang begitu masalahnya dengan menjadi manusia.

Kita hanya punya satu kehidupan, tapi di kepala kita bisa hidup seribu kehidupan yang lain. Ketika memilih A, kita membayangkan betapa menyenangkannya seandainya memilih B. Ketika akhirnya memilih B, sangat mungkin kita malah bertanya-tanya bagaimana jadinya kalau dulu tetap memilih A. Jalan yang tidak kita ambil selalu punya satu keuntungan: kita tidak pernah benar-benar menjalaninya. Karena itu ia bisa tetap sempurna di kepala.

Barangkali itu juga masalah Armin. Selama enam tahun ia tidak benar-benar memilih April, tapi juga tidak pernah benar-benar membiarkannya pergi. April cukup dekat untuk memberinya kenyamanan, tapi kemungkinan tentang kehidupan lain selalu cukup menarik untuk membuatnya tidak pernah benar-benar memilih.

Sementara April, dengan caranya sendiri, melakukan hal yang hampir sama. Ia tahu Armin tidak pernah menjanjikan apa-apa, tetapi enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk terus berharap suatu hari sesuatu akan berubah. Dan mungkin itulah mengapa saya akhirnya merasa judul Mencari Simetri sangat tepat.

Kita seperti terus-menerus mencari keseimbangan dalam hidup: antara mencintai dan dicintai, antara bertahan dan pergi, antara kehidupan yang kita jalani dengan kehidupan yang kita bayangkan seandainya dulu mengambil jalan berbeda.

Padahal hidup hampir tidak pernah benar-benar simetris. Ada orang yang kita cintai tapi tidak memilih kita. Ada orang baik yang memilih kita tapi tidak bisa kita cintai. Ada pekerjaan yang kita sukai tapi tidak terdengar membanggakan. Ada teman-teman yang dulu berjalan bersama kita, lalu satu demi satu mengambil jalan hidupnya sendiri. Dan di usia tertentu, ketidaksimetrian itu mulai terasa semakin jelas.

Mungkin karena itu meskipun awalnya terasa seperti teenlit, pada akhirnya saya merasa kegelisahan April sebenarnya tidak terlalu remaja. Justru sangat dewasa. Tentang melihat orang-orang di sekitar kita seperti sudah sampai ke suatu tempat sementara kita masih bertanya-tanya apakah jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang benar.

Tentang takut memilih. Takut salah memilih. Dan kadang-kadang lebih takut lagi pada kemungkinan bahwa pilihan yang tidak kita ambil ternyata lebih baik. Tapi hidup tidak menyediakan tombol preview untuk itu. Kita hanya bisa memilih satu jalan, menjalaninya, lalu belajar menerima bahwa di suatu tempat dalam imajinasi kita akan selalu ada kehidupan lain yang tidak pernah terjadi.

Membicarakan ini membuat saya jadi teringat pada The Midnight Library-nya Matt Haig, buku yang kurang lebih bermain dengan pertanyaan yang sama: bagaimana kalau kita bisa melihat kehidupan yang terjadi dari pilihan-pilihan yang dulu tidak kita ambil?.

Tapi yang itu akan saya ceritakan di lain waktu. =D

 

Rabu, 16 September 2026

Resensi A Untuk Amanda


Judul buku                           : A Untuk Amanda

Penulis                                 : Annisa Ihsani

Penerbit                               : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Jumlah halaman                  : 263 halaman

Tahun terbit                         : 2016

 

Tidakkah konsep cinta sejati itu agak sinting —bahwa semua orang perlu memiliki pasangan untuk bisa berbahagia? Lagi pula, bagaimana kau bisa menemukan satu yang tepat di tengah miliaran manusia di planet ini?"

Ini fakta tentang berusaha melupakan seseorang: kau bangun di pagi hari, kau memberitahu dirimu sendiri sudah saatnya kau berhenti merana dan mulai menjadi orang yang utuh dan mandiri tanpanya. Lalu kau berpapasan dengannya, dan kembali ke level nol.

Aku masih memikirkan Tommy kadang-kadang (oke, sering). Selalu ada yang mengingatkanku padanya-lagu di radio, mimpi, atau sesuatu yang dikatakan seseorang. Aku akan memutar kembali kenangan tentangnya selama lima menit, sepuluh menit. Lalu aku melanjutkan hidup.

 

Setelah terpesona dengan Teka Teki Terakhir, saya jadi mencari buku-buku Annisa Ihsani yang lainnya. Agak aneh juga kenapa nama Annisa Ihsani sebagai penulis jarang sekali dibahas, padahal menurut saya bukunya bagus-bagus.  

Salah satu halaman dalam buku ini berbunyi: “Siapa bilang tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini? Hanya orang-orang yang tidak pernah belajar statistika.” Dan bicara tentang kebetulan, maka kebetulan sekali buku-buku yang saya baca belakangan ini semuanya membahas tentang depresi dan kesehatan mental. Dari mulai Merawat Luka Batin-nya Dr. Jiemi Adrian, A Reason to Stay Alive Matt Haig, dan sekarang buku ini. Karena ternyata buku ini berkisah tentang Amanda, anak SMA yang mengidap depresi. Yang menarik, Amanda bukan anak yang tumbuh dalam konflik, penyintas kekerasan, kekurangan ekonomi atau apapun yang akan kita gadangkan sebagai penyebab depresi. Justru sebaliknya, Amanda tumbuh dalam keluarga yang sangat hangat meskipun ayahnya sudah wafat 10 tahun yang lalu. Ia  tak hidup kekurangan meskipun juga bukan dari keluarga ultra kaya. Wajahnya cantik meski bukan primadona sekolah, dan yang paling penting, ia gadis terpintar di kelasnya dengan nilai-nilai yang sempurna.

Sekilas, tidak ada yang kurang dalam hidupnya. Seperti yang dikatakan Tommy, semua orang akan sanggup melakukan apapun untuk memiliki hidup seperti hidup Amanda. Maka sangat aneh jika Amanda depresi.

Tapi mungkin, ini yang coba dilakukan oleh buku ini: untuk mematahkan stigma tentang depresi, karena faktanya, terlalu banyak mitos seputar depresi, karena itu tadi, depresi tak kelihatan, hingga karena “hanya ada di pikiran”, seolah sakitnya terasa tak nyata. Padahal sakit karena depresi sama nyatanya dengan sakit fisik yang lain, kanker misalnya. Dan saya baru baca juga dari bukunya Dr. Jiemi Adrian, ternyata struktur otak orang dengan depresi itu sepenuhnya berbeda dengan otak yang tidak mengidap depresi. Jadi depresi adalah benar-benar penyakit yang bukan dengan mudah bisa begitu saja dihalau dari pikiran seperti memencet tombol on off.


1.   Jadi apa itu depresi?.

Singkatnya depresi adalah penyakit mental yang diakibatkan ketidakseimbangan kimiawi neurotransmitter, sehingga menyebabkan turunnya aktivitas serotonin di otak. Gejalanya macam-macam dan berbeda-beda antara setiap orang. Tapi benang merahnya, ada perasaan sedih yang mendalam dan sesak yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan sedih dan sesak ini begitu gelap, sehingga pada beberapa kasus, depresi ini berujung pada dorongan untuk bunuh diri.

Depresi juga bisa menimpa siapa pun, bukan hanya menimpa mereka yang cerita hidupnya malang saja, karena seperti diceritakan dalam buku ini, Amanda yang hidupnya sempurna pun, ternyata bisa terkena depresi. Saya pernah baca entah dimana, salah satu gejala depresi adalah malas mandi dan beberes. Di buku ini pun begitu, saat mengalami depresi, Amanda jadi sangat enggan mandi ataupun bersih-bersih. 


2.    Kenapa bisa depresi?, 

Kompleks. Bisa jadi gabungan dari faktor biologis, psikologis, dan sosial. Tapi hal yang saya garis bawahi dari buku ini, depresi ternyata tidak berkaitan dengan ketaatan beragama. Tidak ada hubungannya depresi dengan lemahnya iman. Saya baca dari sumber lain, rasa takut berlebihan akan hukuman Tuhan atau stigma dari lingkungan yang menganggap depresi sebagai hukuman dosa justru dapat memperparah kondisi mental seseorang.


3.   Apa yang harus dilakukan ketika merasakan gejala depresi?

Pertama, jangan denial, akui bahwa ada masalah dengan kesehatan mental kita, lalu kedua, jangan sungkan minta bantuan profesional. Dalam buku ini Amanda akhirnya meminta bantuan dengan datang ke psikiater, dan kemudian mendapatkan terapi untuk penyembuhan. Menarik, karena sempat diceritakan, Tommy yang adalah orang terdekat Amanda, justru jadi orang yang menyangkal fakta bahwa Amanda mengidap depresi. Ia tak percaya karena Amanda tampak sangat normal, dan bahkan sempat memberikan nasihat agar Amanda yang agnostik mulai mempercayai Tuhan. Bahkan Tommy pun sedikit mengecam keputusan Amanda untuk minum obat karena Tommy percaya obat hanyalah akal-akalan industri psikofarmakologi untuk meraup keuntungan. Sepertinya ini mitos lainnya terkait depresi, bahwa depresi bisa disembuhkan dengan kekuatan pikiran sendiri atau dengan ruqyah atau dengan pengobatan alternatif sehingga obat tidak diperlukan. Padahal seperti dijelaskan berulang-ulang, depresi adalah penyakit yang sama nyatanya dengan sakit diabetes atau kanker sehingga obat akan sangat membantu dalam proses penyembuhan.

Saya menyukai buku ini secara keseluruhan, dan entah bagaimana buku-buku Annisa Ihsani selalu membuat saya ingin terus belajar lagi. Saya belajar matematika lagi saat baca buku Teka Teki Terakhir, dan dari buku ini saya belajar tentang teori-teori sains, dari mulai Pale Blue Dot, spektrum warna, dan teori Big Bang (ternyata Big Bang itu bukan ledakan, karena ledakan terjadi karena perbedaan suhu dan tekanan suatu benda dengan ruang di sekitarnya, sementara saat itu ruang dan waktu belum ada. Lebih tepat jika Big Bang disebut sebagai perluasan ruang dan waktu itu sendiri, dari titik singularitas). Menarik bukan?.

Senin, 07 September 2026

Resensi TEKA-TEKI TERAKHIR


 Judul Buku                : Teka-Teki Terakhir

Penulis                       : Annisa Ihsani

Jumlah Halaman        : 253 lembar

Penerbit                     : PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta

 

“Aku senang aku yang akan pergi duluan,” katanya sambil sedikit tersenyum, “dengan begitu aku tidak perlu merindukanmu.” 

Tuan Maxwell kepada Laura, menjelang kematiannya, hlm. 235

 

Sudah lama sekali rasanya tidak baca buku semudah ini (sejujurnya saya agak kesulitan mencari padanan kata lain yang mendeskripsikan “mudah”, tapi saya yakin sesama pembaca buku pasti paham maksud saya).

Buku ini berkisah tentang Laura Welman, gadis berusia 12 tahun yang mendapat nilai 0 untuk sebuah kuis matematika. Tak ada maksud aneh ketika ia membuang kertas kuisnya yang sudah dilipat-lipat di tempat sampah rumah tetangga, namun tak disangka, itu jadi awal interaksinya dengan pasangan Maxwell, tetangga yang dicap aneh,  yang surprisingly  ternyata keduanya adalah ahli matematika. Tuan Maxwell yang menemukan kertas kuis bernilai 0 itu kemudian memberikan buku berjudul Nol: Asal Usul dan Perjalanannya kepada Laura. Dan dari buku itu, persahabatan Laura dengan penghuni rumah Jalan Eddington nomor 112 mulai terjalin.

Ketika saya bilang buku ini mudah, bukan berarti bukunya jelek, justru sebaliknya, dalam buku ini tidak ada kalimat rumit sastrawi yang meski indah namun sulit dipahami, pilihan kata dalam buku ini justru sangat ringan dan gampang. Vibes buku ini pun sangat menghangatkan jiwa, kisah tentang seorang anak yang lahir di keluarga harmonis dari ayah yang dokter, ibu yang pegawai bank, dan kakak yang pintar dan aktif, dimana masalah hidup terbesarnya hanyalah ujian sekolah atau berseteru dengan teman. Tiba-tiba saja saya tersadar, menjadi WNI seumur hidup anehnya sudah membuat saya merasa takjub bahkan pada kisah hidup yang normal seperti ini. Padahal sudah seharusnya memang begitu bukan, anak remaja itu tugasnya ya cuma sekolah dan belajar dengan benar. Bukannya harus bantu orang tua cari uang atau menghadapi kehidupan yang rumit bahkan di rumah sendiri.

Meskipun buku ini berkisah tentang kehidupan anak remaja, tapi saya merasa mendapat banyak hal dari buku ini, salah satunya saya diingatkan lagi tentang istilah-istilah dalam matematika sebagai berikut:

1.    Teorema adalah pernyataan matematika yang sudah dibuktikan secara formal;

2.    Hipotesis adalah pernyataan yang masih berupa tebakan dan belum terbukti;

3.    QED berasal dari bahasa latin Quad erat demonstrandum artinya sudah terbukti;

4.    Konjektur adalah sebutan untuk pernyataan yang diyakini benar tapi belum didukung bukti formal;

5.    Teorema Phytagoras berbunyi: pada semua segitiga siku-siku, luas persegi di sisi hipotenusa adalah sama dengan penjumlahan luas persegi di sisi-sisi kakinya, atau dengan kata lain kuadrat sisi miring adalah jumlah kuadrat dua sisi lainnya;

6.    Teorema terakhir Fermat berbunyi tidak ada tiga bilangan bulat bukan nol, a, b dan c yang memenuhi persamaan an + bn = cn untuk n bilangan bulat lebih besar dari 2;

7.    Logika matematika (saya harus belajar lagi bab ini, mengingat matematika yang bisa dengan percaya diri saya kerjakan dengan cepat hanyalah aljabar dan pangkat bilangan, duh T_T).

Saya juga diingatkan bahwa Eratosthenes adalah orang pertama yang menghitung keliling bumi dan mengukur jarak bumi dari matahari dan bulan (saya tahu fakta ini sebelumnya dari buku Carl Sagan yang berjudul Cosmos).

Dan buku ini menyampaikan fakta-fakta diatas bukan dengan cara menggurui yang membosankan, namun justru teori matematika menjadi bagian yang menyatu dengan cerita, karena Tuan Maxwell ternyata sudah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menemukan bukti teorema terakhir Fermat yang belum ada satu pun berhasil menemukannya selama 356 tahun.

Karena buku ini sangat positif vibes, saya sempat menduga bahwa buku ini akan berakhir dengan keberhasilan kerja keras seumur hidup Tuan Maxwell dalam membuktikan teorema terakhir Fermat ini, namun ternyata tidak. Menjelang akhir cerita justru ada orang lain yang sudah berhasil membuktikan teorema ini duluan, dan kemudian Tuan Maxwell sakit dan wafat. Sebagai sahabat yang baik, justru Laura yang merasa terpukul karena merasa kerja keras puluhan tahun Tuan Maxwell terasa sia-sia.

“Tidakkah menurutmu sedih, bahwa umurnya mungkin tidak panjang lagi , tapi peristiwa penting yang terakhir dalam hidupnya adalah terbuktinya Teorema Teakhir Fermat oleh ahli matematika lain”

Dan disini Laura lantas mempertanyakan arti hidup, makna kematian serta hal-hal diantaranya yang terasa sia-sia, ketika hadir kesadaran bahwa bukankah semua akan berakhir. Menarik ketika dalam diskusi ini, Julius yang notabene sempat dicap sebagai mantan-kriminal-sehingga-harus-dijauhi, justru jadi orang yang mengingatkan Laura bahwa yang penting adalah menikmati dan mensyukuri momen ini dengan melakukan hal terbaik.

Ketika kuliah dulu, saya ingat menjelang ujian akhir, ada kertas yang tertempel di pilar kolom Kampus Ganesha, tulisannya berbunyi :”Hard work never betrays you”. Saya yakin tulisan ini dibuat oleh himpunan sebagai penyemangat bagi para mahasiswa yang sedang ujian. 

Sekian lamanya,  saya ikut mengimani dogma ini. Kerja keras tidak akan pernah mengkhianatimu, maka bekerja keraslah untuk semua hal, jika kamu gagal artinya satu: upayamu masih kurang. Namun seiring bertambahnya usia, saya akhirnya menyadari, semata menggantungkan keberhasilan kepada kerja keras sebetulnya adalah bentuk kesombongan yang lain. Karena ada banyak variable lainnya yang harus diperhitungkan dalam hidup. Dan keberhasilan adalah sesuatu yang punya banyak warna, bukan sekedar spektrum hitam putih dengan dikotomi berhasil atau gagal semata. 

Tuan Maxwell tidak berhasil menemukan bukti Teorema Terakhir Fermat, padahal kurang kerja keras apa ia?, puluhan tahun ia mencurahkan waktunya, sampai kemudian sakit dan wafat. Untungnya, dalam perjalanan membuktikan teorema itu, ia tetap memilih bersikap baik pada istrinya, membuka hati pada persahabatan dan menjalin hubungan yang hangat dengan orang-orang terdekat. Sehingga meskipun tak berhasil mencapai tujuannya, tak lantas hidup menjadi tak berarti.

Lagi-lagi saya diingatkan pada kesadaran itu: kita tidak bisa memilih kejadian seperti apa yang akan menimpa hidup kita, begitu pun kartu apa yang kita harus kita mainkan dalam perjudian hidup, tak sepenuhnya baik, tapi tak mungkin juga kita mendapat semua kartu buruk. Tuan Maxwell ‘kebetulan’ terlahir dari keluarga bangsawan kaya raya sehingga tak perlu bekerja formal pun ia sudah pasti hidup berkecukupan, makanya ia punya banyak waktu untuk berkutat dengan rumus tanpa harus dipusingkan oleh cicilan ini itu, tapi kemudian ia sakit kanker. Bukankah begitulah hidup, ada hal-hal yang memang harus kita terima begitu saja, tetapi pada akhirnya, akan seperti apa kita memaknai hidup, sepenuhnya adalah pilihan kita sendiri.

 

Minggu, 06 September 2026

Tentang Aroma dan Kenangan

Ternyata kenangan punya cara yang aneh untuk pulang.

Kadang ia datang lewat sebuah lagu. Kadang lewat tempat yang tidak sengaja kita lewati. Kadang hanya melalui satu aroma yang tiba-tiba memenuhi udara, dan sebelum sempat bertanya kenapa, kita sudah kembali ke masa yang jauh.

Ada satu bau yang selalu punya kemampuan seperti itu padaku.

Aku tidak tahu sejak kapan ia menjadi begitu akrab. Yang aku tahu, setiap kali aromanya datang, selalu ada sesuatu yang ikut kembali. Sebuah suasana. Sebuah tempat. Sepotong percakapan. Wajah seseorang. Atau sekadar perasaan yang dulu pernah begitu kuat, tetapi sekarang sudah tidak tahu harus kusebut apa.

Aneh bagaimana hidung bisa mengingat sesuatu yang kepala sudah berusaha sedari lama untuk lupakan.

Kita bisa membuang foto, menghapus pesan, menyimpan barang-barang lama di tempat yang tidak pernah lagi dibuka. Kita bisa mengatakan kepada diri sendiri bahwa semuanya sudah selesai.

Tapi lalu aroma itu datang. Dan tiba-tiba saja, masa lalu tidak terasa sejauh itu.

Mungkin memang begitulah kenangan bekerja. Ia tidak benar-benar hilang. Ia hanya bersembunyi di tempat-tempat yang tidak kita duga, menunggu dibangunkan oleh satu hal kecil saja. Bahkan oleh sebuah bau yang hanya lewat beberapa detik.

Lalu kita tersenyum, atau mungkin terdiam. Mengingat sesuatu yang sebenarnya sudah lama tidak ingin kita ingat. Dan setelah aromanya perlahan menghilang, kita kembali menjalani hari seperti biasa. Hanya saja, kali ini kita tahu satu hal: ternyata ada kenangan yang tidak perlu kita cari. Ia akan menemukan jalannya sendiri untuk pulang. Kadang hanya lewat udara.

Lalu mengetuk hati, sebentar saja.

Kamis, 03 September 2026

Resensi LET THEM THEORY

 




Judul buku                            : Let Them Theory

Penulis                                  : Mel Robbins dan Sawyer Robbins

Alih Bahasa                          : Johanes Wimbo Satwiko

Penerbit                                : PT. Gramedia, Jakarta

Jumlah Halaman                  : 305 halaman

 

“God, grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference.”1)

 

Ini adalah bagian yang sangat terkenal dari Serenity Prayer (Doa Ketenangan). Maknanya adalah tentang menerima dengan ikhlas apa yang berada di luar kendali kita, berani bertindak atas apa yang masih bisa kita ubah, dan memiliki kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.

Membaca keseluruhan buku Let Them Theory, saya merasa bahwa sebenarnya inti dari buku ini adalah dua hal yang diucapkan pada serenity prayer: keikhlasan untuk menerima apa yang bisa dikendalikan (Let Them), dan keberanian untuk bertindak atas apa yang bisa kita rubah (Let Me).

Dan ketika selanjutnya saya membaca buku Merawat Luka Batin-nya dr. Jiemi Ardian, saya merasa menemukan benang merah yang menghubungkan ketiga gagasan ini. Stress yang berujung depresi dan emosi negatif lainnya sering berakar dari ketidakmampuan kita untuk melepaskan kendali atas hal-hal yang ada di luar kuasa. Dan pada akhirnya memang perlu kemampuan tersendiri untuk membedakan mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. 

Ide pada buku Let Them Theory ini sebetulnya tidak benar-benar baru, karena aliran filsafat Stoic juga secara garis besar bicara tentang ide yang sama. Yang membuat buku ini digandrungi banyak orang, mungkin karena gagasan yang ingin disampaikan, dikemas dengan cerita yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Kasus pertama yang disampaikan Mel (penulis), adalah pesta dansa putranya. Bagaimana ia stress sendiri ketika ternyata banyak hal tidak berjalan sesuai dengan rencana, dan merasa keadaan sangat parah ketika kemudian ia tahu ternyata tempat makan malam belum dipesan. Mel merasa sangat tertekan dan ketika putrinya menegur, Mel baru tersadar, ini kan pesta putranya dan teman-temannya, bukan acara Mel sendiri. Lalu kenapa ia harus merasa berkepentingan pada bagaimana acara akan berjalan. Ya sudah biarkan saja, terserah mereka sebagai penyelenggara pesta mau bagaimana. 

Mel mengatakan ketika ia belajar mengatakan “biarkan saja” dalam berbagai situasi, ia merasa banyak ketegangan mengendur dan di luar dugaan, banyak hal dalam hidupnya yang juga ikut berubah.

Ketika kita sudah mengerjakan semua tugas dengan baik, ternyata atasan tidak menaikkan gaji kita ya sudah, biarkan saja. Ketika orang yang kamu bantu ternyata tidak berterima kasih, ya sudah biarkan saja. Ketika pasangan yang kamu cintai mengkhianatimu, ya sudah biarkan saja. Ketika orang yang kamu harapkan menjadi teman ternyata mengabaikanmu, ya sudah biarkan saja. 

Karena pada prinsipnya, kita tidak bisa merubah atau mengendalikan orang lain. Kita tidak bisa memaksa orang yang sudah kita bantu untuk menghargai kita, kita juga tidak bisa memaksa orang yang kita cintai untuk mengembalikan cinta dengan intensitas yang sama, seperti halnya kita juga tidak bisa memaksa orang menyukai kita padahal kita sudah melakukan yang terbaik untuk mereka.

Biarkan saja. 

Lepaskan apa yang memang tidak bisa kamu kendalikan. Kita tidak bisa memaksa semua orang bersikap seperti apa yang kita mau bahkan setelah semua upaya luar biasa yang kita lakukan untuk dan terhadap mereka.

Tapi agar hidup ini seimbang, setelah biarkan saja, masih ada lanjutannya: biarkan aku.

Jika biarkan mereka fokus pada upaya melepaskan energi dari hal-hal di luar kendali, maka biarkan aku terpusat pada bagaimana mengerahkan energi untuk hal-hal yang bisa kita rubah.

Ketika kita sudah mengerjakan semua tugas dengan baik, ternyata atasan tidak menaikkan gaji kita ya sudah, biarkan saja. Tapi selanjutnya, biarkan aku untuk mengembangkan kemampuan lain dan berupaya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.

Ketika orang yang kamu bantu ternyata tidak berterima kasih, ya sudah biarkan saja. Tapi biarkan aku untuk tidak meletakkan harga diriku pada seberapa banyak ucapan terima kasih yang diterima. Ia yang menunjukkan sikap tak berbudi, ya sudah, biarkan, tapi aku memilih tetap jadi orang baik dan meninjau ulang apakah bantuanku justru membuat orang ini tidak berupaya dan aku selalu punya pilihan untuk mengalihkan bantuan kepada orang lain.

Ketika pasangan yang kamu cintai mengkhianatimu, ya sudah biarkan saja. Tapi kita selalu punya pilihan untuk tetap mencintai diri sendiri, membeli barang yang kita suka, melakukan hal-hal yang membuat bahagia, serta menjadi orang yang jauh lebih baik dari segi fisik, kompetensi dan karakter. Fokuskan energi pada hal yang bisa kita rubah dan perbaiki, dan tetap ingat, bahwa ‘biarkan aku’ juga menawarkan kebebasan untuk memilih dan meninjau apakah kebersamaan masih layak diperjuangkan atau tidak.

Ketika orang yang kamu harapkan menjadi teman ternyata mengabaikanmu, ya sudah biarkan saja. Karena pertemanan dipengaruhi tiga hal: waktu yang dihabiskan bersama, jarak yang memisahkan atau mendekatkan dan terakhir energi atau frekuensi yang sesuai atau tidak. Jika teman sekolahmu perlahan-lahan menjauh ya sudah biarkan saja, karena secara alami memang akan begitu. Setelah tumbuh semakin dewasa, kalian akan terpisah oleh jarak, juga akan kehilangan waktu untuk terus bersama-sama karena tanggung jawab yang berbeda. Energi juga bisa berubah, karena manusia terus tumbuh dan bertransformasi. Tapi setelah itu, “biarkan aku” untuk mengalihkan energi dengan menjalin persahabatan dengan orang baru. Sapa orang duluan, tawarkan makanan kepada tetangga atau teman kerjamu, ciptakan dan mulailah hubungan pertemanan yang lain. 

Selanjutnya buku ini pun membahas cara jika kita ingin orang lain berubah. Contoh yang disampaikan di buku, misal kita prihatin terhadap pola hidup pasangan yang sangat tidak sehat, alih-alih marah-marah ketika melihat dia malas-malasan di sofa sambil makan junk food dan menonton tivi, kita bisa mulai dengan teori biarkan saja dulu. Mencintai seseorang berarti kau harus menerima orang itu apa adanya. 

Ketika kita memaksa pasangan kita yang malas untuk berubah dan memulai hidup sehat juga berolahraga, yang ada malah ia akan merasa tertekan dan semakin defensif. Mel menjelaskan ada tiga hal yang membuat kenapa perubahan itu terasa sulit:

1.    Orang dewasa hanya berubah ketika mereka menginginkannya. Tak peduli sekeras apapun kamu paksa, kamu marah, kamu motivasi, jika memang pada dasarnya orang tak mau berubah, semua kemarahan, paksaan dan suntikan motivasi kamu akan sia-sia.

2.    Manusia cenderung bergerak menuju hal yang menyenangkan. Ini ilmu saraf, pada dasarnya otak manusia akan menghindari hal yang menyakitkan dan akan selalu memilih apa yang terasa menyenangkan. Junk food terasa lebih enak dari sayuran, dan rebahan di sofa selalu terasa lebih nyaman dari berlari di luar rumah.

3.   Setiap orang di muka bumi selalu berpikir bahwa mereka adalah pengecualian. Statistik menunjukkan bahwa orang yang selalu minum minuman manis rawan terkena penyakit diabetes, tapi entah bagaimana satu bagian dalam otak kita akan merasa bahwa itu hanya berlaku untuk orang lain, dan tidak untuk kita sendiri.

Tiga hal ini menunjukkan bahwa tekanan tidak selalu bisa membuat orang berubah. Karena itu kita perlu menerapkan teori biarkan saja. Selanjutnya, kita mulai dengan “biarkan aku”, untuk bergerak duluan, untuk mulai makan sehat, rajin berolahraga. Dengan begitu kita memberikan contoh dan menunjukkan bagaimana makan sehat dan olah raga ternyata menyenangkan serta memberikan banyak dampak positif. Setelah jangka waktu tertentu, apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri ternyata lebih efektif untuk memengaruhi daripada omelan-omelan yang malah memicu pertengkaran. Karena secara psikologis kita adalah makhluk sosial yang menerima pengaruh dari sekitarnya.

Kurang lebih seperti itulah inti dari buku ini.

Biarkan saja, tapi jangan berhenti disitu, lanjutkan dengan biarkan aku.

  

Note:

1)           Doa terkenal ini ditulis oleh seorang teolog asal Amerika Serikat bernama Karl Paul Reinhold Niebuhr pada awal tahun 1930-an. Kutipan ini sangat populer di seluruh dunia dan sering digunakan sebagai motivasi dalam gerakan pemulihan diri (seperti Alcoholics Anonymous), terapi psikologis, serta petunjuk moral untuk fokus pada hal-hal yang berada di bawah kendali kita sendiri.

 

 

 

 

Resensi CINTA TAK ADA MATI

Judul buku                   : Cinta Tak Ada Mati Penulis                      : Eka Kurniawan Penerbit                    : Gramedia Pustak...