Jumat, 18 Juli 2025

AREM-AREM

 





"Kamu dimana?, kenapa belum sampai kantor?", begitu bunyi pesan teks yang kuterima pagi ini. Tergopoh-gopoh, aku berlari dari parkiran. Dan kamu tertawa melihatku yang kusut sesampai tiba di ruangan. 

"Kebiasaan memang", komentarmu dengan geligi yang terlihat manis saat terbahak. 

Aku meletakkan tasku, membuka laptop, dan bersiap untuk mulai bekerja. Tiba-tiba kamu menyodorkan satu buah arem-arem padaku.

"Eh", komentarku dengan tatapan bertanya, 

"Buat kamu, hehehe...".

"Terima kasiih", lalu aku memakan arem-arem itu dengan lahap.

Siangnya, saat makan siang bersama, tiba-tiba terlintas tentang arem-arem tadi pagi.

"Tadi pagi, kamu beli arem-arem dari mana?, bekel dari rumah?", tanyaku.

"Engga, dikasi sama Bu Ar itu", jawabmu.

"Oiya, semua orang dikasi?", tanyaku lagi.

"Cuma sedikit kok, jadi aku ngambil satu".

"Hah, cuma satu, jadi yg aku makan tadi pagi itu sebetulnya jatah kamu dan kamu belum makan?", 

"Iya..."

aku langsung merasa bersalah, "Kenapa ngga bilang kalau kamu belum makan, aku pikir kamu punya beberapa dan buat aku satu"...

"Ngga apa-apa, kok, seneng lihat kamu makannya gembul",  jawab kamu.

"Aaaaaa....bukan gitu, duh aku jadi ngga enak, nanti arem-aremnya kuganti ya...", 

Dalam hati aku benar-benar berniat menggantinya besok. Sepertinya di Monami juga ada arem-arem. Besok pagi sebelum ke kantor aku bisa mampir. Kubelikan satu. Atau dua sekalian.

Hal kecil.

Tidak penting.

Dan karena begitu tidak pentingnya, tentu saja aku yakin masih ada besok untuk melakukannya. 

Ternyata tidak. 

Tak pernah ada besok untukku. 

Dan sampai hari ini, dua belas tahun kemudian, setiap kali melihat arem-arem, kadang-kadang aku masih teringat satu buah yang kamu berikan padaku pagi itu. Satu-satunya yang kamu punya, yang kamu berikan kepadaku tanpa bilang bahwa itu seharusnya menjadi sarapanmu.

Dua belas tahun berlalu dan aku sudah lupa begitu banyak hal tentang hari-hari kita. Aku sudah lupa percakapan-percakapan kecil, pekerjaan yang dulu terasa penting, atau entah berapa banyak makan siang yang pernah kita habiskan bersama. Tapi entah kenapa, aku masih ingat arem-arem itu. Dan mungkin memang begitulah kehilangan bekerja. Ia tidak selalu tinggal dalam peristiwa-peristiwa besar. Kadang ia bersembunyi dalam benda yang sangat biasa. Dalam lagu. Dalam jalan yang pernah dilewati. Dalam makanan yang tiba-tiba kita lihat di etalase. Lalu tanpa permisi membawa seseorang pulang ke ingatan. Hanya beberapa detik. Tapi cukup untuk membuat kita kembali menjadi diri kita dua belas tahun lalu: seseorang yang masih begitu yakin bahwa besok akan selalu ada. Padahal tidak.

Dan dari semua hal yang tidak sempat kukatakan, tidak sempat kulakukan, dan tidak sempat kubalas—entah kenapa satu yang masih kuingat sampai sekarang adalah: aku belum mengganti arem-aremmu.

 

 

Resensi MERAWAT LUKA BATIN: Buku yang Tak Kunjung Selesai Dibaca

  Sudah hampir dua bulan buku  Merawat Luka Batin  karya dr. Jiemi Ardian ini menemani saya ke mana-mana. Masuk tas, dibawa ke kantor, menem...