
Beberapa waktu terakhir, demi mendapatkan informasi terkini yang sering kali tidak muncul di kanal media resmi, saya menginstal ulang aplikasi X. Sialnya, entah kenapa yang muncul melulu isu seputar rumah tangga. KDRT, patah hati, perselingkuhan, sampai perdebatan tentang pilihan tidak menikah dan childfree. Pokoknya, segala macam persoalan hubungan manusia yang rasanya tidak ada habisnya.
Pada satu titik, saya sampai muak disuguhi berita serupa terus-menerus.
Bukan berarti isu-isu tersebut tidak penting. Bukan pula saya menafikan penderitaan orang-orang yang mengalami kekerasan, patah hati, atau merasa tidak bahagia dalam perkawinannya. Tetapi mengonsumsi cerita-cerita semacam itu setiap hari ternyata membuat saya semakin sulit mengendalikan pikiran agar tidak berprasangka buruk kepada orang lain. Rasanya dunia dipenuhi manusia-manusia yang saling menyakiti.
Padahal, yang saya perlukan sebenarnya sederhana: berita terkini tentang kondisi negeri ini, rekomendasi buku bagus, materi Excel dan bahasa Inggris, resep masakan, serta tips hidup sehat, bahagia, dan tidak overthinking!.
Saya kemudian teringat bahwa algoritma media sosial bekerja dengan mempelajari perilaku penggunanya. Apa yang kita baca, tonton, sukai, komentari, bahkan konten yang membuat kita berhenti menggulir layar lebih lama. Celakanya, algoritma tidak selalu bisa membedakan apakah kita berhenti karena tertarik atau justru karena kesal. Kita membaca sebuah perdebatan karena jengkel, ia mengira kita menyukainya. Besok disuguhkan lagi. Lusa semakin banyak. Lama-lama, beranda kita seperti ruang penuh orang bertengkar yang pintunya tidak pernah ditutup.
Dalam psikologi, ada konsep selective attention, yaitu kecenderungan perhatian kita untuk tertuju pada sebagian informasi di antara begitu banyak rangsangan yang tersedia. Ada pula confirmation bias, kecenderungan mencari atau menafsirkan informasi dengan cara yang mendukung keyakinan yang sudah kita miliki.
Saya jadi berpikir, jangan-jangan ketika terus-menerus membaca cerita tentang perselingkuhan dan rumah tangga yang berantakan, perhatian saya semakin mudah tertuju pada cerita serupa. Lalu tanpa sadar, saya mulai merasa bahwa semua orang juga mengalami atau melakukan hal yang sama. Padahal tentu saja tidak.
Apa yang ramai di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan manusia secara keseluruhan. Akhirnya, saya memutuskan untuk melewati semua drama yang tidak perlu. Saya mulai mencari tema-tema yang memang ingin saya pelajari, mengikuti akun yang memberikan informasi bermanfaat, dan berhenti memberi perhatian pada perdebatan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya.
Perlahan, isi timeline saya berubah. Sekarang lebih banyak muncul hal-hal yang memang saya inginkan. Tidak lagi dipenuhi drama dan perdebatan yang tidak perlu saya ikuti. Tentu bukan berarti dunia mendadak bebas dari persoalan. Saya hanya tidak ingin setiap persoalan orang lain ikut memenuhi isi kepala saya. Dan anehnya, perasaan saya pun menjadi lebih ringan.
Kebetulan akhir-akhir ini saya sedang menikmati hobi baru: membuat dashboard dengan mengoptimalkan berbagai fungsi Excel dan Google Sheets. Setiap berhasil mengubah tabel dan deretan angka menjadi grafik warna-warni yang menarik hati, entah bagaimana saya senang sekali.
Padahal cuma grafik!
Tetapi melihat sesuatu yang awalnya membingungkan kemudian menjadi rapi, mudah dibaca, dan enak dipandang ternyata memberikan kepuasan tersendiri.
Perasaan hangat yang kurang lebih sama muncul setiap kali saya berhasil mencoba resep masakan baru, lalu melihat anak-anak makan dengan lahap. Atau ketika akhirnya menamatkan sebuah buku tebal yang ternyata isinya sangat bagus. Hal-hal kecil yang mungkin tidak terlalu istimewa bagi orang lain, tetapi cukup untuk membuat hari saya terasa menyenangkan. Dan perlahan, tanpa benar-benar saya rencanakan, saya jatuh cinta kembali pada hidup saya sendiri.
Saya mulai lebih sering memperhatikan hal-hal baik yang terjadi. Sesuatu yang dahulu mungkin hanya saya anggap sebagai rutinitas, sekarang terasa sebagai keberuntungan kecil yang patut disyukuri.
Saya teringat pada istilah mestakung, semesta mendukung. Seolah-olah ketika kita mulai mengarahkan pikiran pada sesuatu yang baik, berbagai hal dalam kehidupan ikut bergerak ke arah yang sama.
Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa berpikir positif akan membuat seluruh persoalan selesai dengan sendirinya. Hidup tidak bekerja sesederhana itu. Orang baik tetap bisa mengalami kemalangan, dan orang yang bersyukur pun tetap bisa merasa sedih.
Tetapi mungkin ketika perhatian kita tidak terus-menerus tersita oleh sesuatu yang membuat marah, takut, atau cemas, kita menjadi punya lebih banyak ruang untuk melihat hal-hal baik yang selama ini sebenarnya sudah ada. Bukan semestanya yang tiba-tiba berubah. Barangkali cara kita memandangnyalah yang mulai berbeda.
Dan kemudian saya menyadari sesuatu. Ternyata kita bisa ikut mengatur algoritma, bukan hanya algoritma media sosial, tetapi juga algoritma hidup kita sendiri. Kita memang tidak bisa memilih semua peristiwa yang akan datang. Tidak bisa mengendalikan perilaku orang lain, apalagi memastikan bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai keinginan. Tetapi kita masih bisa memilih apa yang ingin kita beri perhatian, apa yang layak menghabiskan energi, dan hal-hal apa yang ingin kita tumbuhkan dalam keseharian. Sebab apa yang terus kita beri perhatian, perlahan akan mengambil lebih banyak tempat dalam pikiran kita.
Dan saya ingin tempat itu diisi oleh hal-hal yang membuat saya bertumbuh. Buku-buku yang belum selesai dibaca, keterampilan baru yang masih ingin dipelajari, masakan-masakan yang belum pernah dicoba, dan orang-orang yang kehadirannya membuat hidup terasa hangat.
Saya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan kehidupan orang lain sampai lupa menikmati kehidupan saya sendiri.
Barangkali kebahagiaan memang tidak selalu datang dalam bentuk peristiwa besar. Kadang ia sudah ada di rumah, di meja makan, di halaman sebuah buku, atau bahkan di antara tabel dan grafik warna-warni yang kita buat dengan susah payah.
Kita hanya terlalu sibuk melihat ke tempat lain sampai lupa menyadarinya. Dan kalau boleh memilih, saya ingin algoritma hidup saya lebih sering membawa saya pulang. Bukan sekadar pulang ke rumah, tetapi pulang kepada diri sendiri, kepada hal-hal sederhana yang membuat saya merasa cukup, dan kepada kehidupan yang ternyata masih begitu layak untuk dicintai.






