Tampilkan postingan dengan label Oceh Mengoceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oceh Mengoceh. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2026

Ketika Gerai Kopi Menjadi Ruang Belajar Darurat

 

Anak saya hampir selalu mengerjakan tugas kuliahnya di Kopi Kenangan. Awalnya saya tidak terlalu memikirkannya, sampai saya sadar uang jajannya habis untuk membeli kopi. Penasaran, suatu hari saya ikut. Ternyata saya paham kenapa ia betah.1) Tempatnya nyaman, colokan tersedia, Wi-Fi lancar, suasananya cukup tenang untuk nugas atau WFA, dan yang paling penting: buka 24 jam. Saya pun lalu ikut membuka laptop dan menyelesaikan beberapa pekerjaan tak terasa sampai larut malam. Di sana saya juga melihat sesuatu yang sebelumnya hanya saya dengar. Ada orang-orang yang duduk membuka laptop dari pagi sampai malam, dan pesanannya hanya satu gelas kopi. Beberapa datang lagi keesokan harinya di meja yang sama, seolah gerai itu sudah menjadi kantor atau ruang belajar pribadi mereka.

Karena itu, saya tidak terlalu kaget ketika belakangan ramai cuitan di media sosial tentang pengunjung yang membawa kabel ekstensi sendiri, menyambungkan beberapa gawai sekaligus, bahkan membawa makanan dari luar sambil berjam-jam mengerjakan tugas. Warganet terbelah. Sebagian menilai perilaku itu tidak tahu diri karena gerai kopi adalah tempat usaha, bukan ruang belajar gratis. Sebagian lain membela dengan alasan, “Memangnya mau kerja di mana lagi?”.

Dua-duanya ada benarnya. Pemilik usaha berhak menjaga perputaran pelanggan dan tagihan listriknya. Membawa makanan dari luar dan menguasai stopkontak berjam-jam memang melanggar etika tak tertulis. Tetapi kalau kita berhenti di soal etika, kita melewatkan pertanyaan yang lebih penting: kenapa begitu banyak orang, termasuk anak saya, merasa gerai kopi adalah pilihan paling masuk akal?.

Jawabannya sederhana dan agak memalukan. Kita kekurangan ruang publik yang layak untuk belajar dan bekerja. Yang dibutuhkan sebenarnya tidak muluk-muluk: meja, kursi, colokan listrik, Wi-Fi yang lumayan, toilet, dan jam buka yang masuk akal. Tidak perlu membayar, dan tidak perlu merasa diawasi pelayan yang menunggu kita pergi.

Secara teori, perpustakaan umum seharusnya mengisi kebutuhan itu. Kenyataannya, banyak perpustakaan daerah tutup sore hari, libur di akhir pekan, letaknya jauh dari permukiman atau kampus, dan fasilitasnya seadanya. Mahasiswa yang baru selesai kuliah sore atau pekerja yang baru bisa belajar selepas jam kantor justru tidak terlayani. Taman kota pun jarang dirancang untuk duduk lama sambil membuka laptop. Begitu matahari terbenam atau hujan turun, pilihannya hanya kembali ke kamar yang sempit atau masuk ke gerai kopi, dengan uang jajan sebagai tiket masuknya.

Di sinilah negara absen. Pemerintah, pusat maupun daerah, gencar bicara soal SDM unggul, ekonomi digital, dan bonus demografi, tetapi lupa bahwa semua itu butuh tempat untuk bertumbuh. Ruang belajar publik belum dianggap infrastruktur dasar, padahal fungsinya sama pentingnya dengan jalan atau trotoar. Akibatnya, kebutuhan publik itu diserahkan ke pasar. Ruang belajar berubah menjadi komoditas seharga satu gelas kopi, dan gesekan antara pengunjung dan pemilik usaha pun tak terhindarkan.

Beberapa kota sudah membuktikan bahwa ini bisa dikerjakan: perpustakaan yang buka sampai malam, ruang kreatif milik pemda, atau gedung pemerintah yang dibuka untuk warga di luar jam dinas. Masalahnya, contoh itu masih berupa pengecualian dan belum menjadi standar. Padahal banyak aset publik, seperti aula kantor, gedung serbaguna, dan perpustakaan sekolah, menganggur setelah jam kerja.

Jadi, lain kali kita melihat orang membawa kabel ekstensi ke gerai kopi, kritik soal etikanya boleh saja. Tetapi jangan lupa bertanya: kenapa mereka tidak punya tempat lain?. Selama pertanyaan itu belum dijawab dengan kebijakan nyata, gerai kopi akan terus menjadi ruang belajar darurat, dan para orang tua seperti saya akan terus membiayainya lewat uang jajan anak.

1)      Bagi banyak mahasiswa, Kopi Kenangan sudah menjadi semacam markas untuk nugas. Menurut saya ini hal yang baik bagi gerainya sendiri. Di salah satu gerai yang letaknya bersebelahan dengan brand lain, yang ramai tetap Kopken. Saran kecil untuk Kopi Kenangan: bagaimana jika menambahkan juga menu makanan yang lebih “menemani”, misalnya mi rebus, arem-arem, nasi goreng, dan keletikan. AC-nya luar biasa dingin, jadi pengunjung yang duduk berjam-jam pasti butuh makanan hangat. Dengan begitu, pengunjung tidak perlu membawa makanan dari luar dan gerai pun mendapat tambahan pemasukan. Dua masalah selesai sekaligus.

Senin, 26 Oktober 2026

Giliran Saya yang Mengetuk Pintu

 

Tangannya sedikit gemetar ketika mempresentasikan keunggulan hotel tempatnya bekerja. Di balik penampilannya yang bersih, rapi, dan perlente, sekilas saya menangkap kegugupan yang berusaha disembunyikan. Ia datang tanpa janji temu. Dan sialnya, saya telanjur berpapasan dengannya ketika hendak pergi ke musala, melewati ruang tamu tempat ia sedang menunggu. Pekerjaan saya sendiri sedang menumpuk. Seharusnya dua puluh menit ke depan bisa saya gunakan untuk memverifikasi satu dari sekian banyak dokumen yang menunggu diselesaikan. Tetapi entah kenapa, saya menguatkan hati, memasang senyum, lalu duduk mendengarkan paparannya. Padahal, demi Tuhan, pikiran saya sudah ke mana-mana.

Saya berusaha keras mengumpulkan konsentrasi, sementara pekerjaan di meja rasanya sedang menjerit-jerit minta diselesaikan. Sesekali saya mengangguk, mengajukan pertanyaan seperlunya, dan berusaha terlihat tertarik. Dalam hati, saya tahu pertemuan ini mungkin tidak akan menghasilkan apa-apa. Tetapi ada sesuatu yang membuat saya tidak tega menyudahinya begitu saja.

Barangkali karena melihat kegugupannya. Atau karena saya membayangkan betapa tidak mudahnya mendatangi kantor orang yang tidak dikenal, menawarkan sesuatu yang belum tentu dibutuhkan, lalu berharap orang tersebut bersedia meluangkan waktu. Maka, setengah mati saya berusaha untuk tidak menguap di tengah paparannya. Setelah sekian menit yang terasa jauh lebih panjang daripada waktu sebenarnya, presentasi itu akhirnya selesai.

Di antara anggukan sopan dan jawaban-jawaban formal, tiba-tiba ia bertanya dengan antusias, nada bicara saya terdengar sangat Sunda katanya, apakah betul memang orang Sunda?. Lalu sedikit obrolan tentang tanah kelahiran. Suasana yang tadinya kaku menjadi sedikit lebih cair. Sebelum pulang, ia meminta izin berfoto bersama untuk laporan kepada atasan. Saya tentu tidak keberatan.

Ketika akhirnya ia berpamitan, entah bagaimana hati saya terasa hangat. Bukan karena saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Saya bahkan tidak tahu apakah kunjungannya akan membawa hasil bagi hotel tempatnya bekerja. Tetapi setidaknya, hari ini ia tidak harus pulang dengan perasaan telah ditolak mentah-mentah. Ia sudah datang, menyampaikan apa yang menjadi tugasnya, dan memperoleh kesempatan untuk didengarkan.

Siangnya, keadaan berbalik.

Giliran saya yang harus menghadap pimpinan, meminta kesediaan beliau meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk mendengarkan paparan tentang aksi perubahan yang sedang saya kerjakan. Saya membawa dua formulir yang membutuhkan tanda tangan. Menjelaskan maksud kedatangan, menyampaikan hal-hal yang perlu diketahui, lalu berharap semuanya berjalan lancar.

Dan tiba-tiba saya teringat laki-laki yang datang pagi tadi.

Rupanya begini rasanya berada di posisi orang yang membutuhkan waktu dan perhatian orang lain. Kita datang dengan urusan yang bagi kita terasa penting, sementara orang yang kita temui mungkin sedang memiliki seribu urusan lain yang jauh lebih mendesak. Kita berharap mereka bersedia mendengarkan, meskipun sebenarnya mereka bisa saja mengatakan sedang sibuk dan meminta kita datang lain waktu.

Ketika akhirnya kedua formulir saya ditandatangani, saya merasa lega sekaligus bersyukur.

Saya jadi berpikir, betapa seringnya kita bergantian berada dalam dua posisi tersebut. Hari ini kita menjadi orang yang sibuk dan merasa waktunya diganggu. Besok mungkin justru kita yang datang mengetuk pintu, berharap seseorang bersedia menyisihkan sedikit waktunya.

Dan barangkali karena itulah kita perlu sesekali belajar bersabar menghadapi orang lain. Bukan karena semua permintaan harus dipenuhi, atau karena waktu kita tidak berharga. Tetapi karena kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa besar arti sedikit perhatian yang kita berikan bagi seseorang.

Pagi tadi, saya hanya berusaha menjadi pendengar yang baik bagi seorang tamu yang tidak saya kenal. Siangnya, saya sendiri merasakan betapa menyenangkannya ketika seseorang bersedia mendengarkan dan membantu menyelesaikan urusan saya. Saya kemudian teringat bahwa membantu orang lain tidak selalu harus melalui tindakan besar atau spektakuler. Kadang cukup dengan memberikan sedikit waktu dan perhatian.

Ternyata, dalam hidup ini kita tidak selalu menjadi orang yang memberi pertolongan. Ada kalanya kita juga menjadi orang yang berharap ditolong. Dan ketika saat itu tiba, rasanya kita akan sangat bersyukur bertemu dengan seseorang yang, meskipun sedang sibuk, masih bersedia tersenyum dan berkata, “Silakan, saya dengarkan.”

Selasa, 20 Oktober 2026

Kamu Bisa Mengatur Algoritmamu Sendiri


Beberapa waktu terakhir, demi mendapatkan informasi terkini yang sering kali tidak muncul di kanal media resmi, saya menginstal ulang aplikasi X. Sialnya, entah kenapa yang muncul melulu isu seputar rumah tangga. KDRT, patah hati, perselingkuhan, sampai perdebatan tentang pilihan tidak menikah dan childfree. Pokoknya, segala macam persoalan hubungan manusia yang rasanya tidak ada habisnya.

Pada satu titik, saya sampai muak disuguhi berita serupa terus-menerus.

Bukan berarti isu-isu tersebut tidak penting. Bukan pula saya menafikan penderitaan orang-orang yang mengalami kekerasan, patah hati, atau merasa tidak bahagia dalam perkawinannya. Tetapi mengonsumsi cerita-cerita semacam itu setiap hari ternyata membuat saya semakin sulit mengendalikan pikiran agar tidak berprasangka buruk kepada orang lain. Rasanya dunia dipenuhi manusia-manusia yang saling menyakiti.

Padahal, yang saya perlukan sebenarnya sederhana: berita terkini tentang kondisi negeri ini, rekomendasi buku bagus, materi Excel dan bahasa Inggris, resep masakan, serta tips hidup sehat, bahagia, dan tidak overthinking!.

Saya kemudian teringat bahwa algoritma media sosial bekerja dengan mempelajari perilaku penggunanya. Apa yang kita baca, tonton, sukai, komentari, bahkan konten yang membuat kita berhenti menggulir layar lebih lama. Celakanya, algoritma tidak selalu bisa membedakan apakah kita berhenti karena tertarik atau justru karena kesal. Kita membaca sebuah perdebatan karena jengkel, ia mengira kita menyukainya. Besok disuguhkan lagi. Lusa semakin banyak. Lama-lama, beranda kita seperti ruang penuh orang bertengkar yang pintunya tidak pernah ditutup.

Dalam psikologi, ada konsep selective attention, yaitu kecenderungan perhatian kita untuk tertuju pada sebagian informasi di antara begitu banyak rangsangan yang tersedia. Ada pula confirmation bias, kecenderungan mencari atau menafsirkan informasi dengan cara yang mendukung keyakinan yang sudah kita miliki.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan ketika terus-menerus membaca cerita tentang perselingkuhan dan rumah tangga yang berantakan, perhatian saya semakin mudah tertuju pada cerita serupa. Lalu tanpa sadar, saya mulai merasa bahwa semua orang juga mengalami atau melakukan hal yang sama. Padahal tentu saja tidak.

Apa yang ramai di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan manusia secara keseluruhan. Akhirnya, saya memutuskan untuk melewati semua drama yang tidak perlu. Saya mulai mencari tema-tema yang memang ingin saya pelajari, mengikuti akun yang memberikan informasi bermanfaat, dan berhenti memberi perhatian pada perdebatan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya.

Perlahan, isi timeline saya berubah. Sekarang lebih banyak muncul hal-hal yang memang saya inginkan. Tidak lagi dipenuhi drama dan perdebatan yang tidak perlu saya ikuti. Tentu bukan berarti dunia mendadak bebas dari persoalan. Saya hanya tidak ingin setiap persoalan orang lain ikut memenuhi isi kepala saya. Dan anehnya, perasaan saya pun menjadi lebih ringan.

Kebetulan akhir-akhir ini saya sedang menikmati hobi baru: membuat dashboard dengan mengoptimalkan berbagai fungsi Excel dan Google Sheets. Setiap berhasil mengubah tabel dan deretan angka menjadi grafik warna-warni yang menarik hati, entah bagaimana saya senang sekali.

Padahal cuma grafik!

Tetapi melihat sesuatu yang awalnya membingungkan kemudian menjadi rapi, mudah dibaca, dan enak dipandang ternyata memberikan kepuasan tersendiri.

Perasaan hangat yang kurang lebih sama muncul setiap kali saya berhasil mencoba resep masakan baru, lalu melihat anak-anak makan dengan lahap. Atau ketika akhirnya menamatkan sebuah buku tebal yang ternyata isinya sangat bagus. Hal-hal kecil yang mungkin tidak terlalu istimewa bagi orang lain, tetapi cukup untuk membuat hari saya terasa menyenangkan. Dan perlahan, tanpa benar-benar saya rencanakan, saya jatuh cinta kembali pada hidup saya sendiri.

Saya mulai lebih sering memperhatikan hal-hal baik yang terjadi. Sesuatu yang dahulu mungkin hanya saya anggap sebagai rutinitas, sekarang terasa sebagai keberuntungan kecil yang patut disyukuri.

Saya teringat pada istilah mestakung, semesta mendukung. Seolah-olah ketika kita mulai mengarahkan pikiran pada sesuatu yang baik, berbagai hal dalam kehidupan ikut bergerak ke arah yang sama.

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa berpikir positif akan membuat seluruh persoalan selesai dengan sendirinya. Hidup tidak bekerja sesederhana itu. Orang baik tetap bisa mengalami kemalangan, dan orang yang bersyukur pun tetap bisa merasa sedih.

Tetapi mungkin ketika perhatian kita tidak terus-menerus tersita oleh sesuatu yang membuat marah, takut, atau cemas, kita menjadi punya lebih banyak ruang untuk melihat hal-hal baik yang selama ini sebenarnya sudah ada. Bukan semestanya yang tiba-tiba berubah. Barangkali cara kita memandangnyalah yang mulai berbeda.

Dan kemudian saya menyadari sesuatu. Ternyata kita bisa ikut mengatur algoritma, bukan hanya algoritma media sosial, tetapi juga algoritma hidup kita sendiri. Kita memang tidak bisa memilih semua peristiwa yang akan datang. Tidak bisa mengendalikan perilaku orang lain, apalagi memastikan bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai keinginan. Tetapi kita masih bisa memilih apa yang ingin kita beri perhatian, apa yang layak menghabiskan energi, dan hal-hal apa yang ingin kita tumbuhkan dalam keseharian. Sebab apa yang terus kita beri perhatian, perlahan akan mengambil lebih banyak tempat dalam pikiran kita.

Dan saya ingin tempat itu diisi oleh hal-hal yang membuat saya bertumbuh. Buku-buku yang belum selesai dibaca, keterampilan baru yang masih ingin dipelajari, masakan-masakan yang belum pernah dicoba, dan orang-orang yang kehadirannya membuat hidup terasa hangat.

Saya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan kehidupan orang lain sampai lupa menikmati kehidupan saya sendiri.

Barangkali kebahagiaan memang tidak selalu datang dalam bentuk peristiwa besar. Kadang ia sudah ada di rumah, di meja makan, di halaman sebuah buku, atau bahkan di antara tabel dan grafik warna-warni yang kita buat dengan susah payah.

Kita hanya terlalu sibuk melihat ke tempat lain sampai lupa menyadarinya. Dan kalau boleh memilih, saya ingin algoritma hidup saya lebih sering membawa saya pulang. Bukan sekadar pulang ke rumah, tetapi pulang kepada diri sendiri, kepada hal-hal sederhana yang membuat saya merasa cukup, dan kepada kehidupan yang ternyata masih begitu layak untuk dicintai.

Selasa, 13 Oktober 2026

Ternyata, Tidak Apa-Apa

 

Sudah beberapa waktu ini saya berhenti membuka media sosial. Tidak ada alasan yang terlalu dramatis. Saya hanya merasa perlu mengambil jarak dari begitu banyak hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya.

Awalnya terasa sedikit aneh. Ada kebiasaan yang hilang. Biasanya, setiap ada waktu luang, tangan secara otomatis mencari ponsel, membuka aplikasi, lalu menggulir layar entah untuk mencari apa. Melihat kehidupan orang lain, membaca pendapat orang yang bahkan tidak saya kenal, mengikuti perdebatan yang sebenarnya tidak perlu saya ikuti. Kadang ikut senang, kadang kesal, kadang tanpa sadar membandingkan kehidupan sendiri dengan potongan kehidupan orang lain yang muncul di layar. Dan semua itu sering dilakukan tanpa tujuan yang jelas.

Lalu saya berhenti.

Ternyata, tidak apa-apa. Tidak ada yang kehilangan saya. Tidak ada yang mencari-cari ke mana saya menghilang. Tidak ada peristiwa penting yang terlewat sampai membuat hidup saya berantakan. Dunia masih terus berputar seperti biasa. Orang-orang tetap menjalani kehidupannya. Ada yang menikah, berlibur, memperoleh pekerjaan baru, bertengkar, jatuh cinta, patah hati, atau sekadar mengunggah foto makanan. Semuanya tetap berlangsung, dengan atau tanpa kehadiran saya sebagai penonton.  Dan anehnya, menyadari bahwa ketidakhadiran saya tidak mengubah apa-apa justru terasa melegakan.

Rupanya, saya tidak harus mengetahui semua hal. Tidak harus mengikuti setiap kabar, membaca setiap pendapat, atau merasa perlu memberikan tanggapan terhadap sesuatu yang sedang ramai dibicarakan. Saya juga tidak harus selalu terlihat untuk memastikan bahwa saya masih ada. Belakangan saya juga menyadari satu hal. Media sosial bukan sekadar tempat kita melihat apa yang diunggah orang lain. Ada algoritma yang bekerja di belakangnya, memilihkan apa yang akan muncul di layar berdasarkan perilaku kita sebelumnya.

Apa yang kita tonton lebih lama, apa yang kita sukai, apa yang membuat kita penasaran, bahkan apa yang membuat kita kesal, dapat menjadi sinyal bagi algoritma untuk menyajikan lebih banyak konten serupa. Akibatnya, tanpa benar-benar kita sadari, kita bisa terus-menerus terpapar pada jenis informasi, pendapat, atau emosi yang sama.

Dalam psikologi, ada konsep mere-exposure effect, yang diperkenalkan Robert Zajonc pada 1968. Secara sederhana, semakin sering kita terpapar pada sesuatu, semakin besar kemungkinan kita merasa akrab atau menyukainya. Tentu efek ini tidak berlaku mutlak untuk semua hal, tetapi cukup menarik jika dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi konten digital.

Bayangkan jika setiap hari kita terus-menerus disuguhi pandangan tertentu. Lama-kelamaan, sesuatu yang awalnya hanya merupakan pendapat orang lain bisa terasa semakin wajar, semakin masuk akal, bahkan seolah mewakili kenyataan secara keseluruhan.

Ada pula konsep confirmation bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan dan menerima informasi yang mendukung keyakinannya sendiri. Ketika kecenderungan ini bertemu dengan algoritma yang terus merekomendasikan konten berdasarkan minat dan interaksi kita, ruang untuk menemukan sudut pandang berbeda bisa semakin menyempit.

Tentu algoritma tidak selalu menciptakan ruang gema atau echo chamber. Namun, dalam keadaan tertentu, keduanya dapat saling memperkuat. Saya jadi berpikir, jangan-jangan selama ini ada banyak hal yang memenuhi kepala saya bukan karena saya benar-benar ingin memikirkannya, melainkan karena terlalu sering disodorkan kepada saya. Kita mungkin hanya ingin mencari hiburan selama beberapa menit, tetapi kemudian menghabiskan waktu membaca perdebatan, mengikuti konflik orang lain, atau memikirkan persoalan yang sebelumnya bahkan tidak kita ketahui. Tanpa terasa, sesuatu yang awalnya tidak penting menjadi terasa mendesak. Sesuatu yang sebenarnya jauh dari kehidupan kita mendadak ikut menentukan suasana hati sepanjang hari. Dan itu tidak selalu baik.

Terutama ketika paparan yang berulang membuat kita lebih mudah marah, cemas, curiga, atau membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain. Penelitian psikologi juga mengenal social comparison theory dari Leon Festinger (1954), yang menjelaskan kecenderungan manusia mengevaluasi dirinya melalui perbandingan dengan orang lain.

Di media sosial, bahan perbandingan itu tersedia nyaris tanpa batas. Padahal yang kita lihat sering kali hanya bagian kehidupan yang dipilih seseorang untuk ditampilkan. Saya tidak sedang mengatakan bahwa algoritma sepenuhnya mengendalikan pikiran manusia. Kita tetap memiliki kemampuan untuk menilai, mempertanyakan, dan menentukan sikap. Tetapi saya mulai menyadari bahwa apa yang terus-menerus kita konsumsi dapat memengaruhi apa yang kita anggap penting, bagaimana kita melihat dunia, dan apa yang kita rasakan. Kadang pengaruhnya bahkan lebih intens daripada yang sebenarnya kita inginkan. Dan mungkin, sesekali menjauh adalah cara sederhana untuk mengambil kembali kendali atas perhatian kita sendiri.

Ada kehidupan yang jauh lebih nyata di luar layar. Buku-buku yang belum selesai dibaca, pekerjaan yang perlu diselesaikan, makanan yang ingin dimasak, orang-orang terdekat yang bisa diajak bicara, dan waktu yang bisa dinikmati tanpa harus dibagikan kepada siapa pun. Yang paling saya rasakan, hati saya menjadi lebih tenang.

Bukan berarti kehidupan mendadak bebas dari masalah. Persoalan tetap ada, hari-hari yang melelahkan juga masih datang. Tetapi setidaknya, saya tidak lagi menambahkan begitu banyak kebisingan yang sebenarnya tidak perlu ke dalam kepala saya sendiri.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa media sosial itu buruk. Ada banyak manfaatnya. Kita bisa memperoleh pengetahuan, menemukan teman, memperluas wawasan, bahkan mendapatkan dukungan dari orang-orang yang tidak pernah kita temui secara langsung. Hanya saja, seperti banyak hal lain dalam kehidupan, sesuatu yang bermanfaat pun tidak selalu baik jika dikonsumsi tanpa batas.

Lucu juga, selama ini kita mungkin terlalu sibuk ingin mengetahui apa yang sedang terjadi dalam kehidupan orang lain, sampai lupa memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan sendiri. Dan setelah beberapa waktu tidak membuka media sosial, saya menemukan sesuatu yang sederhana, tetapi cukup menyenangkan.

Ternyata tidak apa-apa kalau saya tidak tahu segalanya. Tidak apa-apa kalau saya tidak selalu terlihat. Tidak apa-apa kalau dunia berjalan tanpa saya ikut menyaksikannya.

Saya tidak harus mempunyai pendapat tentang setiap persoalan. Tidak harus mengikuti setiap perdebatan. Bahkan tidak harus memikirkan sesuatu hanya karena algoritma berkali-kali menampilkannya di hadapan saya. Dunia memang tidak kehilangan apa-apa ketika saya berhenti membuka media sosial. Tetapi saya justru mendapatkan sesuatu yang belakangan terasa semakin mahal: ketenangan.

Dan barangkali, yang selama ini saya perlukan bukan lebih banyak informasi tentang kehidupan orang lain, melainkan lebih banyak ruang untuk menjalani kehidupan saya sendiri.

 

Minggu, 04 Oktober 2026

Ah, Sudah Biasa

Saya sangat suka membaca dan memasak.

Untuk urusan yang kedua, saya bukan juru masak hebat. Masih sering membuka resep, masih suka mengira-ngira takaran, dan masih dikomentari kalau hasil masakan saya belum konsisten, kadang enak, kadang sangat enak, kadang berdiri di antara enak dan biasa saja. =D

Tapi ada dua jenis makanan yang cukup berani saya klaim sudah saya kuasai: kentang mustopa dan bolu keju. Dua jenis masakan yang kata orang, agak tricky.

Kentang mustopa harus digoreng sampai kering, tapi jangan sampai gosong. Bumbunya harus cukup lengket untuk menempel, tapi tidak boleh membuat kentangnya melempem. Bolu juga begitu. Salah mengocok telur, salah mengaduk adonan, salah suhu oven, adonan bolu bisa ngambek tak mau mengembang.

Tapi karena sudah membuat keduanya entah berapa puluh kali, saya tak lagi terlalu memikirkan semua itu. Sudah hafal. Sudah biasa. Sudah bisa. Sampai kemarin saya membuat bolu keju dan GAGAL =D.

Saya sampai berdiri cukup lama di depan oven, menatap kue bantat yang tidak mengembang sebagaimana mestinya dengan perasaan tersinggung. Lho? Kok bisa?. Rasanya seperti dikhianati oleh sesuatu yang selama ini saya percaya tidak mungkin lagi gagal.

Kalau sedang mencoba resep baru lalu gagal, saya bisa terima. Namanya juga belajar. Tapi ini bolu keju. Bolu. Keju. Makanan yang resepnya bahkan sudah tidak perlu saya baca lagi.

Setelah dipikir-pikir, mungkin justru di situlah masalahnya. Karena merasa sudah bisa, saya tidak lagi seteliti ketika pertama kali belajar. Beberapa tahap dilakukan sambil lalu. Takaran mulai berani dikira-kira. Dan perhatian yang dulu saya berikan penuh kepada setiap prosesnya perlahan digantikan oleh satu perasaan yang ternyata cukup berbahaya: Ah, gampang. Sudah biasa.

Rupanya pengalaman memang membuat kita lebih mahir. Tapi diam-diam ia juga bisa membuat kita lengah. Saya kemudian memandangi bolu gagal itu sambil tertawa sendiri. Betapa luar biasanya hidup yang punya cara sederhana untuk mengingatkan bahwa pernah berhasil berkali-kali ternyata tidak membuat kita kebal terhadap kegagalan berikutnya. Dan mungkin itu berlaku untuk banyak hal.

Ada pekerjaan yang sudah kita lakukan bertahun-tahun.

Ada jalan yang sudah berkali-kali kita lewati.

Ada kemampuan yang begitu kita yakini

Ada orang yang merasa sudah kita kenal luar kepala sampai lupa bahwa semuanya tetap membutuhkan perhatian. 

Bukan berarti setelah ini saya akan menimbang tepung dengan wajah tegang seperti sedang melakukan praktikum kimia. Saya hanya diingatkan untuk sedikit berhati-hati pada kalimat: “Saya sudah tahu.” Sebab kadang-kadang, justru setelah kalimat itulah kita berhenti memperhatikan. Dan kehidupan—atau dalam kasus saya, sepotong bolu keju yang bantat—punya cara yang lucu untuk mengingatkan bahwa menjadi berpengalaman tidak pernah berarti menjadi mustahil salah.

Baiklah. Besok kita coba lagi. Toh bolu yang gagal masih bisa dimakan. Yang sedikit lebih sulit ditelan mungkin cuma kesombongan tukang masaknya. =D

 

Membaca Diri Sendiri

 Akhir pekan ngapain aja?, 

Jawaban saya: “seperti biasa: memasak dan tetap bekerja dengan laptop di akhir pekan”. 

Saya memang sangat suka memasak, meskipun belum percaya diri untuk membuka rumah makan sendiri, tapi rasanya hasil masakan saya sudah bisa dikategorikan lumayan. Dan setiap akhir pekan selalu menjadi kesempatan untuk saya mencoba resep-resep baru sekalian menyiapkan stok makanan di rumah untuk satu minggu ke depan. Karena penyakit saya kebetulan sedang kambuh lagi, yang saya buat akhir pekan ini lebih sedikit dari biasanya: rendang, opor ayam, baso tahu, kentang mustopa, capcay, bolu keju, pempek beserta cukonya, dan teh sangrai susu, bahasa kerennya roasted milk tea =D. 

Sambil memasak dan membereskan ini-itu, di sela-selanya saya membuka kembali tulisan di blog yang sudah lama tidak saya tengok. Niat awalnya cuma ingin merapikan beberapa tulisan lama. Ternyata saya malah menemukan banyak sekali hal yang perlu dikoreksi. Bukan salah ketik. Bukan tanda baca. Bukan pula kalimat yang kepanjangan. Tapi refleksi dari diri saya sendiri yang ternyata harus diperbaiki ðŸ˜‚.

Ya ampun.

Ternyata saya dulu sombong sekali. Beberapa kali saya berhenti membaca hanya untuk bertanya kepada diri sendiri: ini serius dulu saya nulis begini T-T.

Ada begitu banyak kalimat yang ditulis dengan keyakinan dan mungkin kesombongan yang luar biasa. Seolah hidup hanya punya satu cara untuk dipahami dan, entah dapat kepercayaan diri dari mana, cara sayalah yang paling benar. Begitu mudah menilai keputusan orang lain. Begitu cepat menyimpulkan. Begitu ringan menggunakan kata “seharusnya” untuk hal yang bahkan tidak sepenuhnya saya pahami.

Lucunya, ketika menulisnya dulu, saya mungkin merasa sedang menjadi orang yang kritis. Sekarang ketika membacanya kembali, rasanya lebih terdengar seperti seseorang yang belum banyak tahu tentang hidup tapi sudah sibuk membuat kesimpulan. Mungkin memang ada semacam kesombongan yang lahir bukan karena kita tahu terlalu banyak, tetapi justru karena belum mengalami cukup banyak hal.

Dunia terlihat sederhana ketika kita hanya pernah melihatnya dari satu sisi. 

Lalu umur bertambah. Hidup membawa kita ke tempat-tempat yang dulu tidak pernah kita bayangkan. Kita melakukan kesalahan. Mengambil keputusan yang dahulu mungkin akan kita cela jika dilakukan orang lain. Mencintai orang yang mungkin dulu kita anggap tidak seharusnya dicintai. Bertahan ketika menurut teori mestinya pergi. Pergi ketika orang lain berpikir mestinya bertahan. Lalu bertemu manusia-manusia dengan cerita yang ternyata jauh lebih rumit daripada yang terlihat dari luar. Dan perlahan-lahan kata “seharusnya” menjadi tidak semudah itu diucapkan.

Bukan karena sekarang saya sudah lebih tahu tentang hidup. Justru mungkin karena semakin ke sini saya semakin sadar betapa banyak yang tidak saya tahu. Akhirnya saya mengoreksi beberapa tulisan itu. Sebagian kalimat saya hapus, sebagian saya lunakkan. Bukan karena ingin menghapus siapa saya dahulu. Justru rasanya menyenangkan menemukan bukti bahwa cara pandang saya ternyata berubah.

Blog ini akhirnya seperti mesin waktu kecil.

Di sini saya bertemu diri sendiri dari berbagai umur: yang pernah sok tahu, pernah merasa paling benar, pernah mudah menghakimi, pernah terluka, pernah bahagia, dan pernah menulis sesuatu dengan keyakinan penuh yang bertahun-tahun kemudian ternyata saya pertanyakan sendiri.

Aneh rasanya membaca diri sendiri. Sedikit memalukan. Tapi juga menyenangkan. Karena ternyata berubah pikiran tidak selalu berarti kita dahulu sepenuhnya salah dan sekarang sepenuhnya benar. Kadang itu cuma berarti hidup telah memberi kita beberapa halaman tambahan. 

Akhir pekan ini, di antara masakan yang matang dan tulisan-tulisan lama yang dibongkar kembali, saya menemukan satu hal: ternyata bertambah dewasa bukan berarti semakin banyak tahu. Kadang justru ditandai dengan semakin sering kita berkata, “Oh… ternyata saya memang tidak tahu apa-apa.”

The Taxi Cab Theory: Tentang Cinta, Timing, dan Perempuan yang Menunggu

Saya baru tahu ada istilah The Taxi Cab Theory.

Teorinya sederhana, tapi kalau dipikir-pikir agak menyebalkan.

Konon, laki-laki itu seperti taksi. Selama lampunya belum menyala, ia akan terus berjalan. Bisa bertemu banyak perempuan, jatuh cinta, menjalin hubungan bertahun-tahun, bahkan mungkin bertemu seseorang yang sebenarnya sangat ia inginkan. Tapi kalau saat itu ia belum ingin menikah, ya tidak akan menikah.

Lalu suatu hari lampunya menyala.

Available.

Ia merasa sudah cukup bermain-main, kariernya sudah lumayan, hidupnya sudah lebih tenang, teman-temannya satu per satu menikah, atau entah apa yang akhirnya membuat seorang laki-laki berpikir: kayaknya gue mau nikah. Dan menurut teori ini, perempuan yang kemudian dinikahinya belum tentu perempuan yang paling ia cintai sepanjang hidupnya. Bisa jadi ia hanya perempuan yang kebetulan ada di sana ketika lampu itu menyala. Dan ini ternyata bukan omong kosong, dalam kehidupan nyata, saya menemukan bukan hanya satu kasus seperti ini, saya menemukan beberapa laki-laki yang mengakui bahwa mereka menikah bukan dengan orang yang betul-betul diinginkan, mereka menikah semata karena alasan: sudah ingin dan sudah siap menikah, lalu kebetulan ada dia disana, dan ya sudah, taraaa... menikah deh.

Nah, bagian ini yang menurut saya agak kejam.

Karena berarti kita bisa menjadi perempuan yang sangat dicintai pada waktu yang salah, lalu melihat laki-laki yang sama menikahi perempuan yang baru dikenalnya karena perempuan itu datang pada waktu yang tepat.

Kita mungkin pernah bersamanya bertahun-tahun. Menemaninya ketika hidupnya belum jelas. Tahu makanan kesukaannya, hafal kebiasaan buruknya, mengenal keluarganya, tahu bagaimana wajahnya ketika marah dan bagaimana suaranya ketika baru bangun tidur. Tapi ketika ditanya soal pernikahan, jawabannya: Aku belum siap.

Lalu hubungan itu berakhir.

Beberapa waktu kemudian kita mendengar dia menikah dengan perempuan lain.

Rasanya tentu ingin protes.

Lho? Katanya belum siap?

Tapi mungkin waktu bersama kita dulu, dia memang benar-benar belum siap.  Dan mungkin ini bagian dari Taxi Cab Theory yang cukup masuk akal: cinta dan kesiapan ternyata dua hal yang berbeda. Kita bisa mencintai seseorang tanpa siap membangun kehidupan bersamanya. Dan ketika akhirnya kesiapan itu datang, orang yang dahulu kita cintai mungkin sudah tidak ada di sana.

Tapi ada sesuatu dari teori ini yang mengganggu saya.

Kenapa harus laki-laki yang menjadi taksi?.

Kenapa laki-laki digambarkan punya kemewahan untuk terus berjalan, mencoba berbagai hubungan, membangun karier, menikmati hidup, lalu suatu hari memutuskan sendiri kapan lampunya akan menyala?.  Sementara perempuan seperti orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Menunggu. Berharap kebetulan berada di sana ketika sebuah taksi akhirnya available.

Ada asumsi yang sangat patriarkal di balik gambaran sederhana itu: seolah laki-laki punya waktu yang hampir tidak terbatas untuk menentukan kapan ia siap, sementara perempuan punya tenggat. Laki-laki berusia tiga puluh sekian dan belum menikah dianggap masih ingin menikmati hidup. Sementara perempuan pada usia yang sama mulai ditanya kapan menikah, disuruh jangan terlalu pemilih, diingatkan tentang umur, tentang anak, tentang kesuburan, seakan-akan ada jam besar yang terus berdetak di belakang kepalanya.

Dan mungkin karena itulah perempuan sering kali lebih mudah terjebak dalam hubungan yang tidak jelas.

Barangkali tahun depan dia siap.

Mungkin setelah pekerjaannya lebih mapan.

Mungkin setelah masalah keluarganya selesai.

Mungkin kalau aku sedikit lebih sabar.

Lalu satu tahun menjadi dua. Dua menjadi lima. Tanpa sadar kita tidak lagi menjalani hidup sendiri. Kita sedang menunggu lampu orang lain menyala. Saya rasa di sinilah Taxi Cab Theory menjadi berbahaya kalau diterima mentah-mentah. Karena perempuan bisa dibuat percaya bahwa tugasnya adalah bertahan sampai seorang laki-laki akhirnya siap.

Apalagi ada ketakutan yang sangat manusiawi: Bagaimana kalau aku pergi sekarang, lalu perempuan berikutnya justru yang dinikahinya?

Sakit, tentu saja. Membayangkan kita menemani seseorang bertahun-tahun, kemudian perempuan yang datang setelah kita mendapatkan rumah, pernikahan, dan kehidupan yang dulu pernah kita bayangkan bersamanya.

Tapi semakin saya pikirkan, mungkin pertanyaannya memang bukan: Bagaimana kalau setelah aku pergi dia menikahi perempuan lain?

Pertanyaannya justru: Berapa banyak hidup saya sendiri yang bersedia saya habiskan menunggu seseorang memutuskan apakah ia menginginkan kehidupan yang sama dengan saya?.

Karena kesiapan dia adalah haknya. Tapi menunggu bukan kewajiban kita.

Kalau seseorang mengatakan ia belum siap menikah, mungkin kita memang harus mempercayainya. Bukan menerjemahkannya menjadi tunggu aku, bukan pula menjadikannya proyek yang harus kita selesaikan sampai suatu hari ia berubah pikiran. Ia boleh belum siap. Dan kita boleh pergi.

Kalau lima tahun kemudian dia menikahi perempuan lain, itu tidak otomatis berarti perempuan itu lebih baik daripada kita. Tidak juga membuktikan bahwa selama ini kita kurang cantik, kurang sabar, kurang pengertian, atau kurang layak untuk dipilih.

Mungkin hidupnya memang sudah berubah. Mungkin dirinya sudah berubah. Mungkin lampunya baru menyala saat itu. Dan mungkin kita memang datang terlalu cepat. Atau mungkin sesederhana; "memang bukan jodohnya".

Tapi ada satu hal yang rasanya perlu dikoreksi dari teori ini. Perempuan bukan seseorang yang berdiri di pinggir jalan menunggu taksi mana yang akhirnya berhenti di depannya. Dia juga punya kendaraan sendiri. Punya tujuan sendiri. Punya waktu sendiri. Punya jalan-jalan yang ingin ditempuh dan tempat-tempat yang ingin dituju. Kadang kita bertemu seseorang dan ternyata ingin pergi ke arah yang sama. Menyenangkan sekali kalau waktunya juga tepat. Tapi kalau ternyata tidak, mungkin kita tidak perlu terus berdiri di persimpangan sambil berharap suatu hari ia akan berbalik arah. Biarkan dia pergi. Kita juga punya perjalanan. Karena pada akhirnya, mungkin masalahnya bukan siapa yang berdiri di sana ketika lampu taksinya menyala. Tapi apakah kita benar-benar mau menghabiskan hidup dengan menunggu taksi seseorang, sementara kendaraan kita sendiri sejak tadi sudah siap berangkat.

 

Minggu, 16 Agustus 2026

HIDUPLAH, TETAPLAH HIDUP...


Selama diklat PKP yang saya ikuti dalam waktu satu bulan ini, ada satu widyaiswara yang menurut saya sangat menarik. Namanya Pak Budi (there’s a lot of Pak Budi, oleh karena itu izin namanya saya cantumkan di blog ini ya Pak hehehe…).

Beliau menarik karena ternyata sangat suka baca buku. Range bacaan bukunya pun sangat random dan beragam, dari mulai epos Mahabarata sampai Sapiens-nya Yuval Noah Harari. Saya juga suka baca buku, tapi kemudian setelah bertemu dengan beliau, saya mengakui bahwa saya hanya sekedar “membaca” saja, menelusuri rangkaian alfabet yang tercetak di lembaran kertas, untuk kemudian sekedar tahu dan sekedar mengagumi kedalaman pikiran si penulis serta kemampuannya menuliskan isi pikiran ke dalam tulisan (yang saya tahu itu tak mudah). Sudah, sampai situ saja. 

Tapi Pak Budi ini lain. Beliau banyak membaca dan rangkaian pengetahuannya itu ia susun menjadi pemahaman yang mendalam, menjadi makna yang kemudian ia bagikan, sesederhana kepada peserta pelatihan atau jamaah solat jumat di mesjid. Butiran-butiran makna itu, saya yakin ada yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri pendengarnya, tapi saya yakin juga, ada yang kemudian terukir di benak, menggugah dan memotivasi. Dan saya sepertinya termasuk yang juga termotivasi.

Saya masih ingat, pertemuan kedua klasikal hari itu. Beliau memang kadang suka random, dimulai dari kisah apa lalu entah kemana arah ceritanya. Saat itu kebetulan yang diceritakan adalah satu ayat Qur’an yang kurang lebih artinya: “Dan tidaklah Kami menciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah”. 

Satu ayat itu ia maknai sebagai pemahaman bahwa sebenarnya perintah ibadah pertama yang harus kita jalani itu satu: untuk tetap hidup, karena nyawa adalah juga amanah, dan karena itu harus kita jaga sebaik mungkin. Itulah alasannya, kenapa orang sakit harus berobat dan kenapa orang sehat harus menjaga kesehatannya, karena itu adalah perintah pertama: untuk tetap hidup sampai ujung waktu yang ditetapkan Sang Pencipta.

Di penghujung kisah, Pak Budi cerita kalau ada salah satu jamaahnya yang selesai ceramah mendekati beliau dan mengucapkan terima kasih. Jamaah ini sudah bertahun-tahun cuci darah dan merasa hampir kehilangan semangat, dan apa yang disampaikan Pak Budi ini memberikan motivasi.

Sejujurnya untuk saya juga. 

Hidup kadang terasa seperti sesuatu yang diberikan begitu saja, sesuatu yang take it for granted. Hingga kadang ketika ada masalah yang menghimpit jiwa, solusi pertama yang terpikir ketika semua pintu seolah tertutup adalah mengakhiri hidup begitu saja. Dan disini saya tak hendak bicara tentang mental yang pengecut atau jauhnya jarak dari Tuhan, karena bukankah depresi itu valid dan terbukti secara ilmiah. Struktur otak orang dengan depresi, berbeda dari susunan otak yang normal, artinya penyakit depresi itu sama nyatanya dengan penyakit fisik yang lain. 

Pada titik tertentu, membunuh diri sendiri atau memutuskan melanjutkan hidup, keduanya adalah alternatif pilihan yang sama-sama memerlukan keberanian yang tidak sedikit. Meskipun saya setuju dengan apa yang dikatakan Albert Camus: "pada akhirnya dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk hidup dibandingkan untuk bunuh diri".

Dan apa yang disampaikan Pak Budi siang itu sungguh menjadi pengingat untuk saya. 

Hiduplah dulu, apapun yang terjadi, berupayalah untuk tetap hidup. 

Minggu, 19 Juli 2026

BERDAMAI DENGAN AUTOIMUN




Sudah dua minggu tapi demam saya tak turun-turun. Pusing, lemas, dan paling parah ada benjolan besar di paha atas sebelah kiri. Tiap jalan saya kesakitan. Sudah ke dokter, dan obat juga sudah habis, tapi kepala saya tetap terasa seperti pendiangan yang menyimpan sekam, tulang-tulang rasanya ngilu, makan tak enak, dan entah bagaimana badan saya rasanya lelah tak berkesudahan, bahkan setelah tidur semalaman.

Tak enak karena sebelumnya juga sudah izin sakit, saya memaksakan tetap masuk kerja. Tapi jadinya begitu, sehari masuk besoknya tidak. Untungnya direktur saya luar biasa baik. 

Hari Kamis di pekan kedua saat sedang demam-demamnya, sudah waktunya untuk saya kontrol kawat gigi ke dokter ortho. Dengan badan yang sudah tak karuan, saya memaksakan berangkat dari Jakarta ke RSGM Unpad. Entah bagaimana, sesampainya di  rumah sakit gigi, saya merasa kedinginan. Padahal kata pasien sebelah, suhunya biasa saja. Saya coba tahan sampai selesai perawatan. Keluar dari ruangan, ternyata dinginnya menghebat, gigi saya gemeletuk dan badan menggigil. 

Melihat panas terik di luar, dengan sengaja saya menantang matahari, berjemur di tempat paling panas sambil menunggu gojek. Anehnya, saya masih kedinginan, sampai handphone yang dipegang untuk melihat titik map babang gojek juga ikut gemetar. Dan begitulah, sampai rumah saya langsung ambruk. 

Di tempat tidur, saya masih merasa luar biasa dingin padahal sudah pakai sweater dan kaos kaki  sebelum dibalut tiga lapis selimut tebal-tebal. Anehnya, meskipun kaki saya dingin seperti orang mati, tetapi dahi dan nafas saya luar biasa panas. Ibu khadimat di rumah sudah menangis sambil mijitin kaki saya :”Teteh, jangan sakit kasihan anak-anak, hayu Ibu antar ke rumah sakit”, saya yang juga sibuk menahan ngilu dan sakit kepala tentu saja tidak bisa menenangkan Ibu. Anehnya lagi, saat itu saya juga malas ke rumah sakit, karena dua dokter sebelumnya yang saya kunjungi hanya memberi antibiotik dan penurun demam yang ternyata sama sekali tak mempan.

Entah bagaimana saya berhasil melewati malam itu, tapi di hari Sabtunya saya tak tahan lagi, dan akhirnya saya memaksakan diri  langsung ke spesialis penyakit dalam. Baru dilihat sebentar, saya langsung dirujuk untuk opname hari itu juga.

Begitu masuk ruang opname, kondisi badan saya memburuk, tiba-tiba saja muncul bintik-bintik merah yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Bintik-bintik merah itu kemudian menjadi ungu, dan gatal-gatal mulai terasa terutama di daerah telapak tangan dan kaki. Dokter visit tak pernah bilang saya sakit apa, tapi rasanya setiap hari darah saya diambil untuk segala jenis tes. 

Awalnya saya pikir penyebab penyakit saya adalah benjolan di paha. Sempat curiga, apakah mungkin itu tumor atau malah kanker. Karena dengan riwayat ibu kandung yang menderita penyakit kanker sampai wafat, saya memang cukup takut dengan penyakit itu. Alhamdulillah, ternyata bukan, meskipun kemudian vonis dokter tak bisa dibilang melegakan juga: saya divonis menderita autoimun dengan jenis vasculitis (radang pembuluh darah).

Dua minggu di rumah sakit, bintik-bintik ungu saya membaik, mulanya dari ungu kembali merah, sebelum kemudian memudar. Demam membandel yang tak turun-turun juga akhirnya menyerah dihantam obat yang terus menerus diberikan berjeda pada jadwal yang sama. 

Keluar dari rumah sakit, ternyata badan saya tak langsung pulih, saya tak sanggup bahkan berjalan dari kamar ke ruang makan, jangankan berjalan, sekedar melipat selimut atau membuka tutup botol pun tenaga saya tak ada. Akhirnya hanya bisa rebahan saja di tempat tidur. Hampir dua bulan saya tak masuk kerja. Dan sejak saat itu, hidup saya berubah.  

Hal pertama yang saya sadari, hidup saya kini bergantung pada obat. Ada dua jenis obat yang diberikan oleh dokter: metil prednisolone dan calcium lactate. Belakangan saya baru tahu bahwa metil prednisolone ini adalah obat jenis kartikosteroid yang berfungsi menekan produksi hormon kortisol dalam tubuh. Dan ternyata penggunaan dalam waktu panjang akan memberikan banyak efek samping, dan salah satu yang paling mengganggu adalah moon face serta meningkatnya nafsu makan.

Rasanya saya jadi lapar terus, hingga akhirnya makan dalam porsi banyak dengan frekuensi sering hingga otomatis berat badan saya naik. Tapi penggendutan paling signifikan hanya terlihat di perut dan muka saja. Awal masuk kerja, saya seperti perempuan yang sedang hamil 5 bulan, hingga akhirnya saya pakai gamis ke tempat kerja bukan karena mendadak sholehah, tapi karena baju-baju kerja saya tak muat terutama di bagian pinggang. 

Muka saya juga membulat, istilahnya moonface, hidung saya yang memang tak mancung ini jadinya semakin membelesak karena pipi yang seperti bakpao. Gendut yang tak sehat karena entah bagaimana kulit saya jadi menghitam dengan bibir yang juga tampak gosong. Seorang professor farmasi yang menjadi salah satu direktur di kantor bahkan sampai komentar :“Badan kamu retensi air, karena minum obat kortikosteroid ya”.

Begitulah, pekan-pekan awal masuk kerja pun sebetulnya badan saya belum pulih sempurna, betul-betul saya menghemat tenaga, kemana-mana naik grabcar untuk menghindari jalan kaki. Saya menyadari betul bahkan sekedar membawa tas ransel berisi laptop dan tumbler minum saja, saya sudah kelelahan luar biasa, apalagi mengerjakan hal-hal lain yang mengeluarkan tenaga.

Perlu waktu berbulan-bulan untuk saya kembali percaya diri berjalan kaki lagi dan naik MRT ke tempat kerja. Pelan-pelan sekali. Saya yang biasanya sebelum sakit  selalu naik turun di seluruh tangga MRT yang curam dan banyak,  pasca sakit terpaksa berdamai dengan naik eskalator atau lift. Perlahan, saya mulai menaikkan intensitas jalan kaki, sebelum kemudian saya bersyukur karena akhirnya sanggup untuk jogging lagi keliling GBK. Tentu hanya jalan kaki saja, karena untuk kembali berlari saya tak tahu, akankah saya diberi kekuatan untuk suatu hari sanggup berlari lagi.

Dan kini tak terasa hampir satu tahun sudah sejak vonis autoimun itu.

Tentu ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Obat yang tak boleh putus, makanan tertentu yang harus dihindari dan yang paling terasa aktifitas yang harus dijaga. Lelah berlebihan atau kurang tidur sedikit saja badan saya ambruk, dan selalu setiap saya bandel dan memaksakan diri di luar kemampuan, tubuh saya seperti robot yang dipencet tombol shut down, terpaksa harus bed rest dan perlu waktu sampai berhari-hari bahkan sampai satu minggu untuk pemulihan.

Meski demikian saya masih mencoba untuk gwenchana.

Selama masih bisa buka laptop dan bekerja, saya anggap masih oke,  biarpun pada saat-saat tertentu harus sambil rebahan, biarpun harus sering terjeda untuk menghilangkan sakit kepala, pekerjaan-pekerjaan kantor tetap saya upayakan untuk selesai dengan baik.

Tak dipungkiri ada saat saya ingin mengeluh bukan hanya karena kondisi tubuh, tapi juga karena ingatan dan ketajaman pikiran yang kini menurun jauh. Saya kesulitan untuk mengingat detail, dan banyak hal yang begitu saja menggelincir dari ingatan. Saya juga kesulitan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Jika sebelumnya saya sanggup berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dengan cepat, sekarang saya menyadari bahwa saya sudah tidak sanggup lagi seperti itu. Benar-benar hanya bisa mengerjakan pekerjaan satu demi satu sampai selesai. 

Yang paling mengejutkan adalah bagaimana hal kecil sekalipun bisa mengganggu saya sedemikian. Misal, saya akan menulis jurnal, tiba-tiba saya sadar ballpoint saya hilang, pikiran saya akan terganggu sedemikian sampai ballpointnya ketemu atau sampai saya diberikan ballpoint yang lain sebagai pengganti. Saya belum mendapatkan bahan analisis yang cukup untuk kemudian menyimpulkan apakah ini salah satu symptoms atau malah akibat dari autoimun meskipun sekilas saya pernah baca peradangan kronis akibat penyakit autoimun dapat memicu ketidakseimbangan neurotransmitter (zat kimia otak) dan hormon stress yang pada akhirnya memicu gangguan kecemasan. 

Hal lain lagi yang saya sedihkan setelah sakit adalah sekarang saya sudah tidak bisa donor darah. Sebelumnya saya sangat rutin ikut donor, tapi belakangan secara tegas dokter menyatakan saya tak boleh sama sekali mendonorkan darah. Saya juga sudah tak bisa ikut olahraga Zumba lagi, padahal itu adalah hal yang paling saya sukai selain berlari. Sedih rasanya setiap harus melewatkan notifikasi ajakan Zumba dari instruktur saya yang luar biasa energik. Pernah sekali saya paksakan ikut, dan sesuai dugaan, sesudahnya saya langsung demam.

Dari buku When The Body Says No, Dr. Gabor Mate menyatakan bahwa penderita autoimun itu kebanyakan (hampir 80%) perempuan dan biasanya sebelum sakit ada empat karakteristik yang selalu muncul: 

1.    Lebih memikirkan perasaan orang lain daripada kebutuhan diri sendiri;

2.  Terlalu fokus pada tugas dan tanggung jawab sampai mengabaikan kebutuhan sendiri;

3.    Terlalu “baik’ dan cenderung menahan kemarahan yang sebetulnya ada;

4.    Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.

Karakteristik diatas adalah sifat orang-orang yang selalu membantu orang lain, sulit mengatakan tidak dan akhirnya menanggung beban emosi terus-terusan.

Jika ditanya lebih lanjut, ya betul sekali, empat karakteristik ini semuanya ada pada diri saya. Bukan berarti saya mengklaim diri sendiri sebagai orang baik, tapi memang betul, saya kesulitan sekali mengatakan tidak pada permintaan orang lain dan saya punya kecenderungan untuk selalu “membantu” dan juga merasa bertanggung jawab terhadap perasaan orang lain. 

Mental saya memang selemah permen Yupi, sampai pada satu titik saya sadar bahwa saya cenderung dimanfaatkan orang lain. Meskipun saya bersyukur kebanyakan teman-teman saya baik hati, tapi memang ada orang-orang tertentu yang dengan sadar selalu saya bantu sampai pada satu titik saya sakit dan stress sendiri.

Dan stress kronis ini sebetulnya sangat saya sadari sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tiba-tiba saja, saya menyadari, sudah bertahun-tahun sebenarnya saya mengalami kelelahan yang berlebihan, sudah bertahun-tahun juga sebetulnya saya mengidap penyakit kulit yang selalu saya nisbatkan akan kambuh setiap habis mencuci piring. Mungkin alergi sabun cuci piring, begitu pikir saya. Padahal mungkin itu adalah alarm pertama bahwa ada yang salah, tapi selalu saya abaikan sampai akhirnya tubuh saya tak mampu lagi menahan.

Seorang teman pernah berseloroh, mungkin sudah waktunya saya berusaha jadi Nikita Mirzani alih-alih terus soft spoken seperti Nikita Willy. Jika ingin marah, meledak saja, jika kecewa katakan saja terus terang, alih-alih selalu merasa bahwa semua ketidaksesuaian yang terjadi adalah salah saya sendiri. 

Sampai sekarang, jujur saja, saya belum bisa, dan mungkin memang masih menjadi PR besar saya untuk menemukan cara bagaimana mengelola emosi, kecemasan dan stress yang berlarut-larut. Karena sudah terbukti secara klinis, stress kronis melemahkan imun tubuh dan penyebab penyakit saya sepenuhnya adalah stress yang berkepanjangan. 

Saat ini yang bisa saya lakukan pertama-tama adalah menerima bahwa saya memang sakit. Kapasitas badan saya sudah tak bisa lagi seperti dulu, jika diumpamakan seperti batterai iPhone, sepertinya baterai health saya sekarang hanya 65%, tidak ada lagi super mom yang sanggup mengerjakan ini itu. Sudah waktunya untuk saya berhenti memaksakan diri.

Selanjutnya, saya akan belajar untuk mulai mengutamakan diri saya sendiri, belajar berkata tidak, dan meyakini bahwa perasaan orang lain bukan sepenuhnya tanggung jawab saya. Ini sulit, tapi saya akan belajar pelan-pelan.

Selanjutnya saya akan belajar untuk lebih banyak bersyukur. Dan ternyata memang banyak sekali hal yang harus saya syukuri. Lingkungan kerja yang menyenangkan, atasan yang luar biasa baik, pintar dan supportive. Anak-anak yang baik dan mandiri. Juga setiap hembusan nafas yang masih diberikan hingga detik ini. 

Setidaknya saya masih bisa produktif, masih bisa membaca, masih bisa memenuhi semua kebutuhan dasar diri saya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain, masih bisa menyediakan makanan di meja untuk keluarga saya, masih punya orang-orang yang menyayangi dan saya sayangi. Masih bisa terbangun pagi ini, masih tersedia makanan di meja, di rumah yang aman dan tenang serta bukan dalam situasi perang yang mencekam. Serta merta saya jadi teringat pada sebuah hadits:

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi).

 

Sekuat tenaga saya berupaya untuk berpikir bahwa tak ada lagi yang harus saya keluhkan. Mungkin ada banyak mimpi yang harus saya lepaskan, dan hal-hal yang harus saya relakan, tapi ya sudah, biarkan saja. Toh selama ini saya tidak sedang berlomba dengan siapa pun, selama ini saya hanya bertarung dengan standar dan target yang saya tetapkan sendiri.

Konon, autoimun tak bisa disembuhkan. Tapi tidak apa, bukankah hidup memang tak pernah berjalan sesuai dengan keinginan kita sepenuhnya. Seandainya hidup adalah sebuah meja judi raksasa, kita tak pernah tahu dan tak bisa memilih kartu seperti apa yang akan kita dapatkan dan harus kita mainkan, jadi ayo kita jalani dan syukuri saja.

 *Sesungguhnya sampai hari ini saya masih berusaha bersikap begitu, sungguh masih terus berusaha.

 

 

Resensi MERAWAT LUKA BATIN: Buku yang Tak Kunjung Selesai Dibaca

  Sudah hampir dua bulan buku  Merawat Luka Batin  karya dr. Jiemi Ardian ini menemani saya ke mana-mana. Masuk tas, dibawa ke kantor, menem...