Selama diklat PKP yang saya ikuti dalam waktu satu bulan ini, ada satu widyaiswara yang menurut saya sangat menarik. Namanya Pak Budi (there’s a lot of Pak Budi, oleh karena itu izin namanya saya cantumkan di blog ini ya Pak hehehe…).
Beliau menarik karena ternyata sangat suka baca buku. Range bacaan bukunya pun sangat random dan beragam, dari mulai epos Mahabarata sampai Sapiens-nya Yuval Noah Harari. Saya juga suka baca buku, tapi kemudian setelah bertemu dengan beliau, saya mengakui bahwa saya hanya sekedar “membaca” saja, menelusuri rangkaian alfabet yang tercetak di lembaran kertas, untuk kemudian sekedar tahu dan sekedar mengagumi kedalaman pikiran si penulis serta kemampuannya menuliskan isi pikiran ke dalam tulisan (yang saya tahu itu tak mudah). Sudah, sampai situ saja.
Tapi Pak Budi ini lain. Beliau banyak membaca dan rangkaian pengetahuannya itu ia susun menjadi pemahaman yang mendalam, menjadi makna yang kemudian ia bagikan, sesederhana kepada peserta pelatihan atau jamaah solat jumat di mesjid. Butiran-butiran makna itu, saya yakin ada yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri pendengarnya, tapi saya yakin juga, ada yang kemudian terukir di benak, menggugah dan memotivasi. Dan saya sepertinya termasuk yang juga termotivasi.
Saya masih ingat, pertemuan kedua klasikal hari itu. Beliau memang kadang suka random, dimulai dari kisah apa lalu entah kemana arah ceritanya. Saat itu kebetulan yang diceritakan adalah satu ayat Qur’an yang kurang lebih artinya: “Dan tidaklah Kami menciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah”.
Satu ayat itu ia maknai sebagai pemahaman bahwa sebenarnya perintah ibadah pertama yang harus kita jalani itu satu: untuk tetap hidup, karena nyawa adalah juga amanah, dan karena itu harus kita jaga sebaik mungkin. Itulah alasannya, kenapa orang sakit harus berobat dan kenapa orang sehat harus menjaga kesehatannya, karena itu adalah perintah pertama: untuk tetap hidup sampai ujung waktu yang ditetapkan Sang Pencipta.
Di penghujung kisah, Pak Budi cerita kalau ada salah satu jamaahnya yang selesai ceramah mendekati beliau dan mengucapkan terima kasih. Jamaah ini sudah bertahun-tahun cuci darah dan merasa hampir kehilangan semangat, dan apa yang disampaikan Pak Budi ini memberikan motivasi.
Sejujurnya untuk saya juga.
Hidup kadang terasa seperti sesuatu yang diberikan begitu saja, sesuatu yang take it for granted. Hingga kadang ketika ada masalah yang menghimpit jiwa, solusi pertama yang terpikir ketika semua pintu seolah tertutup adalah mengakhiri hidup begitu saja. Dan disini saya tak hendak bicara tentang mental yang pengecut atau jauhnya jarak dari Tuhan, karena pada titik tertentu, membunuh diri sendiri atau memutuskan melanjutkan hidup, keduanya adalah alternatif pilihan yang sama-sama memerlukan keberanian yang tidak sedikit.
Dan apa yang disampaikan Pak Budi siang itu sungguh menjadi pengingat untuk saya.
Hiduplah dulu, apapun yang terjadi, berupayalah untuk tetap hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar