Selasa, 01 Desember 2015

APA YANG SEBAIKNYA DIBAWA SAAT MENENGOK IBU MELAHIRKAN?


“ Teman-teman mohon sarannya, apa yang sebaiknya dibawa saat menengok ibu melahirkan, kalau bisa sesuatu yang bermanfaat dan ngga akan digarselin :P “
Postingan salah satu teman di grup yang saya ikuti beberapa hari yang lalu ini entah kenapa cukup mengusik untuk saya. Mengusik, karena kalimat di akhirnya itu loh: tidak akan digarselin (keterangan: garsel=garage sale).
Jadi, grup yang saya ikuti ini, selain menjadi ajang untuk silaturahim antar alumni kampus juga membuka forum untuk anggota grup yang akan menjual barang-barang prelovednya, maka menjadi wajar jika barang-barang bekas kado yang didapat setelah melahirkan termasuk item yang cukup sering ditawarkan (dengan harga miring tentunya).
Kebetulan sekali, saya baru saja melahirkan dan Alhamdulillah juga mendapat banyak kado. Dari gendongan, tas bayi, baju-baju newborn sampai peralatan makan. Dan jujur saja, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pemberi kado, hampir sebagian besar dari kado-kado tersebut akhirnya hanya saya simpan. Bukan apa-apa, saya hanya merasa terlalu sayang jika kado-kado tersebut dibuka dan digunakan, sementara peralatan dede bayi sendiri sudah bisa dibilang cukup lengkap. Maka jadilah kado-kado tersebut hanya bertengger manis di lemari.
Apa yang saya alami, saya yakin demikianlah juga yang dialami oleh para ibu yang kemudian menggarsel kado-kado tersebut. Kebanyakan ibu-ibu sudah mempersiapkan segala sesuatu keperluan bayi mereka sebelum melahirkan. Maka memberikan lagi perlengkapan bayi mungkin sepertinya hanya akan berujung pada “disimpan di lemari dan (untuk kasus teman-teman di grup saya) akhirnya digarsel”. Sebagian berpendapat kurang etis menggarsel kado, sebagian lagi berpendapat itu sepenuhnya hak penerima kado. Tapi terlepas dari kontraversi pendapat diatas, postingan teman yang meminta saran apa yang sebaiknya diberikan pada ibu melahirkan agar tak digarsel cukup menarik untuk dibahas.
Jadi, apa yang sebaiknya diberikan pada ibu melahirkan?. =P
Mungkin hanya para ibu saja yang mengerti, pasca melahirkan seorang ibu akan merasakan kelelahan yang luar biasa. Bukan hanya secara fisik, tapi juga mental. Sebagian ibu bahkan sampai mengalami baby blues yang cukup akut. Maka menurut hemat saya, akan lebih baik jika kado yang diberikan adalah untuk si ibu alih-alih untuk si bayi. Misal makanan yang bisa jadi booster ASI, atau bisa juga voucher untuk spa atau perawatan diri di salon. Atau benda-benda yang memang sekiranya akan dibutuhkan oleh si ibu. Misal jika si ibu adalah ibu bekerja, tentu ia akan butuh pompa ASI, segambreng botol, dan tas khusus ASI untuk persiapan nanti jika bekerja kembali. Jika si ibu adalah ibu rumah tangga, saya yakin ia akan senang sekali jika mendapat aneka lulur atau rangkaian produk perawatan tubuh. Intinya berikanlah perhatian pada ibunya, bukan hanya pada bayinya. Jangan lupa, meski dari luar terlihat baik-baik saja, kondisi ibu pasca melahirkan itu tidak bisa dibilang sehat.
Jika misalnya tetap berkeras untuk memberikan kado buat si bayi pun, pilihlah sesuatu yang pasti akan digunakan, misal baju dan celana ukuran beberapa bulan lebih besar, karena baju-baju newborn pastilah sudah dipersiapkan si ibu. Bisa juga sepatu prewalker atau barang-barang yang akan digunakan dede bayi setelah agak besar.
Nah, itu kado untuk ibu melahirkan versi saya. Silakan jika mau menambahkan =D.

Minggu, 29 November 2015

TENTANG SEBUAH PERJALANAN


Perjalanan…

Selalu saja jadi bahan cerita yang menarik. Entah itu tentang kejadian yang terjadi selama perjalanan, kawan seperjalanan, atau sekedar mencari-cari bahan kritik untuk Menteri Perhubungan seputar moda transportasi yang digunakan selama perjalanan.

Dan menarik untuk diamati, perjalanan yang dilakukan dengan moda transportasi yang nyaman, cepat (dan berkonotasi mahal) memberikan cerita yang jauh lebih sedikit dari perjalanan yang dilakukan dengan moda yang murah.

Teman-teman yang menggunakan mobil pribadi, saya rasa lebih miskin cerita dari teman-teman yang naik angkot atau bus DAMRI. Seperti halnya Awan Diga yang menulis banyak Cerita-cerita Kereta selama ia naik kereta kaleng, tapi kemudian tak lagi berceloteh panjang lebar saat menggunakan moda lain yang jauh lebih baik.

Manusia, selamanya tentang manusia. Bukan tentang kesenangan dan kebahagiaan hidupnya. Tapi lebih kepada derita dan perjuangannya. Dan bagi sebagian orang, untuk melakukan perjalanan pun sudah menjadi perjuangan tersendiri.

Tak percaya?.

Cobalah untuk kawan yang kebetulan berada pada posisi saya (tinggal di Bandung tapi bekerja di Jakarta) untuk mengunjungi stasiun kereta Kiara Condong pukul 23.35 malam. Menurut jadwal, tepat pada jam itu kereta ekonomi menuju Jakarta akan transit di Stasiun Kiara Condong. Jangan heran jika kereta yang dimaksud baru tiba 2 jam kemudian, jangan heran juga jika setelah menunggu selama berjam-jam, kawan tak bisa naik karena kereta sudah penuh sesak dalam pengertian denotatif. Tapi jika kawan memaksa, masuk sajalah, tak usah bingung berpegangan dimana, karena guncangan kereta sehebat apapun tak akan sanggup membuat kawan terjatuh. Kawan akan ditahan oleh tubuh-tubuh yang berjajar rapat di sekelilingmu. Dan kawan harus bertahan dalam kondisi itu selama 4 jam hingga tak berhingga untuk sampai di stasiun Kota.

Dan herannya adaaaaa…. saja yang sanggup menahan kondisi itu dengan tetap memilih naik kereta penuh sesak itu...

Saya, jujur saja tidak. Alih-alih kereta ekonomi, saya lebih memilih naik bus AC ekonomi dari Cileunyi untuk menuju Jakarta. Memang cukup membosankan, mengingat kebanyakan penumpang (jika saya nilai dari pakaian dan bahasa tubuhnya), termasuk golongan menengah, tipikal pencari nafkah di ibukota, yang menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja, hingga tak punya cukup energi untuk melakukan hal-hal yang aneh.

Tapi kesan yang saya berikan untuk moda ini kemudian hancur berantakan oleh seorang wanita muda yang duduk persis di belakang saya. Sebut saja wanita ini bernama Y, saat pertama mendengar suaranya yang sedang berceloteh di belakang saya, saya menilai ia seorang peramah, ciri khas orang Priangan yang tak segan membuka percakapan dengan teman seperjalanannya. Setengah jam kemudian, dari logat dan topik yang ia pilih untuk dibicarakan, saya menilai ia seorang yang berpendidikan rendah. Mungkin ia bahkan tak tamat SMP. Dan satu jam kemudian, saya menilai ia mengalami gangguan jiwa.
 
Ia bernyanyi-nyanyi cukup keras dengan suara yang tak bernada, menirukan lagu-lagu dangdut terbaru yang ia dengar lewat earphone. Sayangnya ia tak sadar kalau dirinya buta nada. Suara cemprengnya yang meliuk datar dan hanya kenal keras dan pelan saja terasa begitu mengganggu di telinga saya, tapi ia tak peduli dan terus bernyanyi. Nyanyiannya baru berhenti ketika pria di pinggirnya mengajaknya ngobrol. Dan mengalirlah cerita itu.

Tentang ia yang ternyata orang Garut, yang ternyata janda dua kali dengan dua anak dari dua lelaki yang berbeda. Suami pertama meninggal karena kecelakaan, dan suami kedua kabur dengan wanita lain. Kedua anak menjadi tanggungannya, sedang ia sendiri tak punya ijazah cukup untuk melamar kerja. Akhirnya ia menjadi pegawai di sebuah tempat billyard di Jakarta. Dengan gaji tujuh ratus ribu rupiah per bulan, ia harus membayar sewa kamar, biaya makan selama di Jakarta sekaligus juga mengirimkan biaya untuk anaknya di kampung. Tujuh ratus ribu adalah jumlah yang absurd untuk mencukupi semua kebutuhan, maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menjual tubuhnya untuk mencari tambahan.

“Saya tak melakukannya tiap hari, hanya beberapa kali dalam seminggu itu pun dengan orang-orang tertentu saja”, katanya, mungkin diucapkannya untuk mencari pembenaran. Sambil sedikit mengeluh andai ada orang yang mau memperistrinya.

“Saya sengaja pulang karena ingin bertemu anak-anak saya, sudah hampir satu bulan saya belum menengok mereka. Kebetulan tadi siang saya menemani bos saya minum dan karaoke-an, saya dapat tips lima ratus ribu, cukup untuk ongkos pulang pergi dan bekal untuk kedua anak saya sekedarnya”.
Mendengar penuturannya, saya meralat penilaian saya, ia tak sakit jiwa, hanya sedikit mabuk tampaknya. Dan bukankah orang mabuk selalu bicara jujur.

Satu jam kemudian, saya tiba di tempat tujuan saya. Saat berdiri untuk mengambil barang bawaan di atas kursi, sedikit iseng saya melirik ke arahnya. Dan tampaklah ia menggelosor di kursinya, kini tertidur begitu pulas, rambutnya yang dicat merah menjuntai ke arah wajahnya yang tirus. Tak bisa dibilang cantik, tapi kaos ketat yang menonjolkan bagian dadanya mungkin bisa menutupi kekurangan wajahnya.

Alih-alih benci pada wanita ini yang mengaku terus terang dirinya adalah pelacur , saya merasa iba sekali. Mungkin ia pelacur, mungkin ia pendosa di mata alim ulama, tapi di mata saya ia hanyalah seorang ibu. Yang tak tahu lagi harus dengan cara apa menafkahi anak-anaknya. Maka dikorbankannya dirinya, perasaannya, demi beberapa lembar uang yang meski bukan segalanya, tapi dengan uanglah anak-anaknya bisa melanjutkan hidup.

Ia berkisah dengan nada yang datar, tak tersirat kegetiran sedikit pun. Tapi siapa yang tahu jika jiwanya hancur lebur. Tak ada wanita yang bercita-cita jadi pelacur. Meski pekerjaan ini sama tuanya dengan peradaban manusia. Ia contoh yang baik dari ”dialektika” yang disebut Walter Benjamin: seorang pelacur—seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri, seorang penjaja (Verkäuferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam satu tubuh. Ia buruh sekaligus bukan buruh.

Saat turun dari bis, satu perasaan sesak menghimpit hati saya. Tak berhak saya menghujat, apalagi menghina ia yang banyak dihujat sebagai seorang pendosa. Bukankah Allah sendiri yang berjanji, bahwa Ia tak akan membiarkan hamba-Nya yang menghina dosa saudaranya, mati sebelum diuji dengan dosa yang serupa. 

Saya tak menghina, tapi separuh hati saya bersyukur: Tuhan tak menempatkan saya dalam kondisi yang mendorong wanita itu menjadi seperti itu.

Lihatlah, bukankah jiwa ini begitu ringkih?.

PERTANYAAN TAK BERUJUNG


Seorang teman uring-uringan pada saya sepulang menghadiri acara keluarga yang rutin diadakan setahun sekali. Apa pasal?, sudah bertahun-tahun ini ia selalu datang sendirian dan menjadi sasaran empuk pertanyaan sadis berupa samurai berwujud kata-kata: “Kapan menikah?”.
Awal-awal mendapat pertanyaan begitu, ia masih bisa tersenyum geli dan berkelit dengan alasan masih ingin mengejar karir, tapi tahun demi tahun, saat usianya merambat naik tanpa disadari, saat satu persatu teman-teman seangkatan meninggalkannya menuju gerbang bernama pernikahan, saat ia menjadi satu-satunya orang yang datang sendirian dalam setiap acara yg selayaknya dihadiri bersama pasangan, ia pun perlahan kehilangan kata-kata untuk berdalih.
Dan acara keluarga menjadi prioritas terakhir dalam jadwalnya bahkan kalau memungkinkan tak perlulah untuk datang, yah untuk apa, ungkapnya padaku, jika setiap acara selesai, ia selalu merasa depresi dan ingin bunuh diri. Ia bahagia dengan kesendiriannya, enjoy dan santai saja, tapi jika ditanya langsung seperti itu ditambah dengan tatapan menuduh dan segudang saran untuk tidak terlalu pilih-pilih atau blablabla lainnya, mau tak mau kepikiran juga. Dan pertanyaan sederhana yang hampir berupa basa basi ringan itu justru menimbulkan tsunami di benak si tertanya, menimbulkan sederet tanda tanya lain yang mau tak mau memporakporandakan kepercayaan dirinya, “iya ya, kenapa aku belum menemukan pasangan jiwaku, apa aku akan selamanya hidup kesepian, apa aku tak layak dicintai, apa aku, bla bla bla….”.
Begitulah, pertanyaan berupa dua kalimat sederhana itu ternyata lebih dari cukup untuk membuatnya tak bisa tidur nanti malam, menghantuinya dengan bayang-bayang mengerikan tentang orang yang menikmati masa tuanya tanpa keluarga yang benar-benar dibangun dengan tali pernikahan.
Dan akulah yang menjadi tempat penampungan terakhir keluh kesahnya.
Oke…aku sudah menikah, aku belum pernah merasakan bagaimana menjengkelkannya ditodong dengan pertanyaan seperti itu, karena aku menikah di usia sangat muda. Tak banyak kata-kata yang bisa kuucapkan sebagai penawar kegalauannya. Tapi jika masih boleh berargumen, ingin sekali aku bilang : “Apakah setelah menikah lantas semuanya beres begitu saja”. Orang yang rajin menanyakan pertanyaan itu pun belum tentu lebih bahagia hidupnya dari yang ditanya, siapa tahu ternyata ia menikahi seorang psikopat atau diselingkuhi pasangan hidupnya atau apalah sederet masalah rumah tangga lainnya. Lantas kenapa pertanyaan itu seolah menjadi salah satu pendorong bagi banyak orang untuk terburu-buru menikah, hingga akhirnya malah menyesali pilihan yang memang diambil karena mengejar tenggat usia –ideal-untuk-menikah?. Kenapa demi menghindari sebutan bujang lapuk, perawan tua atau tak laku-laku, lantas harus mempertaruhkan kebahagiaan seumur hidup dengan menikahi siapa saja.
Padahal saya yakin pertanyaan itu tak lantas akan berhenti, karena setelah menikah pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan lainnya, “Kapan punya momongan?”, setelah lahir anak pertama akan muncul lagi pertanyaan :”kapan punya anak kedua?”, lalu jika si anak sudah tumbuh dewasa ada lagi pertanyaan: “kapan punya mantu?”, “Kapan punya cucu?”, meski saya yakin tak akan ada orang yang bertanya “Kapan mati?”.
Entahlah, pertanyaan-pertanyaan annoying ini kebanyakan hanya berupa basa basi dalam lingkup pergaulan kita, sebagian lebih karena tak ada lagi topik yang bisa dijadikan bahan perbincangan. Tapi betapa pertanyaan-pertanyaan sambil lalu ini ternyata bisa menjadi media bullying mental yang sangat ampuh, meskipun jika diambil sisi positifnya kita jadi tahu bahwa menikah, punya anak, punya cucu, adalah standar kesuksesan dalam hidup bagi banyak orang. Bukankah agak jarang juga kita ditanya :”Kapan naik gaji, kapan beli mobil baru, atau bahkan kapan ganti istri :-P”.
Perkara terganggu atau tidak terganggu bukan ditentukan oleh pertanyaan tersebut, tapi bagaimana pikiran kita me-manage hal itu dan tetap optimis bahwa jalan yang diberikan oleh Tuhan saat ini (sendirian atau berpasangan) adalah yang terbaik untuk kita.
Sebuah bantal melayang ke kepalaku, “Gampang bilang gitu kalau ngga ngerasain sendiri”, tuntutmu padaku.
Dan aku hanya bisa mengangkat bahu, “Kalau kamu ditanya lagi ‘Kapan menikah?’ seperti itu senyumlah dan jawab saja, ‘Masih belum dipercaya untuk dapat yang terbaik, mohon do’anya saja’ :-D”

Minggu, 28 Juni 2015

Punya Anak Banyak, Salah Siapa?




Punya banyak anak di zaman sekarang ini adalah sebuah anakronisme a.k. menentang kelaziman a.k. siap-siap untuk dicemooh. Tak seperti ungkapan pada zaman dahulu:”Banyak anak, banyak rezeki”, pada masa sekarang pameo tersebut sudah tak lagi berlaku.
Tak sedikit komentar miring yang hinggap di telinga saya, saat tahu saya tengah hamil anak kelima. Dari mulai pernyataan standar seperti : “Emang ngga KB?”, atau “Lho, hamil lagi?, repot banget dong”, sampai yang ekstrim seperti:”Kamu kaya kucing ya, beranak terus”  atau “YA AMPUUUN,,,HAMIL LAGI???, kamu NGGA KASIAN ya sama kakak2nya, mereka kan masih BUTUH PERHATIAN”.
Atau bahkan kalimat-kalimat datar yang mungkin dimaksudkan untuk memberi perhatian, tapi sayangnya entah kenapa, terasa menyakitkan di telinga saya:
“Hamil anak kelima?, waah…kamu kaya ya, berani punya anak banyak, saya aja punya anak dua rasanya khawatir terus”, (ini kata salah satu profesor saya di kampus).
“Punya anak itu lebih baik dua aja tapi berkualitas dan jadi orang semua, daripada banyak-banyak tapi ngga keurus, biaya sekolah makin kesini makin mahal lo de…”, (kalau ini kata Uwa saya ).
Dan begitu banyak komentar lain yang jujur saja, terlalu menyakitkan untuk saya lupakan begitu saja. Seolah-olah punya banyak anak adalah dosa besar dan aib untuk sebuah keluarga. Perhatian tetangga pun rasanya jadi lebih intens, anak-anak terlihat kotor sepulang bermain layang-layang pun bisa langsung memancing komentar bagaimana mereka kurang terurus. Begitu pun juga perhatian dari saudara, satu saja anak terlihat lebih kurus, akan  langsung memancing nasihat bagaimana cara menyuapi anak dengan benar.
Ya, nasihat-nasihat yang mungkin bermaksud baik, tapi sayangnya karena  hati saya yang terlalu sensitif jadi malah terasa tak enak untuk didengar. Sama seperti kasus kemandulan, kasus terlalu subur pun jadi salah pihak wanita. Bagaimana saya kurang canggih menggunakan alat kontrasepsi, bagaimana saya terlalu lalai hingga akhirnya hamil lagi dan hamil lagi. Ah ya, di titik-titik terburuk, saya akan mengakui bahwa itu memang kesalahan saya, kenapa saya tak berani mengeluarkan uang banyak untuk membayar dokter kandungan terbaik agar saya tak perlu terus-terusan hamil.
Si pemberi komentar mungkin hanya mengatakan nasihat-nasihat itu sambil lalu, tapi efeknya untuk saya yang dikomentari ternyata luar biasa, kalimat-kalimat itu akan mengendap terus di kepala saya, hingga saya pun mulai menyalahkan diri sendiri, “iya, kenapa saya harus terus-terusan hamil, padahal saya belum mampu jadi orang tua ideal, benarkah anak-anak saya tak terurus, ah mungkin benar, saya hampir tak punya waktu untuk mengecek buku PR mereka setiap malam.”
Kalimat-kalimat itu begitu mengganggu, padahal kondisi tubuh saya yang sedang berbadan dua pun tak bisa untuk dikatakan benar-benar sehat. Repot?, memang repot, saya sendiri mengakui hal itu. Kuliah S2 saya belum lagi selesai, ditambah beban suami yang harus mengurus juga bisnis keluarga, (disamping pekerjaan beliau sebagai dosen), membuat saya mau tak mau harus mengambil alih semua tugas kuliah  doktoral beliau.
Bayangkan saya harus mengerjakan tesis, penelitian ilmiah dan disertasi sekaligus, berikut mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa khadimat. Kadang, saya juga masih harus terlibat membantu bisnis suami. Ada saat saya bertanya, kenapa Allah menitipkan saya amanat berupa anak terus menerus, padahal saya sendiri merasa  belum mampu. Ada saat-saat dimana saya menangis sendirian, saat cucian menumpuk, si sulung minta dibuatkan kostum seni,  anak kedua mencari pensil warna, yang ketiga berteriak-teriak mencari kaus kaki, dan yang keempat  kehausan meminta ASI, sementara tugas kuliah dikejar deadline. Ada saat-saat dimana saya merasa saya adalah seburuk-buruk orangtua, yang membiarkan diri sendiri hamil lagi dan hamil lagi, padahal yang sudah jelas ada di dunia pun belum sepenuhnya terpenuhi haknya.
Saat seperti ini betapa mudahnya untuk merasa terpuruk, saat anak pertama tak jadi juara kelas, saya akan berandai-andai jika saja saya punya anak satu atau dua saja, mungkin saya akan punya lebih banyak waktu untuk menemaninya belajar. Saat anak kedua lebih suka bermain game daripada bermain keluar, saya akan berandai-andai jika saja saya punya banyak waktu untuk menemaninya bermain aktifitas fisik, dan begitulah… banyak sekali kasus dimana saya menyalahkan diri sendiri dan berpikir keadaan akan lebih baik ketika saya punya sedikit anak.
Saat seperti inilah yang membuat saya melupakan karunia Allah yang lain. Saya lupa bagaimana Allah mengaruniai saya rahim yang kuat, hingga saat hamil, berkali-kali saya jatuh dari tangga, atau dari motor hingga sekujur tubuh saya babak belur sekalipun, janin dalam rahim saya sama sekali tak terganggu, sehat tak kurang suatu apapun. Padahal banyak teman saya yang mencuci sedikit lebih banyak dari biasanya saja sudah bisa membuat keguguran.
Saya juga lupa betapa Allah selalu memberi saya kemudahan setiap melahirkan, semua persalinan saya normal dengan waktu hanya dua jam dari kontraksi pertama ke waktu lahir, dan kesehatan yang selalu Allah berikan hingga dua hari pasca melahirkan pun saya langsung bisa beraktifitas seperti biasa. Padahal banyak yang saya kenal, dua hari di rumah sakit dari kontraksi pertama, barulah bayinya lahir, harus operasi pula. Jadilah si ibu  bed rest berminggu-minggu.
Saya lupa betapa semua anak saya sempurna secara fisik dan mental, padahal ada beberapa teman yang saya kenal diberi ujian anak yang kekurangan salah satu anggota tubuh atau pun kekurangan secara mental.
Dan yang paling krusial adalah, saya lupa betapa Allah memberi saya kemudahan untuk hamil lagi dan hamil lagi padahal tak sedikit pasangan yang berobat hingga menghabiskan uang ratusan juta dengan penantian hingga berbelas tahun hanya untuk kehadiran seorang bayi mungil di rumah mereka.
Betapa mudahnya untuk mengingkari nikmat Allah.
Sampai saya menemukan tulisan ini. Ya bukankah anak itu adalah hak Allah, maka terserah Allah-lah akan menitipkan amanat-Nya kepada siapa. Ada yang diberi kemudahan punya anak, ada juga yang diberi ujian untuk menunggu lama, tapi tak sedikit yang bahkan tak diberi sama sekali. Tapi bukankah semua adalah ketetapan-Nya, dan bukankah Ia tak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya.
Maka saat semua upaya untuk mengatur jarak kelahiran tak berhasil, saya yakin ada hikmah yang lebih besar di balik itu. Allah tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. dan saya yakin Allah tahu sejauh mana kapabilitas hamba-Nya menanggung beban.
Ia tahu saya bukan orang tua ideal, maka mungkin karena itulah Ia menitipkan lagi dan lagi amanat-Nya pada saya, untuk memicu saya agar terus belajar, agar saya menggenapkan kesabaran dan berproses menuju orang tua ideal. Maka yang perlu saya lakukan hanyalah memohon agar Ia memberi saya kekuatan dan membimbing saya dalam proses menjaga amanat yang dititipkan-Nya.
Jika dianalogikan, mungkin saya ini seperti anak SD yang harus mengikuti ujian siswa SMP padahal sang pemberi ujian tahu saya mampu menyelesaikan soal siswa SMP, maka yang harus dilakukan bukanlah bagaimana agar saya bisa melewatkan ujian SMP dan kembali ke ujian SD, tapi bagaimana memampukan diri sendiri menyelesaikan ujian SMP.
Ya Allah berat sekali tanggung jawab yang Engkau titipkan, maka mampukanlah hamba... 


*edisi mengingatkan diri sendiri.







Rabu, 01 April 2015

MUNGKINKAH MASUK S1 ITB TANPA BIMBEL?

Dulu, ketika saya masih remaja, saya sama sekali tidak berpikir bahwa kehidupanlah tempat belajar sesungguhnya, yang menguji siswanya setiap saat dan mereka harus lulus menempuh ujian ini.
-Old Shatterhand, dalam Winnetou Ketua Suku Apache, Karl May-

Bulan April, saya yakin menjadi permulaan dari bulan-bulan yang menyesakkan untuk adik-adik kita yang kini duduk di kelas terakhir Sekolah Menengas Atas. Ada ujian sekolah yang harus dihadapi, dilanjutkan dengan Ujian Nasional (UN), dan terakhir SPMB: pertarungan sebenarnya untuk masuk perguruan tinggi negeri favorit, yang saya yakin tak jauh-jauh dari ITB, UI, UGM, Unpad (*karena saya anak ITB, mohon diampuni jika ITB saya simpan di urutan pertama, haseeek…).
Tuntutan untuk lulus UN dengan nilai maksimal dan ambisi untuk masuk PTN favorit demi gengsi dan harga diri, telah menciptakan bisnis yang ternyata sangat menguntungkan, yaitu lembaga-lembaga bimbingan belajar yang menawarkan solusi-solusi praktis untuk mengisi soal ujian berikut garansi uang kembali jika tak lulus.
Memang canggih solusi-solusi praktis yang diajarkan bimbel ini, siswa diajari rumus cepat untuk menyelesaikan jenis soal tertentu. Lengkap dengan buku pintar yang berisi soal-soal tahun kemarin, setiap siswa dibekali strategi tercanggih untuk menghadapi UN ataupun SPMB. Bayaran yang diminta pun tak kalah canggih. Saya sempat tercengang saat menerima brosur dari salah satu bimbel tersebut yang dikirim ke rumah. Biaya untuk satu paket bimbingan dengan durasi tiga bulan lebih mahal dari biaya SPP kuliah saya selama satu tahun. Dan saya hanya bisa geleng-geleng kepala, saat adik saya memaksa ingin ikut bimbel dengan harga fantastis tersebut. Alasannya sederhana: semua temannya di kelas tiga ikut bimbel dan dia tak yakin bisa lulus ujian masuk ITB atau PTN favorit lainnya jika tak ikut bimbel.
Dan semakin tercengang pula saya saat pernyataan saya bahwa sangat mungkin sekali masuk ITB tanpa bimbel dianggap absurd dan mengada-ada. Padahal saya yang mengalami sendiri, tak pernah ikut bimbel, dan hanya satu kali ikut ujian SPMB tapi bisa langsung lulus masuk ITB. Sebagai tambahan saya hanyalah lulusan SMK Analis Kimia. Meskipun saya juara umum di Analis, tapi saya dididik untuk lebih mahir menentukan kadar air dalam suatu jenis makanan daripada menyelesaikan suatu soal termodinamika yang saya yakin sangat dikuasai oleh para siswa SMA. Tanpa maksud mendiskreditkan kurikulum, tapi bukankah mata pelajaran SMK  lebih beorientasi praktek daripada teori, sementara sebaliknya mata pelajaran di SMA lebih menekankan penguasaan konsep daripada praktek.
Dan SPMB adalah melulu soal teori, bukannya praktek. Jika saya bisa, maka apa yang harus dikhawatirkan adik saya yang bersekolah di SMA untuk tak lulus SPMB. Dilihat dari latar belakang pendidikan dasar pun dia sudah lebih satu poin dari saya.
Tapi ya itu, dengan keukeuh dia malah berargumen dia tak sepintar kakaknya, ditambah dengan sederet alasan mengenai jaman yang sudah berubah dan lain sebagainya. Akhirnya saya hanya bisa mengangkat bahu, terserah… Toh saya sudah coba menasihati, meski memang sudut pandang saya hanya melihat dari segi ekonomis saja. Sayang saja, jika uang dua puluh juta rupiah yang seyogyanya bisa untuk biaya di tahun pertama kuliah malah digunakan untuk bimbel tiga bulan.
Sebenarnya dulu pun alasan saya tak ikut bimbel, bukan semata karena alasan ekonomis, tapi lebih kepada upaya pembuktian terhadap diri sendiri. Termotivasi oleh sebuah buku berjudul Sekolah Itu Candu, karangan Roem Topatimasung, yang pada salah satu bagiannya menyatakan keraguannya pada sistem pembelajaran di sekolah pada zaman sekarang. Apakah pada masa sekarang ini pembelajaran dari sekolah formal belum cukup baik sehingga orang tua siswa bahkan masih perlu membayar mahal agar anaknya mengikuti segala macam bimbel. Kenapa pendidikan dikomersilkan sedemikian rupa padahal pada awal sejarahnya dulu, kata sekolah (bahasa Inggris: school), berasal dari bahasa Latin scholae  yang secara harfiah diartikan sebagai perintang waktu. Diceritakn oleh buku itu bahwa para pemuda Yunani dahulu biasa mengunjungi para filosof untuk belajar filsafat sebagai kegiatan perintang waktu. Perlahan-lahan kegiatan pengisi waktu tersebut menjadi sebuah lembaga resmi dan lambat laun sekarang malah menjadi sebuah bisnis.
Tersentuh oleh kalimat-kalimat pada buku tersebut, saya memasang target untuk diri saya sendiri, bahwa saya harus bisa masuk ITB tanpa ikut bimbel. Memang bukan mudah jalan yang saya tempuh kemudian. Seperti sebelumnya sudah saya ceritakan, saya bersekolah di SMK, landasan teori saya bisa dibilang minim, maka saya membuka-buka lagi semua buku mata pelajaran yang di SPMB-kan. Beruntung sekolah saya dahulu dekat dengan Perpustakaan Daerah sehingga saya tak kekurangan stok buku pelajaran.
Tak perlu saya ceritakan malam-malam panjang yang saya lalui dengan berusaha keras demi menguasai bahkan hanya sebuah rumus sederhana. Tak terhitung hari-hari muram dimana saya merasa jadi orang bodoh karena tak mengerti bagaimana cara memecahkan soal tertentu yang oleh bimbel bisa dengan satu-dua langkah tapi kenapa saya memerlukan jalan yang memutar dan berbelit-belit.
Lelah memang, ditambah dengan cemoohan dari teman-teman bahkan guru saya sendiri. Kenapa masuk SMK jika ingin kuliah, jangan pasang target tinggi-tinggi, ITB terlalu berat, cukuplah ambil D3 Unpad saja, dan sederet blablabla lainnya.
Semakin banyak cemoohan yang saya peroleh semakin kuat juga tekad saya. Semakin berkurang waktu tidur saya, semakin menumpuk buku yang harus saya baca. Ditambah dengan ujian sekolah, uji kompetensi dan ujian lain yang seakan tak ada habisnya, rasanya waktu berjalan begitu cepat karena tetiba saja saya sudah harus mendaftar SPMB dan menentukan pilihan hendak mengambil jurusan apa dan dimana.
Di detik-detik terakhir saya justru ingin mundur. Tak yakin dengan usaha keras yang telah saya tempuh bahkan dari dua tahun sebelumnya. Hampir saja saya tak membeli formulir karena tiba-tiba saja gelombang keraguan menyerang saya, bisakah saya?, adakah hasilnya semua kerja keras saya?.
Beruntung seorang teman menyadarkan saya, untuk tak mundur sebelum bertarung, untuk tetap mencoba dan berupaya yang terbaik entah akan seperti apa hasilnya. Dan majulah saya, dengan nekatnya menentukan dua pilihan jurusan. Keduanya ITB.
Saat tiba hari H, saya ingat bahkan gedung tempat ujiannya saja saya tak tahu. Hanya bermodal berangkat dua jam lebih pagi dan sedikit petunjuk arah yang saya dapat dari sopir angkot. Hati saya menciut ketika ngobrol dengan peserta ujian yang lain, ada yang diantar orang tuanya untuk survey lokasi  bahkan jauh-jauh hari sebelum hari ujian.
Jika sesama peserta ujian bertanya pilihan apa yang saya ambil, saya menjawab Unpad, semata karena saya ngeper, karena pernah saya jujur menjawab kedua pilihan saya adalah ITB, teman berbincang saya langsung berkomentar panjang tentang petunjuk memilih jurusan dari bimbel yang dia ikuti. Tolong, jangan buat hati saya ciut lagi.
Seusai ujian, peserta yang lain masih sempat membahas soal yang baru saja keluar berikut komentar tentang bagaimana soal tadi pernah keluar di SPMB tahun sekian sesuai dengan buku sakti dari bimbel apalah. Semakin tersungkurlah saya.
Di penghujung harapan saya akhirnya saya hanya bisa melakukan satu hal terakhir: berserah diri pada apapun ketetapan yang terbaik menurut Tuhan. Saya sudah berikhtiar semaksimal yang saya bisa, saya sudah berdoa semampu saya, maka yang saya punya sekarang hanya tinggal keyakinan bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.
Berbekal keyakinan itu saya lebih tenang menghadapi hari pengumuman. Ditambah dengan kabar baik bahwa saya sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan farmasi di wilayah Bandung Barat. Tak lulus SPMB pun tak apalah, berarti bukan nasib saya menjadi mahasiswa regular, maka mengambil kuliah nanti setelah bekerja pun tak apalah.
Dan ketika hari pengumuman tiba, upaya saya ternyata tak sia-sia, saya lulus diterima di ITB. Maka kembali pada pertanyaan awal, jika saya ditanya: “Mungkinkah masuk S1 ITB tanpa bimbel?”, jawaban saya tetap: “Mungkin, sangat mungkin”. Jangan berkecil hati jika tak punya uang untuk ikut bimbel. Pada akhirnya setiap upaya yang berawal dari kesungguhan hati akan selalu berbuah manis. Dan ketika sudah berupaya maksimal, serahkan semuanya pada ketetapan Allah, karena Ia tak akan salah menggariskan yang terbaik untuk hamba-Nya.

Selasa, 24 Februari 2015

SELALU ADA KESEMPATAN KEDUA

Beberapa waktu yang lalu, media sempat ramai dengan pemberitaan tentang Aceng Fikri, bupati Garut yang menikahi wanita di bawah umur, dan menceraikan wanita tersebut dengan cara yang kurang santun. Jika pemberitaan tersebut benar, maka meminjam kosakata anak gaul, Pak Aceng ini bisa saya sebut sebagai: “bad boy”. Beberapa waktu kemudian, saya bertemu lagi dengan pria asal Garut yang lain, sebut saja namanya X, tak disangka X ini pun ternyata tipikal pria bad boy juga. Saya mulai curiga, kenapa pria Garut yang saya ketahui semuanya bad boy. Secara kebetulan, sepupu saya baru saja patah hati karena calon suaminya yang juga orang Garut, ternyata baru ketahuan, lagi-lagi adalah seorang bad boy.
Saya pun mulai membangun deduksi dari fakta:
Aceng Fikri , orang Garut, bad boy.
X, orang Garut, bad boy.
Calon suami sepupu saya, orang Garut, bad boy.
Sahkah jika dari serangkaian fakta di atas, saya lantas mengambil kesimpulan bahwa semua pria Garut adalah bad boy?. Jika sepupu saya menemui lagi seorang pria Garut, bolehkah jika ia langsung menghakimi pria itu pun juga adalah seorang bad boy?.
Jika saya menjawab ya, maka saya jatuh pada kesalahan berpikir yang oleh Jalaluddin Rahmat disebut sebagai the dramatic of fallacy instance, kesalahan generalisir. Hanya karena tiga orang pria Garut yang saya temui semuanya bad boy, saya langsung memberikan cap bahwa semua pria Garut adalah bad boy.
Padahal bagaimana dengan sekian juta populasi pria Garut yang lain?. Hanya karena tiga sampel yang saya temui secara acak buruk, apakah lantas sekian juta sisanya pun jadi ikut buruk?.
Dalam ilmu statistik kita kenal yang namanya probabilitas atau peluang suatu kejadian. Probabilitas ini akan sangat dipengaruhi oleh keakuratan pengambilan sampel yang dilakukan. Tidaklah valid memutuskan sebuah kejadian akan seperti apa hanya berdasarkan sedikit sampel dari sekian banyak yang tersedia dalam ruang sampel, seperti halnya akan jauh dari kebenaran memutuskan kepribadian seseorang  seperti apa hanya berlandaskan sedikit contoh individu dari sekian banyak populasi. 
Selain keakuratan dalam pengambilan sampel, probabilitas ini pun akan sangat dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya. Variabel inilah yang memungkinkan adanya simpangan dalam setiap perhitungan statistik. Simpangan, atau standar deviasi, atau anomali yang akan mengesahkan adanya ketidaksesuaian dari perhitungan yang paling akurat sekalipun.
Maka saya tidak sepakat ketika ada seorang yang bertaruh bahwa penjahat ketiga akan mengulangi kejahatan serupa, hanya karena dua penjahat terdahulu mengulangi kejahatannya setelah sekali dimaafkan.
Saya percaya selalu ada kesempatan kedua, dan siapa tahu ada variabel yang membuat si penjahat ketiga justru bisa lebih saleh dari sang hakim sendiri. Siapa tahu.

Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI

Judul Buku                 : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Penulis                         : Yusi Avianto Pareanom Penerbit         ...