Selasa, 01 Desember 2015
APA YANG SEBAIKNYA DIBAWA SAAT MENENGOK IBU MELAHIRKAN?
Minggu, 29 November 2015
TENTANG SEBUAH PERJALANAN
Perjalanan selalu saja menyediakan cerita.
Kadang tentang tempat yang dituju. Kadang tentang kejadian sepanjang jalan. Tapi sering kali justru tentang orang-orang asing yang kebetulan duduk beberapa jengkal dari kita selama beberapa jam, lalu setelah itu mungkin tidak akan pernah kita temui lagi seumur hidup.
Anehnya, perjalanan yang nyaman biasanya memberi saya lebih sedikit cerita. Mungkin karena ketika naik kendaraan yang nyaman, kita sibuk dengan dunia sendiri. Duduk, tidur, membaca, lalu tiba. Sementara dalam angkot, bus, atau kereta ekonomi, dunia orang lain seperti tidak punya cukup sekat untuk menjauh dari kita. Percakapan terdengar. Keluhan terdengar. Tangisan anak terdengar. Kadang bahkan kehidupan seseorang yang sama sekali tidak kita kenal ikut terdengar.
Dan pada suatu perjalanan Bandung–Jakarta, saya mendengar kehidupan seorang perempuan dari kursi tepat di belakang saya. Saya sebenarnya sudah cukup lama menjalani perjalanan Bandung–Jakarta. Kereta ekonomi pernah saya coba. Datang ke Stasiun Kiaracondong menjelang tengah malam, menunggu kereta yang entah kapan datangnya, lalu ketika akhirnya tiba mendapati gerbong begitu penuh sampai rasanya hukum gravitasi tidak lagi berlaku. Tidak perlu mencari pegangan. Tubuh-tubuh manusia di sekeliling sudah cukup untuk membuat kita tetap berdiri.Dan dalam kondisi seperti itu perjalanan menuju Jakarta masih harus ditempuh berjam-jam.
Saya menyerah. Saya memilih bus AC ekonomi dari Cileunyi. Lebih nyaman. Lebih manusiawi. Dan biasanya lebih membosankan. Sampai suatu hari seorang perempuan muda duduk persis di belakang saya. Sebut saja wanita ini bernama Y, saat pertama mendengar suaranya yang sedang berceloteh di belakang saya, saya menilai ia seorang peramah, ciri khas orang Priangan yang tak segan membuka percakapan dengan teman seperjalanannya. Setengah jam kemudian, dari logat dan topik yang ia pilih untuk dibicarakan, saya menilai ia seorang yang berpendidikan rendah. Mungkin ia bahkan tak tamat SMP. Dan satu jam kemudian, saya menilai ia mengalami gangguan jiwa.
Ia bernyanyi-nyanyi cukup keras dengan suara yang tak bernada, menirukan lagu-lagu dangdut terbaru yang ia dengar lewat earphone. Sayangnya ia tak sadar kalau dirinya buta nada. Suara cemprengnya yang meliuk datar dan hanya kenal keras dan pelan saja terasa begitu mengganggu di telinga saya, tapi ia tak peduli dan terus bernyanyi. Nyanyiannya baru berhenti ketika pria di pinggirnya mengajaknya ngobrol. Dan mengalirlah cerita itu.
Y berasal dari Garut. Ia pernah menikah dua kali dan mempunyai dua anak dari dua pernikahan tersebut. Suami pertamanya meninggal karena kecelakaan. Pernikahan keduanya berakhir setelah suaminya pergi dengan perempuan lain. Dua anaknya tinggal di kampung. Sementara Y bekerja di Jakarta.
Kedua anak menjadi tanggungannya, sedang ia sendiri tak punya ijazah cukup untuk melamar kerja. Akhirnya ia menjadi pegawai di sebuah tempat billyard di Jakarta. Dengan gaji tujuh ratus ribu rupiah per bulan, ia harus membayar sewa kamar, biaya makan selama di Jakarta sekaligus juga mengirimkan biaya untuk anaknya di kampung. Tujuh ratus ribu adalah jumlah yang absurd untuk mencukupi semua kebutuhan, maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menjual tubuhnya untuk mencari tambahan.
“Saya tak melakukannya tiap hari, hanya beberapa kali dalam seminggu itu pun dengan orang-orang tertentu saja”, katanya, mungkin diucapkannya untuk mencari pembenaran. Sambil sedikit mengeluh andai ada orang yang mau memperistrinya.
“Saya sengaja pulang karena ingin bertemu anak-anak saya, sudah hampir satu bulan saya belum menengok mereka. Kebetulan tadi siang saya menemani bos saya minum dan karaoke-an, saya dapat tips lima ratus ribu, cukup untuk ongkos pulang pergi dan bekal untuk kedua anak saya sekedarnya”.
Kalimatnya sederhana. Diucapkan datar. Tidak ada tangisan. Tidak ada permintaan dikasihani. Ia hanya sedang menceritakan hidupnya kepada seseorang yang kebetulan duduk di sebelahnya. Sementara saya yang duduk di depan malah tidak bisa berhenti mendengarkan.
Satu jam kemudian saya sampai di tujuan. Ketika berdiri untuk mengambil barang bawaan, untuk pertama kalinya saya menoleh dan benar-benar melihat perempuan yang sejak tadi hanya saya kenal melalui suaranya. Y sudah tertidur. Tubuhnya menggelosor di kursi. Rambut yang dicat kemerahan jatuh menutupi sebagian wajahnya. Dan entah kenapa, semua penilaian yang saya buat tentang dirinya sejak awal perjalanan terasa memalukan.
Beberapa jam sebelumnya saya sudah begitu sibuk mengategorikannya. Ramah. Tidak berpendidikan. Berisik. Aneh. Mabuk. Lalu setelah mengetahui pekerjaannya, saya hampir saja menambahkan satu label lagi. Satu kata yang begitu mudah diucapkan. Begitu pendek. Tapi rupanya terlalu kecil untuk menampung seluruh kehidupan seseorang.
Sebab perempuan yang tertidur di belakang saya itu juga seorang anak dari seseorang. Pernah menjadi istri. Pernah kehilangan suami. Pernah ditinggalkan. Dan yang paling memenuhi pikirannya dalam perjalanan itu ternyata sederhana: ia sedang pulang menemui anak-anaknya.
Saya tidak tahu seluruh cerita Y. Saya hanya mendengar percakapannya beberapa jam dalam sebuah bus. Mungkin ada bagian yang tidak ia ceritakan. Mungkin ada pilihan-pilihan dalam hidupnya yang tidak akan saya pahami atau setujui. Dan saya rasa saya juga tidak perlu mengubahnya menjadi tokoh suci hanya karena merasa iba. Tapi siang itu saya belajar betapa mudahnya menilai sebuah kehidupan ketika kita hanya melihat hasil akhirnya, tanpa mengetahui jalan panjang yang membawa seseorang sampai ke sana.
Kita melihat pekerjaan seseorang. Tidak melihat kelaparan yang mendahuluinya.
Melihat pilihan buruknya. Tidak melihat pilihan-pilihan yang tersedia ketika ia harus memilih.
Melihat dosanya. Tapi tidak tahu ketakutan apa yang ia bawa pulang setiap malam.
Bukan berarti keadaan selalu membenarkan setiap pilihan. Hanya saja, mengetahui sedikit lebih banyak tentang kehidupan seseorang sering membuat kata “menghakimi” terasa jauh lebih berat.
Selama perjalanan, Y berkisah dengan nada yang datar, tak tersirat kegetiran sedikit pun. Tapi siapa yang tahu jika jiwanya hancur lebur. Tak ada wanita yang bercita-cita jadi pelacur. Meski pekerjaan ini sama tuanya dengan peradaban manusia. Ia contoh yang baik dari ”dialektika” yang disebut Walter Benjamin: seorang pelacur—seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri, seorang penjaja (Verkäuferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam satu tubuh. Ia buruh sekaligus bukan buruh.
Selama ini saya menerimanya hanya sebagai teori belaka. Siang itu ia punya wajah. Seorang perempuan berambut kemerahan yang tertidur kelelahan di kursi bus Bandung–Jakarta, membawa sebagian uang hasil kerjanya pulang untuk dua anak yang sudah hampir sebulan tidak ditemuinya. Saya turun dari bus dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan karena tiba-tiba merasa memahami Y. Saya tidak memahami hidupnya. Barangkali saya tidak akan pernah bisa.
Saya hanya mendadak sadar betapa beruntungnya saya tidak pernah berada pada keadaan yang membuat pilihan-pilihan dalam hidup terasa sesempit itu. Dan kesadaran tersebut tidak membuat saya merasa lebih baik darinya. Justru sebaliknya.
Ia membuat saya bertanya: kalau kehidupan menempatkan saya pada tubuhnya, kemiskinannya, kehilangan-kehilangannya, dua anak yang harus diberi makan, dan pilihan-pilihan yang tersedia baginya— apakah saya yakin akan menjalani hidup dengan lebih baik?.
Saya tidak tahu.
Dan mungkin karena saya tidak tahu, saya sebaiknya lebih berhati-hati ketika hendak menilai hidup orang lain. Bus melanjutkan perjalanan setelah saya turun. Y ikut pergi bersamanya. Saya tidak pernah bertemu perempuan itu lagi. Tapi bertahun-tahun kemudian, saya masih mengingatnya. Bukan sebagai perempuan yang bernyanyi terlalu keras. Bukan sebagai perempuan dari tempat biliar. Bukan pula sebagai pekerja seks. Saya hanya mengingat seorang ibu yang sedang dalam perjalanan pulang menemui anak-anaknya.
Dan anehnya, dari semua orang yang pernah menjadi kawan seperjalanan saya, justru perempuan yang tidak pernah tahu bahwa saya mendengarkan ceritanya itulah yang mengajari saya untuk lebih rendah hati. Kita sering kali hanya melihat sepenggal kecil kehidupan seseorang, lalu merasa sudah cukup tahu untuk menilai keseluruhannya. Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu jalan seperti apa yang telah ia tempuh, pilihan apa yang tersedia baginya, atau luka apa yang diam-diam dibawanya.
Mungkin karena itulah, sebelum menghakimi seseorang, ada baiknya kita mengingat satu kemungkinan sederhana: seandainya hidup menempatkan kita persis di tempatnya, belum tentu kita akan menjalaninya dengan lebih baik.
KAPAN MENIKAH?
Seorang teman uring-uringan sepulang menghadiri acara keluarga yang rutin diadakan setahun sekali.
Apa pasal?
Sudah bertahun-tahun ia selalu datang sendirian dan, seperti biasa, menjadi sasaran empuk pertanyaan yang mungkin bagi penanyanya cuma basa-basi, tapi bagi yang ditanya bisa setajam samurai:
“Kapan menikah?”
Awal-awal mendapat pertanyaan begitu, ia masih bisa tersenyum geli.
“Masih mau mengejar karier.”
“Belum ketemu yang cocok.”
“Atuh doain aja.”
Lalu tahun demi tahun berlalu.
Usianya bertambah. Satu per satu teman seangkatan berjalan menuju gerbang bernama pernikahan. Undangan datang silih berganti. Dan ia mulai menjadi satu dari sedikit orang yang hadir sendirian dalam acara-acara yang entah kenapa seperti mengharuskan setiap orang datang berpasangan.
Pelan-pelan ia kehabisan jawaban. Acara keluarga pun turun ke urutan paling bawah dalam daftar hal yang ingin didatanginya.
“Buat apa?” katanya kepada saya. “Setiap pulang malah stres.”
Padahal, katanya, dalam kehidupan sehari-hari ia baik-baik saja dengan kesendiriannya. Punya pekerjaan, teman, kegiatan, dan hidup yang cukup menyenangkan. Tapi rupanya bahagia sendirian dan ditanya terus-menerus kenapa masih sendirian adalah dua perkara berbeda. Apalagi kalau pertanyaan itu datang lengkap dengan tatapan prihatin dan nasihat yang tidak diminta.
“Jangan terlalu pilih-pilih.”
“Perempuan itu ada umurnya.”
“Nanti keburu tua.”
Atau kalimat-kalimat lain yang mungkin diucapkan dengan niat baik, tapi entah kenapa justru membuat orang yang mendengarnya mulai mempertanyakan hidup sendiri.
Iya ya, kenapa aku belum menemukan pasangan?
Apa aku terlalu pemilih?
Apa ada yang salah denganku?
Apa aku tidak layak dicintai?
Apa aku akan sendirian sampai tua?
Lalu sebuah pertanyaan yang dilontarkan dalam lima detik berhasil membuat seseorang memikirkannya sampai berjam-jam. Dan akulah yang sore itu menjadi tempat penampungan terakhir keluh kesahnya. Masalahnya, saya jelas bukan orang yang tepat untuk memberikan nasihat. Saya sudah menikah. Bahkan menikah terlalu muda. Saya tidak pernah mengalami bagaimana rasanya berusia sekian lalu berkali-kali ditodong pertanyaan “kapan menikah?” Jadi saya cuma mendengarkan. Tapi dalam hati saya berpikir:
Memangnya setelah menikah semua persoalan hidup selesai?
Belum tentu juga orang yang rajin bertanya “kapan menikah?” hidupnya lebih bahagia daripada orang yang ditanya. Siapa tahu rumah tangganya sendiri sedang jungkir balik. Siapa tahu pasangannya menyebalkan. Siapa tahu sedang diselingkuhi. Siapa tahu setiap malam tidur satu ranjang tapi sudah bertahun-tahun merasa sendirian. Menikah memang bisa menjadi salah satu sumber kebahagiaan. Tapi rasanya terlalu berlebihan kalau ia dijadikan semacam garis finis kehidupan, seolah orang yang belum sampai ke sana berarti tertinggal.
Apalagi kalau karena takut disebut perawan tua, bujang lapuk, terlalu pemilih, atau—yang paling menyebalkan—tidak laku, seseorang akhirnya merasa harus menikah dengan siapa saja yang kebetulan tersedia. Bukankah lebih baik terlambat menikah daripada terburu-buru memilih orang yang salah?. Lagipula, saya punya kabar buruk. Pertanyaannya tidak akan berhenti setelah menikah. =D
Setelah menikah:
“Kapan punya momongan?”
Sudah punya anak satu:
“Kapan nambah adik?”
Anaknya dua perempuan:
“Enggak mau coba lagi siapa tahu dapat laki-laki?”
Anak-anak sudah besar:
“Kapan punya mantu?”
Sudah punya mantu:
“Kapan nimang cucu?”
Begitu terus.
Untung sejauh ini belum pernah saya mendengar orang bertanya:
“Kapan mati?”
Mungkin karena yang ini bahkan basa-basi kita masih punya batas. =D
Entahlah.
Sebagian besar pertanyaan semacam itu mungkin memang tidak dimaksudkan untuk menyakiti. Kadang hanya karena kita kehabisan bahan pembicaraan dan kehidupan pribadi orang lain adalah topik paling mudah untuk digunakan.
Masalahnya, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang diperjuangkan orang yang kita tanya.
“Kapan menikah?” mungkin kita ucapkan kepada seseorang yang baru saja ditinggalkan orang yang ingin dinikahinya.
“Kapan punya anak?” mungkin kita tanyakan kepada pasangan yang sudah bertahun-tahun menjalani program kehamilan.
“Kapan nambah anak?” mungkin terdengar ringan bagi kita, tapi tidak bagi seseorang yang pernah kehilangan kandungan.
Mungkin karena itu, ada pertanyaan-pertanyaan yang sebaiknya tidak perlu ditanyakan hanya demi mengisi keheningan.
Toh masih banyak bahan obrolan lain.
Cuaca.
Makanan.
Pekerjaan.
Drama Korea.
Harga cabai.
Apa saja.
Dan untuk teman saya?
Saya tidak punya kalimat ajaib yang bisa membuat semua pertanyaan itu berhenti menyakitkan.
Saya juga tidak mau mengatakan, “Santai saja, jangan dipikirkan.”
Gampang sekali mengatakan begitu ketika saya tidak berada di posisinya. Saya cuma berharap ia tidak membiarkan pertanyaan orang lain berubah menjadi ukuran nilai dirinya sendiri. Belum menikah bukan berarti gagal. Menikah juga bukan berarti berhasil. Ada orang yang bahagia berpasangan. Ada yang bahagia sendiri. Ada yang sedang menunggu. Ada yang sedang mencari. Ada pula yang mungkin belum tahu ingin hidup seperti apa. Dan rasanya tidak semuanya harus selesai pada usia yang sama.
“Gampang ngomong begitu kalau enggak ngerasain sendiri,” protesnya.
Sebuah bantal melayang ke kepala saya. Saya cuma tertawa sambil mengangkat bahu.
“Iya juga sih.”
Lalu setelah berpikir sebentar saya bilang,
“Ya sudah. Kalau tahun depan ditanya lagi ‘kapan menikah?’, senyum saja.”
“Terus jawab apa?”
“Bilang: Belum tahu. Kalau Om/Tante tahu tanggal pastinya, kabarin saya ya. Biar saya sekalian booking gedung.”
Bantal kedua melayang. Ya sudahlah. Setidaknya sore itu dia tertawa. =D
Minggu, 28 Juni 2015
Punya Anak Banyak, Salah Siapa?
Punya banyak anak di zaman sekarang ini adalah sebuah anakronisme a.k.a menentang kelaziman a.k.a siap-siap untuk dicemooh. Setidaknya begitulah yang kadang saya rasakan. Ungkapan “banyak anak, banyak rezeki” yang dahulu begitu akrab di telinga, sekarang lebih sering digantikan dengan berbagai pertimbangan yang sebenarnya sangat masuk akal: biaya pendidikan, kesehatan, waktu, perhatian orang tua, sampai pertanyaan apakah kita sanggup memberikan kehidupan yang layak kepada setiap anak. Maka ketika saya hamil anak kelima, komentar pun berdatangan.
“Memangnya enggak KB?”
“Lho, hamil lagi? Repot banget dong.”
Ada pula yang lebih menusuk:
“Kamu kayak kucing ya, beranak terus.”
Atau,
“Ya ampuuun, hamil lagi? Enggak kasihan sama kakak-kakaknya? Mereka kan masih butuh perhatian.”
Ada juga komentar yang mungkin sebenarnya disampaikan karena perhatian.
“Hamil anak kelima? Wah, kamu kaya ya. Saya punya anak dua saja khawatir terus.”
Atau nasihat seorang Uwa:
“Punya anak mah dua saja tapi berkualitas dan jadi orang semua. Daripada banyak tapi enggak keurus. Biaya sekolah makin ke sini makin mahal, De.”
Kalau dipikir sekarang, mungkin sebagian orang memang tidak bermaksud jahat. Dan sebagian kekhawatiran mereka bahkan masuk akal. Punya banyak anak memang membutuhkan biaya, tenaga, waktu, dan perhatian yang tidak sedikit. Masalahnya, ketika sedang hamil, lelah, dan diam-diam saya sendiri sedang mempertanyakan kemampuan menjadi ibu, kalimat-kalimat itu masuk ke tempat yang paling rapuh.
Iya ya.
Kenapa saya hamil lagi?
Apa anak-anak saya kurang terurus?
Apa saya terlalu ceroboh?
Apa saya sebenarnya ibu yang buruk?
Pertanyaan orang lain akhirnya berubah menjadi pertanyaan saya kepada diri sendiri. Dan sejujurnya, memang tidak mudah. Saat itu kuliah S2 saya belum selesai. Pekerjaan rumah dikerjakan tanpa khadimat. Suami punya pekerjaan dan kesibukan lain. Anak-anak masih kecil dan membutuhkan hal berbeda pada waktu yang sering kali bersamaan.
Ada hari ketika cucian menumpuk, si sulung minta dibuatkan kostum untuk tugas seni, anak kedua mencari pensil warna, anak ketiga berteriak mencari kaus kaki, sementara si bungsu menangis minta ASI. Di saat yang sama, tugas kuliah mengejar deadline. Dan saya sedang hamil lagi.
Pada hari-hari seperti itu saya sering menangis sendirian. Bukan tangisan penuh hikmah. Bukan pula tangisan seorang ibu hebat yang kemudian tersenyum dan berkata semua akan baik-baik saja. Saya cuma capek. Kadang bahkan sangat capek.
Ada saat ketika saya bertanya kepada Tuhan: Kenapa Engkau menitipkan anak lagi ketika yang sudah ada saja rasanya belum mampu kujaga sebaik-baiknya?
Ketika anak pertama tidak menjadi juara kelas, saya berpikir mungkin kalau anak saya cuma satu atau dua, saya akan punya lebih banyak waktu menemaninya belajar. Ketika anak kedua terlalu banyak bermain game, saya membayangkan seandainya punya lebih banyak waktu, mungkin saya bisa lebih sering mengajaknya beraktivitas.
Begitu terus.
Setiap kekurangan anak terasa seperti bukti kegagalan saya sebagai ibu. Dan setiap kegagalan saya hubungkan lagi dengan jumlah anak. Mungkin karena itulah komentar orang begitu mudah melukai. Sebab jauh sebelum mereka meragukan kemampuan saya, sebenarnya saya sendiri sudah lebih dulu meragukannya.
Butuh waktu bagi saya untuk melihat semuanya dengan sedikit lebih jernih. Saya tidak harus berpura-pura bahwa mempunyai banyak anak selalu menyenangkan. Memang repot. Memang mahal. Memang melelahkan. Dan perhatian orang tua memang harus dibagi.
Mengakui semua itu tidak berarti saya kurang bersyukur kepada Allah atas kehadiran anak-anak saya. Justru mungkin saya baru bisa benar-benar bersyukur ketika berhenti memaksa diri mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Karena di tengah semua kerepotan itu, ada begitu banyak hal yang ternyata berjalan baik. Kehamilan-kehamilan saya bisa dilewati. Persalinan saya dimudahkan. Anak-anak lahir dan tumbuh.
Dan rumah yang kadang begitu berisik sampai membuat kepala rasanya mau pecah itu, ternyata juga rumah yang dipenuhi manusia-manusia yang sangat saya sayangi. Saya tidak perlu membandingkan keberuntungan saya dengan kesulitan perempuan lain untuk mengetahui bahwa semua itu adalah karunia. Cukup melihat kehidupan saya sendiri. Dan berkata: Alhamdulillah.
Saya juga perlahan belajar bahwa anak bukan medali keberhasilan orang tua. Punya satu, dua, lima, atau tidak punya anak sama sekali tidak membuat seseorang lebih baik daripada orang lain. Setiap keluarga mempunyai cerita, pertimbangan, kemampuan, bahkan luka yang tidak selalu kita ketahui. Maka saya tidak ingin menjadikan pengalaman saya sebagai argumen bahwa punya banyak anak lebih baik. Tidak juga ingin mengatakan bahwa kekhawatiran tentang biaya, pendidikan, atau kesiapan orang tua tidak penting. Semuanya penting.
Saya hanya sedang mencoba berdamai dengan kehidupan yang kebetulan diberikan kepada saya. Kehidupan dengan rumah yang ramai. Cucian yang sepertinya berkembang biak sendiri. Barang sekolah yang selalu hilang lima menit sebelum berangkat. Anak yang memanggil “Mamah” hampir bersamaan dari empat penjuru rumah. Dan seorang ibu yang berkali-kali merasa tidak sanggup, tapi besok pagi tetap bangun dan mencoba lagi.
Ada satu ayat yang sering saya pegang ketika merasa kewalahan: bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dulu saya memahaminya dengan sangat sederhana: Kalau Allah memberi saya semua ini, berarti saya pasti mampu. Sekarang saya rasa maknanya bagi saya sedikit berbeda. Mampu bukan berarti tidak pernah lelah. Bukan berarti tidak boleh menangis. Bukan berarti rumah harus selalu rapi, anak-anak harus selalu berprestasi, makanan harus selalu tersedia sempurna, dan seorang ibu harus sanggup mengerjakan semuanya sambil tetap tersenyum.
Mungkin “mampu” kadang cuma berarti diberi kekuatan untuk menjalani hari ini. Besok, minta kekuatan lagi. Saya juga tidak tahu apa hikmah dari setiap kehamilan yang datang ketika saya merasa belum siap. Saya tidak ingin sok tahu menebak-nebak maksud Tuhan. Yang saya tahu, anak-anak itu sudah ada di sini. Dan mereka adalah orang-orang yang saya cintai.
Maka tugas saya sekarang bukan membuktikan kepada siapa pun bahwa saya sanggup mempunyai banyak anak. Bukan pula membuktikan bahwa komentar orang lain salah. Tugas saya jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih sulit: belajar menjadi ibu yang lebih baik untuk mereka. Tidak harus ideal. Tidak harus sempurna. Cukup terus belajar.
Kadang berhasil.
Kadang salah.
Kadang sabar.
Kadang setelah marah malah masuk kamar lalu menyesal sendiri. =D
Dan ketika rasanya terlalu berat, saya masih mengatakan doa yang kurang lebih sama seperti dulu: Ya Allah, berat sekali amanah yang Engkau titipkan. Tapi mereka sudah Kau hadirkan dalam hidup saya dan saya mencintai mereka. Maka ketika saya lelah, beri saya kekuatan. Ketika saya salah, beri saya kesempatan memperbaiki. Dan ketika saya merasa tidak mampu, tolong ingatkan bahwa saya tidak harus menjalani semuanya sendirian.
Mungkin itu saja. Bukan pembelaan tentang kenapa saya punya banyak anak. Bukan pula ajakan agar orang lain melakukan hal yang sama.
*Hanya catatan seorang ibu yang pernah berkali-kali bertanya apakah dirinya sanggup dan sampai hari ini masih terus belajar menjawabnya.
**Edisi mengingatkan diri sendiri.
Rabu, 01 April 2015
MUNGKINKAH MASUK S1 ITB TANPA BIMBEL?
Dulu, ketika saya masih remaja, saya sama sekali tidak berpikir bahwa kehidupanlah tempat belajar sesungguhnya, yang menguji siswanya setiap saat dan mereka harus lulus menempuh ujian ini.
—Old Shatterhand, Winnetou Ketua Suku Apache, Karl May
Bulan April saya yakin, menjadi awal bulan-bulan yang menyesakkan bagi adik-adik yang duduk di kelas terakhir SMA. Pada masa saya dulu, ada ujian kompetensi, ujian sekolah, ujian nasional, lalu ada lagi ujian menentukan yang kala itu namanya SPMB: pertarungan untuk merebut satu kursi di perguruan tinggi negeri impian yang biasanya tak jauh-jauh dari ITB, UI, UGM, atau Unpad.
(Karena saya anak ITB, mohon dimaafkan kalau ITB saya taruh paling depan. Haseeek... =D)
Tekanan dari serangkaian ujian itu membuat bimbingan belajar nyaris dianggap wajib. Ada bimbel yang menawarkan rumus cepat, kumpulan soal tahun-tahun sebelumnya, sampai garansi uang kembali jika tidak lulus SPMB.
Saya pernah tercengang membaca brosur bimbel yang dikirim ke rumah: biaya paket tiga bulannya lebih mahal daripada SPP kuliah saya setahun. Maka ketika adik saya bersikeras ingin ikut, reaksi pertama saya tentu:
Hah? Dua puluh juta?
Alasannya sederhana. Hampir semua teman sekelasnya ikut bimbel, dan ia tidak yakin bisa masuk PTN favorit tanpa melakukan hal yang sama.
Saya bilang, “Bisa kok masuk ITB tanpa bimbel.”
Ia menatap saya seolah saya baru saja mengatakan sesuatu yang absurd. Padahal saya mengalaminya sendiri: tidak pernah ikut bimbel, hanya sekali ikut SPMB, dan langsung diterima di ITB. Tapi tentu, pengalaman saya tidak bisa dijadikan ukuran untuk semua orang. Ada yang memang terbantu bimbel. Ada pula yang seperti saya dulu, karena alasan ekonomi sekaligus sedikit keras kepala, memilih mencoba sendiri.
Saya lulusan SMK Analis Kimia, jauh lebih terlatih menentukan kadar suatu zat daripada mengerjakan soal teori SPMB. Banyak sekali ketinggalan materi yang harus saya kejar. Tapi keputusan tidak ikut bimbel bukan semata soal uang.
Waktu itu saya baru saja membaca Sekolah Itu Candu karya Roem Topatimasang, yang membuat saya mempertanyakan banyak hal tentang pendidikan, termasuk ketergantungan pada lembaga pendidikan tambahan. Entah terinspirasi atau sekadar sok idealis sebagai anak belasan tahun, saya menantang diri sendiri: Saya ingin mencoba masuk ITB tanpa bimbel.
Dimulailah hari-hari panjang itu. Hari-hari yang hanya ada belajar dan belajar saja isinya. Literally, saya belajar sampai mimisan, sering sekali mimisan, sampai darah dari hidung menetes-netes ke buku saya. Saya tidak punya uang untuk bimbel atau bahkan sekedar untuk beli banyak buku. Beruntung sekolah saya dekat dengan Perpustakaan Daerah, sehingga kekurangan uang tidak berarti kekurangan bahan untuk belajar konsep. Saya juga rajin berkunjung ke pasar kaget di Gasibu hanya untuk nongkrong di tempat buku bekas. Dan seolah semesta juga mendukung, saya dapat banyak buku bekas kumpulan soal SPMB dengan harga seribuan saja. Dari buku-buku itu saya mendapat banyak sekali soal-soal latihan.
Begitulah, saya belajar memahami konsep sekaligus mengerjakan soal sebanyak mungkin. Saya sudah tak lagi pakai pulpen, tapi pakai pensil mekanik agar lebih hemat membeli isi ulangnya. Saya juga sudah tak lagi pakai buku tulis, sebagai gantinya saya mengumpulkan kertas bekas fotocopyan yang satu sisinya masih kosong, dan entah sudah habis berapa bundel buat kotretan. Banyak malam habis hanya untuk memahami satu konsep. Soal yang konon diselesaikan anak bimbel dalam satu-dua langkah, harus saya kerjakan dengan memutar ke sana-sini. Pernah saya perlu waktu tiga hari untuk mengerjakan satu soal, hanya untuk mencari jalan agar dapat jawaban yang persis sama dengan kunci jawaban. Tapi sungguh perasaan ketika menemukan jawaban akhir yang sama adalah perasaan paling menyenangkan sedunia.
Jangan tanya juga, berapa banyak malam dimana tiba-tiba saja saya terjaga dari tidur karena tersentak oleh kesadaran: hari ini saya belum cukup belajar, bagaimana kalau waktu saya habis dan tiba-tiba sudah dekat waktu ujian. Ternyata mimpi adalah hal yang bisa mengganggu tidur, tapi saya paham juga bagaimana rasanya ada nyala di dada dan ternyata itu cukup menjadi bahan bakar untuk terus melangkah.
Sering merasa bodoh? Tentu saja.
Belum lagi komentar orang-orang di sekitar.
“Kalau mau kuliah, kenapa masuk SMK?”
“ITB terlalu berat.”
“Ambil D3 saja.”
Mungkin semua itu diucapkan dengan niat baik, tapi bagi saya justru terdengar seperti tantangan. Semakin banyak yang bilang tidak mungkin, semakin keras saya belajar. Dan dalam perjalanan mengejar ITB ini, secara alamiah saya selalu jadi juara umum di sekolah. Tapi lucunya, setelah hampir tiga tahun belajar mati-matian, justru menjelang pendaftaran saya ingin mundur.
Bisa enggak, sih? Memangnya semua belajar ini ada hasilnya?. Sekeras apapun saya belajar pastinya tetap tidak bisa dibandingkan dengan yang ikut les.
Saya hampir tidak membeli formulir, merasa ingin menyerah di detik terakhir, murni karena minder sendiri. Tapi entah bagaimana, pagi itu saat berjalan menuju gerbang sekolah, random saja saya menceritakan kegundahan saya pada seorang teman yang padahal juga tidak dekat-dekat amat dan juga tidak termasuk "circle anak pintar" di sekolah. Inget banget, menanggapi cerita saya dia nyeletuk: "Jangan kalah sebelum perang, ya udah sih beli aja formulirnya, kalaupun gagal, setidaknya kan udah nyoba, jangan mendahului takdir ih, pasti nyesel banget kalau ngga nyoba sama sekali".
Saya tercenung mendengar komentarnya. Iya juga. Maka akhirnya saya membeli formulirnya, dan dengan kenekatan yang kalau dipikir sekarang cukup menggelikan, mengisi dua pilihan jurusan, dua-duanya ITB, dua-duanya teknik. Langkah yang sama sekali tidak strategis atau mempertimbangkan probabilitas dengan benar karena belakangan saya tahu kalau pilihan jurusan saya dua-duanya termasuk top jurusan paling favorit aka persaingannya berat aka kemungkinan diterimanya juga semakin kecil. Tapi manalah aci, saya sudah terlanjur mengisi.
Dan hari ujian pun datang. Lokasinya saja saya tidak tahu persis. Modal saya cuma berangkat dua jam lebih pagi dan bertanya pada sopir angkot. Di tempat ujian, mental saya makin ciut. Peserta lain entah bagaimana terlihat jauh lebih lebih pintar dan terlihat datang dengan persiapan yang matang. Obrolan basa basi saja berkisar seputar strategi bimbel, prediksi soal dan teknik memilih jurusan. Saya cuma bisa mendengarkan karena sebagai anak yang belajar sendiri, semua itu tidak relate.
Tetangga ujian saya ada yang bertanya, “Pilih mana?”
Saya jawab, “Unpad.”
Saya malu menjawab kalau pilihan saya dua-duanya ITB. Saya takut kalau jujur, ia akan menjelaskan betapa kecil peluang saya berdasarkan rumus probabilitas atau strategi memilih jurusan dari bimbelnya. Tolong, jangan bikin hati saya tambah ciut.
Seusai ujian, peserta lain sibuk membahas soal. “Oh, yang tadi pernah keluar tahun sekian.” “Oh, yang ini ada di buku latihan.” “Oh, kalau pakai rumus ini cuma dua langkah.”
Saya semakin yakin: Sudah. Kayaknya saya nggak akan lulus.
Tapi tak ada lagi yang bisa saya lakukan. Saya sudah belajar semampunya; sisanya tentu sudah di luar kendali saya. Kebetulan saat itu saya juga sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan farmasi di Bandung Barat. Pikir saya kalau tidak lulus, ya sudah, mungkin selanjutnya saya bisa kuliah sambil bekerja. Hidup toh tidak harus melalui satu pintu saja, padahal sungguh itu hanya untuk membesarkan hati saya yang sejujurnya gundah gulana.
Sering sekali, saat istirahat makan siang di pabrik, saya merenung sendiri, masih mencoba beradaptasi dengan kondisi kerja yang ternyata tidak semenyenangkan masa sekolah. Pelan-pelan menyadari fakta bahwa bekerja sebagai lulusan SMK itu ternyata tidak enak-enak amat. Waktu itu posisi saya staf analis di lab Research and Development. Artinya sebagai buruh saya berada hanya satu tingkat di atas jalur paling bawah rantai produksi.
Maka setiap istirahat solat, betapa hanya itu doa yang saya panjatkan sepenuh hati: "Ya Allah, saya ingin lulus masuk ITB", saya ulang-ulang doa itu seharian, semalaman, dalam bisik hati saya yang paling dalam, hanya itu saja: "saya ingin masuk ITB".
Lalu hari pengumuman pun tiba. Semalaman saya sudah tidak bisa tidur. Perut saya mulas tapi bukan karena ingin ke kamar mandi. Seluruh saraf saya rasanya tegang, takut, sebagian hampa. Setengah bagian otak saya bersiap menghadapi kekecewaan terbesar, tapi juga sangat penasaran. Berharap cepatlah pagi datang, sekaligus ingin agar selamanya malam. Mungkin ini yang namanya harap-harap cemas. Sudah tak enak makan tak enak segala.
Subuh- subuh, saya langsung berlari ke tukang koran, tapi anehnya di depan tukang koran malah takut sendiri, berpikir lama sebelum beli. Sampai melihat posisi saya yang seperti orang linglung, bapak tukang koran menegur saya, mau kemana, neng?. Koran itu akhirnya saya beli juga. Tak sabar, saya buka disitu juga, mencari pengumuman SPMB, mencari nama saya di antara deretan panjang huruf kecil-kecil peserta lulus ujian SPMB.
DAN NAMA SAYA TERCETAK DISANA.
Lutut saya lemas. Terlalu kelu untuk bersorak. Akhirnya hanya bisa terduduk dan sujud syukur. Saya diterima di ITB. Kata-kata itu berdering di kepala saya. Sedetik kemudian emosi saya meluap, merasa perlu sekali untuk berbagi informasi ini entah dengan siapa saja.
"Mang, saya diterima di ITB", kata saya kepada tukang koran, dan segaris pemakluman terhadap tingkah saya yang aneh tergurat di wajahnya, "Wilujeng, neng, ngiring bingah", katanya.
Saya lalu menelepon ke rumah, mengabarkan berita baik ini. Ternyata bapak dan ibu sudah tegang juga seperti saya, belakangan saya dapat laporan dari ibu khadimat, bahwa setelah menerima telepon saya, mereka langsung bikin penganan untuk dibagikan ke mesjid.
Ini mungkin pengalaman paling manis dalam hidup saya.
Tapi bertahun-tahun kemudian, yang paling saya ingat justru bukan nama kampusnya, bukan pula kebanggaan masuk tanpa bimbel. Yang paling saya ingat adalah momen ketika saya hampir tidak membeli formulir karena takut gagal. Kalau waktu itu saya mundur, mungkin hidup saya tetap baik-baik saja. Tapi saya tidak akan pernah tahu sejauh mana usaha bisa membawa saya pergi.
Maka ketika adik saya bilang ia membutuhkan bimbel, saya tidak lagi bersikeras.
Silakan.
Kalau itu bisa membuatnya belajar lebih terarah dan percaya diri, mungkin dua puluh juta itu bukan sekadar membeli kumpulan rumus. Saya hanya berharap ia tidak percaya bahwa tanpa bimbel berarti tidak punya kesempatan. Sebab pengalaman saya membuktikan satu hal kecil: ada lebih dari satu jalan untuk sampai ke tempat yang kita tuju.
Ada yang belajar sendiri, ada yang ikut bimbel. Ada yang berhasil pada percobaan pertama, ada yang harus mencoba beberapa kali. Saya kebetulan sampai melalui jalan saya sendiri: buku-buku bekas, perpustakaan, segebung kertas bekas untuk mengoret, malam-malam panjang, komentar yang membuat nyali ciut, dan berkali-kali keinginan untuk menyerah. Dan kali itu, Tuhan mengizinkan usaha saya berakhir persis seperti yang saya harapkan. Di balik semua keraguan, sebetulnya ada satu keyakinan yang sejak dulu saya pegang: Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang bersungguh-sungguh dalam ikhtiarnya.
Bukan berarti setiap kerja keras pasti berakhir dengan apa yang kita inginkan. Saya rasa hidup tidak bekerja sesederhana itu. Kita bisa belajar mati-matian lalu tetap gagal. Bisa berdoa sungguh-sungguh tapi ternyata yang datang bukan jawaban yang kita harapkan.
Namun saya percaya tidak ada kesungguhan yang benar-benar sia-sia.
Kalau bukan hasilnya yang kita dapat, mungkin ada kemampuan yang tumbuh. Ada ketangguhan yang terbentuk. Ada jalan lain yang terbuka. Atau mungkin, baru bertahun-tahun kemudian kita mengerti kenapa dulu Tuhan membawa kita melewati jalan yang begitu memutar.
Maka tugas saya waktu itu sebenarnya sederhana: belajar sekeras yang saya bisa, berdoa semampu saya, lalu berhenti merasa punya kuasa atas hasil akhirnya.
Mungkin karena itu, sampai sekarang saya masih percaya: kita tidak harus tahu akan berhasil untuk mulai berjuang. Kerjakan saja bagian kita dengan sungguh-sungguh, lalu berdoalah dengan sepenuh pengharapan dan kerendahan hati. Selebihnya, biarkan Tuhan mengerjakan bagian-Nya.
Selasa, 24 Februari 2015
Siapa Tahu?
Saya pernah punya teori yang sangat tidak ilmiah tentang laki-laki Garut. Teori itu bermula dari tiga orang. Yang pertama, seorang tokoh publik asal Garut yang waktu itu sedang ramai diberitakan karena perkara pernikahan dan perceraiannya. Yang kedua, seorang laki-laki asal Garut yang kebetulan saya kenal dan, kalau meminjam kosakata anak gaul, masuk kategori bad boy. Yang ketiga lebih personal. Sepupu saya baru saja patah hati setelah mengetahui calon suaminya—yang juga orang Garut—ternyata punya kelakuan yang membuat rencana pernikahan mereka berantakan.
Maka otak saya yang gemar mencari pola segera bekerja. Orang pertama: Garut, bad boy. Orang kedua: Garut, bad boy. Orang ketiga: Garut, bad boy.
Hmmm. Saya mulai curiga. =D
Kalau suatu hari sepupu saya berkenalan lagi dengan laki-laki asal Garut, bolehkah saya buru-buru berbisik, “Hati-hati. Orang Garut.” Tentu saja tidak.
Tiga orang jelas terlalu sedikit untuk mewakili seluruh laki-laki dari sebuah kabupaten. Bahkan kalau saya bertemu sepuluh orang dengan kelakuan serupa sekalipun, tetap tidak ada alasan yang cukup untuk menyimpulkan bahwa laki-laki kesebelas pasti sama. Kedengarannya sangat sederhana.
Anehnya, dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan hal seperti itu. Satu kali ditipu pedagang, lalu kita curiga kepada pedagang berikutnya. Pernah dikhianati seseorang, lalu orang yang datang setelahnya harus ikut menanggung kecurigaan atas dosa yang bahkan tidak ia lakukan. Mengenal dua atau tiga orang dari suatu kelompok dengan karakter tertentu, lalu diam-diam kita merasa sudah memahami seluruh kelompok itu.
Dari sedikit pengalaman, kita membangun sebuah pola. Lalu pola itu kita perlakukan seperti kebenaran. Dalam logika, ini dekat dengan apa yang disebut hasty generalization: mengambil kesimpulan umum dari contoh yang terlalu sedikit atau tidak cukup mewakili. Kalau mau meminjam sedikit bahasa statistik, masalahnya sebenarnya sederhana: sampelnya terlalu kecil dan belum tentu representatif.
Tiga laki-laki Garut yang kebetulan saya kenal tidak memberi saya hak untuk menghakimi ribuan laki-laki Garut yang bahkan belum pernah saya temui. Tapi kemudian saya berpikir, barangkali persoalannya tidak berhenti pada laki-laki Garut.
Bukankah kita juga sering melakukan hal yang sama terhadap seseorang berdasarkan masa lalunya?
Orang yang pernah berbohong akan berbohong lagi.
Orang yang pernah selingkuh pasti akan mengulanginya.
Orang yang pernah melakukan kejahatan, kalau diberi kesempatan kedua, hanya akan melakukan kejahatan yang sama.
Mungkin memang ada pengalaman, bahkan penelitian, yang bisa membantu kita memperkirakan risiko seseorang mengulangi perilakunya. Masa lalu tentu tidak perlu diabaikan begitu saja. Kalau seseorang berkali-kali melakukan hal yang sama, rasanya naif juga kalau kita berpura-pura tidak melihat polanya. Tapi memperhitungkan risiko dan memvonis masa depan seseorang adalah dua hal yang berbeda.
Itulah sebabnya saya tidak sepenuhnya sepakat ketika seseorang begitu yakin bahwa “penjahat ketiga” pasti akan mengulangi kejahatannya hanya karena dua orang sebelumnya melakukan hal yang sama setelah diberi kesempatan. Mungkin ia benar. Orang ketiga itu bisa saja mengulanginya. Bahkan mungkin probabilitasnya cukup besar.
Tapi tetap ada satu kata yang mengganjal bagi saya: bisa. Bukan pasti.
Sebab manusia bukan angka yang tinggal dimasukkan ke dalam rumus. Ada begitu banyak hal yang tidak kita ketahui tentang apa yang terjadi di dalam diri seseorang: penyesalan, pengalaman, usia, kehilangan, cinta, ketakutan, bahkan satu peristiwa kecil yang entah bagaimana mengubah cara seseorang melihat hidupnya.
Saya tidak tahu apakah semua orang layak diberi kesempatan kedua. Ada kesalahan yang terlalu berat. Ada kepercayaan yang setelah rusak mungkin memang tidak bisa dikembalikan. Dan memberi seseorang kesempatan kedua juga tidak berarti kita harus mengabaikan risiko atau menyerahkan diri untuk disakiti lagi.
Tapi saya ingin percaya bahwa manusia masih mungkin berubah. Bukan karena semua orang pasti berubah. Justru karena tidak ada yang bisa memastikan siapa yang akan berubah dan siapa yang tidak. Siapa tahu orang yang kita kira tidak punya harapan justru suatu hari menjadi jauh lebih baik daripada dirinya yang dahulu. Bahkan, siapa tahu, lebih baik daripada orang yang pernah begitu yakin menghakiminya.
Siapa tahu.
Resensi MERAWAT LUKA BATIN: Buku yang Tak Kunjung Selesai Dibaca
Sudah hampir dua bulan buku Merawat Luka Batin karya dr. Jiemi Ardian ini menemani saya ke mana-mana. Masuk tas, dibawa ke kantor, menem...
-
Time flies.... Rasanya baru kemarin, belajar tergopoh-gopoh semalam suntuk untuk ujian masuk S2 ITB, dari mulai bahasa Inggris, TPA, da...
-
"Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dah...
