Minggu, 29 November 2015

KAPAN MENIKAH?

Seorang teman uring-uringan sepulang menghadiri acara keluarga yang rutin diadakan setahun sekali.

Apa pasal?

Sudah bertahun-tahun ia selalu datang sendirian dan, seperti biasa, menjadi sasaran empuk pertanyaan yang mungkin bagi penanyanya cuma basa-basi, tapi bagi yang ditanya bisa setajam samurai:

“Kapan menikah?”

Awal-awal mendapat pertanyaan begitu, ia masih bisa tersenyum geli.

“Masih mau mengejar karier.”

“Belum ketemu yang cocok.”

“Atuh doain aja.”

Lalu tahun demi tahun berlalu.

Usianya bertambah. Satu per satu teman seangkatan berjalan menuju gerbang bernama pernikahan. Undangan datang silih berganti. Dan ia mulai menjadi satu dari sedikit orang yang hadir sendirian dalam acara-acara yang entah kenapa seperti mengharuskan setiap orang datang berpasangan.

Pelan-pelan ia kehabisan jawaban. Acara keluarga pun turun ke urutan paling bawah dalam daftar hal yang ingin didatanginya.

“Buat apa?” katanya kepada saya. “Setiap pulang malah stres.”

Padahal, katanya, dalam kehidupan sehari-hari ia baik-baik saja dengan kesendiriannya. Punya pekerjaan, teman, kegiatan, dan hidup yang cukup menyenangkan. Tapi rupanya bahagia sendirian dan ditanya terus-menerus kenapa masih sendirian adalah dua perkara berbeda. Apalagi kalau pertanyaan itu datang lengkap dengan tatapan prihatin dan nasihat yang tidak diminta.

“Jangan terlalu pilih-pilih.”

“Perempuan itu ada umurnya.”

“Nanti keburu tua.”

Atau kalimat-kalimat lain yang mungkin diucapkan dengan niat baik, tapi entah kenapa justru membuat orang yang mendengarnya mulai mempertanyakan hidup sendiri.

Iya ya, kenapa aku belum menemukan pasangan?

Apa aku terlalu pemilih?

Apa ada yang salah denganku?

Apa aku tidak layak dicintai?

Apa aku akan sendirian sampai tua?

Lalu sebuah pertanyaan yang dilontarkan dalam lima detik berhasil membuat seseorang memikirkannya sampai berjam-jam. Dan akulah yang sore itu menjadi tempat penampungan terakhir keluh kesahnya. Masalahnya, saya jelas bukan orang yang tepat untuk memberikan nasihat. Saya sudah menikah. Bahkan menikah terlalu muda. Saya tidak pernah mengalami bagaimana rasanya berusia sekian lalu berkali-kali ditodong pertanyaan “kapan menikah?” Jadi saya cuma mendengarkan. Tapi dalam hati saya berpikir:

Memangnya setelah menikah semua persoalan hidup selesai?

Belum tentu juga orang yang rajin bertanya “kapan menikah?” hidupnya lebih bahagia daripada orang yang ditanya. Siapa tahu rumah tangganya sendiri sedang jungkir balik. Siapa tahu pasangannya menyebalkan. Siapa tahu sedang diselingkuhi. Siapa tahu setiap malam tidur satu ranjang tapi sudah bertahun-tahun merasa sendirian. Menikah memang bisa menjadi salah satu sumber kebahagiaan. Tapi rasanya terlalu berlebihan kalau ia dijadikan semacam garis finis kehidupan, seolah orang yang belum sampai ke sana berarti tertinggal.

Apalagi kalau karena takut disebut perawan tua, bujang lapuk, terlalu pemilih, atau—yang paling menyebalkan—tidak laku, seseorang akhirnya merasa harus menikah dengan siapa saja yang kebetulan tersedia. Bukankah lebih baik terlambat menikah daripada terburu-buru memilih orang yang salah?. Lagipula, saya punya kabar buruk. Pertanyaannya tidak akan berhenti setelah menikah. =D

Setelah menikah:

“Kapan punya momongan?”

Sudah punya anak satu:

“Kapan nambah adik?”

Anaknya dua perempuan:

“Enggak mau coba lagi siapa tahu dapat laki-laki?”

Anak-anak sudah besar:

“Kapan punya mantu?”

Sudah punya mantu:

“Kapan nimang cucu?”

Begitu terus.

Untung sejauh ini belum pernah saya mendengar orang bertanya:

“Kapan mati?”

Mungkin karena yang ini bahkan basa-basi kita masih punya batas. =D

Entahlah.

Sebagian besar pertanyaan semacam itu mungkin memang tidak dimaksudkan untuk menyakiti. Kadang hanya karena kita kehabisan bahan pembicaraan dan kehidupan pribadi orang lain adalah topik paling mudah untuk digunakan.

Masalahnya, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang diperjuangkan orang yang kita tanya.

“Kapan menikah?” mungkin kita ucapkan kepada seseorang yang baru saja ditinggalkan orang yang ingin dinikahinya.

“Kapan punya anak?” mungkin kita tanyakan kepada pasangan yang sudah bertahun-tahun menjalani program kehamilan.

“Kapan nambah anak?” mungkin terdengar ringan bagi kita, tapi tidak bagi seseorang yang pernah kehilangan kandungan.

Mungkin karena itu, ada pertanyaan-pertanyaan yang sebaiknya tidak perlu ditanyakan hanya demi mengisi keheningan.

Toh masih banyak bahan obrolan lain.

Cuaca.

Makanan.

Pekerjaan.

Drama Korea.

Harga cabai.

Apa saja.

Dan untuk teman saya?

Saya tidak punya kalimat ajaib yang bisa membuat semua pertanyaan itu berhenti menyakitkan.

Saya juga tidak mau mengatakan, “Santai saja, jangan dipikirkan.”

Gampang sekali mengatakan begitu ketika saya tidak berada di posisinya. Saya cuma berharap ia tidak membiarkan pertanyaan orang lain berubah menjadi ukuran nilai dirinya sendiri. Belum menikah bukan berarti gagal. Menikah juga bukan berarti berhasil. Ada orang yang bahagia berpasangan. Ada yang bahagia sendiri. Ada yang sedang menunggu. Ada yang sedang mencari. Ada pula yang mungkin belum tahu ingin hidup seperti apa. Dan rasanya tidak semuanya harus selesai pada usia yang sama.

“Gampang ngomong begitu kalau enggak ngerasain sendiri,” protesnya.

Sebuah bantal melayang ke kepala saya. Saya cuma tertawa sambil mengangkat bahu.

“Iya juga sih.”

Lalu setelah berpikir sebentar saya bilang,

“Ya sudah. Kalau tahun depan ditanya lagi ‘kapan menikah?’, senyum saja.”

“Terus jawab apa?”

“Bilang: Belum tahu. Kalau Om/Tante tahu tanggal pastinya, kabarin saya ya. Biar saya sekalian booking gedung.”

Bantal kedua melayang. Ya sudahlah. Setidaknya sore itu dia tertawa. =D

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi CINTA TAK ADA MATI

Judul buku                   : Cinta Tak Ada Mati Penulis                      : Eka Kurniawan Penerbit                    : Gramedia Pustak...