Judul buku : Malam Seribu Jahanam
Penulis : Intan Paramadhita
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Jumlah halaman : 350 halaman
Revolusi selalu dimulai oleh saudara tiri buruk rupa. entah apa yang mengendap di kepala adik kita, yang tak buruk rupa maupun revolusioner, saat ia melilitkan bom di pinggang dan meledakkan tubuhnya.
Aku melongok, aku bertanya-tanya apa rasanya terbaring di liang sempit itu, meluruhkan segala yang pernah kau bangun, segala nyala padam dan kerja tinggal debu. Aku ingin tahu apa sesalmu.
Tanyakan padaku apakah aku bisa membaca, membaca melawan arus, membaca dari belakang, menggugat lewat bacaan. Tapi jangan tanya padaku mengapa tak pernah kugugat apa yang kuanggap wajar-
Dan Tuan tampan necis berkumis tipis itu, hamba dapat satu.
Barangkali kita tuntaskan dendam sampai di sini. Dosa belum luntur tapi murka terkikis pelan-pelan, sebab aku telah datang membawa gada namun yang kutemukan disini cuma puing. Tak ada yang bisa ditagih, tak ada yang bisa dihancurkan. Jalan menuju maaf kelewat panjang. Entah berapa lama kita sampai ke sana. Setahun, dua puluh tahun.
Diam disana, Nadir. Diam, jadi ingatan. Jangan jalan-jalan.
Mungkin sebetulnya aku hanya sedang melarikan diri. Di balik halaman-halaman kertas, di antara tumpukan-tumpukan buku. Seperti terlihat begitu rajin membaca, selalu khusyu belajar, padahal sesungguhnya aku sedang sembunyi. Melarikan diri dari tugas sebenarnya yang harus kukerjakan, hingga tak terasa, satu bulan, dua bulan, dan sekarang dua tahun sudah. Tapi tetap tak kunjung juga kusentuh disertasiku, tersembunyi dalam folder lama yang tak kunjung berani kuapa-apakan: terlalu malas untuk kubuka, tapi mungkin aku juga terlalu pengecut untuk menghapus dan mengakui bahwa aku kalah dan menyerah, hingga akhirnya kugantung studiku sedemikian rupa.
Dalam salah satu upaya pelarianku, aku menemukan buku ini. Dari meja perpus yang dengan sedikit enggan ingin kuakhiri keanggotaanku disana. Tapi mataku kemudian tertumbuk pada buku bersampul merah di meja baca. Nama pengarangnya membunyikan bel di kepalaku: Intan Paramadhita. Aku harus pinjam buku ini.
Dan begitulah, kemudian kudapati diriku meringkuk di kasur besar berhari-hari, sambil menggenggam buku ini. Terlalu takut halamannya akan cepat habis, tapi juga tak bisa berhenti membaca. Terlarut dalam kisah tiga dara: Mutiara, Maya, Annisa. Penjaga, pengelana, pengantin. Sekilas aku melihat refleksi diriku sendiri, anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan.
Intan Paramadhita menggambarkan karakternya ketiganya dengan begitu tepat. Mutiara, si anak pertama yang tegas, disiplin dan selalu banyak uang. Ia adalah cucu paling kuat, Si Penjaga, “merawat yang hidup, mengantar yang mati”, demikian kata Nenek. Usia sudah lewat kepala empat, tapi belum menikah. High quality jomblo, mapan, berpendidikan, sudah punya rumah dan mobil sendiri tapi malah memilih hidup bersama kucing. Tapi ia yang menyokong ekonomi keluarga hingga tak ada yang berani bicara bahwa ia perawan tua. (Sekilas terlintas di pikiranku, Mutiara ini persis aku jika saja aku tak ditakdirkan menikah).
Lalu Maya si anak kedua, yang selalu berbeda, yang memberontak dengan caranya sendiri. Si Pengelana, “kulihat engkau di atas perahu, dengan buku-buku”, demikian nubuat Nenek meramalkan nasibnya. Dan ia memang selalu melarikan diri, berkelana hingga ke luar negeri, tak pernah ada di rumah, tidak solat dan tidak puasa, bahkan tak lagi percaya pada Tuhan, ia juga menjalin hubungan dengan Nadir yang adalah suami orang.
Lalu yang ketiga, si bungsu Annisa, adik kita semua, anak manis kesayangan semua orang. Anak Papa yang paling cantik, dikagumi dan dipuja para pria. Mutiara percaya cinta hanya bikin bego, tapi Annisa sebaliknya, ia selalu mendamba kisah cinta sejati, cita-citanya hanya satu: menjadi pengantin. Siapa sangka ia ternyata menyimpan rahasia begitu rupa dan memilih akhir bunuh diri dalam sebuah aksi heroik: meledakkan diri dengan bom bunuh diri, di pelataran sebuah gereja. Ia pikir itu jalan menuju Jannah, tapi untuk semua korbannya, ia sedang menciptakan Jahannam, bukan untuk kehidupan yang akan datang, tapi di kehidupan ini, yang mewujud lewat duka kehilangan, sementara hidup harus terus berjalan untuk yang ditinggalkan.
Saya pernah membaca, duka akibat bunuh diri sesungguhnya menyakiti orang-orang terdekat si mati begitu dalam. Dan mungkin ini jugalah yang diceritakan dalam buku ini. Pasca kematian Annisa, Mutiara dan Maya seolah ditarik ke kehidupan lain, merasa harus tahu kenapa Annisa jadi teroris, hingga kemudian untuk menemukan alasan kenapa itu, keduanya menyusuri lagi semua jejak kehidupan mereka bertiga, juga menggali ingatan sampai ke masa kecil, satu masa ketika Annisa masih jadi anak manis yang menggendong boneka, bukan teroris yang membunuh orang sekampung.
Aku tidak tahu, kenapa buku ini memengaruhiku begitu rupa, hingga setelah menamatkan buku ini, lagi-lagi hatiku merasa hampa. Padahal melihat latar belakang penulisnya, sejak awal saya sudah menyimpan prasangka, buku ini tak mungkin tidak menyampaikan kritik sosial. Siapa sangka jika kritik sosial yang disampaikan bisa setajam ini, terbungkus rangkaian kata-kata manis dan sehalus beledu, namun menyembunyikan pisau kenyataan yang saking nyatanya, tak mungkin bisa saya membantah dan mengakui: “memang seperti itu yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari”. Saya yakin, Intan Paramadhita melakukan riset yang akurat untuk buku ini, karena semuanya terasa betul, memang begitu.
Tentang pernikahan yang tak bahagia, meski dari luar dipaksakan terlihat sempurna. Mama wanita karir yang cemerlang, namun hidupnya terus menerus digelendoti keluarga besar hingga ia menanggung banyak utang, sangat tipikal wanita Sunda, dan ternyata betul, dalam cerita, Mama orang Tasikmalaya. Mama tak bahagia dalam pernikahannya dengan Papa, tapi juga tak kuasa untuk mengajukan perpisahan, dan ia bertahan, sampai sakit, sampai mati.
Papa temperamen dan kasar, juga seksis, fasis, dan rasis. Ia menunjukkan sikap pilih kasih yang terang-terangan pada anak-anaknya. Entah bagaimana, aku tiba-tiba setuju, bukankah seperti ini citra kebanyakan ayah, juga di sekelilingku. Di pemakaman ayahnya, Maya mengakui; “Papaku memang bangsat”.
Lalu ada Oom dan Uwa, yang tak membantu tapi selalu paling cerewet mengomentari. Berlindung di balik kata peduli, tapi yang paling sering mengeluarkan kalimat yang menyakiti. Bukankah memang begitu, dalam kehidupan sehari-hari, selalu saja ada Oom dan Uwa yang seperti itu.
Annisa, adik paling cantik kesayangan Papa, yang juga pintar hingga masuk ITB. Siapa sangka di balik kesempurnaan fisiknya, ia menyimpan kekejian. Ketika kecil ia tega meracuni kucing kakaknya, setelah dewasa ternyata ia yang menginisiasi pembunuhan dengan bom di gereja itu. Sebelumnya juga diceritakan, ia ikut andil memfitnah Rohadi hingga Rohadi dikeluarkan dari rumah. Sempat diceritakan Annisa berpacaran dengan Lingga, namun saya bingung dan tak berani menyimpulkan, apakah maksudnya Annisa mengalami kekerasan oleh Lingga hingga ia menulis:
“Lingga, aku ingin jadi pengantin yang cantik untukmu. Tapi bersamamu, aku takut kehilangan kepala”.
Begitu juga dengan scene Annisa pulang ke rumah dalam keadaan babak belur dan motor dicuri orang, saya tak mengerti. Jelas Annisa dipukuli dan motornya tidak dicuri, namun bagaimana sebetulnya yang terjadi. Ada cerita yang terputus sebelum kemudian ia akhirnya menikah dengan Fahri.
Yang paling jeri mungkin cerita Rohadi, anak pembantu yang gemulai hingga kemudian beralih identitas menjadi Rosalinda. Ia menanggung dua beban sekaligus: “anak pembantu” dan juga “seperti perempuan”. Perjalanan hidupnya berat sebelum kemudian berhasil menjadi Cek Rosalinda yang tinggal di Australia. Ia sempat terdampar menjadi pekerja seks komersial yang malah berujung hampir mati disiksa pelanggan.
Di penghujung, Mutiara memutuskan pindah ke Selandia Baru dan Maya gamang meneruskan hidup. Entah bagaimana, saya paham kegamangan Maya, bagaimana rasanya berusia empat puluh dua tapi merasa belum jadi siapa-siapa. Hanya diam di tempat, kuliah doktoral juga belum selesai dengan tabungan tak seberapa (kenapa ini terasa seperti saya). Tak sengaja Maya bertemu kembali dengan Nadir setelah berapa tahun sebelumnya Maya memutuskan hubungan mereka yang memang tak akan kemana-mana (Nadir sudah beristri). Kali ini Nadir akhirnya berani mengambil keputusan: berjudi ia bilang, dengan mengambil beasiswa kuliah S3 di New York, kota yang sama dengan tempat kuliah Maya yang belum selesai. Saya baca bagian ini dua kali, tetap tidak mengerti, apakah maksudnya Nadir akhirnya memutuskan meninggalkan istrinya dan memilih Maya, tapi malah Maya yang gamang, selalu dihantui sosok Annisa, dan sejujurnya saya tetap bingung, jadi bagaimana?.
Ini bukan kisah tentang siapa menang siapa kalah, tapi jika boleh menyimpulkan, pada akhirnya Rohadi-lah yang menjadi pemenang kehidupan. Ia, anak pembantu yang disayangi dan disekolahkan Nenek. Terusir dari rumah karena fitnah Annisa, terbuang dan harus menjalani hidup yang keras dan perih di luar rumah. Sekian lama ia menyimpan dendam. Tapi pada akhirnya ia yang berhasil melanjutkan hidup dengan makna, dengan kepala tegak, dengan tujuan yang pasti untuk membantu sesama, membantu mereka yang terusir dan tak punya tempat di masyarakat. Bahkan ia juga yang pada akhirnya bersedia mengadopsi Gibran, anak Annisa yang melarikan diri persis sebelum bom meledak.
“Aku tak mau tubuhku habis dimakan dendam”, begitu kata Rohadi.
Menutup lembaran terakhir buku ini, hati saya rasanya kosong dan hampa. Beri saya rekomendasi buku yang lain lagi untuk dibaca.




