Sabtu, 10 Oktober 2026

Resensi Kudasai: Saat Semua Tokohnya Seperti Minta Ditabok

Penulis

: Brian Khrisna

Penerbit

: MediaKita

Tahun terbit

: 2019

Jumlah halaman

: 456 halaman

Mengandung spoiler.

Tidak semua buku yang selesai dibaca meninggalkan kesan menyenangkan. Ada buku yang membuat kita ingin segera membaca karya lain dari penulisnya, ada yang membuat kita termenung berhari-hari, dan ada pula yang setelah halaman terakhir ditutup justru membuat kita bertanya-tanya: duh, tadi tuh, sebenarnya habis baca apa, sih?

Sayangnya, Kudasai karya Brian Khrisna masuk kategori terakhir untuk saya.

Kekecewaan pertama justru datang dari judulnya. Kudasai merupakan kata dalam bahasa Jepang yang kurang lebih berarti “tolong” atau “mohon”. Saya pikir novel ini akan sedikit banyak bersinggungan dengan Jepang. Ternyata tidak. Dan sampai halaman terakhir, terlepas dari ketiadaan unsur Jejepangan ini, saya masih kesulitan menemukan hubungan yang cukup kuat antara judul dan ceritanya.

Padahal premisnya menarik.

Chaka menikah dengan Twindy, perempuan cantik, kaya, mandiri, dan sukses memimpin firma arsitektur. Twindy bisa dibilang alpha female: dominan, percaya diri, terbiasa memegang kendali, dan tahu apa yang diinginkannya. Sementara Chaka mengelola kafe, mengurus rumah tangga, dan memiliki selera humor yang lumayan menghibur.

Pernikahan mereka bermula bukan karena cinta, tetapi perlahan Chaka justru benar-benar jatuh cinta kepada istrinya.

Dan menurut saya, itu sangat masuk akal.

Coba pikirkan. Twindy cantik, mapan, dan mampu menawarkan masa depan yang lebih stabil. Tentu cinta bukan semata-mata persoalan kecantikan dan kekayaan. Tetapi kebersamaan, kenyamanan, dan kehidupan yang dibangun setiap hari merupakan alasan yang sangat manusiawi untuk menumbuhkan perasaan. Justru bagian ini yang paling mudah saya terima. Yang sulit saya terima adalah kelakuan tokoh-tokohnya.

Mari mulai dari Twindy.

Saya sebenarnya menyukai gagasan menghadirkan tokoh perempuan yang kuat, mandiri secara finansial, dan tidak bergantung pada laki-laki. Tetapi Twindy ini bukan sekadar dominan. Ia juga gampang sekali marah, gemar membentak Chaka, dan sedikit-sedikit meminta cerai.

Ya ampun, Twindy. Menikah itu bukan langganan internet yang setiap kali kesal bisa langsung minta berhenti berlangganan.

Perempuan kuat tentu boleh memiliki temperamen keras. Tetapi menjadi mandiri dan sukses tidak otomatis membenarkan kebiasaan memperlakukan pasangan dengan buruk. Saya justru menyayangkan karakter Twindy karena potensinya sangat besar untuk mengeksplorasi hubungan suami istri dengan pembagian peran yang tidak konvensional.

Sayangnya, yang lebih sering saya temukan justru pertengkaran dan ancaman perceraian.

Lalu Chaka.

Ya Tuhan, Chaka ini juga tidak kalah menyebalkan.

Di satu sisi ia digambarkan sebagai laki-laki humoris, gemar bercanda, dan pandai melontarkan lelucon. Tetapi di sisi lain, ia begitu cengeng, pasif, dan tidak berdaya menghadapi persoalannya sendiri.

Memang, orang humoris bisa saja menyimpan kesedihan. Saya tidak mempermasalahkan laki-laki yang menangis atau memiliki perasaan rapuh. Yang mengganggu adalah bagaimana Chaka terus-menerus terlihat tidak mampu mengambil keputusan dengan tegas.

Lebih lucu lagi, meskipun sering takut menghadapi Twindy, dalam hati Chaka justru gemar mengomel dan melontarkan komentar-komentar tidak menyenangkan tentang istrinya.

Jadi, istrinya suka membentak, suaminya suka mengumpat dalam hati. Pasangan yang luar biasa komunikatif, bukan?.

Dan persoalan Chaka tidak berhenti di situ.

Ia meninggalkan Anet, mantan kekasihnya, tanpa memberikan penjelasan yang layak. Alasannya, ia ingin Anet membencinya agar perempuan itu berhenti berharap. Saya tahu, mungkin penulis ingin menggambarkan pengorbanan. Tetapi bagi saya, itu bukan romantis. Itu pengecut.

Mengapa Chaka merasa berhak menentukan apa yang terbaik bagi Anet tanpa memberikan kesempatan kepada perempuan itu untuk memahami keadaan dan menentukan pilihannya sendiri?. Bukankah kejujuran, betapapun menyakitkan, jauh lebih menghargai seseorang daripada menghilang dan membiarkannya hidup dalam tanda tanya?

Lalu setelah bertahun-tahun ditinggalkan, Anet tiba-tiba muncul kembali sebagai pelanggan di kafe Chaka. Dari sekian banyak kafe di muka bumi ini, tentu saja harus kafe Chaka.

Kebetulan memang bisa terjadi dalam kehidupan nyata. Tetapi kebetulan yang menjadi fondasi konflik besar seharusnya dibangun dengan lebih meyakinkan. Bagi saya, pertemuan mereka terasa terlalu dipaksakan demi menggerakkan cerita.

Dan bagaimana dengan Anet?. Duh, Anet ini juga lemah sekali.

Saya memahami bahwa ditinggalkan tanpa penjelasan bisa sangat menyakitkan. Tetapi kepasrahannya terhadap Chaka membuat saya semakin sulit bersimpati. Ia terlalu lama terjebak dalam perasaan terhadap laki-laki yang bahkan tidak cukup berani untuk menjelaskan mengapa hubungan mereka harus berakhir.

Jadi, ada Twindy yang sedikit-sedikit marah dan meminta cerai, Chaka yang pengecut sekaligus gemar mengomel dalam hati, serta Anet yang terlalu pasrah pada masa lalu.

Duh, Tuhan. Semua tokohnya rasanya ingin saya tabok satu-satu.

Tentu karakter dalam novel tidak harus sempurna. Justru tokoh yang memiliki kelemahan sering kali lebih menarik karena terasa manusiawi. Tetapi kelemahan karakter seharusnya dikembangkan menjadi sesuatu yang membuat pembaca memahami perjalanan batinnya. Dalam Kudasai, saya justru merasa sifat-sifat menyebalkan itu terlalu sering menjadi bahan bakar konflik tanpa diimbangi perkembangan karakter yang cukup meyakinkan.

Dan ketika cerita akhirnya berujung pada kematian Chaka karena bunuh diri, saya bukannya merasa tersentuh, melainkan semakin kecewa. Bukan karena orang yang humoris, memiliki pasangan yang baik, atau hidup berkecukupan tidak mungkin mengalami penderitaan psikologis yang berat. Tentu saja mungkin. Tetapi dalam sebuah novel, saya berharap pergulatan batin tokohnya dibangun dengan cukup kuat sehingga akhir yang tragis terasa sebagai bagian yang utuh dari cerita.

Sayangnya, saya tidak mendapatkan pengalaman membaca seperti itu.

Padahal Kudasai sebenarnya menawarkan banyak persoalan menarik: pernikahan tanpa cinta, pembagian peran suami istri, harga diri laki-laki, kesetiaan, dan bagaimana seseorang berdamai dengan masa lalunya. Sayangnya, semua potensi tersebut kalah oleh konflik yang terasa dipaksakan dan tokoh-tokoh yang tidak cukup berkembang.

Mungkin ada pembaca yang menyukai novel ini karena merasa terhubung dengan kesedihan para tokohnya. Sah-sah saja.

Tetapi bagi saya, karakter yang menyedihkan belum tentu berhasil membuat pembaca merasa sedih. Begitu pula konflik yang rumit belum tentu menghasilkan cerita yang kuat. Ada sesuatu yang harus dibangun di antara keduanya: alasan yang cukup meyakinkan bagi pembaca untuk peduli.

Dan itulah yang tidak saya dapatkan dari Kudasai.

Setelah menutup buku ini, kesan saya tetap sama: premisnya menarik, tetapi alurnya lemah, bodorannya garing, beberapa kebetulannya terlalu dipaksakan, dan hampir semua tokohnya membuat saya kehabisan kesabaran.

Mungkin Kudasai memang bukan buku untuk saya.

Dan untuk sekali ini, saya tidak merasa perlu memaksakan diri menemukan pelajaran hidup yang mendalam dari sebuah novel yang sejak awal tidak berhasil saya nikmati. Tidak apa-apa juga, kan?. Tidak semua buku harus disukai. Bahkan ketika banyak orang lain menyukainya.

Hanya saja, setelah selesai membaca, saya masih bertanya-tanya mengapa novel ini diberi judul Kudasai. Kalau kudasai berarti “tolong”, rasanya saya ingin menggunakan kata itu untuk menyampaikan satu permintaan sederhana:

Tolong, bisakah setidaknya dalam novel ini ada satu tokoh saja yang cukup waras.

Minggu, 04 Oktober 2026

Ah, Sudah Biasa

Saya sangat suka membaca dan memasak.

Untuk urusan yang kedua, saya bukan juru masak hebat. Masih sering membuka resep, masih suka mengira-ngira takaran, dan masih dikomentari kalau hasil masakan saya belum konsisten, kadang enak, kadang sangat enak, kadang berdiri di antara enak dan biasa saja. =D

Tapi ada dua jenis makanan yang cukup berani saya klaim sudah saya kuasai: kentang mustopa dan bolu keju. Dua jenis masakan yang kata orang, agak tricky.

Kentang mustopa harus digoreng sampai kering, tapi jangan sampai gosong. Bumbunya harus cukup lengket untuk menempel, tapi tidak boleh membuat kentangnya melempem. Bolu juga begitu. Salah mengocok telur, salah mengaduk adonan, salah suhu oven, adonan bolu bisa ngambek tak mau mengembang.

Tapi karena sudah membuat keduanya entah berapa puluh kali, saya tak lagi terlalu memikirkan semua itu. Sudah hafal. Sudah biasa. Sudah bisa. Sampai kemarin saya membuat bolu keju dan GAGAL =D.

Saya sampai berdiri cukup lama di depan oven, menatap kue bantat yang tidak mengembang sebagaimana mestinya dengan perasaan tersinggung. Lho? Kok bisa?. Rasanya seperti dikhianati oleh sesuatu yang selama ini saya percaya tidak mungkin lagi gagal.

Kalau sedang mencoba resep baru lalu gagal, saya bisa terima. Namanya juga belajar. Tapi ini bolu keju. Bolu. Keju. Makanan yang resepnya bahkan sudah tidak perlu saya baca lagi.

Setelah dipikir-pikir, mungkin justru di situlah masalahnya. Karena merasa sudah bisa, saya tidak lagi seteliti ketika pertama kali belajar. Beberapa tahap dilakukan sambil lalu. Takaran mulai berani dikira-kira. Dan perhatian yang dulu saya berikan penuh kepada setiap prosesnya perlahan digantikan oleh satu perasaan yang ternyata cukup berbahaya: Ah, gampang. Sudah biasa.

Rupanya pengalaman memang membuat kita lebih mahir. Tapi diam-diam ia juga bisa membuat kita lengah. Saya kemudian memandangi bolu gagal itu sambil tertawa sendiri. Betapa luar biasanya hidup yang punya cara sederhana untuk mengingatkan bahwa pernah berhasil berkali-kali ternyata tidak membuat kita kebal terhadap kegagalan berikutnya. Dan mungkin itu berlaku untuk banyak hal.

Ada pekerjaan yang sudah kita lakukan bertahun-tahun.

Ada jalan yang sudah berkali-kali kita lewati.

Ada kemampuan yang begitu kita yakini

Ada orang yang merasa sudah kita kenal luar kepala sampai lupa bahwa semuanya tetap membutuhkan perhatian. 

Bukan berarti setelah ini saya akan menimbang tepung dengan wajah tegang seperti sedang melakukan praktikum kimia. Saya hanya diingatkan untuk sedikit berhati-hati pada kalimat: “Saya sudah tahu.” Sebab kadang-kadang, justru setelah kalimat itulah kita berhenti memperhatikan. Dan kehidupan—atau dalam kasus saya, sepotong bolu keju yang bantat—punya cara yang lucu untuk mengingatkan bahwa menjadi berpengalaman tidak pernah berarti menjadi mustahil salah.

Baiklah. Besok kita coba lagi. Toh bolu yang gagal masih bisa dimakan. Yang sedikit lebih sulit ditelan mungkin cuma kesombongan tukang masaknya. =D

 

Membaca Diri Sendiri

 Akhir pekan ngapain aja?, 

Jawaban saya: “seperti biasa: memasak dan tetap bekerja dengan laptop di akhir pekan”. 

Saya memang sangat suka memasak, meskipun belum percaya diri untuk membuka rumah makan sendiri, tapi rasanya hasil masakan saya sudah bisa dikategorikan lumayan. Dan setiap akhir pekan selalu menjadi kesempatan untuk saya mencoba resep-resep baru sekalian menyiapkan stok makanan di rumah untuk satu minggu ke depan. Karena penyakit saya kebetulan sedang kambuh lagi, yang saya buat akhir pekan ini lebih sedikit dari biasanya: rendang, opor ayam, baso tahu, kentang mustopa, capcay, bolu keju, pempek beserta cukonya, dan teh sangrai susu, bahasa kerennya roasted milk tea =D. 

Sambil memasak dan membereskan ini-itu, di sela-selanya saya membuka kembali tulisan di blog yang sudah lama tidak saya tengok. Niat awalnya cuma ingin merapikan beberapa tulisan lama. Ternyata saya malah menemukan banyak sekali hal yang perlu dikoreksi. Bukan salah ketik. Bukan tanda baca. Bukan pula kalimat yang kepanjangan. Tapi refleksi dari diri saya sendiri yang ternyata harus diperbaiki ðŸ˜‚.

Ya ampun.

Ternyata saya dulu sombong sekali. Beberapa kali saya berhenti membaca hanya untuk bertanya kepada diri sendiri: ini serius dulu saya nulis begini T-T.

Ada begitu banyak kalimat yang ditulis dengan keyakinan dan mungkin kesombongan yang luar biasa. Seolah hidup hanya punya satu cara untuk dipahami dan, entah dapat kepercayaan diri dari mana, cara sayalah yang paling benar. Begitu mudah menilai keputusan orang lain. Begitu cepat menyimpulkan. Begitu ringan menggunakan kata “seharusnya” untuk hal yang bahkan tidak sepenuhnya saya pahami.

Lucunya, ketika menulisnya dulu, saya mungkin merasa sedang menjadi orang yang kritis. Sekarang ketika membacanya kembali, rasanya lebih terdengar seperti seseorang yang belum banyak tahu tentang hidup tapi sudah sibuk membuat kesimpulan. Mungkin memang ada semacam kesombongan yang lahir bukan karena kita tahu terlalu banyak, tetapi justru karena belum mengalami cukup banyak hal.

Dunia terlihat sederhana ketika kita hanya pernah melihatnya dari satu sisi. 

Lalu umur bertambah. Hidup membawa kita ke tempat-tempat yang dulu tidak pernah kita bayangkan. Kita melakukan kesalahan. Mengambil keputusan yang dahulu mungkin akan kita cela jika dilakukan orang lain. Mencintai orang yang mungkin dulu kita anggap tidak seharusnya dicintai. Bertahan ketika menurut teori mestinya pergi. Pergi ketika orang lain berpikir mestinya bertahan. Lalu bertemu manusia-manusia dengan cerita yang ternyata jauh lebih rumit daripada yang terlihat dari luar. Dan perlahan-lahan kata “seharusnya” menjadi tidak semudah itu diucapkan.

Bukan karena sekarang saya sudah lebih tahu tentang hidup. Justru mungkin karena semakin ke sini saya semakin sadar betapa banyak yang tidak saya tahu. Akhirnya saya mengoreksi beberapa tulisan itu. Sebagian kalimat saya hapus, sebagian saya lunakkan. Bukan karena ingin menghapus siapa saya dahulu. Justru rasanya menyenangkan menemukan bukti bahwa cara pandang saya ternyata berubah.

Blog ini akhirnya seperti mesin waktu kecil.

Di sini saya bertemu diri sendiri dari berbagai umur: yang pernah sok tahu, pernah merasa paling benar, pernah mudah menghakimi, pernah terluka, pernah bahagia, dan pernah menulis sesuatu dengan keyakinan penuh yang bertahun-tahun kemudian ternyata saya pertanyakan sendiri.

Aneh rasanya membaca diri sendiri. Sedikit memalukan. Tapi juga menyenangkan. Karena ternyata berubah pikiran tidak selalu berarti kita dahulu sepenuhnya salah dan sekarang sepenuhnya benar. Kadang itu cuma berarti hidup telah memberi kita beberapa halaman tambahan. 

Akhir pekan ini, di antara masakan yang matang dan tulisan-tulisan lama yang dibongkar kembali, saya menemukan satu hal: ternyata bertambah dewasa bukan berarti semakin banyak tahu. Kadang justru ditandai dengan semakin sering kita berkata, “Oh… ternyata saya memang tidak tahu apa-apa.”

The Taxi Cab Theory: Tentang Cinta, Timing, dan Perempuan yang Menunggu

Saya baru tahu ada istilah The Taxi Cab Theory.

Teorinya sederhana, tapi kalau dipikir-pikir agak menyebalkan.

Konon, laki-laki itu seperti taksi. Selama lampunya belum menyala, ia akan terus berjalan. Bisa bertemu banyak perempuan, jatuh cinta, menjalin hubungan bertahun-tahun, bahkan mungkin bertemu seseorang yang sebenarnya sangat ia inginkan. Tapi kalau saat itu ia belum ingin menikah, ya tidak akan menikah.

Lalu suatu hari lampunya menyala.

Available.

Ia merasa sudah cukup bermain-main, kariernya sudah lumayan, hidupnya sudah lebih tenang, teman-temannya satu per satu menikah, atau entah apa yang akhirnya membuat seorang laki-laki berpikir: kayaknya gue mau nikah. Dan menurut teori ini, perempuan yang kemudian dinikahinya belum tentu perempuan yang paling ia cintai sepanjang hidupnya. Bisa jadi ia hanya perempuan yang kebetulan ada di sana ketika lampu itu menyala. Dan ini ternyata bukan omong kosong, dalam kehidupan nyata, saya menemukan bukan hanya satu kasus seperti ini, saya menemukan beberapa laki-laki yang mengakui bahwa mereka menikah bukan dengan orang yang betul-betul diinginkan, mereka menikah semata karena alasan: sudah ingin dan sudah siap menikah, lalu kebetulan ada dia disana, dan ya sudah, taraaa... menikah deh.

Nah, bagian ini yang menurut saya agak kejam.

Karena berarti kita bisa menjadi perempuan yang sangat dicintai pada waktu yang salah, lalu melihat laki-laki yang sama menikahi perempuan yang baru dikenalnya karena perempuan itu datang pada waktu yang tepat.

Kita mungkin pernah bersamanya bertahun-tahun. Menemaninya ketika hidupnya belum jelas. Tahu makanan kesukaannya, hafal kebiasaan buruknya, mengenal keluarganya, tahu bagaimana wajahnya ketika marah dan bagaimana suaranya ketika baru bangun tidur. Tapi ketika ditanya soal pernikahan, jawabannya: Aku belum siap.

Lalu hubungan itu berakhir.

Beberapa waktu kemudian kita mendengar dia menikah dengan perempuan lain.

Rasanya tentu ingin protes.

Lho? Katanya belum siap?

Tapi mungkin waktu bersama kita dulu, dia memang benar-benar belum siap.  Dan mungkin ini bagian dari Taxi Cab Theory yang cukup masuk akal: cinta dan kesiapan ternyata dua hal yang berbeda. Kita bisa mencintai seseorang tanpa siap membangun kehidupan bersamanya. Dan ketika akhirnya kesiapan itu datang, orang yang dahulu kita cintai mungkin sudah tidak ada di sana.

Tapi ada sesuatu dari teori ini yang mengganggu saya.

Kenapa harus laki-laki yang menjadi taksi?.

Kenapa laki-laki digambarkan punya kemewahan untuk terus berjalan, mencoba berbagai hubungan, membangun karier, menikmati hidup, lalu suatu hari memutuskan sendiri kapan lampunya akan menyala?.  Sementara perempuan seperti orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Menunggu. Berharap kebetulan berada di sana ketika sebuah taksi akhirnya available.

Ada asumsi yang sangat patriarkal di balik gambaran sederhana itu: seolah laki-laki punya waktu yang hampir tidak terbatas untuk menentukan kapan ia siap, sementara perempuan punya tenggat. Laki-laki berusia tiga puluh sekian dan belum menikah dianggap masih ingin menikmati hidup. Sementara perempuan pada usia yang sama mulai ditanya kapan menikah, disuruh jangan terlalu pemilih, diingatkan tentang umur, tentang anak, tentang kesuburan, seakan-akan ada jam besar yang terus berdetak di belakang kepalanya.

Dan mungkin karena itulah perempuan sering kali lebih mudah terjebak dalam hubungan yang tidak jelas.

Barangkali tahun depan dia siap.

Mungkin setelah pekerjaannya lebih mapan.

Mungkin setelah masalah keluarganya selesai.

Mungkin kalau aku sedikit lebih sabar.

Lalu satu tahun menjadi dua. Dua menjadi lima. Tanpa sadar kita tidak lagi menjalani hidup sendiri. Kita sedang menunggu lampu orang lain menyala. Saya rasa di sinilah Taxi Cab Theory menjadi berbahaya kalau diterima mentah-mentah. Karena perempuan bisa dibuat percaya bahwa tugasnya adalah bertahan sampai seorang laki-laki akhirnya siap.

Apalagi ada ketakutan yang sangat manusiawi: Bagaimana kalau aku pergi sekarang, lalu perempuan berikutnya justru yang dinikahinya?

Sakit, tentu saja. Membayangkan kita menemani seseorang bertahun-tahun, kemudian perempuan yang datang setelah kita mendapatkan rumah, pernikahan, dan kehidupan yang dulu pernah kita bayangkan bersamanya.

Tapi semakin saya pikirkan, mungkin pertanyaannya memang bukan: Bagaimana kalau setelah aku pergi dia menikahi perempuan lain?

Pertanyaannya justru: Berapa banyak hidup saya sendiri yang bersedia saya habiskan menunggu seseorang memutuskan apakah ia menginginkan kehidupan yang sama dengan saya?.

Karena kesiapan dia adalah haknya. Tapi menunggu bukan kewajiban kita.

Kalau seseorang mengatakan ia belum siap menikah, mungkin kita memang harus mempercayainya. Bukan menerjemahkannya menjadi tunggu aku, bukan pula menjadikannya proyek yang harus kita selesaikan sampai suatu hari ia berubah pikiran. Ia boleh belum siap. Dan kita boleh pergi.

Kalau lima tahun kemudian dia menikahi perempuan lain, itu tidak otomatis berarti perempuan itu lebih baik daripada kita. Tidak juga membuktikan bahwa selama ini kita kurang cantik, kurang sabar, kurang pengertian, atau kurang layak untuk dipilih.

Mungkin hidupnya memang sudah berubah. Mungkin dirinya sudah berubah. Mungkin lampunya baru menyala saat itu. Dan mungkin kita memang datang terlalu cepat. Atau mungkin sesederhana; "memang bukan jodohnya".

Tapi ada satu hal yang rasanya perlu dikoreksi dari teori ini. Perempuan bukan seseorang yang berdiri di pinggir jalan menunggu taksi mana yang akhirnya berhenti di depannya. Dia juga punya kendaraan sendiri. Punya tujuan sendiri. Punya waktu sendiri. Punya jalan-jalan yang ingin ditempuh dan tempat-tempat yang ingin dituju. Kadang kita bertemu seseorang dan ternyata ingin pergi ke arah yang sama. Menyenangkan sekali kalau waktunya juga tepat. Tapi kalau ternyata tidak, mungkin kita tidak perlu terus berdiri di persimpangan sambil berharap suatu hari ia akan berbalik arah. Biarkan dia pergi. Kita juga punya perjalanan. Karena pada akhirnya, mungkin masalahnya bukan siapa yang berdiri di sana ketika lampu taksinya menyala. Tapi apakah kita benar-benar mau menghabiskan hidup dengan menunggu taksi seseorang, sementara kendaraan kita sendiri sejak tadi sudah siap berangkat.

 

Resensi CIRCE: Sihir Terbesar adalah Menemukan Diri Sendiri




Judul buku                            : Circe

Penulis                                  : Madeline Miller

Alih Bahasa                          : Lulu Wijaya

Penerbit                                : PT. Gramedia, Jakarta

Jumlah Halaman                  : 542 halaman


Mudah sekali berbicara begitu terbuka kepadanya. Wajahnya seperti kolam tenang yang bisa menyimpan segala sesuatu dengan aman didasarnya, hlm. 190.

Daedalus pernah berkata: Besi terbaik  sekalipun akan rapuh kalau terlalu sering dipukul. Hal. 292.

Tidak ada yang harus pada hidup manusia, kecuali kematian.

 

Buku ini saya selesaikan dalam waktu sesiangan saja, karena memang seseru itu. Rasanya seperti diajak mengembara ke negeri dongeng, tempat para dewa dalam mitologi Yunani ikut mengatur dan ikut campur dalam takdir manusia. Saya menggemari kisah-kisah ini ketika masih remaja dulu, tapi buku-buku yang saya baca kala itu lebih seperti buku sejarah yang sekedar menyampaikan rangkaian kejadian tanpa ruh dan tanpa emosi. Padahal, para dewa justru bisa lebih sarat emosi daripada manusia.

Ini buku kedua Madeline Miller yang saya baca setelah Achilles dan saya masih terpesona dengan gaya berceritanya. Kita diajak bukan hanya turut merasakan emosi Circe, tapi juga serasa ikut hadir di istana dewa-dewa dan indahnya pulau Aiaia. 

 Circe adalah putri pertama Helios si Dewa Matahari dengan nymph yang bernama Perses. Sayangnya, ia selalu dianggap sebagai putri yang paling tak berguna.  Sampai pada suatu hari Circe jatuh cinta setengah mati pada seorang manusia biasa yang bernama Glaucos. Tak tahan membayangkan suatu hari Glaucos akan mati sedangkan ia akan hidup abadi dengan kedewaannya, Circe mencari pharmaka dan kemudian mengubah Glaucos menjadi dewa. Tapi seperti halnya banyak manusia lain yang tak  tahu terima kasih,  setelah menjadi dewa, Glaucos lupa diri dan malah menyukai Scylla, sepupu Circe sendiri.  Merasa cemburu dan marah, Circe menggunakan pharmaka lagi untuk mengubah Scylla menjadi bentuk sejatinya yang ternyata adalah monster  berkepala enam.

Merasa bersalah setengah mati, Circe minta dihukum, namun Helios berkeras, bahwa itu adalah takdir para dewa, karena pharmaka tak sesakti itu sampai bisa mengubah manusia menjadi dewa. Aetees adik Circe ternyata malah memberikan dakwaan yang berbeda, Glaucos menjadi dewa dan Scylla menjadi monster bukan karena pharmaka bukan juga karena takdir para Dewa, tapi semata karena kekuatan Circe sendiri. Sama seperti dirinya, Circe juga seorang penyihir dan kekuatan utamanya adalah merubah bentuk.

Untuk menghindari perang antar klan, akhirnya Helios menghadap Zeus untuk negosiasi dan diputuskanlah bahwa Circe harus dibuang, dan begitulah awal cerita Circe menjadi pemilik dan penghuni satu-satunya pulau Aiaia. 

Menariknya, justru sejak dibuang itulah cerita Circe bagi saya benar-benar dimulai.

Pada buku The Song of Achilles, Madeline Miller mengambil Patroclus—seseorang yang selalu berada di bayang-bayang Achilles—lalu memberinya suara, kali ini ia melakukan hal yang kurang lebih sama kepada Circe. Dalam kisah-kisah mitologi Yunani yang pernah saya kenal, Circe hanya muncul sebagai penyihir perempuan yang mengubah para lelaki menjadi babi dan kemudian menjadi salah satu perempuan yang ditemui Odysseus dalam perjalanannya pulang ke Ithaca. Ia ada, tapi seperti sekadar persinggahan dalam petualangan seorang laki-laki. Di buku ini ceritanya dibalik. Odysseuslah yang hanya singgah. Circe yang tinggal. Dan ketika cerita dilihat dari sisi Circe, bahkan kisah tentang para lelaki yang diubahnya menjadi babi terasa berbeda.

Circe pada awalnya menerima para pelaut yang datang ke Aiaia dengan kebaikan. Ia memberi mereka makanan dan minuman, seperti layaknya tuan rumah menerima tamunya. Tapi kebaikan itu justru dibalas dengan kekerasan. Laki-laki yang datang ke pulaunya dan menikmati keramahannya kemudian memperkosanya. Setelah itu Circe berubah. Pelaut-pelaut berikutnya yang datang ke Aiaia tidak lagi bertemu perempuan yang sama. Circe memberi mereka makan, membiarkan mereka menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya, lalu ketika mereka mulai mengancamnya, ia mengubah mereka menjadi babi.

Saya suka bagian ini bukan karena pembalasannya, tapi karena tiba-tiba cerita lama tentang “penyihir jahat yang mengubah laki-laki menjadi babi” tidak lagi sesederhana itu. Selama ini kita hanya mendengar cerita dari mereka yang diubah menjadi babi. Tidak banyak yang bertanya apa yang terjadi sebelumnya sampai seorang perempuan merasa perlu melakukan kekejaman sebesar itu untuk melindungi dirinya sendiri.

Dan ternyata dunia para dewa tidak lebih ramah kepada perempuan. Mereka abadi, memiliki kekuatan yang tidak dimiliki manusia, tapi dunia mereka tetap dunia yang kekuasaannya sebagian besar berada di tangan laki-laki. Helios menentukan nasib anak perempuannya. Zeus menentukan hukum. Poseidon mengambil apa yang ia inginkan. Para nymph belajar bahwa kecantikan mereka bisa menjadi berkah sekaligus ancaman. Bahkan dewi sekalipun harus memahami kepada siapa ia boleh melawan dan kepada siapa ia harus tunduk.

Circe hidup di tengah dunia seperti itu. Mungkin itu sebabnya salah satu bagian yang paling membekas bagi saya adalah ketika ia turun ke dasar laut menemui Trygon. Ia membutuhkan racun dari ekor makhluk purba itu dan tahu bahwa Trygon jauh lebih kuat darinya. Circe datang dengan niat mengambil racunnya, tetapi Trygon mengatakan bahwa racun itu hanya bisa didapatkan jika Circe bersedia menerima sengatannya terlebih dahulu. Dan Circe bersedia.

Ada sesuatu yang sangat Circe dalam adegan itu. Ia takut, tentu saja. Tapi keberanian ternyata memang bukan tentang tidak merasa takut. Ia tahu sengatan itu mungkin membawa rasa sakit yang bahkan seorang dewi pun belum tentu sanggup menahannya, tetapi Circe tetap mengulurkan tangannya.

Pada akhirnya Trygon tidak menyengatnya. Kesediaan Circe menanggung sendiri rasa sakit yang hendak ia gunakan kepada orang lain sudah cukup untuk membuat Trygon menyerahkan racunnya.

Ketika Telegonus pergi mencari ayahnya, Circe membekalinya dengan sebuah tombak yang ujungnya sudah dipasangi sengat Trygon yang beracun. Senjata itu dimaksudkan untuk melindungi anaknya dalam perjalanan, bukan untuk membunuh Odysseus. Tapi pertemuan yang seharusnya menjadi pertemuan antara ayah dan anak justru berakhir tragis. Odysseus tidak mengenali Telegonus, dan tanpa sengaja tombak itulah yang akhirnya membunuhnya.

Ada ironi yang terasa kejam di sini. Circe turun ke dasar laut dan menghadapi Trygon karena ingin memiliki kekuatan untuk melindungi anaknya. Tapi kemudian, sesuatu yang diperolehnya dengan keberanian sebesar itu justru menjadi penyebab kematian laki-laki yang pernah dicintainya dan ayah dari anak yang mati-matian ingin ia lindungi.

Racun yang sama kemudian membawa Circe kembali kepada kesalahan lamanya: Scylla. Bagi saya ini penting, karena Scylla adalah salah satu dosa yang terus dibawa Circe sepanjang hidupnya. Ia menciptakan monster itu karena cemburu. Setelah itu Scylla terus hidup, memangsa pelaut-pelaut yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang Glaucos, Circe, atau kecemburuan yang membuatnya tercipta.

Pada akhirnya Circe memilih kembali menghadapinya. Dengan racun Trygon itulah ia membunuh Scylla. Ada semacam lingkaran yang akhirnya tertutup di sana. Circe tidak bisa menghidupkan kembali orang-orang yang telah dimakan Scylla. Ia juga tidak bisa menghapus kesalahan yang pernah dilakukannya. Tapi ia bisa berhenti membiarkan kesalahannya terus memakan korban.

Mungkin berdamai dengan masa lalu memang bukan berarti membuat seolah-olah semuanya tidak pernah terjadi. Kadang-kadang kita hanya bisa mengakui: aku yang melakukan ini, maka aku pula yang harus mengakhirinya. Keberanian yang sama muncul lagi ketika Athena datang mengincar Telegonus.

Ini Athena. Dewi perang. Anak kesayangan Zeus. Sementara Circe hanyalah dewi kecil yang bahkan keluarganya sendiri dulu menganggapnya tidak berguna. Secara kekuatan mereka tidak sebanding. Tapi kali ini yang berdiri di hadapan Athena bukan lagi Circe yang dahulu memohon kasih sayang kepada ayahnya. Ia seorang ibu. Circe menutup pulaunya dengan sihir dan menantang Athena demi melindungi anaknya. Bukan karena ia yakin akan menang, tapi karena ada hal-hal yang baginya lebih penting daripada kemungkinan kalah.

Hubungan Circe dengan Telegonus sendiri mungkin salah satu bagian yang membuat karakter Circe semakin manusiawi. Setelah semua cerita tentang dewa, sihir dan monster, ternyata menjadi ibu membuat Circe berhadapan dengan sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia bisa menghadapi Trygon, Scylla bahkan Athena, tetapi ia tidak bisa selamanya melindungi anaknya dari dunia.

Dan pada akhirnya ia harus belajar melepaskannya. Ada ironi yang indah ketika Telegonus akhirnya justru memilih pergi mengikuti Athena ke negeri yang jauh. Dewi yang dulu hendak membunuhnya kemudian menjadi sosok yang diikutinya. Circe bisa saja melarang. Setelah segala yang ia lakukan untuk mempertahankan anak itu tetap hidup, rasanya sangat manusiawi kalau ia ingin menyimpannya tetap dekat.

Tapi ia tidak melakukannya. Ia membiarkan Telegonus pergi. Mungkin keberanian memang berubah bentuk ketika kita menjadi seorang ibu. Awalnya keberanian berarti melawan siapa pun yang hendak mengambil anak kita. Pada satu titik, keberanian justru berarti membuka tangan dan membiarkan anak itu pergi ketika ia sudah memilih jalannya sendiri.

Saya juga menyukai bagaimana Madeline Miller mempertemukan Circe dengan Penelope. Kalau cerita ini ditulis dengan cara yang lebih sederhana, keduanya seharusnya menjadi musuh. Penelope adalah istri Odysseus. Circe adalah perempuan yang pernah dicintai Odysseus dan melahirkan anaknya. Terlalu mudah membuat dua perempuan ini saling membenci karena seorang laki-laki.

Tapi Miller tidak memilih jalan itu. Penelope datang ke Aiaia bersama Telemachus setelah kematian Odysseus, dan perlahan keduanya justru bisa saling memahami. Mereka mengenal Odysseus dalam versi yang berbeda. Mereka sama-sama pernah mencintainya, sama-sama pernah ditinggalkannya, dan barangkali sama-sama tahu bahwa mencintai seorang pahlawan tidak selalu berarti hidup bahagia bersama seorang pahlawan.

Saya justru merasa hubungan Circe dan Penelope menjadi semacam perlawanan kecil terhadap dunia yang sejak awal cerita begitu patriarkal. Mereka tidak membiarkan hubungan mereka ditentukan hanya oleh seorang laki-laki yang sudah mati. Tidak ada perebutan siapa yang lebih dicintai Odysseus. Tidak perlu ada perempuan baik dan perempuan jahat. Mereka berdamai dengan sejarah masing-masing, kemudian memilih hubungan mereka sendiri.

Semakin jauh membaca, semakin saya merasa bahwa buku ini sebenarnya bukan cerita tentang penyihir. Ini cerita tentang seorang perempuan yang sepanjang hidupnya diberitahu bahwa ia tidak cukup cantik, tidak cukup kuat, tidak cukup penting, bahkan suaranya pun dianggap buruk. Ia pernah begitu ingin dicintai sampai rela mengubah seorang manusia menjadi dewa. Ia pernah begitu cemburu hingga tak sengaja menciptakan monster. Ia pernah menjadi korban kekerasan. Ia pernah mencintai orang yang salah. Ia menjadi ibu yang begitu takut kehilangan anaknya sampai berani menantang seorang dewi.

Dan setelah semua itu, ia belajar bahwa menjadi kuat tidak selalu berarti melawan. Kadang berarti mengakui kesalahan dan membunuh monster yang pernah kita ciptakan. Kadang berarti berdamai dengan perempuan yang seharusnya, menurut cerita-cerita lama, menjadi saingan kita. Dan kadang berarti membiarkan anak yang mati-matian kita lindungi pergi jauh mengikuti jalan hidup pilihannya sendiri.

Jika The Song of Achilles bagi saya adalah cerita tentang mencintai seseorang bahkan ketika kita tahu cinta itu akan berakhir dengan kehilangan, maka Circe terasa berbeda. Ini lebih seperti cerita tentang menemukan diri sendiri setelah terlalu lama membiarkan orang lain menentukan siapa diri kita. Pada awal buku, Circe begitu mudah merasa dirinya tidak berharga hanya karena keluarganya mengatakan demikian. Ia mengejar cinta Glaucos seolah cinta seorang laki-laki akan membuktikan bahwa dirinya layak. Tetapi perempuan yang sama kemudian turun ke dasar laut menghadapi Trygon, membunuh Scylla yang pernah ia ciptakan, berdiri di hadapan Athena demi anaknya, berdamai dengan Penelope, dan akhirnya sanggup melepaskan Telegonus pergi.

Ia tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk memberitahunya siapa dirinya. Dan saya kira di situlah bagian paling indah dari cerita ini. Circe bisa saja tetap menjadi dewi. Tetap abadi. Tetap tinggal di Aiaia sementara dunia berubah dan manusia datang kemudian mati satu per satu. Tetapi setelah melihat kehidupan manusia dari dekat, ia justru memahami sesuatu yang mungkin tidak pernah benar-benar dipahami para dewa: bahwa hidup menjadi berharga justru karena ia akan selesai.

Tidak ada yang harus pada hidup manusia, kecuali kematian.

Aneh, tapi setelah 542 halaman mengikuti seorang dewi yang tidak bisa mati, kalimat itu malah tidak terdengar menakutkan. Justru terasa seperti kebebasan. Dan seperti The Song of Achilles, Madeline Miller berhasil membuat tokoh yang sudah berumur ribuan tahun terasa hidup dan bernyawa kembali. Bedanya, kali ini bukan seorang pahlawan besar yang menjadi pusat cerita.

Ini tentang perempuan yang pernah dianggap tidak berarti, hidup di dunia yang berkali-kali berusaha menentukan apa yang boleh terjadi pada tubuhnya, cintanya, anaknya dan hidupnya, tetapi kemudian perlahan mengambil semuanya kembali. Dan mungkin, pada akhirnya, sihir terbesar Circe memang bukan kemampuannya mengubah manusia menjadi babi atau monster menjadi batu. Tapi keberaniannya adalah menentukan sendiri akan menjadi perempuan seperti apa.

Minggu, 20 September 2026

Resensi MENCARI SIMETRI: Tentang Cinta, Pilihan dan Jalan yang Tidak Kita Ambil


Judul buku                            : Mencari Simetri

Penulis                                  : Annisa Ihsani

Penerbit                                : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Jumlah halaman                  : 238 halaman

Tahun terbit                         : 2019

 

Temanku Sita pernah berkata. Semua orang memiliki Armin mereka sendiri. Sebelum aku sempat bertanya kenapa dia menggunakan nama Armin layaknya nomina serbaguna, dia melanjutkan, "Kau tahulah, orang yang menghubungimu setiap hari, mengajakmu jalan bareng, kadang-kadang bahkan memegang tanganmu, tapi tidak pernah benar-benar menjadi pacarmu."

 

Ini adalah kalimat pembuka novel ini.

Berbeda dengan karya Annisa Ihsani lainnya, novel ini tidak berisi informasi sains atau teori ilmiah rumit apa pun. Bahkan di luar dugaan, novel ini terasa sangat teenlit untuk saya.

Berkisah tentang April, perempuan berusia 29 tahun yang tengah gamang menghadapi hidup. Ia punya pekerjaan yang disukai, meski bukan jenis karier yang bisa dibanggakan. Ia punya sahabat-sahabat akrab, meski satu demi satu semuanya berumah tangga, punya anak, dan sibuk dengan keluarga kecilnya sendiri. Ia juga punya Armin, teman dekat yang diam-diam sudah dicintainya selama enam tahun, tapi hubungan mereka tak pernah beranjak ke mana-mana. Armin menawarkan kehangatan dan kedekatan yang dirindukan April, tapi tak pernah benar-benar memberi janji bahwa hubungan mereka akan lebih dari sekadar sahabat, sementara usia April sendiri terus merambat naik.

Masalahnya dengan Armin adalah, dia memiliki semacam sensor yang mendeteksi kalau aku sudah melenceng terlalu jauh dari orbitku mengelilinginya. Setiap kali aku memutuskan untuk mengabaikannya, menyimpan cintaku untuk orang lain yang membalas perasaanku, dia selalu tahu. Dan dia selalu menarikku kembali, seakan berkata, Oh tidak, April, tidak semudah itu kau kabur. Dan seperti orang bodoh, aku terus jatuh kembali ke dalam gravitasinya.

Ternyata ada istilah khusus untuk jenis perhatian seperti ini: breadcrumbing, remah-remah perhatian yang diberikan sekadarnya agar seseorang tidak benar-benar pergi, tapi tak pernah cukup pasti untuk menjadi sebuah hubungan yang memiliki nama.

Begitu juga yang dialami April selama enam tahun kedekatannya dengan Armin.

Lelah dengan ketidakpastian ini, akhirnya April mencoba membuka hati untuk Lukman, pria mapan dengan karier menjanjikan yang bahkan sudah punya rumah sendiri (in this economy, aaaaaa). Sayangnya, ternyata perasaan memang tak bisa dipaksakan, dan akhirnya April memilih mundur.

Satu hal yang saya cermati dari novel-novel Annisa Ihsani adalah latar belakang tokohnya yang sering berasal dari keluarga yang hangat dan harmonis. Begitu pun dalam novel ini. Meskipun April harus menjadi caregiver papanya yang terkena Alzheimer, di antara banyak hal yang perlahan terhapus dari ingatan sang Papa, ia tetap menjadi sosok yang memberi April semacam tempat untuk pulang.

Ketika April bimbang mengenai Lukman, papanya mengatakan:

"Dia memang anak yang baik," ulang Papa, "tapi jangan sampai itu membuatmu mengira kau berutang sesuatu kepadanya."

Saya suka sekali kalimat sederhana ini. Menjadi laki-laki baik tidak otomatis membuat seorang perempuan berkewajiban mencintainya. Kebaikan bukan utang yang harus dibayar dengan pernikahan. Dan ketika April kembali membicarakan Armin, percakapan mereka bahkan lebih sederhana.

"Selalu ada saja hambatannya dengan Armin. Waktunya tidak pernah tepat. Salah satu dari kami selalu punya pacar lain. Sekalinya sudah sama-sama single, dia sudah tidak tertarik lagi...."

"Barangkali memang tidak jodoh."

"Tidak sesederhana itu, Pa."

Papa menoleh ke arahnya dan berkata lembut,

"Kadang-kadang memang sesederhana itu."

Entah kenapa dialog ini justru menjadi salah satu bagian yang paling saya suka. Kita sering kali ingin mencari penjelasan yang rumit untuk sesuatu yang sebenarnya sederhana. Mungkin karena menerima bahwa seseorang memang bukan untuk kita terasa jauh lebih menyakitkan daripada terus mencari alasan kenapa hubungan itu tidak pernah berhasil. Salah waktu. Belum siap. Keadaan tidak memungkinkan. Dia sedang punya pasangan. Kita sedang punya pasangan. Padahal mungkin memang tidak jodoh.

Dan saya suka bagaimana Papa tidak pernah menyuruh April buru-buru memilih siapa pun hanya karena usianya hampir kepala tiga. Ia tidak mengatakan bahwa Lukman adalah laki-laki baik maka terimalah. Ia juga tidak mengatakan bahwa enam tahun mencintai Armin berarti April harus terus menunggu. Ia hanya mengingatkan bahwa keputusan sebesar itu tetap milik April. Barangkali salah satu kemewahan terbesar seorang anak perempuan adalah mempunyai rumah yang tidak membuatnya merasa harus menikah hanya supaya punya tempat untuk pulang.

Di pertengahan cerita, ada satu bagian lain yang cukup menggelitik untuk saya.

Kata Armin sambil nyengir:

"Tapi pilihan apa pun yang kuambil, sepertinya aku akan tetap penasaran dengan pilihan yang tidak kuambil. Bahkan kalaupun nantinya terbukti pilihanku baik-baik saja, aku curiga aku akan terus dihantui perasaan bahwa ada yang lebih baik di jalan yang tidak kuambil. Apa ini masuk akal atau aku sedang meracau?"

Membaca bagian ini, saya malah jadi teringat Kierkegaard, filsuf eksistensial asal Denmark yang banyak berbicara tentang kecemasan, kebebasan, pilihan, dan konsekuensi menjadi manusia.

Dalam salah satu bagian Either/Or, Kierkegaard bermain-main dengan gagasan bahwa menikah ataupun tidak menikah sama-sama dapat berakhir dengan penyesalan. Bukan semata-mata karena pilihannya salah, melainkan karena setiap kali memilih satu kemungkinan, kita sekaligus menutup kemungkinan yang lain. Dan mungkin memang begitu masalahnya dengan menjadi manusia.

Kita hanya punya satu kehidupan, tapi di kepala kita bisa hidup seribu kehidupan yang lain. Ketika memilih A, kita membayangkan betapa menyenangkannya seandainya memilih B. Ketika akhirnya memilih B, sangat mungkin kita malah bertanya-tanya bagaimana jadinya kalau dulu tetap memilih A. Jalan yang tidak kita ambil selalu punya satu keuntungan: kita tidak pernah benar-benar menjalaninya. Karena itu ia bisa tetap sempurna di kepala.

Barangkali itu juga masalah Armin. Selama enam tahun ia tidak benar-benar memilih April, tapi juga tidak pernah benar-benar membiarkannya pergi. April cukup dekat untuk memberinya kenyamanan, tapi kemungkinan tentang kehidupan lain selalu cukup menarik untuk membuatnya tidak pernah benar-benar memilih.

Sementara April, dengan caranya sendiri, melakukan hal yang hampir sama. Ia tahu Armin tidak pernah menjanjikan apa-apa, tetapi enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk terus berharap suatu hari sesuatu akan berubah. Dan mungkin itulah mengapa saya akhirnya merasa judul Mencari Simetri sangat tepat.

Kita seperti terus-menerus mencari keseimbangan dalam hidup: antara mencintai dan dicintai, antara bertahan dan pergi, antara kehidupan yang kita jalani dengan kehidupan yang kita bayangkan seandainya dulu mengambil jalan berbeda.

Padahal hidup hampir tidak pernah benar-benar simetris. Ada orang yang kita cintai tapi tidak memilih kita. Ada orang baik yang memilih kita tapi tidak bisa kita cintai. Ada pekerjaan yang kita sukai tapi tidak terdengar membanggakan. Ada teman-teman yang dulu berjalan bersama kita, lalu satu demi satu mengambil jalan hidupnya sendiri. Dan di usia tertentu, ketidaksimetrian itu mulai terasa semakin jelas.

Mungkin karena itu meskipun awalnya terasa seperti teenlit, pada akhirnya saya merasa kegelisahan April sebenarnya tidak terlalu remaja. Justru sangat dewasa. Tentang melihat orang-orang di sekitar kita seperti sudah sampai ke suatu tempat sementara kita masih bertanya-tanya apakah jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang benar.

Tentang takut memilih. Takut salah memilih. Dan kadang-kadang lebih takut lagi pada kemungkinan bahwa pilihan yang tidak kita ambil ternyata lebih baik. Tapi hidup tidak menyediakan tombol preview untuk itu. Kita hanya bisa memilih satu jalan, menjalaninya, lalu belajar menerima bahwa di suatu tempat dalam imajinasi kita akan selalu ada kehidupan lain yang tidak pernah terjadi.

Membicarakan ini membuat saya jadi teringat pada The Midnight Library-nya Matt Haig, buku yang kurang lebih bermain dengan pertanyaan yang sama: bagaimana kalau kita bisa melihat kehidupan yang terjadi dari pilihan-pilihan yang dulu tidak kita ambil?.

Tapi yang itu akan saya ceritakan di lain waktu. =D

 

Resensi Kudasai: Saat Semua Tokohnya Seperti Minta Ditabok

Penulis : Brian Khrisna Penerbit : MediaKita Tahun terbit : 2019 Jumlah halaman : 456 halaman Mengandung spoiler. Tidak semua buku yang sele...