Senin, 13 Juli 2026

Resensi SIHIR PEREMPUAN



Judul buku                : Sihir Perempuan

Penulis                      : Intan Paramadhita

Jumlah halaman      : 158 halaman

Penerbit                    : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

 

Kau dan aku memang makhluk-makhluk kesepian. Aku si pengisap penyedot kehidupan yang sekarat karena merah sudah nyaris habis punah berhenti titik.

Nak, demi sebuah kehidupan kau harus mematikan yang lain. Ada burung yang harus membakar diri untuk melahirkan generasi baru. Kita menganggap sudah kodratnya terlahir untuk berkorban, untuk menjadi mulia. Seperti Sinta, begitu. Dan hanya di situ nilaimu.

Jeritan Ibu mati bersama bayi mereka. Mereka tak mampu lagi bersuara karena tidak akan ada yang mau mendengar.


Buku ini tersusun dari sebelas judul.  Sebelas cerita dengan tokoh dan kisah yang berbeda-beda, tapi ada satu benang merah yang menghubungkan sebelas kisah ini: semuanya bercerita tentang perempuan, yang termarjinalkan oleh lembaga bernama perkawinan, yang kesepian, yang dituntut berperan ganda, yang harus mengorbankan diri agar sesuai dengan standar masyarakat, yang harus menanggung banyak luka dan beban. Semuanya perempuan.

Saya sudah jatuh cinta pada buku ini sejak halamannya yang pertama, meski kemudian saya menyadari ternyata gaya bahasa yang digunakan begitu penuh metafora dan perumpamaan. Ada sindir-sindir halus yang tersembunyi. Makna-makna tersamar yang tidak bisa diartikan letterlijk begitu saja. Buku ini memang ditulis dengan menggabungkan cerita thriller, dongeng, kisah hantu gotik dan takhayul. 

Beberapa bagian harus saya baca berulang-ulang untuk kemudian memahami maknanya. Dan semakin saya baca, semakin saya mendapati bahwa keseluruhan cerita adalah upaya mematahkan stigma, tentang bias gender, misogini dan patriarki yang begitu kental di masyarakat kita. 

Membaca cerita pertama yang berjudul Pemintal Kegelapan, entah bagaimana membuat saya malah teringat pada cerita pembantaian penyihir di abad pertengahan. Konon hampir 85% tersangka penyihir yang dibakar adalah perempuan. Dan kita tahu kosakata yang digunakan pun berbeda, witch untuk penyihir perempuan, kata ini dikonotasikan dengan tokoh-tokoh jahat, wanita tua buruk rupa yang iri dengan kecantikan dan kemudaan putri-putri cantik dalam dongeng-dongeng. Para penyihir perempuan ini dengan kekuatan sihirnya, merusak dan menghancurkan. Sementara wizard, sebutan untuk penyihir pria, sering digambarkan sebagai sosok bijaksana yang menggunakan kekuatan sihirnya untuk melindungi. Kita tentu ingat sosok Gandalf dalam The Lord of The Rings yang dicitrakan sebagai penyihir baik, sementara Mother Gothel dalam kisah Rapunzel menjadi penyihir bengis yang kejam.

Begitu pun dengan kisah-kisah hantu. Dalam cerita-rakyat ataupun cerita urban di Indonesia, hantu perempuan jenisnya lebih banyak dari hantu berjenis kelamin laki-laki. Dan hantu-hantu perempuan ini punya garis besar cerita yang sama: ketika hidup mereka adalah korban, setelah mati mereka menjadi monster yang hadir membalas dendam dengan perilaku mengancam jiwa atau sekedar menakut-nakuti.

Selanjutnya dari cerita berjudul Vampir, saya menemukan bahwa seksualitas perempuan juga akhirnya tunduk pada relasi kuasa, dalam hal ini atasan dan bawahan. Dan selalu perempuan bukan hanya sebagai objek tapi juga korban dan sekaligus pihak yang bersalah.

Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari menceritakan kisah Sindelarat (sepertinya plesetan dari Cinderella) namun dari sudut pandang saudara tiri yang selama ini kita ketahui berperilaku jahat dan tak rupawan. Pada cerita ini, kita dibawa memahami, kenapa saudara tiri menjadi jahat, dan si tokoh utama yang cantik jelita pun tak sepenuhnya tak bersalah. Dari semua cerita dalam buku ini, sepertinya cerita ini yang menyampaikan pesan paling jelas dan tak membuat kita mengerutkan kening. Dan dari sebelas cerita dalam buku ini, Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari menjadi favorit saya. 

Dari cerita Mak Ipah dan Bunga-bunga, kita akan menemukan bahwa bahkan sekedar menjadi seorang perempuan saja bisa mencelakakan nyawa, menjadi korban ruda paksa dan dibunuh begitu saja. (Cerita ini paling membuatku merasa jeri). 

Pada cerita Mobil Jenazah, ada seorang istri yang dituntut untuk berperan sempurna, tetap bekerja mencari uang tapi harus perform juga di rumah, dengan anak-anak yang harus pintar dan berbudi, serta rumah yang harus licin berkilau.

Pada cerita Misteri Polaroid, ada perempuan-perempuan yang dinilai berdasarkan fisiknya saja dan lagi-lagi ada hantu perempuan, yang menjadi hantu setelah pada masa hidupnya ia justru adalah korban.

Pada cerita Darah, kita akan bertemu dengan perempuan yang sedari awal sudah diajari bahwa menstruasinya sendiri kotor, menjijikkan namun disukai para demit. Di akhir cerita, sepertinya menjadi ironi karena para demit yang konon menyukai darah menstruasi ini malah menyampaikan alasan yang jauh lebih penuh penghargaan.

Mengapa kau begitu menyukai darah?

Suaramu serak dan pelan, begitu jauh, begitu purba, namun bisa kudengar kau berbisik,

Karena darah adalah hidup.

Sesederhana itu.

 

Usai menamatkan buku ini, entah bagaimana, saya merasa hampa yang tak berhingga. Beberapa bagian cerita seolah terus terngiang-ngiang di kepala. Lalu tidak bisa untuk tidak setuju, menjadi perempuan itu memang rumit dan terkadang menyesakkan. 

Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk juga kamu baca.

Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku

 

Senin, 06 Juli 2026

Resensi MIDAH SIMANIS BERGIGI EMAS


 

Judul Buku                : Midah Simanis Bergigi Emas

Penulis                      : Pramoedya Ananta Toer

Jumlah Halaman      : 132 halaman

Penerbit                    : Lentera Dipantara

 

Ah, Sudara, manusia ini kenal satu sama lain, tapi tidak dengan dirinya sendiri. Kalau aku mencoba mengenal diriku, tentu saja perbuatanku akan lain dengan sekiranya engkau yang hendak mencoba.

 

Ini adalah novel ringan. Demikian kalimat pembuka pada bagian pengantar penerbit. Jika melihat tebal halaman, saya sepakat, buku ini memang terbilang tipis, apalagi jika dibandingkan dengan ketebalan karya-karya Pramoedya yang lain. Tapi jika bicara isi, mana ada sih bukunya Pramoedya yang ringan. Tambah lagi kriteria lain, mana ada sih buku Pramoedya yang akhirnya happy ending. Sepertinya Pram ini memang hoby membuat buku dengan akhir yang menyesakkan jiwa (saya masih merasa hampa setiap teringat ending Gadis Pantai atau Tetralogi Pulau Buru). Buku ini juga kurang lebih begitu, meski sesuai pengantar penerbit, intensitas kesesakan yang ditimbulkannya cukup ringan.

Buku ini berkisah tentang seorang perempuan manis bernama Midah, anak Hadji Abdul, orang Cibatok. Lahir dan besar di keluarga yang sangat religius, namun kemudian kesukaannya pada musik (yang disebut haram oleh ayahnya), membuat garis nasibnya berputar haluan 180 derajat.

Midah adalah gadis yang manis, anak kesayangan yang semula dimanja ayah dan ibu lalu dikawinkan dengan seorang kaya dari kampung asal bernama Hadji Terbus. Siapa sangka jika Midah kemudian berontak dan kabur dari suami dengan membawa kandungan yang baru berumur tiga bulan. Bukannya pulang ke rumah, Midah malah memutuskan untuk jadi pemusik keliling (jaman sekarang kita menyebutnya pengamen) bersama satu grup kroncong jalanan. 

Di tengah kesusahan hidup, Midah sangat teguh memegang prinsip. Ia tak terjerumus ke dalam pergaulan bebas, bahkan ketika semua di sekeliling bermaksud buruk kepadanya. Midah semata hanya menjual suara, meskipun karena itu ia dimusuhi oleh hampir semua anggota kelompok musiknya. Tak mudah untuk seorang wanita hamil mengikuti perjalanan sebuah grup musik untuk mengembara di jalanan ibu kota. Dan kesusahan itu semakin berlipat-lipat setelah Midah melahirkan. Pimpinan grup meminta Midah bersedia dinikahi sebagai ganti perlindungan yang bisa diberikan, namun Midah yang trauma dengan pernikahan  menolak keras meskipun karena itu, Midah harus angkat kaki.

Dalam perjalanan mengamen setelah memutuskan keluar dari rombongan, Midah bertemu kembali dengan polisi bernama Ahmad yang sebelumnya juga pernah menyelamatkan Midah. Dengan baik hati, Ahmad mencarikan kamar kontrakan, mengajari Midah bermusik dengan benar dan mengorbitkannya menjadi penyanyi di radio. Sejak awal Midah jatuh cinta pada Ahmad, sayangnya cinta Midah tak bersambut, Ahmad terus terang mengatakan tak mungkin ia menikahi Midah. Tapi pergaulan yang begitu erat meruntuhkan juga batasan di antara keduanya, sampai kemudian Midah hamil, dan di luar dugaan Ahmad tak mau bertanggung jawab.

Sementara itu, Hadji Abdul, ayah Midah,  ternyata jatuh sakit setelah mendengar kabar Midah yang melarikan diri dari suaminya. Ia mencari Midah kemana-mana, sementara itu perusahaannya runtuh, kekayaannya habis, akhirnya ibunyalah yang semula tak tahu menahu bagaimana mencari uang mulai menerima pesanan menjahit demi menyambung hidup. Ketika kemudian Midah menjadi penyanyi radio, ibu Midah menyusul ke stasiun radio, mendapatkan alamatnya dan kemudian sampai juga di rumah kontrakan Midah. Ditemukannya Djali anak Midah yang kurus tak terurus. Dengan naluri seorang nenek, dibawanya Djali pulang ke rumah. Midah yang baru pulang menyanyi akhirnya mau tak mau menyusul juga ke rumah orang tuanya.

Ayah dan ibu Midah menerima Midah sepenuh hati, sayangnya kondisi Midah yang tengah berbadan dua, di luar ikatan pernikahan pula, membuat hati Midah tak tenang. Tak ingin ia mencoreng muka kedua orang tuanya, hingga kemudian dengan berat hati, Midah memutuskan keluar lagi dari rumah, meninggalkan Rodjali dalam asuhan kakek neneknya. 

Karir Midah kemudian melesat, dengan paras yang memang cantik dan suara yang bagus, Midah  bukan hanya jadi penyanyi radio, tapi  menjadi bintang film dan juga pelacur papan atas.

Ceritanya selesai sampai disitu. Meninggalkan saya dengan hati yang hampa dan mulut yang gemas ingin memaki-maki. 

Midah ini bodoh atau nekat ya. Ia pergi meninggalkan rumah suami tanpa persiapan apa-apa, tanpa bekal yang memadai, tanpa rumah lain yang akan dituju (mengingat ia tak ingin pulang ke rumah orang tua), serta tanpa rencana akan bagaimana meneruskan hidup dalam kondisi berbadan dua. Terbiasa hidup dalam kemewahan, tak memberi gambaran kepada Midah, bisa sesusah apa hidup memperlakukan seorang perempuan tanpa uang dan tanpa bekal kemampuan apa-apa. Untunglah Midah cantik dan berbakat menyanyi, tapi bukankah tetap saja tak mudah untuk Midah menemukan jalan hingga jadi penyanyi radio. 

Dan alasan kabur dari suaminya pun tak jelas, hanya sedikit narasi bahwa suaminya ternyata beristri banyak, tapi tidak dijelaskan apakah Midah diperlakukan dengan buruk yang setidaknya bisa menjadi pembenaran untuk keputusannya meninggalkan rumah. Hanya ada sedikit keterangan mendekati akhir cerita bahwa ayah dan ibu Midah merasa dendam juga pada Terbus setelah kepergian Midah.

Dan Ahmad, kenapa laki-laki bisa sejahat itu. Membantu Midah sedemikian hingga Midah jatuh cinta. Sudah tahu mereka tak mungkin menikah karena perbedaan suku,  tapi masih juga meniduri Midah. Sialnya ketika Midah hamil, dengan mudah ia menuduh Midah sudah tidur dengan laki-laki lain hanya untuk menghindari tanggung jawab. Kurang brengsek apa coba. 

Sepanjang membaca buku ini, saya mencari-cari, alasan yang membuat buku-buku Pram digandrungi tapi sekaligus juga dianggap terlalu kiri. Dan kemudian rasanya saya paham, penuturan bahasa Pram sederhana tapi sangat nyata menyentuh hal-hal yang memang terjadi di sekitar kita, di kehidupan sehari-hari. Saking nyatanya sampai kita setuju, bahwa memang begitulah adanya kehidupan, dengan segala susah senangnya, dengan segala sifat kemanusiaannya manusia, yang khilaf, yang jahat, yang naif dan munafik. 

Kritik sosial yang disampaikannya pun sampai hari ini terasa masih relevan. Hadji Abdul digambarkan sebagai sosok religius yang sangat rajin beribadah dan berdzikir tapi sangat miskin citra kemanusiaan. Ia memandang hubungan dengan Tuhan sebagai hubungan transaksional, ketaatannya beribadah akan diganti Tuhan dengan kehidupan yang terhormat dan harta yang berlimpah. Kesalehannya juga membuat ia merasa menjadi manusia paling baik dibanding jiwa-jiwa lain yang tersesat dan penuh dosa. Kesombongannya sebagai hamba pilihan Tuhan baru berhenti ketika usahanya turun dan kesehatannya memburuk karena sakit jantung. Alih-alih meneruskan hidup, ia kemudian berlindung di balik sikap tasauf yang pada satu titik malah terasa seperti upaya melarikan diri dari masalah di sekeliling,

Sikap sinis teman-teman satu rombongan kroncong Midah juga sangat realistis. Anggota laki-laki benci pada Midah karena cintanya ditolak hingga tak bisa mencicipi tubuh Midah sedangkan yang perempuan merasa ketakutan akan kalah bersaing. Kebencian yang meski tak ditunjukkan dengan terang-terangan ini, tetap saja membuat mereka cukup tega membuat perempuan dengan bayi merah terlunta-lunta tanpa perlindungan.

Pada satu bagian juga diceritakan, bagaimana buruknya pelayanan rumah bersalin yang lebih mengutamakan hal-hal administratif di atas kemanusiaan. Dan dengan pelayanan demikian buruk, Midah masih harus membayar mahal.  Hati saya getir sekali membayangkan seorang perempuan lemah yang baru bersalin membawa pulang bayi telanjang karena baju yang dipakai si bayi adalah milik rumah sakit. Ingin sekali saya menghujat Midah yang bisa-bisanya tidak menyiapkan perlengkapan bayi barang baju orok selembar pun sebelum melahirkan. Di sisi lain, saya juga ingin memaki pihak rumah sakit,  ini serius rumah sakit  tega membiarkan bayi merah pulang dalam keadaan telanjang. Dari semua perawat yang digambarkan judes setengah mati, apa tidak ada satu orang pun yang memiliki sedikit kelembutan hati untuk memberikan sehelai baju, popok dan selimut bayi. 

Ah entahlah, di jaman seperti apa Pram hidup sampai karya-karyanya segetir ini. Membuat kita mempertanyakan masih adakah belas kasih untuk sesama manusia. Ketika rasanya semua orang digambarkan begitu banal terhadap penderitaan sesamanya.

Di ujung, Midah digambarkan menjadi pelacur papan atas, semata untuk mematikan rasa, karena kemana pun ia pergi selalu hanya Ahmad yang hadir di pelupuk mata. Sangat khas perempuan. Midah sanggup menanggung lapar dan sengsara, menjaga diri untuk tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas karena menganut nilai-nilai yang dibawanya dari rumah. Tapi ketika berhadapan dengan cinta, ia tak kuasa. Bahkan ketika di ujung ternyata cinta membuatnya hancur dan ditinggalkan. Ironisnya lagi, penghujat paling kejam justru malah dari sesama perempuan sendiri.

Saya lalu teringat sebuah kutipan: “ We are all selective sinner. We choose the sins we are comfortable with and judge others for the ones we can’t accept”.

Pada hakikatnya kita semua adalah pendosa. Kita merangkul dosa yang paling nyaman untuk diri sendiri, lalu menjatuhkan vonis pada dosa orang lain yang tak bisa kita terima. 

Kamis, 02 Juli 2026

Resensi KOKOKAN MENCARI ARUMBAWANGI

 





Judul Buku                : Kokokan Mencari Arumbawangi 

Penulis                      : Cyntha Hariadi

Jumlah Halaman      : 337 halaman

Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama

 

Hirup hijau itu, Kakaputu. Simpan di dalam dadamu dan kau akan selalu hidup”

“Arumbawangi, rangkul langit di atasmu. Birunya, hitamnya, terangnya, gelapnya, segala rahasianya. Jangan takut. Kau akan jadi anak paling kuat

Ada novel yang begitu seru dan mudah dibaca sampai tamat sekali duduk, ada juga jenis buku yang perlu waktu berjeda-jeda untuk menyelesaikannya. Bukan karena tak bagus, tapi justru karena saking bagusnya hingga emosi semua tokoh di buku itu memengaruhimu sedemikian rupa. Kau akan ikut merasa bahagia tatkala cerita cerah ceria, tapi juga ikut merana ketika si tokoh buku terkisahkan sengsara. Dan dengan yakin saya nyatakan bahwa buku ini termasuk buku yang kedua, saya tertipu, padahal ada embel-embel Sebuah Dongeng di halaman judul, tapi bagaimana bisa emosi saya bercampur aduk sampai berkali-kali harus berhenti dulu dan menghirup nafas panjang saat membacanya. Untungnya, autoimun saya kambuh lagi hingga harus bedrest total beberapa hari ini, dan tak ada yang bisa dilakukan selain membaca. Maka buku ini selesai juga dalam dua hari.

Baru halaman pertama, tapi saya sudah terpesona, pada jalinan kata yang dipilih dengan begitu rapi dan puitis, meski sempat kebingungan menebak arah cerita, dan berpikir kenapa baru pembuka tapi sudah segelap ini. Dua anak kecil yang masih bersekolah dasar, memandikan jasad ibunya yang wafat, mendandaninya  seperti akan pergi sembahyang dan kemudian menguburkannya di tanah belakang rumah.  

Sebagaimana judulnya, buku ini memang sebuah dongeng. Tentang suatu desa sangat subur di Bali yang dihuni oleh ibu dan anak, Nanamama dan Kakaputu namanya. Nanamama adalah petani sigap yang tangguh, ia menganggap tanah sebagai denyut nadinya sendiri. Hidupnya sederhana, dipenuhi kerja menumbuhkan segala yang ada di bumi hingga suatu hari sekawanan burung kokokan membawa seorang anak perempuan kecil berkulit putih, mendarat di kebun bawangnya di pekarangan rumah. Nanamama memberinya nama Arumbawangi, dan segera ia menjadi anak yang disayangi Nanamana sepenuh jiwa dan adik yang dilindungi Kakaputu segenap hati, tak peduli seluruh warga desa memandangnya sebagai bebai atau roh jahat.

Nanamama memang sosok perempuan yang berbeda. Ia satu-satunya orang yang menentang rencana penjualan sawah penduduk desa untuk jadi obyek wisata. Ia percaya, ia adalah penjaga tanah, dan tanah akan membalasnya dengan  kebaikan melalui semua yang tumbuh diatasnya. Ia percaya, tanah yang diolah tak akan pernah membuatnya kelaparan. Lebih baik jadi tuan yang miskin di atas tanah sendiri daripada budak yang kaya di atas tanah orang lain. Namun karena pandangan ini, ia dibenci seluruh desa, kebencian yang berlarat-larat hingga kemudian karena itulah ia wafat.

Di bawah pengasuhannya, Kakaputu dan Arumbawangi tumbuh menjadi dua anak baik yang sangat bisa diandalkan. Kita akan diajak menyelami betapa banyak kerjanya dan betapa berharganya hari-hari sebagai petani.

Kau cukup beruntung dilahirkan sebagai anak petani. Anak yang kekuatannya jauh melebihi sihir tangan Raja Midas, sebab yang ada di tanganmu bukan sihir tak terbatas, tapi kekuatan manusia yang ada batasnya tapi nyata, selalu menghidupkan, tidak mencelakakan.

Dibatasi rimbunan pohon kelapa dari desa,  sebuah hotel yang terbengkalai pembangunannya karena terhambat proses perizinan, ternyata dialihkan kepemilikannya. Pak Rudi,  pemilik hotel yang baru, memiliki seorang anak bernama Jojo, anak baik yang terperangkap duka setelah ditinggal wafat ibunya sehingga menjelma jadi monster kecil manja yang menyusahkan semua orang di sekelilingnya. Ironisnya, melalui perantara sebuah layang-layang rusak, Jojo kemudian berteman dengan Kakaputu dan Arumbawangi. Mulanya Kakaputu dan Arumbawangi menyembunyikan pertemanan itu, khawatir dengan reaksi Nanamama yang alergi terhadap semua hal yang berhubungan dengan hotel, namun di luar dugaan Nanamama malah ikut sayang pada Jojo. Begitu pun Jojo, dukanya perlahan sembuh melalui pertemanannya dengan keluarga kecil yang hangat ini. 

Kupikir cerita akan berlanjut manis, tapi tentu saja bagaimana saya bisa berharap seperti itu pada buku yang sudah dibuka dengan prolog begitu gelap. Setelah satu hari penuh yang menghangatkan jiwa dengan petualangan persahabatan, cerita bergulir pada tragedi yang begitu memilukan di tengah malam: ulang tahun Jojo yang kesepian. 

Alih-alih menemani anaknya, Pak Rudi malah pergi melakukan perjalanan bisnis ke Hongkong. Jojo yang merasa ditinggalkan, merayakan ulang tahun sendirian di kamar hotel, dengan sebuah lilin yang menyala lalu apinya membesar dan melalap habis kamarnya, ia kemudian terbakar mati. Duka tak tergambarkan bagi Pak Rudi, ia sudah kehilangan istri di hari ulang tahun Jojo yang ke -11, lalu kini ia kehilangan satu-satunya anak di ulang tahun Jojo yang ke-12.

Apakah kemudian tragedi berhenti sampai di sini?, oh tentu tidak, beberapa hari setelah kejadian ini, beberapa polisi mendatangi rumah Nanamama dan menahannya. Tuduhannya jelas: membakar hotel sehingga menyebabkan kematian Jojo. Motif yang dituduhkan: Nanamama satu-satunya orang yang tak pernah setuju dengan pembangunan hotel. Bukti yang memberatkan:  sisir Nanamama ditemukan di bawah keset hotel.

Penahanan Nanamama ternyata berlanjut pada rentetan duka lainnya, perlakuan warga desa yang sejak semula memang tak ramah pada Kakaputu dan  terutama pada Arumbawangi yang dianggap “anak burung”, semakin menajam. Hati saya ikut pedih membayangkan anak usia SD hanya berdua di rumah, mengurusi semua keperluan sendiri, berharap cemas menanti kepulangan ibu, sementara semua orang di sekitar begitu dingin seolah tak peduli.

Nanamama kemudian memang pulang ke rumah, tapi sudah seperti jasad yang lumpuh, penahanan ini meruntuhkan sisa kekuatan jiwanya, ditambah dengan racun jahat yang dioleskan tetangganya pada arit yang digunakan Nanamama mengolah sawah. Seminggu kemudian Nanamama wafat, dan tinggallah dua anak tanpa ayah dan ibu ini harus meneruskan hidup.

Di titik ini, saya pikir cerita akan melunak, memberi jeda bagi pembacanya agar sedikit menghirup napas, ternyata tidak. Nanamama memang meninggalkan rumah, tanah sawah, kebun, binatang piaraan dan tabungan yang banyak untuk kedua anaknya. Kakaputu dan Arumbawangi akan tetap bisa sekolah dan tak akan kelaparan. Siapa sangka jika penjahatnya adalah seluruh warga desa yang memaksa kedua anak ini tunduk pada perwalian Pak Wawatua dan memaksa Kakaputu menandatangani surat persetujuan penjualan sawah.

Terbiasa dikelilingi tetangga-tetangga yang baik, tak habis pikir saya, bagaimana bisa seluruh penduduk desa berkomplot menjadi jahat dan menyudutkan anak yatim piatu di bawah umur. Dan pada saat-saat genting, sekelompok burung kokokan besar menjemput Kakaputu dan Arumbawangi untuk kemudian membawa keduanya pergi. Entah kemana, tak dilanjutkan lagi pada cerita.

Ya tentu karena sudah diputuskan bahwa cerita ini adalah sebuah dongeng oleh penulisnya, maka semua awal mula dan akhir cerita menjadi hak prerogatif penulis sepenuhnya. Tapi setelah dilempar ke forum umum, maka sebuah karya berhak untuk dikomentari, didiskusikan dan dikritisi oleh pembacanya. 

Buku ini adalah buku yang sangat bagus untuk saya. Pilihan diksinya memesona, jalinan ceritanya rapi dan manis. Konflik yang ditampilkan juga sangat relevan dan dan cenderung kontemporer: isu alih fungsi lahan pertanian, polisi yang korup dan berpihak, perundungan terhadap liyan atau orang yang dianggap berbeda, dan terakhir, cacatnya perlindungan sistem sosial masyarakat terhadap warganya yang paling lemah, ketika berhadapan dengan ketamakan dan mimpi untuk kehidupan yang lebih baik. Semua digambarkan dengan sangat lugas.

Saya masih bisa menerima ketika di pertengahan cerita, Jojo dan Nanamana sempat menjadi hantu, residu energi yang tertinggal karena ada hal belum selesai yang masih mengikat pemilik jiwa dengan dunia fana. Yang sedikit mengganjal untuk saya hanya akhir cerita yang seolah dipaksakan untuk segera selesai dan terburu-buru: sekelompok burung kokokan yang datang lagi dan menjemput Arumbawangi dan Kakaputu pergi ketika dirempug warga. Tambahan kalimat Sebuah Dongeng di halaman judul memang bisa menjadi pembenaran penulis untuk menutup dan membuka cerita ini dengan hal yang tak masuk akal. Tapi tetap saja, seperti gatal di bawah kulit yang tak bisa digaruk, saya merasa seperti itu jugalah akhir dari buku ini. 

Berbagai pertanyaan lanjutan mengganggu pikiran saya: saya tak paham anatomi burung kokokan, sebesar apa burung itu. Ketika diceritakan mengantar Arumbawangi yang masih berumur dua tahun masih okelah,  tapi apakah memang sanggup membawa anak berusia sepuluh atau sebelas tahun?. Lalu mereka dibawa pergi kemana, pertanyaan ini mengganggu karena dari mana Arumbawangi datang juga tidak pernah dijelaskan di dalam cerita. Pertanyaan selanjutnya, jika kedua anak ini dibawa pergi, bagaimana dengan tanah yang ditinggalkan, padahal tanah ini yang selalu dipesankan oleh Nanamama untuk dijaga dengan sepenuh hati seperti menjaga nyawa sendiri. Jangan sampai dijual. Jika ditinggalkan begitu saja bukankah jadinya malah bertolak belakang dengan inti cerita.

Saya berharap akan ada bagian kedua yang menjadi lanjutan dari buku ini untuk menjawab kepenasaranan saya. Sebagai penutup, saya berterima kasih kepada Cyntha Hariadi yang sudah menulis buku seindah ini.

Kamis, 04 Juni 2026

Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI




Judul Buku                : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Penulis                      : Yusi Avianto Pareanom

Penerbit                    : baNANA publisher

Jumlah Halaman       : 468 halaman

Edisi                         : keempat, cetakan keempat, Februari 2026

 

Maut tak perlu ditantang, bila waktunya datang ia pasti menang, hlm. 17        

Kenangan, dari apa kau terangkai?. Bagaimana aku mesti mengerat dan membaginya kepada yang lain? Tanpa bisa kutahan, air mataku menetes, hlm. 248-249

Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekedar makan dan tidur sebelum disembelih, hlm. 320

Ia bertanya apakah aku orang yang berbahagia, hlm. 330

 

Sepertinya saya terkena reading slump, berganti-ganti dari satu buku ke buku lain tanpa benar-benar menamatkannya. Lalu kemudian saya menyadari, semua buku yang saya baca ternyata adalah buku nonfiksi yang cenderung “berat”. Oke, daripada berlanjut terus seperti itu, saya putuskan beralih sejenak ke buku fiksi. Dan random saja, saya ikut lagi rekomendasi dari klub buku, kebetulan lainnya,  sedang ada diskon, yeaaay. Biasanya, rekomendasi dari klub buku selalu bagus, rekomendasi kali ini pun tak gagal, karena ternyata Raden Mandasia Si pencuri Daging Sapi ini seru dengan banyak u dan tanda seru.

Cerita dimulai dengan adegan yang sangat komikal: dikejar-kejar orang karena habis maling, dan tertangkap, dan babak belur sampai pingsan berhari-hari. Saya pikir cerita ini akan berpusat pada Raden Mandasia sesuai judulnya, namun ternyata tidak, karena yang menjadi tokoh utama cerita adalah “aku”, Raden Sungu Lembu, yang sepanjang hidup membawa dendam terhadap Watugunung, penguasa Gilingwesi,  yang adalah ayah kandung dari Raden Mandasia. 

Kisah tentang Raden Mandasia hanya muncul ketika menceritakan perjalanan mereka berdua. Meskipun demikian sempat terceritakan pula, kenapa Raden Mandasia disebut Si Pencuri Daging Sapi, karena memang Raden Mandasia ini hobinya literally mencuri beberapa bagian daging sapi yang dipotong dari sapi hidup dan disembelih sendiri, meski dengan cara yang terbilang cukup bermartabat untuk ukuran seorang pencuri: setelah mencuri ia selalu meletakkan uang yang bahkan lebih banyak dari harga sapinya itu sendiri.

 

Sesuai yang tertera di bagian cover: Sebuah dongeng dari  Yusi Avianto Pareanom, kisah dalam buku ini memang dongeng, namun tentu dongeng untuk orang dewasa, salah satunya karena kata makian yang bertebaran di sepanjang cerita.

 

Anjing, anjing, anjing, aku mengumpat-umpat mengikuti Raden Mandasia yang masih tertawa-tawa, hlm. 18

 

Salah satu yang memilih tunduk adalah Banjaran Waru, kerajaan yang dipimpin barisan monyet pengecut yang jahanamnya satu trah denganku, hlm. 199

 

Pada beberapa kesempatan, kata makian yang digunakan cukup lucu: Tapir Pincang =D

 

Hal lain yang saya amati, buku ini sangat sedikit menceritakan tentang perempuan, hanya ada Nyi Banyak, Melur, Nyai Manggis, Mayssa, Putri Tabassum, Zahra si Tukang Tenung, Dewi Sinta dan Dewi Landep. Kecuali Nyi Banyak, tokoh-tokoh perempuan ini pun hanya hadir sebagai objek seksual belaka.

 

Namun demikian, terlepas dari umpatan serta beberapa adegan kekerasan dan seksual yang terlalu detail, seperti layaknya cerita dongeng yang kadang too good to be true, (namun karena itulah kita semua menyukai dongeng), kisah dalam buku ini pun menyimpan beberapa pesan moral atau pelajaran yang bisa diambil:

1.    Jangan berhenti belajar apapun, diceritakan bahwa Sungu Lembu ini adalah anak yang sangat rajin belajar, ia adalah pembaca yang rakus, murid yang banyak bertanya, namun juga pesilat yang tangguh. Kemampuan otaknya berbanding lurus dengan ketangguhan fisiknya. Ia juga dianugerahi dengan ingatan lidah, sanggup memetakan semua bahan dari makanan yang dicicipi sekaligus mampu mengenali segala jenis racun bahkan dalam dosis yang samar-samar. Tentu saja ini adalah bakat, namun kemampuan berikutnya yaitu tahan terhadap racun hanya diperoleh melalui disiplin dan latihan keras mencicipi semua jenis racun dengan resiko kematian itu sendiri. Selain itu, ia pun ternyata sangat ambis, dalam salah satu episode perjalanan ketika berlayar, ia merasa malu karena ternyata Raden Mandasia yang kelihatannya diam saja yang berhasil menyeimbangkan laju perahu dengan merobek layar. Ia sedikit merasa terpukul ketika Raden Mandasia bilang “Aku pun belajar, Lembu”, padahal Sungu Lembu yang sibuk kesana kemari sepanjang pelayaran. Pada perjalanan selanjutnya, Sungu Lembu dengan rajin menulis catatan perjalanan, dan karena itulah ia kemudian dipercaya menjadi pencatat saat terjadi perang besar antara Gilingwesi dan Gerbang Agung.

2.  Perempuan harus juga punya kemampuan untuk bertahan hidup. Para perempuan dalam buku ini hadir dengan cerita hidup yang getir, jika bukan jadi korban perkosaan, jadi pelacur atau wanita penghibur, mereka hadir seolah jadi objek yang diwariskan. Entah jika ini karena alur cerita terjadi pada masa Nusantara yang masih berupa kerajaan-kerajaan sehingga cenderung patriarki dan begitulah adanya nasib jadi perempuan. Meskipun demikian, dari takdir yang getir, Nyai Manggis sanggup menjadi pemilik rumah dadu dan berpartisipasi dalam kelompok perlawanan terhadap rezim yang berkuasa.

3. Kekuasaan memungkinkan terjadinya perubahan yang lebih baik untuk kepentingan bersama, namun kekuasaan pun acap kali merubah orang baik menjadi orang jahat. Watugunung tidak pernah ingin jadi raja, dahulu nama kerajaan itu adalah Medang Kamulan, namun penguasanya lemah dan tak memikirkan kepentingan rakyat, ketika Watugunung diminta menjadi raja, ia melakukan banyak perbaikan di wilayahnya yang kemudian berganti nama menjadi Gilingwesi, dan memang banyak sekali kemajuan yang diperolehnya. Gilingwesi berkembang menjadi kerajaan yang besar, makmur dan sejahtera.  Namun kemajuan itu pun menumbuhkan perasaan untuk lanjut menaklukkan daerah-daerah lain di sekitarnya. Sehingga terjadilah penyerbuan ke Gerbang Agung yang sebetulnya tidak perlu dan ternyata menjadi titik balik kehancuran Gilingwesi. 

Ada harga yang harus kau bayar sebagai penguasa untuk membuat bawahanmu gembira, hlm 435.

Kami membesar tetapi mulai keropos di sana-sini. Orang-orang yang dulu baik menjadi mencong, yang pintar menjadi pemalas, yang lembut hati menjadi keji. Raden mungkin tak sempat melihatnya karena yang Raden pikirkan hanyalah menghabisiku, hlm. 442.

4.    Perang selalu membawa petaka, begitu pun ambisi untuk memperluas daerah kekuasaan. 

Raden Mandasia sangat ingin mencegah terjadinya rencana penyerangan Gilingwesi terhadap Gerbang Agung. Alih-alih terus memperluas daerah kekuasaan, ia meyakini bahwa sebaiknya Gilingwesi fokus saja pada perbaikan di dalam kerajaan. Karena banyak daerah taklukan yang sebetulnya masih menyimpan api dendam di dalam sekam, dan banyak gerakan-gerakan perlawanan yang sebetulnya belum mampu dilunakkan. Kemudian memang terbukti, penyerangan yang dilakukan terhadap Gerbang Agung menjadi titik kehancuran Gilingwesi.

Perang jarang membawa manfaat. Mungkin Ayah Prabu baru sadar sekarang, hlm. 430.

Banyak orang paham memulai perang, tapi tak pernah benar-benar paham bagaimana mengakhirinya. Tujuan awal yang semula terdengar mulia menjadi tak jelas lagi di medan pertempuran. Penjagalan makin mengerikan dari hari ke hari. Kau mengira sudah melihat sebuah kekejaman di medan perang dan merasa itulah puncaknya. Ternyata masih ada kekejaman lain yang melampaui. Begitu setiap saat, hlm. 425.

5. Ketika mengenal baik seseorang, betulkah bahwa kita sudah betul-betul mengenalnya?. Saat Raden Mandasia wafat, Sungu Lembu baru sadar bahwa ia ternyata tak tahu banyak detail tentang sahabatnya itu. 

Raden Mandasia adalah hal paling dekat yang bisa kusebut sebagai teman dan kami ternyata saling mengenal sedikit saja, hlm. 431.

Entah bagaimana potongan ini juga menghantamku begitu saja. Dalam hal hubungan dengan orang lain di sekitar, bukankah sering kita sebetulnya tak tahu apa-apa. Begitu pun juga aku kepadamu.

 

Pada cover akhir, tercetak bahwa buku ini memperoleh tiga penghargaan, Prosa Terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, Prosa Pilihan Majalah Tempo 2016 dan Fiksi Terbaik Rolling Stone Indonesia 2016. Ketiga penghargaan ini rasanya memang sangat layak sekali. Dan saya sepakat: Meminjam berbagai Khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis dan maki-makian Anda dalam waktu berdekatan-mungkin bersamaan.

 

 

Rabu, 20 Mei 2026

Resensi DARI DALAM KUBUR


 

Masa kecil saya selalu riuh dan penuh orang. Ditemani ibu-ibu bercaping yang menjemur padi di pekarangan rumah yang seperti lapangan kecil, dan di lain hari saat semua padi sudah selesai dijemur, ibu-ibu yang sama ini juga yang akan sibuk membantu Ne Haji “olah”, ini adalah istilah yang merujuk pada kegiatan membuat jenis makanan tertentu dalam jumlah banyak. Makanan yang biasa dibuat biasanya sejenis renginang, opak, kicimpring, kemplang, juga makanan-makanan tradisional lainnya yang dibuat dari hasil bumi dan memerlukan waktu sangat lama dalam pengolahannya. Ada satu ruangan khusus tempat penyimpanan makanan di rumah kami, namanya ‘goah’, sejenis kamar biasa, tapi literally isinya hanya makanan, dan entah bagaimana kamar itu tak pernah kosong. Selalu ada segala kriuk-kriuk yang saya sebut diatas termasuk bernyiru-nyiru ulen, bertandan-tandan pisang, dan entah apa lagi dalam kaleng besar-besar. Termasuk diantara kegiatan “olah” itu adalah juga membuat minyak goreng dan gula aren. Aki memang punya beberapa pohon kelapa dan pohon nira yang hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng dan gula aren di rumah sepanjang tahun. 

Seiring bertambahnya usia, saya tahu, ibu-ibu ini adalah para penggarap yang mengolah sawah nenek, jumlahnya puluhan karena biasanya penggarap sawah itu termasuk suami istri. Diantara para penggarap ini ada satu yang termasuk paling sering hadir membantu olah di rumah kami, kami biasa memanggilnya Ma Engkar, setelah cukup besar, saya baru tahu bahwa nama lengkapnya Ma Engkar Kartini, nama yang berima, khas Sunda sekali. Sambil menghadapi tungku api dan wajan berukuran besar, Ma Engkar akan mengerjakan tugasnya sambil berbincang dengan saya, anak kecil yang kala itu selalu ingin ikut membantu (baca: ngerecoki) apa saja. Dari sekian banyak perbincangan kami, ada satu yang sampai sekarang masih saya ingat: “cerita tentang PKI”. 

Suara Ma Engkar memberat saat menceritakan aksi PKI yang konon terjadi waktu beliau masih kecil (ajaibnya, sepanjang ingatan saya kala itu Ma Engkar sudah tua, tapi tidak bertambah tua lagi bahkan setelah 30 tahun berlalu dan kami bertemu kembali dalam versi saya yang justru sudah menua). Menurut ceritanya, seluruh PKI itu jahat, mereka membantai banyak sekali ajengan di desa. Tapi yang paling jahat, justru kaum wanitanya PKI, kata Ma Engkar namanya Gerwani. Mereka membunuh para jenderal, dan menari-nari di depan jenazah yang sudah mereka bunuh, selain itu para Gerwani pun menjadi milik bersama para pria PKI. Saya ingat, cerita itu cukup membuat saya jeri sehingga akhirnya dengan kesadaran penuh saya minta Ma Engkar mengganti cerita.

Berpuluh tahun kemudian, saat membaca buku ini, entah bagaimana yang pertama terbersit di benak saya justru adalah kenangan tentang Ma Engkar dan cerita Gerwaninya.

 

Judul buku                : Dari Dalam Kubur

Penulis                      : Soe Tjen Marching

Penerbit                    : CV. Marjin Kiri

Jumlah Halaman      : 508 halaman


Kisah ini bukan fiktif belaka. Nama tokoh, tempat dan peristiwa bahkan lebih nyata dari segala kisah nyata.


Buku ini merupakan hasil rekomendasi yang saya dapat dari salah satu akun klub buku, membaca banyak ulasannya, saya merasa harus beli. Namun sayangnya, buku ini ternyata cukup langka, saya harus ikut pre order dan perlu waktu tiga bulan untuk buku ini kemudian sampai di tangan. Ketika mulai membaca, saya merasa perlu berterima kasih kepada yang sudah merekomendasikan buku ini, karena buku ini ternyata luar biasa, bagus bagus banget, meskipun saat membaca buku ini saya frustasi sekali, harus berhenti berkali-kali, mengusap mata yang tetiba basah, dan menguatkan hati untuk melanjutkan membaca lagi, karena untuk saya buku ini terlalu sarat emosi, dan ceritanya jauh lebih jeri dari cerita Ma Engkar yang saya dengar waktu kecil.

Jika diringkas, buku ini bercerita tentang sebuah keluarga Tionghoa yang menjadi korban kerusuhan politik tahun 1965. Uniknya, buku ini menceritakan sudut pandang seluruh anggota keluarga yang kemudian dituangkan dalam lima bagian buku: Karla, Mama, Papa, Metamorfosa dan Laire.

Bagian pertama Karla, merupakan bagian paling panjang dalam buku, menceritakan kisah dari sudut pandang Karla, anak perempuan Djie Feng. Bagian ini terasa sangat personal karena menceritakan rumitnya hubungan anak perempuan dengan ibunya. Baru mulai sudah begitu darderdor, tak tanggung-tanggung, cerita dibuka dengan Karla yang ingin membunuh ibunya. Namun kemudian, seiring cerita, entah bagaimana kita terseret pada emosi Karla dan akhirnya memahami bahkan memaklumi kenapa Karla begitu membenci ibunya, sosok yang sempat Karla puja ketika masih kecil.

Pada bagian ini pula, kita akan dibawa untuk menyelami bagaimana sentimen rasis  terjadi begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari, dan ia hadir dalam berbagai bentuk, dari mulai celetukan atau sindiran halus, sampai pada pengucilan dan menggembung menjadi insiden besar berupa penjarahan. 

Dalam halnya Karla, kebenciannya yang berlarat-larat pada ibunya, membuat ia menafikan juga identitasnya sebagai keturunan Tionghoa, sehingga ketika cerita mulai menyentuh tragedi 1998 dimana bukan hanya terjadi penjarahan terhadap rumah-rumah, tapi juga terjadi pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Tionghoa, hati Karla tak tersentuh dan bahkan ia malah bersyukur karena tak ikut menjadi korban.

Pada bagian kedua, Mama, kita akan membaca kisah dari sudut pandang Djie Feng, ibu Karla yang kemudian berganti nama menjadi Lydia Maria. Pada bagian ini kita bukan hanya akan mengerti, tapi juga bersimpati dan akhirnya membenarkan semua tindakan yang ia lakukan terhadap Karla. Djie Feng ternyata adalah mantan tahanan politik yang masuk penjara dengan suka rela untuk menggantikan adik iparnya, Lan Ing yang dianggap dekat dengan anggota Gerwani (Widya, Ratna, Fan, Bu Yatmi). Padahal anggota Gerwani inilah yang sudah menyelamatkan Lan Ing dari KDRT dan memberikan jalan keluar untuk Lan Ing mencari penghidupan. 

Pada bagian kedua ini, saya mendapat gambaran bahwa kegiatan Gerwani sebetulnya adalah kegiatan yang positif, mereka mengajarkan baca tulis, membangkitkan kesadaran politik pada kaum perempuan, juga memberikan solusi ketika terjadi kasus KDRT. Namun propaganda membuat mereka menjadi sosok yang menari telanjang dan membunuh para jenderal. 

Beberapa artikel harian Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha bertanggal 7 Oktober sampai 11 Oktober menyiarkan bahwa para Gerwani telah memerkosa, mencungkil mata para jenderal dan melakukan kekejian luar biasa lainnya: "Ada yang dipotong kelaminnya". (halaman 245)

Penculikan dan penahanan yang dilakukan terhadap mereka juga membuat mereka ada pada posisi dijauhi semua orang, tak ada yang mau menolong. 

Karena dicurigai Gerwani saja sudah cukup untuk membuatnya layak diperkosa, dibunuh, disiksa, dan dibuang kayak binatang, (halaman 323)

Pada bagian ini saya teringat pada cerita Ma Engkar, dan itu tentu bukan kesalahan Ma Engkar, saya yakin mungkin bukan hanya Ma Engkar, tapi juga banyak orang lagi yang segenerasi dengannya sudah termakan propaganda tersebut. 

Kisah pada bagian Mama ini menjadi bagian yang paling traumatis dalam buku ini. Pemerkosaan dan penyiksaan yang terjadi selama penahanan pada semua tahanan perempuan diceritakan dengan begitu lugas, tak ada sama sekali upaya penghalusan bahasa sehingga saya ikut mual, ikut frustasi, dan pada satu titik ikut juga merasa ingin bunuh diri.

Panas luar biasa itu membakar kulit saya, kemudian disusul oleh yang lain: puntung-puntung rokok itu menancap di leher, perut, payudara, bahkan puting saya. Tubuh saya mengepul dengan bau kulit dan daging terbakar, dia mendesis pelan: “Ayo ngaku...lonte Cina...ngaku...” diikuti teriakan sipir-sipir lainnya mengingatkan saya pada pesta suku Indian dalam buku-buku Winnetou. (halaman 286)

Setelah semalam dia mengunyah tubuh-tubuh kami dengan buas dan bernafsu, esoknya dia meminta kami duduk untuk mendengar petuahnya tentang Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Keadilan. Tentang bagaimana bejatnya diri ini, bagaimana kami harus menjadi manusia yang bermoral dan beradab. Suaranya menggelegar: “Ulang kata-kata saya, PANCASILA...” (halaman 289)

Keluar dari penjara, Djie Feng ternyata hamil, dan ironisnya semua orang melarang ia mengaborsi kandungannya. 

Perut saya tambah besar. Saya bunting lagi, dan tentu saja sponsornya bukanlah Han. Ketua RT yang menceramahi saya setiap bulan, juga terlihat bergairah karena dia bisa menyemprot: “Orok dari mana? Barang laki mana saja sudah masuk ke sana?” Saya sudah belajar untuk menunduk sambil mematikan rasa. (halaman 313)

Mereka tak peduli pada hancurnya dan robeknya tubuh saya, pada darah yang berceceran di mana-mana.

Kelahiran dianggap rahmat dan melahirkan adalah kodrat. Karena wanita harus jadi ibu. Siapa pun yang meratapi hal ini adalah perempuan yang ndak tahu diri.

Saya yakin hanya manusia kuatlah yang sanggup menahan payahnya mengandung anak si pemerkosa selama sembilan bulan dan tetap mencintai si anak yang ketika lahir ternyata begitu mirip penjahat itu. Bukan salah Djie Feng jika dalam perjalanannya ia menjadi begitu keras pada Karla, bagaimana pun ia hanya manusia biasa, tapi dengan kapasitasnya sebagai manusia biasa ia sudah menunjukkan hati yang begitu luas. Dan melihat dari sudut pandangnya, semua yang ia lakukan ternyata semata untuk kebaikan Karla. Mungkin ini juga menjadi pembelajaran, bahwa suatu kisah apapun itu, tak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja, karena ketika dilihat secara utuh dari semua sudut pandang, konteks bisa berubah, sehingga tak lagi hanya ada hitam dan putih semata.

Sejujurnya, saya cukup kesulitan mereview, saking kayanya pembahasan dalam novel ini. Kamu akan menemukan sejarah gelap yang sampai saat ini belum diakui oleh mereka yang bertanggung jawab. Tentang satu tragedi setara genosida, tentang penghapusan paksa mereka yang dilabeli PKI. Anggap saja buku ini adalah salah satu upaya untuk merawat ingatan, karena entah berapa generasi sudah tak mampu lagi mengenali sejarah dengan utuh. Kamu akan menemukan diskriminasi rasis yang saking nyatanya kamu baru akan tersadar memang seperti itulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kamu akan menemukan pemaksaan terhadap tubuh dan rahim perempuan, serta upaya luar biasa untuk berdamai dengan ingatan yang menyakitkan. Kamu juga akan menemukan banyak sekali kritik terhadap pemerintah.

Modal negeri ini sudah digadaikan dengan murah kepada asing oleh germo-germo yang berhasil menjadi pejabat tinggi. Tambang-tambang bangsa ini bakal segera dikeduk dan diboyong keluar dengan pembagian yang sama sekali ga adil. Hanya kantong para germo itulah yang makin mengembung. Ya pasti, zaman ini rasanya lebih makmur karena banyak duit. Tapi rakyat ga bakal sadar kalau modal mereka sudah hilang. Seperti juga orang yang menjual rumah mereka bakal punya uang berlimpah tapi ga ada lagi persediaan untuk anak cucu mereka di masa depan. Ga bisakah mereka sadar hal ini?(halaman 354)

Buku ini membuat saya meninjau ulang kembali pengetahuan hampir seperti dogma yang saya peroleh seputar apa yang terjadi pada tahun 1965. Karena itu pula, usai menamatkan buku ini saya langsung memesan buku Soe Tjen Marching lainnya: Yang Tak Kunjung Padam.

Resensi SIHIR PEREMPUAN

Judul buku                   : Sihir Perempuan Penulis                      : Intan Paramadhita Jumlah halaman      : 158 halaman Penerbit  ...