Minggu, 19 Juli 2026

BERDAMAI DENGAN AUTOIMUN


Sudah dua minggu tapi demam saya tak turun-turun. Pusing, lemas, dan paling parah ada benjolan besar di paha atas sebelah kiri. Tiap jalan saya kesakitan. Sudah ke dokter, dan obat juga sudah habis, tapi kepala saya tetap terasa seperti pendiangan yang menyimpan sekam, tulang-tulang rasanya ngilu, makan tak enak, dan entah bagaimana badan saya rasanya lelah tak berkesudahan, bahkan setelah tidur semalaman.

Tak enak karena sebelumnya juga sudah izin sakit, saya memaksakan tetap masuk kerja. Tapi jadinya begitu, sehari masuk besoknya tidak. Untungnya direktur saya luar biasa baik. 

Hari Kamis di pekan kedua saat sedang demam-demamnya, sudah waktunya untuk saya kontrol kawat gigi ke dokter ortho. Dengan badan yang sudah tak karuan, saya memaksakan berangkat dari Jakarta ke RSGM Unpad. Entah bagaimana, sesampainya di  rumah sakit gigi, saya merasa kedinginan. Padahal kata pasien sebelah, suhunya biasa saja. Saya coba tahan sampai selesai perawatan. Keluar dari ruangan, ternyata dinginnya menghebat, gigi saya gemeletuk dan badan menggigil. 

Melihat panas terik di luar, dengan sengaja saya menantang matahari, berjemur di tempat paling panas sambil menunggu gojek. Anehnya, saya masih kedinginan, sampai handphone yang dipegang untuk melihat titik map babang gojek juga ikut gemetar. Dan begitulah, sampai rumah saya langsung ambruk. 

Di tempat tidur, saya masih merasa luar biasa dingin padahal sudah pakai sweater dan kaos kaki  sebelum dibalut tiga lapis selimut tebal-tebal. Anehnya, meskipun kaki saya dingin seperti orang mati, tetapi dahi dan nafas saya luar biasa panas. Ibu khadimat di rumah sudah menangis sambil mijitin kaki saya :”Teteh, jangan sakit kasihan anak-anak, hayu Ibu antar ke rumah sakit”, saya yang juga sibuk menahan ngilu dan sakit kepala tentu saja tidak bisa menenangkan Ibu. Anehnya lagi, saat itu saya juga malas ke rumah sakit, karena dua dokter sebelumnya yang saya kunjungi hanya memberi antibiotik dan penurun demam yang ternyata sama sekali tak mempan.

Entah bagaimana saya berhasil melewati malam itu, tapi di hari Sabtunya saya tak tahan lagi, dan akhirnya saya memaksakan diri  langsung ke spesialis penyakit dalam. Baru dilihat sebentar, saya langsung dirujuk untuk opname hari itu juga.

Begitu masuk ruang opname, kondisi badan saya memburuk, tiba-tiba saja muncul bintik-bintik merah yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Bintik-bintik merah itu kemudian menjadi ungu, dan gatal-gatal mulai terasa terutama di daerah telapak tangan dan kaki. Dokter visit tak pernah bilang saya sakit apa, tapi rasanya setiap hari darah saya diambil untuk segala jenis tes. 

Awalnya saya pikir penyebab penyakit saya adalah benjolan di paha. Sempat curiga, apakah mungkin itu tumor atau malah kanker. Karena dengan riwayat ibu kandung yang menderita penyakit kanker sampai wafat, saya memang cukup takut dengan penyakit itu. Alhamdulillah, ternyata bukan, meskipun kemudian vonis dokter tak bisa dibilang melegakan juga: saya divonis menderita autoimun dengan jenis vasculitis (radang pembuluh darah).

Dua minggu di rumah sakit, bintik-bintik ungu saya membaik, mulanya dari ungu kembali merah, sebelum kemudian memudar. Demam membandel yang tak turun-turun juga akhirnya menyerah dihantam obat yang terus menerus diberikan berjeda pada jadwal yang sama. 

Keluar dari rumah sakit, ternyata badan saya tak langsung pulih, saya tak sanggup bahkan berjalan dari kamar ke ruang makan, jangankan berjalan, sekedar melipat selimut atau membuka tutup botol pun tenaga saya tak ada. Akhirnya hanya bisa rebahan saja di tempat tidur. Hampir dua bulan saya tak masuk kerja. Dan sejak saat itu, hidup saya berubah.  

Hal pertama yang saya sadari, hidup saya kini bergantung pada obat. Ada dua jenis obat yang diberikan oleh dokter: metil prednisolone dan calcium lactate. Belakangan saya baru tahu bahwa metil prednisolone ini adalah obat jenis kartikosteroid yang berfungsi menekan produksi hormon kortisol dalam tubuh. Dan ternyata penggunaan dalam waktu panjang akan memberikan banyak efek samping, dan salah satu yang paling mengganggu adalah moon face serta meningkatnya nafsu makan.

Rasanya saya jadi lapar terus, hingga akhirnya makan dalam porsi banyak dengan frekuensi sering hingga otomatis berat badan saya naik. Tapi penggendutan paling signifikan hanya terlihat di perut dan muka saja. Awal masuk kerja, saya seperti perempuan yang sedang hamil 5 bulan, hingga akhirnya saya pakai gamis ke tempat kerja bukan karena mendadak sholehah, tapi karena baju-baju kerja saya tak muat terutama di bagian pinggang. 

Muka saya juga membulat, istilahnya moonface, hidung saya yang memang tak mancung ini jadinya semakin membelesak karena pipi yang seperti bakpao. Gendut yang tak sehat karena entah bagaimana kulit saya jadi menghitam dengan bibir yang juga tampak gosong. Seorang professor farmasi yang menjadi salah satu direktur di kantor bahkan sampai komentar :“Badan kamu retensi air, karena minum obat kortikosteroid ya”.

Begitulah, pekan-pekan awal masuk kerja pun sebetulnya badan saya belum pulih sempurna, betul-betul saya menghemat tenaga, kemana-mana naik grabcar untuk menghindari jalan kaki. Saya menyadari betul bahkan sekedar membawa tas ransel berisi laptop dan tumbler minum saja, saya sudah kelelahan luar biasa, apalagi mengerjakan hal-hal lain yang mengeluarkan tenaga.

Perlu waktu berbulan-bulan untuk saya kembali percaya diri berjalan kaki lagi dan naik MRT ke tempat kerja. Pelan-pelan banget. Saya yang biasanya sebelum sakit  selalu naik turun di seluruh tangga MRT yang curam dan banyak,  pasca sakit terpaksa berdamai dengan naik eskalator atau lift. Perlahan, saya mulai menaikkan intensitas jalan kaki, sebelum kemudian saya bersyukur karena akhirnya sanggup untuk jogging lagi keliling GBK. Tentu hanya jalan kaki saja, karena untuk kembali berlari saya tak tahu, akankah saya diberi kekuatan untuk sanggup berlari lagi.

Dan kini tak terasa satu tahun sudah sejak vonis autoimun itu.

Tentu ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Obat yang tak boleh putus, makanan tertentu yang harus dihindari dan yang paling terasa aktifitas yang harus dijaga. Lelah berlebihan atau kurang tidur sedikit saja badan saya ambruk, dan selalu setiap saya bandel dan memaksakan diri di luar kemampuan, tubuh saya seperti robot yang dipencet tombol shut down, terpaksa harus bed rest dan perlu waktu sampai berhari-hari bahkan sampai satu minggu untuk pemulihan.

Meski demikian saya masih mencoba untuk gwenchana.

Selama masih bisa buka laptop dan bekerja, saya anggap masih oke,  biarpun pada saat-saat tertentu harus sambil rebahan, biarpun harus sering terjeda untuk menghilangkan sakit kepala. Pekerjaan-pekerjaan kantor tetap saya upayakan untuk selesai dengan baik.

Tak dipungkiri ada saat saya ingin mengeluh bukan hanya karena kondisi tubuh, tapi juga karena ingatan dan ketajaman pikiran yang kini menurun jauh. Saya kesulitan untuk mengingat detail, dan banyak hal yang begitu saja menggelincir dari ingatan. Saya juga kesulitan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Jika sebelumnya saya sanggup berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dengan cepat, sekarang saya menyadari bahwa saya sudah tidak sanggup lagi seperti itu. Benar-benar hanya bisa mengerjakan pekerjaan satu demi satu sampai selesai. 

Yang paling mengejutkan adalah bagaimana hal kecil sekalipun bisa mengganggu saya sedemikian. Misal, saya akan menulis jurnal, tiba-tiba saya sadar ballpoint saya hilang, pikiran saya akan terganggu sedemikian sampai ballpointnya ketemu atau saya diberikan ballpoint yang lain sebagai pengganti. Saya belum mendapatkan bahan analisis yang cukup untuk kemudian menyimpulkan apakah ini salah satu symptoms atau malah akibat dari autoimun meskipun sekilas saya pernah baca peradangan kronis akibat penyakit autoimun dapat memicu ketidakseimbangan neurotransmitter (zat kimia otak) dan hormon stress yang pada akhirnya memicu gangguan kecemasan. 

Hal lain lagi yang saya sedihkan setelah sakit adalah sekarang saya sudah tidak bisa donor darah. Sebelumnya saya sangat rutin ikut donor, tapi belakangan secara tegas dokter menyatakan saya tak boleh sama sekali mendonorkan darah. Saya juga sudah tak bisa ikut olahraga Zumba lagi, padahal itu adalah hal yang paling saya sukai selain berlari. Sedih rasanya setiap harus melewatkan notifikasi ajakan Zumba dari instruktur saya yang luar biasa energik. Pernah sekali saya paksakan ikut, dan sesuai dugaan, sesudahnya saya langsung demam.

Dari buku When The Body Says No, Dr. Gabor Mate menyatakan bahwa penderita autoimun itu kebanyakan (hampir 80%) perempuan dan biasanya sebelum sakit ada empat karakteristik yang selalu muncul: 

1.    Lebih memikirkan perasaan orang lain daripada kebutuhan diri sendiri;

2.  Terlalu fokus pada tugas dan tanggung jawab sampai mengabaikan kebutuhan sendiri;

3.    Terlalu “baik’ dan cenderung menahan kemarahan yang sebetulnya ada;

4.    Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.

Karakteristik diatas adalah sifat orang-orang yang selalu membantu orang lain, sulit mengatakan tidak dan akhirnya menanggung beban emosi terus-terusan.

Jika ditanya lebih lanjut, ya betul sekali, empat karakteristik ini semuanya ada pada diri saya. Bukan berarti saya mengklaim diri sendiri sebagai orang baik, tapi memang betul, saya kesulitan sekali mengatakan tidak pada permintaan orang lain dan saya punya kecenderungan untuk selalu “membantu” dan juga merasa bertanggung jawab terhadap perasaan orang lain. 

Mental saya memang selemah permen Yupi, sampai pada satu titik saya sadar bahwa saya cenderung dimanfaatkan orang lain. Meskipun saya bersyukur kebanyakan teman-teman saya baik hati, tapi memang ada orang-orang tertentu yang dengan sadar selalu saya bantu sampai pada satu titik saya sakit dan stress sendiri.

Dan stress kronis ini sebetulnya sangat saya sadari sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tiba-tiba saja, saya menyadari, sudah bertahun-tahun sebenarnya saya mengalami kelelahan yang berlebihan, sudah bertahun-tahun juga sebetulnya saya mengidap penyakit kulit yang selalu saya nisbatkan akan kambuh setiap habis mencuci piring. Mungkin alergi sabun cuci piring, begitu pikir saya. Padahal mungkin itu adalah alarm pertama bahwa ada yang salah, tapi selalu saya abaikan sampai akhirnya tubuh saya tak mampu lagi menahan.

Seorang teman pernah berseloroh, mungkin sudah waktunya saya berusaha jadi Nikita Mirzani alih-alih terus soft spoken seperti Nikita Willy. Jika ingin marah, meledak saja, jika kecewa katakan saja terus terang, alih-alih selalu merasa bahwa semua ketidaksesuaian yang terjadi adalah salah saya sendiri. 

Sampai sekarang, jujur saja, saya belum bisa, dan mungkin memang masih menjadi PR besar saya untuk menemukan cara bagaimana mengelola emosi, kecemasan dan stress yang berlarut-larut. Karena sudah terbukti secara klinis, stress kronis melemahkan imun tubuh dan penyebab penyakit saya sepenuhnya adalah stress yang berkepanjangan. 

Saat ini yang bisa saya lakukan pertama-tama adalah menerima bahwa saya memang sakit. Kapasitas badan saya sudah tak bisa lagi seperti dulu, jika diumpamakan seperti batterai iPhone, sepertinya baterai health saya sekarang hanya 65%, tidak ada lagi super mom yang sanggup mengerjakan ini itu. Sudah waktunya untuk saya berhenti memaksakan diri.

Selanjutnya, saya akan belajar untuk mulai mengutamakan diri saya sendiri, belajar berkata tidak, dan meyakini bahwa perasaan orang lain bukan sepenuhnya tanggung jawab saya. Ini sulit, tapi saya akan belajar pelan-pelan.

Selanjutnya saya akan belajar untuk lebih banyak bersyukur. Dan ternyata memang banyak sekali hal yang harus saya syukuri. Lingkungan kerja yang menyenangkan, atasan yang luar biasa baik, pintar dan supportive. Anak-anak yang baik dan mandiri. Juga setiap hembusan nafas yang masih diberikan hingga detik ini. 

Setidaknya saya masih bisa produktif, masih bisa membaca, masih bisa memenuhi semua kebutuhan dasar diri saya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain, masih bisa menyediakan makanan di meja untuk keluarga saya, masih punya orang-orang yang menyayangi dan saya sayangi. Masih bisa terbangun pagi ini, masih tersedia makanan di meja, di rumah yang aman dan tenang serta bukan dalam situasi perang yang mencekam. Serta merta saya jadi teringat pada sebuah hadits:

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi).

 

Sekuat tenaga saya berupaya untuk berpikir bahwa tak ada lagi yang harus saya keluhkan. Mungkin ada banyak mimpi yang harus saya lepaskan, dan hal-hal yang harus saya relakan, tapi ya sudah, biarkan saja. Toh selama ini saya tidak sedang berlomba dengan siapa pun, selama ini saya hanya bertarung dengan standar dan target yang saya tetapkan sendiri.

Konon, autoimun tak bisa disembuhkan. Tapi tidak apa, bukankah hidup memang tak pernah berjalan sesuai dengan keinginan kita sepenuhnya. Seandainya hidup adalah sebuah meja judi raksasa, kita tak pernah tahu dan tak bisa memilih kartu seperti apa yang akan kita dapatkan dan harus kita mainkan, jadi ayo kita jalani dan syukuri saja.

 *Sesungguhnya sampai hari ini saya masih berusaha bersikap begitu, sungguh masih terus berusaha.

 

 

Senin, 13 Juli 2026

Resensi SIHIR PEREMPUAN



Judul buku                : Sihir Perempuan

Penulis                      : Intan Paramadhita

Jumlah halaman      : 158 halaman

Penerbit                    : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

 

Kau dan aku memang makhluk-makhluk kesepian. Aku si pengisap penyedot kehidupan yang sekarat karena merah sudah nyaris habis punah berhenti titik.

Nak, demi sebuah kehidupan kau harus mematikan yang lain. Ada burung yang harus membakar diri untuk melahirkan generasi baru. Kita menganggap sudah kodratnya terlahir untuk berkorban, untuk menjadi mulia. Seperti Sinta, begitu. Dan hanya di situ nilaimu.

Jeritan Ibu mati bersama bayi mereka. Mereka tak mampu lagi bersuara karena tidak akan ada yang mau mendengar.


Buku ini tersusun dari sebelas judul.  Sebelas cerita dengan tokoh dan kisah yang berbeda-beda, tapi ada satu benang merah yang menghubungkan sebelas kisah ini: semuanya bercerita tentang perempuan, yang termarjinalkan oleh lembaga bernama perkawinan, yang kesepian, yang dituntut berperan ganda, yang harus mengorbankan diri agar sesuai dengan standar masyarakat, yang harus menanggung banyak luka dan beban. Semuanya perempuan.

Saya sudah jatuh cinta pada buku ini sejak halamannya yang pertama, meski kemudian saya menyadari ternyata gaya bahasa yang digunakan begitu penuh metafora dan perumpamaan. Ada sindir-sindir halus yang tersembunyi. Makna-makna tersamar yang tidak bisa diartikan letterlijk begitu saja. Buku ini memang ditulis dengan menggabungkan cerita thriller, dongeng, kisah hantu gotik dan takhayul. 

Beberapa bagian harus saya baca berulang-ulang untuk kemudian memahami maknanya. Dan semakin saya baca, semakin saya mendapati bahwa keseluruhan cerita adalah upaya mematahkan stigma, tentang bias gender, misogini dan patriarki yang begitu kental di masyarakat kita. 

Membaca cerita pertama yang berjudul Pemintal Kegelapan, entah bagaimana membuat saya malah teringat pada cerita pembantaian penyihir di abad pertengahan. Konon hampir 85% tersangka penyihir yang dibakar adalah perempuan. Dan kita tahu kosakata yang digunakan pun berbeda, witch untuk penyihir perempuan, kata ini dikonotasikan dengan tokoh-tokoh jahat, wanita tua buruk rupa yang iri dengan kecantikan dan kemudaan putri-putri cantik dalam dongeng-dongeng. Para penyihir perempuan ini dengan kekuatan sihirnya, merusak dan menghancurkan. Sementara wizard, sebutan untuk penyihir pria, sering digambarkan sebagai sosok bijaksana yang menggunakan kekuatan sihirnya untuk melindungi. Kita tentu ingat sosok Gandalf dalam The Lord of The Rings yang dicitrakan sebagai penyihir baik, sementara Mother Gothel dalam kisah Rapunzel menjadi penyihir bengis yang kejam.

Begitu pun dengan kisah-kisah hantu. Dalam cerita-rakyat ataupun cerita urban di Indonesia, hantu perempuan jenisnya lebih banyak dari hantu berjenis kelamin laki-laki. Dan hantu-hantu perempuan ini punya garis besar cerita yang sama: ketika hidup mereka adalah korban, setelah mati mereka menjadi monster yang hadir membalas dendam dengan perilaku mengancam jiwa atau sekedar menakut-nakuti.

Selanjutnya dari cerita berjudul Vampir, saya menemukan bahwa seksualitas perempuan juga akhirnya tunduk pada relasi kuasa, dalam hal ini atasan dan bawahan. Dan selalu perempuan bukan hanya sebagai objek tapi juga korban dan sekaligus pihak yang bersalah.

Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari menceritakan kisah Sindelarat (sepertinya plesetan dari Cinderella) namun dari sudut pandang saudara tiri yang selama ini kita ketahui berperilaku jahat dan tak rupawan. Pada cerita ini, kita dibawa memahami, kenapa saudara tiri menjadi jahat, dan si tokoh utama yang cantik jelita pun tak sepenuhnya tak bersalah. Dari semua cerita dalam buku ini, sepertinya cerita ini yang menyampaikan pesan paling jelas dan tak membuat kita mengerutkan kening. Dan dari sebelas cerita dalam buku ini, Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari menjadi favorit saya. 

Dari cerita Mak Ipah dan Bunga-bunga, kita akan menemukan bahwa bahkan sekedar menjadi seorang perempuan saja bisa mencelakakan nyawa, menjadi korban ruda paksa dan dibunuh begitu saja. (Cerita ini paling membuatku merasa jeri). 

Pada cerita Mobil Jenazah, ada seorang istri yang dituntut untuk berperan sempurna, tetap bekerja mencari uang tapi harus perform juga di rumah, dengan anak-anak yang harus pintar dan berbudi, serta rumah yang harus licin berkilau.

Pada cerita Misteri Polaroid, ada perempuan-perempuan yang dinilai berdasarkan fisiknya saja dan lagi-lagi ada hantu perempuan, yang menjadi hantu setelah pada masa hidupnya ia justru adalah korban.

Pada cerita Darah, kita akan bertemu dengan perempuan yang sedari awal sudah diajari bahwa menstruasinya sendiri kotor, menjijikkan namun disukai para demit. Di akhir cerita, sepertinya menjadi ironi karena para demit yang konon menyukai darah menstruasi ini malah menyampaikan alasan yang jauh lebih penuh penghargaan.

Mengapa kau begitu menyukai darah?

Suaramu serak dan pelan, begitu jauh, begitu purba, namun bisa kudengar kau berbisik,

Karena darah adalah hidup.

Sesederhana itu.

 

Usai menamatkan buku ini, entah bagaimana, saya merasa hampa yang tak berhingga. Beberapa bagian cerita seolah terus terngiang-ngiang di kepala. Lalu tidak bisa untuk tidak setuju, menjadi perempuan itu memang rumit dan terkadang menyesakkan. 

Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk juga kamu baca.

Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku

 

Senin, 06 Juli 2026

Resensi MIDAH SIMANIS BERGIGI EMAS


 

Judul Buku                : Midah Simanis Bergigi Emas

Penulis                      : Pramoedya Ananta Toer

Jumlah Halaman      : 132 halaman

Penerbit                    : Lentera Dipantara

 

Ah, Sudara, manusia ini kenal satu sama lain, tapi tidak dengan dirinya sendiri. Kalau aku mencoba mengenal diriku, tentu saja perbuatanku akan lain dengan sekiranya engkau yang hendak mencoba.

 

Ini adalah novel ringan. Demikian kalimat pembuka pada bagian pengantar penerbit. Jika melihat tebal halaman, saya sepakat, buku ini memang terbilang tipis, apalagi jika dibandingkan dengan ketebalan karya-karya Pramoedya yang lain. Tapi jika bicara isi, mana ada sih bukunya Pramoedya yang ringan. Tambah lagi kriteria lain, mana ada sih buku Pramoedya yang akhirnya happy ending. Sepertinya Pram ini memang hoby membuat buku dengan akhir yang menyesakkan jiwa (saya masih merasa hampa setiap teringat ending Gadis Pantai atau Tetralogi Pulau Buru). Buku ini juga kurang lebih begitu, meski sesuai pengantar penerbit, intensitas kesesakan yang ditimbulkannya cukup ringan.

Buku ini berkisah tentang seorang perempuan manis bernama Midah, anak Hadji Abdul, orang Cibatok. Lahir dan besar di keluarga yang sangat religius, namun kemudian kesukaannya pada musik (yang disebut haram oleh ayahnya), membuat garis nasibnya berputar haluan 180 derajat.

Midah adalah gadis yang manis, anak kesayangan yang semula dimanja ayah dan ibu lalu dikawinkan dengan seorang kaya dari kampung asal bernama Hadji Terbus. Siapa sangka jika Midah kemudian berontak dan kabur dari suami dengan membawa kandungan yang baru berumur tiga bulan. Bukannya pulang ke rumah, Midah malah memutuskan untuk jadi pemusik keliling (jaman sekarang kita menyebutnya pengamen) bersama satu grup kroncong jalanan. 

Di tengah kesusahan hidup, Midah sangat teguh memegang prinsip. Ia tak terjerumus ke dalam pergaulan bebas, bahkan ketika semua di sekeliling bermaksud buruk kepadanya. Midah semata hanya menjual suara, meskipun karena itu ia dimusuhi oleh hampir semua anggota kelompok musiknya. Tak mudah untuk seorang wanita hamil mengikuti perjalanan sebuah grup musik untuk mengembara di jalanan ibu kota. Dan kesusahan itu semakin berlipat-lipat setelah Midah melahirkan. Pimpinan grup meminta Midah bersedia dinikahi sebagai ganti perlindungan yang bisa diberikan, namun Midah yang trauma dengan pernikahan  menolak keras meskipun karena itu, Midah harus angkat kaki.

Dalam perjalanan mengamen setelah memutuskan keluar dari rombongan, Midah bertemu kembali dengan polisi bernama Ahmad yang sebelumnya juga pernah menyelamatkan Midah. Dengan baik hati, Ahmad mencarikan kamar kontrakan, mengajari Midah bermusik dengan benar dan mengorbitkannya menjadi penyanyi di radio. Sejak awal Midah jatuh cinta pada Ahmad, sayangnya cinta Midah tak bersambut, Ahmad terus terang mengatakan tak mungkin ia menikahi Midah. Tapi pergaulan yang begitu erat meruntuhkan juga batasan di antara keduanya, sampai kemudian Midah hamil, dan di luar dugaan Ahmad tak mau bertanggung jawab.

Sementara itu, Hadji Abdul, ayah Midah,  ternyata jatuh sakit setelah mendengar kabar Midah yang melarikan diri dari suaminya. Ia mencari Midah kemana-mana, sementara itu perusahaannya runtuh, kekayaannya habis, akhirnya ibunyalah yang semula tak tahu menahu bagaimana mencari uang mulai menerima pesanan menjahit demi menyambung hidup. Ketika kemudian Midah menjadi penyanyi radio, ibu Midah menyusul ke stasiun radio, mendapatkan alamatnya dan kemudian sampai juga di rumah kontrakan Midah. Ditemukannya Djali anak Midah yang kurus tak terurus. Dengan naluri seorang nenek, dibawanya Djali pulang ke rumah. Midah yang baru pulang menyanyi akhirnya mau tak mau menyusul juga ke rumah orang tuanya.

Ayah dan ibu Midah menerima Midah sepenuh hati, sayangnya kondisi Midah yang tengah berbadan dua, di luar ikatan pernikahan pula, membuat hati Midah tak tenang. Tak ingin ia mencoreng muka kedua orang tuanya, hingga kemudian dengan berat hati, Midah memutuskan keluar lagi dari rumah, meninggalkan Rodjali dalam asuhan kakek neneknya. 

Karir Midah kemudian melesat, dengan paras yang memang cantik dan suara yang bagus, Midah  bukan hanya jadi penyanyi radio, tapi  menjadi bintang film dan juga pelacur papan atas.

Ceritanya selesai sampai disitu. Meninggalkan saya dengan hati yang hampa dan mulut yang gemas ingin memaki-maki. 

Midah ini bodoh atau nekat ya. Ia pergi meninggalkan rumah suami tanpa persiapan apa-apa, tanpa bekal yang memadai, tanpa rumah lain yang akan dituju (mengingat ia tak ingin pulang ke rumah orang tua), serta tanpa rencana akan bagaimana meneruskan hidup dalam kondisi berbadan dua. Terbiasa hidup dalam kemewahan, tak memberi gambaran kepada Midah, bisa sesusah apa hidup memperlakukan seorang perempuan tanpa uang dan tanpa bekal kemampuan apa-apa. Untunglah Midah cantik dan berbakat menyanyi, tapi bukankah tetap saja tak mudah untuk Midah menemukan jalan hingga jadi penyanyi radio. 

Dan alasan kabur dari suaminya pun tak jelas, hanya sedikit narasi bahwa suaminya ternyata beristri banyak, tapi tidak dijelaskan apakah Midah diperlakukan dengan buruk yang setidaknya bisa menjadi pembenaran untuk keputusannya meninggalkan rumah. Hanya ada sedikit keterangan mendekati akhir cerita bahwa ayah dan ibu Midah merasa dendam juga pada Terbus setelah kepergian Midah.

Dan Ahmad, kenapa laki-laki bisa sejahat itu. Membantu Midah sedemikian hingga Midah jatuh cinta. Sudah tahu mereka tak mungkin menikah karena perbedaan suku,  tapi masih juga meniduri Midah. Sialnya ketika Midah hamil, dengan mudah ia menuduh Midah sudah tidur dengan laki-laki lain hanya untuk menghindari tanggung jawab. Kurang brengsek apa coba. 

Sepanjang membaca buku ini, saya mencari-cari, alasan yang membuat buku-buku Pram digandrungi tapi sekaligus juga dianggap terlalu kiri. Dan kemudian rasanya saya paham, penuturan bahasa Pram sederhana tapi sangat nyata menyentuh hal-hal yang memang terjadi di sekitar kita, di kehidupan sehari-hari. Saking nyatanya sampai kita setuju, bahwa memang begitulah adanya kehidupan, dengan segala susah senangnya, dengan segala sifat kemanusiaannya manusia, yang khilaf, yang jahat, yang naif dan munafik. 

Kritik sosial yang disampaikannya pun sampai hari ini terasa masih relevan. Hadji Abdul digambarkan sebagai sosok religius yang sangat rajin beribadah dan berdzikir tapi sangat miskin citra kemanusiaan. Ia memandang hubungan dengan Tuhan sebagai hubungan transaksional, ketaatannya beribadah akan diganti Tuhan dengan kehidupan yang terhormat dan harta yang berlimpah. Kesalehannya juga membuat ia merasa menjadi manusia paling baik dibanding jiwa-jiwa lain yang tersesat dan penuh dosa. Kesombongannya sebagai hamba pilihan Tuhan baru berhenti ketika usahanya turun dan kesehatannya memburuk karena sakit jantung. Alih-alih meneruskan hidup, ia kemudian berlindung di balik sikap tasauf yang pada satu titik malah terasa seperti upaya melarikan diri dari masalah di sekeliling,

Sikap sinis teman-teman satu rombongan kroncong Midah juga sangat realistis. Anggota laki-laki benci pada Midah karena cintanya ditolak hingga tak bisa mencicipi tubuh Midah sedangkan yang perempuan merasa ketakutan akan kalah bersaing. Kebencian yang meski tak ditunjukkan dengan terang-terangan ini, tetap saja membuat mereka cukup tega membuat perempuan dengan bayi merah terlunta-lunta tanpa perlindungan.

Pada satu bagian juga diceritakan, bagaimana buruknya pelayanan rumah bersalin yang lebih mengutamakan hal-hal administratif di atas kemanusiaan. Dan dengan pelayanan demikian buruk, Midah masih harus membayar mahal.  Hati saya getir sekali membayangkan seorang perempuan lemah yang baru bersalin membawa pulang bayi telanjang karena baju yang dipakai si bayi adalah milik rumah sakit. Ingin sekali saya menghujat Midah yang bisa-bisanya tidak menyiapkan perlengkapan bayi barang baju orok selembar pun sebelum melahirkan. Di sisi lain, saya juga ingin memaki pihak rumah sakit,  ini serius rumah sakit  tega membiarkan bayi merah pulang dalam keadaan telanjang. Dari semua perawat yang digambarkan judes setengah mati, apa tidak ada satu orang pun yang memiliki sedikit kelembutan hati untuk memberikan sehelai baju, popok dan selimut bayi. 

Ah entahlah, di jaman seperti apa Pram hidup sampai karya-karyanya segetir ini. Membuat kita mempertanyakan masih adakah belas kasih untuk sesama manusia. Ketika rasanya semua orang digambarkan begitu banal terhadap penderitaan sesamanya.

Di ujung, Midah digambarkan menjadi pelacur papan atas, semata untuk mematikan rasa, karena kemana pun ia pergi selalu hanya Ahmad yang hadir di pelupuk mata. Sangat khas perempuan. Midah sanggup menanggung lapar dan sengsara, menjaga diri untuk tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas karena menganut nilai-nilai yang dibawanya dari rumah. Tapi ketika berhadapan dengan cinta, ia tak kuasa. Bahkan ketika di ujung ternyata cinta membuatnya hancur dan ditinggalkan. Ironisnya lagi, penghujat paling kejam justru malah dari sesama perempuan sendiri.

Saya lalu teringat sebuah kutipan: “ We are all selective sinner. We choose the sins we are comfortable with and judge others for the ones we can’t accept”.

Pada hakikatnya kita semua adalah pendosa. Kita merangkul dosa yang paling nyaman untuk diri sendiri, lalu menjatuhkan vonis pada dosa orang lain yang tak bisa kita terima. 

Kamis, 02 Juli 2026

Resensi KOKOKAN MENCARI ARUMBAWANGI

 





Judul Buku                : Kokokan Mencari Arumbawangi 

Penulis                      : Cyntha Hariadi

Jumlah Halaman      : 337 halaman

Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama

 

Hirup hijau itu, Kakaputu. Simpan di dalam dadamu dan kau akan selalu hidup”

“Arumbawangi, rangkul langit di atasmu. Birunya, hitamnya, terangnya, gelapnya, segala rahasianya. Jangan takut. Kau akan jadi anak paling kuat

Ada novel yang begitu seru dan mudah dibaca sampai tamat sekali duduk, ada juga jenis buku yang perlu waktu berjeda-jeda untuk menyelesaikannya. Bukan karena tak bagus, tapi justru karena saking bagusnya hingga emosi semua tokoh di buku itu memengaruhimu sedemikian rupa. Kau akan ikut merasa bahagia tatkala cerita cerah ceria, tapi juga ikut merana ketika si tokoh buku terkisahkan sengsara. Dan dengan yakin saya nyatakan bahwa buku ini termasuk buku yang kedua, saya tertipu, padahal ada embel-embel Sebuah Dongeng di halaman judul, tapi bagaimana bisa emosi saya bercampur aduk sampai berkali-kali harus berhenti dulu dan menghirup nafas panjang saat membacanya. Untungnya, autoimun saya kambuh lagi hingga harus bedrest total beberapa hari ini, dan tak ada yang bisa dilakukan selain membaca. Maka buku ini selesai juga dalam dua hari.

Baru halaman pertama, tapi saya sudah terpesona, pada jalinan kata yang dipilih dengan begitu rapi dan puitis, meski sempat kebingungan menebak arah cerita, dan berpikir kenapa baru pembuka tapi sudah segelap ini. Dua anak kecil yang masih bersekolah dasar, memandikan jasad ibunya yang wafat, mendandaninya  seperti akan pergi sembahyang dan kemudian menguburkannya di tanah belakang rumah.  

Sebagaimana judulnya, buku ini memang sebuah dongeng. Tentang suatu desa sangat subur di Bali yang dihuni oleh ibu dan anak, Nanamama dan Kakaputu namanya. Nanamama adalah petani sigap yang tangguh, ia menganggap tanah sebagai denyut nadinya sendiri. Hidupnya sederhana, dipenuhi kerja menumbuhkan segala yang ada di bumi hingga suatu hari sekawanan burung kokokan membawa seorang anak perempuan kecil berkulit putih, mendarat di kebun bawangnya di pekarangan rumah. Nanamama memberinya nama Arumbawangi, dan segera ia menjadi anak yang disayangi Nanamana sepenuh jiwa dan adik yang dilindungi Kakaputu segenap hati, tak peduli seluruh warga desa memandangnya sebagai bebai atau roh jahat.

Nanamama memang sosok perempuan yang berbeda. Ia satu-satunya orang yang menentang rencana penjualan sawah penduduk desa untuk jadi obyek wisata. Ia percaya, ia adalah penjaga tanah, dan tanah akan membalasnya dengan  kebaikan melalui semua yang tumbuh diatasnya. Ia percaya, tanah yang diolah tak akan pernah membuatnya kelaparan. Lebih baik jadi tuan yang miskin di atas tanah sendiri daripada budak yang kaya di atas tanah orang lain. Namun karena pandangan ini, ia dibenci seluruh desa, kebencian yang berlarat-larat hingga kemudian karena itulah ia wafat.

Di bawah pengasuhannya, Kakaputu dan Arumbawangi tumbuh menjadi dua anak baik yang sangat bisa diandalkan. Kita akan diajak menyelami betapa banyak kerjanya dan betapa berharganya hari-hari sebagai petani.

Kau cukup beruntung dilahirkan sebagai anak petani. Anak yang kekuatannya jauh melebihi sihir tangan Raja Midas, sebab yang ada di tanganmu bukan sihir tak terbatas, tapi kekuatan manusia yang ada batasnya tapi nyata, selalu menghidupkan, tidak mencelakakan.

Dibatasi rimbunan pohon kelapa dari desa,  sebuah hotel yang terbengkalai pembangunannya karena terhambat proses perizinan, ternyata dialihkan kepemilikannya. Pak Rudi,  pemilik hotel yang baru, memiliki seorang anak bernama Jojo, anak baik yang terperangkap duka setelah ditinggal wafat ibunya sehingga menjelma jadi monster kecil manja yang menyusahkan semua orang di sekelilingnya. Ironisnya, melalui perantara sebuah layang-layang rusak, Jojo kemudian berteman dengan Kakaputu dan Arumbawangi. Mulanya Kakaputu dan Arumbawangi menyembunyikan pertemanan itu, khawatir dengan reaksi Nanamama yang alergi terhadap semua hal yang berhubungan dengan hotel, namun di luar dugaan Nanamama malah ikut sayang pada Jojo. Begitu pun Jojo, dukanya perlahan sembuh melalui pertemanannya dengan keluarga kecil yang hangat ini. 

Kupikir cerita akan berlanjut manis, tapi tentu saja bagaimana saya bisa berharap seperti itu pada buku yang sudah dibuka dengan prolog begitu gelap. Setelah satu hari penuh yang menghangatkan jiwa dengan petualangan persahabatan, cerita bergulir pada tragedi yang begitu memilukan di tengah malam: ulang tahun Jojo yang kesepian. 

Alih-alih menemani anaknya, Pak Rudi malah pergi melakukan perjalanan bisnis ke Hongkong. Jojo yang merasa ditinggalkan, merayakan ulang tahun sendirian di kamar hotel, dengan sebuah lilin yang menyala lalu apinya membesar dan melalap habis kamarnya, ia kemudian terbakar mati. Duka tak tergambarkan bagi Pak Rudi, ia sudah kehilangan istri di hari ulang tahun Jojo yang ke -11, lalu kini ia kehilangan satu-satunya anak di ulang tahun Jojo yang ke-12.

Apakah kemudian tragedi berhenti sampai di sini?, oh tentu tidak, beberapa hari setelah kejadian ini, beberapa polisi mendatangi rumah Nanamama dan menahannya. Tuduhannya jelas: membakar hotel sehingga menyebabkan kematian Jojo. Motif yang dituduhkan: Nanamama satu-satunya orang yang tak pernah setuju dengan pembangunan hotel. Bukti yang memberatkan:  sisir Nanamama ditemukan di bawah keset hotel.

Penahanan Nanamama ternyata berlanjut pada rentetan duka lainnya, perlakuan warga desa yang sejak semula memang tak ramah pada Kakaputu dan  terutama pada Arumbawangi yang dianggap “anak burung”, semakin menajam. Hati saya ikut pedih membayangkan anak usia SD hanya berdua di rumah, mengurusi semua keperluan sendiri, berharap cemas menanti kepulangan ibu, sementara semua orang di sekitar begitu dingin seolah tak peduli.

Nanamama kemudian memang pulang ke rumah, tapi sudah seperti jasad yang lumpuh, penahanan ini meruntuhkan sisa kekuatan jiwanya, ditambah dengan racun jahat yang dioleskan tetangganya pada arit yang digunakan Nanamama mengolah sawah. Seminggu kemudian Nanamama wafat, dan tinggallah dua anak tanpa ayah dan ibu ini harus meneruskan hidup.

Di titik ini, saya pikir cerita akan melunak, memberi jeda bagi pembacanya agar sedikit menghirup napas, ternyata tidak. Nanamama memang meninggalkan rumah, tanah sawah, kebun, binatang piaraan dan tabungan yang banyak untuk kedua anaknya. Kakaputu dan Arumbawangi akan tetap bisa sekolah dan tak akan kelaparan. Siapa sangka jika penjahatnya adalah seluruh warga desa yang memaksa kedua anak ini tunduk pada perwalian Pak Wawatua dan memaksa Kakaputu menandatangani surat persetujuan penjualan sawah.

Terbiasa dikelilingi tetangga-tetangga yang baik, tak habis pikir saya, bagaimana bisa seluruh penduduk desa berkomplot menjadi jahat dan menyudutkan anak yatim piatu di bawah umur. Dan pada saat-saat genting, sekelompok burung kokokan besar menjemput Kakaputu dan Arumbawangi untuk kemudian membawa keduanya pergi. Entah kemana, tak dilanjutkan lagi pada cerita.

Ya tentu karena sudah diputuskan bahwa cerita ini adalah sebuah dongeng oleh penulisnya, maka semua awal mula dan akhir cerita menjadi hak prerogatif penulis sepenuhnya. Tapi setelah dilempar ke forum umum, maka sebuah karya berhak untuk dikomentari, didiskusikan dan dikritisi oleh pembacanya. 

Buku ini adalah buku yang sangat bagus untuk saya. Pilihan diksinya memesona, jalinan ceritanya rapi dan manis. Konflik yang ditampilkan juga sangat relevan dan dan cenderung kontemporer: isu alih fungsi lahan pertanian, polisi yang korup dan berpihak, perundungan terhadap liyan atau orang yang dianggap berbeda, dan terakhir, cacatnya perlindungan sistem sosial masyarakat terhadap warganya yang paling lemah, ketika berhadapan dengan ketamakan dan mimpi untuk kehidupan yang lebih baik. Semua digambarkan dengan sangat lugas.

Saya masih bisa menerima ketika di pertengahan cerita, Jojo dan Nanamana sempat menjadi hantu, residu energi yang tertinggal karena ada hal belum selesai yang masih mengikat pemilik jiwa dengan dunia fana. Yang sedikit mengganjal untuk saya hanya akhir cerita yang seolah dipaksakan untuk segera selesai dan terburu-buru: sekelompok burung kokokan yang datang lagi dan menjemput Arumbawangi dan Kakaputu pergi ketika dirempug warga. Tambahan kalimat Sebuah Dongeng di halaman judul memang bisa menjadi pembenaran penulis untuk menutup dan membuka cerita ini dengan hal yang tak masuk akal. Tapi tetap saja, seperti gatal di bawah kulit yang tak bisa digaruk, saya merasa seperti itu jugalah akhir dari buku ini. 

Berbagai pertanyaan lanjutan mengganggu pikiran saya: saya tak paham anatomi burung kokokan, sebesar apa burung itu. Ketika diceritakan mengantar Arumbawangi yang masih berumur dua tahun masih okelah,  tapi apakah memang sanggup membawa anak berusia sepuluh atau sebelas tahun?. Lalu mereka dibawa pergi kemana, pertanyaan ini mengganggu karena dari mana Arumbawangi datang juga tidak pernah dijelaskan di dalam cerita. Pertanyaan selanjutnya, jika kedua anak ini dibawa pergi, bagaimana dengan tanah yang ditinggalkan, padahal tanah ini yang selalu dipesankan oleh Nanamama untuk dijaga dengan sepenuh hati seperti menjaga nyawa sendiri. Jangan sampai dijual. Jika ditinggalkan begitu saja bukankah jadinya malah bertolak belakang dengan inti cerita.

Saya berharap akan ada bagian kedua yang menjadi lanjutan dari buku ini untuk menjawab kepenasaranan saya. Sebagai penutup, saya berterima kasih kepada Cyntha Hariadi yang sudah menulis buku seindah ini.

Kamis, 04 Juni 2026

Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI




Judul Buku                : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Penulis                      : Yusi Avianto Pareanom

Penerbit                    : baNANA publisher

Jumlah Halaman       : 468 halaman

Edisi                         : keempat, cetakan keempat, Februari 2026

 

Maut tak perlu ditantang, bila waktunya datang ia pasti menang, hlm. 17        

Kenangan, dari apa kau terangkai?. Bagaimana aku mesti mengerat dan membaginya kepada yang lain? Tanpa bisa kutahan, air mataku menetes, hlm. 248-249

Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekedar makan dan tidur sebelum disembelih, hlm. 320

Ia bertanya apakah aku orang yang berbahagia, hlm. 330

 

Sepertinya saya terkena reading slump, berganti-ganti dari satu buku ke buku lain tanpa benar-benar menamatkannya. Lalu kemudian saya menyadari, semua buku yang saya baca ternyata adalah buku nonfiksi yang cenderung “berat”. Oke, daripada berlanjut terus seperti itu, saya putuskan beralih sejenak ke buku fiksi. Dan random saja, saya ikut lagi rekomendasi dari klub buku, kebetulan lainnya,  sedang ada diskon, yeaaay. Biasanya, rekomendasi dari klub buku selalu bagus, rekomendasi kali ini pun tak gagal, karena ternyata Raden Mandasia Si pencuri Daging Sapi ini seru dengan banyak u dan tanda seru.

Cerita dimulai dengan adegan yang sangat komikal: dikejar-kejar orang karena habis maling, dan tertangkap, dan babak belur sampai pingsan berhari-hari. Saya pikir cerita ini akan berpusat pada Raden Mandasia sesuai judulnya, namun ternyata tidak, karena yang menjadi tokoh utama cerita adalah “aku”, Raden Sungu Lembu, yang sepanjang hidup membawa dendam terhadap Watugunung, penguasa Gilingwesi,  yang adalah ayah kandung dari Raden Mandasia. 

Kisah tentang Raden Mandasia hanya muncul ketika menceritakan perjalanan mereka berdua. Meskipun demikian sempat terceritakan pula, kenapa Raden Mandasia disebut Si Pencuri Daging Sapi, karena memang Raden Mandasia ini hobinya literally mencuri beberapa bagian daging sapi yang dipotong dari sapi hidup dan disembelih sendiri, meski dengan cara yang terbilang cukup bermartabat untuk ukuran seorang pencuri: setelah mencuri ia selalu meletakkan uang yang bahkan lebih banyak dari harga sapinya itu sendiri.

 

Sesuai yang tertera di bagian cover: Sebuah dongeng dari  Yusi Avianto Pareanom, kisah dalam buku ini memang dongeng, namun tentu dongeng untuk orang dewasa, salah satunya karena kata makian yang bertebaran di sepanjang cerita.

 

Anjing, anjing, anjing, aku mengumpat-umpat mengikuti Raden Mandasia yang masih tertawa-tawa, hlm. 18

 

Salah satu yang memilih tunduk adalah Banjaran Waru, kerajaan yang dipimpin barisan monyet pengecut yang jahanamnya satu trah denganku, hlm. 199

 

Pada beberapa kesempatan, kata makian yang digunakan cukup lucu: Tapir Pincang =D

 

Hal lain yang saya amati, buku ini sangat sedikit menceritakan tentang perempuan, hanya ada Nyi Banyak, Melur, Nyai Manggis, Mayssa, Putri Tabassum, Zahra si Tukang Tenung, Dewi Sinta dan Dewi Landep. Kecuali Nyi Banyak, tokoh-tokoh perempuan ini pun hanya hadir sebagai objek seksual belaka.

 

Namun demikian, terlepas dari umpatan serta beberapa adegan kekerasan dan seksual yang terlalu detail, seperti layaknya cerita dongeng yang kadang too good to be true, (namun karena itulah kita semua menyukai dongeng), kisah dalam buku ini pun menyimpan beberapa pesan moral atau pelajaran yang bisa diambil:

1.    Jangan berhenti belajar apapun, diceritakan bahwa Sungu Lembu ini adalah anak yang sangat rajin belajar, ia adalah pembaca yang rakus, murid yang banyak bertanya, namun juga pesilat yang tangguh. Kemampuan otaknya berbanding lurus dengan ketangguhan fisiknya. Ia juga dianugerahi dengan ingatan lidah, sanggup memetakan semua bahan dari makanan yang dicicipi sekaligus mampu mengenali segala jenis racun bahkan dalam dosis yang samar-samar. Tentu saja ini adalah bakat, namun kemampuan berikutnya yaitu tahan terhadap racun hanya diperoleh melalui disiplin dan latihan keras mencicipi semua jenis racun dengan resiko kematian itu sendiri. Selain itu, ia pun ternyata sangat ambis, dalam salah satu episode perjalanan ketika berlayar, ia merasa malu karena ternyata Raden Mandasia yang kelihatannya diam saja yang berhasil menyeimbangkan laju perahu dengan merobek layar. Ia sedikit merasa terpukul ketika Raden Mandasia bilang “Aku pun belajar, Lembu”, padahal Sungu Lembu yang sibuk kesana kemari sepanjang pelayaran. Pada perjalanan selanjutnya, Sungu Lembu dengan rajin menulis catatan perjalanan, dan karena itulah ia kemudian dipercaya menjadi pencatat saat terjadi perang besar antara Gilingwesi dan Gerbang Agung.

2.  Perempuan harus juga punya kemampuan untuk bertahan hidup. Para perempuan dalam buku ini hadir dengan cerita hidup yang getir, jika bukan jadi korban perkosaan, jadi pelacur atau wanita penghibur, mereka hadir seolah jadi objek yang diwariskan. Entah jika ini karena alur cerita terjadi pada masa Nusantara yang masih berupa kerajaan-kerajaan sehingga cenderung patriarki dan begitulah adanya nasib jadi perempuan. Meskipun demikian, dari takdir yang getir, Nyai Manggis sanggup menjadi pemilik rumah dadu dan berpartisipasi dalam kelompok perlawanan terhadap rezim yang berkuasa.

3. Kekuasaan memungkinkan terjadinya perubahan yang lebih baik untuk kepentingan bersama, namun kekuasaan pun acap kali merubah orang baik menjadi orang jahat. Watugunung tidak pernah ingin jadi raja, dahulu nama kerajaan itu adalah Medang Kamulan, namun penguasanya lemah dan tak memikirkan kepentingan rakyat, ketika Watugunung diminta menjadi raja, ia melakukan banyak perbaikan di wilayahnya yang kemudian berganti nama menjadi Gilingwesi, dan memang banyak sekali kemajuan yang diperolehnya. Gilingwesi berkembang menjadi kerajaan yang besar, makmur dan sejahtera.  Namun kemajuan itu pun menumbuhkan perasaan untuk lanjut menaklukkan daerah-daerah lain di sekitarnya. Sehingga terjadilah penyerbuan ke Gerbang Agung yang sebetulnya tidak perlu dan ternyata menjadi titik balik kehancuran Gilingwesi. 

Ada harga yang harus kau bayar sebagai penguasa untuk membuat bawahanmu gembira, hlm 435.

Kami membesar tetapi mulai keropos di sana-sini. Orang-orang yang dulu baik menjadi mencong, yang pintar menjadi pemalas, yang lembut hati menjadi keji. Raden mungkin tak sempat melihatnya karena yang Raden pikirkan hanyalah menghabisiku, hlm. 442.

4.    Perang selalu membawa petaka, begitu pun ambisi untuk memperluas daerah kekuasaan. 

Raden Mandasia sangat ingin mencegah terjadinya rencana penyerangan Gilingwesi terhadap Gerbang Agung. Alih-alih terus memperluas daerah kekuasaan, ia meyakini bahwa sebaiknya Gilingwesi fokus saja pada perbaikan di dalam kerajaan. Karena banyak daerah taklukan yang sebetulnya masih menyimpan api dendam di dalam sekam, dan banyak gerakan-gerakan perlawanan yang sebetulnya belum mampu dilunakkan. Kemudian memang terbukti, penyerangan yang dilakukan terhadap Gerbang Agung menjadi titik kehancuran Gilingwesi.

Perang jarang membawa manfaat. Mungkin Ayah Prabu baru sadar sekarang, hlm. 430.

Banyak orang paham memulai perang, tapi tak pernah benar-benar paham bagaimana mengakhirinya. Tujuan awal yang semula terdengar mulia menjadi tak jelas lagi di medan pertempuran. Penjagalan makin mengerikan dari hari ke hari. Kau mengira sudah melihat sebuah kekejaman di medan perang dan merasa itulah puncaknya. Ternyata masih ada kekejaman lain yang melampaui. Begitu setiap saat, hlm. 425.

5. Ketika mengenal baik seseorang, betulkah bahwa kita sudah betul-betul mengenalnya?. Saat Raden Mandasia wafat, Sungu Lembu baru sadar bahwa ia ternyata tak tahu banyak detail tentang sahabatnya itu. 

Raden Mandasia adalah hal paling dekat yang bisa kusebut sebagai teman dan kami ternyata saling mengenal sedikit saja, hlm. 431.

Entah bagaimana potongan ini juga menghantamku begitu saja. Dalam hal hubungan dengan orang lain di sekitar, bukankah sering kita sebetulnya tak tahu apa-apa. Begitu pun juga aku kepadamu.

 

Pada cover akhir, tercetak bahwa buku ini memperoleh tiga penghargaan, Prosa Terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, Prosa Pilihan Majalah Tempo 2016 dan Fiksi Terbaik Rolling Stone Indonesia 2016. Ketiga penghargaan ini rasanya memang sangat layak sekali. Dan saya sepakat: Meminjam berbagai Khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis dan maki-makian Anda dalam waktu berdekatan-mungkin bersamaan.

 

 

BERDAMAI DENGAN AUTOIMUN

Sudah dua minggu tapi demam saya tak turun-turun. Pusing, lemas, dan paling parah ada benjolan besar di paha atas sebelah kiri. Tiap jalan s...