Rabu, 16 September 2026

Resensi A Untuk Amanda


Judul buku                           : A Untuk Amanda

Penulis                                 : Annisa Ihsani

Penerbit                               : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Jumlah halaman                  : 263 halaman

Tahun terbit                         : 2016

 

Tidakkah konsep cinta sejati itu agak sinting —bahwa semua orang perlu memiliki pasangan untuk bisa berbahagia? Lagi pula, bagaimana kau bisa menemukan satu yang tepat di tengah miliaran manusia di planet ini?"

Ini fakta tentang berusaha melupakan seseorang: kau bangun di pagi hari, kau memberitahu dirimu sendiri sudah saatnya kau berhenti merana dan mulai menjadi orang yang utuh dan mandiri tanpanya. Lalu kau berpapasan dengannya, dan kembali ke level nol.

Aku masih memikirkan Tommy kadang-kadang (oke, sering). Selalu ada yang mengingatkanku padanya-lagu di radio, mimpi, atau sesuatu yang dikatakan seseorang. Aku akan memutar kembali kenangan tentangnya selama lima menit, sepuluh menit. Lalu aku melanjutkan hidup.

 

Setelah terpesona dengan Teka Teki Terakhir, saya jadi mencari buku-buku Annisa Ihsani yang lainnya. Agak aneh juga kenapa nama Annisa Ihsani sebagai penulis jarang sekali dibahas, padahal menurut saya bukunya bagus-bagus.  

Salah satu halaman dalam buku ini berbunyi: “Siapa bilang tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini? Hanya orang-orang yang tidak pernah belajar statistika.” Dan bicara tentang kebetulan, maka kebetulan sekali buku-buku yang saya baca belakangan ini semuanya membahas tentang depresi dan kesehatan mental. Dari mulai Merawat Luka Batin-nya Dr. Jiemi Adrian, A Reason to Stay Alive Matt Haig, dan sekarang buku ini. Karena ternyata buku ini berkisah tentang Amanda, anak SMA yang mengidap depresi. Yang menarik, Amanda bukan anak yang tumbuh dalam konflik, penyintas kekerasan, kekurangan ekonomi atau apapun yang akan kita gadangkan sebagai penyebab depresi. Justru sebaliknya, Amanda tumbuh dalam keluarga yang sangat hangat meskipun ayahnya sudah wafat 10 tahun yang lalu. Ia  tak hidup kekurangan meskipun juga bukan dari keluarga ultra kaya. Wajahnya cantik meski bukan primadona sekolah, dan yang paling penting, ia gadis terpintar di kelasnya dengan nilai-nilai yang sempurna.

Sekilas, tidak ada yang kurang dalam hidupnya. Seperti yang dikatakan Tommy, semua orang akan sanggup melakukan apapun untuk memiliki hidup seperti hidup Amanda. Maka sangat aneh jika Amanda depresi.

Tapi mungkin, ini yang coba dilakukan oleh buku ini: untuk mematahkan stigma tentang depresi, karena faktanya, terlalu banyak mitos seputar depresi, karena itu tadi, depresi tak kelihatan, hingga karena “hanya ada di pikiran”, seolah sakitnya terasa tak nyata. Padahal sakit karena depresi sama nyatanya dengan sakit fisik yang lain, kanker misalnya. Dan saya baru baca juga dari bukunya Dr. Jiemi Adrian, ternyata struktur otak orang dengan depresi itu sepenuhnya berbeda dengan otak yang tidak mengidap depresi. Jadi depresi adalah benar-benar penyakit yang bukan dengan mudah bisa begitu saja dihalau dari pikiran seperti memencet tombol on off.


1.   Jadi apa itu depresi?.

Singkatnya depresi adalah penyakit mental yang diakibatkan ketidakseimbangan kimiawi neurotransmitter, sehingga menyebabkan turunnya aktivitas serotonin di otak. Gejalanya macam-macam dan berbeda-beda antara setiap orang. Tapi benang merahnya, ada perasaan sedih yang mendalam dan sesak yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan sedih dan sesak ini begitu gelap, sehingga pada beberapa kasus, depresi ini berujung pada percobaan untuk bunuh diri.

Depresi juga bisa menimpa siapa pun, bukan hanya menimpa mereka yang cerita hidupnya malang saja, karena seperti diceritakan dalam buku ini, Amanda yang hidupnya sempurna pun, ternyata bisa terkena depresi. Saya pernah baca entah dimana, salah satu gejala depresi adalah malas mandi dan beberes. Di buku ini pun begitu, pasca depresi, Amanda jadi sangat enggan mandi ataupun bersih-bersih. 


2.    Kenapa bisa depresi?

Kompleks. Bisa jadi gabungan dari faktor biologis, psikologis, dan sosial. Tapi hal yang saya garis bawahi dari buku ini, depresi ternyata tidak berkaitan dengan ketaatan beragama. Tidak ada hubungannya depresi dengan lemahnya iman. Saya baca dari sumber lain, rasa takut berlebihan akan hukuman Tuhan atau stigma dari lingkungan yang menganggap depresi sebagai hukuman dosa justru dapat memperparah kondisi mental seseorang.


3.   Apa yang harus dilakukan ketika merasakan gejala depresi?

Pertama, jangan denial, akui bahwa ada masalah dengan kesehatan mental kita, lalu kedua, jangan sungkan minta bantuan profesional. Dalam buku ini Amanda akhirnya meminta bantuan dengan datang ke psikiater, dan kemudian mendapatkan terapi untuk penyembuhan. Menarik, karena sempat diceritakan, Tommy yang adalah orang terdekat Amanda, justru jadi orang yang menyangkal fakta bahwa Amanda mengidap depresi. Ia tak percaya karena Amanda tampak sangat normal, dan bahkan sempat memberikan nasihat agar Amanda yang agnostik mulai mempercayai Tuhan. Bahkan Tommy pun sedikit mengecam keputusan Amanda untuk minum obat karena Tommy percaya obat hanyalah akal-akalan industri psikofarmakologi untuk meraup keuntungan. Sepertinya ini mitos lainnya terkait depresi, bahwa depresi bisa disembuhkan dengan kekuatan pikiran sendiri atau dengan ruqyah atau dengan pengobatan alternatif sehingga obat tidak diperlukan.Padahal seperti dijelaskan berulang-ulang, depresi adalah penyakit yang sama nyatanya dengan sakit diabetes atau kanker sehingga obat akan sangat membantu dalam proses penyembuhan.

Saya menyukai buku ini secara keseluruhan, dan entah bagaimana buku-buku Annisa Ihsani selalu membuat saya ingin terus belajar lagi. Saya belajar matematika lagi saat baca buku Teka Teki Terakhir, dan dari buku ini saya belajar tentang teori-teori sains, dari mulai Pale Blue Dot, spektrum warna, dan teori Big Bang (ternyata Big Bang itu bukan ledakan, karena ledakan terjadi karena perbedaan suhu dan tekanan suatu benda dengan ruang di sekitarnya, sementara saat itu ruang dan waktu belum ada. Lebih tepat jika Big Bang disebut sebagai perluasan ruang dan waktu itu sendiri, dari titik singularitas). Menarik bukan?.

Senin, 07 September 2026

Resensi TEKA-TEKI TERAKHIR


 Judul Buku                : Teka-Teki Terakhir

Penulis                       : Annisa Ihsani

Jumlah Halaman        : 253 lembar

Penerbit                     : PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta

 

“Aku senang aku yang akan pergi duluan,” katanya sambil sedikit tersenyum, “dengan begitu aku tidak perlu merindukanmu.” 

Tuan Maxwell kepada Laura, menjelang kematiannya, hlm. 235

 

Sudah lama sekali rasanya tidak baca buku semudah ini (sejujurnya saya agak kesulitan mencari padanan kata lain yang mendeskripsikan “mudah”, tapi saya yakin sesama pembaca buku pasti paham maksud saya).

Buku ini berkisah tentang Laura Welman, gadis berusia 12 tahun yang mendapat nilai 0 untuk sebuah kuis matematika. Tak ada maksud aneh ketika ia membuang kertas kuisnya yang sudah dilipat-lipat di tempat sampah rumah tetangga, namun tak disangka, itu jadi awal interaksinya dengan pasangan Maxwell, tetangga yang dicap aneh,  yang surprisingly  ternyata keduanya adalah ahli matematika. Tuan Maxwell yang menemukan kertas kuis bernilai 0 itu kemudian memberikan buku berjudul Nol: Asal Usul dan Perjalanannya kepada Laura. Dan dari buku itu, persahabatan Laura dengan penghuni rumah Jalan Eddington nomor 112 mulai terjalin.

Ketika saya bilang buku ini mudah, bukan berarti bukunya jelek, justru sebaliknya, dalam buku ini tidak ada kalimat rumit sastrawi yang meski indah namun sulit dipahami, pilihan kata dalam buku ini justru sangat ringan dan gampang. Vibes buku ini pun sangat menghangatkan jiwa, kisah tentang seorang anak yang lahir di keluarga harmonis dari ayah yang dokter, ibu yang pegawai bank, dan kakak yang pintar dan aktif, dimana masalah hidup terbesarnya hanyalah ujian sekolah atau berseteru dengan teman. Tiba-tiba saja saya tersadar, menjadi WNI seumur hidup anehnya sudah membuat saya merasa takjub bahkan pada kisah hidup yang normal seperti ini. Padahal sudah seharusnya memang begitu bukan, anak remaja itu tugasnya ya cuma sekolah dan belajar dengan benar. Bukannya harus bantu orang tua cari uang atau menghadapi kehidupan yang rumit bahkan di rumah sendiri.

Meskipun buku ini berkisah tentang kehidupan anak remaja, tapi saya merasa mendapat banyak hal dari buku ini, salah satunya saya diingatkan lagi tentang istilah-istilah dalam matematika sebagai berikut:

1.    Teorema adalah pernyataan matematika yang sudah dibuktikan secara formal;

2.    Hipotesis adalah pernyataan yang masih berupa tebakan dan belum terbukti;

3.    QED berasal dari bahasa latin Quad erat demonstrandum artinya sudah terbukti;

4.    Konjektur adalah sebutan untuk pernyataan yang diyakini benar tapi belum didukung bukti formal;

5.    Teorema Phytagoras berbunyi: pada semua segitiga siku-siku, luas persegi di sisi hipotenusa adalah sama dengan penjumlahan luas persegi di sisi-sisi kakinya, atau dengan kata lain kuadrat sisi miring adalah jumlah kuadrat dua sisi lainnya;

6.    Teorema terakhir Fermat berbunyi tidak ada tiga bilangan bulat bukan nol, a, b dan c yang memenuhi persamaan an + bn = cn untuk n bilangan bulat lebih besar dari 2;

7.    Logika matematika (saya harus belajar lagi bab ini, mengingat matematika yang bisa dengan percaya diri saya kerjakan dengan cepat hanyalah aljabar dan pangkat bilangan, duh T_T).

Saya juga diingatkan bahwa Eratosthenes adalah orang pertama yang menghitung keliling bumi dan mengukur jarak bumi dari matahari dan bulan (saya tahu fakta ini sebelumnya dari buku Carl Sagan yang berjudul Cosmos).

Dan buku ini menyampaikan fakta-fakta diatas bukan dengan cara menggurui yang membosankan, namun justru teori matematika menjadi bagian yang menyatu dengan cerita, karena Tuan Maxwell ternyata sudah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menemukan bukti teorema terakhir Fermat yang belum ada satu pun berhasil menemukannya selama 356 tahun.

Karena buku ini sangat positif vibes, saya sempat menduga bahwa buku ini akan berakhir dengan keberhasilan kerja keras seumur hidup Tuan Maxwell dalam membuktikan teorema terakhir Fermat ini, namun ternyata tidak. Menjelang akhir cerita justru ada orang lain yang sudah berhasil membuktikan teorema ini duluan, dan kemudian Tuan Maxwell sakit dan wafat. Sebagai sahabat yang baik, justru Laura yang merasa terpukul karena merasa kerja keras puluhan tahun Tuan Maxwell terasa sia-sia.

“Tidakkah menurutmu sedih, bahwa umurnya mungkin tidak panjang lagi , tapi peristiwa penting yang terakhir dalam hidupnya adalah terbuktinya Teorema Teakhir Fermat oleh ahli matematika lain”

Dan disini Laura lantas mempertanyakan arti hidup, makna kematian serta hal-hal diantaranya yang terasa sia-sia, ketika hadir kesadaran bahwa bukankah semua akan berakhir. Menarik ketika dalam diskusi ini, Julius yang notabene sempat dicap sebagai mantan-kriminal-sehingga-harus-dijauhi, justru jadi orang yang mengingatkan Laura bahwa yang penting adalah menikmati dan mensyukuri momen ini dengan melakukan hal terbaik.

Ketika kuliah dulu, saya ingat menjelang ujian akhir, ada kertas yang tertempel di pilar kolom Kampus Ganesha, tulisannya berbunyi :”Hard work never betrays you”. Saya yakin tulisan ini dibuat oleh himpunan sebagai penyemangat bagi para mahasiswa yang sedang ujian. 

Sekian lamanya,  saya ikut mengimani dogma ini. Kerja keras tidak akan pernah mengkhianatimu, maka bekerja keraslah untuk semua hal, jika kamu gagal artinya satu: upayamu masih kurang. Namun seiring bertambahnya usia, saya akhirnya menyadari, semata menggantungkan keberhasilan kepada kerja keras sebetulnya adalah bentuk kesombongan yang lain. Karena ada banyak variable lainnya yang harus diperhitungkan dalam hidup. Dan keberhasilan adalah sesuatu yang punya banyak warna, bukan sekedar spektrum hitam putih dengan dikotomi berhasil atau gagal semata. 

Tuan Maxwell tidak berhasil menemukan bukti Teorema Terakhir Fermat, padahal kurang kerja keras apa ia?, puluhan tahun ia mencurahkan waktunya, sampai kemudian sakit dan wafat. Untungnya, dalam perjalanan membuktikan teorema itu, ia tetap memilih bersikap baik pada istrinya, membuka hati pada persahabatan dan menjalin hubungan yang hangat dengan orang-orang terdekat. Sehingga meskipun tak berhasil mencapai tujuannya, tak lantas hidup menjadi tak berarti.

Lagi-lagi saya diingatkan pada kesadaran itu: kita tidak bisa memilih kejadian seperti apa yang akan menimpa hidup kita, begitu pun kartu apa yang kita harus kita mainkan dalam perjudian hidup, tak sepenuhnya baik, tapi tak mungkin juga kita mendapat semua kartu buruk. Tuan Maxwell ‘kebetulan’ terlahir dari keluarga bangsawan kaya raya sehingga tak perlu bekerja formal pun ia sudah pasti hidup berkecukupan, makanya ia punya banyak waktu untuk berkutat dengan rumus tanpa harus dipusingkan oleh cicilan ini itu, tapi kemudian ia sakit kanker. Bukankah begitulah hidup, ada hal-hal yang memang harus kita terima begitu saja, tetapi pada akhirnya, akan seperti apa kita memaknai hidup, sepenuhnya adalah pilihan kita sendiri.

 

Minggu, 06 September 2026

Tentang Aroma dan Kenangan

Ternyata kenangan punya cara yang aneh untuk pulang.

Kadang ia datang lewat sebuah lagu. Kadang lewat tempat yang tidak sengaja kita lewati. Kadang hanya melalui satu aroma yang tiba-tiba memenuhi udara, dan sebelum sempat bertanya kenapa, kita sudah kembali ke masa yang jauh.

Ada satu bau yang selalu punya kemampuan seperti itu padaku.

Aku tidak tahu sejak kapan ia menjadi begitu akrab. Yang aku tahu, setiap kali aromanya datang, selalu ada sesuatu yang ikut kembali. Sebuah suasana. Sebuah tempat. Sepotong percakapan. Wajah seseorang. Atau sekadar perasaan yang dulu pernah begitu kuat, tetapi sekarang sudah tidak tahu harus kusebut apa.

Aneh bagaimana hidung bisa mengingat sesuatu yang kepala sudah berusaha sedari lama untuk lupakan.

Kita bisa membuang foto, menghapus pesan, menyimpan barang-barang lama di tempat yang tidak pernah lagi dibuka. Kita bisa mengatakan kepada diri sendiri bahwa semuanya sudah selesai.

Tapi lalu aroma itu datang. Dan tiba-tiba saja, masa lalu tidak terasa sejauh itu.

Mungkin memang begitulah kenangan bekerja. Ia tidak benar-benar hilang. Ia hanya bersembunyi di tempat-tempat yang tidak kita duga, menunggu dibangunkan oleh satu hal kecil saja. Bahkan oleh sebuah bau yang hanya lewat beberapa detik.

Lalu kita tersenyum, atau mungkin terdiam.

Mengingat sesuatu yang sebenarnya sudah lama tidak ingin kita ingat.

Dan setelah aromanya perlahan menghilang, kita kembali menjalani hari seperti biasa.

Hanya saja, kali ini kita tahu satu hal: ternyata ada kenangan yang tidak perlu kita cari.

Ia akan menemukan jalannya sendiri untuk pulang.

Kadang hanya lewat udara.

Lalu mengetuk hati, sebentar saja.

Kamis, 03 September 2026

Resensi LET THEM THEORY

 




Judul buku                            : Let Them Theory

Penulis                                  : Mel Robbins dan Sawyer Robbins

Alih Bahasa                          : Johanes Wimbo Satwiko

Penerbit                                : PT. Gramedia, Jakarta

Jumlah Halaman                  : 305 halaman

 

“God, grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference.”1)

 

Ini adalah bagian yang sangat terkenal dari Serenity Prayer (Doa Ketenangan). Maknanya adalah tentang menerima dengan ikhlas apa yang berada di luar kendali kita, berani bertindak atas apa yang masih bisa kita ubah, dan memiliki kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.

Membaca keseluruhan buku Let Them Theory, saya merasa bahwa sebenarnya inti dari buku ini adalah dua hal yang diucapkan pada serenity prayer: keikhlasan untuk menerima apa yang bisa dikendalikan (Let Them), dan keberanian untuk bertindak atas apa yang bisa kita rubah (Let Me).

Dan ketika selanjutnya saya membaca buku Merawat Luka Batin-nya dr. Jiemi Ardian, saya merasa menemukan benang merah yang menghubungkan ketiga gagasan ini. Stress yang berujung depresi dan emosi negatif lainnya sering berakar dari ketidakmampuan kita untuk melepaskan kendali atas hal-hal yang ada di luar kuasa. Dan pada akhirnya memang perlu kemampuan tersendiri untuk membedakan mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. 

Ide pada buku Let Them Theory ini sebetulnya tidak benar-benar baru, karena aliran filsafat Stoic juga secara garis besar bicara tentang ide yang sama. Yang membuat buku ini digandrungi banyak orang, mungkin karena gagasan yang ingin disampaikan, dikemas dengan cerita yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Kasus pertama yang disampaikan Mel (penulis), adalah pesta dansa putranya. Bagaimana ia stress sendiri ketika ternyata banyak hal tidak berjalan sesuai dengan rencana, dan merasa keadaan sangat parah ketika kemudian ia tahu ternyata tempat makan malam belum dipesan. Mel merasa sangat tertekan dan ketika putrinya menegur, Mel baru tersadar, ini kan pesta putranya dan teman-temannya, bukan acara Mel sendiri. Lalu kenapa ia harus merasa berkepentingan pada bagaimana acara akan berjalan. Ya sudah biarkan saja, terserah mereka sebagai penyelenggara pesta mau bagaimana. 

Mel mengatakan ketika ia belajar mengatakan “biarkan saja” dalam berbagai situasi, ia merasa banyak ketegangan mengendur dan di luar dugaan, banyak hal dalam hidupnya yang juga ikut berubah.

Ketika kita sudah mengerjakan semua tugas dengan baik, ternyata atasan tidak menaikkan gaji kita ya sudah, biarkan saja. Ketika orang yang kamu bantu ternyata tidak berterima kasih, ya sudah biarkan saja. Ketika pasangan yang kamu cintai mengkhianatimu, ya sudah biarkan saja. Ketika orang yang kamu harapkan menjadi teman ternyata mengabaikanmu, ya sudah biarkan saja. 

Karena pada prinsipnya, kita tidak bisa merubah atau mengendalikan orang lain. Kita tidak bisa memaksa orang yang sudah kita bantu untuk menghargai kita, kita juga tidak bisa memaksa orang yang kita cintai untuk mengembalikan cinta dengan intensitas yang sama, seperti halnya kita juga tidak bisa memaksa orang menyukai kita padahal kita sudah melakukan yang terbaik untuk mereka.

Biarkan saja. 

Lepaskan apa yang memang tidak bisa kamu kendalikan. Kita tidak bisa memaksa semua orang bersikap seperti apa yang kita mau bahkan setelah semua upaya luar biasa yang kita lakukan untuk dan terhadap mereka.

Tapi agar hidup ini seimbang, setelah biarkan saja, masih ada lanjutannya: biarkan aku.

Jika biarkan mereka fokus pada upaya melepaskan energi dari hal-hal di luar kendali, maka biarkan aku terpusat pada bagaimana mengerahkan energi untuk hal-hal yang bisa kita rubah.

Ketika kita sudah mengerjakan semua tugas dengan baik, ternyata atasan tidak menaikkan gaji kita ya sudah, biarkan saja. Tapi selanjutnya, biarkan aku untuk mengembangkan kemampuan lain dan berupaya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.

Ketika orang yang kamu bantu ternyata tidak berterima kasih, ya sudah biarkan saja. Tapi biarkan aku untuk tidak meletakkan harga diriku pada seberapa banyak ucapan terima kasih yang diterima. Ia yang menunjukkan sikap tak berbudi, ya sudah, biarkan, tapi aku memilih tetap jadi orang baik dan meninjau ulang apakah bantuanku justru membuat orang ini tidak berupaya dan aku selalu punya pilihan untuk mengalihkan bantuan kepada orang lain.

Ketika pasangan yang kamu cintai mengkhianatimu, ya sudah biarkan saja. Tapi kita selalu punya pilihan untuk tetap mencintai diri sendiri, membeli barang yang kita suka, melakukan hal-hal yang membuat bahagia, serta menjadi orang yang jauh lebih baik dari segi fisik, kompetensi dan karakter. Fokuskan energi pada hal yang bisa kita rubah dan perbaiki, dan tetap ingat, bahwa ‘biarkan aku’ juga menawarkan kebebasan untuk memilih dan meninjau apakah kebersamaan masih layak diperjuangkan atau tidak.

Ketika orang yang kamu harapkan menjadi teman ternyata mengabaikanmu, ya sudah biarkan saja. Karena pertemanan dipengaruhi tiga hal: waktu yang dihabiskan bersama, jarak yang memisahkan atau mendekatkan dan terakhir energi atau frekuensi yang sesuai atau tidak. Jika teman sekolahmu perlahan-lahan menjauh ya sudah biarkan saja, karena secara alami memang akan begitu. Setelah tumbuh semakin dewasa, kalian akan terpisah oleh jarak, juga akan kehilangan waktu untuk terus bersama-sama karena tanggung jawab yang berbeda. Energi juga bisa berubah, karena manusia terus tumbuh dan bertransformasi. Tapi setelah itu, “biarkan aku” untuk mengalihkan energi dengan menjalin persahabatan dengan orang baru. Sapa orang duluan, tawarkan makanan kepada tetangga atau teman kerjamu, ciptakan dan mulailah hubungan pertemanan yang lain. 

Selanjutnya buku ini pun membahas cara jika kita ingin orang lain berubah. Contoh yang disampaikan di buku, misal kita prihatin terhadap pola hidup pasangan yang sangat tidak sehat, alih-alih marah-marah ketika melihat dia malas-malasan di sofa sambil makan junk food dan menonton tivi, kita bisa mulai dengan teori biarkan saja dulu. Mencintai seseorang berarti kau harus menerima orang itu apa adanya. 

Ketika kita memaksa pasangan kita yang malas untuk berubah dan memulai hidup sehat juga berolahraga, yang ada malah ia akan merasa tertekan dan semakin defensif. Mel menjelaskan ada tiga hal yang membuat kenapa perubahan itu terasa sulit:

1.    Orang dewasa hanya berubah ketika mereka menginginkannya. Tak peduli sekeras apapun kamu paksa, kamu marah, kamu motivasi, jika memang pada dasarnya orang tak mau berubah, semua kemarahan, paksaan dan suntikan motivasi kamu akan sia-sia.

2.    Manusia cenderung bergerak menuju hal yang menyenangkan. Ini ilmu saraf, pada dasarnya otak manusia akan menghindari hal yang menyakitkan dan akan selalu memilih apa yang terasa menyenangkan. Junk food terasa lebih enak dari sayuran, dan rebahan di sofa selalu terasa lebih nyaman dari berlari di luar rumah.

3.   Setiap orang di muka bumi selalu berpikir bahwa mereka adalah pengecualian. Statistik menunjukkan bahwa orang yang selalu minum minuman manis rawan terkena penyakit diabetes, tapi entah bagaimana satu bagian dalam otak kita akan merasa bahwa itu hanya berlaku untuk orang lain, dan tidak untuk kita sendiri.

Tiga hal ini menunjukkan bahwa tekanan tidak selalu bisa membuat orang berubah. Karena itu kita perlu menerapkan teori biarkan saja. Selanjutnya, kita mulai dengan “biarkan aku”, untuk bergerak duluan, untuk mulai makan sehat, rajin berolahraga. Dengan begitu kita memberikan contoh dan menunjukkan bagaimana makan sehat dan olah raga ternyata menyenangkan serta memberikan banyak dampak positif. Setelah jangka waktu tertentu, apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri ternyata lebih efektif untuk memengaruhi daripada omelan-omelan yang malah memicu pertengkaran. Karena secara psikologis kita adalah makhluk sosial yang menerima pengaruh dari sekitarnya.

Kurang lebih seperti itulah inti dari buku ini.

Biarkan saja, tapi jangan berhenti disitu, lanjutkan dengan biarkan aku.

  

Note:

1)           Doa terkenal ini ditulis oleh seorang teolog asal Amerika Serikat bernama Karl Paul Reinhold Niebuhr pada awal tahun 1930-an. Kutipan ini sangat populer di seluruh dunia dan sering digunakan sebagai motivasi dalam gerakan pemulihan diri (seperti Alcoholics Anonymous), terapi psikologis, serta petunjuk moral untuk fokus pada hal-hal yang berada di bawah kendali kita sendiri.

 

 

 

 

Minggu, 30 Agustus 2026

Resensi METAMORFOSIS


 Judul buku               : Metamorfosis

Penulis                      : Franz Kafka

Alih bahasa               : Sigit Susanto

Penerbit                    : Kakatua

Jumlah halaman       : 84 halaman

 

“Bagaimana kalau aku kembali tidur sedikit lebih lama dan melupakan semua hal yang tidak masuk akal ini, hlm. 3”

Apakah dia seekor binatang jika musik bisa begitu memikatnya? Baginya, seolah-olah ia sedang ditunjukkan jalan menuju santapan tak dikenal yang selama ini ia dambakan, hlm 70. ”

 

Jika kamu ingin tahu bagaimana rasanya jadi seorang laki-laki, kamu harus baca buku Metamorfosisnya-Kafka

Rekomendasi ini saya baca di medsos sudah lama sekali, tapi baru kemarin saya berkesempatan membaca buku ini. Kebetulan buku Metamorfosis yang saya baca adalah terbitan PT. Anak Hebat Indonesia. Sayangnya, menjelang halaman-halaman terakhir, saya merasa kesulitan menangkap makna utuh dari banyak rangkaian kalimatnya. Setengah terobsesi, saya teringat pada sebuah utas di twitter yang menyatakan bahwa untuk buku-buku terjemahan, penerbit Kakatua mencetak buku-buku dengan kualitas terjemahan sangat bagus, jadilah saya secara spesifik mencari lagi buku ini tapi yang diterbitkan oleh Kakatua.

Dan dapat.

Metamorfosis terbitan Kakatua ini dibuka dengan Pengantar Penerjemah, yaitu Pak Sigit Susanto yang menerjemahkan buku ini dari bahasa Jerman dengan judul asli Die Verwandlung. Bagian paling menarik dari pengantar penerjemah adalah bagian akhir yang menceritakan bahwa pada tahun 1917, Kafka menerima surat dari pembacanya: “ Tuan yang terhormat, Anda telah membuat saya menderita. Saya telah membeli buku Anda Metamorfosis dan saya berikan kepada saudara sepupu saya. Ia tahu ceritanya, tetapi tidak mampu menjelaskan, Ia berikan novelet itu kepada ibunya, juga ibunya tak bisa menjelaskan. Karena saya seorang doktor, maka saya disuruh menerangkan kepada mereka, tetapi saya bingung. Tolong, jelaskan, apa yang harus saya utarakan kepada sepupu saya. Hormat saya, Dr. Siegfried Wolff.”

Ternyata saya juga sama seperti Pak Wolff, setelah menamatkan novelet ini, saya kebingungan sendiri, bagaimana cara untuk menulis resensinya.

Cerita dibuka dengan satu adegan ketika Gregor Samsa bangun dari tidur dengan mimpi menyeramkan dan tiba-tiba menemukan bahwa tubuhnya sudah berubah sepenuhnya menjadi serangga menjijikkan. 

(Penerjemah menyebutkannya sebagai kecoak raksasa, namun di bagian pengantar ada keterangan yang mencantumkan bahwa Kafka menggunakan kata ungeziefer yang bisa berarti kumbang, kecoak, lalat, intinya binatang kecil yang mengganggu atau menjijikkan. Sedangkan pembantu keluarga Samsa spesifik menyebutnya sebagai Mistkafer yang berarti kumbang yang hidup di rabuk).

Dan yang menurut saya paling aneh, bukannya panik karena sudah beralih wujud menjadi kecoak raksasa, yang terlintas di pikiran Gregor justru bagaimana harus berangkat bekerja dengan wujud bukan manusia, dan bagaimana harus menghadapi kemarahan atasan karena ia melewatkan keberangkatan kereta untuk perjalanan dinas hampir dua jam yang lalu. Lebih aneh lagi, ketika Kepala Kepegawaian berkunjung ke rumah, Samsa masih berpikir bahwa kemungkinan dipecat lebih mengerikan dibanding menunjukkan wujudnya yang sekarang menjadi kecoak raksasa. 

Saya memahami penuh perasaan Gregor, tapi sungguh saya kesulitan mendeskripsikannya. Bagaimana ketika beban  dan tekanan pekerjaan sudah merasuk sampai ke tulang sampai pada satu sisi bahkan sampai menggeser hal lain yang sebetulnya lebih urgent dan mendesak meskipun bersifat pribadi. Bukankah sudah sering begitu, kita dipaksa untuk tetap profesional, mengenyampingkan perasaan, hati yang sedang hancur atau bahkan badan yang sedang tidak enak semua demi pekerjaan.

Tapi yang paling menyakitkan dari keseluruhan cerita mungkin adalah respon keluarga Gregor sendiri. Gregor adalah pencari nafkah utama yang menanggung sepenuhnya hidup ayah, ibu dan adik perempuannya. Tetapi setelah Gregor berubah wujud dan tak bisa lagi mencari uang, ia diabaikan begitu saja. Adiknya, Greta, yang di awal masih memberikan perhatian dengan memastikan Gregor mendapat makanan dan juga membersihkan kamar Gregor, lama-lama bosan dan justru jadi orang pertama yang mengusulkan untuk menyingkirkan Gregor. Pada satu momen, ayahnya bahkan melempar apel yang menancap di punggung Gregor, yang kemudian melukai dan lukanya membusuk pelan-pelan. 

Gregor yang malang, pencari nafkah utama yang kemudian diabaikan dan ditinggalkan begitu saja setelah dianggap tak berguna. Tak ada jejak kebaikan sama sekali dari keluarganya padahal bertahun-tahun sudah ia menyediakan rumah, makanan hangat di meja dan kehidupan yang nyaman untuk keluarganya. Padahal bahkan dalam wujud serangga pun, Gregor masih tak enak hati memikirkan bagaimana kehidupan keluarganya kedepannya tanpa ia yang mencari nafkah. Tapi keluarganya alih-alih mencoba memahami bahwa kondisi ini pun tak mudah bagi Gregor (siapa sih yang ingin tiba-tiba jadi serangga), malah bersikap seolah Gregor adalah beban yang membuat ketiganya kini harus bekerja mati-matian agar tetap hidup layak. 

Kehilangan sosok Gregor si pencari nafkah bukannya membuat mereka mensyukuri peran Gregor sebelumnya dan bersikap baik pada Gregor saat ia tertimpa musibah, tapi justru malah membuat keluarganya membenci Gregor ketika sekarang Gregor dianggap tak berguna. Karena keluarganya merasa gara-gara Gregor jadi serangga,  beban nafkah yang semula ditanggung Gregor sendiri kini berpindah dan ternyata hasil kerja mereka bertiga pun tak bisa menyamai hasil yang diperoleh Gregor seorang diri.

Di akhir cerita, Gregor mati dalam hening, setelah berbulan-bulan kehilangan selera makan, karena luka yang infeksi, karena pengabaian. Ia mati sendirian, tanpa isak tangis kehilangan dari keluarganya. Alih-alih berduka karena kehilangan (hei, Gregor sebelumnya adalah anak kebanggaan), ketiga keluarga Gregor ternyata malah merasa lega setelah kematian Gregor. Mereka bahkan berencana menjual apartemen peninggalan Gregor, untuk kemudian merancang kehidupan baru di tempat lain dan merencanakan pernikahan Greta.

Buku ini tipis saja, hanya 84 halaman. Buku yang selesai dibaca hanya dalam sekali duduk. Tapi saya tercenung lama sekali setelah membaca buku ini.  Sejujurnya jiwa saya terguncang, akhirnya saya memahami apa maksud kalimat yang temukan di medsos: Jika kamu ingin tahu bagaimana rasanya jadi seorang laki-laki, kamu harus baca buku Metamorfosisnya-Kafka.

Pernyataan ini saya ralat, bukan hanya untuk laki-laki ternyata, tapi ini berlaku untuk semua pencari nafkah di keluarga. Kafka menggambarkan semuanya dengan begitu komprehensif. Dari mulai beban pekerjaan yang menghilangkan identitas sebagai individu, sampai pada pengabaian dari keluarga setelah sakit atau jadi anomali dan tak bisa lagi mencari uang. Saya tak bisa menjelaskan, tapi saya paham sekali rasanya menjadi Samsa, dan ini menyakitkan. Dan saya yakin, banyak sekali Samsa-Samsa lain di luar sana, tentu bukan dengan kasus sama tiba-tiba berubah menjadi kecoak raksasa, tapi bisa saja tiba-tiba sakit keras atau kecelakaan lain sehingga tak bisa lagi menjalankan tugas untuk mencari nafkah.

Buku ini dinobatkan sebagai buku Kafka yang paling banyak mendapat sambutan publik. Di sampul belakang bukunya, tertulis bahwa Vladimir Nabokov menyebut: “Siapa melihat sesuatu pada Metamorfosis yang lebih dari sekedar sebuah fantasi serangga, saya anggap sebagai pembaca yang berhasil”.

Mungkin saya, termasuk salah satu pembaca yang berhasil itu, meskipun seperti Pak Wolff, saya juga tak berhasil menjelaskan dengan baik bagaimana isi buku ini. Oleh karenanya, kamu harus baca sendiri. Dan ingat penjelasan saya di awal, jika kamu akan membaca seri terjemahannya, carilah buku edisi terjemahan Kakatua. 

*Terima kasih banyak kepada Pak Sigit Susanto yang telah menerjemahkan dengan sangat baik.

 

Minggu, 16 Agustus 2026

Resensi YANG TERSISA DARI KEMATIAN



 

Judul                                         : Yang Tersisa  dari Kematian                  

Penulis                                      : Chen Xue

Penerbit                                    : PT. Elex Media Kumputindo

Jumlah Halaman                      : 373 halaman

 

Biarlah begini saja, tetaplah di pelukanku. Biarlah begini saja untuk sesaat lagi agar aku dapat merasakan demi siapa jantung ini berdetak dan demi siapa aku ingin terus bertahan hidup. Hlm. 229.


Novel detektif pertama yang saya baca adalah Kasus-Kasus Perdana Poirot karangan Agatha Christie, berwujud buku tua tanpa halaman cover yang saya temukan di dasar lemari buku milik Aki ketika masih sekolah dasar dulu.  Dan saya terpesona oleh buku itu, mengagumi kecerdasan Poirot sampai pada satu titik sempat mengidolakannya. Setelah SMA, ketika akses terhadap buku-buku sudah lebih luas, saya masih mencari buku-buku Poirot. Barulah ketika kemudian saya berkenalan dengan Sherlock Holmes, saya mulai berpindah haluan.

Meski Poirot dan Holmes adalah dua kepribadian yang sangat berbeda, tapi ada benang merah yang hampir sama diantara kisah mereka berdua. Keduanya fokus pada metode penyelesaian masalah, pada pengungkapan siapa pelaku kejahatan sebenarnya, melalui petunjuk samar yang seringkali luput dari pengamatan polisi penyidik paling ahli sekalipun. Holmes terkenal dengan kemampuannya menarik kesimpulan dari hal-hal kecil yang ia sampaikan sendiri sebagai :”kamu hanya kurang memperhatikan”, sementara Poirot terkenal dengan obsesinya pada kerapian, pola, bentuk simetris dan metoda.

Tapi Yang Tersisa dari Kematian karya Chen Xue ini berbeda. Fokus pada buku ini bukan tentang metode pemecahan kasus meskipun yang diangkat adalah juga kisah pembunuhan. Novel yang ditulis Chen Xue ini juga berkisah tentang kematian, namun kematian tidak lantas direduksi menjadi sekedar kisah pengungkapan siapa pembunuhnya, dan dengan metoda apa ia dibunuh. Buku ini bicara jauh lebih dalam, tentang lapis-lapis psikologi manusia, tentang apa yang mendorong seseorang membunuh, dan bagaimana dampak pembunuhan itu sendiri bukan dari kaca mata keluarga korban, tapi justru dari lensa pihak-pihak lain yang terkait dengan kematian korban, termasuk anak tersangka pelaku pembunuhan, kekasih korban dan juga si pembunuhnya itu sendiri.

Cerita dibuka dengan kematian Ding Xiaoquan di kebun persik milik keluarga sahabatnya, Zhou Jiajun. Polisi kemudian menetapkan Zhou Fu, ayah Jiajun sebagai pembunuhnya. Kehidupan Jiajun hancur setelah kasus pembunuhan ini meledak, ia menjadi korban pembulian di sekolah karena dianggap sebagai anak pembunuh hingga kemudian ia dibawa bibinya untuk pindah ke tempat lain. Berkali-kali Jiajun harus menjalani pengobatan ke psikiater, dan baru membaik setelah melakukan operasi plastik dan berganti nama menjadi Li Haiyan. 

Empat belas tahun berlalu, sekuat tenaga Jiajun mengubur masa lalu, dan dengan identitas yang baru sebagai Li Haiyan,ia tumbuh menjadi gadis cantik yang ramah dan pintar bahkan kemudian mengukuhkan karirnya sebagai jurnalis investigasi yang mumpuni. Namun satu dering telepon di suatu malam mengembalikan bayang-bayang gelap masa lalu. Isi teleponnya singkat saja, hanya sebuah pernyataan bahwa si penelepon tahu Li Haiyan sebenarnya adalah Zhou Jiajun. 

Tak lama dari panggilan telepon anonim ini, terjadi lagi kasus pembunuhan dengan scene yang persis sama dengan pembunuhan Ding Xiaoquan. Merasa terpanggil untuk juga membersihkan nama baik ayahnya, Li Haiyan kembali ke Taolin untuk memulai penyelidikan. Tak disangka, dalam penyelidikan itu ia juga bertemu dengan Song Dongnian, yang dulu adalah kekasih Ding Xiaoquan dan hampir sama dengan Jiajun, juga meneruskan hidup dengan penuh luka dan penyesalan. 

Novel ini mungkin lebih tepat disebut sebagai novel psikologi alih-alih novel thriller, karena melalui penceritaan ‘dia’ yang berbeda-beda, kita akan diajak untuk menyelami sudut pandang Jiajun yang kemudian menjadi Li Haiyan, kita akan berkenalan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui kepalanya serta bagaimana pertanyaan itu kemudian bertransformasi menjadi keraguan kepada sosok ayahnya sendiri. 

Pada bab yang lain, kita akan diajak untuk ikut merasakan bagaimana menjadi Song Dongnian, yang seumur hidup dihantui bayang-bayang penyesalan: “seandainya dulu tidak mengajak Xiaoquan berkencan, ia tidak akan keluar rumah dan tidak akan terbunuh”. Tahukah kamu, bahwa sesal pun ternyata bisa membunuh pelan-pelan, menggerogoti dari dalam, menghakimi diri dengan skenario berulang, seandainya dulu tidak… maka sekarang tentu akan….

Pada bagian lain, kita juga akan diajak untuk ikut memahami bagaimana pola pikir si pembunuh. Kita akan bersimpati dan mengasihani meskipun tetap saja tidak bisa memaklumi latar belakang panjang yang membuat ia bertransformasi menjadi pencabut nyawa.

Memahami manusia memang tak hanya cukup dengan melihat dari satu sudut saja. Dan menjadi menarik karena kemudian kita akan sepakat, betapa luasnya spektrum kejiwaan manusia. Atas nama cinta, seseorang mampu membunuh. Dan karena cinta juga, seorang sakit jiwa bisa kembali waras.

Usai menamatkan buku ini, saya iseng kembali ke halaman pertama, ternyata saya melewatkan bagian Kata Pengantar yang ditulis oleh Chen Guowei. Bagian Kata Pengantar ini ternyata sangat menarik karena meresensikan bukunya sendiri dengan bahasa yang lugas dan sangat tepat. Satu paragraph berikut sepertinya sudah merangkum keseluruhan isi buku dan juga ikut mewakili pandangan saya:

…Chen Xue ingin mengingatkan kita bahwa keluarga sesungguhnya adalah tempat paling awal lahirnya para monster dan iblis. Di sanalah luka dan korban terus dipelihara dalam kebencian yang dibungkus atas nama cinta, dan dengan itu, monster pun tercipta. Bahkan, cukup dengan setia pada hasrat dan luka-lukamu sendiri, bisa jadi suatu hari kau akan melihat wajah iblismu dalam pantulan cermin.

Pada akhirnya, hanya dengan berani menghadapi semuanya, barulah penebusan dosa dan pemahaman akan diperoleh…

 

 

Resensi A Untuk Amanda

Judul buku                                : A Untuk Amanda Penulis                                 : Annisa Ihsani Penerbit                 ...