Judul Buku : Kokokan Mencari Arumbawangi
Penulis : Cyntha Hariadi
Jumlah Halaman : 337 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
“Hirup hijau itu, Kakaputu. Simpan di dalam dadamu dan kau akan selalu hidup”
“Arumbawangi, rangkul langit di atasmu. Birunya, hitamnya, terangnya, gelapnya, segala rahasianya. Jangan takut. Kau akan jadi anak paling kuat”
Ada novel yang begitu seru dan mudah dibaca sampai tamat sekali duduk, ada juga jenis buku yang perlu waktu berjeda-jeda untuk menyelesaikannya. Bukan karena tak bagus, tapi justru karena saking bagusnya hingga emosi semua tokoh di buku itu memengaruhimu sedemikian rupa. Kau akan ikut merasa bahagia tatkala cerita cerah ceria, tapi juga ikut merana ketika si tokoh buku terkisahkan sengsara. Dan dengan yakin saya nyatakan bahwa buku ini termasuk buku yang kedua, saya tertipu, padahal ada embel-embel Sebuah Dongeng di halaman judul, tapi bagaimana bisa emosi saya bercampur aduk sampai berkali-kali harus berhenti dulu dan menghirup nafas panjang saat membacanya. Untungnya, autoimun saya kambuh lagi hingga harus bedrest total beberapa hari ini, dan tak ada yang bisa dilakukan selain membaca. Maka buku ini selesai juga dalam dua hari.
Baru halaman pertama, tapi saya sudah terpesona, pada jalinan kata yang dipilih dengan begitu rapi dan puitis, meski sempat kebingungan menebak arah cerita, dan berpikir kenapa baru pembuka tapi sudah segelap ini. Dua anak kecil yang masih bersekolah dasar, memandikan jasad ibunya yang wafat, mendandaninya seperti akan pergi sembahyang dan kemudian menguburkannya di tanah belakang rumah.
Sebagaimana judulnya, buku ini memang sebuah dongeng. Tentang suatu desa sangat subur di Bali yang dihuni oleh ibu dan anak, Nanamama dan Kakaputu namanya. Nanamama adalah petani sigap yang tangguh, ia menganggap tanah sebagai denyut nadinya sendiri. Hidupnya sederhana, dipenuhi kerja menumbuhkan segala yang ada di bumi hingga suatu hari sekawanan burung kokokan membawa seorang anak perempuan kecil berkulit putih, mendarat di kebun bawangnya di pekarangan rumah. Nanamama memberinya nama Arumbawangi, dan segera ia menjadi anak yang disayangi Nanamana sepenuh jiwa dan adik yang dilindungi Kakaputu segenap hati, tak peduli seluruh warga desa memandangnya sebagai bebai atau roh jahat.
Nanamama memang sosok perempuan yang berbeda. Ia satu-satunya orang yang menentang rencana penjualan sawah penduduk desa untuk jadi obyek wisata. Ia percaya, ia adalah penjaga tanah, dan tanah akan membalasnya dengan kebaikan melalui semua yang tumbuh diatasnya. Ia percaya, tanah yang diolah tak akan pernah membuatnya kelaparan. Lebih baik jadi tuan yang miskin di atas tanah sendiri daripada budak yang kaya di atas tanah orang lain. Namun karena pandangan ini, ia dibenci seluruh desa, kebencian yang berlarat-larat hingga kemudian karena itulah ia wafat.
Di bawah pengasuhannya, Kakaputu dan Arumbawangi tumbuh menjadi dua anak baik yang sangat bisa diandalkan. Kita akan diajak menyelami betapa banyak kerjanya dan betapa berharganya hari-hari sebagai petani.
Kau cukup beruntung dilahirkan sebagai anak petani. Anak yang kekuatannya jauh melebihi sihir tangan Raja Midas, sebab yang ada di tanganmu bukan sihir tak terbatas, tapi kekuatan manusia yang ada batasnya tapi nyata, selalu menghidupkan, tidak mencelakakan.
Dibatasi rimbunan pohon kelapa dari desa, sebuah hotel yang terbengkalai pembangunannya karena terhambat proses perizinan, ternyata dialihkan kepemilikannya. Pak Rudi, pemilik hotel yang baru, memiliki seorang anak bernama Jojo, anak baik yang terperangkap duka setelah ditinggal wafat ibunya sehingga menjelma jadi monster kecil manja yang menyusahkan semua orang di sekelilingnya. Ironisnya, melalui perantara sebuah layang-layang rusak, Jojo kemudian berteman dengan Kakaputu dan Arumbawangi. Mulanya Kakaputu dan Arumbawangi menyembunyikan pertemanan itu, khawatir dengan reaksi Nanamama yang alergi terhadap semua hal yang berhubungan dengan hotel, namun di luar dugaan Nanamama malah ikut sayang pada Jojo. Begitu pun Jojo, dukanya perlahan sembuh melalui pertemanannya dengan keluarga kecil yang hangat ini.
Kupikir cerita akan berlanjut manis, tapi tentu saja bagaimana saya bisa berharap seperti itu pada buku yang sudah dibuka dengan prolog begitu gelap. Setelah satu hari penuh yang menghangatkan jiwa dengan petualangan persahabatan, cerita bergulir pada tragedi yang begitu memilukan di tengah malam: ulang tahun Jojo yang kesepian.
Alih-alih menemani anaknya, Pak Rudi malah pergi melakukan perjalanan bisnis ke Hongkong. Jojo yang merasa ditinggalkan merayakan ulang tahun sendirian di kamar hotel, dengan sebuah lilin yang menyala lalu apinya membesar dan melalap habis kamarnya, ia kemudian terbakar mati. Duka tak tergambarkan bagi Pak Rudi, ia sudah kehilangan istri di hari ulang tahun Jojo yang ke -11, lalu kini ia kehilangan satu-satunya anak di ulang tahun Jojo yang ke-12.
Apakah kemudian tragedi berhenti sampai di sini?, oh tentu tidak, beberapa hari setelah kejadian ini, beberapa polisi mendatangi rumah Nanamama dan menahannya. Tuduhannya jelas: membakar hotel sehingga menyebabkan kematian Jojo. Motif yang dituduhkan: Nanamama satu-satunya orang yang tak pernah setuju dengan pembangunan hotel. Bukti yang memberatkan: sisir Nanamama ditemukan di bawah keset hotel.
Penahanan Nanamama ternyata berlanjut pada rentetan duka lainnya, perlakuan warga desa yang sejak semula memang tak ramah pada Kakaputu dan terutama pada Arumbawangi yang dianggap “anak burung” semakin menajam. Hati saya ikut pedih membayangkan anak usia SD hanya berdua di rumah, mengurusi semua keperluan sendiri, berharap cemas menanti kepulangan ibu, sementara semua orang di sekitar begitu dingin seolah tak peduli.
Nanamama kemudian memang pulang ke rumah, tapi sudah seperti jasad yang lumpuh, penahanan ini meruntuhkan sisa kekuatan jiwanya ditambah dengan racun jahat yang dioleskan tetangganya pada arit yang digunakan Nanamama mengolah sawah. Seminggu kemudian Nanamama wafat, dan tinggallah dua anak tanpa ayah dan ibu ini harus meneruskan hidup.
Di titik ini, saya pikir cerita akan melunak, memberi jeda bagi pembacanya agar sedikit menghirup napas, ternyata tidak. Nanamama memang meninggalkan rumah, tanah sawah, kebun, binatang piaraan dan tabungan yang banyak untuk kedua anaknya. Kakaputu dan Arumbawangi akan tetap bisa sekolah dan tak akan kelaparan. Siapa sangka jika penjahatnya adalah seluruh warga desa yang memaksa kedua anak ini tunduk pada perwalian Pak Wawatua dan memaksa keduanya menandatangani surat persetujuan penjualan sawah.
Terbiasa dikelilingi tetangga-tetangga yang baik, tak habis pikir saya, bagaimana bisa seluruh penduduk desa berkomplot menjadi jahat dan menyudutkan anak yatim piatu di bawah umur. Dan pada saat-saat genting, sekelompok burung kokokan besar menjemput Kakaputu dan Arumbawangi untuk kemudian membawa keduanya pergi. Entah kemana, tak dilanjutkan lagi pada cerita.
Ya tentu karena sudah diputuskan bahwa cerita ini adalah sebuah dongeng oleh penulisnya, maka semua awal mula dan akhir cerita menjadi hak prerogatif penulis sepenuhnya. Tapi setelah dilempar ke forum umum, maka sebuah karya berhak untuk dikomentari, didiskusikan dan dikritisi oleh pembacanya.
Buku ini adalah buku yang sangat bagus untuk saya. Pilihan diksinya memesona, jalinan ceritanya rapi dan manis. Konflik yang ditampilkan juga sangat relevan dan dan cenderung kontemporer: isu alih fungsi lahan pertanian, polisi yang korup dan berpihak, perundungan terhadap liyan atau orang yang dianggap berbeda, dan terakhir cacatnya perlindungan sistem sosial suatu masyarakat terhadap warganya yang paling lemah ketika berhadapan dengan ketamakan dan mimpi untuk kehidupan yang lebih baik. Semua digambarkan dengan sangat lugas.
Saya masih bisa menerima ketika di pertengahan cerita, Jojo dan Nanamana sempat menjadi hantu, residu energi yang tertinggal karena ada hal belum selesai yang masih mengikat pemilik jiwa dengan dunia fana. Yang sedikit mengganjal untuk saya hanya akhir cerita yang seolah dipaksakan untuk segera selesai dan terburu-buru: sekelompok burung kokokan yang datang lagi dan menjemput Arumbawangi dan Kakaputu pergi ketika dirempug warga. Tambahan kalimat Sebuah Dongeng di halaman judul memang bisa menjadi pembenaran penulis untuk menutup dan membuka cerita ini dengan hal yang tak masuk akal. Tapi tetap saja, seperti gatal di bawah kulit yang tak bisa digaruk, saya merasa seperti itu juga akhir dari buku ini.
Berbagai pertanyaan lanjutan mengganggu pikiran saya: saya tak paham anatomi burung kokokan, sebesar apa burung itu, ketika diceritakan mengantar Arumbawangi yang masih berumur dua tahun masih okelah, tapi apakah memang sanggup membawa anak berusia sepuluh atau sebelas tahun?. Lalu mereka dibawa pergi kemana, pertanyaan ini mengganggu karena dari mana Arumbawangi datang juga tidak pernah dijelaskan di dalam cerita. Pertanyaan selanjutnya, jika kedua anak ini dibawa pergi bagaimana dengan tanah yang ditinggalkan, padahal tanah ini yang selalu dipesankan oleh Nanamama untuk dijaga dengan sepenuh hati seperti menjaga nyawa sendiri, jangan sampai dijual, jika ditinggalkan begitu saja bukankah jadinya malah bertolak belakang dengan inti cerita.
Saya berharap akan ada bagian kedua yang menjadi lanjutan dari buku ini untuk menjawab kepenasaranan saya. Sebagai penutup, saya berterima kasih kepada Cyntha Hariadi yang sudah menulis buku seindah ini.





.jpeg)

