Minggu, 08 November 2026

Resensi TRUE MOTHERS: Tentang Menjadi Ibu, Keluarga, dan Nasib Perempuan

 



"Aku bersyukur, suamiku adalah orang ini." (hlm. 138)

Informasi Buku

Judul

True Mothers

Judul asli

Asa ga Kuru (朝が来る)

Penulis

Mizuki Tsujimura

Penerjemah

[lengkapi]

Penerbit

Penerbit Haru

Tahun terbit

2023

Tebal

445 halaman

Genre

Fiksi drama keluarga

 

 

Novel ini pertama kali terbit di Jepang pada 2015 dan diadaptasi menjadi film berjudul sama oleh sutradara Naomi Kawase pada 2020.

Sinopsis

Satoko dan Kiyokazu Kurihara adalah pasangan suami istri yang lama mendambakan anak. Bertahun-tahun mereka menjalani pemeriksaan dan pengobatan kesuburan, menghabiskan waktu, tenaga, dan uang yang tidak sedikit, sampai akhirnya diketahui bahwa masalahnya ada pada Kiyokazu. Lelah berjuang, mereka sempat berdamai dengan kemungkinan hidup berdua saja, hingga suatu hari mereka mengenal Baby Baton, sebuah yayasan yang mempertemukan ibu yang tidak dapat membesarkan bayinya dengan pasangan yang ingin mengadopsi. Dari sanalah Asato hadir dalam hidup mereka.

Tahun-tahun berlalu dengan bahagia. Asato tumbuh menjadi anak TK yang manis. Lalu sebuah telepon datang: seorang perempuan mengaku sebagai Hikari Katakura, ibu kandung Asato, dan meminta anaknya dikembalikan, atau uang sebagai gantinya. Perempuan yang kemudian datang ke rumah mereka tampak jauh berbeda dari gadis belia yang dulu menitipkan bayinya.

Dari titik ini, novel berbalik menelusuri kisah Hikari: remaja dari keluarga yang kaku, cinta pertamanya, kehamilan di usia yang terlalu muda, dan jalan hidup yang terus menurun setelah ia melepaskan bayinya. Dua perempuan, dua wajah keibuan: yang melahirkan dan yang membesarkan.

Kesan Saya

Catatan: bagian ini mengandung bocoran cerita.

Tentang Satoko dan Suami yang Rasanya Terlalu Baik untuk Menjadi Kenyataan

Saya ingin membicarakan Satoko terlebih dahulu. Menurut saya, Satoko adalah istri yang sangat beruntung. Ia memiliki suami yang luar biasa baik, penyayang, dan begitu memahami keadaan istrinya. Bahkan saya sempat berpikir, pasangan ini nyaris sempurna.

Ketika akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti mengupayakan kehamilan dan menerima kemungkinan menjalani hidup berdua tanpa anak, saya justru merasa keputusan itu sangat indah. Sebab bukankah pernikahan pada dasarnya adalah tentang dua orang yang memutuskan menjalani kehidupan bersama? Kehadiran anak tentu bisa menjadi kebahagiaan, tetapi apakah pernikahan otomatis kehilangan maknanya jika pasangan tersebut tidak memiliki keturunan? Saya rasa tidak. Saya juga menyukai bagaimana Kiyokazu memperlakukan Satoko. Tidak ada upaya menyalahkan, tidak ada tuntutan bahwa istrinya harus mampu memberinya keturunan.

Namun, ada satu bagian yang cukup mengganggu pikiran saya. Ketika diketahui bahwa persoalan reproduksi justru berada pada pihak Kiyokazu, ibu mertuanya sampai menundukkan kepala untuk meminta maaf kepada Satoko. Saya kemudian bertanya-tanya, apakah sikap yang sama akan ditunjukkan jika keadaannya terbalik? Jika ternyata Satoko yang mengalami persoalan reproduksi, apakah ibu mertuanya juga akan meminta maaf? Atau justru Satoko yang akan diminta merasa bersalah karena dianggap tidak mampu memberikan keturunan?

Entahlah. Saya tentu tidak bisa memastikan bagaimana ibu mertua Satoko akan bersikap dalam keadaan yang berbeda. Tetapi pertanyaan itu muncul karena dalam kehidupan nyata, perempuan sering kali menjadi pihak pertama yang dipersalahkan ketika sebuah perkawinan belum dikaruniai anak. Padahal persoalan kesuburan tidak sesederhana itu.

Membaca bagian ini juga membuat saya kembali menyadari betapa tidak mudahnya perjuangan pasangan yang mendambakan keturunan. Ada yang harus menjalani pemeriksaan berulang kali, pengobatan, prosedur medis yang melelahkan, menghabiskan banyak uang, dan menghadapi harapan yang berkali-kali tumbuh lalu runtuh. Kita yang tidak pernah mengalami perjuangan serupa mungkin terlalu mudah bertanya, “Kapan punya anak?” Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu perjalanan seperti apa yang sedang mereka lalui.

Saya jadi teringat ungkapan bahwa anak adalah titipan Tuhan. Kehadirannya bukan sesuatu yang bisa dipastikan hanya dengan keinginan, usaha, ataupun kemampuan finansial. Mungkin karena itulah pertanyaan tentang keturunan seharusnya tidak pernah kita lontarkan dengan sembarangan.

Hikari dan Serangkaian Keputusan yang Membuat Saya Gemas Sekaligus Sedih

Namun, dari keseluruhan cerita, tokoh yang paling mengganggu pikiran saya justru Hikari. Saya sungguh menyesalkan nasib anak perempuan ini.

Hikari tumbuh dalam keluarga yang kaku, dengan aturan dan harapan orang tua yang harus dipatuhinya. Diam-diam ia ingin memberontak. Ia kemudian menjalin hubungan dengan Takuma, seorang laki-laki yang dicintainya. Hubungan tersebut berlanjut pada hubungan seksual, hingga akhirnya Hikari hamil ketika usianya masih sangat muda. Kehamilan itulah yang mempertemukannya dengan Yayasan Baby Baton, tempat ia kemudian melahirkan dan menyerahkan bayinya untuk diadopsi. Bayi itu kelak menjadi Asato, anak yang begitu dicintai Satoko dan Kiyokazu.

Sejujurnya, sepanjang membaca kisah Hikari, saya berkali-kali merasa gemas. Anak ini keras kepala sekali! Saya bahkan sempat menganggapnya bodoh, sudah mah selalu gagal ikut ujian masuk sekolah favorit, keputusan-keputusan yang diambilnya pun  terasa semakin lama semakin merugikan dirinya sendiri. Orang tuanya memang digambarkan kaku dan tidak cukup memahami pergulatan batin Hikari, tetapi dari yang saya tangkap, mereka bukan orang tua yang sengaja ingin menghancurkan kehidupan anaknya.

Setelah melahirkan, Hikari masih diberi kesempatan untuk kembali bersekolah dan melanjutkan kehidupannya. Namun kesempatan itu tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ia gagal mencapai target pendidikan yang diinginkan, kemudian mengambil uang orang tuanya dan melarikan diri dari rumah.

Di luar rumah, kehidupan ternyata jauh lebih keras daripada yang dibayangkannya. Mencari pekerjaan tidak mudah. Bertahan hidup membutuhkan uang. Tanpa pendidikan serta keterampilan yang memadai, pilihan-pilihannya menjadi semakin terbatas. Hikari kemudian terjerat persoalan keuangan dan hubungan dengan orang-orang yang justru semakin mempersulit kehidupannya.

Saya membaca semua itu dengan perasaan campur aduk: marah, kesal, sekaligus kasihan. Mengapa setelah mengalami begitu banyak kesulitan, ia masih saja mengambil keputusan yang membuat hidupnya semakin rumit?

Tetapi setelah buku ini selesai, saya justru mulai mempertanyakan kemarahan saya sendiri. Barangkali terlalu mudah bagi kita yang melihat dari luar untuk mengatakan bahwa seseorang seharusnya mengambil keputusan yang lebih baik. Hikari masih sangat muda ketika hidupnya berubah. Ia kehilangan kesempatan menjalani masa remaja sebagaimana teman-temannya, harus berpisah dengan anak yang dilahirkannya, dan kemudian berusaha menemukan tempat bagi dirinya sendiri.

Saya tidak sedang membenarkan seluruh tindakannya. Mencuri uang orang tua tentu bukan keputusan yang bisa dibenarkan begitu saja. Tetapi saya mulai berpikir, apakah kesempatan kedua cukup hanya dengan diberikan? Apakah seseorang yang pernah mengalami peristiwa begitu besar dalam hidupnya otomatis mampu kembali ke sekolah, belajar seperti biasa, dan menjalani kehidupan seolah tidak pernah terjadi apa-apa? Mungkin tidak. Barangkali di situlah salah satu tragedi Hikari: ia membutuhkan kesempatan, tetapi juga membutuhkan dukungan dan ruang untuk memahami apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya.

Ada satu pertanyaan Hikari yang membuat saya berhenti membaca sejenak.

 “Keluarga itu apa?”, hlm. 325

Pertanyaan yang sangat pendek, tetapi rasanya menyimpan begitu banyak kesedihan. Saya kemudian kembali memikirkan keluarga Hikari. Dari luar, keluarga itu tampak baik-baik saja. Orang tuanya hadir, kebutuhan hidupnya terpenuhi, pendidikannya diperhatikan. Tidak ada gambaran bahwa Hikari tumbuh dalam keluarga yang secara terang-terangan melakukan kekerasan fisik kepadanya.

Tetapi apakah semua itu otomatis membuat seorang anak merasa diterima? Apakah keluarga cukup hanya dengan menyediakan rumah, makanan, biaya sekolah, dan aturan-aturan yang harus dipatuhi? Atau keluarga seharusnya juga menjadi tempat seseorang bisa melakukan kesalahan tanpa merasa kehilangan seluruh tempatnya untuk pulang?

Saya tidak ingin terburu-buru menyalahkan orang tua Hikari. Membesarkan anak tentu bukan pekerjaan mudah, dan orang tua pun bisa melakukan kesalahan meskipun merasa telah memberikan yang terbaik. Tetapi pertanyaan Hikari membuat saya menyadari bahwa menyediakan kebutuhan anak dan memahami kebutuhan emosionalnya adalah dua hal yang tidak selalu berjalan beriringan. Barangkali orang tuanya merasa telah melakukan semua yang seharusnya dilakukan, sementara Hikari justru merasa tidak benar-benar dipahami. Ketika ia kemudian melakukan kesalahan besar, jarak di antara mereka menjadi semakin sulit dijembatani.

Mungkin salah satu hal paling menyedihkan dalam kehidupan keluarga adalah ketika orang-orang yang tinggal di rumah yang sama ternyata merasa begitu jauh satu sama lain. Mereka saling mencintai, tetapi tidak selalu tahu bagaimana cara menyampaikan cinta itu. Mereka ingin melindungi, tetapi perlindungan yang diberikan justru terasa seperti pengekangan. Dan ketika seorang anak akhirnya bertanya, “Keluarga itu apa?”, mungkin yang sedang dipertanyakannya bukan sekadar hubungan darah, melainkan rasa aman dan tempat untuk diterima.

Pertanyaan ini juga membuat judul True Mothers terasa semakin menarik. Satoko bukan ibu yang melahirkan Asato, tetapi ia memberikan kasih sayang, perlindungan, dan rumah bagi anak itu. Sementara Hikari adalah ibu yang melahirkannya, tetapi keadaan membuatnya harus melepaskan anak tersebut. Lalu siapa sebenarnya yang berhak disebut ibu? Saya rasa novel ini tidak sedang meminta kita memilih salah satunya. Justru ia memperlihatkan bahwa hubungan keluarga tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui ikatan biologis.

Ketika Perempuan Harus Menanggung Konsekuensi yang Jauh Lebih Panjang

Bagian inilah yang membuat saya berpikir sangat panjang, sebab kisah seperti Hikari bukan sesuatu yang hanya ada dalam novel. Saya pernah menemukan cerita serupa dalam kehidupan nyata: perempuan muda yang jatuh cinta, begitu mempercayai kekasihnya, lalu menyerahkan terlalu banyak hal dalam hidupnya kepada hubungan tersebut. Ketika kemudian terjadi kehamilan yang tidak direncanakan, kehidupan mereka berubah drastis. Pendidikan terhenti. Kesempatan bekerja menjadi lebih terbatas. Ketergantungan ekonomi meningkat. Dan ketika hubungan dengan laki-laki yang dicintainya tidak berjalan baik, perempuanlah yang sering kali harus menghadapi konsekuensi paling panjang.

Tentu tidak semua kisah berakhir demikian. Ada pasangan yang bertanggung jawab, ada keluarga yang mendukung, dan ada perempuan yang mampu melanjutkan pendidikan serta membangun kehidupan yang baik setelah mengalami kehamilan di usia muda. Tetapi saya tidak bisa mengabaikan betapa beratnya risiko yang harus ditanggung perempuan ketika semuanya tidak berjalan sesuai harapan.

Saya terus bertanya-tanya, mengapa beban itu sering kali begitu tidak seimbang? Hubungan seksual dilakukan oleh dua orang, tetapi kehamilan terjadi pada tubuh perempuan. Perempuanlah yang harus menghadapi perubahan fisik, proses persalinan, stigma sosial, dan kemungkinan terhentinya pendidikan. Sementara laki-laki, meskipun memiliki tanggung jawab yang sama, tidak selalu menghadapi konsekuensi sosial dan biologis yang setara.

Saya jadi teringat tulisan Langit Amaravati yang menurut saya sangat baik, berjudul Hamil di Luar Nikah: Sebuah Panduan Menghadapinya, yang diterbitkan di Mojok. Tulisan tersebut bisa dibaca melalui tautan berikut: https://mojok.co/terminal/hamil-di-luar-nikah-sebuah-panduan-menghadapinya/

Saya menyukai cara Langit membahas persoalan ini dengan lugas, tanpa berputar-putar, bahkan sesekali terasa sangat keras. Tetapi di balik pilihan katanya yang tajam, ada satu perhatian yang menurut saya penting: bagaimana memastikan perempuan yang mengalami kehamilan tidak direncanakan tetap mendapatkan pertolongan dan tidak semakin terpuruk. Langit mengingatkan bahwa ketika seorang perempuan mengetahui dirinya hamil, yang pertama-tama perlu dipikirkan bukanlah bagaimana menghadapi penghakiman orang lain, melainkan keselamatan dirinya dan bayi yang dikandungnya. Ia membahas pentingnya pemeriksaan kehamilan, komunikasi dengan pasangan, dukungan orang dewasa yang dapat dipercaya, hingga kemungkinan melanjutkan pendidikan setelah melahirkan.

Ada satu bagian ketika Langit memperingatkan kemungkinan laki-laki yang sebelumnya begitu dipuja justru menghindar ketika diminta bertanggung jawab. Saya membaca bagian itu sambil teringat pada Hikari. Betapa seringnya cinta pada usia muda membuat seseorang merasa bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja selama mereka masih saling mencintai. Padahal kehidupan tidak berhenti pada perasaan cinta. Ada persoalan tanggung jawab, ekonomi, pendidikan, dan masa depan yang harus dipikirkan, dan ketika semua itu datang bersamaan, cinta yang semula terasa begitu besar belum tentu cukup untuk menyelesaikannya.

Saya tidak harus menyetujui seluruh pendapat atau pilihan kata Langit untuk menghargai pesan penting dalam tulisannya, terutama ketika ia mengingatkan bahwa kehamilan di usia sekolah tidak semestinya menjadi akhir dari pendidikan seorang perempuan. Bagian itu rasanya ingin sekali saya sampaikan kepada Hikari.

Pendidikan, Kesempatan Kedua, dan Lingkaran Kemiskinan

Ada satu hal lagi yang membuat kisah Hikari begitu dekat dengan pikiran saya. Saya sendiri pernah berada pada titik ketika kehidupan berumah tangga nyaris membuat pendidikan saya terhenti. Membaca Hikari membuat saya membayangkan kemungkinan kehidupan yang berbeda. Bagaimana jika dahulu saya benar-benar berhenti belajar? Bagaimana jika saya tidak memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan? Bagaimana jika seluruh kehidupan saya bergantung pada kemampuan ekonomi orang lain?

Saya tentu tidak tahu bagaimana hidup saya akan berjalan dalam keadaan tersebut. Tetapi saya semakin menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi perempuan, bukan semata-mata untuk memperoleh gelar atau pekerjaan bergaji tinggi, melainkan untuk memperluas pilihan dalam hidup. Pendidikan dapat membuka kesempatan bekerja, membantu membangun kemandirian ekonomi, dan memberikan ruang lebih besar bagi seseorang untuk menentukan masa depannya sendiri.

Memang pendidikan bukan jaminan seseorang akan terbebas dari kemiskinan. Ada banyak faktor lain yang memengaruhi, mulai dari kondisi keluarga, kesempatan kerja, hingga lingkungan sosial. Tetapi kehilangan akses pendidikan, terutama ketika disertai kehamilan di usia muda dan tanggung jawab pengasuhan, dapat mempersempit pilihan yang tersedia. Dan ketika pilihan semakin sempit, seseorang bisa semakin sulit keluar dari keadaan yang merugikannya.

Itulah yang membuat perjalanan Hikari terasa begitu menyedihkan. Bukan hanya karena ia melakukan kesalahan, tetapi karena setiap keputusan buruk seolah membuat kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya semakin kecil. Saya ingin sekali mengatakan kepada Hikari: sudah, berhentilah sebentar. Jangan mengambil keputusan lain hanya karena ingin melarikan diri dari keputusan sebelumnya.

Tetapi Hikari hanyalah tokoh dalam sebuah novel. Di luar sana, ada perempuan-perempuan muda yang mungkin sedang menghadapi persoalan serupa.

Untuk Perempuan-Perempuan Muda di Luar Sana

Kalau ada satu pesan yang ingin saya bawa setelah membaca buku ini, barangkali pesan itu sederhana: jangan pernah menyerahkan seluruh masa depanmu hanya karena sedang jatuh cinta. Cintailah seseorang, tetapi jangan berhenti mencintai dirimu sendiri. Jangan abaikan pendidikanmu, jangan lepaskan kesempatan untuk belajar, dan jangan menggantungkan seluruh kehidupan pada janji seseorang, betapapun meyakinkannya janji itu terdengar.

Dan kepada mereka yang telanjur mengambil keputusan yang kemudian disesali: hidupmu tidak selesai hanya karena satu kesalahan. Kalau masih ada kesempatan untuk kembali bersekolah, ambillah. Kalau harus menempuh jalur pendidikan yang berbeda, tidak apa-apa. Kalau perlu meminta pertolongan, mintalah. Tidak semua orang memiliki kesempatan kedua yang mudah, tetapi kalau kesempatan itu tersedia, betapapun kecilnya, semoga ada keberanian dan dukungan untuk menggunakannya. Jangan biarkan satu keputusan pada masa muda menentukan seluruh nilai dirimu sebagai manusia.

Dua Perempuan, Dua Jalan Menuju Keibuan

Pada akhirnya, True Mothers adalah cerita tentang dua perempuan yang sama-sama mencintai seorang anak dari keadaan yang sangat berbeda. Satoko menjadi ibu setelah perjalanan panjang yang penuh harapan dan kekecewaan, dengan pasangan yang mendukung dan rumah yang aman. Hikari menjadi ibu ketika dirinya sendiri masih membutuhkan perlindungan dan bimbingan, dan kehilangan banyak hal karenanya. Di antara keduanya, ada seorang anak yang tidak pernah memilih bagaimana ia dilahirkan atau siapa yang akan membesarkannya.

Novel ini tidak menawarkan jawaban sederhana tentang siapa yang lebih berhak disebut ibu, dan mungkin memang tidak perlu. Pertanyaan yang justru paling lama tinggal di kepala saya adalah pertanyaan Hikari: “Keluarga itu apa?” Keluarga bukan hanya tentang siapa yang melahirkan kita, siapa yang membesarkan kita, atau siapa yang namanya tercantum dalam kartu keluarga. Keluarga juga tentang siapa yang bersedia menerima kita sebagai manusia, termasuk ketika kita tidak menjadi seperti yang mereka harapkan. Menerima memang bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Tetapi bukankah yang paling kita harapkan dari keluarga adalah keyakinan bahwa ketika hidup sedang berantakan, masih ada tempat untuk meminta pertolongan?

Saya menutup True Mothers dengan hati yang sangat berat. Bukan karena saya tidak menyukai ceritanya, justru karena cerita ini membawa saya terlalu jauh memikirkan kehidupan perempuan: kesempatan yang hilang, pilihan yang keliru, dan betapa panjangnya akibat dari keputusan yang diambil ketika seseorang belum benar-benar memahami kehidupan. Saya sedih memikirkan Hikari. Saya juga sedih membayangkan perempuan-perempuan muda di luar sana yang mungkin sedang menghadapi keadaan serupa, tanpa tahu kepada siapa harus meminta pertolongan. Seandainya bisa, ingin rasanya memeluk mereka satu per satu, bukan untuk mengatakan bahwa semua keputusan mereka benar, tetapi untuk mengingatkan bahwa hidup mereka masih berharga, bahkan setelah melakukan kesalahan yang besar.

Sebab seorang perempuan seharusnya tidak kehilangan seluruh masa depannya hanya karena pernah salah memilih jalan.

Dan ketika suatu hari mereka bertanya, seperti Hikari, “Keluarga itu apa?”, saya berharap ada seseorang yang bisa menjawabnya bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan membuka pintu, menyediakan tempat duduk, dan mengatakan bahwa mereka tidak harus menghadapi semuanya sendirian. 

Selasa, 03 November 2026

Resensi MERAWAT LUKA BATIN: Buku yang Tak Kunjung Selesai Dibaca

 



Sudah hampir dua bulan buku Merawat Luka Batin karya dr. Jiemi Ardian ini menemani saya ke mana-mana. Masuk tas, dibawa ke kantor, menemani perjalanan, sesekali dibuka ketika ada waktu luang. Namun, sampai hari ini, saya belum juga selesai membacanya.

Bukan karena bukunya membosankan. Justru sebaliknya.

Membaca buku ini rasanya seperti mengikuti kuliah satu semester yang seluruh materinya dimampatkan ke dalam sebuah buku. Padat, penuh pengetahuan, dan menuntut perhatian lebih dari sekadar membaca sambil lalu.

Ada bagian-bagian yang membuat saya harus berhenti sejenak, mencoba memahami apa yang baru saja saya baca. Kadang saya perlu kembali ke halaman sebelumnya, mengulang satu atau dua paragraf, lalu membiarkan isinya mengendap sebelum melanjutkan. Tidak semua hal bisa langsung dicerna, apalagi ketika yang sedang dibicarakan adalah sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan manusia: luka batin, emosi, dan cara kita memahami diri sendiri.

Barangkali itulah yang membedakan buku ini dari bacaan yang biasa saya habiskan dalam beberapa hari. Saya tidak merasa sedang mengejar halaman terakhir. Saya justru merasa perlu memberi waktu kepada diri sendiri untuk memahami apa yang disampaikan penulis.

Ada perbedaan antara mengetahui sebuah konsep dan benar-benar memahaminya. Lebih jauh lagi, ada jarak yang tidak selalu pendek antara memahami sesuatu secara intelektual dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya juga mulai menyadari bahwa membaca buku tentang kesehatan mental tidak otomatis membuat seseorang lebih memahami dirinya sendiri. Pengetahuan bisa membantu kita mengenali dan memberi nama pada apa yang kita rasakan, tetapi proses mengolahnya tentu tidak sesederhana membalik halaman buku.

Saat ini saya sedang mencoba menyusun rangkuman dari apa yang saya baca. Bukan pekerjaan mudah, karena saya ingin memastikan bahwa saya benar-benar memahami gagasannya, bukan sekadar memindahkan kalimat-kalimat dari buku ke dalam catatan.

Jadi, untuk sementara, tulisan ini belum bisa disebut resensi yang utuh. Anggap saja sebagai catatan perjalanan membaca sebuah buku yang membutuhkan waktu lebih panjang daripada biasanya.

Rangkumannya masih dalam proses. Akan saya perbarui setelah selesai.

Dan mungkin, untuk buku yang berbicara tentang merawat luka batin, tidak ada alasan untuk terburu-buru menyelesaikannya.

 

 

Senin, 02 November 2026

Ketika Gerai Kopi Menjadi Ruang Belajar Darurat

 

Anak saya hampir selalu mengerjakan tugas kuliahnya di Kopi Kenangan. Awalnya saya tidak terlalu memikirkannya, sampai saya sadar uang jajannya habis untuk membeli kopi. Penasaran, suatu hari saya ikut. Ternyata saya paham kenapa ia betah.1) Tempatnya nyaman, colokan tersedia, Wi-Fi lancar, suasananya cukup tenang untuk nugas atau WFA, dan yang paling penting: buka 24 jam. Saya pun lalu ikut membuka laptop dan menyelesaikan beberapa pekerjaan tak terasa sampai larut malam. Di sana saya juga melihat sesuatu yang sebelumnya hanya saya dengar. Ada orang-orang yang duduk membuka laptop dari pagi sampai malam, dan pesanannya hanya satu gelas kopi. Beberapa datang lagi keesokan harinya di meja yang sama, seolah gerai itu sudah menjadi kantor atau ruang belajar pribadi mereka.

Karena itu, saya tidak terlalu kaget ketika belakangan ramai cuitan di media sosial tentang pengunjung yang membawa kabel ekstensi sendiri, menyambungkan beberapa gawai sekaligus, bahkan membawa makanan dari luar sambil berjam-jam mengerjakan tugas. Warganet terbelah. Sebagian menilai perilaku itu tidak tahu diri karena gerai kopi adalah tempat usaha, bukan ruang belajar gratis. Sebagian lain membela dengan alasan, “Memangnya mau kerja di mana lagi?”.

Dua-duanya ada benarnya. Pemilik usaha berhak menjaga perputaran pelanggan dan tagihan listriknya. Membawa makanan dari luar dan menguasai stopkontak berjam-jam memang melanggar etika tak tertulis. Tetapi kalau kita berhenti di soal etika, kita melewatkan pertanyaan yang lebih penting: kenapa begitu banyak orang, termasuk anak saya, merasa gerai kopi adalah pilihan paling masuk akal?.

Jawabannya sederhana dan agak memalukan. Kita kekurangan ruang publik yang layak untuk belajar dan bekerja. Yang dibutuhkan sebenarnya tidak muluk-muluk: meja, kursi, colokan listrik, Wi-Fi yang lumayan, toilet, dan jam buka yang masuk akal. Tidak perlu membayar, dan tidak perlu merasa diawasi pelayan yang menunggu kita pergi.

Secara teori, perpustakaan umum seharusnya mengisi kebutuhan itu. Kenyataannya, banyak perpustakaan daerah tutup sore hari, libur di akhir pekan, letaknya jauh dari permukiman atau kampus, dan fasilitasnya seadanya. Mahasiswa yang baru selesai kuliah sore atau pekerja yang baru bisa belajar selepas jam kantor justru tidak terlayani. Taman kota pun jarang dirancang untuk duduk lama sambil membuka laptop. Begitu matahari terbenam atau hujan turun, pilihannya hanya kembali ke kamar yang sempit atau masuk ke gerai kopi, dengan uang jajan sebagai tiket masuknya.

Di sinilah negara absen. Pemerintah, pusat maupun daerah, gencar bicara soal SDM unggul, ekonomi digital, dan bonus demografi, tetapi lupa bahwa semua itu butuh tempat untuk bertumbuh. Ruang belajar publik belum dianggap infrastruktur dasar, padahal fungsinya sama pentingnya dengan jalan atau trotoar. Akibatnya, kebutuhan publik itu diserahkan ke pasar. Ruang belajar berubah menjadi komoditas seharga satu gelas kopi, dan gesekan antara pengunjung dan pemilik usaha pun tak terhindarkan.

Beberapa kota sudah membuktikan bahwa ini bisa dikerjakan: perpustakaan yang buka sampai malam, ruang kreatif milik pemda, atau gedung pemerintah yang dibuka untuk warga di luar jam dinas. Masalahnya, contoh itu masih berupa pengecualian dan belum menjadi standar. Padahal banyak aset publik, seperti aula kantor, gedung serbaguna, dan perpustakaan sekolah, menganggur setelah jam kerja.

Jadi, lain kali kita melihat orang membawa kabel ekstensi ke gerai kopi, kritik soal etikanya boleh saja. Tetapi jangan lupa bertanya: kenapa mereka tidak punya tempat lain?. Selama pertanyaan itu belum dijawab dengan kebijakan nyata, gerai kopi akan terus menjadi ruang belajar darurat, dan para orang tua seperti saya akan terus membiayainya lewat uang jajan anak.

1)      Bagi banyak mahasiswa, Kopi Kenangan sudah menjadi semacam markas untuk nugas. Menurut saya ini hal yang baik bagi gerainya sendiri. Di salah satu gerai yang letaknya bersebelahan dengan brand lain, yang ramai tetap Kopken. Saran kecil untuk Kopi Kenangan: bagaimana jika menambahkan juga menu makanan yang lebih “menemani”, misalnya mi rebus, arem-arem, nasi goreng, dan keletikan. AC-nya luar biasa dingin, jadi pengunjung yang duduk berjam-jam pasti butuh makanan hangat. Dengan begitu, pengunjung tidak perlu membawa makanan dari luar dan gerai pun mendapat tambahan pemasukan. Dua masalah selesai sekaligus.

Selasa, 27 Oktober 2026

A Dog Called Money: Tentang Keberhasilan-Keberhasilan Kecil yang Sering Kita Lupakan




Saya selalu merasa bahwa salah satu cara paling menyenangkan untuk mempelajari sesuatu adalah melalui cerita. Bahkan untuk topik yang biasanya membuat dahi berkerut, seperti keuangan dan investasi. Dan rupanya Bodo Schäfer memahami hal itu.

Melalui A Dog Called Money, penulis dan motivator keuangan asal Jerman ini mengajarkan dasar-dasar pengelolaan keuangan lewat persahabatan seorang anak perempuan bernama Kira dengan seekor anjing Labrador yang bisa berbicara. Ya, anjing yang bisa berbicara. Dan bukan sembarang anjing, karena ia ternyata jauh lebih pandai mengelola uang daripada kebanyakan manusia dewasa. Kira menemukan anjing tersebut dalam keadaan terluka, kemudian merawat dan memberinya nama Money. Dari anjing inilah Kira mulai belajar tentang uang, bagaimana mengelolanya, menabung, berinvestasi, hingga merencanakan masa depan.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana, bahkan menurut saya sangat cocok dibaca anak-anak yang baru mulai mengenal konsep keuangan, atau dibaca bersama mereka. Tetapi jangan salah, orang dewasa pun rasanya masih perlu belajar banyak hal dari Money. Terutama mereka yang setiap awal bulan berjanji akan lebih hemat, tetapi entah bagaimana selalu menemukan alasan untuk berbelanja.

Saya tidak sedang menyindir siapa-siapa. Tentu saja.

Ada banyak pelajaran dalam buku ini. Kira diajak menuliskan hal-hal yang benar-benar ia inginkan dan mengubahnya menjadi tujuan yang jelas, bukan sekadar angan-angan. Ia juga belajar membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta membangun kebiasaan mengelola uang sejak dini.

Salah satu gagasan yang paling mudah diingat adalah "angsa bertelur emas": sebagian uang yang disisihkan dan tidak boleh dibelanjakan, agar bisa terus "bertelur" dalam bentuk bunga atau hasil investasi. Perumpamaan yang sederhana, tetapi cukup kuat untuk menjelaskan konsep yang sering terdengar rumit bagi anak-anak, bahkan bagi sebagian orang dewasa.

Meskipun demikian, saya tidak sepenuhnya sepakat jika keberhasilan finansial dipandang terutama sebagai persoalan pola pikir dan kemauan individu. Kenyataannya, tidak semua orang memulai kehidupan dari titik yang sama. Ada persoalan penghasilan, kesempatan, tanggungan keluarga, dan keadaan ekonomi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menabung lebih rajin atau berpikir lebih positif. Tetapi ada satu gagasan dalam buku ini yang tetap membekas bagi saya, dan justru tidak secara langsung berhubungan dengan uang.

Menulis jurnal keberhasilan setiap hari.

Money mengajarkan Kira untuk mencatat hal-hal yang berhasil dilakukannya. Bukan hanya pencapaian besar, tetapi juga keberhasilan-keberhasilan kecil yang mungkin terasa terlalu remeh untuk dituliskan. Awalnya saya bertanya-tanya, apa hubungannya menulis keberhasilan dengan menjadi pandai mengelola uang?. Tetapi setelah dipikirkan, gagasan ini ternyata cukup masuk akal.

Kita sering kali begitu mudah mengingat kegagalan sendiri. Satu pekerjaan yang tidak selesai bisa membuat kita merasa tidak produktif seharian. Satu kesalahan kecil bisa terus teringat sampai berhari-hari. Sementara sepuluh pekerjaan lain yang berhasil diselesaikan justru dianggap biasa saja. Seolah-olah keberhasilan baru layak disebut keberhasilan kalau cukup besar untuk membuat orang lain terkesan. Padahal siapa yang membuat aturan seperti itu?.

Dalam psikologi, Albert Bandura memperkenalkan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan yang diperlukan guna mencapai hasil tertentu. Salah satu sumber penting pembentukan self-efficacy adalah mastery experiences, pengalaman ketika seseorang berhasil melakukan sesuatu melalui usahanya sendiri. Pengalaman keberhasilan dapat membantu membangun keyakinan bahwa kita mampu menghadapi tantangan berikutnya.

Di sinilah saya mulai melihat hubungannya dengan uang. Orang yang yakin pada kemampuannya cenderung lebih berani mengambil langkah: mulai menabung secara teratur, belajar berinvestasi, meminta kenaikan gaji, atau merintis usaha kecil. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya "memang tidak bisa mengatur uang" sering kali berhenti bahkan sebelum mencoba. Dan pengalaman keberhasilan itu tidak harus selalu berupa pencapaian spektakuler.


Saya jadi teringat betapa senangnya saya ketika berhasil membuat sebuah dashboard dengan memanfaatkan berbagai fungsi Excel dan Google Sheets. Mengubah deretan angka yang membingungkan menjadi grafik warna-warni yang menarik hati ternyata memberikan kepuasan tersendiri. Perasaannya kurang lebih sama dengan ketika berhasil mencoba resep masakan baru dan melihat anak-anak makan dengan lahap. Atau ketika akhirnya menamatkan sebuah buku tebal yang sudah lama menunggu di rak. Hal-hal sederhana yang mungkin tidak akan dianggap sebagai pencapaian oleh siapa pun, tetapi tetap membutuhkan usaha. Dan mengapa tidak boleh disebut keberhasilan?.

Saya kemudian teringat pada penelitian Teresa Amabile dan Steven Kramer dalam The Progress Principle (2011). Melalui penelitian terhadap pengalaman sehari-hari para pekerja, mereka menemukan bahwa kemajuan dalam pekerjaan yang bermakna, bahkan kemajuan kecil sekalipun, berkaitan dengan motivasi dan pengalaman emosional yang lebih positif.

Barangkali kita memang tidak selalu membutuhkan pencapaian besar untuk merasa mampu. Kadang, menyadari bahwa hari ini kita berhasil melakukan sesuatu yang kemarin belum bisa kita lakukan sudah cukup untuk memberikan sedikit tambahan keyakinan pada diri sendiri.

Tentu saja, penelitian tersebut tidak secara langsung membuktikan bahwa menulis jurnal keberhasilan setiap hari akan membuat seseorang lebih sukses. Tetapi setidaknya ada alasan psikologis yang masuk akal mengapa kebiasaan mencatat kemajuan kecil layak dicoba.

Saya juga sempat berpikir, apakah jurnal keberhasilan ini sama dengan jurnal bersyukur yang belakangan cukup popular.  Rupanya keduanya memiliki penekanan yang berbeda. Dalam jurnal bersyukur, kita diajak memperhatikan hal-hal baik yang kita alami atau terima. Sementara dalam jurnal keberhasilan, perhatian diarahkan pada sesuatu yang berhasil kita lakukan. Misalnya, saya bisa bersyukur karena anak-anak menikmati masakan saya. Tetapi saya juga bisa mengakui bahwa saya berhasil mencoba resep baru, meskipun sebelumnya khawatir hasilnya tidak enak. Yang pertama adalah rasa syukur. Yang kedua adalah pengakuan terhadap usaha dan kemampuan diri sendiri. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Hanya saja, saya merasa jurnal keberhasilan menawarkan sesuatu yang selama ini mungkin kurang saya lakukan: memberikan pengakuan kepada diri sendiri. Sebab kita sering kali lebih murah hati memberikan pujian kepada orang lain daripada kepada diri sendiri.

Ketika teman berhasil menyelesaikan pendidikan, mendapat pekerjaan baru, atau mempelajari keterampilan tertentu, kita dengan mudah mengatakan bahwa mereka hebat. Tetapi ketika berhasil melakukan sesuatu, kita justru menganggapnya biasa.

Ah, cuma begitu.

Ah, orang lain juga bisa.

Ah, masih banyak yang lebih hebat.

Lalu kapan kita merasa cukup berhasil untuk mengakui usaha sendiri?.

Saya rasa di sinilah kebiasaan menulis jurnal keberhasilan menjadi berharga. Bukan untuk membuktikan bahwa setiap hari kita harus produktif atau selalu mencapai sesuatu. Apalagi menjadikan hidup sebagai perlombaan mengumpulkan pencapaian. Justru sebaliknya. Kita diajak memperluas pengertian tentang keberhasilan, termasuk dengan mengakui usaha-usaha kecil yang selama ini luput dari perhatian.

Saya juga tidak lupa pada keberatan saya sebelumnya. Jurnal keberhasilan tidak akan menaikkan gaji, melunasi utang, atau mengubah keadaan ekonomi yang memang sulit. Tetapi justru karena ada begitu banyak hal yang berada di luar kendali kita, rasanya penting untuk tetap menghargai bagian kecil yang masih bisa kita usahakan. 

Tentu ada hari ketika semua rencana berantakan. Ada pekerjaan yang tidak selesai, kesalahan yang terlanjur dibuat, atau persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Dan saya tidak merasa kita perlu memaksakan diri mencari sisi positif dari semuanya. Tidak semua hari harus menyenangkan. Tidak semua kegagalan harus segera ditemukan hikmahnya.

Tetapi juga tidak adil jika kita begitu rajin mengingat semua yang salah, sementara hal-hal yang berhasil justru berlalu tanpa pernah dihitung. Maka, dari sekian banyak pelajaran yang ditawarkan A Dog Called Money, kebiasaan menulis jurnal keberhasilan inilah yang paling ingin saya coba.

Mungkin saya akan menuliskan keberhasilan memahami satu rumus Excel yang sebelumnya terasa rumit. Menyelesaikan pekerjaan yang sudah lama tertunda. Berhasil memasak sesuatu yang baru. Atau memberanikan diri melakukan hal yang selama ini saya hindari. Hal-hal yang barangkali tidak akan mengubah dunia, tetapi tetap menjadi bagian dari perjalanan saya. Dan kalau suatu hari tidak ada keberhasilan yang ingin saya tuliskan, ya sudah. Tidak perlu mengarang pencapaian hanya agar halaman jurnal tidak kosong. Saya tidak ingin mengubah kebiasaan baik menjadi tuntutan baru yang melelahkan.

Pada akhirnya, saya menyukai A Dog Called Money bukan semata-mata karena buku ini mengajarkan cara mengelola uang. Saya menyukainya karena melalui cerita sederhana tentang seorang anak perempuan dan anjingnya, saya diingatkan bahwa rasa percaya terhadap kemampuan diri bisa dibangun sedikit demi sedikit. Bukan melalui keyakinan kosong bahwa kita pasti berhasil, melainkan melalui pengalaman nyata bahwa kita pernah mencoba, belajar, dan menyelesaikan sesuatu.

Suatu hari nanti, ketika sedang merasa tidak cukup pintar atau tidak cukup mampu, saya ingin bisa membuka kembali halaman-halaman jurnal itu. Bukan untuk menyangkal kegagalan yang pernah terjadi, melainkan untuk mengingat bahwa kegagalan bukan satu-satunya cerita tentang diri saya.

Barangkali selama ini saya tidak kekurangan alasan untuk merasa bangga pada diri sendiri.  Saya hanya terlalu jarang berhenti sejenak untuk menyadarinya.

Senin, 26 Oktober 2026

Giliran Saya yang Mengetuk Pintu

 

Tangannya sedikit gemetar ketika mempresentasikan keunggulan hotel tempatnya bekerja. Di balik penampilannya yang bersih, rapi, dan perlente, sekilas saya menangkap kegugupan yang berusaha disembunyikan. Ia datang tanpa janji temu. Dan sialnya, saya telanjur berpapasan dengannya ketika hendak pergi ke musala, melewati ruang tamu tempat ia sedang menunggu. Pekerjaan saya sendiri sedang menumpuk. Seharusnya dua puluh menit ke depan bisa saya gunakan untuk memverifikasi satu dari sekian banyak dokumen yang menunggu diselesaikan. Tetapi entah kenapa, saya menguatkan hati, memasang senyum, lalu duduk mendengarkan paparannya. Padahal, demi Tuhan, pikiran saya sudah ke mana-mana.

Saya berusaha keras mengumpulkan konsentrasi, sementara pekerjaan di meja rasanya sedang menjerit-jerit minta diselesaikan. Sesekali saya mengangguk, mengajukan pertanyaan seperlunya, dan berusaha terlihat tertarik. Dalam hati, saya tahu pertemuan ini mungkin tidak akan menghasilkan apa-apa. Tetapi ada sesuatu yang membuat saya tidak tega menyudahinya begitu saja.

Barangkali karena melihat kegugupannya. Atau karena saya membayangkan betapa tidak mudahnya mendatangi kantor orang yang tidak dikenal, menawarkan sesuatu yang belum tentu dibutuhkan, lalu berharap orang tersebut bersedia meluangkan waktu. Maka, setengah mati saya berusaha untuk tidak menguap di tengah paparannya. Setelah sekian menit yang terasa jauh lebih panjang daripada waktu sebenarnya, presentasi itu akhirnya selesai.

Di antara anggukan sopan dan jawaban-jawaban formal, tiba-tiba ia bertanya dengan antusias, nada bicara saya terdengar sangat Sunda katanya, apakah betul memang orang Sunda?. Lalu sedikit obrolan tentang tanah kelahiran. Suasana yang tadinya kaku menjadi sedikit lebih cair. Sebelum pulang, ia meminta izin berfoto bersama untuk laporan kepada atasan. Saya tentu tidak keberatan.

Ketika akhirnya ia berpamitan, entah bagaimana hati saya terasa hangat. Bukan karena saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Saya bahkan tidak tahu apakah kunjungannya akan membawa hasil bagi hotel tempatnya bekerja. Tetapi setidaknya, hari ini ia tidak harus pulang dengan perasaan telah ditolak mentah-mentah. Ia sudah datang, menyampaikan apa yang menjadi tugasnya, dan memperoleh kesempatan untuk didengarkan.

Siangnya, keadaan berbalik.

Giliran saya yang harus menghadap pimpinan, meminta kesediaan beliau meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk mendengarkan paparan tentang aksi perubahan yang sedang saya kerjakan. Saya membawa dua formulir yang membutuhkan tanda tangan. Menjelaskan maksud kedatangan, menyampaikan hal-hal yang perlu diketahui, lalu berharap semuanya berjalan lancar.

Dan tiba-tiba saya teringat laki-laki yang datang pagi tadi.

Rupanya begini rasanya berada di posisi orang yang membutuhkan waktu dan perhatian orang lain. Kita datang dengan urusan yang bagi kita terasa penting, sementara orang yang kita temui mungkin sedang memiliki seribu urusan lain yang jauh lebih mendesak. Kita berharap mereka bersedia mendengarkan, meskipun sebenarnya mereka bisa saja mengatakan sedang sibuk dan meminta kita datang lain waktu.

Ketika akhirnya kedua formulir saya ditandatangani, saya merasa lega sekaligus bersyukur.

Saya jadi berpikir, betapa seringnya kita bergantian berada dalam dua posisi tersebut. Hari ini kita menjadi orang yang sibuk dan merasa waktunya diganggu. Besok mungkin justru kita yang datang mengetuk pintu, berharap seseorang bersedia menyisihkan sedikit waktunya.

Dan barangkali karena itulah kita perlu sesekali belajar bersabar menghadapi orang lain. Bukan karena semua permintaan harus dipenuhi, atau karena waktu kita tidak berharga. Tetapi karena kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa besar arti sedikit perhatian yang kita berikan bagi seseorang.

Pagi tadi, saya hanya berusaha menjadi pendengar yang baik bagi seorang tamu yang tidak saya kenal. Siangnya, saya sendiri merasakan betapa menyenangkannya ketika seseorang bersedia mendengarkan dan membantu menyelesaikan urusan saya. Saya kemudian teringat bahwa membantu orang lain tidak selalu harus melalui tindakan besar atau spektakuler. Kadang cukup dengan memberikan sedikit waktu dan perhatian.

Ternyata, dalam hidup ini kita tidak selalu menjadi orang yang memberi pertolongan. Ada kalanya kita juga menjadi orang yang berharap ditolong. Dan ketika saat itu tiba, rasanya kita akan sangat bersyukur bertemu dengan seseorang yang, meskipun sedang sibuk, masih bersedia tersenyum dan berkata, “Silakan, saya dengarkan.”

Selasa, 20 Oktober 2026

Kamu Bisa Mengatur Algoritmamu Sendiri


Beberapa waktu terakhir, demi mendapatkan informasi terkini yang sering kali tidak muncul di kanal media resmi, saya menginstal ulang aplikasi X. Sialnya, entah kenapa yang muncul melulu isu seputar rumah tangga. KDRT, patah hati, perselingkuhan, sampai perdebatan tentang pilihan tidak menikah dan childfree. Pokoknya, segala macam persoalan hubungan manusia yang rasanya tidak ada habisnya.

Pada satu titik, saya sampai muak disuguhi berita serupa terus-menerus.

Bukan berarti isu-isu tersebut tidak penting. Bukan pula saya menafikan penderitaan orang-orang yang mengalami kekerasan, patah hati, atau merasa tidak bahagia dalam perkawinannya. Tetapi mengonsumsi cerita-cerita semacam itu setiap hari ternyata membuat saya semakin sulit mengendalikan pikiran agar tidak berprasangka buruk kepada orang lain. Rasanya dunia dipenuhi manusia-manusia yang saling menyakiti.

Padahal, yang saya perlukan sebenarnya sederhana: berita terkini tentang kondisi negeri ini, rekomendasi buku bagus, materi Excel dan bahasa Inggris, resep masakan, serta tips hidup sehat, bahagia, dan tidak overthinking!.

Saya kemudian teringat bahwa algoritma media sosial bekerja dengan mempelajari perilaku penggunanya. Apa yang kita baca, tonton, sukai, komentari, bahkan konten yang membuat kita berhenti menggulir layar lebih lama. Celakanya, algoritma tidak selalu bisa membedakan apakah kita berhenti karena tertarik atau justru karena kesal. Kita membaca sebuah perdebatan karena jengkel, ia mengira kita menyukainya. Besok disuguhkan lagi. Lusa semakin banyak. Lama-lama, beranda kita seperti ruang penuh orang bertengkar yang pintunya tidak pernah ditutup.

Dalam psikologi, ada konsep selective attention, yaitu kecenderungan perhatian kita untuk tertuju pada sebagian informasi di antara begitu banyak rangsangan yang tersedia. Ada pula confirmation bias, kecenderungan mencari atau menafsirkan informasi dengan cara yang mendukung keyakinan yang sudah kita miliki.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan ketika terus-menerus membaca cerita tentang perselingkuhan dan rumah tangga yang berantakan, perhatian saya semakin mudah tertuju pada cerita serupa. Lalu tanpa sadar, saya mulai merasa bahwa semua orang juga mengalami atau melakukan hal yang sama. Padahal tentu saja tidak.

Apa yang ramai di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan manusia secara keseluruhan. Akhirnya, saya memutuskan untuk melewati semua drama yang tidak perlu. Saya mulai mencari tema-tema yang memang ingin saya pelajari, mengikuti akun yang memberikan informasi bermanfaat, dan berhenti memberi perhatian pada perdebatan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya.

Perlahan, isi timeline saya berubah. Sekarang lebih banyak muncul hal-hal yang memang saya inginkan. Tidak lagi dipenuhi drama dan perdebatan yang tidak perlu saya ikuti. Tentu bukan berarti dunia mendadak bebas dari persoalan. Saya hanya tidak ingin setiap persoalan orang lain ikut memenuhi isi kepala saya. Dan anehnya, perasaan saya pun menjadi lebih ringan.

Kebetulan akhir-akhir ini saya sedang menikmati hobi baru: membuat dashboard dengan mengoptimalkan berbagai fungsi Excel dan Google Sheets. Setiap berhasil mengubah tabel dan deretan angka menjadi grafik warna-warni yang menarik hati, entah bagaimana saya senang sekali.

Padahal cuma grafik!

Tetapi melihat sesuatu yang awalnya membingungkan kemudian menjadi rapi, mudah dibaca, dan enak dipandang ternyata memberikan kepuasan tersendiri.

Perasaan hangat yang kurang lebih sama muncul setiap kali saya berhasil mencoba resep masakan baru, lalu melihat anak-anak makan dengan lahap. Atau ketika akhirnya menamatkan sebuah buku tebal yang ternyata isinya sangat bagus. Hal-hal kecil yang mungkin tidak terlalu istimewa bagi orang lain, tetapi cukup untuk membuat hari saya terasa menyenangkan. Dan perlahan, tanpa benar-benar saya rencanakan, saya jatuh cinta kembali pada hidup saya sendiri.

Saya mulai lebih sering memperhatikan hal-hal baik yang terjadi. Sesuatu yang dahulu mungkin hanya saya anggap sebagai rutinitas, sekarang terasa sebagai keberuntungan kecil yang patut disyukuri.

Saya teringat pada istilah mestakung, semesta mendukung. Seolah-olah ketika kita mulai mengarahkan pikiran pada sesuatu yang baik, berbagai hal dalam kehidupan ikut bergerak ke arah yang sama.

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa berpikir positif akan membuat seluruh persoalan selesai dengan sendirinya. Hidup tidak bekerja sesederhana itu. Orang baik tetap bisa mengalami kemalangan, dan orang yang bersyukur pun tetap bisa merasa sedih.

Tetapi mungkin ketika perhatian kita tidak terus-menerus tersita oleh sesuatu yang membuat marah, takut, atau cemas, kita menjadi punya lebih banyak ruang untuk melihat hal-hal baik yang selama ini sebenarnya sudah ada. Bukan semestanya yang tiba-tiba berubah. Barangkali cara kita memandangnyalah yang mulai berbeda.

Dan kemudian saya menyadari sesuatu. Ternyata kita bisa ikut mengatur algoritma, bukan hanya algoritma media sosial, tetapi juga algoritma hidup kita sendiri. Kita memang tidak bisa memilih semua peristiwa yang akan datang. Tidak bisa mengendalikan perilaku orang lain, apalagi memastikan bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai keinginan. Tetapi kita masih bisa memilih apa yang ingin kita beri perhatian, apa yang layak menghabiskan energi, dan hal-hal apa yang ingin kita tumbuhkan dalam keseharian. Sebab apa yang terus kita beri perhatian, perlahan akan mengambil lebih banyak tempat dalam pikiran kita.

Dan saya ingin tempat itu diisi oleh hal-hal yang membuat saya bertumbuh. Buku-buku yang belum selesai dibaca, keterampilan baru yang masih ingin dipelajari, masakan-masakan yang belum pernah dicoba, dan orang-orang yang kehadirannya membuat hidup terasa hangat.

Saya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan kehidupan orang lain sampai lupa menikmati kehidupan saya sendiri.

Barangkali kebahagiaan memang tidak selalu datang dalam bentuk peristiwa besar. Kadang ia sudah ada di rumah, di meja makan, di halaman sebuah buku, atau bahkan di antara tabel dan grafik warna-warni yang kita buat dengan susah payah.

Kita hanya terlalu sibuk melihat ke tempat lain sampai lupa menyadarinya. Dan kalau boleh memilih, saya ingin algoritma hidup saya lebih sering membawa saya pulang. Bukan sekadar pulang ke rumah, tetapi pulang kepada diri sendiri, kepada hal-hal sederhana yang membuat saya merasa cukup, dan kepada kehidupan yang ternyata masih begitu layak untuk dicintai.

Resensi TRUE MOTHERS: Tentang Menjadi Ibu, Keluarga, dan Nasib Perempuan

  "Aku bersyukur, suamiku adalah orang ini."  (hlm. 138) Informasi Buku Judul True Mothers Judul asli Asa ga Kuru  ( 朝が来る ) Penuli...