Pada Suatu Senin Dini Hari
Senin dini hari, alarmku berbunyi tepat jam setengah tiga. Saat paling tepat untuk berkemas: mencuci muka seadanya, mengecek ransel dan barang bawaan. Dan terakhir, mengemasi air mata. Telah kuulangi Senin seperti ini ratusan kali, tapi selalu tak pernah mudah, berpamitan dalam diam pada ketiga anakku yang tengah tertidur pulas. Menyampaikan rasa sayang dan kehilangan hanya lewat kecupan ringan di dahi. Si bungsu menggeliat dalam tidurnya, membuka mata sedikit, lalu tersenyum mengantuk sebelum kemudian tertidur lagi. Ada perih mengendap di dasar hati. Saat kuhirup wangi kulit lembut mereka. Membiarkan kehangatannya merambat ke hati sebelum akhirnya mataku melelehkan air asin yang panas di pipi. Dan sebelum semuanya menjadi tak tertahankan, kusandang ransel di bahu, melangkah cepat dan membuka pintu depan, menyambut kegelapan dan udara dingin di luar sana. Aku beruntung, jalanan lengang dan gelap. Aku bisa menangis sendirian sambil terus berjalan, tanpa khawatir pada teguran atau ...
