Judul buku : A Untuk Amanda
Penulis : Annisa Ihsani
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Jumlah halaman : 263 halaman
Tahun terbit : 2016
Tidakkah konsep cinta sejati itu agak sinting —bahwa semua orang perlu memiliki pasangan untuk bisa berbahagia? Lagi pula, bagaimana kau bisa menemukan satu yang tepat di tengah miliaran manusia di planet ini?"
Ini fakta tentang berusaha melupakan seseorang: kau bangun di pagi hari, kau memberitahu dirimu sendiri sudah saatnya kau berhenti merana dan mulai menjadi orang yang utuh dan mandiri tanpanya. Lalu kau berpapasan dengannya, dan kembali ke level nol.
Aku masih memikirkan Tommy kadang-kadang (oke, sering). Selalu ada yang mengingatkanku padanya-lagu di radio, mimpi, atau sesuatu yang dikatakan seseorang. Aku akan memutar kembali kenangan tentangnya selama lima menit, sepuluh menit. Lalu aku melanjutkan hidup.
Setelah terpesona dengan Teka Teki Terakhir, saya jadi mencari buku-buku Annisa Ihsani yang lainnya. Agak aneh juga kenapa nama Annisa Ihsani sebagai penulis jarang sekali dibahas, padahal menurut saya bukunya bagus-bagus.
Salah satu halaman dalam buku ini berbunyi: “Siapa bilang tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini? Hanya orang-orang yang tidak pernah belajar statistika.” Dan bicara tentang kebetulan, maka kebetulan sekali buku-buku yang saya baca belakangan ini semuanya membahas tentang depresi dan kesehatan mental. Dari mulai Merawat Luka Batin-nya Dr. Jiemi Adrian, A Reason to Stay Alive Matt Haig, dan sekarang buku ini. Karena ternyata buku ini berkisah tentang Amanda, anak SMA yang mengidap depresi. Yang menarik, Amanda bukan anak yang tumbuh dalam konflik, penyintas kekerasan, kekurangan ekonomi atau apapun yang akan kita gadangkan sebagai penyebab depresi. Justru sebaliknya, Amanda tumbuh dalam keluarga yang sangat hangat meskipun ayahnya sudah wafat 10 tahun yang lalu. Ia tak hidup kekurangan meskipun juga bukan dari keluarga ultra kaya. Wajahnya cantik meski bukan primadona sekolah, dan yang paling penting, ia gadis terpintar di kelasnya dengan nilai-nilai yang sempurna.
Sekilas, tidak ada yang kurang dalam hidupnya. Seperti yang dikatakan Tommy, semua orang akan sanggup melakukan apapun untuk memiliki hidup seperti hidup Amanda. Maka sangat aneh jika Amanda depresi.
Tapi mungkin, ini yang coba dilakukan oleh buku ini: untuk mematahkan stigma tentang depresi, karena faktanya, terlalu banyak mitos seputar depresi, karena itu tadi, depresi tak kelihatan, hingga karena “hanya ada di pikiran”, seolah sakitnya terasa tak nyata. Padahal sakit karena depresi sama nyatanya dengan sakit fisik yang lain, kanker misalnya. Dan saya baru baca juga dari bukunya Dr. Jiemi Adrian, ternyata struktur otak orang dengan depresi itu sepenuhnya berbeda dengan otak yang tidak mengidap depresi. Jadi depresi adalah benar-benar penyakit yang bukan dengan mudah bisa begitu saja dihalau dari pikiran seperti memencet tombol on off.
1. Jadi apa itu depresi?.
Singkatnya depresi adalah penyakit mental yang diakibatkan ketidakseimbangan kimiawi neurotransmitter, sehingga menyebabkan turunnya aktivitas serotonin di otak. Gejalanya macam-macam dan berbeda-beda antara setiap orang. Tapi benang merahnya, ada perasaan sedih yang mendalam dan sesak yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan sedih dan sesak ini begitu gelap, sehingga pada beberapa kasus, depresi ini berujung pada percobaan untuk bunuh diri.
Depresi juga bisa menimpa siapa pun, bukan hanya menimpa mereka yang cerita hidupnya malang saja, karena seperti diceritakan dalam buku ini, Amanda yang hidupnya sempurna pun, ternyata bisa terkena depresi. Saya pernah baca entah dimana, salah satu gejala depresi adalah malas mandi dan beberes. Di buku ini pun begitu, pasca depresi, Amanda jadi sangat enggan mandi ataupun bersih-bersih.
2. Kenapa bisa depresi?,
Kompleks. Bisa jadi gabungan dari faktor biologis, psikologis, dan sosial. Tapi hal yang saya garis bawahi dari buku ini, depresi ternyata tidak berkaitan dengan ketaatan beragama. Tidak ada hubungannya depresi dengan lemahnya iman. Saya baca dari sumber lain, rasa takut berlebihan akan hukuman Tuhan atau stigma dari lingkungan yang menganggap depresi sebagai hukuman dosa justru dapat memperparah kondisi mental seseorang.
3. Apa yang harus dilakukan ketika merasakan gejala depresi?
Pertama, jangan denial, akui bahwa ada masalah dengan kesehatan mental kita, lalu kedua, jangan sungkan minta bantuan profesional. Dalam buku ini Amanda akhirnya meminta bantuan dengan datang ke psikiater, dan kemudian mendapatkan terapi untuk penyembuhan. Menarik, karena sempat diceritakan, Tommy yang adalah orang terdekat Amanda, justru jadi orang yang menyangkal fakta bahwa Amanda mengidap depresi. Ia tak percaya karena Amanda tampak sangat normal, dan bahkan sempat memberikan nasihat agar Amanda yang agnostik mulai mempercayai Tuhan. Bahkan Tommy pun sedikit mengecam keputusan Amanda untuk minum obat karena Tommy percaya obat hanyalah akal-akalan industri psikofarmakologi untuk meraup keuntungan. Sepertinya ini mitos lainnya terkait depresi, bahwa depresi bisa disembuhkan dengan kekuatan pikiran sendiri atau dengan ruqyah atau dengan pengobatan alternatif sehingga obat tidak diperlukan.Padahal seperti dijelaskan berulang-ulang, depresi adalah penyakit yang sama nyatanya dengan sakit diabetes atau kanker sehingga obat akan sangat membantu dalam proses penyembuhan.
Saya menyukai buku ini secara keseluruhan, dan entah bagaimana buku-buku Annisa Ihsani selalu membuat saya ingin terus belajar lagi. Saya belajar matematika lagi saat baca buku Teka Teki Terakhir, dan dari buku ini saya belajar tentang teori-teori sains, dari mulai Pale Blue Dot, spektrum warna, dan teori Big Bang (ternyata Big Bang itu bukan ledakan, karena ledakan terjadi karena perbedaan suhu dan tekanan suatu benda dengan ruang di sekitarnya, sementara saat itu ruang dan waktu belum ada. Lebih tepat jika Big Bang disebut sebagai perluasan ruang dan waktu itu sendiri, dari titik singularitas). Menarik bukan?.




