"Aku bersyukur, suamiku adalah orang ini." (hlm. 138)
Informasi Buku
Judul | True Mothers |
Judul asli | Asa ga Kuru (朝が来る) |
Penulis | Mizuki Tsujimura |
Penerjemah | [lengkapi] |
Penerbit | Penerbit Haru |
Tahun terbit | 2023 |
Tebal | 445 halaman |
Genre | Fiksi drama keluarga |
|
|
Novel ini pertama kali terbit di Jepang pada 2015 dan diadaptasi menjadi film berjudul sama oleh sutradara Naomi Kawase pada 2020.
Sinopsis
Satoko dan Kiyokazu Kurihara adalah pasangan suami istri yang lama mendambakan anak. Bertahun-tahun mereka menjalani pemeriksaan dan pengobatan kesuburan, menghabiskan waktu, tenaga, dan uang yang tidak sedikit, sampai akhirnya diketahui bahwa masalahnya ada pada Kiyokazu. Lelah berjuang, mereka sempat berdamai dengan kemungkinan hidup berdua saja, hingga suatu hari mereka mengenal Baby Baton, sebuah yayasan yang mempertemukan ibu yang tidak dapat membesarkan bayinya dengan pasangan yang ingin mengadopsi. Dari sanalah Asato hadir dalam hidup mereka.
Tahun-tahun berlalu dengan bahagia. Asato tumbuh menjadi anak TK yang manis. Lalu sebuah telepon datang: seorang perempuan mengaku sebagai Hikari Katakura, ibu kandung Asato, dan meminta anaknya dikembalikan, atau uang sebagai gantinya. Perempuan yang kemudian datang ke rumah mereka tampak jauh berbeda dari gadis belia yang dulu menitipkan bayinya.
Dari titik ini, novel berbalik menelusuri kisah Hikari: remaja dari keluarga yang kaku, cinta pertamanya, kehamilan di usia yang terlalu muda, dan jalan hidup yang terus menurun setelah ia melepaskan bayinya. Dua perempuan, dua wajah keibuan: yang melahirkan dan yang membesarkan.
Kesan Saya
Catatan: bagian ini mengandung bocoran cerita.
Tentang Satoko dan Suami yang Rasanya Terlalu Baik untuk Menjadi Kenyataan
Saya ingin membicarakan Satoko terlebih dahulu. Menurut saya, Satoko adalah istri yang sangat beruntung. Ia memiliki suami yang luar biasa baik, penyayang, dan begitu memahami keadaan istrinya. Bahkan saya sempat berpikir, pasangan ini nyaris sempurna.
Ketika akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti mengupayakan kehamilan dan menerima kemungkinan menjalani hidup berdua tanpa anak, saya justru merasa keputusan itu sangat indah. Sebab bukankah pernikahan pada dasarnya adalah tentang dua orang yang memutuskan menjalani kehidupan bersama? Kehadiran anak tentu bisa menjadi kebahagiaan, tetapi apakah pernikahan otomatis kehilangan maknanya jika pasangan tersebut tidak memiliki keturunan? Saya rasa tidak. Saya juga menyukai bagaimana Kiyokazu memperlakukan Satoko. Tidak ada upaya menyalahkan, tidak ada tuntutan bahwa istrinya harus mampu memberinya keturunan.
Namun, ada satu bagian yang cukup mengganggu pikiran saya. Ketika diketahui bahwa persoalan reproduksi justru berada pada pihak Kiyokazu, ibu mertuanya sampai menundukkan kepala untuk meminta maaf kepada Satoko. Saya kemudian bertanya-tanya, apakah sikap yang sama akan ditunjukkan jika keadaannya terbalik? Jika ternyata Satoko yang mengalami persoalan reproduksi, apakah ibu mertuanya juga akan meminta maaf? Atau justru Satoko yang akan diminta merasa bersalah karena dianggap tidak mampu memberikan keturunan?
Entahlah. Saya tentu tidak bisa memastikan bagaimana ibu mertua Satoko akan bersikap dalam keadaan yang berbeda. Tetapi pertanyaan itu muncul karena dalam kehidupan nyata, perempuan sering kali menjadi pihak pertama yang dipersalahkan ketika sebuah perkawinan belum dikaruniai anak. Padahal persoalan kesuburan tidak sesederhana itu.
Membaca bagian ini juga membuat saya kembali menyadari betapa tidak mudahnya perjuangan pasangan yang mendambakan keturunan. Ada yang harus menjalani pemeriksaan berulang kali, pengobatan, prosedur medis yang melelahkan, menghabiskan banyak uang, dan menghadapi harapan yang berkali-kali tumbuh lalu runtuh. Kita yang tidak pernah mengalami perjuangan serupa mungkin terlalu mudah bertanya, “Kapan punya anak?” Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu perjalanan seperti apa yang sedang mereka lalui.
Saya jadi teringat ungkapan bahwa anak adalah titipan Tuhan. Kehadirannya bukan sesuatu yang bisa dipastikan hanya dengan keinginan, usaha, ataupun kemampuan finansial. Mungkin karena itulah pertanyaan tentang keturunan seharusnya tidak pernah kita lontarkan dengan sembarangan.
Hikari dan Serangkaian Keputusan yang Membuat Saya Gemas Sekaligus Sedih
Namun, dari keseluruhan cerita, tokoh yang paling mengganggu pikiran saya justru Hikari. Saya sungguh menyesalkan nasib anak perempuan ini.
Hikari tumbuh dalam keluarga yang kaku, dengan aturan dan harapan orang tua yang harus dipatuhinya. Diam-diam ia ingin memberontak. Ia kemudian menjalin hubungan dengan Takuma, seorang laki-laki yang dicintainya. Hubungan tersebut berlanjut pada hubungan seksual, hingga akhirnya Hikari hamil ketika usianya masih sangat muda. Kehamilan itulah yang mempertemukannya dengan Yayasan Baby Baton, tempat ia kemudian melahirkan dan menyerahkan bayinya untuk diadopsi. Bayi itu kelak menjadi Asato, anak yang begitu dicintai Satoko dan Kiyokazu.
Sejujurnya, sepanjang membaca kisah Hikari, saya berkali-kali merasa gemas. Anak ini keras kepala sekali! Saya bahkan sempat menganggapnya bodoh, sudah mah selalu gagal ikut ujian masuk sekolah favorit, keputusan-keputusan yang diambilnya pun terasa semakin lama semakin merugikan dirinya sendiri. Orang tuanya memang digambarkan kaku dan tidak cukup memahami pergulatan batin Hikari, tetapi dari yang saya tangkap, mereka bukan orang tua yang sengaja ingin menghancurkan kehidupan anaknya.
Setelah melahirkan, Hikari masih diberi kesempatan untuk kembali bersekolah dan melanjutkan kehidupannya. Namun kesempatan itu tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ia gagal mencapai target pendidikan yang diinginkan, kemudian mengambil uang orang tuanya dan melarikan diri dari rumah.
Di luar rumah, kehidupan ternyata jauh lebih keras daripada yang dibayangkannya. Mencari pekerjaan tidak mudah. Bertahan hidup membutuhkan uang. Tanpa pendidikan serta keterampilan yang memadai, pilihan-pilihannya menjadi semakin terbatas. Hikari kemudian terjerat persoalan keuangan dan hubungan dengan orang-orang yang justru semakin mempersulit kehidupannya.
Saya membaca semua itu dengan perasaan campur aduk: marah, kesal, sekaligus kasihan. Mengapa setelah mengalami begitu banyak kesulitan, ia masih saja mengambil keputusan yang membuat hidupnya semakin rumit?
Tetapi setelah buku ini selesai, saya justru mulai mempertanyakan kemarahan saya sendiri. Barangkali terlalu mudah bagi kita yang melihat dari luar untuk mengatakan bahwa seseorang seharusnya mengambil keputusan yang lebih baik. Hikari masih sangat muda ketika hidupnya berubah. Ia kehilangan kesempatan menjalani masa remaja sebagaimana teman-temannya, harus berpisah dengan anak yang dilahirkannya, dan kemudian berusaha menemukan tempat bagi dirinya sendiri.
Saya tidak sedang membenarkan seluruh tindakannya. Mencuri uang orang tua tentu bukan keputusan yang bisa dibenarkan begitu saja. Tetapi saya mulai berpikir, apakah kesempatan kedua cukup hanya dengan diberikan? Apakah seseorang yang pernah mengalami peristiwa begitu besar dalam hidupnya otomatis mampu kembali ke sekolah, belajar seperti biasa, dan menjalani kehidupan seolah tidak pernah terjadi apa-apa? Mungkin tidak. Barangkali di situlah salah satu tragedi Hikari: ia membutuhkan kesempatan, tetapi juga membutuhkan dukungan dan ruang untuk memahami apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya.
Ada satu pertanyaan Hikari yang membuat saya berhenti membaca sejenak.
“Keluarga itu apa?”, hlm. 325
Pertanyaan yang sangat pendek, tetapi rasanya menyimpan begitu banyak kesedihan. Saya kemudian kembali memikirkan keluarga Hikari. Dari luar, keluarga itu tampak baik-baik saja. Orang tuanya hadir, kebutuhan hidupnya terpenuhi, pendidikannya diperhatikan. Tidak ada gambaran bahwa Hikari tumbuh dalam keluarga yang secara terang-terangan melakukan kekerasan fisik kepadanya.
Tetapi apakah semua itu otomatis membuat seorang anak merasa diterima? Apakah keluarga cukup hanya dengan menyediakan rumah, makanan, biaya sekolah, dan aturan-aturan yang harus dipatuhi? Atau keluarga seharusnya juga menjadi tempat seseorang bisa melakukan kesalahan tanpa merasa kehilangan seluruh tempatnya untuk pulang?
Saya tidak ingin terburu-buru menyalahkan orang tua Hikari. Membesarkan anak tentu bukan pekerjaan mudah, dan orang tua pun bisa melakukan kesalahan meskipun merasa telah memberikan yang terbaik. Tetapi pertanyaan Hikari membuat saya menyadari bahwa menyediakan kebutuhan anak dan memahami kebutuhan emosionalnya adalah dua hal yang tidak selalu berjalan beriringan. Barangkali orang tuanya merasa telah melakukan semua yang seharusnya dilakukan, sementara Hikari justru merasa tidak benar-benar dipahami. Ketika ia kemudian melakukan kesalahan besar, jarak di antara mereka menjadi semakin sulit dijembatani.
Mungkin salah satu hal paling menyedihkan dalam kehidupan keluarga adalah ketika orang-orang yang tinggal di rumah yang sama ternyata merasa begitu jauh satu sama lain. Mereka saling mencintai, tetapi tidak selalu tahu bagaimana cara menyampaikan cinta itu. Mereka ingin melindungi, tetapi perlindungan yang diberikan justru terasa seperti pengekangan. Dan ketika seorang anak akhirnya bertanya, “Keluarga itu apa?”, mungkin yang sedang dipertanyakannya bukan sekadar hubungan darah, melainkan rasa aman dan tempat untuk diterima.
Pertanyaan ini juga membuat judul True Mothers terasa semakin menarik. Satoko bukan ibu yang melahirkan Asato, tetapi ia memberikan kasih sayang, perlindungan, dan rumah bagi anak itu. Sementara Hikari adalah ibu yang melahirkannya, tetapi keadaan membuatnya harus melepaskan anak tersebut. Lalu siapa sebenarnya yang berhak disebut ibu? Saya rasa novel ini tidak sedang meminta kita memilih salah satunya. Justru ia memperlihatkan bahwa hubungan keluarga tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui ikatan biologis.
Ketika Perempuan Harus Menanggung Konsekuensi yang Jauh Lebih Panjang
Bagian inilah yang membuat saya berpikir sangat panjang, sebab kisah seperti Hikari bukan sesuatu yang hanya ada dalam novel. Saya pernah menemukan cerita serupa dalam kehidupan nyata: perempuan muda yang jatuh cinta, begitu mempercayai kekasihnya, lalu menyerahkan terlalu banyak hal dalam hidupnya kepada hubungan tersebut. Ketika kemudian terjadi kehamilan yang tidak direncanakan, kehidupan mereka berubah drastis. Pendidikan terhenti. Kesempatan bekerja menjadi lebih terbatas. Ketergantungan ekonomi meningkat. Dan ketika hubungan dengan laki-laki yang dicintainya tidak berjalan baik, perempuanlah yang sering kali harus menghadapi konsekuensi paling panjang.
Tentu tidak semua kisah berakhir demikian. Ada pasangan yang bertanggung jawab, ada keluarga yang mendukung, dan ada perempuan yang mampu melanjutkan pendidikan serta membangun kehidupan yang baik setelah mengalami kehamilan di usia muda. Tetapi saya tidak bisa mengabaikan betapa beratnya risiko yang harus ditanggung perempuan ketika semuanya tidak berjalan sesuai harapan.
Saya terus bertanya-tanya, mengapa beban itu sering kali begitu tidak seimbang? Hubungan seksual dilakukan oleh dua orang, tetapi kehamilan terjadi pada tubuh perempuan. Perempuanlah yang harus menghadapi perubahan fisik, proses persalinan, stigma sosial, dan kemungkinan terhentinya pendidikan. Sementara laki-laki, meskipun memiliki tanggung jawab yang sama, tidak selalu menghadapi konsekuensi sosial dan biologis yang setara.
Saya jadi teringat tulisan Langit Amaravati yang menurut saya sangat baik, berjudul Hamil di Luar Nikah: Sebuah Panduan Menghadapinya, yang diterbitkan di Mojok. Tulisan tersebut bisa dibaca melalui tautan berikut: https://mojok.co/terminal/hamil-di-luar-nikah-sebuah-panduan-menghadapinya/
Saya menyukai cara Langit membahas persoalan ini dengan lugas, tanpa berputar-putar, bahkan sesekali terasa sangat keras. Tetapi di balik pilihan katanya yang tajam, ada satu perhatian yang menurut saya penting: bagaimana memastikan perempuan yang mengalami kehamilan tidak direncanakan tetap mendapatkan pertolongan dan tidak semakin terpuruk. Langit mengingatkan bahwa ketika seorang perempuan mengetahui dirinya hamil, yang pertama-tama perlu dipikirkan bukanlah bagaimana menghadapi penghakiman orang lain, melainkan keselamatan dirinya dan bayi yang dikandungnya. Ia membahas pentingnya pemeriksaan kehamilan, komunikasi dengan pasangan, dukungan orang dewasa yang dapat dipercaya, hingga kemungkinan melanjutkan pendidikan setelah melahirkan.
Ada satu bagian ketika Langit memperingatkan kemungkinan laki-laki yang sebelumnya begitu dipuja justru menghindar ketika diminta bertanggung jawab. Saya membaca bagian itu sambil teringat pada Hikari. Betapa seringnya cinta pada usia muda membuat seseorang merasa bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja selama mereka masih saling mencintai. Padahal kehidupan tidak berhenti pada perasaan cinta. Ada persoalan tanggung jawab, ekonomi, pendidikan, dan masa depan yang harus dipikirkan, dan ketika semua itu datang bersamaan, cinta yang semula terasa begitu besar belum tentu cukup untuk menyelesaikannya.
Saya tidak harus menyetujui seluruh pendapat atau pilihan kata Langit untuk menghargai pesan penting dalam tulisannya, terutama ketika ia mengingatkan bahwa kehamilan di usia sekolah tidak semestinya menjadi akhir dari pendidikan seorang perempuan. Bagian itu rasanya ingin sekali saya sampaikan kepada Hikari.
Pendidikan, Kesempatan Kedua, dan Lingkaran Kemiskinan
Ada satu hal lagi yang membuat kisah Hikari begitu dekat dengan pikiran saya. Saya sendiri pernah berada pada titik ketika kehidupan berumah tangga nyaris membuat pendidikan saya terhenti. Membaca Hikari membuat saya membayangkan kemungkinan kehidupan yang berbeda. Bagaimana jika dahulu saya benar-benar berhenti belajar? Bagaimana jika saya tidak memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan? Bagaimana jika seluruh kehidupan saya bergantung pada kemampuan ekonomi orang lain?
Saya tentu tidak tahu bagaimana hidup saya akan berjalan dalam keadaan tersebut. Tetapi saya semakin menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi perempuan, bukan semata-mata untuk memperoleh gelar atau pekerjaan bergaji tinggi, melainkan untuk memperluas pilihan dalam hidup. Pendidikan dapat membuka kesempatan bekerja, membantu membangun kemandirian ekonomi, dan memberikan ruang lebih besar bagi seseorang untuk menentukan masa depannya sendiri.
Memang pendidikan bukan jaminan seseorang akan terbebas dari kemiskinan. Ada banyak faktor lain yang memengaruhi, mulai dari kondisi keluarga, kesempatan kerja, hingga lingkungan sosial. Tetapi kehilangan akses pendidikan, terutama ketika disertai kehamilan di usia muda dan tanggung jawab pengasuhan, dapat mempersempit pilihan yang tersedia. Dan ketika pilihan semakin sempit, seseorang bisa semakin sulit keluar dari keadaan yang merugikannya.
Itulah yang membuat perjalanan Hikari terasa begitu menyedihkan. Bukan hanya karena ia melakukan kesalahan, tetapi karena setiap keputusan buruk seolah membuat kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya semakin kecil. Saya ingin sekali mengatakan kepada Hikari: sudah, berhentilah sebentar. Jangan mengambil keputusan lain hanya karena ingin melarikan diri dari keputusan sebelumnya.
Tetapi Hikari hanyalah tokoh dalam sebuah novel. Di luar sana, ada perempuan-perempuan muda yang mungkin sedang menghadapi persoalan serupa.
Untuk Perempuan-Perempuan Muda di Luar Sana
Kalau ada satu pesan yang ingin saya bawa setelah membaca buku ini, barangkali pesan itu sederhana: jangan pernah menyerahkan seluruh masa depanmu hanya karena sedang jatuh cinta. Cintailah seseorang, tetapi jangan berhenti mencintai dirimu sendiri. Jangan abaikan pendidikanmu, jangan lepaskan kesempatan untuk belajar, dan jangan menggantungkan seluruh kehidupan pada janji seseorang, betapapun meyakinkannya janji itu terdengar.
Dan kepada mereka yang telanjur mengambil keputusan yang kemudian disesali: hidupmu tidak selesai hanya karena satu kesalahan. Kalau masih ada kesempatan untuk kembali bersekolah, ambillah. Kalau harus menempuh jalur pendidikan yang berbeda, tidak apa-apa. Kalau perlu meminta pertolongan, mintalah. Tidak semua orang memiliki kesempatan kedua yang mudah, tetapi kalau kesempatan itu tersedia, betapapun kecilnya, semoga ada keberanian dan dukungan untuk menggunakannya. Jangan biarkan satu keputusan pada masa muda menentukan seluruh nilai dirimu sebagai manusia.
Dua Perempuan, Dua Jalan Menuju Keibuan
Pada akhirnya, True Mothers adalah cerita tentang dua perempuan yang sama-sama mencintai seorang anak dari keadaan yang sangat berbeda. Satoko menjadi ibu setelah perjalanan panjang yang penuh harapan dan kekecewaan, dengan pasangan yang mendukung dan rumah yang aman. Hikari menjadi ibu ketika dirinya sendiri masih membutuhkan perlindungan dan bimbingan, dan kehilangan banyak hal karenanya. Di antara keduanya, ada seorang anak yang tidak pernah memilih bagaimana ia dilahirkan atau siapa yang akan membesarkannya.
Novel ini tidak menawarkan jawaban sederhana tentang siapa yang lebih berhak disebut ibu, dan mungkin memang tidak perlu. Pertanyaan yang justru paling lama tinggal di kepala saya adalah pertanyaan Hikari: “Keluarga itu apa?” Keluarga bukan hanya tentang siapa yang melahirkan kita, siapa yang membesarkan kita, atau siapa yang namanya tercantum dalam kartu keluarga. Keluarga juga tentang siapa yang bersedia menerima kita sebagai manusia, termasuk ketika kita tidak menjadi seperti yang mereka harapkan. Menerima memang bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Tetapi bukankah yang paling kita harapkan dari keluarga adalah keyakinan bahwa ketika hidup sedang berantakan, masih ada tempat untuk meminta pertolongan?
Saya menutup True Mothers dengan hati yang sangat berat. Bukan karena saya tidak menyukai ceritanya, justru karena cerita ini membawa saya terlalu jauh memikirkan kehidupan perempuan: kesempatan yang hilang, pilihan yang keliru, dan betapa panjangnya akibat dari keputusan yang diambil ketika seseorang belum benar-benar memahami kehidupan. Saya sedih memikirkan Hikari. Saya juga sedih membayangkan perempuan-perempuan muda di luar sana yang mungkin sedang menghadapi keadaan serupa, tanpa tahu kepada siapa harus meminta pertolongan. Seandainya bisa, ingin rasanya memeluk mereka satu per satu, bukan untuk mengatakan bahwa semua keputusan mereka benar, tetapi untuk mengingatkan bahwa hidup mereka masih berharga, bahkan setelah melakukan kesalahan yang besar.
Sebab seorang perempuan seharusnya tidak kehilangan seluruh masa depannya hanya karena pernah salah memilih jalan.
Dan ketika suatu hari mereka bertanya, seperti Hikari, “Keluarga itu apa?”, saya berharap ada seseorang yang bisa menjawabnya bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan membuka pintu, menyediakan tempat duduk, dan mengatakan bahwa mereka tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
.jpeg)




