Kamis, 02 Juli 2026

Resensi KOKOKAN MENCARI ARUMBAWANGI

 





Judul Buku                : Kokokan Mencari Arumbawangi 

Penulis                      : Cyntha Hariadi

Jumlah Halaman      : 337 halaman

Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama

 

Hirup hijau itu, Kakaputu. Simpan di dalam dadamu dan kau akan selalu hidup”

“Arumbawangi, rangkul langit di atasmu. Birunya, hitamnya, terangnya, gelapnya, segala rahasianya. Jangan takut. Kau akan jadi anak paling kuat

Ada novel yang begitu seru dan mudah dibaca sampai tamat sekali duduk, ada juga jenis buku yang perlu waktu berjeda-jeda untuk menyelesaikannya. Bukan karena tak bagus, tapi justru karena saking bagusnya hingga emosi semua tokoh di buku itu memengaruhimu sedemikian rupa. Kau akan ikut merasa bahagia tatkala cerita cerah ceria, tapi juga ikut merana ketika si tokoh buku terkisahkan sengsara. Dan dengan yakin saya nyatakan bahwa buku ini termasuk buku yang kedua, saya tertipu, padahal ada embel-embel Sebuah Dongeng di halaman judul, tapi bagaimana bisa emosi saya bercampur aduk sampai berkali-kali harus berhenti dulu dan menghirup nafas panjang saat membacanya. Untungnya, autoimun saya kambuh lagi hingga harus bedrest total beberapa hari ini, dan tak ada yang bisa dilakukan selain membaca. Maka buku ini selesai juga dalam dua hari.

Baru halaman pertama, tapi saya sudah terpesona, pada jalinan kata yang dipilih dengan begitu rapi dan puitis, meski sempat kebingungan menebak arah cerita, dan berpikir kenapa baru pembuka tapi sudah segelap ini. Dua anak kecil yang masih bersekolah dasar, memandikan jasad ibunya yang wafat, mendandaninya  seperti akan pergi sembahyang dan kemudian menguburkannya di tanah belakang rumah.  

Sebagaimana judulnya, buku ini memang sebuah dongeng. Tentang suatu desa sangat subur di Bali yang dihuni oleh ibu dan anak, Nanamama dan Kakaputu namanya. Nanamama adalah petani sigap yang tangguh, ia menganggap tanah sebagai denyut nadinya sendiri. Hidupnya sederhana, dipenuhi kerja menumbuhkan segala yang ada di bumi hingga suatu hari sekawanan burung kokokan membawa seorang anak perempuan kecil berkulit putih, mendarat di kebun bawangnya di pekarangan rumah. Nanamama memberinya nama Arumbawangi, dan segera ia menjadi anak yang disayangi Nanamana sepenuh jiwa dan adik yang dilindungi Kakaputu segenap hati, tak peduli seluruh warga desa memandangnya sebagai bebai atau roh jahat.

Nanamama memang sosok perempuan yang berbeda. Ia satu-satunya orang yang menentang rencana penjualan sawah penduduk desa untuk jadi obyek wisata. Ia percaya, ia adalah penjaga tanah, dan tanah akan membalasnya dengan  kebaikan melalui semua yang tumbuh diatasnya. Ia percaya, tanah yang diolah tak akan pernah membuatnya kelaparan. Lebih baik jadi tuan yang miskin di atas tanah sendiri daripada budak yang kaya di atas tanah orang lain. Namun karena pandangan ini, ia dibenci seluruh desa, kebencian yang berlarat-larat hingga kemudian karena itulah ia wafat.

Di bawah pengasuhannya, Kakaputu dan Arumbawangi tumbuh menjadi dua anak baik yang sangat bisa diandalkan. Kita akan diajak menyelami betapa banyak kerjanya dan betapa berharganya hari-hari sebagai petani.

Kau cukup beruntung dilahirkan sebagai anak petani. Anak yang kekuatannya jauh melebihi sihir tangan Raja Midas, sebab yang ada di tanganmu bukan sihir tak terbatas, tapi kekuatan manusia yang ada batasnya tapi nyata, selalu menghidupkan, tidak mencelakakan.

Dibatasi rimbunan pohon kelapa dari desa,  sebuah hotel yang terbengkalai pembangunannya karena terhambat proses perizinan, ternyata dialihkan kepemilikannya. Pak Rudi,  pemilik hotel yang baru, memiliki seorang anak bernama Jojo, anak baik yang terperangkap duka setelah ditinggal wafat ibunya sehingga menjelma jadi monster kecil manja yang menyusahkan semua orang di sekelilingnya. Ironisnya, melalui perantara sebuah layang-layang rusak, Jojo kemudian berteman dengan Kakaputu dan Arumbawangi. Mulanya Kakaputu dan Arumbawangi menyembunyikan pertemanan itu, khawatir dengan reaksi Nanamama yang alergi terhadap semua hal yang berhubungan dengan hotel, namun di luar dugaan Nanamama malah ikut sayang pada Jojo. Begitu pun Jojo, dukanya perlahan sembuh melalui pertemanannya dengan keluarga kecil yang hangat ini. 

Kupikir cerita akan berlanjut manis, tapi tentu saja bagaimana saya bisa berharap seperti itu pada buku yang sudah dibuka dengan prolog begitu gelap. Setelah satu hari penuh yang menghangatkan jiwa dengan petualangan persahabatan, cerita bergulir pada tragedi yang begitu memilukan di tengah malam: ulang tahun Jojo yang kesepian. 

Alih-alih menemani anaknya, Pak Rudi malah pergi melakukan perjalanan bisnis ke Hongkong. Jojo yang merasa ditinggalkan merayakan ulang tahun sendirian di kamar hotel, dengan sebuah lilin yang menyala lalu apinya membesar dan melalap habis kamarnya, ia kemudian terbakar mati. Duka tak tergambarkan bagi Pak Rudi, ia sudah kehilangan istri di hari ulang tahun Jojo yang ke -11, lalu kini ia kehilangan satu-satunya anak di ulang tahun Jojo yang ke-12.

Apakah kemudian tragedi berhenti sampai di sini?, oh tentu tidak, beberapa hari setelah kejadian ini, beberapa polisi mendatangi rumah Nanamama dan menahannya. Tuduhannya jelas: membakar hotel sehingga menyebabkan kematian Jojo. Motif yang dituduhkan: Nanamama satu-satunya orang yang tak pernah setuju dengan pembangunan hotel. Bukti yang memberatkan:  sisir Nanamama ditemukan di bawah keset hotel.

Penahanan Nanamama ternyata berlanjut pada rentetan duka lainnya, perlakuan warga desa yang sejak semula memang tak ramah pada Kakaputu dan  terutama pada Arumbawangi yang dianggap “anak burung” semakin menajam. Hati saya ikut pedih membayangkan anak usia SD hanya berdua di rumah, mengurusi semua keperluan sendiri, berharap cemas menanti kepulangan ibu, sementara semua orang di sekitar begitu dingin seolah tak peduli.

Nanamama kemudian memang pulang ke rumah, tapi sudah seperti jasad yang lumpuh, penahanan ini meruntuhkan sisa kekuatan jiwanya ditambah dengan racun jahat yang dioleskan tetangganya pada arit yang digunakan Nanamama mengolah sawah. Seminggu kemudian Nanamama wafat, dan tinggallah dua anak tanpa ayah dan ibu ini harus meneruskan hidup.

Di titik ini, saya pikir cerita akan melunak, memberi jeda bagi pembacanya agar sedikit menghirup napas, ternyata tidak. Nanamama memang meninggalkan rumah, tanah sawah, kebun, binatang piaraan dan tabungan yang banyak untuk kedua anaknya. Kakaputu dan Arumbawangi akan tetap bisa sekolah dan tak akan kelaparan. Siapa sangka jika penjahatnya adalah seluruh warga desa yang memaksa kedua anak ini tunduk pada perwalian Pak Wawatua dan memaksa keduanya menandatangani surat persetujuan penjualan sawah.

Terbiasa dikelilingi tetangga-tetangga yang baik, tak habis pikir saya, bagaimana bisa seluruh penduduk desa berkomplot menjadi jahat dan menyudutkan anak yatim piatu di bawah umur. Dan pada saat-saat genting, sekelompok burung kokokan besar menjemput Kakaputu dan Arumbawangi untuk kemudian membawa keduanya pergi. Entah kemana, tak dilanjutkan lagi pada cerita.

Ya tentu karena sudah diputuskan bahwa cerita ini adalah sebuah dongeng oleh penulisnya, maka semua awal mula dan akhir cerita menjadi hak prerogatif penulis sepenuhnya. Tapi setelah dilempar ke forum umum, maka sebuah karya berhak untuk dikomentari, didiskusikan dan dikritisi oleh pembacanya. 

Buku ini adalah buku yang sangat bagus untuk saya. Pilihan diksinya memesona, jalinan ceritanya rapi dan manis. Konflik yang ditampilkan juga sangat relevan dan dan cenderung kontemporer: isu alih fungsi lahan pertanian, polisi yang korup dan berpihak, perundungan terhadap liyan atau orang yang dianggap berbeda, dan terakhir cacatnya perlindungan sistem sosial suatu masyarakat terhadap warganya yang paling lemah ketika berhadapan dengan ketamakan dan mimpi untuk kehidupan yang lebih baik. Semua digambarkan dengan sangat lugas.

Saya masih bisa menerima ketika di pertengahan cerita, Jojo dan Nanamana sempat menjadi hantu, residu energi yang tertinggal karena ada hal belum selesai yang masih mengikat pemilik jiwa dengan dunia fana. Yang sedikit mengganjal untuk saya hanya akhir cerita yang seolah dipaksakan untuk segera selesai dan terburu-buru: sekelompok burung kokokan yang datang lagi dan menjemput Arumbawangi dan Kakaputu pergi ketika dirempug warga. Tambahan kalimat Sebuah Dongeng di halaman judul memang bisa menjadi pembenaran penulis untuk menutup dan membuka cerita ini dengan hal yang tak masuk akal. Tapi tetap saja, seperti gatal di bawah kulit yang tak bisa digaruk, saya merasa seperti itu juga akhir dari buku ini. 

Berbagai pertanyaan lanjutan mengganggu pikiran saya: saya tak paham anatomi burung kokokan, sebesar apa burung itu, ketika diceritakan mengantar Arumbawangi yang masih berumur dua tahun masih okelah,  tapi apakah memang sanggup membawa anak berusia sepuluh atau sebelas tahun?. Lalu mereka dibawa pergi kemana, pertanyaan ini mengganggu karena dari mana Arumbawangi datang juga tidak pernah dijelaskan di dalam cerita. Pertanyaan selanjutnya, jika kedua anak ini dibawa pergi bagaimana dengan tanah yang ditinggalkan, padahal tanah ini yang selalu dipesankan oleh Nanamama untuk dijaga dengan sepenuh hati seperti menjaga nyawa sendiri, jangan sampai dijual, jika ditinggalkan begitu saja bukankah jadinya malah bertolak belakang dengan inti cerita.

Saya berharap akan ada bagian kedua yang menjadi lanjutan dari buku ini untuk menjawab kepenasaranan saya. Sebagai penutup, saya berterima kasih kepada Cyntha Hariadi yang sudah menulis buku seindah ini.

Kamis, 04 Juni 2026

Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI




Judul Buku                : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Penulis                      : Yusi Avianto Pareanom

Penerbit                    : baNANA publisher

Jumlah Halaman       : 468 halaman

Edisi                         : keempat, cetakan keempat, Februari 2026

 

Maut tak perlu ditantang, bila waktunya datang ia pasti menang, hlm. 17        

Kenangan, dari apa kau terangkai?. Bagaimana aku mesti mengerat dan membaginya kepada yang lain? Tanpa bisa kutahan, air mataku menetes, hlm. 248-249

Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekedar makan dan tidur sebelum disembelih, hlm. 320

Ia bertanya apakah aku orang yang berbahagia, hlm. 330

 

Sepertinya saya terkena reading slump, berganti-ganti dari satu buku ke buku lain tanpa benar-benar menamatkannya. Lalu kemudian saya menyadari, semua buku yang saya baca ternyata adalah buku nonfiksi yang cenderung “berat”. Oke, daripada berlanjut terus seperti itu, saya putuskan beralih sejenak ke buku fiksi. Dan random saja, saya ikut lagi rekomendasi dari klub buku, kebetulan lainnya,  sedang ada diskon, yeaaay. Biasanya, rekomendasi dari klub buku selalu bagus, rekomendasi kali ini pun tak gagal, karena ternyata Raden Mandasia Si pencuri Daging Sapi ini seru dengan banyak u dan tanda seru.

Cerita dimulai dengan adegan yang sangat komikal: dikejar-kejar orang karena habis maling, dan tertangkap, dan babak belur sampai pingsan berhari-hari. Saya pikir cerita ini akan berpusat pada Raden Mandasia sesuai judulnya, namun ternyata tidak, karena yang menjadi tokoh utama cerita adalah “aku”, Raden Sungu Lembu, yang sepanjang hidup membawa dendam terhadap Watugunung, penguasa Gilingwesi,  yang adalah ayah kandung dari Raden Mandasia. 

Kisah tentang Raden Mandasia hanya muncul ketika menceritakan perjalanan mereka berdua. Meskipun demikian sempat terceritakan pula, kenapa Raden Mandasia disebut Si Pencuri Daging Sapi, karena memang Raden Mandasia ini hobinya literally mencuri beberapa bagian daging sapi yang dipotong dari sapi hidup dan disembelih sendiri, meski dengan cara yang terbilang cukup bermartabat untuk ukuran seorang pencuri: setelah mencuri ia selalu meletakkan uang yang bahkan lebih banyak dari harga sapinya itu sendiri.

 

Sesuai yang tertera di bagian cover: Sebuah dongeng dari  Yusi Avianto Pareanom, kisah dalam buku ini memang dongeng, namun tentu dongeng untuk orang dewasa, salah satunya karena kata makian yang bertebaran di sepanjang cerita.

 

Anjing, anjing, anjing, aku mengumpat-umpat mengikuti Raden Mandasia yang masih tertawa-tawa, hlm. 18

 

Salah satu yang memilih tunduk adalah Banjaran Waru, kerajaan yang dipimpin barisan monyet pengecut yang jahanamnya satu trah denganku, hlm. 199

 

Pada beberapa kesempatan, kata makian yang digunakan cukup lucu: Tapir Pincang =D

 

Hal lain yang saya amati, buku ini sangat sedikit menceritakan tentang perempuan, hanya ada Nyi Banyak, Melur, Nyai Manggis, Mayssa, Putri Tabassum, Zahra si Tukang Tenung, Dewi Sinta dan Dewi Landep. Kecuali Nyi Banyak, tokoh-tokoh perempuan ini pun hanya hadir sebagai objek seksual belaka.

 

Namun demikian, terlepas dari umpatan serta beberapa adegan kekerasan dan seksual yang terlalu detail, seperti layaknya cerita dongeng yang kadang too good to be true, (namun karena itulah kita semua menyukai dongeng), kisah dalam buku ini pun menyimpan beberapa pesan moral atau pelajaran yang bisa diambil:

1.    Jangan berhenti belajar apapun, diceritakan bahwa Sungu Lembu ini adalah anak yang sangat rajin belajar, ia adalah pembaca yang rakus, murid yang banyak bertanya, namun juga pesilat yang tangguh. Kemampuan otaknya berbanding lurus dengan ketangguhan fisiknya. Ia juga dianugerahi dengan ingatan lidah, sanggup memetakan semua bahan dari makanan yang dicicipi sekaligus mampu mengenali segala jenis racun bahkan dalam dosis yang samar-samar. Tentu saja ini adalah bakat, namun kemampuan berikutnya yaitu tahan terhadap racun hanya diperoleh melalui disiplin dan latihan keras mencicipi semua jenis racun dengan resiko kematian itu sendiri. Selain itu, ia pun ternyata sangat ambis, dalam salah satu episode perjalanan ketika berlayar, ia merasa malu karena ternyata Raden Mandasia yang kelihatannya diam saja yang berhasil menyeimbangkan laju perahu dengan merobek layar. Ia sedikit merasa terpukul ketika Raden Mandasia bilang “Aku pun belajar, Lembu”, padahal Sungu Lembu yang sibuk kesana kemari sepanjang pelayaran. Pada perjalanan selanjutnya, Sungu Lembu dengan rajin menulis catatan perjalanan, dan karena itulah ia kemudian dipercaya menjadi pencatat saat terjadi perang besar antara Gilingwesi dan Gerbang Agung.

2.  Perempuan harus juga punya kemampuan untuk bertahan hidup. Para perempuan dalam buku ini hadir dengan cerita hidup yang getir, jika bukan jadi korban perkosaan, jadi pelacur atau wanita penghibur, mereka hadir seolah jadi objek yang diwariskan. Entah jika ini karena alur cerita terjadi pada masa Nusantara yang masih berupa kerajaan-kerajaan sehingga cenderung patriarki dan begitulah adanya nasib jadi perempuan. Meskipun demikian, dari takdir yang getir, Nyai Manggis sanggup menjadi pemilik rumah dadu dan berpartisipasi dalam kelompok perlawanan terhadap rezim yang berkuasa.

3. Kekuasaan memungkinkan terjadinya perubahan yang lebih baik untuk kepentingan bersama, namun kekuasaan pun acap kali merubah orang baik menjadi orang jahat. Watugunung tidak pernah ingin jadi raja, dahulu nama kerajaan itu adalah Medang Kamulan, namun penguasanya lemah dan tak memikirkan kepentingan rakyat, ketika Watugunung diminta menjadi raja, ia melakukan banyak perbaikan di wilayahnya yang kemudian berganti nama menjadi Gilingwesi, dan memang banyak sekali kemajuan yang diperolehnya. Gilingwesi berkembang menjadi kerajaan yang besar, makmur dan sejahtera.  Namun kemajuan itu pun menumbuhkan perasaan untuk lanjut menaklukkan daerah-daerah lain di sekitarnya. Sehingga terjadilah penyerbuan ke Gerbang Agung yang sebetulnya tidak perlu dan ternyata menjadi titik balik kehancuran Gilingwesi. 

Ada harga yang harus kau bayar sebagai penguasa untuk membuat bawahanmu gembira, hlm 435.

Kami membesar tetapi mulai keropos di sana-sini. Orang-orang yang dulu baik menjadi mencong, yang pintar menjadi pemalas, yang lembut hati menjadi keji. Raden mungkin tak sempat melihatnya karena yang Raden pikirkan hanyalah menghabisiku, hlm. 442.

4.    Perang selalu membawa petaka, begitu pun ambisi untuk memperluas daerah kekuasaan. 

Raden Mandasia sangat ingin mencegah terjadinya rencana penyerangan Gilingwesi terhadap Gerbang Agung. Alih-alih terus memperluas daerah kekuasaan, ia meyakini bahwa sebaiknya Gilingwesi fokus saja pada perbaikan di dalam kerajaan. Karena banyak daerah taklukan yang sebetulnya masih menyimpan api dendam di dalam sekam, dan banyak gerakan-gerakan perlawanan yang sebetulnya belum mampu dilunakkan. Kemudian memang terbukti, penyerangan yang dilakukan terhadap Gerbang Agung menjadi titik kehancuran Gilingwesi.

Perang jarang membawa manfaat. Mungkin Ayah Prabu baru sadar sekarang, hlm. 430.

Banyak orang paham memulai perang, tapi tak pernah benar-benar paham bagaimana mengakhirinya. Tujuan awal yang semula terdengar mulia menjadi tak jelas lagi di medan pertempuran. Penjagalan makin mengerikan dari hari ke hari. Kau mengira sudah melihat sebuah kekejaman di medan perang dan merasa itulah puncaknya. Ternyata masih ada kekejaman lain yang melampaui. Begitu setiap saat, hlm. 425.

5. Ketika mengenal baik seseorang, betulkah bahwa kita sudah betul-betul mengenalnya?. Saat Raden Mandasia wafat, Sungu Lembu baru sadar bahwa ia ternyata tak tahu banyak detail tentang sahabatnya itu. 

Raden Mandasia adalah hal paling dekat yang bisa kusebut sebagai teman dan kami ternyata saling mengenal sedikit saja, hlm. 431.

Entah bagaimana potongan ini juga menghantamku begitu saja. Dalam hal hubungan dengan orang lain di sekitar, bukankah sering kita sebetulnya tak tahu apa-apa. Begitu pun juga aku kepadamu.

 

Pada cover akhir, tercetak bahwa buku ini memperoleh tiga penghargaan, Prosa Terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, Prosa Pilihan Majalah Tempo 2016 dan Fiksi Terbaik Rolling Stone Indonesia 2016. Ketiga penghargaan ini rasanya memang sangat layak sekali. Dan saya sepakat: Meminjam berbagai Khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis dan maki-makian Anda dalam waktu berdekatan-mungkin bersamaan.

 

 

Rabu, 20 Mei 2026

Resensi DARI DALAM KUBUR


 

Masa kecil saya selalu riuh dan penuh orang. Ditemani ibu-ibu bercaping yang menjemur padi di pekarangan rumah yang seperti lapangan kecil, dan di lain hari saat semua padi sudah selesai dijemur, ibu-ibu yang sama ini juga yang akan sibuk membantu Ne Haji “olah”, ini adalah istilah yang merujuk pada kegiatan membuat jenis makanan tertentu dalam jumlah banyak. Makanan yang biasa dibuat biasanya sejenis renginang, opak, kicimpring, kemplang, juga makanan-makanan tradisional lainnya yang dibuat dari hasil bumi dan memerlukan waktu sangat lama dalam pengolahannya. Ada satu ruangan khusus tempat penyimpanan makanan di rumah kami, namanya ‘goah’, sejenis kamar biasa, tapi literally isinya hanya makanan, dan entah bagaimana kamar itu tak pernah kosong. Selalu ada segala kriuk-kriuk yang saya sebut diatas termasuk bernyiru-nyiru ulen, bertandan-tandan pisang, dan entah apa lagi dalam kaleng besar-besar. Termasuk diantara kegiatan “olah” itu adalah juga membuat minyak goreng dan gula aren. Aki memang punya beberapa pohon kelapa dan pohon nira yang hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng dan gula aren di rumah sepanjang tahun. 

Seiring bertambahnya usia, saya tahu, ibu-ibu ini adalah para penggarap yang mengolah sawah nenek, jumlahnya puluhan karena biasanya penggarap sawah itu termasuk suami istri. Diantara para penggarap ini ada satu yang termasuk paling sering hadir membantu olah di rumah kami, kami biasa memanggilnya Ma Engkar, setelah cukup besar, saya baru tahu bahwa nama lengkapnya Ma Engkar Kartini, nama yang berima, khas Sunda sekali. Sambil menghadapi tungku api dan wajan berukuran besar, Ma Engkar akan mengerjakan tugasnya sambil berbincang dengan saya, anak kecil yang kala itu selalu ingin ikut membantu (baca: ngerecoki) apa saja. Dari sekian banyak perbincangan kami, ada satu yang sampai sekarang masih saya ingat: “cerita tentang PKI”. 

Suara Ma Engkar memberat saat menceritakan aksi PKI yang konon terjadi waktu beliau masih kecil (ajaibnya, sepanjang ingatan saya kala itu Ma Engkar sudah tua, tapi tidak bertambah tua lagi bahkan setelah 30 tahun berlalu dan kami bertemu kembali dalam versi saya yang justru sudah menua). Menurut ceritanya, seluruh PKI itu jahat, mereka membantai banyak sekali ajengan di desa. Tapi yang paling jahat, justru kaum wanitanya PKI, kata Ma Engkar namanya Gerwani. Mereka membunuh para jenderal, dan menari-nari di depan jenazah yang sudah mereka bunuh, selain itu para Gerwani pun menjadi milik bersama para pria PKI. Saya ingat, cerita itu cukup membuat saya jeri sehingga akhirnya dengan kesadaran penuh saya minta Ma Engkar mengganti cerita.

Berpuluh tahun kemudian, saat membaca buku ini, entah bagaimana yang pertama terbersit di benak saya justru adalah kenangan tentang Ma Engkar dan cerita Gerwaninya.

 

Judul buku                : Dari Dalam Kubur

Penulis                      : Soe Tjen Marching

Penerbit                    : CV. Marjin Kiri

Jumlah Halaman      : 508 halaman


Kisah ini bukan fiktif belaka. Nama tokoh, tempat dan peristiwa bahkan lebih nyata dari segala kisah nyata.


Buku ini merupakan hasil rekomendasi yang saya dapat dari salah satu akun klub buku, membaca banyak ulasannya, saya merasa harus beli. Namun sayangnya, buku ini ternyata cukup langka, saya harus ikut pre order dan perlu waktu tiga bulan untuk buku ini kemudian sampai di tangan. Ketika mulai membaca, saya merasa perlu berterima kasih kepada yang sudah merekomendasikan buku ini, karena buku ini ternyata luar biasa, bagus bagus banget, meskipun saat membaca buku ini saya frustasi sekali, harus berhenti berkali-kali, mengusap mata yang tetiba basah, dan menguatkan hati untuk melanjutkan membaca lagi, karena untuk saya buku ini terlalu sarat emosi, dan ceritanya jauh lebih jeri dari cerita Ma Engkar yang saya dengar waktu kecil.

Jika diringkas, buku ini bercerita tentang sebuah keluarga Tionghoa yang menjadi korban kerusuhan politik tahun 1965. Uniknya, buku ini menceritakan sudut pandang seluruh anggota keluarga yang kemudian dituangkan dalam lima bagian buku: Karla, Mama, Papa, Metamorfosa dan Laire.

Bagian pertama Karla, merupakan bagian paling panjang dalam buku, menceritakan kisah dari sudut pandang Karla, anak perempuan Djie Feng. Bagian ini terasa sangat personal karena menceritakan rumitnya hubungan anak perempuan dengan ibunya. Baru mulai sudah begitu darderdor, tak tanggung-tanggung, cerita dibuka dengan Karla yang ingin membunuh ibunya. Namun kemudian, seiring cerita, entah bagaimana kita terseret pada emosi Karla dan akhirnya memahami bahkan memaklumi kenapa Karla begitu membenci ibunya, sosok yang sempat Karla puja ketika masih kecil.

Pada bagian ini pula, kita akan dibawa untuk menyelami bagaimana sentimen rasis  terjadi begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari, dan ia hadir dalam berbagai bentuk, dari mulai celetukan atau sindiran halus, sampai pada pengucilan dan menggembung menjadi insiden besar berupa penjarahan. 

Dalam halnya Karla, kebenciannya yang berlarat-larat pada ibunya, membuat ia menafikan juga identitasnya sebagai keturunan Tionghoa, sehingga ketika cerita mulai menyentuh tragedi 1998 dimana bukan hanya terjadi penjarahan terhadap rumah-rumah, tapi juga terjadi pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Tionghoa, hati Karla tak tersentuh dan bahkan ia malah bersyukur karena tak ikut menjadi korban.

Pada bagian kedua, Mama, kita akan membaca kisah dari sudut pandang Djie Feng, ibu Karla yang kemudian berganti nama menjadi Lydia Maria. Pada bagian ini kita bukan hanya akan mengerti, tapi juga bersimpati dan akhirnya membenarkan semua tindakan yang ia lakukan terhadap Karla. Djie Feng ternyata adalah mantan tahanan politik yang masuk penjara dengan suka rela untuk menggantikan adik iparnya, Lan Ing yang dianggap dekat dengan anggota Gerwani (Widya, Ratna, Fan, Bu Yatmi). Padahal anggota Gerwani inilah yang sudah menyelamatkan Lan Ing dari KDRT dan memberikan jalan keluar untuk Lan Ing mencari penghidupan. 

Pada bagian kedua ini, saya mendapat gambaran bahwa kegiatan Gerwani sebetulnya adalah kegiatan yang positif, mereka mengajarkan baca tulis, membangkitkan kesadaran politik pada kaum perempuan, juga memberikan solusi ketika terjadi kasus KDRT. Namun propaganda membuat mereka menjadi sosok yang menari telanjang dan membunuh para jenderal. 

Beberapa artikel harian Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha bertanggal 7 Oktober sampai 11 Oktober menyiarkan bahwa para Gerwani telah memerkosa, mencungkil mata para jenderal dan melakukan kekejian luar biasa lainnya: "Ada yang dipotong kelaminnya". (halaman 245)

Penculikan dan penahanan yang dilakukan terhadap mereka juga membuat mereka ada pada posisi dijauhi semua orang, tak ada yang mau menolong. 

Karena dicurigai Gerwani saja sudah cukup untuk membuatnya layak diperkosa, dibunuh, disiksa, dan dibuang kayak binatang, (halaman 323)

Pada bagian ini saya teringat pada cerita Ma Engkar, dan itu tentu bukan kesalahan Ma Engkar, saya yakin mungkin bukan hanya Ma Engkar, tapi juga banyak orang lagi yang segenerasi dengannya sudah termakan propaganda tersebut. 

Kisah pada bagian Mama ini menjadi bagian yang paling traumatis dalam buku ini. Pemerkosaan dan penyiksaan yang terjadi selama penahanan pada semua tahanan perempuan diceritakan dengan begitu lugas, tak ada sama sekali upaya penghalusan bahasa sehingga saya ikut mual, ikut frustasi, dan pada satu titik ikut juga merasa ingin bunuh diri.

Panas luar biasa itu membakar kulit saya, kemudian disusul oleh yang lain: puntung-puntung rokok itu menancap di leher, perut, payudara, bahkan puting saya. Tubuh saya mengepul dengan bau kulit dan daging terbakar, dia mendesis pelan: “Ayo ngaku...lonte Cina...ngaku...” diikuti teriakan sipir-sipir lainnya mengingatkan saya pada pesta suku Indian dalam buku-buku Winnetou. (halaman 286)

Setelah semalam dia mengunyah tubuh-tubuh kami dengan buas dan bernafsu, esoknya dia meminta kami duduk untuk mendengar petuahnya tentang Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Keadilan, Tentang bagaimana bejatnya diri ini, bagaimana kami harus menjadi manusia yang bermoral dan beradab. Suaranya menggelegar: “Ulang kata-kata saya, PANCASILA...” (halaman 289)

Keluar dari penjara, Djie Feng ternyata hamil, dan ironisnya semua orang melarang ia mengaborsi kandungannya. 

Perut saya tambah besar. Saya bunting lagi, dan tentu saja sponsornya bukanlah Han. Ketua RT yang menceramahi saya setiap bulan, juga terlihat bergairah karena dia bisa menyemprot: “Orok dari mana? Barang laki mana saja sudah masuk ke sana?” Saya sudah belajar untuk menunduk sambil mematikan rasa. (halaman 313)

Mereka tak peduli pada hancurnya dan robeknya tubuh saya, pada darah yang berceceran di mana-mana.

Kelahiran dianggap rahmat dan melahirkan adalah kodrat. Karena wanita harus jadi ibu. Siapa pun yang meratapi hal ini adalah perempuan yang ndak tahu diri.

Saya yakin hanya manusia kuatlah yang sanggup menahan payahnya mengandung anak si pemerkosa selama sembilan bulan dan tetap mencintai si anak yang ketika lahir ternyata begitu mirip penjahat itu. Bukan salah Djie Feng jika dalam perjalanannya ia menjadi begitu keras pada Karla, bagaimana pun ia hanya manusia biasa, tapi dengan kapasitasnya sebagai manusia biasa ia sudah menunjukkan hati yang begitu luas. Dan melihat dari sudut pandangnya, semua yang ia lakukan ternyata semata untuk kebaikan Karla. Mungkin ini juga menjadi pembelajaran, bahwa suatu kisah apapun itu, tak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja, karena ketika dilihat secara utuh dari semua sudut pandang, konteks bisa berubah, sehingga tak lagi hanya ada hitam dan putih semata.

Sejujurnya, saya cukup kesulitan mereview, saking kayanya pembahasan dalam novel ini. Kamu akan menemukan sejarah gelap yang sampai saat ini belum diakui oleh mereka yang bertanggung jawab. Tentang satu tragedi setara genosida, tentang penghapusan paksa mereka yang dilabeli PKI. Anggap saja buku ini adalah salah satu upaya untuk merawat ingatan, karena entah berapa generasi sudah tak mampu lagi mengenali sejarah dengan utuh. Kamu akan menemukan diskriminasi rasis yang saking nyatanya kamu baru akan tersadar memang seperti itulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kamu akan menemukan pemaksaan terhadap tubuh dan rahim perempuan, serta upaya luar biasa untuk berdamai dengan ingatan yang menyakitkan. Kamu juga akan menemukan banyak sekali kritik terhadap pemerintah.

Modal negeri ini sudah digadaikan dengan murah kepada asing oleh germo-germo yang berhasil menjadi pejabat tinggi. Tambang-tambang bangsa ini bakal segera dikeduk dan diboyong keluar dengan pembagian yang sama sekali ga adil. Hanya kantong para germo itulah yang makin mengembung. Ya pasti, zaman ini rasanya lebih makmur karena banyak duit. Tapi rakyat ga bakal sadar kalau modal mereka sudah hilang. Seperti juga orang yang menjual rumah mereka bakal punya uang berlimpah tapi ga ada lagi persediaan untuk anak cucu mereka di masa depan. Ga bisakah mereka sadar hal ini?(halaman 354)

Buku ini membuat saya meninjau ulang kembali pengetahuan hampir seperti dogma yang saya peroleh seputar apa yang terjadi pada tahun 1965. Karena itu pula, usai menamatkan buku ini saya langsung memesan buku Soe Tjen Marching lainnya: Yang Tak Kunjung Padam.

Sabtu, 16 Mei 2026

Resensi THE BOOK OF LOST THINGS (KITAB TENTANG YANG TELAH HILANG)


 

Judul Buku                 : The Book of Lost Things (Kitab Tentang yang Telah Hilang)

Pengarang                  : John Connoly

Alih Bahasa                : Tanti Lesmana

Penerbit                      : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Jumlah Halaman        : 472 halaman

 

Dongeng ini diperuntukkan bagi orang dewasa, terutama yang masih ingat saat-saat ketika masa kanak-kanak mulai berlalu dan jalan menuju kedewasaan telah terbentang.

Buku ini saya dapatkan sebagai hadiah milad dari sahabat saya pada tahun 2015, dan yang saya ingat, ini buku dongeng paling aneh yang pernah saya baca. Jadilah ketika saya menemukan buku ini lagi saat membereskan rak buku, saya memutuskan untuk membaca ulang. Dan buku ini memang page-turner banget, seseru itu, saya menamatkannya hanya dalam waktu satu hari, itu pun karena disela kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah yang memang selalu ada, seperti memasak dan sebagainya. 

Kisah bermula tentang seorang anak laki-laki bernama David, yang kemudian ditinggalkan wafat oleh ibunya karena sakit. Kehilangan dan perasaan berduka yang amat sangat membuat David harus berkonsultasi dengan psikiater di kotanya (Dr. Moberley), namun dalam sesi-sesi konsultasinya, David tidak pernah mengatakan bahwa ia mendengar buku-buku berbicara. 

David memang sangat menyukai buku, untuk David, buku adalah hal yang menjaga ingatan tentang ibunya, karena sama seperti David, ibunya pun penyuka buku cerita dan dongeng-dongeng kuno, berkebalikan dengan ayahnya yang juga suka membaca namun bacaan dalam jenis lain. Baru saat membaca ulang buku ini lagi, saya paham ayah David adalah seorangan matematikawan dan pekerjaan ayahnya adalah memecahkan sandi pasukan Jerman. Cerita ini memang berlatar belakang Inggris saat terjadi perang dunia kedua.

Belum lama setelah ditinggal wafat oleh ibunya, David harus menerima bahwa ayahnya ternyata menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Rose dan ia akan segera punya adik. Dan mengantisipasi serangan Jerman, David kemudian harus ikut pindah ke rumah keluarga Rose yang jauh dari pusat kota, rumah besar yang bersebelahan dengan hutan, dan David mendapat kamar di lantai atas yang penuh dengan buku. Belakangan David mengetahui bahwa kamar yang ia tempati ternyata adalah kamar paman buyut Rose, Jonathan Tulvey yang telah lama menghilang bersama Anna, adik angkat perempuannya. Dan buku-buku di kamar itu sebagian besar memang buku-buku milik Jonathan.

Setelah pindah ke kamar itu, David merasa semakin sering mendengar gumam buku-buku berbicara, seolah kisah-kisah dalam buku-buku tersebut sedang menunggu untuk dihidupkan kembali. Dan ia pun sering bermimpi dan bahkan melihat sesosok aneh laki-laki bertubuh bungkuk. Tak jarang dalam mimpinya ia juga melihat sebuah negeri lain yang sedang menanti raja baru. Dan yang tak kalah aneh, David merasa mendengar suara ibunya memanggil-manggil, meminta diselamatkan.

Diceritakan pula bahwa David tak akur dengan Rose, dan ketidakakuran itu semakin menjadi-jadi setelah Rose melahirkan Georgie. Pertengkaran mereka kemudian mencapai puncaknya dan akhirnya mendorong David mengikuti suara ibunya yang memanggil-manggil dan menuntunnya ke dunia lain yang ternyata tersembunyi di balik kebun cekung rumah Rose.

Dan petualangan David pun dimulailah. Negeri lain ini ternyata sangat menakutkan, baru saja datang, ia yang kebetulan bertemu dengan seorang laki-laki yang kemudian disebut Si Tukang Kayu, sudah harus berhadapan dengan segerombolan manusia serigala yang disebut Kaum Loup. Selamat dari mereka, Si Tukang Kayu kemudian bercerita tentang makhluk-makhluk aneh yang tiba-tiba saja muncul, karena konon Raja yang menguasai negeri itu sudah hampir kehilangan pengaruhnya dan sedang mencari pengganti.

David dianjurkan untuk pulang, negeri itu tak aman untuk David, namun kemudian, pohon yang menjadi pintu masuk David ke negeri itu tak bisa ditemukan, sehingga si Tukang Kayu kemudian menyimpulkan, David adalah bagian dari cerita di negeri itu. Akhirnya Tukang Kayu memberikan saran, David harus menemui Raja, karena konon katanya Raja mempunyai sebuah Kitab yang berjudul Kitab tentang yang Telah Hilang, kitab itu sangat berharga untuk Raja, mungkin saja kitab itu berisi peta seluruh negeri yang bisa menunjukkan bagaimana cara agar David bisa pulang kembali ke rumahnya. (Belakangan baru diketahui bahwa kitab ini ternyata 'hanyalah' buku harian Jonathan ketika kecil sebelum masuk ke negeri ini).

Tukang Kayu memutuskan untuk mengantar David, namun baru saja memulai perjalanan, Tukang Kayu sudah harus mengumpankan dirinya kepada para Loup yang mengejar David, jadilah David harus melanjutkan perjalanannya seorang diri. Entahlah, jika ada dalam posisi David, mungkin saya tak akan sanggup, bayangkan saja, harus berjalan sendirian melintasi negeri asing yang aneh dengan banyak makhluk tak terduga,  tanpa bekal apapun.

Membaca buku ini kedua kali, mau tidak mau saya merasa kagum pada perkembangan karakter David, ia datang ke negeri itu sebagai seorang anak laki-laki kecil yang getir karena kehilangan ibunya, sedang sangat cemburu pada adik tirinya, penuh dengan kebencian dan kemarahan pada ibu tirinya. Namun dalam perjalanan penuh bahaya dan sendirian itu, ia bertransformasi menjadi sosok yang cerdik dan pemberani. Kesedihan dan kemarahannya entah bagaimana bertransformasi menjadi kekuatan yang menuntunnya untuk tetap tangguh dan berpikir jernih bahkan pada saat-saat genting yang mengancam nyawa. Dan terbukti, pengetahuan dari buku-bukunya membantu, pada beberapa kesempatan ia berhasil lolos dari kejadian berbahaya berbekal cerita dari buku-buku yang sebelumnya ia baca, contohnya saat ia harus memilih dari dua jembatan yang dijaga troll, mana jembatan yang harus dipilih ketika satu troll suka berbohong sementara troll yang lain jujur. Ia mengajukan pertanyaan pada salah satu troll itu: "Apa yang akan dikatakan temanmu di jembatan seberang jika kutanyakan, jembatan mana yang aman untuk dilalui?", membaca bagian ini saya jadi teringat bahwa ini memang cerita yang cukup terkenal, jika tidak salah, ini satu cerita yang kurang lebih sama dari kisah Abu Nawas.

Negeri ini ternyata memang sangat aneh, ketakutan-ketakutan bawah sadar mewujud menjadi makhluk-makhluk di dunia nyata: kaum Loup ternyata adalah wujud ketakutan Raja, dan David sendiri yang takut pada cacing besar raksasa, penyihir dalam kastil dan pria penyuka sesama jenis ternyata bertemu ketiganya di negeri ini. Dengan imbalan akan diantar sampai ke tempat Raja, David setuju menjadi pengawal seorang ksatria bernama Roland yang sedang dalam perjalanan mencari Raphael (pria muda yang ternyata sangat dicintainya), menuju kastil penyihir yang dituju Raphael untuk membuktikan diri, dan untuk mendapatkan bekal dalam perjalanan, mereka membantu penduduk desa untuk membunuh cacing raksasa.

Di balik bayang-bayang, ada satu tokoh antagonis yang ternyata mengendalikan jalannya keseluruhan cerita, ialah si Lelaki Bungkuk, makhluk tua yang punya banyak nama sekaligus juga mungkin tak punya nama, Tukang Kayu menyebutnya Makhluk Jail, tapi sesungguhnya ialah  penguasa sejati di negeri itu, bukan sang Raja.

Di penghujung cerita, David menemukan bahwa ternyata Raja adalah Jonathan Tulvey, ia menjadi penguasa bayangan di negeri ini sebagai pertukaran kesepakatan dengan Si Lelaki Bungkuk, ia hanya perlu menyebutkan nama Anna adiknya dengan penuh kebencian, dan membawa sang adik ikut ke negeri itu, tanpa tahu bahwa setelah itu, si Lelaki Bungkuk akan memakan jantung Anna, dan mendapat tambahan usia sebanyak jatah umur Anna.

Jonathan mendapatkan kekuasaannya dari pengkhiatan terhadap adiknya yang lebih lemah yang seharusnya dilindungi, maka meskipun menjadi raja, ia tak pernah merasa bahagia sepanjang hidupnya. Dan kini Jonathan sudah mendekati akhir usianya, begitu pun si Lelaki Bungkuk yang terikat pada usia Jonathan, maka untuk dapat meneruskan hidup, si Lelaki Bungkuk harus mencari korban lainnya, seorang anak yang memiliki cukup kebencian sehingga sanggup menyerahkan sasaran kebenciannya sebagai pertukaran terhadap kekuasaan sebagai raja.  Melihat kondisi David yang hampir sama dengan Jonathan, sama-sama punya adik baru yang dianggap akan merebut kasih sayang orang tua, si Lelaki Bungkuk pun menawarkan posisi raja kepada David dengan syarat yang sama, David harus membawa Georgie dan menyebutkan namanya sebagai syarat kesepakatan. Sayangnya David yang sudah mengetahui keseluruhan fakta, memutuskan menolak tawaran itu pada detik-detik yang menentukan, sehingga Lelaki Bungkuk yang tak memperoleh perpanjangan usia lalu musnah, dan begitu pun kastilnya. 

Singkat cerita, David akhirnya bisa kembali pulang, bertemu kembali dengan ayahnya, dan jadi begitu menyayangi Rose dan Georgie. Diceritakan bahwa David meneruskan hidup sampai tua dan di ujung usianya ia memutuskan kembali masuk ke negeri aneh itu, di negeri itu ia bertemu kembali dengan Tukang Kayu yang ternyata adalah ayahnya sendiri, dan juga bertemu dengan istri dan anaknya yang telah wafat lebih dulu. 

Buku ini  termasuk ke dalam salah satu buku yang mengesankan untuk saya. Meskipun beberapa cerita di dalamnya sangat gelap, namun cerita itu menetap di sudut kepala, memesona dengan caranya sendiri. 

Oh ya, sebelum lupa saya ingin menyampaikan informasi tambahan yang 'penting banget': dalam buku ini sama sekali tidak ada kata pengantar, ucapan terima kasih penulis, pengantar penerbit atau glossary atau tambahan apa pun sebagaimana umumnya sebuah buku, buku ini benar-benar berisi keseluruhan inti cerita saja tanpa tambahan apapun selain halaman judul, informasi penerbitan, dan dua puisi pembuka di halaman pertama.

Senin, 11 Mei 2026

Sinopsis SEORANG ANAK YANG BERSEMBUNYI DI BALIK TOPENG SUPERHERO


Judul Buku            : Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero

Penulis                   : dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ

Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Jumlah halaman    : 246 halaman


Kamu mungkin bertanya, “Apakah aku pantas jadi superhero?”

serius, nih?

coba lihat ke belakang, ke semua perjalanan yang sudah kamu lalui,

orang yang sudah kamu bantu,

kata baik yang pernah kamu ucapkan,

hewan yang pernah kamu berikan makan,

tanaman yang pernah kamu siram,

dan diri sendiri yang telah kamu jaga selama ini.

Kamu sudah menjadi superhero. 

Kamu pun melakukan itu semua dengan segala keterbatasanmu. Itulah yang membuatmu menjadi super. (hlm. 246)

 

Dimulai dari buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring, akhirnya saya jadi penggemar bukunya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ. Jadilah setiap beliau mengeluarkan buku baru, saya pasti langsung beli. Judulnya memang selalu unik-unik, bukunya yang kedua berjudul Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya, dan buku yang ketiga: Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero. 

Buku ketiga ini bukan hanya judulnya saja yang menarik, tapi cover-nya juga, di bagian depan ada sesosok anak kecil yang sedang bermain superhero-superheroan, lengkap dengan pedang mainan, jubah dan ikat kepala.

Di sebelah anak kecil tersebut ada frame foto yang menampilkan superhero beneran. Menariknya ketika lembar cover dibuka ternyata frame foto itu adalah lubang yang menampilkan si superhero,  lembaran dibaliknya menampilkan gambar utuh si anak yang sama, namun terlihat sedang ketakutan dan berlindung pada si superhero yang melawan naga api. 


Menurut saya cover buku ini sudah dipilih dengan seksama dan terbukti sangat berhasil menggambarkan isi buku. Tak cukup sampai disitu, bahkan pembatas bukunya sendiri menyerupai topeng mainan yang banyak dijual depan sekolah SD dulu lengkap dengan lubang di kedua sisinya yang bisa dipasangi karet gelang untuk diselipkan di telinga.


Topeng mainan ini sengaja berwarna putih agar bisa digambar dan diwarnai sesuai dengan keinginan. Ini topeng saya yang sudah diwarnai =D


Hal lain yang mengesankan dari buku-bukunya dr. Andreas adalah Kata Pengantar, jika buku-buku lain biasanya dibuka dengan kata pengantar yang membosankan dengan template yang sama (biasanya saya cenderung skip bagian kata pengantar =D), tapi bagian kata pengantar dalam ketiga buku dr. Andreas selalu menjadi pembuka buku yang  menarik untuk dibaca, biasanya diawali dengan cerita yang kemudian benar-benar mengantarkan pembaca kepada isi buku. Saya menemukan satu bagian yang menarik dalam kata pengantar buku ini: Aku menyadari bahwa identitas bukan sesuatu yang ditemukan -itu adalah sesuatu yang kita bentuk dengan segala pilihan kita, dan pilihan orang-orang lain di sekeliling kita. Buku ini membahas tentang mengenali diri sendiri: kita ini siapa dan ingin menjadi seperti apa? (hlm xviii).

Masuk ke isi, buku ini terdiri dari dua belas bagian yang dimulai dengan angka 1 sampai 12, ditambah dengan empat bagian yang saya perhatikan menjadi bentuk baku dalam buku-bukunya dr. Andreas: (1) Epilog (dalam buku ini judulnya Tutorial Menulis Surat untuk Inner Child); (2) Bacaan Lebih Lanjut; (3) Ucapan Terima Kasih dan; (4) Tentang Penulis.

Bagian pertama berjudul Kenapa Harus Dilahirkan, pertanyaan ini ternyata adalah pertanyaan yang paling sering disampaikan pasien dalam sesi konsultasi, “Kenapa kita harus dilahirkan di dunia?, padahal kita tidak pernah minta dilahirkan”. Lalu dengan bijak buku ini akan menyarankan padamu bahwa mungkin kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tetapi kita memiliki kekuatan untuk menciptakan makna dan keberuntungan dalam hidup kita sendiri (hlm 19).

Bagian kedua berjudul Anak Kecil yang Nyasar di Rumah Sendiri,  bagian ini bercerita tentang salah satu pasien bernama Stelora, seorang ibu berusia 34 tahun dengan gangguan kecemasan yang ternyata merupakan peninggalan dari pola asuh dan luka masa kecil yang belum sembuh. Entah bagaimana, saya yakin banyak sekali dari kita (bahkan mungkin saya sendiri) yang sebetulnya merupakan Stelora-Stelora lain dengan luka yang beragam.

Bagian Ketiga berjudul Seorang People Pleaser yang Merasa Berdosa Saat Membangun Boundaries. Dari buku pertama, buku-bukunya dr. Andreas  banyak sekali bicara tentang teori-teori psikologis yang disampaikan dengan ringan dan mudah dicerna, sehingga sejujurnya saya banyak sekali belajar dari buku-bukunya beliau. Dari buku ini, saya menemukan bahwa menurut Adam Grant terdapat tiga jenis manusia: giver (pemberi) yaitu orang yang cenderung memberikan sesuatu atau membantu orang lain, taker (penerima) yang merupakan kebalikan dari giver dan selalu berusaha mendapatkan sesuatu dari orang lain, dan matcher (penyeimbang), karakter unik yang bisa memberi namun juga bisa menerima. Ini sebetulnya relate dengan ungkapan yang cukup sering beredar di sosmed: “orang ngga enakan biasanya ketemu sama orang ngga tau diri”, ditinjau dari teori Adam Grant ini, mungkin maksudnya giver yang selalu ingin memberi ketemunya sama taker yang selalu mau diberi. 

Dalam dunia kerja orang paling sukses dan paling tidak sukses ternyata adalah giver, yang membedakan adalah giver yang tahu batasan menjadi yang paling sukses sementara yang cenderung  mengorbankan diri dan menjadi people pleaser akan selalu jadi korban yang dimanfaatkan orang lain. Tanpa boundaries, giver ini menjadi people pleaser yang ternyata sangat tidak sehat. Maka berani mengatakan “tidak” pada permintaan orang lain sebetulnya adalah salah satu bentuk self respect, karena ternyata kemampuan untuk mengatakan “tidak” merupakan salah satu sikap yang harus dilatih. Intinya, buatlah boundaries, berani mengatakan tidak, tetaplah jadi orang baik tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Bagian Keempat berjudul Kita Semua Mengenakan Topeng, bab ini bercerita tentang pasien lain bernama Victor dan dalam bagian ini juga diterangkan konsep persona dan shadow yang digagas oleh Carl Jung. Dalam konsep persona, diri kita yang apa adanya disebut self, namun dalam interaksi dengan orang lain, kita perlu mengenakan sebuah topeng yang disebut sebagai persona, dan persona ini berubah-ubah bukan karena plin-plan melainkan fleksibel sesuai dengan peran kita, sebagai dokter atau guru, sebagai istri atau suami, sebagai anak atau orang tua.

Yang menjadi masalah adalah ketika beberapa topeng terasa lebih sesak untuk dikenakan dibanding topeng lainnya, ketika kita mengenakan topeng yang sama di semua situasi dan ketika kita mengenakan suatu topeng tanpa menyadari topeng apa yang dikenakan atau dengan kata lain kita  terlalu erat memegang topeng yang menurut Jung bukanlah diri sejati kita.  Dan mengenakan topeng ini ternyata tidak gratis, ada harga yang harus dibayar dan harga tersebut biasanya ditekan ke dalam suatu ruangan bernama shadow, contoh kecil: orang dengan topeng penyabar akan menekan marahnya ke dalam shadow, dan sayangnya shadow ini pun seperti gudang yang punya kapasitas penyimpanan dan dalam batas tertentu bisa meledak juga. Saran di akhir bagian menyatakan bahwa pada waktu-waktu aman, belajarlah untuk melepas semua identitas, untuk kemudian menyadari bahwa di balik semua label dan topeng, kamu adalah manusia yang sedang belajar menjadi utuh (hlm. 69).

Bagian Kelima berjudul Mencintai Orang Asing di Dalam Cermin. Pada bagian ini diceritakan bahwa pada tahun 1970 an seorang psikolog Austria bernama Heinz Kohut menyatakan bahwa seorang anak perlu memenuhi tiga kebutuhan agar menjadi utuh: mirroring needs (kebutuhan untuk divalidasi), idealizing needs (kebutuhan untuk memiliki role model), dan twinships needs (kebutuhan untuk menemukan kembaran). Ketika dalam perjalanan hidup ternyata kita tidak dibesarkan dalam lingkungan yang memenuhi ketiga kebutuhan itu, maka menjadi tanggung jawab diri kita sendiri untuk memenuhinya. ‘Mulailah dengan mencintai refleksi yang kamu temukan di dalam cermin. Mungkin kamu mengatakan, “Aku tidak tahu cara mencintaiku diriku!’ Jika demikian pun, tidak apa. Mulailah berkenalan dulu dengan sosok itu. Meminjam istilah Kunto Aji, temuilah kembali “Orang asing dalam cermin’ itu. Bukankah kita berkenalan dahulu, baru jatuh cinta?, hlm 81.

Bagian keenam berjudul Warisan Itu Bernama Trauma. Saya menemukan banyak sekali fakta menarik ketika membaca bagian yang ini, pertama saya baru tahu bahwa trauma ternyata berasal dari istilah medis, bukan istilah psikologis. Menurut kamus Merriam-Webster, trauma adalah sebuah cedera pada jaringan yang diakibatkan sebab dari luar. Trauma berarti luka atau benturan. Respons tubuh terhadap trauma yang diterjemahkan sebagai rasa sakit ternyata bertujuan untuk melindungi diri dan juga sebagai survival agar di kemudian hari kita tidak mengulangi tindakan serupa. Selain trauma fisik, trauma psikologis pun ternyata berdampak sama. Kedua, saya juga baru tahu bahwa ternyata ada kosa kata baru: menyakutkan yang merupakan gabungan dari menyakitkan dan menakutkan (ini kosa kata baru ciptaan dr. Andreas sendiri hehehe...). Ketiga, trauma menyebabkan suatu fenomena yang disebut speed-accuracy tradeoff, yang artinya kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa sejarah pasti berulang. Dengan kata lain kita terlalu cepat memprediksi sesuatu berdasarkan data dari masa lalu. Sayangnya otak manusia selalu membuat prediksi yang belum tentu benar, dan sayangnya ketika prediksi dibuat, tanpa sadar kita berusaha membuktikan prediksi tersebut. Contoh sederhananya, ketika saya pernah bertemu dengan orang berusia lanjut yang cenderung bawel dan ikut campur, dengan mudah saya akan membuat prediksi bahwa semua orang lanjut usia itu bawel dan ikut campur.

Kelima, saat menghadapi kondisi yang traumatis, ada tiga hal yang akan kita lakukan: satu, mencari bantuan atau dukungan sosial, kedua, ketika tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan kita akan masuk mode kedua: fight or flight, ketiga ketika tidak bisa melawan ataupun melarikan diri kita masuk ke kondisi freeze atau membeku.

Keenam, ada trauma yang diwariskan antar generasi, dan menjadi tugas kitalah untuk memutus trauma transgenerasi tersebut.

Bagian Ketujuh berjudul Tutorial Merapikan Rumah yang Berantakan, rumah yang dibahas pada bagian ini adalah rumah dalam arti fisik juga dalam arti psikis. Karena ternyata bukan hanya rumah fisik yang bisa terdiri dari kompartemen-kompartemen dan berantakan, tapi pikiran juga. Langkah-langkah untuk merapikan rumah adalah: (1) Merencanakan sebelum membersihkan; (2) Benda lama: simpan, buang atau ganti; (3) Selesaikan satu sudut dalam satu waktu; (4) Gunakan alat yang tepat sesuai masalahnya; (5) Cari bantuan, jangan lakukan sendirian; (6) Berikan sentuhan baru; (7) Rawat dan pertahankan kebersihan rumah.

Bagian kedelapan berjudul Seorang Pilot Helikopter yang Pelupa. Bagian ini menjelaskan tentang identitas dengan cara yang amat sangat tidak biasa. Kita sudah tahu bahwa dr. Andreas adalah seorang dokter jiwa dan penulis, tapi bagaimana kalau ia pun mengklaim sebagai seorang pilot helikopter?, bukankah sah saja ia mengaku sebagai pilot helikopter. Disini kita berkenalan dengan konsep identitas palsu atau asli, dalam hal identitas profesi, identitas real or fake ini dinyatakan salah satunya dengan sertifikat atau ijazah. Dalam psikologi, identitas merupakan gabungan dari persepsi diri dan perilaku yang konsisten. Contoh sederhananya ketika kita menyatakan bahwa kita pelupa, diikuti dengan perilaku sering ketinggalan barang, maka “pelupa’ sudah menjadi identitas kita. Namun jangan khawatir karena identitas bisa diubah.

Bagian kesembilan berjudul Cara Memaafkan Kesalahan Seorang Petani Stroberi. Sejujurnya saya agak kesulitan mensarikan bagian ini, tapi untuk cepatnya tiga kalimat berikut sepertinya mewakili:

  1. Generasi stroberi mungkin dicap lemah dan kurang tahan banting, tapi bukankah yang menciptakan mereka adalah petani stroberi (generasi sebelumnya) yang sudah mendidik mereka sehingga jadi seperti itu.
  2. Penderitaan = rasa sakit – penerimaan, salah satu teknik mengurangi penderitaan adalah dengan menerima rasa sakit itu sendiri tanpa bertanya mengapa.  (hlm 162)
  3. Penderitaan = rasa sakit x penolakan, semakin kita menolak realitas atau menolak rasa sakit tersebut, penderitaan yang kita alami jadi berlipat ganda. (hlm 162)

Bagian kesepuluh menceritakan tentang Seorang Dokter yang Membohongi Pasiennya, bagian ini untuk saya adalah bagian paling emosional dari buku ini, saya tidak akan ceritakan, karena khawatir rangkuman malah akan mengurangi makna dari keseluruhan cerita di bagian kesepuluh ini.

Selanjutnya bagian kesebelas Rantai Trauma yang Harus Diputus dan bagian ke dua belas Menjadi Inner Parent untuk Inner Child adalah bagian penutup buku yang menceritakan juga akhir kunjungan Stelora dan Victor, keduanya menunjukkan tanda-tanda sembuh dari trauma dan hal lain yang menyebabkan mereka harus datang berkonsultasi sebelumnya.

Bagian Epilog: Tutorial Menulis Surat untuk Inner Child berisi langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika kita ingin memberikan penjelasan kepada inner child di dalam diri kita tentang apa yang terjadi pada hidup kita selama ini. 

Usai menamatkan buku ini, saya rasa testimoni dari Disya Arinda yang tercetak di akhir buku memberikan gambaran yang paling sempurna: “Buku ini seperti seorang sahabat: memeluk sembari mengingatkan. Bertumbuh dengan luka masa lalu memang tidak terhindarkan, tapi tidak ada kata terlambat untuk berusaha pulih dan menentukan siapa dirimu hari ini." 

Resensi KOKOKAN MENCARI ARUMBAWANGI

  Judul Buku                : Kokokan Mencari Arumbawangi  Penulis                      : Cyntha Hariadi Jumlah Halaman      : 337 halaman P...