Minggu, 16 Agustus 2026

Resensi YANG TERSISA DARI KEMATIAN



 

Judul                                         : Yang Tersisa  dari Kematian                  

Penulis                                      : Chen Xue

Penerbit                                    : PT. Elex Media Kumputindo

Jumlah Halaman                      : 373 halaman

 

Biarlah begini saja, tetaplah di pelukanku. Biarlah begini saja untuk sesaat lagi agar aku dapat merasakan demi siapa jantung ini berdetak dan demi siapa aku ingin terus bertahan hidup. Hlm. 229.


Novel detektif pertama yang saya baca adalah Kasus-Kasus Perdana Poirot karangan Agatha Christie, berwujud buku tua tanpa halaman cover yang saya temukan di dasar lemari buku milik Aki ketika masih sekolah dasar dulu.  Dan saya terpesona oleh buku itu, mengagumi kecerdasan Poirot sampai pada satu titik sempat mengidolakannya. Setelah SMA, ketika akses terhadap buku-buku sudah lebih luas, saya masih mencari buku-buku Poirot. Barulah ketika kemudian saya berkenalan dengan Sherlock Holmes, saya mulai berpindah haluan.

Meski Poirot dan Holmes adalah dua kepribadian yang sangat berbeda, tapi ada benang merah yang hampir sama diantara kisah mereka berdua. Keduanya fokus pada metode penyelesaian masalah, pada pengungkapan siapa pelaku kejahatan sebenarnya, melalui petunjuk samar yang seringkali luput dari pengamatan polisi penyidik paling ahli sekalipun. Holmes terkenal dengan kemampuannya menarik kesimpulan dari hal-hal kecil yang ia sampaikan sendiri sebagai :”kamu hanya kurang memperhatikan”, sementara Poirot terkenal dengan obsesinya pada kerapian, pola, bentuk simetris dan metoda.

Tapi Yang Tersisa dari Kematian karya Chen Xue ini berbeda. Fokus pada buku ini bukan tentang metode pemecahan kasus meskipun yang diangkat adalah juga kisah pembunuhan. Novel yang ditulis Chen Xue ini juga berkisah tentang kematian, namun kematian tidak lantas direduksi menjadi sekedar kisah pengungkapan siapa pembunuhnya, dan dengan metoda apa ia dibunuh. Buku ini bicara jauh lebih dalam, tentang lapis-lapis psikologi manusia, tentang apa yang mendorong seseorang membunuh, dan bagaimana dampak pembunuhan itu sendiri bukan dari kaca mata keluarga korban, tapi justru dari lensa pihak-pihak lain yang terkait dengan kematian korban, termasuk anak tersangka pelaku pembunuhan, kekasih korban dan juga si pembunuhnya itu sendiri.

Cerita dibuka dengan kematian Ding Xiaoquan di kebun persik milik keluarga sahabatnya, Zhou Jiajun. Polisi kemudian menetapkan Zhou Fu, ayah Jiajun sebagai pembunuhnya. Kehidupan Jiajun hancur setelah kasus pembunuhan ini meledak, ia menjadi korban pembulian di sekolah karena dianggap sebagai anak pembunuh hingga kemudian ia dibawa bibinya untuk pindah ke tempat lain. Berkali-kali Jiajun harus menjalani pengobatan ke psikiater, dan baru membaik setelah melakukan operasi plastik dan berganti nama menjadi Li Haiyan. 

Empat belas tahun berlalu, sekuat tenaga Jiajun mengubur masa lalu, dan dengan identitas yang baru sebagai Li Haiyan,ia tumbuh menjadi gadis cantik yang ramah dan pintar bahkan kemudian mengukuhkan karirnya sebagai jurnalis investigasi yang mumpuni. Namun satu dering telepon di suatu malam mengembalikan bayang-bayang gelap masa lalu. Isi teleponnya singkat saja, hanya sebuah pernyataan bahwa si penelepon tahu Li Haiyan sebenarnya adalah Zhou Jiajun. 

Tak lama dari panggilan telepon anonim ini, terjadi lagi kasus pembunuhan dengan scene yang persis sama dengan pembunuhan Ding Xiaoquan. Merasa terpanggil untuk juga membersihkan nama baik ayahnya, Li Haiyan kembali ke Taolin untuk memulai penyelidikan. Tak disangka, dalam penyelidikan itu ia juga bertemu dengan Song Dongnian, yang dulu adalah kekasih Ding Xiaoquan dan hampir sama dengan Jiajun, juga meneruskan hidup dengan penuh luka dan penyesalan. 

Novel ini mungkin lebih tepat disebut sebagai novel psikologi alih-alih novel thriller, karena melalui penceritaan ‘dia’ yang berbeda-beda, kita akan diajak untuk menyelami sudut pandang Jiajun yang kemudian menjadi Li Haiyan, kita akan berkenalan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui kepalanya serta bagaimana pertanyaan itu kemudian bertransformasi menjadi keraguan kepada sosok ayahnya sendiri. 

Pada bab yang lain, kita akan diajak untuk ikut merasakan bagaimana menjadi Song Dongnian, yang seumur hidup dihantui bayang-bayang penyesalan: “seandainya dulu tidak mengajak Xiaoquan berkencan, ia tidak akan keluar rumah dan tidak akan terbunuh”. Tahukah kamu, bahwa sesal pun ternyata bisa membunuh pelan-pelan, menggerogoti dari dalam, menghakimi diri dengan skenario berulang, seandainya dulu tidak… maka sekarang tentu akan….

Pada bagian lain, kita juga akan diajak untuk ikut memahami bagaimana pola pikir si pembunuh. Kita akan bersimpati dan mengasihani meskipun tetap saja tidak bisa memaklumi latar belakang panjang yang membuat ia bertransformasi menjadi pencabut nyawa.

Memahami manusia memang tak hanya cukup dengan melihat dari satu sudut saja. Dan menjadi menarik karena kemudian kita akan sepakat, betapa luasnya spektrum kejiwaan manusia. Atas nama cinta, seseorang mampu membunuh. Dan karena cinta juga, seorang sakit jiwa bisa kembali waras.

Usai menamatkan buku ini, saya iseng kembali ke halaman pertama, ternyata saya melewatkan bagian Kata Pengantar yang ditulis oleh Chen Guowei. Bagian Kata Pengantar ini ternyata sangat menarik karena meresensikan bukunya sendiri dengan bahasa yang lugas dan sangat tepat. Satu paragraph berikut sepertinya sudah merangkum keseluruhan isi buku dan juga ikut mewakili pandangan saya:

…Chen Xue ingin mengingatkan kita bahwa keluarga sesungguhnya adalah tempat paling awal lahirnya para monster dan iblis. Di sanalah luka dan korban terus dipelihara dalam kebencian yang dibungkus atas nama cinta, dan dengan itu, monster pun tercipta. Bahkan, cukup dengan setia pada hasrat dan luka-lukamu sendiri, bisa jadi suatu hari kau akan melihat wajah iblismu dalam pantulan cermin.

Pada akhirnya, hanya dengan berani menghadapi semuanya, barulah penebusan dosa dan pemahaman akan diperoleh…

 

 

HIDUPLAH, TETAPLAH HIDUP...


Selama diklat PKP yang saya ikuti dalam waktu satu bulan ini, ada satu widyaiswara yang menurut saya sangat menarik. Namanya Pak Budi (there’s a lot of Pak Budi, oleh karena itu izin namanya saya cantumkan di blog ini ya Pak hehehe…).

Beliau menarik karena ternyata sangat suka baca buku. Range bacaan bukunya pun sangat random dan beragam, dari mulai epos Mahabarata sampai Sapiens-nya Yuval Noah Harari. Saya juga suka baca buku, tapi kemudian setelah bertemu dengan beliau, saya mengakui bahwa saya hanya sekedar “membaca” saja, menelusuri rangkaian alfabet yang tercetak di lembaran kertas, untuk kemudian sekedar tahu dan sekedar mengagumi kedalaman pikiran si penulis serta kemampuannya menuliskan isi pikiran ke dalam tulisan (yang saya tahu itu tak mudah). Sudah, sampai situ saja. 

Tapi Pak Budi ini lain. Beliau banyak membaca dan rangkaian pengetahuannya itu ia susun menjadi pemahaman yang mendalam, menjadi makna yang kemudian ia bagikan, sesederhana kepada peserta pelatihan atau jamaah solat jumat di mesjid. Butiran-butiran makna itu, saya yakin ada yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri pendengarnya, tapi saya yakin juga, ada yang kemudian terukir di benak, menggugah dan memotivasi. Dan saya sepertinya termasuk yang juga termotivasi.

Saya masih ingat, pertemuan kedua klasikal hari itu. Beliau memang kadang suka random, dimulai dari kisah apa lalu entah kemana arah ceritanya. Saat itu kebetulan yang diceritakan adalah satu ayat Qur’an yang kurang lebih artinya: “Dan tidaklah Kami menciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah”. 

Satu ayat itu ia maknai sebagai pemahaman bahwa sebenarnya perintah ibadah pertama yang harus kita jalani itu satu: untuk tetap hidup, karena nyawa adalah juga amanah, dan karena itu harus kita jaga sebaik mungkin. Itulah alasannya, kenapa orang sakit harus berobat dan kenapa orang sehat harus menjaga kesehatannya, karena itu adalah perintah pertama: untuk tetap hidup sampai ujung waktu yang ditetapkan Sang Pencipta.

Di penghujung kisah, Pak Budi cerita kalau ada salah satu jamaahnya yang selesai ceramah mendekati beliau dan mengucapkan terima kasih. Jamaah ini sudah bertahun-tahun cuci darah dan merasa hampir kehilangan semangat, dan apa yang disampaikan Pak Budi ini memberikan motivasi.

Sejujurnya untuk saya juga. 

Hidup kadang terasa seperti sesuatu yang diberikan begitu saja, sesuatu yang take it for granted. Hingga kadang ketika ada masalah yang menghimpit jiwa, solusi pertama yang terpikir ketika semua pintu seolah tertutup adalah mengakhiri hidup begitu saja. Dan disini saya tak hendak bicara tentang mental yang pengecut atau jauhnya jarak dari Tuhan, karena pada titik tertentu, membunuh diri sendiri atau memutuskan melanjutkan hidup, keduanya adalah alternatif pilihan yang sama-sama memerlukan keberanian yang tidak sedikit. 

Dan apa yang disampaikan Pak Budi siang itu sungguh menjadi pengingat untuk saya. 

Hiduplah dulu, apapun yang terjadi, berupayalah untuk tetap hidup. 

Sabtu, 25 Juli 2026

Resensi MALAM SERIBU JAHANAM


Judul buku                 : Malam Seribu Jahanam

Penulis                       : Intan Paramadhita

Penerbit                      : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Jumlah halaman         : 350 halaman

 

Revolusi selalu dimulai oleh saudara tiri buruk rupa. entah apa yang mengendap di kepala adik kita, yang tak buruk rupa maupun revolusioner, saat ia melilitkan bom di pinggang dan meledakkan tubuhnya.

Aku melongok, aku bertanya-tanya apa rasanya terbaring di liang sempit itu, meluruhkan segala yang pernah kau bangun, segala nyala padam dan kerja tinggal debu. Aku ingin tahu apa sesalmu.

Tanyakan padaku apakah aku bisa membaca, membaca melawan arus, membaca dari belakang, menggugat lewat bacaan. Tapi jangan tanya padaku mengapa tak pernah kugugat apa yang kuanggap wajar-

Dan Tuan tampan necis berkumis tipis itu, hamba dapat satu.

Barangkali kita tuntaskan dendam sampai di sini. Dosa belum luntur tapi murka terkikis pelan-pelan, sebab aku telah datang membawa gada namun yang kutemukan disini cuma puing. Tak ada yang bisa ditagih, tak  ada yang bisa dihancurkan. Jalan menuju maaf kelewat panjang. Entah berapa lama kita sampai ke sana. Setahun, dua puluh tahun. 

Diam disana, Nadir. Diam,  jadi ingatan.  Jangan jalan-jalan.

 

Mungkin sebetulnya aku hanya sedang melarikan diri. Di balik halaman-halaman kertas, di antara tumpukan-tumpukan buku. Seperti terlihat begitu rajin membaca, selalu khusyu belajar, padahal sesungguhnya aku sedang sembunyi. Melarikan diri dari tugas sebenarnya yang harus kukerjakan, hingga tak terasa, satu bulan, dua bulan, dan sekarang dua tahun sudah. Tapi tetap tak kunjung juga kusentuh disertasiku, tersembunyi dalam folder lama yang tak kunjung berani kuapa-apakan: terlalu malas untuk kubuka, tapi mungkin aku juga terlalu pengecut untuk menghapus dan mengakui bahwa aku kalah dan menyerah, hingga akhirnya kugantung studiku sedemikian rupa.

Dalam salah satu upaya pelarianku, aku menemukan buku ini. Dari meja perpus yang dengan sedikit enggan ingin kuakhiri keanggotaanku disana. Tapi mataku kemudian tertumbuk pada buku bersampul merah di meja baca. Nama pengarangnya membunyikan bel di kepalaku: Intan Paramadhita. Aku harus pinjam buku ini.

Dan begitulah, kemudian kudapati diriku meringkuk di kasur besar berhari-hari, sambil menggenggam buku ini. Terlalu takut halamannya akan cepat habis, tapi juga tak bisa berhenti membaca. Terlarut dalam kisah tiga dara: Mutiara, Maya, Annisa. Penjaga, pengelana, pengantin. Sekilas aku melihat refleksi diriku sendiri, anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan.

Intan Paramadhita menggambarkan karakternya ketiganya dengan begitu tepat. Mutiara, si anak pertama yang tegas, disiplin dan selalu banyak uang. Ia adalah cucu paling kuat, Si Penjaga, “merawat yang hidup, mengantar yang mati”, demikian kata Nenek. Usia sudah lewat kepala empat, tapi belum menikah. High quality jomblo, mapan, berpendidikan, sudah punya rumah dan mobil sendiri tapi malah memilih hidup bersama kucing. Tapi ia yang menyokong ekonomi keluarga hingga tak ada yang berani bicara bahwa ia perawan tua. (Sekilas terlintas di pikiranku,  Mutiara ini persis aku jika saja aku tak ditakdirkan menikah). 

Lalu Maya si anak kedua, yang selalu berbeda, yang memberontak dengan caranya sendiri. Si Pengelana, “kulihat engkau di atas perahu, dengan buku-buku”, demikian nubuat Nenek meramalkan nasibnya. Dan ia memang selalu melarikan diri, berkelana hingga ke luar negeri, tak pernah ada di rumah, tidak solat dan tidak puasa, bahkan tak lagi percaya pada Tuhan, ia juga menjalin hubungan dengan Nadir yang adalah suami orang.

Lalu yang ketiga, si bungsu Annisa, adik kita semua, anak manis kesayangan semua orang. Anak Papa yang paling cantik, dikagumi dan dipuja para pria. Mutiara percaya cinta hanya bikin bego, tapi Annisa sebaliknya, ia selalu mendamba kisah cinta sejati, cita-citanya hanya satu: menjadi pengantin. Siapa sangka ia ternyata menyimpan rahasia begitu rupa dan memilih akhir bunuh diri dalam sebuah aksi heroik: meledakkan diri dengan bom bunuh diri, di pelataran sebuah gereja. Ia pikir itu jalan menuju Jannah, tapi untuk semua korbannya, ia sedang menciptakan Jahannam, bukan untuk kehidupan yang akan datang, tapi di kehidupan ini, yang mewujud lewat duka kehilangan, sementara hidup harus terus berjalan untuk yang ditinggalkan.

Saya pernah membaca, duka akibat bunuh diri sesungguhnya menyakiti orang-orang terdekat si mati begitu dalam. Dan mungkin ini jugalah yang diceritakan dalam buku ini. Pasca kematian Annisa, Mutiara dan Maya seolah ditarik ke kehidupan lain, merasa harus tahu kenapa Annisa jadi teroris, hingga kemudian untuk menemukan alasan kenapa itu, keduanya menyusuri lagi semua jejak kehidupan mereka bertiga, juga menggali ingatan sampai ke masa kecil, satu masa ketika Annisa masih jadi anak manis yang menggendong boneka, bukan teroris yang membunuh orang sekampung.



Aku tidak tahu, kenapa buku ini memengaruhiku begitu rupa, hingga setelah menamatkan buku ini, lagi-lagi hatiku merasa hampa. Padahal melihat latar belakang penulisnya, sejak awal saya sudah menyimpan prasangka, buku ini tak mungkin tidak menyampaikan kritik sosial. Siapa sangka jika kritik sosial yang disampaikan bisa setajam ini, terbungkus rangkaian kata-kata manis dan sehalus beledu, namun menyembunyikan pisau kenyataan yang saking nyatanya, tak mungkin bisa saya membantah dan mengakui: “memang seperti itu yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari”. Saya yakin, Intan Paramadhita melakukan riset yang akurat untuk buku ini, karena semuanya terasa betul, memang begitu.

Tentang pernikahan yang tak bahagia, meski dari luar dipaksakan terlihat sempurna. Mama wanita karir yang cemerlang, namun hidupnya terus menerus digelendoti keluarga besar hingga ia menanggung banyak utang, sangat tipikal wanita Sunda, dan ternyata betul, dalam cerita, Mama orang Tasikmalaya. Mama tak bahagia dalam pernikahannya dengan Papa, tapi juga tak kuasa untuk mengajukan perpisahan, dan ia bertahan, sampai sakit, sampai mati. 

Papa temperamen dan kasar, juga seksis, fasis, dan rasis. Ia menunjukkan sikap pilih kasih yang terang-terangan pada anak-anaknya. Entah bagaimana, aku tiba-tiba setuju, bukankah seperti ini citra kebanyakan ayah, juga di sekelilingku. Di pemakaman ayahnya, Maya mengakui; “Papaku memang bangsat”. Padahal Papa sangat rajin sholat tepat waktu di mesjid, Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, tak ada yang terlewat. Di akhir hidup, ternyata yang mengantar Papa ke pemakaman cukup banyak, dan ada satu bagian dimana Koh Acong membebaskan biaya service mobil Muti sebagai balas jasa kebaikan Papa di masa lalu. Sepertinya bagian ini menegaskan, bahwa manusia tak bisa dinilai seluruhnya hitam atau putih. Papa, sebagaimana Annisa dan kita semua, punya banyak muka. Kadang baik, kadang jahat, kadang ada di persimpangan. Dan bukankah banyak juga sosok-sosok seperti Papa, yang dikenal masyarakat sebagai orang baik, namun meninggalkan kesan yang berbeda justru untuk keluarga terdekat.

Lalu ada Oom dan Uwa, yang tak membantu tapi selalu paling cerewet mengomentari. Berlindung di balik kata peduli, tapi yang paling sering mengeluarkan kalimat yang menyakiti. Bukankah memang begitu, dalam kehidupan sehari-hari, selalu saja ada Oom dan Uwa yang seperti itu.

Annisa, adik paling cantik kesayangan Papa, yang juga pintar hingga masuk ITB. Siapa sangka di balik kesempurnaan fisiknya, ia menyimpan kekejian.  Ketika kecil ia tega meracuni kucing kakaknya, setelah dewasa ternyata ia yang menginisiasi pembunuhan dengan bom di gereja itu. Sebelumnya juga diceritakan, ia ikut andil memfitnah Rohadi hingga Rohadi dikeluarkan dari rumah. Sempat diceritakan Annisa berpacaran dengan Lingga, namun saya bingung dan tak berani menyimpulkan, apakah maksudnya Annisa mengalami kekerasan oleh Lingga hingga ia menulis:

Lingga, aku ingin jadi pengantin yang cantik untukmu. Tapi bersamamu, aku takut kehilangan kepala”. 

Begitu juga dengan scene Annisa pulang ke rumah dalam keadaan babak belur dan motor dicuri orang, saya tak mengerti. Jelas Annisa dipukuli dan motornya tidak dicuri, namun bagaimana sebetulnya yang terjadi. Ada cerita yang terputus sebelum kemudian ia akhirnya menikah dengan Fahri.

Yang paling jeri mungkin cerita Rohadi, anak pembantu yang gemulai hingga kemudian beralih identitas menjadi Rosalinda. Ia menanggung dua beban sekaligus: “anak pembantu” dan juga “seperti perempuan”. Perjalanan hidupnya berat sebelum kemudian berhasil menjadi Cek Rosalinda yang tinggal di Australia. Ia sempat terdampar menjadi pekerja seks komersial yang malah berujung hampir mati disiksa pelanggan. Tak mudah menjadi transpuan, dengan segala stigma buruk dan kesempatan hidup layak yang juga terbatas. Harus ada yang disalahkan, dan terusir dari rumah membuat Rohadi hidup menyimpan kebencian, "saya akan selalu menabuh genderang". Betapa anehnya karena satu-satunya yang menolong Rohadi ketika kesulitan hidup di jalanan, Mama Cindy, juga tewas karena bom Annisa. Dendam Rohadi berkali lipat sebelum kemudian menemukan, dua dara yang jadi sasaran dendamnya ternyata juga hidup mengenaskan.

Di penghujung cerita, Mutiara sempat depresi berat sebelum kemudian memutuskan pindah ke Selandia Baru. Bagian ini menyoroti, betapa mereka yang ditahbis menjadi penjaga sebetulnya bisa rapuh dan bisa merasa terbebani. Duka yang tak terlihat karena keadaan selalu memaksa mereka kuat hingga pada satu titik ketika semua menjadi tak tertahankan, bendungan itu ambrol dan melibas semua. 

Maya sendiri gamang meneruskan hidup. Entah bagaimana, saya paham kegamangan Maya, bagaimana rasanya berusia empat puluh dua tapi merasa belum jadi siapa-siapa. Hanya diam di tempat, kuliah doktoral juga belum selesai dengan tabungan tak seberapa (kenapa ini terasa sangat seperti saya). Tak sengaja Maya bertemu kembali dengan Nadir setelah berapa tahun sebelumnya Maya memutuskan hubungan mereka yang memang tak akan kemana-mana (Nadir sudah beristri). Kali ini Nadir akhirnya berani mengambil keputusan: berjudi ia bilang, dengan mengambil beasiswa kuliah S3 di New York, kota yang sama dengan tempat kuliah Maya yang belum selesai. Saya baca bagian ini dua kali, tetap tidak mengerti, apakah maksudnya Nadir akhirnya memutuskan meninggalkan istrinya dan memilih Maya, tapi malah Maya yang gamang, selalu dihantui sosok Annisa, dan sejujurnya saya tetap bingung, jadi bagaimana?. 

Ini bukan kisah tentang siapa menang siapa kalah, tapi jika boleh menyimpulkan, pada akhirnya Rohadi-lah yang menjadi pemenang kehidupan. Ia, anak pembantu yang disayangi dan disekolahkan Nenek. Terusir dari rumah karena fitnah Annisa, terbuang dan harus menjalani hidup yang keras dan perih di luar rumah. Sekian lama ia menyimpan dendam. Tapi pada akhirnya ia yang berhasil melanjutkan hidup dengan makna, dengan kepala tegak, dengan tujuan yang pasti untuk membantu sesama, membantu mereka yang terusir dan tak punya tempat di masyarakat. Bahkan ia juga yang pada akhirnya bersedia mengadopsi Gibran, anak Annisa yang melarikan diri persis sebelum bom meledak.

Aku tak mau tubuhku habis dimakan dendam”, begitu kata Rohadi.

Menutup lembaran terakhir buku ini, hati saya rasanya kosong dan hampa. Cepat, beri saya rekomendasi buku yang lain lagi untuk dibaca.

Minggu, 19 Juli 2026

BERDAMAI DENGAN AUTOIMUN


Sudah dua minggu tapi demam saya tak turun-turun. Pusing, lemas, dan paling parah ada benjolan besar di paha atas sebelah kiri. Tiap jalan saya kesakitan. Sudah ke dokter, dan obat juga sudah habis, tapi kepala saya tetap terasa seperti pendiangan yang menyimpan sekam, tulang-tulang rasanya ngilu, makan tak enak, dan entah bagaimana badan saya rasanya lelah tak berkesudahan, bahkan setelah tidur semalaman.

Tak enak karena sebelumnya juga sudah izin sakit, saya memaksakan tetap masuk kerja. Tapi jadinya begitu, sehari masuk besoknya tidak. Untungnya direktur saya luar biasa baik. 

Hari Kamis di pekan kedua saat sedang demam-demamnya, sudah waktunya untuk saya kontrol kawat gigi ke dokter ortho. Dengan badan yang sudah tak karuan, saya memaksakan berangkat dari Jakarta ke RSGM Unpad. Entah bagaimana, sesampainya di  rumah sakit gigi, saya merasa kedinginan. Padahal kata pasien sebelah, suhunya biasa saja. Saya coba tahan sampai selesai perawatan. Keluar dari ruangan, ternyata dinginnya menghebat, gigi saya gemeletuk dan badan menggigil. 

Melihat panas terik di luar, dengan sengaja saya menantang matahari, berjemur di tempat paling panas sambil menunggu gojek. Anehnya, saya masih kedinginan, sampai handphone yang dipegang untuk melihat titik map babang gojek juga ikut gemetar. Dan begitulah, sampai rumah saya langsung ambruk. 

Di tempat tidur, saya masih merasa luar biasa dingin padahal sudah pakai sweater dan kaos kaki  sebelum dibalut tiga lapis selimut tebal-tebal. Anehnya, meskipun kaki saya dingin seperti orang mati, tetapi dahi dan nafas saya luar biasa panas. Ibu khadimat di rumah sudah menangis sambil mijitin kaki saya :”Teteh, jangan sakit kasihan anak-anak, hayu Ibu antar ke rumah sakit”, saya yang juga sibuk menahan ngilu dan sakit kepala tentu saja tidak bisa menenangkan Ibu. Anehnya lagi, saat itu saya juga malas ke rumah sakit, karena dua dokter sebelumnya yang saya kunjungi hanya memberi antibiotik dan penurun demam yang ternyata sama sekali tak mempan.

Entah bagaimana saya berhasil melewati malam itu, tapi di hari Sabtunya saya tak tahan lagi, dan akhirnya saya memaksakan diri  langsung ke spesialis penyakit dalam. Baru dilihat sebentar, saya langsung dirujuk untuk opname hari itu juga.

Begitu masuk ruang opname, kondisi badan saya memburuk, tiba-tiba saja muncul bintik-bintik merah yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Bintik-bintik merah itu kemudian menjadi ungu, dan gatal-gatal mulai terasa terutama di daerah telapak tangan dan kaki. Dokter visit tak pernah bilang saya sakit apa, tapi rasanya setiap hari darah saya diambil untuk segala jenis tes. 

Awalnya saya pikir penyebab penyakit saya adalah benjolan di paha. Sempat curiga, apakah mungkin itu tumor atau malah kanker. Karena dengan riwayat ibu kandung yang menderita penyakit kanker sampai wafat, saya memang cukup takut dengan penyakit itu. Alhamdulillah, ternyata bukan, meskipun kemudian vonis dokter tak bisa dibilang melegakan juga: saya divonis menderita autoimun dengan jenis vasculitis (radang pembuluh darah).

Dua minggu di rumah sakit, bintik-bintik ungu saya membaik, mulanya dari ungu kembali merah, sebelum kemudian memudar. Demam membandel yang tak turun-turun juga akhirnya menyerah dihantam obat yang terus menerus diberikan berjeda pada jadwal yang sama. 

Keluar dari rumah sakit, ternyata badan saya tak langsung pulih, saya tak sanggup bahkan berjalan dari kamar ke ruang makan, jangankan berjalan, sekedar melipat selimut atau membuka tutup botol pun tenaga saya tak ada. Akhirnya hanya bisa rebahan saja di tempat tidur. Hampir dua bulan saya tak masuk kerja. Dan sejak saat itu, hidup saya berubah.  

Hal pertama yang saya sadari, hidup saya kini bergantung pada obat. Ada dua jenis obat yang diberikan oleh dokter: metil prednisolone dan calcium lactate. Belakangan saya baru tahu bahwa metil prednisolone ini adalah obat jenis kartikosteroid yang berfungsi menekan produksi hormon kortisol dalam tubuh. Dan ternyata penggunaan dalam waktu panjang akan memberikan banyak efek samping, dan salah satu yang paling mengganggu adalah moon face serta meningkatnya nafsu makan.

Rasanya saya jadi lapar terus, hingga akhirnya makan dalam porsi banyak dengan frekuensi sering hingga otomatis berat badan saya naik. Tapi penggendutan paling signifikan hanya terlihat di perut dan muka saja. Awal masuk kerja, saya seperti perempuan yang sedang hamil 5 bulan, hingga akhirnya saya pakai gamis ke tempat kerja bukan karena mendadak sholehah, tapi karena baju-baju kerja saya tak muat terutama di bagian pinggang. 

Muka saya juga membulat, istilahnya moonface, hidung saya yang memang tak mancung ini jadinya semakin membelesak karena pipi yang seperti bakpao. Gendut yang tak sehat karena entah bagaimana kulit saya jadi menghitam dengan bibir yang juga tampak gosong. Seorang professor farmasi yang menjadi salah satu direktur di kantor bahkan sampai komentar :“Badan kamu retensi air, karena minum obat kortikosteroid ya”.

Begitulah, pekan-pekan awal masuk kerja pun sebetulnya badan saya belum pulih sempurna, betul-betul saya menghemat tenaga, kemana-mana naik grabcar untuk menghindari jalan kaki. Saya menyadari betul bahkan sekedar membawa tas ransel berisi laptop dan tumbler minum saja, saya sudah kelelahan luar biasa, apalagi mengerjakan hal-hal lain yang mengeluarkan tenaga.

Perlu waktu berbulan-bulan untuk saya kembali percaya diri berjalan kaki lagi dan naik MRT ke tempat kerja. Pelan-pelan sekali. Saya yang biasanya sebelum sakit  selalu naik turun di seluruh tangga MRT yang curam dan banyak,  pasca sakit terpaksa berdamai dengan naik eskalator atau lift. Perlahan, saya mulai menaikkan intensitas jalan kaki, sebelum kemudian saya bersyukur karena akhirnya sanggup untuk jogging lagi keliling GBK. Tentu hanya jalan kaki saja, karena untuk kembali berlari saya tak tahu, akankah saya diberi kekuatan untuk suatu hari sanggup berlari lagi.

Dan kini tak terasa hampir satu tahun sudah sejak vonis autoimun itu.

Tentu ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Obat yang tak boleh putus, makanan tertentu yang harus dihindari dan yang paling terasa aktifitas yang harus dijaga. Lelah berlebihan atau kurang tidur sedikit saja badan saya ambruk, dan selalu setiap saya bandel dan memaksakan diri di luar kemampuan, tubuh saya seperti robot yang dipencet tombol shut down, terpaksa harus bed rest dan perlu waktu sampai berhari-hari bahkan sampai satu minggu untuk pemulihan.

Meski demikian saya masih mencoba untuk gwenchana.

Selama masih bisa buka laptop dan bekerja, saya anggap masih oke,  biarpun pada saat-saat tertentu harus sambil rebahan, biarpun harus sering terjeda untuk menghilangkan sakit kepala, pekerjaan-pekerjaan kantor tetap saya upayakan untuk selesai dengan baik.

Tak dipungkiri ada saat saya ingin mengeluh bukan hanya karena kondisi tubuh, tapi juga karena ingatan dan ketajaman pikiran yang kini menurun jauh. Saya kesulitan untuk mengingat detail, dan banyak hal yang begitu saja menggelincir dari ingatan. Saya juga kesulitan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Jika sebelumnya saya sanggup berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dengan cepat, sekarang saya menyadari bahwa saya sudah tidak sanggup lagi seperti itu. Benar-benar hanya bisa mengerjakan pekerjaan satu demi satu sampai selesai. 

Yang paling mengejutkan adalah bagaimana hal kecil sekalipun bisa mengganggu saya sedemikian. Misal, saya akan menulis jurnal, tiba-tiba saya sadar ballpoint saya hilang, pikiran saya akan terganggu sedemikian sampai ballpointnya ketemu atau sampai saya diberikan ballpoint yang lain sebagai pengganti. Saya belum mendapatkan bahan analisis yang cukup untuk kemudian menyimpulkan apakah ini salah satu symptoms atau malah akibat dari autoimun meskipun sekilas saya pernah baca peradangan kronis akibat penyakit autoimun dapat memicu ketidakseimbangan neurotransmitter (zat kimia otak) dan hormon stress yang pada akhirnya memicu gangguan kecemasan. 

Hal lain lagi yang saya sedihkan setelah sakit adalah sekarang saya sudah tidak bisa donor darah. Sebelumnya saya sangat rutin ikut donor, tapi belakangan secara tegas dokter menyatakan saya tak boleh sama sekali mendonorkan darah. Saya juga sudah tak bisa ikut olahraga Zumba lagi, padahal itu adalah hal yang paling saya sukai selain berlari. Sedih rasanya setiap harus melewatkan notifikasi ajakan Zumba dari instruktur saya yang luar biasa energik. Pernah sekali saya paksakan ikut, dan sesuai dugaan, sesudahnya saya langsung demam.

Dari buku When The Body Says No, Dr. Gabor Mate menyatakan bahwa penderita autoimun itu kebanyakan (hampir 80%) perempuan dan biasanya sebelum sakit ada empat karakteristik yang selalu muncul: 

1.    Lebih memikirkan perasaan orang lain daripada kebutuhan diri sendiri;

2.  Terlalu fokus pada tugas dan tanggung jawab sampai mengabaikan kebutuhan sendiri;

3.    Terlalu “baik’ dan cenderung menahan kemarahan yang sebetulnya ada;

4.    Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.

Karakteristik diatas adalah sifat orang-orang yang selalu membantu orang lain, sulit mengatakan tidak dan akhirnya menanggung beban emosi terus-terusan.

Jika ditanya lebih lanjut, ya betul sekali, empat karakteristik ini semuanya ada pada diri saya. Bukan berarti saya mengklaim diri sendiri sebagai orang baik, tapi memang betul, saya kesulitan sekali mengatakan tidak pada permintaan orang lain dan saya punya kecenderungan untuk selalu “membantu” dan juga merasa bertanggung jawab terhadap perasaan orang lain. 

Mental saya memang selemah permen Yupi, sampai pada satu titik saya sadar bahwa saya cenderung dimanfaatkan orang lain. Meskipun saya bersyukur kebanyakan teman-teman saya baik hati, tapi memang ada orang-orang tertentu yang dengan sadar selalu saya bantu sampai pada satu titik saya sakit dan stress sendiri.

Dan stress kronis ini sebetulnya sangat saya sadari sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tiba-tiba saja, saya menyadari, sudah bertahun-tahun sebenarnya saya mengalami kelelahan yang berlebihan, sudah bertahun-tahun juga sebetulnya saya mengidap penyakit kulit yang selalu saya nisbatkan akan kambuh setiap habis mencuci piring. Mungkin alergi sabun cuci piring, begitu pikir saya. Padahal mungkin itu adalah alarm pertama bahwa ada yang salah, tapi selalu saya abaikan sampai akhirnya tubuh saya tak mampu lagi menahan.

Seorang teman pernah berseloroh, mungkin sudah waktunya saya berusaha jadi Nikita Mirzani alih-alih terus soft spoken seperti Nikita Willy. Jika ingin marah, meledak saja, jika kecewa katakan saja terus terang, alih-alih selalu merasa bahwa semua ketidaksesuaian yang terjadi adalah salah saya sendiri. 

Sampai sekarang, jujur saja, saya belum bisa, dan mungkin memang masih menjadi PR besar saya untuk menemukan cara bagaimana mengelola emosi, kecemasan dan stress yang berlarut-larut. Karena sudah terbukti secara klinis, stress kronis melemahkan imun tubuh dan penyebab penyakit saya sepenuhnya adalah stress yang berkepanjangan. 

Saat ini yang bisa saya lakukan pertama-tama adalah menerima bahwa saya memang sakit. Kapasitas badan saya sudah tak bisa lagi seperti dulu, jika diumpamakan seperti batterai iPhone, sepertinya baterai health saya sekarang hanya 65%, tidak ada lagi super mom yang sanggup mengerjakan ini itu. Sudah waktunya untuk saya berhenti memaksakan diri.

Selanjutnya, saya akan belajar untuk mulai mengutamakan diri saya sendiri, belajar berkata tidak, dan meyakini bahwa perasaan orang lain bukan sepenuhnya tanggung jawab saya. Ini sulit, tapi saya akan belajar pelan-pelan.

Selanjutnya saya akan belajar untuk lebih banyak bersyukur. Dan ternyata memang banyak sekali hal yang harus saya syukuri. Lingkungan kerja yang menyenangkan, atasan yang luar biasa baik, pintar dan supportive. Anak-anak yang baik dan mandiri. Juga setiap hembusan nafas yang masih diberikan hingga detik ini. 

Setidaknya saya masih bisa produktif, masih bisa membaca, masih bisa memenuhi semua kebutuhan dasar diri saya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain, masih bisa menyediakan makanan di meja untuk keluarga saya, masih punya orang-orang yang menyayangi dan saya sayangi. Masih bisa terbangun pagi ini, masih tersedia makanan di meja, di rumah yang aman dan tenang serta bukan dalam situasi perang yang mencekam. Serta merta saya jadi teringat pada sebuah hadits:

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi).

 

Sekuat tenaga saya berupaya untuk berpikir bahwa tak ada lagi yang harus saya keluhkan. Mungkin ada banyak mimpi yang harus saya lepaskan, dan hal-hal yang harus saya relakan, tapi ya sudah, biarkan saja. Toh selama ini saya tidak sedang berlomba dengan siapa pun, selama ini saya hanya bertarung dengan standar dan target yang saya tetapkan sendiri.

Konon, autoimun tak bisa disembuhkan. Tapi tidak apa, bukankah hidup memang tak pernah berjalan sesuai dengan keinginan kita sepenuhnya. Seandainya hidup adalah sebuah meja judi raksasa, kita tak pernah tahu dan tak bisa memilih kartu seperti apa yang akan kita dapatkan dan harus kita mainkan, jadi ayo kita jalani dan syukuri saja.

 *Sesungguhnya sampai hari ini saya masih berusaha bersikap begitu, sungguh masih terus berusaha.

 

 

Senin, 13 Juli 2026

Resensi SIHIR PEREMPUAN



Judul buku                : Sihir Perempuan

Penulis                      : Intan Paramadhita

Jumlah halaman      : 158 halaman

Penerbit                    : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

 

Kau dan aku memang makhluk-makhluk kesepian. Aku si pengisap penyedot kehidupan yang sekarat karena merah sudah nyaris habis punah berhenti titik.

Nak, demi sebuah kehidupan kau harus mematikan yang lain. Ada burung yang harus membakar diri untuk melahirkan generasi baru. Kita menganggap sudah kodratnya terlahir untuk berkorban, untuk menjadi mulia. Seperti Sinta, begitu. Dan hanya di situ nilaimu.

Jeritan Ibu mati bersama bayi mereka. Mereka tak mampu lagi bersuara karena tidak akan ada yang mau mendengar.


Buku ini tersusun dari sebelas judul.  Sebelas cerita dengan tokoh dan kisah yang berbeda-beda, tapi ada satu benang merah yang menghubungkan sebelas kisah ini: semuanya bercerita tentang perempuan, yang termarjinalkan oleh lembaga bernama perkawinan, yang kesepian, yang dituntut berperan ganda, yang harus mengorbankan diri agar sesuai dengan standar masyarakat, yang harus menanggung banyak luka dan beban. Semuanya perempuan.

Saya sudah jatuh cinta pada buku ini sejak halamannya yang pertama, meski kemudian saya menyadari ternyata gaya bahasa yang digunakan begitu penuh metafora dan perumpamaan. Ada sindir-sindir halus yang tersembunyi. Makna-makna tersamar yang tidak bisa diartikan letterlijk begitu saja. Buku ini memang ditulis dengan menggabungkan cerita thriller, dongeng, kisah hantu gotik dan takhayul. 

Beberapa bagian harus saya baca berulang-ulang untuk kemudian memahami maknanya. Dan semakin saya baca, semakin saya mendapati bahwa keseluruhan cerita adalah upaya mematahkan stigma, tentang bias gender, misogini dan patriarki yang begitu kental di masyarakat kita. 

Membaca cerita pertama yang berjudul Pemintal Kegelapan, entah bagaimana membuat saya malah teringat pada cerita pembantaian penyihir di abad pertengahan. Konon hampir 85% tersangka penyihir yang dibakar adalah perempuan. Dan kita tahu kosakata yang digunakan pun berbeda, witch untuk penyihir perempuan, kata ini dikonotasikan dengan tokoh-tokoh jahat, wanita tua buruk rupa yang iri dengan kecantikan dan kemudaan putri-putri cantik dalam dongeng-dongeng. Para penyihir perempuan ini dengan kekuatan sihirnya, merusak dan menghancurkan. Sementara wizard, sebutan untuk penyihir pria, sering digambarkan sebagai sosok bijaksana yang menggunakan kekuatan sihirnya untuk melindungi. Kita tentu ingat sosok Gandalf dalam The Lord of The Rings yang dicitrakan sebagai penyihir baik, sementara Mother Gothel dalam kisah Rapunzel menjadi penyihir bengis yang kejam.

Begitu pun dengan kisah-kisah hantu. Dalam cerita-rakyat ataupun cerita urban di Indonesia, hantu perempuan jenisnya lebih banyak dari hantu berjenis kelamin laki-laki. Dan hantu-hantu perempuan ini punya garis besar cerita yang sama: ketika hidup mereka adalah korban, setelah mati mereka menjadi monster yang hadir membalas dendam dengan perilaku mengancam jiwa atau sekedar menakut-nakuti.

Selanjutnya dari cerita berjudul Vampir, saya menemukan bahwa seksualitas perempuan juga akhirnya tunduk pada relasi kuasa, dalam hal ini atasan dan bawahan. Dan selalu perempuan bukan hanya sebagai objek tapi juga korban dan sekaligus pihak yang bersalah.

Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari menceritakan kisah Sindelarat (sepertinya plesetan dari Cinderella) namun dari sudut pandang saudara tiri yang selama ini kita ketahui berperilaku jahat dan tak rupawan. Pada cerita ini, kita dibawa memahami, kenapa saudara tiri menjadi jahat, dan si tokoh utama yang cantik jelita pun tak sepenuhnya tak bersalah. Dari semua cerita dalam buku ini, sepertinya cerita ini yang menyampaikan pesan paling jelas dan tak membuat kita mengerutkan kening. Dan dari sebelas cerita dalam buku ini, Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari menjadi favorit saya. 

Dari cerita Mak Ipah dan Bunga-bunga, kita akan menemukan bahwa bahkan sekedar menjadi seorang perempuan saja bisa mencelakakan nyawa, menjadi korban ruda paksa dan dibunuh begitu saja. (Cerita ini paling membuatku merasa jeri). 

Pada cerita Mobil Jenazah, ada seorang istri yang dituntut untuk berperan sempurna, tetap bekerja mencari uang tapi harus perform juga di rumah, dengan anak-anak yang harus pintar dan berbudi, serta rumah yang harus licin berkilau.

Pada cerita Misteri Polaroid, ada perempuan-perempuan yang dinilai berdasarkan fisiknya saja dan lagi-lagi ada hantu perempuan, yang menjadi hantu setelah pada masa hidupnya ia justru adalah korban.

Pada cerita Darah, kita akan bertemu dengan perempuan yang sedari awal sudah diajari bahwa menstruasinya sendiri kotor, menjijikkan namun disukai para demit. Di akhir cerita, sepertinya menjadi ironi karena para demit yang konon menyukai darah menstruasi ini malah menyampaikan alasan yang jauh lebih penuh penghargaan.

Mengapa kau begitu menyukai darah?

Suaramu serak dan pelan, begitu jauh, begitu purba, namun bisa kudengar kau berbisik,

Karena darah adalah hidup.

Sesederhana itu.

 

Usai menamatkan buku ini, entah bagaimana, saya merasa hampa yang tak berhingga. Beberapa bagian cerita seolah terus terngiang-ngiang di kepala. Lalu tidak bisa untuk tidak setuju, menjadi perempuan itu memang rumit dan terkadang menyesakkan. 

Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk juga kamu baca.

Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku

 

Senin, 06 Juli 2026

Resensi MIDAH SIMANIS BERGIGI EMAS


 

Judul Buku                : Midah Simanis Bergigi Emas

Penulis                      : Pramoedya Ananta Toer

Jumlah Halaman      : 132 halaman

Penerbit                    : Lentera Dipantara

 

Ah, Sudara, manusia ini kenal satu sama lain, tapi tidak dengan dirinya sendiri. Kalau aku mencoba mengenal diriku, tentu saja perbuatanku akan lain dengan sekiranya engkau yang hendak mencoba.

 

Ini adalah novel ringan. Demikian kalimat pembuka pada bagian pengantar penerbit. Jika melihat tebal halaman, saya sepakat, buku ini memang terbilang tipis, apalagi jika dibandingkan dengan ketebalan karya-karya Pramoedya yang lain. Tapi jika bicara isi, mana ada sih bukunya Pramoedya yang ringan. Tambah lagi kriteria lain, mana ada sih buku Pramoedya yang akhirnya happy ending. Sepertinya Pram ini memang hoby membuat buku dengan akhir yang menyesakkan jiwa (saya masih merasa hampa setiap teringat ending Gadis Pantai atau Tetralogi Pulau Buru). Buku ini juga kurang lebih begitu, meski sesuai pengantar penerbit, intensitas kesesakan yang ditimbulkannya cukup ringan.

Buku ini berkisah tentang seorang perempuan manis bernama Midah, anak Hadji Abdul, orang Cibatok. Lahir dan besar di keluarga yang sangat religius, namun kemudian kesukaannya pada musik (yang disebut haram oleh ayahnya), membuat garis nasibnya berputar haluan 180 derajat.

Midah adalah gadis yang manis, anak kesayangan yang semula dimanja ayah dan ibu lalu dikawinkan dengan seorang kaya dari kampung asal bernama Hadji Terbus. Siapa sangka jika Midah kemudian berontak dan kabur dari suami dengan membawa kandungan yang baru berumur tiga bulan. Bukannya pulang ke rumah, Midah malah memutuskan untuk jadi pemusik keliling (jaman sekarang kita menyebutnya pengamen) bersama satu grup kroncong jalanan. 

Di tengah kesusahan hidup, Midah sangat teguh memegang prinsip. Ia tak terjerumus ke dalam pergaulan bebas, bahkan ketika semua di sekeliling bermaksud buruk kepadanya. Midah semata hanya menjual suara, meskipun karena itu ia dimusuhi oleh hampir semua anggota kelompok musiknya. Tak mudah untuk seorang wanita hamil mengikuti perjalanan sebuah grup musik untuk mengembara di jalanan ibu kota. Dan kesusahan itu semakin berlipat-lipat setelah Midah melahirkan. Pimpinan grup meminta Midah bersedia dinikahi sebagai ganti perlindungan yang bisa diberikan, namun Midah yang trauma dengan pernikahan  menolak keras meskipun karena itu, Midah harus angkat kaki.

Dalam perjalanan mengamen setelah memutuskan keluar dari rombongan, Midah bertemu kembali dengan polisi bernama Ahmad yang sebelumnya juga pernah menyelamatkan Midah. Dengan baik hati, Ahmad mencarikan kamar kontrakan, mengajari Midah bermusik dengan benar dan mengorbitkannya menjadi penyanyi di radio. Sejak awal Midah jatuh cinta pada Ahmad, sayangnya cinta Midah tak bersambut, Ahmad terus terang mengatakan tak mungkin ia menikahi Midah. Tapi pergaulan yang begitu erat meruntuhkan juga batasan di antara keduanya, sampai kemudian Midah hamil, dan di luar dugaan Ahmad tak mau bertanggung jawab.

Sementara itu, Hadji Abdul, ayah Midah,  ternyata jatuh sakit setelah mendengar kabar Midah yang melarikan diri dari suaminya. Ia mencari Midah kemana-mana, sementara itu perusahaannya runtuh, kekayaannya habis, akhirnya ibunyalah yang semula tak tahu menahu bagaimana mencari uang mulai menerima pesanan menjahit demi menyambung hidup. Ketika kemudian Midah menjadi penyanyi radio, ibu Midah menyusul ke stasiun radio, mendapatkan alamatnya dan kemudian sampai juga di rumah kontrakan Midah. Ditemukannya Djali anak Midah yang kurus tak terurus. Dengan naluri seorang nenek, dibawanya Djali pulang ke rumah. Midah yang baru pulang menyanyi akhirnya mau tak mau menyusul juga ke rumah orang tuanya.

Ayah dan ibu Midah menerima Midah sepenuh hati, sayangnya kondisi Midah yang tengah berbadan dua, di luar ikatan pernikahan pula, membuat hati Midah tak tenang. Tak ingin ia mencoreng muka kedua orang tuanya, hingga kemudian dengan berat hati, Midah memutuskan keluar lagi dari rumah, meninggalkan Rodjali dalam asuhan kakek neneknya. 

Karir Midah kemudian melesat, dengan paras yang memang cantik dan suara yang bagus, Midah  bukan hanya jadi penyanyi radio, tapi  menjadi bintang film dan juga pelacur papan atas.

Ceritanya selesai sampai disitu. Meninggalkan saya dengan hati yang hampa dan mulut yang gemas ingin memaki-maki. 

Midah ini bodoh atau nekat ya. Ia pergi meninggalkan rumah suami tanpa persiapan apa-apa, tanpa bekal yang memadai, tanpa rumah lain yang akan dituju (mengingat ia tak ingin pulang ke rumah orang tua), serta tanpa rencana akan bagaimana meneruskan hidup dalam kondisi berbadan dua. Terbiasa hidup dalam kemewahan, tak memberi gambaran kepada Midah, bisa sesusah apa hidup memperlakukan seorang perempuan tanpa uang dan tanpa bekal kemampuan apa-apa. Untunglah Midah cantik dan berbakat menyanyi, tapi bukankah tetap saja tak mudah untuk Midah menemukan jalan hingga jadi penyanyi radio. 

Dan alasan kabur dari suaminya pun tak jelas, hanya sedikit narasi bahwa suaminya ternyata beristri banyak, tapi tidak dijelaskan apakah Midah diperlakukan dengan buruk yang setidaknya bisa menjadi pembenaran untuk keputusannya meninggalkan rumah. Hanya ada sedikit keterangan mendekati akhir cerita bahwa ayah dan ibu Midah merasa dendam juga pada Terbus setelah kepergian Midah.

Dan Ahmad, kenapa laki-laki bisa sejahat itu. Membantu Midah sedemikian hingga Midah jatuh cinta. Sudah tahu mereka tak mungkin menikah karena perbedaan suku,  tapi masih juga meniduri Midah. Sialnya ketika Midah hamil, dengan mudah ia menuduh Midah sudah tidur dengan laki-laki lain hanya untuk menghindari tanggung jawab. Kurang brengsek apa coba. 

Sepanjang membaca buku ini, saya mencari-cari, alasan yang membuat buku-buku Pram digandrungi tapi sekaligus juga dianggap terlalu kiri. Dan kemudian rasanya saya paham, penuturan bahasa Pram sederhana tapi sangat nyata menyentuh hal-hal yang memang terjadi di sekitar kita, di kehidupan sehari-hari. Saking nyatanya sampai kita setuju, bahwa memang begitulah adanya kehidupan, dengan segala susah senangnya, dengan segala sifat kemanusiaannya manusia, yang khilaf, yang jahat, yang naif dan munafik. 

Kritik sosial yang disampaikannya pun sampai hari ini terasa masih relevan. Hadji Abdul digambarkan sebagai sosok religius yang sangat rajin beribadah dan berdzikir tapi sangat miskin citra kemanusiaan. Ia memandang hubungan dengan Tuhan sebagai hubungan transaksional, ketaatannya beribadah akan diganti Tuhan dengan kehidupan yang terhormat dan harta yang berlimpah. Kesalehannya juga membuat ia merasa menjadi manusia paling baik dibanding jiwa-jiwa lain yang tersesat dan penuh dosa. Kesombongannya sebagai hamba pilihan Tuhan baru berhenti ketika usahanya turun dan kesehatannya memburuk karena sakit jantung. Alih-alih meneruskan hidup, ia kemudian berlindung di balik sikap tasauf yang pada satu titik malah terasa seperti upaya melarikan diri dari masalah di sekeliling,

Sikap sinis teman-teman satu rombongan kroncong Midah juga sangat realistis. Anggota laki-laki benci pada Midah karena cintanya ditolak hingga tak bisa mencicipi tubuh Midah sedangkan yang perempuan merasa ketakutan akan kalah bersaing. Kebencian yang meski tak ditunjukkan dengan terang-terangan ini, tetap saja membuat mereka cukup tega membuat perempuan dengan bayi merah terlunta-lunta tanpa perlindungan.

Pada satu bagian juga diceritakan, bagaimana buruknya pelayanan rumah bersalin yang lebih mengutamakan hal-hal administratif di atas kemanusiaan. Dan dengan pelayanan demikian buruk, Midah masih harus membayar mahal.  Hati saya getir sekali membayangkan seorang perempuan lemah yang baru bersalin membawa pulang bayi telanjang karena baju yang dipakai si bayi adalah milik rumah sakit. Ingin sekali saya menghujat Midah yang bisa-bisanya tidak menyiapkan perlengkapan bayi barang baju orok selembar pun sebelum melahirkan. Di sisi lain, saya juga ingin memaki pihak rumah sakit,  ini serius rumah sakit  tega membiarkan bayi merah pulang dalam keadaan telanjang. Dari semua perawat yang digambarkan judes setengah mati, apa tidak ada satu orang pun yang memiliki sedikit kelembutan hati untuk memberikan sehelai baju, popok dan selimut bayi. 

Ah entahlah, di jaman seperti apa Pram hidup sampai karya-karyanya segetir ini. Membuat kita mempertanyakan masih adakah belas kasih untuk sesama manusia. Ketika rasanya semua orang digambarkan begitu banal terhadap penderitaan sesamanya.

Di ujung, Midah digambarkan menjadi pelacur papan atas, semata untuk mematikan rasa, karena kemana pun ia pergi selalu hanya Ahmad yang hadir di pelupuk mata. Sangat khas perempuan. Midah sanggup menanggung lapar dan sengsara, menjaga diri untuk tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas karena menganut nilai-nilai yang dibawanya dari rumah. Tapi ketika berhadapan dengan cinta, ia tak kuasa. Bahkan ketika di ujung ternyata cinta membuatnya hancur dan ditinggalkan. Ironisnya lagi, penghujat paling kejam justru malah dari sesama perempuan sendiri.

Saya lalu teringat sebuah kutipan: “ We are all selective sinner. We choose the sins we are comfortable with and judge others for the ones we can’t accept”.

Pada hakikatnya kita semua adalah pendosa. Kita merangkul dosa yang paling nyaman untuk diri sendiri, lalu menjatuhkan vonis pada dosa orang lain yang tak bisa kita terima. 

Resensi YANG TERSISA DARI KEMATIAN

  Judul                                         : Yang Tersisa  dari Kematian                   Penulis                                     ...