Judul buku : Mencari Simetri
Penulis : Annisa Ihsani
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Jumlah halaman : 238 halaman
Tahun terbit : 2019
Temanku Sita pernah berkata. Semua orang memiliki Armin mereka sendiri. Sebelum aku sempat bertanya kenapa dia menggunakan nama Armin layaknya nomina serbaguna, dia melanjutkan, "Kau tahulah, orang yang menghubungimu setiap hari, mengajakmu jalan bareng, kadang-kadang bahkan memegang tanganmu, tapi tidak pernah benar-benar menjadi pacarmu."
Ini adalah kalimat pembuka novel ini. Berbeda dengan karya Annisa Ihsani yang lainnya, novel ini tidak berisi informasi sains atau teori ilmiah rumit apapun. Bahkan di luar dugaan novel ini terasa sangat teenlit untuk saya.
Berkisah tentang April, perempuan berusia 29 tahun yang tengah gamang menghadapi hidup. Ia punya pekerjaan yang disukai meski bukan jenis karir yang bisa dibanggakan. Ia punya sahabat-sahabat ikrib, meski satu demi satu semuanya berumah tangga, punya anak, dan sibuk dengan keluarga kecilnya masing-masing. Ia juga punya Armin, teman dekat yang diam-diam sudah dicintainya selama enam tahun, tapi hubungannya tak pernah beranjak kemana-mana. Armin menawarkan kehangatan dan kedekatan yang dirindukan April, tapi tak pernah benar-benar memberi janji bahwa hubungan mereka akan lebih dari sekedar sahabat, sementara usia April sendiri terus merambat naik.
Masalahnya dengan Armin adalah, dia memiliki semacam sensor yang mendeteksi kalau aku sudah melenceng terlalu jauh dari orbitku mengelilinginya. Setiap kali aku memutuskan untuk mengabaikannya, menyimpan cintaku untuk orang lain yang membalas perasaanku, dia selalu tahu. Dan dia selalu menarikku kembali, seakan berkata, Oh tidak, April, tidak semudah itu kau kabur. Dan seperti orang bodoh, aku terus jatuh kembali ke dalam gravitasinya.
Ternyata ada istilah khusus untuk jenis perhatian seperti ini: “breadcrumbing”, remah-remah perhatian yang diberikan sekedarnya hanya untuk mencegah agar kita tidak pergi, tapi tak pernah cukup pasti untuk menjadi sebuah hubungan yang memiliki nama. Begitu juga yang dialami April selama enam tahun kedekatannya dengan Armin.
Lelah dengan ketidakpastian ini, akhirnya April mencoba membuka hati untuk Lukman, pria mapan dengan karir menjanjikan yang bahkan sudah punya rumah sendiri (in this economy, aaaaaa). Sayangnya, ternyata perasaan tak bisa dipaksakan, dan akhirnya April memilih mundur.
Satu hal yang saya cermati dari novel-novel Annisa Ihsani, adalah latar belakang tokoh yang selalu berasal dari keluarga yang hangat dan harmonis. Begitu pun dalam novel ini, meskipun terceritakan bahwa April harus jadi caregiver papanya yang terkena Alzheimer, namun dari semua hal yang seolah terhapus dari memori sang Papa, ia masih sosok bertanggung jawab yang tetap punya kesadaran jernih, untuk mengingatkan April agar apapun alasannya jangan begitu saja menerima Lukman.
“Dia memang anak yang baik," ulang Papa, "tapi jangan sampai itu membuatmu mengira kau berutang sesuatu kepadanya."
Di akhir, papa juga mengingatkan April, bahwa mungkin hubungannya dengan Armin tak bisa nyambung, semata karena memang bukan jodoh.
"Selalu ada saja hambatannya dengan Armin. Waktunya tidak pernah tepat. Salah satu dari kami selalu punya pacar lain. Sekalinya sudah sama-sama single, dia sudah tidak tertarik lagi...."
"Barangkali memang tidak jodoh."
"Tidak sesederhana itu, Pa."
Papa menoleh ke arahku dan berkata lembut, "Kadang-kadang memang sesederhana itu."
Dialog sederhana ini, entah bagaimana mengingatkan saya akan sedemikian pentingnya peran ayah untuk anak perempuan. Banyak sekali cerita getir perempuan yang “salah menikah”, salah satunya karena ketiadaan peran ayah. Dalam cerita ini, April bisa teguh untuk tidak buru-buru menikah (meskipun usia sudah mendekati kepala tiga) juga karena dukungan keluarga.
Di pertengahan cerita, ada satu bagian yang cukup menggelitik untuk saya:
…kata Armin sambil nyengir. "Tapi pilihan apa pun yang kuambil, sepertinya aku akan tetap penasaran dengan pilihan yang tidak kuambil. Bahkan kalaupun nantinya terbukti pilihanku baik-baik saja, aku curiga aku akan terus dihantui perasaan bahwa ada yang lebih baik di jalan yang tidak kuambil. Apa ini masuk akal atau aku sedang meracau?".
Membaca bagian ini, saya jadi teringat pada Kierkegaard (Filsuf eksistensial asal Denmark, yang terkenal dengan pemikirannya yang mendalam tentang kecemasan, kebebasan dan konsekuensi dari pilihan hidup manusia).
Kurang lebih Kierkegaard menyatakan “Jika kamu menikah, kamu akan menyesal, jika kamu tidak menikah pun, kamu akan menyesal. Intinya, apa pun yang kamu pilih, kamu akan menyesal. Karena masalahnya bukan pada pilihannya”.
Secara lebih jauh, Kierkegaard menyatakan bahwa dalam hal ini kita, manusia, cenderung akan meromantisasi pilihan yang tidak kita ambil, berangan-angan tentang kehidupan yang tidak kita jalani, semata karena kita menganggap jalan yang tidak ditempuh itu menarik dan misterius.
Dan bicara tentang pilihan dalam hidup, saya jadi teringat pada buku The Midnight Library-nya Matt Haig. Akan saya ceritakan di lain waktu =D.




