Selasa, 13 Oktober 2026

Ternyata, Tidak Apa-Apa

 

Sudah beberapa waktu ini saya berhenti membuka media sosial. Tidak ada alasan yang terlalu dramatis. Saya hanya merasa perlu mengambil jarak dari begitu banyak hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya.

Awalnya terasa sedikit aneh. Ada kebiasaan yang hilang. Biasanya, setiap ada waktu luang, tangan secara otomatis mencari ponsel, membuka aplikasi, lalu menggulir layar entah untuk mencari apa. Melihat kehidupan orang lain, membaca pendapat orang yang bahkan tidak saya kenal, mengikuti perdebatan yang sebenarnya tidak perlu saya ikuti. Kadang ikut senang, kadang kesal, kadang tanpa sadar membandingkan kehidupan sendiri dengan potongan kehidupan orang lain yang muncul di layar. Dan semua itu sering dilakukan tanpa tujuan yang jelas.

Lalu saya berhenti.

Ternyata, tidak apa-apa. Tidak ada yang kehilangan saya. Tidak ada yang mencari-cari ke mana saya menghilang. Tidak ada peristiwa penting yang terlewat sampai membuat hidup saya berantakan. Dunia masih terus berputar seperti biasa. Orang-orang tetap menjalani kehidupannya. Ada yang menikah, berlibur, memperoleh pekerjaan baru, bertengkar, jatuh cinta, patah hati, atau sekadar mengunggah foto makanan. Semuanya tetap berlangsung, dengan atau tanpa kehadiran saya sebagai penonton.  Dan anehnya, menyadari bahwa ketidakhadiran saya tidak mengubah apa-apa justru terasa melegakan.

Rupanya, saya tidak harus mengetahui semua hal. Tidak harus mengikuti setiap kabar, membaca setiap pendapat, atau merasa perlu memberikan tanggapan terhadap sesuatu yang sedang ramai dibicarakan. Saya juga tidak harus selalu terlihat untuk memastikan bahwa saya masih ada. Belakangan saya juga menyadari satu hal. Media sosial bukan sekadar tempat kita melihat apa yang diunggah orang lain. Ada algoritma yang bekerja di belakangnya, memilihkan apa yang akan muncul di layar berdasarkan perilaku kita sebelumnya.

Apa yang kita tonton lebih lama, apa yang kita sukai, apa yang membuat kita penasaran, bahkan apa yang membuat kita kesal, dapat menjadi sinyal bagi algoritma untuk menyajikan lebih banyak konten serupa. Akibatnya, tanpa benar-benar kita sadari, kita bisa terus-menerus terpapar pada jenis informasi, pendapat, atau emosi yang sama.

Dalam psikologi, ada konsep mere-exposure effect, yang diperkenalkan Robert Zajonc pada 1968. Secara sederhana, semakin sering kita terpapar pada sesuatu, semakin besar kemungkinan kita merasa akrab atau menyukainya. Tentu efek ini tidak berlaku mutlak untuk semua hal, tetapi cukup menarik jika dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi konten digital.

Bayangkan jika setiap hari kita terus-menerus disuguhi pandangan tertentu. Lama-kelamaan, sesuatu yang awalnya hanya merupakan pendapat orang lain bisa terasa semakin wajar, semakin masuk akal, bahkan seolah mewakili kenyataan secara keseluruhan.

Ada pula konsep confirmation bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan dan menerima informasi yang mendukung keyakinannya sendiri. Ketika kecenderungan ini bertemu dengan algoritma yang terus merekomendasikan konten berdasarkan minat dan interaksi kita, ruang untuk menemukan sudut pandang berbeda bisa semakin menyempit.

Tentu algoritma tidak selalu menciptakan ruang gema atau echo chamber. Namun, dalam keadaan tertentu, keduanya dapat saling memperkuat. Saya jadi berpikir, jangan-jangan selama ini ada banyak hal yang memenuhi kepala saya bukan karena saya benar-benar ingin memikirkannya, melainkan karena terlalu sering disodorkan kepada saya. Kita mungkin hanya ingin mencari hiburan selama beberapa menit, tetapi kemudian menghabiskan waktu membaca perdebatan, mengikuti konflik orang lain, atau memikirkan persoalan yang sebelumnya bahkan tidak kita ketahui. Tanpa terasa, sesuatu yang awalnya tidak penting menjadi terasa mendesak. Sesuatu yang sebenarnya jauh dari kehidupan kita mendadak ikut menentukan suasana hati sepanjang hari. Dan itu tidak selalu baik.

Terutama ketika paparan yang berulang membuat kita lebih mudah marah, cemas, curiga, atau membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain. Penelitian psikologi juga mengenal social comparison theory dari Leon Festinger (1954), yang menjelaskan kecenderungan manusia mengevaluasi dirinya melalui perbandingan dengan orang lain.

Di media sosial, bahan perbandingan itu tersedia nyaris tanpa batas. Padahal yang kita lihat sering kali hanya bagian kehidupan yang dipilih seseorang untuk ditampilkan. Saya tidak sedang mengatakan bahwa algoritma sepenuhnya mengendalikan pikiran manusia. Kita tetap memiliki kemampuan untuk menilai, mempertanyakan, dan menentukan sikap. Tetapi saya mulai menyadari bahwa apa yang terus-menerus kita konsumsi dapat memengaruhi apa yang kita anggap penting, bagaimana kita melihat dunia, dan apa yang kita rasakan. Kadang pengaruhnya bahkan lebih intens daripada yang sebenarnya kita inginkan. Dan mungkin, sesekali menjauh adalah cara sederhana untuk mengambil kembali kendali atas perhatian kita sendiri.

Ada kehidupan yang jauh lebih nyata di luar layar. Buku-buku yang belum selesai dibaca, pekerjaan yang perlu diselesaikan, makanan yang ingin dimasak, orang-orang terdekat yang bisa diajak bicara, dan waktu yang bisa dinikmati tanpa harus dibagikan kepada siapa pun. Yang paling saya rasakan, hati saya menjadi lebih tenang.

Bukan berarti kehidupan mendadak bebas dari masalah. Persoalan tetap ada, hari-hari yang melelahkan juga masih datang. Tetapi setidaknya, saya tidak lagi menambahkan begitu banyak kebisingan yang sebenarnya tidak perlu ke dalam kepala saya sendiri.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa media sosial itu buruk. Ada banyak manfaatnya. Kita bisa memperoleh pengetahuan, menemukan teman, memperluas wawasan, bahkan mendapatkan dukungan dari orang-orang yang tidak pernah kita temui secara langsung. Hanya saja, seperti banyak hal lain dalam kehidupan, sesuatu yang bermanfaat pun tidak selalu baik jika dikonsumsi tanpa batas.

Lucu juga, selama ini kita mungkin terlalu sibuk ingin mengetahui apa yang sedang terjadi dalam kehidupan orang lain, sampai lupa memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan sendiri. Dan setelah beberapa waktu tidak membuka media sosial, saya menemukan sesuatu yang sederhana, tetapi cukup menyenangkan.

Ternyata tidak apa-apa kalau saya tidak tahu segalanya. Tidak apa-apa kalau saya tidak selalu terlihat. Tidak apa-apa kalau dunia berjalan tanpa saya ikut menyaksikannya.

Saya tidak harus mempunyai pendapat tentang setiap persoalan. Tidak harus mengikuti setiap perdebatan. Bahkan tidak harus memikirkan sesuatu hanya karena algoritma berkali-kali menampilkannya di hadapan saya. Dunia memang tidak kehilangan apa-apa ketika saya berhenti membuka media sosial. Tetapi saya justru mendapatkan sesuatu yang belakangan terasa semakin mahal: ketenangan.

Dan barangkali, yang selama ini saya perlukan bukan lebih banyak informasi tentang kehidupan orang lain, melainkan lebih banyak ruang untuk menjalani kehidupan saya sendiri.

 

Minggu, 11 Oktober 2026

Resensi LELAKI HARIMAU

 


Judul: Lelaki Harimau
Penulis: Eka Kurniawan
Terbit pertama: 2004


Dari dua novel Eka Kurniawan yang pernah saya baca, Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau, saya lebih menyukai yang kedua.

Bukan berarti Cantik Itu Luka tidak bagus. Novel itu memiliki cakupan cerita yang begitu luas, dengan sejarah, politik, kekerasan, dan berbagai persoalan manusia yang saling berkelindan. Tetapi Lelaki Harimau memberikan pengalaman membaca yang berbeda. Ceritanya lebih ringkas, lebih terarah, dan memiliki akhir yang membuat saya ingin kembali memikirkan seluruh kejadian sejak halaman pertama.

Saya memang menyukai gaya bercerita Eka Kurniawan. Lugas, tidak bertele-tele, dan tepat sasaran. Ia bisa menceritakan sesuatu yang begitu brutal dengan kalimat yang tenang, bahkan kadang terasa jenaka. Tidak banyak dramatisasi yang tidak perlu. Dan justru karena itu, ceritanya menjadi semakin mengganggu.

Lelaki Harimau dibuka dengan sebuah pembunuhan. Margio, seorang pemuda, membunuh Anwar Sadat dengan cara yang sangat brutal. Tidak ada upaya menyembunyikan identitas pelaku. Sejak awal kita sudah tahu siapa yang membunuh siapa.

Lalu apa lagi yang mau diceritakan?. Rupanya banyak sekali.

Eka Kurniawan membawa pembaca menelusuri kehidupan Margio, keluarganya, dan orang-orang yang terhubung dengan peristiwa pembunuhan tersebut. Cerita bergerak maju mundur, membuka satu demi satu kejadian yang semula tampak tidak berkaitan, sampai perlahan kita mulai memahami bahwa pembunuhan itu bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.

Rupanya, Eka Kurniawan menyimpan pertanyaan yang jauh lebih menarik: mengapa Margio membunuh Anwar Sadat?. Jawabannya baru terungkap menjelang akhir novel. Dan ketika sampai di bagian itu, saya merasa seluruh cerita mendadak berubah makna.

Saya merasa bahwa Lelaki Harimau bukan semata-mata cerita tentang pembunuhan, dendam, atau seekor harimau putih yang bersemayam dalam tubuh seorang pemuda. Bagi saya, ini juga cerita tentang perempuan-perempuan yang hidup dalam masyarakat patriarkal, dan bagaimana mereka harus menanggung akibat dari kekuasaan laki-laki atas tubuh, perasaan, dan kehidupan mereka.

Terutama Nuraeni.

Nuraeni menikah dengan Komar bin Syueb, laki-laki kasar yang menjadikan kehidupan rumah tangga mereka begitu menyedihkan. Ia mengalami kekerasan fisik, penghinaan, dan pemaksaan hubungan seksual dalam perkawinannya. Bagian terakhir ini penting untuk disebutkan. Hubungan seksual yang dipaksakan oleh suami terhadap istrinya tetap merupakan kekerasan seksual, atau marital rape. Perkawinan tidak serta-merta memberikan hak kepada seseorang untuk menguasai tubuh pasangannya.

Dan melalui kehidupan Nuraeni, kita melihat bagaimana perkawinan yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi tempat berlangsungnya kekerasan. Yang menyedihkan, Nuraeni seperti tidak memiliki pilihan lain. Kemiskinan struktural adalah masalah berlarat-larat yang tidak memberikan alternatif pilihan bagi perempuan. Nuraeni bertahan dalam rumah tangga yang tidak memberinya kebahagiaan, untuk melipur lara, perlahan-lahan ia mulai bicara sendiri pada panci sampai dibilang sinting bahkan oleh anak-anaknya sendiri.  Sementara anak-anaknya tumbuh menyaksikan kekerasan tersebut. Margio, terutama, menyimpan kemarahan yang begitu besar terhadap ayahnya.

Kemudian Nuraeni bekerja di rumah Kasia, istri Anwar Sadat. Di sinilah ada perubahan kecil yang menurut saya sangat menyentuh. Nuraeni mulai tersenyum. Ia mulai bersenandung. Perempuan yang sebelumnya begitu murung perlahan terlihat lebih hidup. Bayangkan, setelah sekian lama menjalani kehidupan yang menyakitkan, akhirnya ada sesuatu yang membuat perempuan ini kembali menemukan kegembiraannya. Tetapi rupanya kebahagiaan itu datang melalui hubungan dengan Anwar Sadat.

Dan di sinilah tragedi berikutnya dimulai. Saya melihat hubungan Nuraeni dan Anwar bukan sekadar perselingkuhan antara dua orang dewasa. Ada ketimpangan kekuasaan yang perlu diperhatikan. Nuraeni adalah perempuan yang bekerja di rumah keluarga Anwar, sementara Anwar berada dalam posisi yang lebih kuat secara sosial dan ekonomi. Hubungan itu pun berawal dari perilaku seksual Anwar terhadap Nuraeni yang dapat dibaca sebagai pelecehan, bukan sebuah kisah cinta yang sejak awal berlangsung setara. Sungguh menyedihkan. Nuraeni yang sebelumnya mengalami kekerasan dari suaminya justru kembali berada dalam hubungan dengan laki-laki yang memiliki kuasa atas dirinya.

Namun, Nuraeni kemudian benar-benar jatuh cinta. Dan saya rasa, di situlah letak tragedinya. Bagi Nuraeni, hubungan itu menjadi sesuatu yang berarti. Ia kembali tersenyum, kembali bersenandung, dan tampak menemukan alasan untuk menikmati hidup. Tetapi bagi Anwar Sadat, hubungan tersebut ternyata tidak memiliki arti yang sama. Margio pun tampaknya mengalami pergulatan perasaan yang rumit. Ia tidak sepenuhnya menerima hubungan ibunya dengan Anwar, tetapi ia juga melihat sendiri bagaimana ibunya mulai bahagia.

Bagaimana mungkin seorang anak yang sepanjang hidupnya menyaksikan penderitaan sang ibu tidak merasa lega melihat perempuan itu akhirnya bisa tersenyum?. Tentu saja hubungan tersebut tidak bisa dibenarkan begitu saja. Apalagi Kasia, istri Anwar Sadat, telah memperlakukan Nuraeni dengan sangat baik.

Dan di sinilah saya ingin membicarakan perempuan lain yang nasibnya juga menarik: Kasia. Porsinya dalam cerita memang tidak sebesar Nuraeni. Tetapi bagi saya, ia juga merupakan korban dari tatanan patriarkal yang sama. Kasia adalah perempuan yang bekerja, memiliki penghasilan, dan berperan penting dalam menopang kehidupan rumah tangganya. Secara finansial, ia memiliki kemandirian yang tidak dimiliki Nuraeni.

Namun, kemandirian ekonomi ternyata tidak otomatis membuat seorang perempuan terbebas dari ketidakadilan dalam perkawinan. Anwar Sadat digambarkan sebagai parasit, tidak punya pekerjaan, tapi hobinya main serong.

Ia tak punya pekerjaan sejak berhenti menjual lukisan, ia merupakan teman bermain catur Mayor Sadrah, sponsor klub sepak bola kota, dan berburu perempuan. Kelakuannya yang terakhir, dilakukan lebih bergairah daripada melukis, menemukan gadis-gadis dan meniduri mereka, kadang-kadang janda dan istri orang jika mau. Ia membanggakan kemaluannya yang sekukuh tanduk (h. 16).

Dan tampaknya Kasia memilih menulikan telinga demi mempertahankan kehidupan rumah tangga. Saya jadi berpikir, betapa seringnya perempuan ditempatkan dalam situasi yang serba salah.

Nuraeni tidak bahagia karena suaminya kasar dan memperlakukannya dengan semena-mena. Sementara Kasia, meskipun mandiri secara finansial, juga harus menanggung perilaku suami yang sudah tidak bekerja juga tidak setia. Dua perempuan dengan keadaan ekonomi yang berbeda, tetapi sama-sama terluka oleh laki-laki dalam kehidupan mereka.

Dan ironisnya, kebahagiaan yang sempat ditemukan Nuraeni justru ikut menyakiti Kasia. Di titik ini, saya tidak ingin membenarkan perselingkuhan Nuraeni hanya karena ia merupakan korban KDRT.  Tetapi saya juga tidak ingin melihat Nuraeni semata-mata sebagai perempuan yang merebut suami orang. Manusia rupanya memang tidak sesederhana itu. Seseorang bisa menjadi korban dalam satu hubungan, tetapi sekaligus ikut melukai orang lain dalam hubungan yang berbeda. Dan dua hal tersebut bisa sama-sama benar. Cerita kemudian mencapai titik yang paling mengejutkan ketika Anwar Sadat mengakui kepada Margio bahwa ia tidak mencintai Nuraeni.

Perempuan yang selama ini begitu menderita, yang akhirnya menemukan alasan untuk tersenyum lagi, ternyata jatuh cinta kepada laki-laki yang tidak memiliki perasaan yang sama. Saya kasihan kepada Nuraeni. Tetapi saya juga memahami kemarahan Margio.

Bukan berarti saya membenarkan pembunuhan yang dilakukannya. Hanya saja, setelah mengetahui seluruh kehidupan keluarganya, kemarahan Margio menjadi jauh lebih dapat dipahami. Ia telah menyaksikan ibunya diperlakukan dengan kejam oleh ayahnya. Kemudian, ketika ibunya akhirnya tampak bahagia bersama laki-laki lain, ia harus mendengar bahwa laki-laki tersebut ternyata tidak mencintainya. Dan seluruh kemarahan yang selama ini terpendam akhirnya meledak.

Inilah plot twist yang menurut saya luar biasa.

Eka Kurniawan tidak menyembunyikan identitas pembunuh. Ia justru menyembunyikan alasan pembunuhan tersebut, lalu perlahan mengajak kita memahami peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya. Ketika alasan itu akhirnya terungkap, yang saya rasakan bukan hanya keterkejutan, tetapi juga kesedihan.

Menariknya, jika dibaca dari sudut pandang perempuan, saya merasa Eka Kurniawan cukup berpihak kepada mereka. Setidaknya, ia tidak memberikan akhir yang menyenangkan bagi laki-laki yang selama ini menyakiti perempuan. Komar bin Syueb mati, dan bahkan kematiannya digambarkan dengan cara yang ganjil, seolah bumi pun enggan menerimanya. Sementara Anwar Sadat harus menemui ajal yang begitu mengenaskan di tangan Margio.

Saya sampai berpikir, barangkali Eka memang sengaja tidak memberikan kematian yang damai kepada kedua laki-laki tersebut. Tentu ini bisa saja merupakan tafsir saya sebagai pembaca. Tetapi ada semacam pembalasan yang terasa simbolis: laki-laki yang sepanjang hidupnya menggunakan kekuasaan untuk menyakiti perempuan akhirnya tidak memperoleh akhir yang terhormat. Meski demikian, kematian keduanya tidak otomatis membuat kehidupan perempuan-perempuan yang mereka sakiti menjadi lebih baik.

Komar mati, tetapi penderitaan Nuraeni tidak serta-merta terhapus. Anwar Sadat mati, tetapi kematiannya juga tidak mengembalikan kebahagiaan yang sempat ditemukan Nuraeni, apalagi memperbaiki luka yang dialami istrinya. Dan Margio, anak yang begitu marah melihat penderitaan ibunya, justru menjadi pelaku kekerasan berikutnya. Barangkali di sinilah kritik yang paling menyedihkan dalam novel ini. Kekerasan tidak selalu berakhir ketika pelakunya mati. Ia bisa meninggalkan luka yang panjang, bahkan melahirkan kekerasan baru pada generasi berikutnya. 

Saya takjub pada bagaimana Eka Kurniawan menghadirkan harimau putih dalam tubuh Margio. Unsur magis itu membuat ceritanya terasa ganjil, tetapi sekaligus memberi ruang bagi pembaca untuk menafsirkan kemarahan yang selama ini tersimpan dalam diri Margio. Apakah harimau itu benar-benar ada, atau merupakan cara lain untuk menggambarkan sesuatu yang liar dan tidak terkendali dalam diri manusia?. Saya rasa kita tidak harus memilih satu jawaban. Justru itulah yang membuat novel ini menarik.

Lelaki Harimau bukan novel yang panjang, tetapi berhasil memuat persoalan yang tidak sederhana: kekerasan dalam rumah tangga, pemaksaan seksual dalam perkawinan, pelecehan, perselingkuhan, ketimpangan kekuasaan, dan kemarahan seorang anak yang tumbuh dalam keluarga penuh kekerasan.

Semua itu disampaikan dengan gaya bercerita yang saya sukai: lugas, tajam, dan tidak bertele-tele. Setelah menamatkannya, saya tidak lagi terlalu memikirkan betapa mengerikannya cara Anwar Sadat dibunuh. Saya justru memikirkan Nuraeni dan Kasia.

Dua perempuan yang berbeda, dengan kehidupan yang berbeda, tetapi sama-sama harus menanggung akibat dari perilaku laki-laki yang seharusnya memperlakukan mereka dengan lebih baik. Dan mungkin itulah yang membuat Lelaki Harimau begitu membekas bagi saya.

Pada awalnya kita mengira sedang membaca kisah tentang seorang laki-laki yang membunuh laki-laki lain. Tetapi setelah seluruh cerita terbuka, saya justru menemukan kisah tentang perempuan-perempuan yang terluka. Dan betapa menyedihkannya, bahkan ketika laki-laki yang menyakiti mereka akhirnya mati, bukan berarti luka mereka ikut selesai.

Sabtu, 10 Oktober 2026

Resensi THE TWITS: Pasangan Paling Menyebalkan Sedunia



Penulis

: Roald Dahl

Penerbit

: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit

: 2003

Jumlah halaman

: 103 halaman

Jika seseorang memiliki pikiran-pikiran jelek, maka itu akan terlihat di wajahnya. Dan ketika orang itu memiliki pikiran-pikiran jelek setiap hari, setiap minggu, setiap tahun, wajahnya menjadi semakin jelek sampai begitu jeleknya sehingga kamu hampir tidak sanggup melihatnya.

Seseorang yang memiliki pikiran-pikiran baik tidak akan pernah bisa menjadi jelek. Kamu boleh punya hidung yang miring, mulut yang bengkok, dagu berlipat, dan gigi yang tonggos, tapi jika kamu memiliki pikiran yang baik, itu akan memancar keluar dari wajahmu bagaikan sinar matahari dan kamu akan selalu terlihat manis.

Saya sudah menyukai buku-buku Roald Dahl sejak remaja. Dulu saya membaca Danny, the Champion of the World,  Matilda, Charlie and the Chocolate Factory, dan Esio Trot. Entah mengapa, saya selalu menyukai cara Dahl bercerita, meskipun harus diakui, buku-bukunya memang aneh dan sebetulnya cukup gelap.

Belakangan saya baru mengenal istilah dark humor, macabre, dan grotesque, yang rupanya cukup tepat untuk menggambarkan sebagian cerita Dahl. Bayangkan saja, buku-buku yang diperuntukkan bagi anak-anak, tetapi isinya manusia-manusia kejam, hukuman yang kadang mengerikan, dan orang dewasa yang kelakuannya jauh lebih buruk daripada anak-anak.

Tetapi mungkin justru di situlah letak daya tariknya. Di balik cerita-cerita absurd tersebut, saya merasa Dahl sedang menyindir banyak hal tentang manusia. Keserakahan, kesombongan, kebodohan, penyalahgunaan kekuasaan, sampai kebiasaan orang dewasa yang merasa dirinya selalu benar.

Dan hebatnya, semua itu disampaikan tanpa perlu berceramah panjang lebar. Kita cukup membaca ceritanya, tertawa karena kelakuan tokoh-tokohnya yang luar biasa konyol, lalu sesekali menyadari bahwa manusia-manusia seperti itu ternyata tidak sepenuhnya fiktif.

Membaca The Twits membuat saya kembali merasakan hal yang sama.

Buku ini bercerita tentang sepasang suami istri, Mr. Twit dan Mrs. Twit, yang barangkali layak mendapatkan penghargaan sebagai pasangan paling menjijikkan sekaligus paling menyebalkan dalam sejarah cerita anak-anak.

Mr. Twit adalah laki-laki tua berjanggut lebat yang tidak pernah membersihkan janggutnya dengan benar. Akibatnya, berbagai sisa makanan tersangkut di sana, dari potongan telur, ikan, sampai makanan-makanan lain yang entah sudah berapa lama menghuni wajahnya.

Sementara istrinya, Mrs. Twit, digambarkan sebagai perempuan yang tidak kalah mengerikan. Keduanya sama-sama licik, kejam, dan gemar mempermainkan satu sama lain.

Kalau biasanya pasangan suami istri saling memberikan kejutan sebagai bentuk kasih sayang, pasangan ini juga gemar memberikan kejutan. Bedanya, kejutan mereka berupa tipu daya yang dirancang untuk membuat pasangannya ketakutan atau menderita.

Mrs. Twit pernah memasukkan mata palsunya ke dalam gelas minuman suaminya. Mr. Twit membalas dengan menyelipkan seekor katak ke tempat tidur istrinya, lalu meyakinkannya bahwa makhluk tersebut adalah sesuatu yang mengerikan. Belum cukup sampai di situ, Mr. Twit juga mengerjai istrinya dengan membuatnya percaya bahwa tubuhnya terus memanjang dan harus menjalani proses penyusutan.

Ya Tuhan, rumah tangga macam apa ini?

Saya membayangkan betapa melelahkannya hidup bersama seseorang yang setiap hari sibuk memikirkan cara baru untuk membuat kita sengsara. Tetapi rupanya kedua orang ini memang berjodoh. Sama-sama menyebalkan, sama-sama kejam, dan sama-sama tidak punya keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Yang menarik, kejahatan mereka tidak berhenti pada urusan rumah tangga. Di halaman rumahnya, pasangan Twit memelihara sekelompok monyet bernama Muggle-Wumps yang mereka paksa berdiri terbalik. Mereka juga memiliki kebiasaan menangkap burung dengan mengoleskan lem pada cabang-cabang pohon, kemudian menjadikan burung-burung malang itu sebagai bahan pai.

Dan di sinilah cerita mulai bergerak dari sekadar rangkaian keisengan menjijikkan menjadi kisah pembalasan yang cukup menghibur. Para monyet, dibantu burung-burung yang selama ini menjadi sasaran kekejaman pasangan Twit, akhirnya menyusun rencana untuk memberikan pelajaran kepada kedua manusia tersebut.

Tentu saja, karena ini cerita Roald Dahl, pembalasannya pun tidak biasa.

Saya menyukai bagaimana Dahl menciptakan dunia yang begitu absurd, tetapi tetap membuat pembacanya penasaran. Ceritanya sederhana, bahkan terkesan berlebihan, namun justru di situlah kelucuannya. Kita tidak diminta memikirkan apakah seluruh kejadiannya masuk akal. Kita hanya perlu mengikuti kegilaan dua manusia yang begitu sibuk berbuat jahat sampai akhirnya menjadi korban kejahilan mereka sendiri.

Salah satu hal yang menarik dari The Twits adalah cara Dahl menggambarkan hubungan antara pikiran dan penampilan seseorang. Ia menulis tentang bagaimana pikiran yang buruk dapat membuat wajah seseorang terlihat buruk pula, sementara pikiran yang baik dapat membuat seseorang tampak menyenangkan meskipun secara fisik tidak sempurna.

Tentu saja, dalam kehidupan nyata, penampilan seseorang tidak menentukan baik buruknya watak. Tetapi sebagai bagian dari dunia dongeng Dahl yang penuh karikatur, gagasan itu digunakan untuk memperkuat gambaran tentang pasangan Twit yang memang luar biasa menyebalkan.

Ilustrasi Quentin Blake juga menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari cerita. Gambar-gambarnya yang tampak berantakan justru cocok sekali dengan dunia Dahl yang aneh dan kacau. Sulit membayangkan Mr. Twit dengan janggut menjijikkannya tanpa ilustrasi tersebut.


Membaca The Twits mengingatkan saya bahwa buku anak-anak tidak selalu harus menghadirkan tokoh yang manis atau cerita yang lembut. Kadang-kadang, cerita tentang dua manusia tua yang jahat, monyet-monyet yang dipaksa berdiri terbalik, dan burung-burung yang hampir dijadikan pai justru bisa menjadi bacaan yang sangat menghibur.

Saya juga menyukai bahwa Dahl tidak berusaha membuat pasangan Twit memiliki masa lalu menyedihkan untuk menjelaskan kelakuan mereka. Tidak ada upaya panjang untuk membuat pembaca bersimpati. Mereka memang digambarkan sebagai dua manusia yang luar biasa buruk perangainya. Dan anehnya, justru itu yang membuat cerita ini menyenangkan.

The Twits bukan cerita yang rumit. Alurnya sederhana, tokohnya berlebihan, dan humornya kadang cukup menjijikkan. Tetapi buku ini memiliki daya tarik khas Roald Dahl: nakal, imajinatif, sedikit gelap, dan tidak takut membuat tokoh orang dewasa terlihat konyol.

Setelah menamatkannya, saya hanya sampai pada satu kesimpulan. Mungkin Mr. dan Mrs. Twit bukanlah pasangan yang cocok. Mereka hanya dua manusia yang terjebak dalam kehidupan bersama yang sama sekali tidak bahagia, dan entah bagaimana mulanya mereka berdua akhirnya menjadi pasangan yang terus-menerus saling menyakiti. Celakanya, ketidakbahagiaan itu tidak berhenti pada mereka berdua. Monyet-monyet dan burung-burung malang di sekitar rumah pun harus ikut menanggung akibatnya.

Dan barangkali di situlah sindiran Roald Dahl. Rumah tangga yang dipenuhi kebencian bukan hanya menyengsarakan penghuninya, tetapi juga bisa menyakiti siapa pun yang berada di sekitarnya.

Seperti biasa, Dahl membuat kita tertawa pada sesuatu yang absurd, sebelum menyadari bahwa yang ditertawakan sebenarnya tidak terlalu jauh dari kehidupan kita sendiri.


Resensi KUDASAI: Saat Semua Tokohnya Seperti Minta Ditabok






Penulis

: Brian Khrisna

Penerbit

: MediaKita

Tahun terbit

: 2019

Jumlah halaman

: 456 halaman


Mengandung spoiler.

Tidak semua buku yang selesai dibaca meninggalkan kesan menyenangkan. Ada buku yang membuat kita ingin segera membaca karya lain dari penulisnya, ada yang membuat kita termenung berhari-hari, dan ada pula yang setelah halaman terakhir ditutup justru membuat kita bertanya-tanya: duh, tadi tuh, sebenarnya habis baca apa, sih?

Sayangnya, Kudasai karya Brian Khrisna masuk kategori terakhir untuk saya.

Kekecewaan pertama justru datang dari judulnya. Kudasai merupakan kata dalam bahasa Jepang yang kurang lebih berarti “tolong” atau “mohon”. Saya pikir novel ini akan sedikit banyak bersinggungan dengan Jepang. Ternyata tidak. Dan sampai halaman terakhir, terlepas dari ketiadaan unsur Jejepangan ini, saya masih kesulitan menemukan hubungan yang cukup kuat antara judul dan ceritanya.

Padahal premisnya menarik.

Chaka menikah dengan Twindy, perempuan cantik, kaya, mandiri, dan sukses memimpin firma arsitektur. Twindy bisa dibilang alpha female: dominan, percaya diri, terbiasa memegang kendali, dan tahu apa yang diinginkannya. Sementara Chaka mengelola kafe, mengurus rumah tangga, dan memiliki selera humor yang lumayan menghibur.

Pernikahan mereka bermula bukan karena cinta, tetapi perlahan Chaka justru benar-benar jatuh cinta kepada istrinya.

Dan menurut saya, itu sangat masuk akal.

Coba pikirkan. Twindy cantik, mapan, dan mampu menawarkan masa depan yang lebih stabil. Tentu cinta bukan semata-mata persoalan kecantikan dan kekayaan. Tetapi kebersamaan, kenyamanan, dan kehidupan yang dibangun setiap hari merupakan alasan yang sangat manusiawi untuk menumbuhkan perasaan. Justru bagian ini yang paling mudah saya terima. Yang sulit saya terima adalah kelakuan tokoh-tokohnya.

Mari mulai dari Twindy.

Saya sebenarnya menyukai gagasan menghadirkan tokoh perempuan yang kuat, mandiri secara finansial, dan tidak bergantung pada laki-laki. Tetapi Twindy ini bukan sekadar dominan. Ia juga gampang sekali marah, gemar membentak Chaka, dan sedikit-sedikit meminta cerai.

Ya ampun, Twindy. Menikah itu bukan langganan internet yang setiap kali kesal bisa langsung minta berhenti berlangganan.

Perempuan kuat tentu boleh memiliki temperamen keras. Tetapi menjadi mandiri dan sukses tidak otomatis membenarkan kebiasaan memperlakukan pasangan dengan buruk. Saya justru menyayangkan karakter Twindy karena potensinya sangat besar untuk mengeksplorasi hubungan suami istri dengan pembagian peran yang tidak konvensional.

Sayangnya, yang lebih sering saya temukan justru pertengkaran dan ancaman perceraian.

Lalu Chaka.

Ya Tuhan, Chaka ini juga tidak kalah menyebalkan.

Di satu sisi ia digambarkan sebagai laki-laki humoris, gemar bercanda, dan pandai melontarkan lelucon. Tetapi di sisi lain, ia begitu cengeng, pasif, dan tidak berdaya menghadapi persoalannya sendiri.

Memang, orang humoris bisa saja menyimpan kesedihan. Saya tidak mempermasalahkan laki-laki yang menangis atau memiliki perasaan rapuh. Yang mengganggu adalah bagaimana Chaka terus-menerus terlihat tidak mampu mengambil keputusan dengan tegas.

Lebih lucu lagi, meskipun sering takut menghadapi Twindy, dalam hati Chaka justru gemar mengomel dan melontarkan komentar-komentar tidak menyenangkan tentang istrinya.

Jadi, istrinya suka membentak, suaminya suka mengumpat dalam hati. Pasangan yang luar biasa komunikatif, bukan?.

Dan persoalan Chaka tidak berhenti di situ.

Ia meninggalkan Anet, mantan kekasihnya, tanpa memberikan penjelasan yang layak. Alasannya, ia ingin Anet membencinya agar perempuan itu berhenti berharap. Saya tahu, mungkin penulis ingin menggambarkan pengorbanan. Tetapi bagi saya, itu bukan romantis. Itu pengecut.

Mengapa Chaka merasa berhak menentukan apa yang terbaik bagi Anet tanpa memberikan kesempatan kepada perempuan itu untuk memahami keadaan dan menentukan pilihannya sendiri?. Bukankah kejujuran, betapapun menyakitkan, jauh lebih menghargai seseorang daripada menghilang dan membiarkannya hidup dalam tanda tanya?

Lalu setelah bertahun-tahun ditinggalkan, Anet tiba-tiba muncul kembali sebagai pelanggan di kafe Chaka. Dari sekian banyak kafe di muka bumi ini, tentu saja harus kafe Chaka.

Kebetulan memang bisa terjadi dalam kehidupan nyata. Tetapi kebetulan yang menjadi fondasi konflik besar seharusnya dibangun dengan lebih meyakinkan. Bagi saya, pertemuan mereka terasa terlalu dipaksakan demi menggerakkan cerita.

Dan bagaimana dengan Anet?. Duh, Anet ini juga lemah sekali.

Saya memahami bahwa ditinggalkan tanpa penjelasan bisa sangat menyakitkan. Tetapi kepasrahannya terhadap Chaka membuat saya semakin sulit bersimpati. Ia terlalu lama terjebak dalam perasaan terhadap laki-laki yang bahkan tidak cukup berani untuk menjelaskan mengapa hubungan mereka harus berakhir.

Jadi, ada Twindy yang sedikit-sedikit marah dan meminta cerai, Chaka yang pengecut sekaligus gemar mengomel dalam hati, serta Anet yang terlalu pasrah pada masa lalu.

Duh, Tuhan. Semua tokohnya rasanya ingin saya tabok satu-satu.

Tentu karakter dalam novel tidak harus sempurna. Justru tokoh yang memiliki kelemahan sering kali lebih menarik karena terasa manusiawi. Tetapi kelemahan karakter seharusnya dikembangkan menjadi sesuatu yang membuat pembaca memahami perjalanan batinnya. Dalam Kudasai, saya justru merasa sifat-sifat menyebalkan itu terlalu sering menjadi bahan bakar konflik tanpa diimbangi perkembangan karakter yang cukup meyakinkan.

Dan ketika cerita akhirnya berujung pada kematian Chaka karena bunuh diri, saya bukannya merasa tersentuh, melainkan semakin kecewa. Bukan karena orang yang humoris, memiliki pasangan yang baik, atau hidup berkecukupan tidak mungkin mengalami penderitaan psikologis yang berat. Tentu saja mungkin. Tetapi dalam sebuah novel, saya berharap pergulatan batin tokohnya dibangun dengan cukup kuat sehingga akhir yang tragis terasa sebagai bagian yang utuh dari cerita.

Sayangnya, saya tidak mendapatkan pengalaman membaca seperti itu.

Padahal Kudasai sebenarnya menawarkan banyak persoalan menarik: pernikahan tanpa cinta, pembagian peran suami istri, harga diri laki-laki, kesetiaan, dan bagaimana seseorang berdamai dengan masa lalunya. Sayangnya, semua potensi tersebut kalah oleh konflik yang terasa dipaksakan dan tokoh-tokoh yang tidak cukup berkembang.

Mungkin ada pembaca yang menyukai novel ini karena merasa terhubung dengan kesedihan para tokohnya. Sah-sah saja.

Tetapi bagi saya, karakter yang menyedihkan belum tentu berhasil membuat pembaca merasa sedih. Begitu pula konflik yang rumit belum tentu menghasilkan cerita yang kuat. Ada sesuatu yang harus dibangun di antara keduanya: alasan yang cukup meyakinkan bagi pembaca untuk peduli.

Dan itulah yang tidak saya dapatkan dari Kudasai.

Setelah menutup buku ini, kesan saya tetap sama: premisnya menarik, tetapi alurnya lemah, bodorannya garing, beberapa kebetulannya terlalu dipaksakan, dan hampir semua tokohnya membuat saya kehabisan kesabaran.

Mungkin Kudasai memang bukan buku untuk saya.

Dan untuk sekali ini, saya tidak merasa perlu memaksakan diri menemukan pelajaran hidup yang mendalam dari sebuah novel yang sejak awal tidak berhasil saya nikmati. Tidak apa-apa juga, kan?. Tidak semua buku harus disukai. Bahkan ketika banyak orang lain menyukainya.

Hanya saja, setelah selesai membaca, saya masih bertanya-tanya mengapa novel ini diberi judul Kudasai. Kalau kudasai berarti “tolong”, rasanya saya ingin menggunakan kata itu untuk menyampaikan satu permintaan sederhana:

Tolong, bisakah setidaknya dalam novel ini ada satu tokoh saja yang cukup waras.


Minggu, 04 Oktober 2026

Ah, Sudah Biasa

Saya sangat suka membaca dan memasak.

Untuk urusan yang kedua, saya bukan juru masak hebat. Masih sering membuka resep, masih suka mengira-ngira takaran, dan masih dikomentari kalau hasil masakan saya belum konsisten, kadang enak, kadang sangat enak, kadang berdiri di antara enak dan biasa saja. =D

Tapi ada dua jenis makanan yang cukup berani saya klaim sudah saya kuasai: kentang mustopa dan bolu keju. Dua jenis masakan yang kata orang, agak tricky.

Kentang mustopa harus digoreng sampai kering, tapi jangan sampai gosong. Bumbunya harus cukup lengket untuk menempel, tapi tidak boleh membuat kentangnya melempem. Bolu juga begitu. Salah mengocok telur, salah mengaduk adonan, salah suhu oven, adonan bolu bisa ngambek tak mau mengembang.

Tapi karena sudah membuat keduanya entah berapa puluh kali, saya tak lagi terlalu memikirkan semua itu. Sudah hafal. Sudah biasa. Sudah bisa. Sampai kemarin saya membuat bolu keju dan GAGAL =D.

Saya sampai berdiri cukup lama di depan oven, menatap kue bantat yang tidak mengembang sebagaimana mestinya dengan perasaan tersinggung. Lho? Kok bisa?. Rasanya seperti dikhianati oleh sesuatu yang selama ini saya percaya tidak mungkin lagi gagal.

Kalau sedang mencoba resep baru lalu gagal, saya bisa terima. Namanya juga belajar. Tapi ini bolu keju. Bolu. Keju. Makanan yang resepnya bahkan sudah tidak perlu saya baca lagi.

Setelah dipikir-pikir, mungkin justru di situlah masalahnya. Karena merasa sudah bisa, saya tidak lagi seteliti ketika pertama kali belajar. Beberapa tahap dilakukan sambil lalu. Takaran mulai berani dikira-kira. Dan perhatian yang dulu saya berikan penuh kepada setiap prosesnya perlahan digantikan oleh satu perasaan yang ternyata cukup berbahaya: Ah, gampang. Sudah biasa.

Rupanya pengalaman memang membuat kita lebih mahir. Tapi diam-diam ia juga bisa membuat kita lengah. Saya kemudian memandangi bolu gagal itu sambil tertawa sendiri. Betapa luar biasanya hidup yang punya cara sederhana untuk mengingatkan bahwa pernah berhasil berkali-kali ternyata tidak membuat kita kebal terhadap kegagalan berikutnya. Dan mungkin itu berlaku untuk banyak hal.

Ada pekerjaan yang sudah kita lakukan bertahun-tahun.

Ada jalan yang sudah berkali-kali kita lewati.

Ada kemampuan yang begitu kita yakini

Ada orang yang merasa sudah kita kenal luar kepala sampai lupa bahwa semuanya tetap membutuhkan perhatian. 

Bukan berarti setelah ini saya akan menimbang tepung dengan wajah tegang seperti sedang melakukan praktikum kimia. Saya hanya diingatkan untuk sedikit berhati-hati pada kalimat: “Saya sudah tahu.” Sebab kadang-kadang, justru setelah kalimat itulah kita berhenti memperhatikan. Dan kehidupan—atau dalam kasus saya, sepotong bolu keju yang bantat—punya cara yang lucu untuk mengingatkan bahwa menjadi berpengalaman tidak pernah berarti menjadi mustahil salah.

Baiklah. Besok kita coba lagi. Toh bolu yang gagal masih bisa dimakan. Yang sedikit lebih sulit ditelan mungkin cuma kesombongan tukang masaknya. =D

 

Membaca Diri Sendiri

 Akhir pekan ngapain aja?, 

Jawaban saya: “seperti biasa: memasak dan tetap bekerja dengan laptop di akhir pekan”. 

Saya memang sangat suka memasak, meskipun belum percaya diri untuk membuka rumah makan sendiri, tapi rasanya hasil masakan saya sudah bisa dikategorikan lumayan. Dan setiap akhir pekan selalu menjadi kesempatan untuk saya mencoba resep-resep baru sekalian menyiapkan stok makanan di rumah untuk satu minggu ke depan. Karena penyakit saya kebetulan sedang kambuh lagi, yang saya buat akhir pekan ini lebih sedikit dari biasanya: rendang, opor ayam, baso tahu, kentang mustopa, capcay, bolu keju, pempek beserta cukonya, dan teh sangrai susu, bahasa kerennya roasted milk tea =D. 

Sambil memasak dan membereskan ini-itu, di sela-selanya saya membuka kembali tulisan di blog yang sudah lama tidak saya tengok. Niat awalnya cuma ingin merapikan beberapa tulisan lama. Ternyata saya malah menemukan banyak sekali hal yang perlu dikoreksi. Bukan salah ketik. Bukan tanda baca. Bukan pula kalimat yang kepanjangan. Tapi refleksi dari diri saya sendiri yang ternyata harus diperbaiki ðŸ˜‚.

Ya ampun.

Ternyata saya dulu sombong sekali. Beberapa kali saya berhenti membaca hanya untuk bertanya kepada diri sendiri: ini serius dulu saya nulis begini T-T.

Ada begitu banyak kalimat yang ditulis dengan keyakinan dan mungkin kesombongan yang luar biasa. Seolah hidup hanya punya satu cara untuk dipahami dan, entah dapat kepercayaan diri dari mana, cara sayalah yang paling benar. Begitu mudah menilai keputusan orang lain. Begitu cepat menyimpulkan. Begitu ringan menggunakan kata “seharusnya” untuk hal yang bahkan tidak sepenuhnya saya pahami.

Lucunya, ketika menulisnya dulu, saya mungkin merasa sedang menjadi orang yang kritis. Sekarang ketika membacanya kembali, rasanya lebih terdengar seperti seseorang yang belum banyak tahu tentang hidup tapi sudah sibuk membuat kesimpulan. Mungkin memang ada semacam kesombongan yang lahir bukan karena kita tahu terlalu banyak, tetapi justru karena belum mengalami cukup banyak hal.

Dunia terlihat sederhana ketika kita hanya pernah melihatnya dari satu sisi. 

Lalu umur bertambah. Hidup membawa kita ke tempat-tempat yang dulu tidak pernah kita bayangkan. Kita melakukan kesalahan. Mengambil keputusan yang dahulu mungkin akan kita cela jika dilakukan orang lain. Mencintai orang yang mungkin dulu kita anggap tidak seharusnya dicintai. Bertahan ketika menurut teori mestinya pergi. Pergi ketika orang lain berpikir mestinya bertahan. Lalu bertemu manusia-manusia dengan cerita yang ternyata jauh lebih rumit daripada yang terlihat dari luar. Dan perlahan-lahan kata “seharusnya” menjadi tidak semudah itu diucapkan.

Bukan karena sekarang saya sudah lebih tahu tentang hidup. Justru mungkin karena semakin ke sini saya semakin sadar betapa banyak yang tidak saya tahu. Akhirnya saya mengoreksi beberapa tulisan itu. Sebagian kalimat saya hapus, sebagian saya lunakkan. Bukan karena ingin menghapus siapa saya dahulu. Justru rasanya menyenangkan menemukan bukti bahwa cara pandang saya ternyata berubah.

Blog ini akhirnya seperti mesin waktu kecil.

Di sini saya bertemu diri sendiri dari berbagai umur: yang pernah sok tahu, pernah merasa paling benar, pernah mudah menghakimi, pernah terluka, pernah bahagia, dan pernah menulis sesuatu dengan keyakinan penuh yang bertahun-tahun kemudian ternyata saya pertanyakan sendiri.

Aneh rasanya membaca diri sendiri. Sedikit memalukan. Tapi juga menyenangkan. Karena ternyata berubah pikiran tidak selalu berarti kita dahulu sepenuhnya salah dan sekarang sepenuhnya benar. Kadang itu cuma berarti hidup telah memberi kita beberapa halaman tambahan. 

Akhir pekan ini, di antara masakan yang matang dan tulisan-tulisan lama yang dibongkar kembali, saya menemukan satu hal: ternyata bertambah dewasa bukan berarti semakin banyak tahu. Kadang justru ditandai dengan semakin sering kita berkata, “Oh… ternyata saya memang tidak tahu apa-apa.”

The Taxi Cab Theory: Tentang Cinta, Timing, dan Perempuan yang Menunggu

Saya baru tahu ada istilah The Taxi Cab Theory.

Teorinya sederhana, tapi kalau dipikir-pikir agak menyebalkan.

Konon, laki-laki itu seperti taksi. Selama lampunya belum menyala, ia akan terus berjalan. Bisa bertemu banyak perempuan, jatuh cinta, menjalin hubungan bertahun-tahun, bahkan mungkin bertemu seseorang yang sebenarnya sangat ia inginkan. Tapi kalau saat itu ia belum ingin menikah, ya tidak akan menikah.

Lalu suatu hari lampunya menyala.

Available.

Ia merasa sudah cukup bermain-main, kariernya sudah lumayan, hidupnya sudah lebih tenang, teman-temannya satu per satu menikah, atau entah apa yang akhirnya membuat seorang laki-laki berpikir: kayaknya gue mau nikah. Dan menurut teori ini, perempuan yang kemudian dinikahinya belum tentu perempuan yang paling ia cintai sepanjang hidupnya. Bisa jadi ia hanya perempuan yang kebetulan ada di sana ketika lampu itu menyala. Dan ini ternyata bukan omong kosong, dalam kehidupan nyata, saya menemukan bukan hanya satu kasus seperti ini, saya menemukan beberapa laki-laki yang mengakui bahwa mereka menikah bukan dengan orang yang betul-betul diinginkan, mereka menikah semata karena alasan: sudah ingin dan sudah siap menikah, lalu kebetulan ada dia disana, dan ya sudah, taraaa... menikah deh.

Nah, bagian ini yang menurut saya agak kejam.

Karena berarti kita bisa menjadi perempuan yang sangat dicintai pada waktu yang salah, lalu melihat laki-laki yang sama menikahi perempuan yang baru dikenalnya karena perempuan itu datang pada waktu yang tepat.

Kita mungkin pernah bersamanya bertahun-tahun. Menemaninya ketika hidupnya belum jelas. Tahu makanan kesukaannya, hafal kebiasaan buruknya, mengenal keluarganya, tahu bagaimana wajahnya ketika marah dan bagaimana suaranya ketika baru bangun tidur. Tapi ketika ditanya soal pernikahan, jawabannya: Aku belum siap.

Lalu hubungan itu berakhir.

Beberapa waktu kemudian kita mendengar dia menikah dengan perempuan lain.

Rasanya tentu ingin protes.

Lho? Katanya belum siap?

Tapi mungkin waktu bersama kita dulu, dia memang benar-benar belum siap.  Dan mungkin ini bagian dari Taxi Cab Theory yang cukup masuk akal: cinta dan kesiapan ternyata dua hal yang berbeda. Kita bisa mencintai seseorang tanpa siap membangun kehidupan bersamanya. Dan ketika akhirnya kesiapan itu datang, orang yang dahulu kita cintai mungkin sudah tidak ada di sana.

Tapi ada sesuatu dari teori ini yang mengganggu saya.

Kenapa harus laki-laki yang menjadi taksi?.

Kenapa laki-laki digambarkan punya kemewahan untuk terus berjalan, mencoba berbagai hubungan, membangun karier, menikmati hidup, lalu suatu hari memutuskan sendiri kapan lampunya akan menyala?.  Sementara perempuan seperti orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Menunggu. Berharap kebetulan berada di sana ketika sebuah taksi akhirnya available.

Ada asumsi yang sangat patriarkal di balik gambaran sederhana itu: seolah laki-laki punya waktu yang hampir tidak terbatas untuk menentukan kapan ia siap, sementara perempuan punya tenggat. Laki-laki berusia tiga puluh sekian dan belum menikah dianggap masih ingin menikmati hidup. Sementara perempuan pada usia yang sama mulai ditanya kapan menikah, disuruh jangan terlalu pemilih, diingatkan tentang umur, tentang anak, tentang kesuburan, seakan-akan ada jam besar yang terus berdetak di belakang kepalanya.

Dan mungkin karena itulah perempuan sering kali lebih mudah terjebak dalam hubungan yang tidak jelas.

Barangkali tahun depan dia siap.

Mungkin setelah pekerjaannya lebih mapan.

Mungkin setelah masalah keluarganya selesai.

Mungkin kalau aku sedikit lebih sabar.

Lalu satu tahun menjadi dua. Dua menjadi lima. Tanpa sadar kita tidak lagi menjalani hidup sendiri. Kita sedang menunggu lampu orang lain menyala. Saya rasa di sinilah Taxi Cab Theory menjadi berbahaya kalau diterima mentah-mentah. Karena perempuan bisa dibuat percaya bahwa tugasnya adalah bertahan sampai seorang laki-laki akhirnya siap.

Apalagi ada ketakutan yang sangat manusiawi: Bagaimana kalau aku pergi sekarang, lalu perempuan berikutnya justru yang dinikahinya?

Sakit, tentu saja. Membayangkan kita menemani seseorang bertahun-tahun, kemudian perempuan yang datang setelah kita mendapatkan rumah, pernikahan, dan kehidupan yang dulu pernah kita bayangkan bersamanya.

Tapi semakin saya pikirkan, mungkin pertanyaannya memang bukan: Bagaimana kalau setelah aku pergi dia menikahi perempuan lain?

Pertanyaannya justru: Berapa banyak hidup saya sendiri yang bersedia saya habiskan menunggu seseorang memutuskan apakah ia menginginkan kehidupan yang sama dengan saya?.

Karena kesiapan dia adalah haknya. Tapi menunggu bukan kewajiban kita.

Kalau seseorang mengatakan ia belum siap menikah, mungkin kita memang harus mempercayainya. Bukan menerjemahkannya menjadi tunggu aku, bukan pula menjadikannya proyek yang harus kita selesaikan sampai suatu hari ia berubah pikiran. Ia boleh belum siap. Dan kita boleh pergi.

Kalau lima tahun kemudian dia menikahi perempuan lain, itu tidak otomatis berarti perempuan itu lebih baik daripada kita. Tidak juga membuktikan bahwa selama ini kita kurang cantik, kurang sabar, kurang pengertian, atau kurang layak untuk dipilih.

Mungkin hidupnya memang sudah berubah. Mungkin dirinya sudah berubah. Mungkin lampunya baru menyala saat itu. Dan mungkin kita memang datang terlalu cepat. Atau mungkin sesederhana; "memang bukan jodohnya".

Tapi ada satu hal yang rasanya perlu dikoreksi dari teori ini. Perempuan bukan seseorang yang berdiri di pinggir jalan menunggu taksi mana yang akhirnya berhenti di depannya. Dia juga punya kendaraan sendiri. Punya tujuan sendiri. Punya waktu sendiri. Punya jalan-jalan yang ingin ditempuh dan tempat-tempat yang ingin dituju. Kadang kita bertemu seseorang dan ternyata ingin pergi ke arah yang sama. Menyenangkan sekali kalau waktunya juga tepat. Tapi kalau ternyata tidak, mungkin kita tidak perlu terus berdiri di persimpangan sambil berharap suatu hari ia akan berbalik arah. Biarkan dia pergi. Kita juga punya perjalanan. Karena pada akhirnya, mungkin masalahnya bukan siapa yang berdiri di sana ketika lampu taksinya menyala. Tapi apakah kita benar-benar mau menghabiskan hidup dengan menunggu taksi seseorang, sementara kendaraan kita sendiri sejak tadi sudah siap berangkat.

 

Ternyata, Tidak Apa-Apa

  Sudah beberapa waktu ini saya berhenti membuka media sosial. Tidak ada alasan yang terlalu dramatis. Saya hanya merasa perlu mengambil jar...