Penulis | : Brian Khrisna |
Penerbit | : MediaKita |
Tahun terbit | : 2019 |
Jumlah halaman | : 456 halaman |
Mengandung spoiler.
Tidak semua buku yang selesai dibaca meninggalkan kesan menyenangkan. Ada buku yang membuat kita ingin segera membaca karya lain dari penulisnya, ada yang membuat kita termenung berhari-hari, dan ada pula yang setelah halaman terakhir ditutup justru membuat kita bertanya-tanya: duh, tadi tuh, sebenarnya habis baca apa, sih?
Sayangnya, Kudasai karya Brian Khrisna masuk kategori terakhir untuk saya.
Kekecewaan pertama justru datang dari judulnya. Kudasai merupakan kata dalam bahasa Jepang yang kurang lebih berarti “tolong” atau “mohon”. Saya pikir novel ini akan sedikit banyak bersinggungan dengan Jepang. Ternyata tidak. Dan sampai halaman terakhir, terlepas dari ketiadaan unsur Jejepangan ini, saya masih kesulitan menemukan hubungan yang cukup kuat antara judul dan ceritanya.
Padahal premisnya menarik.
Chaka menikah dengan Twindy, perempuan cantik, kaya, mandiri, dan sukses memimpin firma arsitektur. Twindy bisa dibilang alpha female: dominan, percaya diri, terbiasa memegang kendali, dan tahu apa yang diinginkannya. Sementara Chaka mengelola kafe, mengurus rumah tangga, dan memiliki selera humor yang lumayan menghibur.
Pernikahan mereka bermula bukan karena cinta, tetapi perlahan Chaka justru benar-benar jatuh cinta kepada istrinya.
Dan menurut saya, itu sangat masuk akal.
Coba pikirkan. Twindy cantik, mapan, dan mampu menawarkan masa depan yang lebih stabil. Tentu cinta bukan semata-mata persoalan kecantikan dan kekayaan. Tetapi kebersamaan, kenyamanan, dan kehidupan yang dibangun setiap hari merupakan alasan yang sangat manusiawi untuk menumbuhkan perasaan. Justru bagian ini yang paling mudah saya terima. Yang sulit saya terima adalah kelakuan tokoh-tokohnya.
Mari mulai dari Twindy.
Saya sebenarnya menyukai gagasan menghadirkan tokoh perempuan yang kuat, mandiri secara finansial, dan tidak bergantung pada laki-laki. Tetapi Twindy ini bukan sekadar dominan. Ia juga gampang sekali marah, gemar membentak Chaka, dan sedikit-sedikit meminta cerai.
Ya ampun, Twindy. Menikah itu bukan langganan internet yang setiap kali kesal bisa langsung minta berhenti berlangganan.
Perempuan kuat tentu boleh memiliki temperamen keras. Tetapi menjadi mandiri dan sukses tidak otomatis membenarkan kebiasaan memperlakukan pasangan dengan buruk. Saya justru menyayangkan karakter Twindy karena potensinya sangat besar untuk mengeksplorasi hubungan suami istri dengan pembagian peran yang tidak konvensional.
Sayangnya, yang lebih sering saya temukan justru pertengkaran dan ancaman perceraian.
Lalu Chaka.
Ya Tuhan, Chaka ini juga tidak kalah menyebalkan.
Di satu sisi ia digambarkan sebagai laki-laki humoris, gemar bercanda, dan pandai melontarkan lelucon. Tetapi di sisi lain, ia begitu cengeng, pasif, dan tidak berdaya menghadapi persoalannya sendiri.
Memang, orang humoris bisa saja menyimpan kesedihan. Saya tidak mempermasalahkan laki-laki yang menangis atau memiliki perasaan rapuh. Yang mengganggu adalah bagaimana Chaka terus-menerus terlihat tidak mampu mengambil keputusan dengan tegas.
Lebih lucu lagi, meskipun sering takut menghadapi Twindy, dalam hati Chaka justru gemar mengomel dan melontarkan komentar-komentar tidak menyenangkan tentang istrinya.
Jadi, istrinya suka membentak, suaminya suka mengumpat dalam hati. Pasangan yang luar biasa komunikatif, bukan?.
Dan persoalan Chaka tidak berhenti di situ.
Ia meninggalkan Anet, mantan kekasihnya, tanpa memberikan penjelasan yang layak. Alasannya, ia ingin Anet membencinya agar perempuan itu berhenti berharap. Saya tahu, mungkin penulis ingin menggambarkan pengorbanan. Tetapi bagi saya, itu bukan romantis. Itu pengecut.
Mengapa Chaka merasa berhak menentukan apa yang terbaik bagi Anet tanpa memberikan kesempatan kepada perempuan itu untuk memahami keadaan dan menentukan pilihannya sendiri?. Bukankah kejujuran, betapapun menyakitkan, jauh lebih menghargai seseorang daripada menghilang dan membiarkannya hidup dalam tanda tanya?
Lalu setelah bertahun-tahun ditinggalkan, Anet tiba-tiba muncul kembali sebagai pelanggan di kafe Chaka. Dari sekian banyak kafe di muka bumi ini, tentu saja harus kafe Chaka.
Kebetulan memang bisa terjadi dalam kehidupan nyata. Tetapi kebetulan yang menjadi fondasi konflik besar seharusnya dibangun dengan lebih meyakinkan. Bagi saya, pertemuan mereka terasa terlalu dipaksakan demi menggerakkan cerita.
Dan bagaimana dengan Anet?. Duh, Anet ini juga lemah sekali.
Saya memahami bahwa ditinggalkan tanpa penjelasan bisa sangat menyakitkan. Tetapi kepasrahannya terhadap Chaka membuat saya semakin sulit bersimpati. Ia terlalu lama terjebak dalam perasaan terhadap laki-laki yang bahkan tidak cukup berani untuk menjelaskan mengapa hubungan mereka harus berakhir.
Jadi, ada Twindy yang sedikit-sedikit marah dan meminta cerai, Chaka yang pengecut sekaligus gemar mengomel dalam hati, serta Anet yang terlalu pasrah pada masa lalu.
Duh, Tuhan. Semua tokohnya rasanya ingin saya tabok satu-satu.
Tentu karakter dalam novel tidak harus sempurna. Justru tokoh yang memiliki kelemahan sering kali lebih menarik karena terasa manusiawi. Tetapi kelemahan karakter seharusnya dikembangkan menjadi sesuatu yang membuat pembaca memahami perjalanan batinnya. Dalam Kudasai, saya justru merasa sifat-sifat menyebalkan itu terlalu sering menjadi bahan bakar konflik tanpa diimbangi perkembangan karakter yang cukup meyakinkan.
Dan ketika cerita akhirnya berujung pada kematian Chaka karena bunuh diri, saya bukannya merasa tersentuh, melainkan semakin kecewa. Bukan karena orang yang humoris, memiliki pasangan yang baik, atau hidup berkecukupan tidak mungkin mengalami penderitaan psikologis yang berat. Tentu saja mungkin. Tetapi dalam sebuah novel, saya berharap pergulatan batin tokohnya dibangun dengan cukup kuat sehingga akhir yang tragis terasa sebagai bagian yang utuh dari cerita.
Sayangnya, saya tidak mendapatkan pengalaman membaca seperti itu.
Padahal Kudasai sebenarnya menawarkan banyak persoalan menarik: pernikahan tanpa cinta, pembagian peran suami istri, harga diri laki-laki, kesetiaan, dan bagaimana seseorang berdamai dengan masa lalunya. Sayangnya, semua potensi tersebut kalah oleh konflik yang terasa dipaksakan dan tokoh-tokoh yang tidak cukup berkembang.
Mungkin ada pembaca yang menyukai novel ini karena merasa terhubung dengan kesedihan para tokohnya. Sah-sah saja.
Tetapi bagi saya, karakter yang menyedihkan belum tentu berhasil membuat pembaca merasa sedih. Begitu pula konflik yang rumit belum tentu menghasilkan cerita yang kuat. Ada sesuatu yang harus dibangun di antara keduanya: alasan yang cukup meyakinkan bagi pembaca untuk peduli.
Dan itulah yang tidak saya dapatkan dari Kudasai.
Setelah menutup buku ini, kesan saya tetap sama: premisnya menarik, tetapi alurnya lemah, bodorannya garing, beberapa kebetulannya terlalu dipaksakan, dan hampir semua tokohnya membuat saya kehabisan kesabaran.
Mungkin Kudasai memang bukan buku untuk saya.
Dan untuk sekali ini, saya tidak merasa perlu memaksakan diri menemukan pelajaran hidup yang mendalam dari sebuah novel yang sejak awal tidak berhasil saya nikmati. Tidak apa-apa juga, kan?. Tidak semua buku harus disukai. Bahkan ketika banyak orang lain menyukainya.
Hanya saja, setelah selesai membaca, saya masih bertanya-tanya mengapa novel ini diberi judul Kudasai. Kalau kudasai berarti “tolong”, rasanya saya ingin menggunakan kata itu untuk menyampaikan satu permintaan sederhana:
Tolong, bisakah setidaknya dalam novel ini ada satu tokoh saja yang cukup waras.

