Kamis, 28 September 2017

Cinta dalam Dimensi Seorang Snape (Harry Potter dan Relikui Kematian)




If you loved Lily Evans, if you truly loved her, then your way forward is clear.”
Snape seemed to peer through a haze of pain, and Dumbledore’s words appeared to take a long time to reach him.
“What — what do you mean?”
“You know how and why she died. Make sure it was not in vain. Help me protect Lily’s son.”
(Deathly Hallows, Chapter 33, The Prince's Tale).



[Snape] stood up. “You have used me.”
“Meaning?”
“I have spied for you and lied for you, put myself in mortal danger for you. Everything was supposed to be to keep Lily Potter’s son safe. Now you tell me you have been raising him like a pig for slaughter-”
“But this is touching, Severus,” said Dumbledore seriously. “Have you grown to care for the boy, after all?”
“For him?” shouted Snape. “Expecto Patronum!
From the tip of his wand burst the silver doe: she landed on the office floor, bounded once across the office, and soared out of the window. Dumbledore watched her fly away, and as her silvery glow faded he turned back to Snape, and his eyes were full of tears.
After all this time?
“Always,” said Snape.
(Deathly Hallows, Chapter 33, The Prince's Tale).



Snape adalah karakter yang sama sekali tak pernah masuk dalam hitungan saya sejak pertama mengenal serial Harry Potter. Bagaimana bisa masuk hitungan, sejak buku pertama ia selalu digambarkan sebagai sosok guru yang menyebalkan, selalu pilih kasih terhadap Draco Malfoy yang merupakan musuh Harry, begitu pun setiap tindakan ataupun gerak geriknya selalu menunjukkan kebencian yang sengit terhadap Harry. Dengan semua penggambaran seperti itu, mana bisa ia jadi tokoh yang mendapat simpati dari pembaca.

Namun pelan-pelan citra terhadap dirinya mulai berubah. Terungkap kemudian bahwa justru Snape telah beberapa kali menyelamatkan hidup Harry, bahkan sejak tahun pertama Harry ada di Hogwarts. Terungkap juga bagaimana cintanya Snape pada ibunya Harry, yang kemudian menjadi alasan kuat bagi Dumbledore untuk tetap percaya pada Snape bahkan ketika Snape harus menjadi agen ganda. 

Dan jika kemudan Harry menamai salah satu putranya dengan nama depan Snape, menurut saya itu sangat layak untuk Snape mengingat semua pengorbanan yang telah dilakukannya. Tak mudah menjadi seorang Snape, pada usia remaja, kemiskinan dan kecenderungannya akan ilmu hitam membuatnya menjadi bulan-bulanan murid lain yang lebih popular (dalam hal ini James Potter dan gengnya), di usia beranjak dewasa wanita yang dicintainya sejak kecil malah menikah dengan orang lain, dan di masa dewasanya ia menjadi sosok yang selalu dianggap berada di bawah bayang-bayang Voldemort hingga ia tak pernah mendapat kepercayaan penuh dari rekan sejawatnya sendiri di Hogwarts. 

Dan memang tak mudah juga bagi Snape untuk menjadi seorang agen ganda. Ia mempertaruhkan nyawanya sendiri dengan memainkan peran berpihak pada Voldemort padahal kesetiaan tertingginya adalah untuk Dombledore. Satu-satunya yang membuat ia mampu menjalaninya mungkin hanya satu: motivasinya untuk menjaga anak Lily Evans, cinta sejatinya, tetap hidup.

Bahkan saat membunuh Dumbledore pun, siapa yang meyangka bahwa itu semata untuk menjalankan perintah dari Dumbledore sendiri, untuk menyelamatkan Draco Malfoy, untuk mencegah jiwa Draco rusak karena menjadi seorang pembunuh.

Snape memang karakter yang sangat unik. Tokoh yang lebih mudah untuk dicap sebagai antagonis karena memang demikianlah pembawaannya.  Lebih mudah untuk menyematkan cap penjahat pada Snape alih-alih mengakui kepahlawanan yang selalu dilakukannya di belakang layar.

Ada satu bagian yang akan selalu saya kenang dari buku Harry Potter dan Relikui Kematian, yaitu saat Snape protes pada Dumbledore: 

Dumbledore menarik nafas dalam-dalam dan berujar pelan. ”Memberitahunya bahwa pada malam ia dapat bertahan hidup, Lily memasang tameng baginya dengan nyawanya sendiri. Kutukan Maut memantul kepada Voldemort dan seserpih jiwa Voldemort tercabik dari keseluruhannya dan menempel pada satu-satunya jiwa yang masih hidup didalam bangunan rumah mereka. Sebagian dari jiwa Voldemort hidup dalam jiwa Harry. Dan selama jiwa itu ada, Voldemort tidak akan mati.” Dumbledore menarik nafas dalam. ”Dan Voldemort sendiri yang harus melakukannya. Ini penting.”

”Jadi... Anak itu harus mati?” Severus Snape terperangah, ia terkejut mendapat pernyataan seperti demikian. ”Kupikir... selama bertahun-tahun ini... kita melindunginya untuknya. Untuk Lily.”

”Kita melindunginya, karena perlu sekali untuk mendidiknya, membesarkannya, membiarkannya mencoba kekuatannya,” kata Dumbledore.

”Kau mempertahankannya untuk tetap hidup supaya bisa mati pada saat yang tepat?” Snape menarik nafas panjang. ”Aku sudah menjadi mata-mata untukmu, berbohong untukmu. Semuanya dimaksudkan untuk menjaga anak Lily Potter tetap selamat. Sekarang kau memberitahuku kau membesarkannya seperti hewan yang akan disembelih—”

”Ini mengharukan,  Severus. Apakah kau kini telah menyukai anak itu, akhirnya?”

”Menyukai dia?” teriak Snape. ”Expecto Patronum!” Dari ujung tongkat sihir Snape muncul sesosok rusa betina keperakan. Rusa itu mendarat di lantai kantor dan melesat keluar dari jendela. Dumbledore mengawasinya terbang menjauh, dan ketika cahaya perak memudar, dia menoleh kembali kepada Snape, dan matanya penuh dengan air mata.

”Setelah sekian lama ini?”

”Selalu.” 


Dumbledore kaget, karena bentuk patronus Snape masih berbentuk rusa betina, persis sama dengan patronusnya Lily, padahal bertahun sudah Lily meninggal.

Ya, bertahun sudah Snape mencintai Lily, selalu disampingnya bahkan sejak kecil saat Lily belum menyadari kekuatannya sendiri sebagai seorang penyihir. Cinta itu disimpannya terus bahkan hingga saat Lily memutuskan untuk menikah dengan musuh bebuyutannya sejak sekolah: James Potter. Saat Lily terbunuh mungkin adalah titik balik dalam hidup Snape, ia menyeberang ke pihak Dumbledore dan memastikan bahwa tujuan hidupnya kemudian hanya satu: menjaga anak Lily tetap hidup, setelah ia gagal menjaga hidup Lily yang selalu dicintainya.




Siapa sangka jika cinta tak bersyaratnya pada Lily-lah yang membuat alur hidupnya berubah, dari pengikut sihir hitam yang keji menjadi pahlawan yang kebesaran jiwanya tak diragukan lagi meski selalu berada di balik layar. Fragmen-fragmen singkat saat Harry melihat ke dalam pensieve ingatan terakhir Snape:  Snape memeluk jasad Lily yang tak bernyawa dengan jeritan dan tangis pilu, Snape yang kemudian mendatangi Dumbledore dalam keadaan kacau balau, Snape yang mengacak-acak kamar Sirius untuk menyobek foto Lily dan bagian terakhir surat yang tertera tanda tangan Lily, semakin mengokohkan fakta bahwa ya, terlepas kepada siapa akhirnya Lily memutuskan untuk memberikan hatinya, cinta Snape tetap tak berubah.

Cinta tak bersyarat seperti itu, saya yakin tak semua orang punya. Dan entah kenapa, tiba-tiba saja saya merasa, satu fragmen Snape menyihir patronus yang sama persis dengan patronus Lily di depan Dumbledore, setara dengan kisah cinta berjilid-jilidnya Isabella Swan dan Edward Cullen.



*gambar saya ambil dari https://www.pinterest.com/source/abby27nix.deviantart.com/ dan http://vitrinugraha.blogspot.co.id/2013/08/dibalik-seorang-severus-snape.html


Senin, 25 September 2017

Menghilangkan Flek Hitam di Wajah (2)



“Merawat kulit itu adalah tentang belajar bersyukur dan menghargai diri sendiri"




Entah karena kurang telaten atau bagaimana, tapi cara yang saya posting sebelumnya pada Menghilangkan Flek Hitam di Wajah ternyata tak berhasil. Flek hitam di wajah saya tak lantas berkurang atau bahkan entah karena faktor usia atau apa, flek-flek hitam itu rasanya malah menyebar dan semakin banyak. 


Saya mulai mencoba dan mempraktekkan banyak tips yang saya peroleh dari google, diantaranya:


  1. Dengan jeruk nipis, yang diaplikasikan di wajah setiap pagi dan malam hari. Cara ini direkomendasikan banyak orang sebagai salah satu metode yang ampuh, sayangnya tak berhasil untuk saya. Yang ada kulit muka saya perih dan pada suatu malam suami saya komentar: "Berasa tidur sama es teh lemon", duh...
  2. Dengan asam jawa, yang diaplikasikan di wajah setiap pagi dan malam hari, dibiarkan mengering dan kemudian dibasuh dengan air hangat. Well... muka saya memang terasa lebih halus, tapi flek hitamnya tetap saja tuh.
  3. Produk-produk yang diiklankan mampu menyamarkan noda hitam dan mencerahkan wajah seperti Pond’s dan Olay. Ini mungkin karena saya yang kurang telaten, tapi setelah sekian bulan pemakaian tak kunjung melihat perubahan yang berarti akhirnya rangkaian produk dari dua brand besar tersebut malah saya hibahkan.
  4. Bio Oil, produk ini sejatinya sih digunakan untuk mengobati stretch mark, tapi demi membaca salah satu kegunaan yang tertera di botolnya adalah untuk mengatasi uneven skin tone dan ageing skin lantas saya pun iseng mencobanya di muka. Sayangnya lagi-lagi karena saya yang cukup pembosan, setelah menghabiskan botol kedua, saya memutuskan untuk menghentikan penggunaan Bio Oil ini di muka saya.
Akhirnya saya kembali menghabiskan banyak waktu di depan komputer, untuk membaca berbagai review produk-produk kecantikan. Dan setelah membaca review dari banyak produk, pilihan saya kemudian jatuh pada SK II. Memang mahal sih, tapi membaca banyak review dari beauty blogger yang cocok dengan brand ini sungguh membuat ngiler. Apalagi ditambah dengan testimony produk ini awet untuk berbulan-bulan, hingga jika dikalkulasi anggaran tiap bulan menggunakan produk ini bisa sama bahkan jauh lebih murah dibanding biaya perawatan ke dokter.


Pada awalnya saya sempat tergoda untuk membeli produk SK II lewat online shop. Alasannya sederhana, harga yang ditawarkan online shop ternyata jauh lebih murah dari harga di gerai resmi. Tapi setelah  banyak membaca lagi, saya menemukan kasus-kasus dijualnya produk SKII yang palsu di luaran sana.  Karena saya belum tahu seperti apa produk SK II yang asli, maka saya memutuskan untuk pemakaian perdana saya harus beli ke gerai resmi. Simple saja, agar ketika nanti saya melanjutkan pemakaian dan membeli di situs online, saya tidak akan tertipu karena sudah punya pembanding produk yang asli. 


Produk SK II pertama yang saya beli adalah PITERA Welcome Set, produk ini terdiri dari Facial Treatment Clear Lotion 30ml, Facial Treatment Essence 75ml  dan R.N.A.Power Radical New Age 15g. Sayangnya saya tidak sempat mengambil foto produknya, jadi foto yang saya tampilkan disini berasal dari situs resmi SK II Indonesia.




Sebelum membeli produk ini, kulit saya dites dengan magic ring oleh beauty advisornya. Hasil yang diperoleh cukup membuat hati saya pedih (duh berlebihan ya ^^), karena berdasarkan hasil tes, noda hitam yang menjadi masalah terbesar saya setara dengan orang berusia 35 tahun, 5 tahun lebih tua dari usia saya sekarang, dan tak cukup sampai disitu, ternyata masih ada calon flek yang bersembunyi di bawah lapisan kulit. 


SK II mengeluarkan beberapa rangkaian produk untuk menghilangkan flek hitam, tetapi beauty advisornya menyarankan untuk pemakaian pertama cukup dengan PITERA Welcome Set ini saja dulu. Jika ternyata nanti ada tahap purguing,  pemakaian sebaiknya tetap dilanjutkan. Setelah tahap purguing ini terlewati barulah direkomendasikan untuk menambah rangkaian produk SK II yang lain. 

Alhamdulillah, kulit saya ternyata sama sekali tidak mengalami purguing, maka di bulan kedua saya memutuskan mencoba juga Whitening Power Spot Specialist.  Penampakannya seperti ini:






Dan hasilnya: bintik-bintik hitam saya semakin banyak, Sodara. Hadeuh... Merasa kecewa dengan hasilnya, saya memutuskan untuk berkonsultasi lagi dengan beauty advisornya. Jawaban yang saya dapat cukup melegakan ternyata. Jadi kata si beauty advisornya,  tahapan awal dari cara kerja serum SK II untuk menyamarkan flek hitam ini justru dengan mengangkat semua flek hitam termasuk yang masih calon ke atas permukaan kulit. Maka wajar jika pada tahap awal flek hitam ini terlihat semakin banyak dan semakin jelas. Setelah semua flek hitam terangkat ke permukaan kulit, barulah serum akan bekerja untuk menyamarkan. Selain itu, hal yang perlu dingat adalah flek hitam tidak muncul begitu saja di wajah. Biasanya flek ini muncul sedikit-sedikit akibat kebiasaan perawatan wajah yang salah dalam jangka waktu lama. Maka tidak masuk akal jika untuk menghilangkannya bisa dilakukan dengan instant. Saya dianjurkan untuk bersabar  dan meneruskan pemakaian semua rangkaian produk SK II yang saya punya seperti biasa. 


Sampai hari ini, hampir satu tahun sudah saya mencoba berdisiplin menggunakan rangkaian produk perawatan SK II. Saya belum berani bilang flek hitam di wajah saya hilang seluruhnya, tapi kemarin saya bertemu dengan seorang teman lama. Komentar pertamanya cukup membesarkan hati: “Nu, kulit wajahnya bersih ya sekarang”.


Di luar keinginan, saya kok senang ya mendengar komentarnya. =D


Kesimpulan: SKII ini recommended banget, repurchase?, yes, mahal pun saya bela-belain deh. Bukan apa-apa, dibanding membeli make-up yang berfungsi sebagai corrector, saya memilih berinvestasi pada perawatan kulit jangka panjang saja. Hehehe…


*gambar saya copy dari https://creativepool.com/ianperkins/projects/sk-ii-face-the-wild-for-sk-ii








Senin, 18 September 2017

AKAR, yang Terbaik dari Seluruh Serial Supernova






Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudra terkelam
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada
Ajarkan aku
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut
Bangun dari ilusi namun tak memilih pergi
Tunggu aku
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu


Saya sudah kadung jatuh cinta dengan Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, hingga ketika Dee meluncurkan buku selanjutnya dari serial Supernova yang berjudul Akar, saya termasuk salah satu yang ikut berebut di toko buku. Dan saya tidak kecewa, karena Akar bahkan lebih baik dari ekspektasi saya. Saya sampai berani menyimpulkan bahwa dari keseluruhan serial Supernova, Akar adalah buku yang terbaik.

Tak seperti KPBJ, sama sekali tak ada puisi di dalam buku ini selain di halaman pembuka. Tetapi pilihan  diksinya  yang menawan, dan jalan cerita yang tak biasa membuat saya merasa ikut hanyut dalam setiap lembarannya. Membuat saya jatuh cinta pada sosok Bodhi, tokoh utama pada buku ini: seorang pemuda yatim piatu berusia 24 tahun, dengan sederet anomali, diantaranya: mampu melihat makhluk gaib dan memiliki sederet tonjolan serupa tulang belakang yang tumbuh di kepala botaknya.

Cerita dibuka dengan Gio yang kehilangan Diva, dan ternyata bagian inilah yang menjadi benang merah antara seluruh serial Supernova. Adapun kisah selanjutnya yang menceritakan perjalanan hidup seorang Bodhi, tampak sama sekali tak bersinggungan dengan kisah pada KPBJ. Belakangan, setelah membaca serial-serial Supernova selanjutnya yaitu Petir, Partikel, dan Gelombang, saya menemukan bahwa setiap serial menceritakan kisah satu tokoh utama sebelum akhirnya semua cerita tokoh tersebut bertemu pada serial terakhir yang berjudul Intelegensi Embun Pagi.

Sejak bayi Bodhi memang istimewa, ditemukan di bawah pohon asam depan sebuah wihara, pohon asam itu langsung hangus tersambar petir begitu si bayi kecil diambil. Di usia 11 tahun Bodhi mampu melihat benda-benda mikron, dan mampu bertransformasi menjadi binatang yang ia tatap. Anehnya, kelebihan-kelebihan itu dianggap sebagai kutukan, hingga Guru Liong, kepala wihara sekaligus sosok pengganti ayah untuk Bodhi mengajarkannya ribuan mantra untuk mensucikan diri. Mantra-mantra itu mental, hingga pada satu titik Bodhi akhirnya memutuskan untuk keluar dari wihara, melakukan perjalanan untuk mencari apa yang dimaksud dengan "kesejatian".

Dimulailah perjalanan Bodhi backpacking keliling Asia. Dari mulai Bandung, Surabaya hingga ke Medan, lanjut ke Thailand, Laos, dan Kamboja. Dalam perjalanannya Bodhi bertemu banyak orang, dari mulai Ompung Berlin yang membantunya membuat sejumlah dokumen palsu, Trintan Sanders sesama backpacker yang kemudian diberinya tasbih Guru Liong, Kell  pria tampan yang kemudian mengajari Bodhi segala seluk beluk tentang tato, hingga Star wanita misterius yang menjadi konsumen tatonya. Dua nama terakhir belakangan memiliki peran penting dalam kisah terakhir Supernova.

Di luar cerita tentang Bodhi, saya mendapat banyak sekali informasi dari buku ini. Mulai informasi mengenai dunia per-backpacker-an hingga informasi mengenai tato dan komunitas punk. Semua itu dikemas dengan rangkaian bahasa yang "nyastra" dan enak dibaca, selipan humor yang menggelitik dan pilihan diksi yang tak biasa.

Dengan sederhana dan tak banyak tanya, bertahun-tahun Gio mencintai satu orang yang sama. Diarunginya perasaan itu tanpa lelah seperti menaklukkan jeram-jeram. Namun orang yang dicintainya hadir serupa kabut. Hubungan yang tak pernah beranjak ke mana-mana. Ada dan tiada seperti kabut malam yang tak tergenggam. Dan entah kenapa, Gio selalu memilih untuk tetap memandangi. Merapuh dengan sukarela.
Hal.5

Apa kabar, teman. Lama tidak berjumpa. Akankah kau mendekapku balik, atau mendorongku pergi?
Hal.187

Dan kepada sang Air, anasir yang memisahkan kami berdua, aku berdoa. Aku kecewa. Kau pisahkan kami. Kau buat jarak seolah kami ini dua individu berbeda.
Hal.190-191

Not terakhir tadi bergantung sepi. Tak ada yang menyambung. Mesin di tanganku berhenti berderap. Kesunyian rupanya sudah mengendap-endap naik, mencuri sahabatku dalam selendang niskala yang ujungnya tak bisa ditarik balik. Sahabatku digondol kemerduan kekal yang hadir tanpa lantun. Kemerduan yang belum saatnya kuleburi, tapi dia sudah. Sekarang, dia sudah.
Hal.194


Untuk saya Akar termasuk buku bagus yang tak bisa disimpan sebelum lembar terakhirnya selesai dibaca. Bagaimana menurutmu?




       

Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI

Judul Buku                 : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Penulis                         : Yusi Avianto Pareanom Penerbit         ...