Buku adalah sahabat paling senyap dan setia; ia adalah penasihat paling bijak dan terjangkau, serta guru yang paling sabar.
—Charles W. Eliot
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh.
Hidup adalah untuk mengolah hidup,
bekerja membalik tanah,
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
—W.S. Rendra, Sajak-Sajak Sepatu Tua
(Sajak ini saya temukan di salah satu rak perpustakaan ketika SMP. Dan entah kenapa, membuat saya semakin jatuh cinta: pada puisi dan pada buku.)
Perjalanan saya mencintai buku dimulai sejak saya “terpaksa” mengenal aksara.
Usia saya masih lima tahun. Satu-satunya teman sepermainan saya—anak dari ibu khadimat di rumah—sudah berusia tujuh tahun dan harus masuk sekolah dasar. Saya yang takut kehilangan teman kalau ia pergi sekolah akhirnya merengek ingin ikut sekolah juga.
Entah bagaimana prosesnya, saya kemudian diperbolehkan masuk sebagai anak bawang. Sialnya, setelah masuk kelas baru saya tahu bahwa rupanya tidak ada perlakuan istimewa untuk anak bawang. =D
Sejak kecil saya termasuk anak yang sangat cengeng. Setiap tidak bisa mengikuti pelajaran, saya menangis. Sampai mungkin bosan menangis terus, akhirnya saya minta ikut les calistung. Caturwulan pertama saya ranking 14. Caturwulan berikutnya melonjak menjadi ranking 2. Tapi hadiah terbesar dari belajar membaca ternyata bukan ranking. Dunia saya mendadak terbentang menjadi jauh lebih luas.
Kakak-kakak sepupu saya saat itu sudah SMP dan SMA dan sedang keranjingan cergam yang terbit berkala di Gramedia. Uang jajan saya tentu tidak cukup untuk ikut membeli, jadi saya punya strategi lain: ikut antre setiap tanggal terbit, supaya setelah mereka selesai, saya mendapat giliran membaca. Jadilah saya selalu ngintili mereka ke Gramedia.
Salah satu langganan kami adalah Tapak Sakti (The Buddha's Palm). Itu sebenarnya cergam dewasa dan ada beberapa kosakata kasar yang waktu itu bahkan saya tidak tahu artinya. Tapi gara-gara cergam itulah saya jadi keranjingan membaca. Dalam arti konotatif dan denotatif. =D
Setelah sanggup menamatkan satu cergam tanpa bantuan siapa pun, saya mulai melahap apa saja yang bisa ditemukan: kolom anak di surat kabar langganan Uwa, buku cerita Teteh yang dipinjam dari perpustakaan, komik-komik Aa yang berjilid-jilid, bahkan buku sejarah Aki.
Saya tumbuh ditemani Smurf, Asterix, Kungfu Boy, Candy Candy, Aku Anak Shaleh, Bobo, dan Rijal Haula Ar Rasul.
Saking sukanya membaca, saya pernah disuruh Mamah ke warung dan berjam-jam tidak kembali. Setelah dicari, ternyata saya malah sedang membaca di kolong meja belajar Aa. Kalau sedang membaca, saya memang seperti kehilangan hubungan dengan dunia luar. Dipanggil berkali-kali tidak mendengar. Orang bisa bicara di sebelah saya dan telinga saya mendadak berfungsi seperti ornamen saja.
Setelah pindah ke Tasikmalaya, masalah baru muncul: saya mulai kesulitan mencari bacaan bagus. Maka saya berteman dengan tetangga-tetangga yang usianya jauh di atas saya. Biar apa? Tentu supaya bisa pinjam buku mereka. =D
Sayangnya referensi mereka juga terbatas. Jadilah waktu luang saya paling bagus ditemani Lupus dan Donal Bebek, paling sial ketemu berjilid-jilid Wiro Sableng yang kalau sekarang saya ingat-ingat lagi ternyata banyak sekali adegan dewasanya.
Astagaaa.
Masuk SMP, saya mulai mengenal sastra dengan lebih serius. Perpustakaan sekolah kecil dan koleksinya terbatas, sampai rasanya dalam tiga tahun hampir semua koleksi sastranya sudah saya tamatkan. Tapi dari perpustakaan kecil itulah saya mengenal Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, N.H. Dini, dan para pengarang sastra lama lainnya. Di sana pula saya berkenalan dengan Winnetou dan buku-buku Karl May.
Apakah saya masih menjadi anak yang bersembunyi di kolong meja untuk membaca?
Tentu tidak. Badan saya sudah membesar dan tidak muat lagi. =D
Tapi saya masih anak yang sama, yang lebih suka membaca daripada bermain di luar rumah. Sampai suatu hari Bapak yang kesal berkomentar, "Teteh mah bakal jadi menak. Bacaa we padamelanna téh, boro-boro mengerjakan pekerjaan rumah seperti anak tetangga."
Apakah kemudian saya berubah? Tentu tidak juga.
Ketika melanjutkan sekolah di Bandung, saya menemukan tempat yang bagi saya seperti surga: Perpustakaan Daerah. Letaknya cukup dekat dari sekolah, jadi hampir setiap hari saya datang ke sana. Biasanya saya meminjam tiga buku: dua buku pelajaran dan satu novel. Saya selalu membuat target, novel itu harus selesai sebelum kunjungan berikutnya.
Anehnya, meskipun membaca sebanyak itu, masa SMK saya tidak sepenuhnya dihabiskan di perpustakaan. Saya tetap ikut segala macam acara “tak berguna”: camping, kumpul-kumpul sepulang sekolah, dan segala keriaan bersama teman-teman.
Dan mungkin karena terbiasa membaca banyak hal, memahami materi sekolah terasa lebih mudah. Saya bertahan menjadi juara umum dari tahun ke tahun. Pelan-pelan membaca bukan lagi sekadar hobi. Ia menjadi bagian dari identitas saya. Teman-teman tahu persis harus mencari saya ke mana ketika jam kosong. Ke mana lagi kalau bukan perpustakaan?.
Sayangnya, saya tidak banyak menemukan orang yang punya kegemaran sama dan bisa diajak bicara tentang buku berjam-jam.
Maka buku, entah bagaimana, kemudian menjelma bukan hanya menjadi hiburan. Ia menjadi tempat pulang. Betapa sering saya melarikan duka dan sepi ke dalam buku. Mencari jawaban, ketenangan, atau kadang-kadang sekadar sesuatu yang membuat saya bertahan melewati hari. Ketika rasanya semua orang pergi, buku selalu ada.
Diam.
Menunggu dibuka. Menemani tanpa bertanya macam-macam dan, yang paling penting, tanpa menghakimi. Mungkin itu sebabnya hubungan saya dengan buku bertahan begitu lama. Ada masa-masa ketika saya sempat jauh dari membaca, tentu saja. Hidup keburu ramai. Ada kuliah, pekerjaan, pernikahan, anak-anak dan segala keruwetan menjadi orang dewasa. Tapi tidak pernah lama.
Saya selalu pulang ke tempat yang sama: lembaran-lembaran berisi aksara. Bedanya, sekarang masalah saya justru kebalikan dari masa kecil. Dulu saya punya banyak waktu untuk membaca tapi tidak punya cukup uang untuk membeli buku. Sekarang saya punya kemampuan membeli buku, tapi tidak mungkin punya cukup waktu untuk membaca semuanya.
Mungkin sebagai balas dendam atas masa kecil itulah salah satu coping mechanism saya sekarang adalah: membeli buku. Dan membeli buku lagi. Setiap mendapat rekomendasi judul yang menarik, ujung-ujungnya check out. Saya selalu punya pembenaran: setidaknya suatu hari anak-anak saya akan mewarisi koleksi buku yang bagus. Sampai rak perabot di rumah perlahan-lahan berubah fungsi menjadi rak buku dan suami saya akhirnya protes.
Dengan sangat serius ia menyarankan saya berhenti membeli buku. Apakah saya turuti?. Tentu tidak. =D
Saya anggap saja angin lalu.
Tapi kemudian ia mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya anggap angin lalu.
"Mungkin sudah waktunya kamu menulis. Menuangkan isi pikiranmu yang rumit menjadi buku. Jangan cuma membaca."
Saya terdiam.
Seumur hidup, buku sudah memberikan begitu banyak hal kepada saya. Mengajari saya membaca ketika masih kecil. Membawa saya ke tempat-tempat yang tidak mungkin saya datangi. Mengenalkan saya kepada manusia-manusia yang tidak pernah saya temui. Menemani ketika kesepian. Menjadi tempat bersembunyi ketika dunia terasa terlalu ramai.
Dan sekarang seseorang menyuruh saya melakukan kebalikannya. Bukan lagi hanya menerima cerita. Tapi mencoba membuat satu. Jujur saja, terdengar sangat menantang. Saya bahkan belum tahu apakah suatu hari akan benar-benar sanggup menulis sebuah buku. Tapi mungkin semua tulisan kecil yang saya buat sekarang adalah cara saya belajar.
Siapa tahu suatu hari nanti, di sebuah rak entah di mana, ada seseorang yang menemukan tulisan saya sebagaimana dulu seorang anak SMP menemukan puisi Rendra di rak perpustakaan kecil sekolahnya. Lalu berhenti sebentar. Membacanya. Dan membawa pulang satu-dua kalimat dalam kepalanya. Kalau itu benar-benar terjadi, rasanya menyenangkan sekali.
Tapi sementara hari itu belum datang, sepertinya saya akan tetap melakukan hal yang sudah saya lakukan hampir sepanjang hidup: membaca. Membeli buku lebih banyak daripada yang sempat dibaca. Mengabaikan protes suami soal rak yang semakin penuh. Dan terus mencintai buku-buku.
Tak apa-apa, kan? =D




