Selasa, 28 April 2026

Mencintai Buku-Buku




Buku adalah sahabat paling senyap dan setia; ia adalah penasihat paling bijak dan terjangkau, serta guru yang paling sabar.
—Charles W. Eliot

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh.
Hidup adalah untuk mengolah hidup,
bekerja membalik tanah,
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

—W.S. Rendra, Sajak-Sajak Sepatu Tua

(Sajak ini saya temukan di salah satu rak perpustakaan ketika SMP. Dan entah kenapa, membuat saya semakin jatuh cinta: pada puisi dan pada buku.)

Perjalanan saya mencintai buku dimulai sejak saya “terpaksa” mengenal aksara.

Usia saya masih lima tahun. Satu-satunya teman sepermainan saya—anak dari ibu khadimat di rumah—sudah berusia tujuh tahun dan harus masuk sekolah dasar. Saya yang takut kehilangan teman kalau ia pergi sekolah akhirnya merengek ingin ikut sekolah juga.

Entah bagaimana prosesnya, saya kemudian diperbolehkan masuk sebagai anak bawang. Sialnya, setelah masuk kelas baru saya tahu bahwa rupanya tidak ada perlakuan istimewa untuk anak bawang. =D

Sejak kecil saya termasuk anak yang sangat cengeng. Setiap tidak bisa mengikuti pelajaran, saya menangis. Sampai mungkin bosan menangis terus, akhirnya saya minta ikut les calistung. Caturwulan pertama saya ranking 14. Caturwulan berikutnya melonjak menjadi ranking 2. Tapi hadiah terbesar dari belajar membaca ternyata bukan ranking. Dunia saya mendadak terbentang  menjadi jauh lebih luas.

Kakak-kakak sepupu saya saat itu sudah SMP dan SMA dan sedang keranjingan cergam yang terbit berkala di Gramedia. Uang jajan saya tentu tidak cukup untuk ikut membeli, jadi saya punya strategi lain: ikut antre setiap tanggal terbit, supaya setelah mereka selesai, saya mendapat giliran membaca. Jadilah saya selalu ngintili mereka ke Gramedia.


 



Salah satu langganan kami adalah Tapak Sakti (The Buddha's Palm). Itu sebenarnya cergam dewasa dan ada beberapa kosakata kasar yang waktu itu bahkan saya tidak tahu artinya. Tapi gara-gara cergam itulah saya jadi keranjingan membaca. Dalam arti konotatif dan denotatif. =D

Setelah sanggup menamatkan satu cergam tanpa bantuan siapa pun, saya mulai melahap apa saja yang bisa ditemukan: kolom anak di surat kabar langganan Uwa, buku cerita Teteh yang dipinjam dari perpustakaan, komik-komik Aa yang berjilid-jilid, bahkan buku sejarah Aki.

Saya tumbuh ditemani Smurf, Asterix, Kungfu Boy, Candy Candy, Aku Anak Shaleh, Bobo, dan Rijal Haula Ar Rasul.

Saking sukanya membaca, saya pernah disuruh Mamah ke warung dan berjam-jam tidak kembali. Setelah dicari, ternyata saya malah sedang membaca di kolong meja belajar Aa. Kalau sedang membaca, saya memang seperti kehilangan hubungan dengan dunia luar. Dipanggil berkali-kali tidak mendengar. Orang bisa bicara di sebelah saya dan telinga saya mendadak berfungsi seperti ornamen saja.

Setelah pindah ke Tasikmalaya, masalah baru muncul: saya mulai kesulitan mencari bacaan bagus. Maka saya berteman dengan tetangga-tetangga yang usianya jauh di atas saya. Biar apa? Tentu supaya bisa pinjam buku mereka. =D

Sayangnya referensi mereka juga terbatas. Jadilah waktu luang saya paling bagus ditemani Lupus dan Donal Bebek, paling sial ketemu berjilid-jilid Wiro Sableng yang kalau sekarang saya ingat-ingat lagi ternyata banyak sekali adegan dewasanya.

Astagaaa.

Masuk SMP, saya mulai mengenal sastra dengan lebih serius. Perpustakaan sekolah kecil dan koleksinya terbatas, sampai rasanya dalam tiga tahun hampir semua koleksi sastranya sudah saya tamatkan. Tapi dari perpustakaan kecil itulah saya mengenal Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, N.H. Dini, dan para pengarang sastra lama lainnya. Di sana pula saya berkenalan dengan Winnetou dan buku-buku Karl May.

Apakah saya masih menjadi anak yang bersembunyi di kolong meja untuk membaca?

Tentu tidak. Badan saya sudah membesar dan tidak muat lagi. =D

Tapi saya masih anak yang sama, yang lebih suka membaca daripada bermain di luar rumah. Sampai suatu hari Bapak yang kesal berkomentar, "Teteh mah bakal jadi menak. Bacaa we padamelanna téh, boro-boro mengerjakan pekerjaan rumah seperti anak tetangga."

Apakah kemudian saya berubah? Tentu tidak juga.

Ketika melanjutkan sekolah di Bandung, saya menemukan tempat yang bagi saya seperti surga: Perpustakaan Daerah. Letaknya cukup dekat dari sekolah, jadi  hampir setiap hari saya datang ke sana. Biasanya saya meminjam tiga buku: dua buku pelajaran dan satu novel. Saya selalu membuat target, novel itu harus selesai sebelum kunjungan berikutnya.

Anehnya, meskipun membaca sebanyak itu, masa SMK saya tidak sepenuhnya dihabiskan di perpustakaan. Saya tetap ikut segala macam acara “tak berguna”: camping, kumpul-kumpul sepulang sekolah, dan segala keriaan bersama teman-teman.

Dan mungkin karena terbiasa membaca banyak hal, memahami materi sekolah terasa lebih mudah. Saya bertahan menjadi juara umum dari tahun ke tahun. Pelan-pelan membaca bukan lagi sekadar hobi. Ia menjadi bagian dari identitas saya. Teman-teman tahu persis harus mencari saya ke mana ketika jam kosong. Ke mana lagi kalau bukan perpustakaan?.

Sayangnya, saya tidak banyak menemukan orang yang punya kegemaran sama dan bisa diajak bicara tentang buku berjam-jam.

Maka buku, entah bagaimana, kemudian menjelma bukan hanya menjadi hiburan. Ia menjadi tempat pulang. Betapa sering saya melarikan duka dan sepi ke dalam buku. Mencari jawaban, ketenangan, atau kadang-kadang sekadar sesuatu yang membuat saya bertahan melewati hari. Ketika rasanya semua orang pergi, buku selalu ada.

Diam.

Menunggu dibuka. Menemani tanpa bertanya macam-macam dan, yang paling penting, tanpa menghakimi. Mungkin itu sebabnya hubungan saya dengan buku bertahan begitu lama. Ada masa-masa ketika saya sempat jauh dari membaca, tentu saja. Hidup keburu ramai. Ada kuliah, pekerjaan, pernikahan, anak-anak dan segala keruwetan menjadi orang dewasa. Tapi tidak pernah lama.

Saya selalu pulang ke tempat yang sama: lembaran-lembaran berisi aksara. Bedanya, sekarang masalah saya justru kebalikan dari masa kecil. Dulu saya punya banyak waktu untuk membaca tapi tidak punya cukup uang untuk membeli buku. Sekarang saya punya kemampuan membeli buku, tapi tidak mungkin punya cukup waktu untuk membaca semuanya.

Mungkin sebagai balas dendam atas masa kecil itulah salah satu coping mechanism saya sekarang adalah: membeli buku. Dan membeli buku lagi. Setiap mendapat rekomendasi judul yang menarik, ujung-ujungnya check out. Saya selalu punya pembenaran: setidaknya suatu hari anak-anak saya akan mewarisi koleksi buku yang bagus. Sampai rak perabot di rumah perlahan-lahan berubah fungsi menjadi rak buku dan suami saya akhirnya protes.

Dengan sangat serius ia menyarankan saya berhenti membeli buku. Apakah saya turuti?. Tentu tidak. =D

Saya anggap saja angin lalu.

Tapi kemudian ia mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya anggap angin lalu.

"Mungkin sudah waktunya kamu menulis. Menuangkan isi pikiranmu yang rumit menjadi buku. Jangan cuma membaca."

Saya terdiam.

Seumur hidup, buku sudah memberikan begitu banyak hal kepada saya. Mengajari saya membaca ketika masih kecil. Membawa saya ke tempat-tempat yang tidak mungkin saya datangi. Mengenalkan saya kepada manusia-manusia yang tidak pernah saya temui. Menemani ketika kesepian. Menjadi tempat bersembunyi ketika dunia terasa terlalu ramai.

Dan sekarang seseorang menyuruh saya melakukan kebalikannya. Bukan lagi hanya menerima cerita. Tapi mencoba membuat satu. Jujur saja, terdengar sangat menantang. Saya bahkan belum tahu apakah suatu hari akan benar-benar sanggup menulis sebuah buku. Tapi mungkin semua tulisan kecil yang saya buat sekarang adalah cara saya belajar.

Siapa tahu suatu hari nanti, di sebuah rak entah di mana, ada seseorang yang menemukan tulisan saya sebagaimana dulu seorang anak SMP menemukan puisi Rendra di rak perpustakaan kecil sekolahnya. Lalu berhenti sebentar. Membacanya. Dan membawa pulang satu-dua kalimat dalam kepalanya. Kalau itu benar-benar terjadi, rasanya menyenangkan sekali.

Tapi sementara hari itu belum datang, sepertinya saya akan tetap melakukan hal yang sudah saya lakukan hampir sepanjang hidup: membaca. Membeli buku lebih banyak daripada yang sempat dibaca. Mengabaikan protes suami soal rak yang semakin penuh. Dan terus mencintai buku-buku.

Tak apa-apa, kan? =D

Minggu, 26 April 2026

Belajar Mendengarkan Lagi

Suatu sore, saya dan Aka sedang bercakap-cakap ringan ketika tiba-tiba ia berkata,

Aka: “Umah, tadi Aka dapet info, besok ada event lagi di Summarecon. Ada acara cosplay Xavier dan Caleb juga.”

Saya: “Maksudnya Aka minta izin mau datang?”

Aka: “Eh, enggak. Aka cuma mau cerita aja kalau besok ada event.”

Saya: “Hooo…”

Percakapan berhenti sebentar.

Lalu Aka menyambung,

Aka: “Umah sadar enggak sih kalau pikiran Umah tuh kayak laki-laki banget?”

Saya: “Oh ya? Kenapa emang, Ka?”

Aka: “Iya. Umah tuh kalau ada siapa pun cerita, pasti buru-buru cari solusi dari apa yang diceritakan. Padahal enggak semua orang, apalagi perempuan, cerita karena butuh saran atau solusi. Kadang orang cerita tuh cuma pengen didenger aja.”

Saya: “Ah, begitu ya, Aka…”

Sebetulnya tanggapan gamang itu bukan karena saya meragukan apa yang Aka katakan. Saya justru sedang memikirkan diri sendiri.

Betulkah saya sudah berubah dari pendengar menjadi pencari solusi?

Sejak kapan?

Padahal pernah ada masa ketika saya menjadi semacam tempat sampah curhatan banyak orang. Sebagian memang konsekuensi pekerjaan karena salah satu fungsi yang saya tangani adalah kepegawaian. Mau tidak mau saya tahu banyak cerita dapur, persoalan, bahkan rahasia orang lain. Tapi tetap saja, menjadi orang yang dipercaya untuk mendengarkan cerita orang lain dulu terasa seperti sebuah kehormatan kecil.

Karena tidak semua orang mencari jawaban ketika bercerita. Kadang-kadang seseorang sebenarnya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Kadang masalahnya memang tidak punya solusi. Kadang ia hanya sedang sedih, marah, kecewa, atau lelah dan butuh seseorang duduk di sebelahnya sambil berkata, “Iya, aku dengar.” Tanpa buru-buru menjelaskan apa yang seharusnya ia lakukan.

Dan saya rupanya mulai lupa melakukan itu. Saya mencoba mengingat sejak kapan. Mungkin karena beberapa tahun terakhir saya terbiasa menanggung banyak hal dan menyelesaikannya sendiri. Pekerjaan datang sebagai persoalan yang harus dibereskan. Ada masalah, cari penyebabnya. Ada hambatan, cari jalan keluarnya. Selesai satu, pindah ke berikutnya. Pelan-pelan kepala saya seperti ter-setting dalam mode: masalah → solusi → selesai.

Efisien memang. Sangat berguna untuk pekerjaan. Tapi rupanya tidak selalu menyenangkan untuk manusia. =D

Karena manusia bukan pekerjaan yang harus dibereskan. Dan cerita seseorang bukan selalu sebuah persoalan yang sedang meminta saya pecahkan. Kadang ketika seseorang berkata, “Hari ini capek banget,” ia tidak membutuhkan saya menjelaskan bagaimana mengatur waktunya dengan lebih baik.

Mungkin ia hanya ingin mendengar, “Iya ya. Berat banget hari ini.”

Sesederhana itu.

Anehnya, saya pernah tahu hal ini. Saya tahu bagaimana rasanya menjalani hari yang berat lalu mendadak merasa sedikit lebih baik hanya karena seseorang menyapa. Saya tahu bagaimana satu senyuman dari orang yang bahkan tidak kita kenal bisa menghangatkan hati. Saya juga tahu bagaimana rasanya bercerita kepada seseorang yang tidak memotong, tidak menghakimi, tidak membandingkan cerita kita dengan pengalaman hidupnya sendiri.

Ia cuma mendengarkan. Dan rasanya lega sekali. Mungkin memang itu sebabnya manusia terus mencari manusia lain. Bukan karena orang lain selalu bisa menyelesaikan masalah kita, tapi karena ada beban yang terasa sedikit lebih ringan ketika kita tahu tidak membawanya sendirian.

Maka sore itu saya bersyukur Aka mengingatkan. Bukan karena saya khawatir dianggap sebagai orang yang tidak menyenangkan untuk diajak bicara. Di usia sekarang, rasanya saya sudah tidak terlalu sibuk memikirkan harus terlihat sebagai orang seperti apa. Saya hanya tidak ingin kesibukan menyelesaikan begitu banyak hal membuat saya kehilangan kemampuan sederhana untuk hadir bagi orang lain. Apalagi bagi orang-orang yang saya sayangi.

Jadi mungkin setelah ini saya harus belajar menahan diri beberapa detik setiap kali seseorang mulai bercerita. Tidak buru-buru memberi saran. Tidak langsung mencari jalan keluar. Tidak sibuk memikirkan apa yang harus dijawab. Dengarkan dulu. Kalau perlu, mungkin bertanya: “Kamu mau didengerin aja atau mau kita cari solusinya?”

Lucu juga.

Setelah bertahun-tahun merasa tugas saya adalah belajar berbicara dengan lebih baik, sore ini anak saya justru mengingatkan bahwa dalam sebuah percakapan, kadang kemampuan yang lebih penting adalah tahu kapan harus diam.

Terima kasih, Aka.

Umah belajar lagi hari ini.

 

Rabu, 22 April 2026

Tak Ada yang Terlalu Memperhatikanmu





Pada tahun 2000, tiga psikolog sosial, Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky melakukan sebuah eksperimen sederhana.  Beberapa mahasiswa diminta memakai kaus bergambar Barry Manilow—yang pada masa itu rupanya dianggap cukup memalukan untuk dikenakan mahasiswa—lalu masuk ke sebuah ruangan tempat mahasiswa lain sudah berkumpul. Setelahnya, mereka diminta memperkirakan berapa banyak orang yang memperhatikan kaus mereka. Ternyata mereka salah. Mereka merasa jauh lebih banyak orang memperhatikan dibandingkan jumlah yang benar-benar menyadari apa yang mereka kenakan.

Fenomena ini kemudian dikenal sebagai spotlight effect: kecenderungan kita melebih-lebihkan seberapa jauh penampilan, perilaku, bahkan kesalahan-kesalahan kecil kita diperhatikan orang lain.

Mungkin karena kita selalu menjadi tokoh utama dalam kepala sendiri, maka tanpa sadar kita merasa menjadi tokoh yang cukup penting dalam kepala orang lain. Padahal tidak. Orang lain juga sedang sibuk menjadi tokoh utama dalam kehidupannya masing-masing. Dan entah kenapa saya menyukai pemikiran ini. Bahwa kita ternyata tidak sepenting itu dalam kehidupan orang lain. Terdengar sedikit menyedihkan memang, tapi sebenarnya membebaskan. 

Baju kita agak aneh hari ini? Tidak apa-apa.

Salah bicara sedikit ketika rapat? Besok orang mungkin sudah lupa.

Rambut sedang jelek, badan bertambah gendut, berjalan sendirian, makan sendirian, melakukan sesuatu yang membuat kita kemudian mengulangnya berkali-kali di kepala sambil berpikir, Ya Tuhan, tadi gue ngapain sih?

Tenang.

Kemungkinan besar orang lain tidak terlalu memikirkannya. Mereka sedang sibuk memikirkan hidup mereka sendiri.

Dalam kemacetan Jakarta sore ini, tanpa sengaja saya berhenti persis di sebelah sepasang pengendara motor paruh baya. Sepertinya suami istri. Yang menarik, si suami yang mengendarai motor tidak memakai helm, sementara istrinya yang dibonceng justru pakai. Karena persis sebelahan dan macet membuat kami sama-sama tidak punya pilihan selain diam di tempat, tanpa sengaja saya menguping percakapan mereka. Dari logatnya sepertinya orang Betawi.

Si istri protes, "Orang mah yang pake helm tuh yang bonceng, bukan yang dibonceng."

Suaminya menjawab santai, "Yee, emang napa? Ini artinya sayang istri."

Saya langsung tergelak sendiri. Entah mereka sadar saya mendengar atau tidak. Beberapa detik kemudian kendaraan mulai bergerak. Mereka mengambil jalur yang berbeda, saya lurus ke depan, lalu begitu saja kami terpisah di lampu merah. Saya tidak tahu siapa nama mereka. Tidak tahu tinggal di mana. Tidak tahu sudah berapa tahun mereka menikah, punya berapa anak, sedang menuju ke mana, atau apakah nanti malam mereka akan bertengkar gara-gara perkara lain yang lebih serius daripada helm.

Saya hanya mendapat beberapa detik dari kehidupan mereka. Besok mungkin saya sudah lupa wajahnya. Dan mereka bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa percakapan kecil sore itu membuat seorang perempuan di kendaraan sebelah tertawa sendiri di tengah kemacetan Jakarta. Mungkin begitulah kita hadir dalam kehidupan kebanyakan orang. Sebentar saja. Saling berpapasan. Saling melihat. Kadang meninggalkan kesan kecil. Lalu hilang.

Jakarta memang aneh. Kota seribu paradoks. Konon ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri. Semua orang berjalan cepat, mengejar kereta, mengejar bus, mengejar lampu hijau, mengejar waktu. Orang-orang berdesakan di MRT tanpa merasa perlu tahu siapa yang berdiri di sebelahnya. Ribuan manusia berpapasan setiap hari dan sebagian besar tidak akan pernah bertemu lagi.

Tapi anehnya, justru ketidakpedulian kota ini yang saya sukai. Jakarta membiarkan kita menjadi siapa saja. Mau berjalan sendirian, silakan. Mau makan sendiri, tidak ada yang peduli. Mau pulang dengan muka kusut setelah hari yang menyebalkan, orang-orang terlalu sibuk mengejar kereta untuk memperhatikan.

Ada kebebasan tertentu ketika menyadari bahwa di tengah jutaan manusia ini, tidak ada lampu sorot yang terus-menerus diarahkan kepada kita. Kita boleh menjadi biasa-biasa saja. Boleh salah. Boleh berantakan. Besok pagi kota ini tetap bangun dan berjalan lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

Tapi lucunya, di kota yang begitu tidak peduli ini saya justru menemukan banyak orang yang peduli. Di kota bajingan ini saya menemukan sosok ibu. Sosok bapak. Bahkan sosok keluarga dalam wujud teman-teman kantor yang pintar-pintar, baik hati dan menyenangkan.

Mungkin memang begitulah Jakarta. Ia tidak akan berhenti hanya karena kita sedang sedih. Tidak akan memperlambat langkah karena kita sedang lelah. Dan jelas tidak akan bertanya apakah hari ini kita baik-baik saja.

Tapi entah bagaimana, di antara segala ketidakpeduliannya, selalu ada manusia-manusia kecil yang membuat kota ini terasa sedikit lebih ramah. Teman yang bertanya sudah makan atau belum. Orang yang menahan pintu lift. Babang ojol yang bilang hati-hati ketika kita turun. Atau sepasang suami istri asing yang bertengkar kecil soal helm, lalu membuat kita tertawa di tengah macet.

Mungkin spotlight effect memang benar. Kita tidak sedang diperhatikan sebanyak yang kita kira. Kita tidak sepenting itu dalam kehidupan kebanyakan orang. Dan mungkin memang tidak perlu. Cukup menjadi penting bagi segelintir orang yang kita sayangi.

Selebihnya, kita hanyalah manusia-manusia asing yang sesekali berpapasan, menangkap beberapa detik kehidupan satu sama lain, lalu kembali berjalan ke arah masing-masing. Seperti saya dan pasangan di motor sore tadi. Besok kami mungkin tak akan pernah bertemu lagi. Tapi sore ini mereka membuat kemacetan Jakarta sedikit lebih menyenangkan. Dan entah kenapa, episode kecil itu kembali mengingatkan saya: Saya cinta kota ini. Dengan macetnya. Dengan orang-orangnya. Dengan segala paradoks dan ketidakpeduliannya. Jakarta tetap seru seperti biasanya.

Dan saya cinta. Sungguh cinta.

 

Selasa, 21 April 2026

Resensi THE SONG OF ACHILLES: Tentang Cinta, Keabadian, dan Harga Sebuah Kehormatan


Judul: The Song of Achilles -Nyanyian Achilles

Penulis: Madeline Miller

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2012

Alih Bahasa: Tanti Lesmana

Tebal buku: 490 halaman


Aku sanggup mengenalinya dari sentuhan saja, dari baunya; aku mampu mengenalinya andai pun mataku buta. Dari embusan napasnya dan jejak langkahnya di tanah. Aku sanggup mengenalinya dalam kematian, di ujung dunia. Hlm 169 

Aku pernah mendengar bahwa orang yang tinggal di dekat air terjun lama-kelamaan tidak mendengar gemuruhnya lagi—begitu pula aku; aku belajar untuk hidup di samping gemuruh aliran takdirnya. Hari-hari berlalu, dan dia masih hidup. Bulan-bulan berlalu, dan aku bisa seharian penuh tidak melongok ke dalam jurang kematiannya. Satu tahun yang penuh keajaiban, lalu dua tahun. Hlm 317

Dia belahan jiwaku, seperti kata para penyair. Hlm 378

 

Pada ulasan kali ini, alih-alih memberikan spoiler, sepertinya saya akan memberikan sedikit bocoran saja. Buku ini adalah sebuah novel cinta. Dan belum lengkap bocorannya kalau saya tidak menambahkan bahwa kisah cinta tersebut berlangsung antara dua laki-laki: Achilles dan Patroclus. Jadi, untuk teman-teman yang kurang nyaman membaca kisah cinta sesama jenis, mungkin buku ini memang bukan pilihan yang tepat.

Teman-teman yang menggemari mitologi Yunani tentu tidak asing dengan nama Achilles. Ia adalah pahlawan legendaris dalam Perang Troya, putra Peleus, seorang manusia, dan Thetis, dewi laut. Kisahnya menjadi bagian penting dalam Iliad, epos karya Homer yang telah bertahan selama ribuan tahun. Dari namanya pula kita mengenal istilah Achilles' heel, atau tumit Achilles, yang digunakan untuk menggambarkan titik kelemahan seseorang yang tampaknya begitu kuat.

Dalam salah satu versi mitologi yang berkembang kemudian, Thetis mencelupkan Achilles kecil ke Sungai Styx agar tubuhnya kebal terhadap senjata. Sayangnya, bagian tumit yang dipegang sang ibu tidak terkena air sungai, sehingga menjadi satu-satunya titik kelemahannya. Kelak, Achilles dikisahkan tewas akibat panah Paris, yang dalam beberapa versi dibantu atau diarahkan oleh Apollo.

Tetapi The Song of Achilles karya Madeline Miller tidak berusaha sekadar mengulang kisah tentang kehebatan seorang pahlawan perang. Miller justru memilih menceritakan Achilles melalui sudut pandang Patroclus. Dan menurut saya, di situlah letak keistimewaan novel ini.

Patroclus bukan sosok yang biasanya mendapat tempat utama dalam kisah kepahlawanan. Ia seorang pangeran yang terusir, canggung, tidak terlalu kuat, dan nyaris tidak memiliki kualitas yang membuatnya menonjol. Sangat berbeda dengan Achilles yang tampan, berbakat, memiliki kekuatan luar biasa, dan sejak kecil telah dipersiapkan untuk menjadi pahlawan besar. Jika Achilles adalah seseorang yang ditakdirkan untuk dikenang dunia, Patroclus justru tampak seperti manusia biasa yang mungkin akan dilupakan sejarah. Tetapi justru melalui mata Patroclus, kita mengenal Achilles bukan semata-mata sebagai pahlawan yang perkasa, melainkan sebagai manusia. Kita melihat masa kecilnya, kebiasaannya, kelembutannya, juga ketakutan dan kelemahan yang tidak pernah benar-benar hilang di balik kehebatannya.

Sejujurnya, ketika pertama kali membaca buku ini, saya belum membaca ulasan apa pun. Jadi saya sama sekali tidak memiliki prasangka bahwa novel ini akan mengangkat hubungan romantis antara dua laki-laki. Tetapi ternyata saya menyukai buku ini.

Madeline Miller menggambarkan bagaimana Patroclus perlahan jatuh cinta kepada Achilles dengan sangat halus. Tidak terasa dipaksakan, tidak pula berlebihan. Hubungan mereka tumbuh melalui persahabatan, kebersamaan, dan perasaan saling membutuhkan yang berkembang seiring bertambahnya usia. Sampai pada satu titik, saya bahkan lupa bahwa sedang membaca kisah cinta yang berlatar Perang Troya, bukan kisah perang yang sekadar diberi sedikit bumbu romansa. Namun, semakin jauh membaca, saya merasa bahwa novel ini sesungguhnya membicarakan sesuatu yang lebih besar daripada cinta.

Achilles sejak kecil telah dibayangi ramalan tentang masa depannya. Ia dapat menjalani kehidupan panjang tanpa kemasyhuran, atau memperoleh kejayaan yang membuat namanya dikenang sepanjang masa, tetapi harus mati muda. Dan seperti banyak pahlawan dalam mitologi Yunani, Achilles memilih keabadian melalui namanya. Di sinilah saya mulai melihat pertentangan yang menarik.

Bagi dunia, Achilles adalah pahlawan besar yang kelak akan dikenang karena keberaniannya. Tetapi bagi Patroclus, Achilles bukan sekadar nama yang akan dituliskan dalam sejarah. Ia adalah manusia yang dicintainya, seseorang yang ingin ia pertahankan tetap hidup. Dunia menginginkan Achilles menjadi legenda. Patroclus hanya menginginkan Achilles tetap menjadi manusia. Dan ternyata, dua keinginan itu tidak selalu bisa berjalan beriringan.

Saya juga menyukai bagaimana Miller membangun kontras antara kedua tokohnya. Achilles memiliki kekuatan yang luar biasa, tetapi semakin lama justru semakin terikat pada harga diri dan kehormatannya sebagai pahlawan. Sementara Patroclus, yang tidak memiliki kemampuan bertarung sehebat Achilles, berkali-kali memperlihatkan keberanian melalui kepeduliannya kepada orang lain.

Patroclus menolong mereka yang terluka, memperhatikan orang-orang yang sering diabaikan, dan tetap mampu melihat penderitaan manusia di tengah peperangan. Ia mungkin bukan pahlawan menurut ukuran para prajurit Yunani. Tetapi dalam banyak hal, justru Patroclus yang memperlihatkan sifat paling manusiawi. Dan saya rasa, itulah salah satu sindiran yang menarik dalam novel ini. Kita sering mengagumi manusia karena kekuatan, keberanian, kemenangan, dan pencapaiannya. Tetapi apakah semua itu otomatis menjadikan seseorang manusia yang baik?.

Achilles adalah prajurit yang nyaris tidak terkalahkan. Namun, kehebatannya tidak membuatnya terbebas dari kesombongan, kemarahan, dan keputusan-keputusan yang melukai orang lain. Ketika harga dirinya tersinggung oleh Agamemnon, Achilles memilih menarik diri dari peperangan. Keputusan itu bukan hanya menyangkut dirinya sendiri. Ada banyak prajurit yang kemudian harus menanggung akibatnya. Dan pada akhirnya, Patroclus pun menjadi bagian dari tragedi tersebut.

Beberapa ulasan yang saya baca menyebut The Song of Achilles sebagai novel tearjerker, alias penguras air mata. Saya sepertinya kurang sepakat. Buku ini tidak berhasil membuat saya menangis tersedu-sedu. Tetapi harus saya akui, Madeline Miller sangat berhasil membangun keterikatan emosi pembacanya. Ketika Patroclus akhirnya tewas, saya ikut memahami betapa hancurnya Achilles. Terutama ketika ia tidak sanggup melepaskan jasad Patroclus. Pahlawan yang begitu kuat, yang sanggup mengalahkan begitu banyak musuh, ternyata tidak berdaya menghadapi kehilangan seseorang yang dicintainya.

Bagian ketika Briseis meluapkan kemarahannya kepada Achilles juga sangat membekas bagi saya. Briseis menyalahkan Achilles atas kematian Patroclus. Baginya, Patroclus jauh lebih baik daripada Achilles, dan keegoisan Achilles telah membawa orang yang dicintainya menuju kematian. Dan sulit rasanya untuk tidak memahami kemarahan Briseis. Sebab sepanjang cerita, kita melihat bagaimana kehormatan dan kebanggaan Achilles perlahan menjadi lebih penting daripada keselamatan orang-orang di sekitarnya. Di sinilah tragedinya terasa semakin menyakitkan.

Achilles menginginkan namanya abadi, tetapi ketika akhirnya kehilangan Patroclus, seluruh kemasyhuran itu menjadi tidak berarti. Apa gunanya dikenang ribuan tahun jika orang yang paling ingin kita ajak menjalani kehidupan justru tidak lagi ada?. Kematian Patroclus kemudian menjadi titik balik dalam Perang Troya. Achilles kembali bertempur, bukan lagi semata-mata demi kejayaan, melainkan karena kemarahan dan keinginannya membalas kematian Patroclus. Tetapi bahkan setelah membunuh Hector, kesedihannya tidak juga selesai. Balas dendam ternyata tidak mengembalikan orang yang telah mati. Dan pada akhirnya, Achilles sendiri tidak dapat menghindari takdir yang sejak awal telah menunggunya.

Yang menarik, bagi saya, justru bukan kematian kedua tokoh tersebut yang menjadi bagian paling penting dari novel ini. Melainkan pertanyaan tentang apa yang sesungguhnya membuat kehidupan seseorang berarti. Achilles menghabiskan hidupnya mengejar kemasyhuran. Ia ingin dikenang sebagai pahlawan terbesar. Tetapi melalui Patroclus, Miller seperti mengajak kita melihat bahwa seseorang tidak harus menjadi luar biasa untuk memiliki kehidupan yang berharga. Patroclus mungkin tidak akan dikenang karena memenangkan peperangan atau menaklukkan musuh. Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak selalu dimiliki Achilles: kemampuan mencintai, berempati, dan melihat manusia lain sebagai manusia. 

Bahkan setelah keduanya meninggal, persoalan tentang siapa yang layak dikenang masih menjadi bagian penting dari cerita. Thetis, ibu Achilles, begitu menginginkan putranya dikenang sebagai pahlawan besar. Namun, pada akhirnya, melalui kenangan tentang Patroclus, kita diajak melihat bahwa kehidupan Achilles tidak hanya terdiri atas peperangan, kemenangan, dan kemasyhuran. Ada cinta, persahabatan, kelembutan, dan sisi manusiawi yang tidak tercatat dalam kisah kepahlawanannya. Dan mungkin justru bagian-bagian itulah yang membuat seseorang layak dikenang.

Saya tidak hendak menjadikan hubungan sesama jenis dalam novel ini sebagai persoalan utama ulasan. Sebab, jika dilihat dari cara bercerita, The Song of Achilles memang sebuah karya yang sangat bagus. Madeline Miller berhasil menghidupkan kembali dua tokoh mitologi yang kisahnya telah berusia ribuan tahun, lalu membuat pembaca melihat mereka sebagai manusia yang memiliki perasaan, kelemahan, dan keinginan yang tidak jauh berbeda dari manusia masa kini.

Saya juga mengapresiasi penerjemahannya. Emosi yang dibangun penulis tetap terasa, dan hubungan antartokohnya disampaikan dengan bahasa yang mengalir serta nyaman dibaca. Tetapi setelah menamatkan buku ini, saya rasa yang paling membekas bukanlah kisah cinta Achilles dan Patroclus semata. Melainkan ironi tentang seorang manusia yang memiliki hampir segalanya, tetapi kehilangan sesuatu yang paling berharga karena tidak mampu melepaskan harga dirinya. Achilles memperoleh apa yang sejak awal dijanjikan kepadanya: namanya abadi. Ribuan tahun setelah kematiannya, kita masih mengenalnya sebagai salah satu pahlawan terbesar dalam mitologi Yunani. Namun, setelah membaca novel ini, saya justru lebih mengingat Patroclus. Seseorang yang tidak memiliki kekuatan luar biasa, tidak mengejar kemasyhuran, dan tidak bercita-cita menjadi legenda.

Ia hanya mencintai seseorang, dan berusaha mempertahankan kemanusiaannya di tengah dunia yang begitu mengagungkan peperangan.

Barangkali memang demikian.

Sejarah lebih mudah mengingat mereka yang memenangkan peperangan. Tetapi belum tentu mereka itulah manusia yang paling layak kita kenang.

 

 

 

Minggu, 19 April 2026

Resensi A MAN CALLED OVE: Lelaki Pemarah yang Diam-Diam Membuat Kita Jatuh Sayang

Seorang Lelaki Bernama Ove yang Selalu Gagal Bunuh Diri




Ove tahu benar, teman-teman istrinya tak paham mengapa perempuan itu menikah dengannya (hlm 48).

Ove adalah lelaki hitam-putih. Sementara itu, istrinya berwarna-warni. Ialah seluruh warna yang dimiliki Ove (hlm 51).

Kau merindukan hal-hal teraneh ketika kehilangan seseorang. Hal-hal sepele. Senyuman. Cara perempuan itu berbalik ketika sedang tidur. Kau bahkan rindu mengecat ruangan ulang ruangan untuknya (hlm 76)

Kita bisa menyibukkan diri dengan hidup atau dengan mati, Ove. Kita harus melanjutkan hidup (hlm 265).

Setiap manusia harus tahu apa yg diperjuangkannya. Itulah kata mereka. Dan Sonja memperjuangkan apa yg baik. Demi anak-anak yg tdk pernah dimilikinya. Dan Ove berjuang untuk Sonja. Sebab itulah satu-satunya hal di dunia ini yg benar-benar dipahaminya (hlm 270)

 

Karena kau bukan orang yang benar-benar tolol (hlm 312).

 

Cerita dimulai dengan seorang pria berusia 59 tahun bernama Ove yang sedang bersitegang dengan petugas toko komputer. Ia hendak membeli iPad, tetapi tampaknya sulit diyakinkan bahwa benda tersebut memang barang bagus. Sementara petugas toko kebingungan menjelaskan teknologi kepada lelaki tua yang nyaris gaptek itu, Ove justru semakin kesal.

Dari perkenalan singkat tersebut, kita segera mendapat gambaran bahwa Ove adalah lelaki tua pemberang, pemarah, gampang mengomel, cenderung pelit, dan kering kaku seperti kanebo.

Ia tidak suka orang yang melanggar aturan, tidak suka orang yang tidak becus bekerja, dan terutama tidak suka barang-barang modern yang menurutnya semakin lama semakin tidak bermutu. Tetapi Ove juga sangat terampil, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki prinsip hidup yang tidak bisa ditawar. Singkatnya, Ove adalah jenis manusia yang mungkin akan sangat menyebalkan jika menjadi tetangga kita.

Namun, ada satu hal yang tidak langsung kita ketahui dari lelaki tua pemarah ini: Ove sebenarnya sudah tidak ingin hidup lagi. Sejak istrinya, Sonja, meninggal dunia dan perusahaan tempatnya bekerja memutuskan untuk memensiunkannya, Ove merasa tidak lagi memiliki alasan untuk melanjutkan hidup. Maka ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Bahkan dalam merencanakan kematiannya sendiri, Ove tetap menjadi Ove yang kita kenal: segala sesuatu harus dikerjakan dengan benar, rapi, dan menggunakan peralatan yang layak. Demi Tuhan, bahkan untuk mati pun lelaki ini tidak mau menggunakan pengait yang kualitasnya meragukan. 

Tetapi rupanya, dunia memiliki rencana lain. Ketika Ove sedang bersiap mengakhiri hidupnya, tetangga baru datang dan membuat kekacauan. Mobil mereka menabrak kotak surat, dan Ove yang tidak tahan melihat orang melakukan pekerjaan dengan tidak becus akhirnya turun tangan. Lain waktu, tetangga datang mengantarkan makanan. Ada pula yang meminta bantuan memperbaiki sesuatu, meminjam peralatan, atau mengantarkan mereka ke suatu tempat. Begitulah. Setiap kali Ove ingin mengakhiri hidupnya, selalu saja ada manusia yang datang merecokinya. Dan lucunya, meskipun mengomel sepanjang waktu, Ove hampir selalu berakhir dengan membantu mereka. 

Saya menyukai cara Fredrik Backman membangun humor melalui karakter Ove. Ia tidak perlu membuat tokohnya sengaja melucu. Cukup dengan memperlihatkan betapa seriusnya Ove menghadapi segala sesuatu, termasuk hal-hal yang sebenarnya sepele, kita sudah dibuat tertawa. Tetapi semakin jauh membaca, semakin terasa bahwa di balik kemarahannya, Ove menyimpan kesedihan yang sangat besar. Terutama ketika cerita mulai membawa kita mengenal Sonja.

Sonja adalah perempuan yang sangat berbeda dari Ove. Ia hangat, ceria, dan mampu melihat sisi baik dari lelaki yang bagi kebanyakan orang mungkin hanya terlihat menyebalkan. Jika orang lain melihat Ove sebagai lelaki keras kepala yang tidak pandai bergaul, Sonja melihat seseorang yang dapat dipercaya, setia, dan selalu berusaha melakukan hal yang benar. Dan bagi Ove, Sonja adalah pusat dari seluruh kehidupannya. Saya rasa di sinilah letak kesedihan terbesar novel ini.

Ove bukan semata-mata kehilangan istrinya. Ia kehilangan orang yang membuat dunia terasa lebih mudah dipahami, orang yang menerima segala keanehannya, dan orang yang selama bertahun-tahun menjadi alasan baginya untuk pulang. Ketika Sonja meninggal, kehidupan Ove seolah berhenti. Ia masih bangun pada jam yang sama, melakukan inspeksi keliling kompleks perumahan, memastikan tidak ada orang yang melanggar aturan, dan mengunjungi makam Sonja setiap hari. Rutinitasnya tetap berjalan, tetapi sesuatu yang membuat semua itu berarti telah hilang.

Dan saya jadi berpikir, barangkali ada orang-orang yang tidak pandai memperlihatkan kesedihannya. Mereka tidak menangis di depan orang lain, tidak menceritakan perasaannya, dan tidak meminta pertolongan. Mereka justru semakin mudah marah, semakin menarik diri, atau semakin keras mempertahankan kebiasaan-kebiasaan kecil yang masih bisa mereka kendalikan. Tentu tidak semua orang yang pemarah sedang menyembunyikan kesedihan. Tetapi dalam diri Ove, kita perlahan memahami bahwa kemarahannya bukan satu-satunya hal yang membentuk dirinya.

Lalu datanglah Parvaneh dan keluarganya. Perempuan ini, bersama suami dan anak-anaknya, seolah tidak pernah benar-benar peduli bahwa Ove ingin dibiarkan sendirian. Mereka terus datang, meminta bantuan, mengajaknya terlibat dalam berbagai urusan, dan tanpa merasa bersalah memasuki kehidupan Ove yang selama ini begitu tertutup. Awalnya semua itu tampak sebagai gangguan. Tetapi lama-kelamaan, justru orang-orang yang merepotkan inilah yang perlahan mengembalikan Ove kepada kehidupan.

Ove mulai memiliki sesuatu untuk dikerjakan. Ada orang yang membutuhkan keahliannya, anak-anak yang menyayanginya, seekor kucing yang harus diurus, dan tetangga-tetangga yang ternyata tidak bisa menyelesaikan semua persoalan tanpa bantuannya. Ia bahkan terlibat dalam usaha membantu Rune, tetangga yang pernah menjadi sahabat sekaligus rivalnya, agar tidak dipisahkan begitu saja dari kehidupan yang dikenalnya. Tanpa disadari, lelaki yang semula merasa tidak lagi dibutuhkan siapa pun ternyata menjadi seseorang yang sangat berarti bagi banyak orang. Dan menurut saya, di sinilah keindahan cerita ini. 

Ove tidak berubah menjadi lelaki yang tiba-tiba ramah, pandai berbasa-basi, atau berhenti mengomel. Ia tetap Ove. Tetapi perlahan ia menemukan kembali alasan untuk menjalani hari esok. Saya menyukai kenyataan bahwa Backman tidak perlu mengubah seluruh kepribadian tokohnya untuk memperlihatkan perubahan tersebut. Ove tetap keras kepala. Tetap suka mengatur. Tetap menganggap sebagian besar manusia tidak becus melakukan pekerjaan sederhana. Tetapi kita semakin memahami bahwa di balik segala omelannya, ia adalah orang yang selalu hadir ketika seseorang membutuhkan bantuan.

Ada satu bagian yang sangat saya sukai, ketika Parvaneh mengatakan bahwa putrinya menggambar orang-orang dengan warna hitam, tetapi menggambar Ove dengan ledakan warna-warna ceria: merah, kuning, biru, oranye. Saya rasa itu salah satu gambaran paling indah dalam novel ini. Betapa berbeda cara manusia melihat manusia lainnya. Bagi orang dewasa, Ove mungkin hanya lelaki tua pemarah yang sulit diajak bicara. Tetapi bagi seorang anak kecil, ia justru seseorang yang penuh warna. Anak itu tidak menilai Ove berdasarkan caranya berbicara atau kebiasaannya mengomel. Ia mengenal Ove melalui kehadirannya, melalui hal-hal yang dilakukannya, dan mungkin melalui rasa aman yang diberikan lelaki tua tersebut.

Dan bukankah sering kali kita juga terlalu cepat menilai orang lain berdasarkan apa yang tampak di permukaan?. Kita menganggap seseorang tidak ramah karena jarang tersenyum, tidak peduli karena tidak pandai mengungkapkan perasaan, atau tidak menyenangkan karena terlalu banyak aturan. Padahal mungkin ada cerita panjang di balik sikap-sikap tersebut yang sama sekali tidak kita ketahui.

Tentu bukan berarti setiap perilaku buruk harus dimaklumi karena seseorang pernah mengalami kesulitan hidup. Tetapi novel ini mengingatkan saya bahwa memahami manusia membutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekadar kesan pertama. Ada satu hal lain yang menurut saya menarik. Sepanjang hidupnya, Ove merasa bahwa dirinya harus berguna. Ia memperbaiki barang, membangun sesuatu, menjaga aturan, dan menyelesaikan persoalan dengan tangannya sendiri. Ketika ia kehilangan pekerjaan dan istrinya, ia seolah kehilangan dua hal yang selama ini menjadi dasar identitasnya: menjadi seseorang yang bekerja dan menjadi suami Sonja. Tetapi melalui tetangga-tetangganya, Ove perlahan menemukan bahwa keberadaannya masih memiliki arti.

Bukan karena jabatan, pekerjaan, atau pencapaian besar. Melainkan karena ada orang-orang yang membutuhkan dan menyayanginya. Saya rasa ini pesan yang sederhana, tetapi sangat menyentuh. Kadang manusia tidak membutuhkan peristiwa luar biasa untuk kembali merasa terhubung dengan kehidupan. Bisa jadi semuanya dimulai dari percakapan singkat, seseorang yang meminta bantuan, atau kehadiran orang lain yang terus mengetuk pintu meskipun kita berkali-kali menyuruhnya pergi.

Tentu dalam kehidupan nyata, kesedihan mendalam dan keinginan mengakhiri hidup tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan memiliki tetangga yang baik. Tetapi melalui kisah Ove, Backman memperlihatkan betapa berharganya hubungan antarmanusia, terutama ketika seseorang sedang merasa kehilangan tempatnya di dunia.

Pada akhirnya, Ove meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Dan alih-alih pemakaman yang sepi, ratusan orang datang mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Lelaki yang sepanjang cerita tampak begitu sulit bergaul ternyata telah menyentuh kehidupan begitu banyak orang.

Saya menamatkan buku ini dengan hati yang rasanya ikut menghangat. Mau tidak mau, saya ikut sayang kepada pria tua bangka pemarah ini. Tetapi setelah selesai membaca, saya rasa A Man Called Ove bukan sekadar cerita tentang lelaki galak yang ternyata berhati baik. Ini juga cerita tentang kehilangan, kesepian, cinta yang tidak selesai ketika seseorang meninggal dunia, dan bagaimana hubungan dengan orang lain dapat memberi makna baru pada kehidupan yang semula terasa kosong.

Sonja pernah menjadi alasan Ove untuk menjalani hidup. Setelah Sonja tiada, orang-orang yang datang tanpa diundang itu perlahan membantunya menemukan alasan-alasan baru. Dan mungkin itulah yang paling saya sukai dari novel ini. Kadang kita merasa tidak lagi memiliki tempat di dunia, padahal tanpa kita sadari, kehadiran kita masih berarti bagi begitu banyak orang. Ove mengira dunia sudah tidak membutuhkannya. Ternyata ia keliru. Dan untungnya, selalu ada tetangga-tetangga menyebalkan yang tidak membiarkannya sendirian.

 

Kamis, 16 April 2026

Kepada Indah

Kami mulai bersahabat sejak 2003, sejak tahun pertama di ITB. Disatukan oleh mimpi buruk bernama: Kalkulus, Fisika Dasar dan Ospek Himpunan. Siapa sangka, 21 tahun kemudian ia tetap jadi sahabat terbaik untuk saya. Takdir kami dalam banyak hal terjalin erat, meskipun keputusan yang ia ambil selalu lebih baik dari saya: ia memutuskan lanjut osjur, saya malah memutuskan keluar himpunan, ia pasang kawat gigi di usia 20 an, saya baru pasang menjelang 30 an, ia memutuskan lanjut kuliah ke luar negeri, saya cukup dgn ITB saja lagi. Dan yang paling membedakan kami berdua adalah: saya memutuskan menikah di usia 19 tahun, dan ia di usia 38 tahun.

 

Namun entah bagaimana, di luar perbedaan kami yang selalu 180 derajat, setiap saya hilang arah dan hampir tenggelam,  ia yang selalu jadi jangkar utk saya. Ia yang dulu memarahi saya, memaksa saya untuk terus menamatkan kuliah, ketika romansa hidup berumah tangga begitu melenakan dan saya tergoda, ingin rasanya berhenti kuliah dan jadi ibu rumah tangga saja di rumah (saat itu saya masih semester 3). 

 

Ia juga yang memaksa saya ikut tes CPNS, padahal setelah lulus kuliah, lagi-lagi saya ingin di rumah saja, meski memang ragu, apakah murni ingin mengabdi untuk anak dan suami, atau semata takut bertarung di luar sana. 

 

Dua puluh satu tahun persahabatan kami, begitu panjang pembahasan kami tentang pernikahan. Kepadanya saya menuangkan semua senang susah saya selama menjadi istri dan ibu. Saya yang dramatis dan melankolis selalu kalah oleh ia dengan pikiran yang selalu logis dan taktis. Saya ingat, tahun 2006 saat terjadi huru hara pertama dan mungkin terbesar dalam rumah tangga saya. Nangis-nangis saya cerita, ia cuma menjawab, “Sini kumpulin dulu tugas besar Rektrans, kalau udh ngumpulin terserah kamu mau pulang ke Tasik atau ke rumah suami kamu”. Tampak kejam, tapi berkatnya semester itu saya lulus semua mata kuliah.

 

Dua puluh satu tahun persahabatan kami. Sering sekali saya tiba-tiba mumet dengan pikiran saya sendiri, lalu memutuskan semua hubungan dengan dunia luar. Berbulan-bulan tak menghubungi, lalu dengan seenaknya tiba-tiba muncul kembali, menyapa seolah tak ada hal yang terjadi sebelumnya. Dan selalu setiap saya kembali, saya tahu ia akan menerima saya “pulang”, begitu saja dan tidak menghakimi.

 

Seluruh perjalanan rumah tangga saya mungkin adalah pelajaran penting untuknya tentang pernikahan. Mungkin dari saya ia belajar, menikah itu ternyata bukan seperti kisah cinta Cinderella dan Pangeran, dimana dengan menikah semua masalah selesai lalu hidup bahagia selamanya. Justru sebaliknya, menikah adalah awal dari semua masalah hidup yang sebenarnya. Menikah adalah ikatan yang sanggup membangkitkan sisi gelap dalam diri yang tak pernah kamu tahu bahwa itu ada. Menikah adalah hal paling sulit dalam kerangka hubungan dua manusia.

 

Makanya ia santai saja, ketika usia merambat naik, namun belum kunjung juga menemukan pasangan hidup. Berkali mamahnya bilang, “Ayo, Nu, carikan calon suami”, saya hanya tersenyum simpul. Mah, menikah bukan tujuan akhir dalam hidup, dan juga bukan perlombaan. Bukankah lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan orang yang salah. Karena hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan orang yang salah.

 

Dan waktu pun terus berlalu. Tak pernah sekali pun, saya bertanya padanya, “kapan kamu menikah?”. Saya hanya percaya, sahabat saya ini orang paling baik sedunia, tidak mungkin Tuhan membiarkan ia menjalani sisa hidup sendirian. Diam-diam saya berdoa, siapa pun suaminya kelak, ia harus laki-laki terbaik, jangan sampai ia jatuh ke tangan laki-laki semodel dakjal.

 

Dan hari ini ia menikah. Anehnya, separuh hati saya begitu kehilangan. Bagaimana pun juga, saya terlalu terbiasa dengan kehadiran dan kebaikannya. Separuh lagi,  lega dan senang luar biasa. 

 

Saya senang, karena meski ia tak pernah kesepian, ia tidak akan lagi sendirian di sore hari sepulang menjalani hari kerja yg padat. Saya senang, sahabat saya punya seseorang yang bisa diajak bergandeng tangan dan duduk berdua di akhir pekan yg  sunyi.  Saya senang, akhirnya ada seseorang yg mengambil perjanjian yg berat itu (mitsaqon ghalidza) kepada sahabat saya. Bagaimanapun, menikah itu fitrah. Seterjal apapun jalan di balik gerbangnya, bukankah pahalanya pun lebih besar.

 

Hari ini, mendengar tausiyah di pernikahannya, hati saya tersedu. Nasihat itu sesungguhnya bukan untuk pengantin baru saja, tapi juga berlaku utk pengantin bari. Dalam Al-Qur’an tidak ada kata cinta yg disandingkan dgn kata suami-istri. Yg ada adl kata mawadah warahmah. Cinta hanyalah bagian kecil dari mawadah warahmah ini. Dan mawadah warahmah ini kata kerja, jadi harus diupayakan.

 

Jadi, Ndah, selamat datang dan selamat bergabung😆.

 

“Bârakallâhu laka wa bâraka 'alaika wa jama'a bainakumâ fî khair” 

 

Memoar 3 Nov 2024

-15 hari menjelang titi mangsa pernikahan saya yg ke 20-

Kamu Bisa Mengatur Algoritmamu Sendiri

Beberapa waktu terakhir, demi mendapatkan informasi terkini yang sering kali tidak muncul di kanal media resmi, saya menginstal ulang aplika...