Teori Spotlight Effect





Pada medio tahun 2000an,  psikolog sosial Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky membuat sebuah percobaan yg unik, ia meminta beberapa responden memakai kaos yang aneh dan mencolok di ruang tunggu bandara. Yang menarik, dari semua pengunjung bandara ternyata hanya sekian persen saja (sedikit sekali) yang ingat bahwa ada orang dengan pakaian aneh di ruang tunggu. Kesimpulannya: mau kita seperti apa pun, selama tidak bersentuhan langsung dengan kepentingan orang lain, tidak ada yang terlalu peduli. Kesimpulan lanjutan: kita tak sepenting itu dalam kehidupan org lain. Hasil percobaan ini melandasi teori 
spotlight effect yang menjelaskan kecenderungan seseorang untuk melebih-lebihkan sejauh mana perilaku, penampilan, atau kesalahan mereka diperhatikan oleh orang lain. Fenomena ini berakar dari bias egosentris, di mana manusia secara alami fokus pada diri mereka sendiri dan menganggap orang lain melakukan hal yang sama.
 
Dalam kemacetan Jakarta sore ini, tak sengaja saya sebelahan dengan sepasang pengendara motor paruh baya, sepertinya suami istri, suaminya tidak pakai helm sementara istrinya pakai.
 
Karena persis sebelahan, tak sengaja saya menguping pembicaraan mereka. Dari logatnya sepertinya mereka orang Betawi.
 
Istri        : “Orang mah yang pake helm tuh yang bonceng, bukan yang dibonceng”
Suami    : “Yee emang napa, ini artinya sayang istri”
 
Saya pun tergelak sendiri mendengar percakapan itu sebelum berapa detik kemudian kami terpisah di lampu merah.
 
Jakarta, adalah kota seribu paradoks. Konon ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri, tapi anehnya kota ini menyenangkan bagi saya justru untuk ketidakpeduliannya. Di kota bajingan ini justru saya menemukan sosok ibu, sosok bapak, bahkan sosok keluarga yang mewujud teman-teman di kantor yang pintar-pintar, baik hati dan menyenangkan 
 

Dan episode sore ini justru menyadarkan saya, kota ini tetap seru seperti biasanya dan saya cinta, sungguh cinta.

Komentar

Postingan Populer