Selasa, 21 April 2026

Resensi THE SONG OF ACHILLES: Tentang Cinta, Keabadian, dan Harga Sebuah Kehormatan


Judul: The Song of Achilles -Nyanyian Achilles

Penulis: Madeline Miller

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2012

Alih Bahasa: Tanti Lesmana

Tebal buku: 490 halaman


Aku sanggup mengenalinya dari sentuhan saja, dari baunya; aku mampu mengenalinya andai pun mataku buta. Dari embusan napasnya dan jejak langkahnya di tanah. Aku sanggup mengenalinya dalam kematian, di ujung dunia. Hlm 169 

Aku pernah mendengar bahwa orang yang tinggal di dekat air terjun lama-kelamaan tidak mendengar gemuruhnya lagi—begitu pula aku; aku belajar untuk hidup di samping gemuruh aliran takdirnya. Hari-hari berlalu, dan dia masih hidup. Bulan-bulan berlalu, dan aku bisa seharian penuh tidak melongok ke dalam jurang kematiannya. Satu tahun yang penuh keajaiban, lalu dua tahun. Hlm 317

Dia belahan jiwaku, seperti kata para penyair. Hlm 378

 

Pada ulasan kali ini, alih-alih memberikan spoiler, sepertinya saya akan memberikan sedikit bocoran saja. Buku ini adalah sebuah novel cinta. Dan belum lengkap bocorannya kalau saya tidak menambahkan bahwa kisah cinta tersebut berlangsung antara dua laki-laki: Achilles dan Patroclus. Jadi, untuk teman-teman yang kurang nyaman membaca kisah cinta sesama jenis, mungkin buku ini memang bukan pilihan yang tepat.

Teman-teman yang menggemari mitologi Yunani tentu tidak asing dengan nama Achilles. Ia adalah pahlawan legendaris dalam Perang Troya, putra Peleus, seorang manusia, dan Thetis, dewi laut. Kisahnya menjadi bagian penting dalam Iliad, epos karya Homer yang telah bertahan selama ribuan tahun. Dari namanya pula kita mengenal istilah Achilles' heel, atau tumit Achilles, yang digunakan untuk menggambarkan titik kelemahan seseorang yang tampaknya begitu kuat.

Dalam salah satu versi mitologi yang berkembang kemudian, Thetis mencelupkan Achilles kecil ke Sungai Styx agar tubuhnya kebal terhadap senjata. Sayangnya, bagian tumit yang dipegang sang ibu tidak terkena air sungai, sehingga menjadi satu-satunya titik kelemahannya. Kelak, Achilles dikisahkan tewas akibat panah Paris, yang dalam beberapa versi dibantu atau diarahkan oleh Apollo.

Tetapi The Song of Achilles karya Madeline Miller tidak berusaha sekadar mengulang kisah tentang kehebatan seorang pahlawan perang. Miller justru memilih menceritakan Achilles melalui sudut pandang Patroclus. Dan menurut saya, di situlah letak keistimewaan novel ini.

Patroclus bukan sosok yang biasanya mendapat tempat utama dalam kisah kepahlawanan. Ia seorang pangeran yang terusir, canggung, tidak terlalu kuat, dan nyaris tidak memiliki kualitas yang membuatnya menonjol. Sangat berbeda dengan Achilles yang tampan, berbakat, memiliki kekuatan luar biasa, dan sejak kecil telah dipersiapkan untuk menjadi pahlawan besar. Jika Achilles adalah seseorang yang ditakdirkan untuk dikenang dunia, Patroclus justru tampak seperti manusia biasa yang mungkin akan dilupakan sejarah. Tetapi justru melalui mata Patroclus, kita mengenal Achilles bukan semata-mata sebagai pahlawan yang perkasa, melainkan sebagai manusia. Kita melihat masa kecilnya, kebiasaannya, kelembutannya, juga ketakutan dan kelemahan yang tidak pernah benar-benar hilang di balik kehebatannya.

Sejujurnya, ketika pertama kali membaca buku ini, saya belum membaca ulasan apa pun. Jadi saya sama sekali tidak memiliki prasangka bahwa novel ini akan mengangkat hubungan romantis antara dua laki-laki. Tetapi ternyata saya menyukai buku ini.

Madeline Miller menggambarkan bagaimana Patroclus perlahan jatuh cinta kepada Achilles dengan sangat halus. Tidak terasa dipaksakan, tidak pula berlebihan. Hubungan mereka tumbuh melalui persahabatan, kebersamaan, dan perasaan saling membutuhkan yang berkembang seiring bertambahnya usia. Sampai pada satu titik, saya bahkan lupa bahwa sedang membaca kisah cinta yang berlatar Perang Troya, bukan kisah perang yang sekadar diberi sedikit bumbu romansa. Namun, semakin jauh membaca, saya merasa bahwa novel ini sesungguhnya membicarakan sesuatu yang lebih besar daripada cinta.

Achilles sejak kecil telah dibayangi ramalan tentang masa depannya. Ia dapat menjalani kehidupan panjang tanpa kemasyhuran, atau memperoleh kejayaan yang membuat namanya dikenang sepanjang masa, tetapi harus mati muda. Dan seperti banyak pahlawan dalam mitologi Yunani, Achilles memilih keabadian melalui namanya. Di sinilah saya mulai melihat pertentangan yang menarik.

Bagi dunia, Achilles adalah pahlawan besar yang kelak akan dikenang karena keberaniannya. Tetapi bagi Patroclus, Achilles bukan sekadar nama yang akan dituliskan dalam sejarah. Ia adalah manusia yang dicintainya, seseorang yang ingin ia pertahankan tetap hidup. Dunia menginginkan Achilles menjadi legenda. Patroclus hanya menginginkan Achilles tetap menjadi manusia. Dan ternyata, dua keinginan itu tidak selalu bisa berjalan beriringan.

Saya juga menyukai bagaimana Miller membangun kontras antara kedua tokohnya. Achilles memiliki kekuatan yang luar biasa, tetapi semakin lama justru semakin terikat pada harga diri dan kehormatannya sebagai pahlawan. Sementara Patroclus, yang tidak memiliki kemampuan bertarung sehebat Achilles, berkali-kali memperlihatkan keberanian melalui kepeduliannya kepada orang lain.

Patroclus menolong mereka yang terluka, memperhatikan orang-orang yang sering diabaikan, dan tetap mampu melihat penderitaan manusia di tengah peperangan. Ia mungkin bukan pahlawan menurut ukuran para prajurit Yunani. Tetapi dalam banyak hal, justru Patroclus yang memperlihatkan sifat paling manusiawi. Dan saya rasa, itulah salah satu sindiran yang menarik dalam novel ini. Kita sering mengagumi manusia karena kekuatan, keberanian, kemenangan, dan pencapaiannya. Tetapi apakah semua itu otomatis menjadikan seseorang manusia yang baik?.

Achilles adalah prajurit yang nyaris tidak terkalahkan. Namun, kehebatannya tidak membuatnya terbebas dari kesombongan, kemarahan, dan keputusan-keputusan yang melukai orang lain. Ketika harga dirinya tersinggung oleh Agamemnon, Achilles memilih menarik diri dari peperangan. Keputusan itu bukan hanya menyangkut dirinya sendiri. Ada banyak prajurit yang kemudian harus menanggung akibatnya. Dan pada akhirnya, Patroclus pun menjadi bagian dari tragedi tersebut.

Beberapa ulasan yang saya baca menyebut The Song of Achilles sebagai novel tearjerker, alias penguras air mata. Saya sepertinya kurang sepakat. Buku ini tidak berhasil membuat saya menangis tersedu-sedu. Tetapi harus saya akui, Madeline Miller sangat berhasil membangun keterikatan emosi pembacanya. Ketika Patroclus akhirnya tewas, saya ikut memahami betapa hancurnya Achilles. Terutama ketika ia tidak sanggup melepaskan jasad Patroclus. Pahlawan yang begitu kuat, yang sanggup mengalahkan begitu banyak musuh, ternyata tidak berdaya menghadapi kehilangan seseorang yang dicintainya.

Bagian ketika Briseis meluapkan kemarahannya kepada Achilles juga sangat membekas bagi saya. Briseis menyalahkan Achilles atas kematian Patroclus. Baginya, Patroclus jauh lebih baik daripada Achilles, dan keegoisan Achilles telah membawa orang yang dicintainya menuju kematian. Dan sulit rasanya untuk tidak memahami kemarahan Briseis. Sebab sepanjang cerita, kita melihat bagaimana kehormatan dan kebanggaan Achilles perlahan menjadi lebih penting daripada keselamatan orang-orang di sekitarnya. Di sinilah tragedinya terasa semakin menyakitkan.

Achilles menginginkan namanya abadi, tetapi ketika akhirnya kehilangan Patroclus, seluruh kemasyhuran itu menjadi tidak berarti. Apa gunanya dikenang ribuan tahun jika orang yang paling ingin kita ajak menjalani kehidupan justru tidak lagi ada?. Kematian Patroclus kemudian menjadi titik balik dalam Perang Troya. Achilles kembali bertempur, bukan lagi semata-mata demi kejayaan, melainkan karena kemarahan dan keinginannya membalas kematian Patroclus. Tetapi bahkan setelah membunuh Hector, kesedihannya tidak juga selesai. Balas dendam ternyata tidak mengembalikan orang yang telah mati. Dan pada akhirnya, Achilles sendiri tidak dapat menghindari takdir yang sejak awal telah menunggunya.

Yang menarik, bagi saya, justru bukan kematian kedua tokoh tersebut yang menjadi bagian paling penting dari novel ini. Melainkan pertanyaan tentang apa yang sesungguhnya membuat kehidupan seseorang berarti. Achilles menghabiskan hidupnya mengejar kemasyhuran. Ia ingin dikenang sebagai pahlawan terbesar. Tetapi melalui Patroclus, Miller seperti mengajak kita melihat bahwa seseorang tidak harus menjadi luar biasa untuk memiliki kehidupan yang berharga. Patroclus mungkin tidak akan dikenang karena memenangkan peperangan atau menaklukkan musuh. Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak selalu dimiliki Achilles: kemampuan mencintai, berempati, dan melihat manusia lain sebagai manusia. 

Bahkan setelah keduanya meninggal, persoalan tentang siapa yang layak dikenang masih menjadi bagian penting dari cerita. Thetis, ibu Achilles, begitu menginginkan putranya dikenang sebagai pahlawan besar. Namun, pada akhirnya, melalui kenangan tentang Patroclus, kita diajak melihat bahwa kehidupan Achilles tidak hanya terdiri atas peperangan, kemenangan, dan kemasyhuran. Ada cinta, persahabatan, kelembutan, dan sisi manusiawi yang tidak tercatat dalam kisah kepahlawanannya. Dan mungkin justru bagian-bagian itulah yang membuat seseorang layak dikenang.

Saya tidak hendak menjadikan hubungan sesama jenis dalam novel ini sebagai persoalan utama ulasan. Sebab, jika dilihat dari cara bercerita, The Song of Achilles memang sebuah karya yang sangat bagus. Madeline Miller berhasil menghidupkan kembali dua tokoh mitologi yang kisahnya telah berusia ribuan tahun, lalu membuat pembaca melihat mereka sebagai manusia yang memiliki perasaan, kelemahan, dan keinginan yang tidak jauh berbeda dari manusia masa kini.

Saya juga mengapresiasi penerjemahannya. Emosi yang dibangun penulis tetap terasa, dan hubungan antartokohnya disampaikan dengan bahasa yang mengalir serta nyaman dibaca. Tetapi setelah menamatkan buku ini, saya rasa yang paling membekas bukanlah kisah cinta Achilles dan Patroclus semata. Melainkan ironi tentang seorang manusia yang memiliki hampir segalanya, tetapi kehilangan sesuatu yang paling berharga karena tidak mampu melepaskan harga dirinya. Achilles memperoleh apa yang sejak awal dijanjikan kepadanya: namanya abadi. Ribuan tahun setelah kematiannya, kita masih mengenalnya sebagai salah satu pahlawan terbesar dalam mitologi Yunani. Namun, setelah membaca novel ini, saya justru lebih mengingat Patroclus. Seseorang yang tidak memiliki kekuatan luar biasa, tidak mengejar kemasyhuran, dan tidak bercita-cita menjadi legenda.

Ia hanya mencintai seseorang, dan berusaha mempertahankan kemanusiaannya di tengah dunia yang begitu mengagungkan peperangan.

Barangkali memang demikian.

Sejarah lebih mudah mengingat mereka yang memenangkan peperangan. Tetapi belum tentu mereka itulah manusia yang paling layak kita kenang.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamu Bisa Mengatur Algoritmamu Sendiri

Beberapa waktu terakhir, demi mendapatkan informasi terkini yang sering kali tidak muncul di kanal media resmi, saya menginstal ulang aplika...