Review THE SONG OF ACHILLES


Judul: The Song of Achilles -Nyanyian Achilles

Penulis: Madeline Miller

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2012

Alih Bahasa: Tanti Lesmana

Tebal buku: 490 halaman


Aku sanggup mengenalinya dari sentuhan saja, dari baunya; aku mampu mengenalinya andai pun mataku buta. Dari embusan napasnya dan jejak langkahnya di tanah. Aku sanggup mengenalinya dalam kematian, di ujung dunia. Hlm 169

Dia belahan jiwaku, seperti kata para penyair. Hlm 378

 

Pada review kali ini, alih-alih memberikan spoiler, sepertinya saya akan memberikan bocoran saja: buku ini adalah sebuah novel cinta, dan belum lengkap bocorannya tanpa saya beri informasi tambahan, bahwa kisah cintanya pun adalah kisah cinta terlarang antara dua laki-laki: Achilles dan Patroclus. Jadi untuk teman-teman yang anti dengan isu ini, sebaiknya skip saja, jangan dilanjutkan membaca.

Teman-teman yang menggemari mitologi Yunani, saya yakin pernah mendengar nama Achilles setidaknya satu kali seumur hidup. Ia adalah manusia setengah dewa, pahlawan legenda yang diceritakan dalam Homer karya Illiad. Istilah Achilles heels atau tumit Achilles yang bermakna titik kelemahan fatal pada seseorang yang sangat kuat memang berasal dari cerita Achilles yang sangat terkenal. Konon, ibu Achilles, Thetis, adalah seorang dewi laut yang sangat khawatir dengan nubuat bahwa Achilles akan mati di usia muda, maka ia mencelupkan Achilles bayi ke Sungai Styx agar kebal senjata, namun tumit yang dipegang ibunya tidak terkena air suci sehingga menjadikannya satu-satunya titik lemah. Saat Perang Troya, Paris yang telah dibisiki Apollo mengenai titik lemah ini, sengaja memanah bagian tumit sehingga membuat Achilles terbunuh.

Namun semua versi cerita Perang Troya ini selalu hanya fokus pada Achillesnya itu sendiri, atau pada tokoh-tokoh besar lainnya yang memang sangat berperan penting dalam cerita. Kita akan melihat banyak kisah dari sudut pandang Paris atau Helen atau dewa-dewa yang terlibat. Inilah yang membedakan, karena yang diangkat dalam buku karya Madelaine Miller ini justru cerita dari sudut pandang Patroclus, sehingga penggambaran cerita menjadi sangat manusiawi.

Sejujurnya, saat pertama membaca buku ini, saya belum membaca review apa pun, sehingga sama sekali tak ada prasangka bahwa ini buku tentang kisah cinta sejenis. Tapi ternyata saya menyukai buku ini, penggambaran bagaimana Patroclus yang adalah seorang pangeran lemah, canggung dan sangat biasa, jatuh cinta pada pangeran setengah dewa dengan fisik  dan kekuatan yang sempurna, disampaikan dengan sangat halus dan sopan. Pada satu titik, pembaca diajak untuk ikut larut dalam setiap emosinya sampai-sampai lupa, ini novel cinta berlatar perang, bukan cerita perang dengan sedikit bumbu romansa.

Beberapa review yang saya baca kemudian menyatakan bahwa buku ini tearjerker, atau menguras air mata. Saya sepertinya kurang sepakat dengan pernyataan itu karena tak berhasil membuat sesenggukan, meskipun harus saya akui, Madelaine Miller dengan sukses mempertahankan keterikatan emosi pembaca, hingga ketika tiba di bagian kematian Patroclus, saya ikut memahami bagaimana sedih dan hancurnya Achilles. Rasanya saya ikut menanggung beban emosi ketika Achilles tidak kuasa melepaskan jasad Patroclus sementara di sisi lain Briseis mengutuknya sebagai penyebab kematian, bahwa Patroclus seribu kali lebih baik dari Achilles, bahwa Patroclus mati karena keegoisan Achilles. 

Kematian Patroclus sendiri kemudian menjadi titik balik yang merubah arah pertempuran dalam Perang Troya, dan Achilles tidak bisa menghindari takdirnya untuk juga terbunuh pada perang itu. 

Terakhir, saya tak hendak mengkritik cinta sejenis dalam buku ini, karena jika dilihat dari aspek penceritaan buku ini luar biasa bagus. Alih bahasa yang dilakukan juga sangat pas menerjemahkan emosi sehingga bisa dirasakan pembaca. Buku ini membuat Achilles dan Patroclus terasa hidup dan bernyawa kembali, padahal 28 abad sudah berlalu sejak Holmer menyusun Iliad.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer