Belajar Mendengarkan Lagi


Suatu sore, saya dan Aka sedang bercakap-cakap ringan ketika tiba-tiba saja ia berkata: 

 

Aka: “Umah, tadi Aka dapet info, besok ada event lagi di Summarecon, ada acara cosplay Xavier dan Caleb juga”

 

Aku: “Maksudnya Aka minta izin mau dateng?”

 

Aka: “Eh, ngga, Aka cuma mau cerita aja kalau besok ada event”

 

Aku: “Hooo…”

 

Setelah sempat hening, tiba2 Aka menyambung lagi:

 

Aka: “Umah, Umah sadar ngga sih kalau pikiran Umah tuh kaya laki-laki  banget”

 

Aku: “Oh ya, kenapa emang Ka?

 

Aka: “Iya, Umah tuh kalau ada siapa pun yg cerita ke Umah, pasti buru-buru cari solusi dari apa yang diceritakan, padahal ngga semua orang, apalagi perempuan, cerita tuh karena butuh saran atau solusi, kadang orang cerita tuh cuma pengen didenger aja”

 

Aku : “Ah, begitu ya, Aka ...”

 

Sebetulnya, tanggapan gamang itu bukan karena saya meragukan pernyataan Aka, tapi justru mungkin adalah ketidakpercayaan saya pada sosok diri sendiri yg dinilai Aka. Betulkah saya sudah bertransformasi dari “pendengar setia” menjadi “pencari solusi”?. Sejak kapan?, padahal dulu ada satu masa dimana saya jadi tempat sampah curhatan semua orang. Ya meskipun itu peran yg saya jalani karena melekat dengan pekerjaan di kantor dimana salah satu fungsi saya juga adalah kepegawaian sehingga mau tak mau saya tahu masalah-masalah dapur dan rahasia banyak orang, tapi tetap saja, jadi tempat curhat yang dipercaya banyak orang itu cukup membanggakan.

 

Sejak kapan saya lupa, bahwa semua orang perlu curhat, dan kadang hanya didengarkan saja tanpa dihakimi adalah satu-satunya hal yang diinginkan. Dan kemudian saya sadar, pendapat Aka mungkin betul, akhir2 ini saya terbiasa menanggung banyak hal dan memecahkan semuanya sendiri, sehingga membuat pikiran saya ter-setting bahwa segala sesuatu harus segera dicari jalan keluarnya, agar tidak berlarut-larut, agar bisa segera pindah ke tugas lainnya. Tapi karena pikiran seperti itu, sedikit demi sedikit saya bertransformasi jadi orang yang tidak menyenangkan untuk diajak bicara.

 

Kesadaran ini, tentu tidak timbul dari kekhawatiran saya terhadap citra diri yang disalahpahami karena sudah lama saya tidak terlalu peduli akan dianggap sebagai orang seperti apa. Tapi semata, saya sadar, berbicara dengan orang, adalah suatu relasi timbal balik yg resiprokal. Allport pernah menyatakan bahwa kegagalan hubungan interpersonal adalah penyebab kedua stress terbesar pada manusia, (penyebab pertama adalah kehilangan pekerjaan),  dan itu menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang selalu perlu untuk terkoneksi dengan orang lain.

 

Sering sekali dalam satu hari yg berat, satu sapaan atau bahkan satu senyuman saja dari orang tak dikenal rasanya menghangatkan hati dan meringankan sisa hari. Maka ketika mendengarkan curhatan orang, alih-alih meringankan beban orang lain, sejatinya saya sedang berbuat baik pada diri saya sendiri, dan saya lebih perlu kepada kebaikan itu daripada si pencerita itu sendiri. 

 

Terakhir, saya bersyukur sudah bicara dengan Aka sore ini. Secara tidak langsung saya diingatkan untuk kembali belajar mendengarkan lagi. Setelah sekian lama “sibuk sendiri” dan nurani ini tergerus entah oleh apa yang sedikit tapi pasti mulai menumpulkan mata hati.

Komentar

Postingan Populer