Kepada Indah
Kami mulai bersahabat sejak 2003, sejak tahun pertama di ITB. Disatukan oleh mimpi buruk bernama: Kalkulus, Fisika Dasar dan Ospek Himpunan. Siapa sangka, 21 tahun kemudian ia tetap jadi sahabat terbaik utk saya. Takdir kami dlm banyak hal terjalin erat, meskipun keputusan yg ia ambil selalu lebih baik dari saya: ia memutuskan lanjut osjur, saya malah memutuskan keluar himpunan, ia pasang kawat gigi di usia 20 an, saya baru pasang menjelang 30 an, ia memutuskan lanjut kuliah ke luar negeri, saya cukup dgn ITB saja lagi. Dan yg paling membedakan kami berdua adalah: saya memutuskan menikah di usia 19 tahun, dan ia di usia 38 tahun.
Namun entah bagaimana, di luar perbedaan kami yg selalu 180 derajat, setiap saya hilang arah dan hampir tenggelam, ia yg selalu jadi jangkar utk saya. Ia yg dulu memarahi saya, memaksa saya utk terus menamatkan kuliah, ketika romansa hidup berumah tangga begitu melenakan dan saya tergoda, ingin rasanya berhenti kuliah dan jadi ibu rumah tangga saja di rumah (saat itu saya masih semester 3).
Ia juga yg memaksa saya ikut tes CPNS, padahal setelah lulus kuliah, lagi-lagi saya ingin di rumah saja, meski memang ragu, apakah murni ingin mengabdi utk anak dan suami, atau semata takut bertarung di luar sana.
Dua puluh satu tahun persahabatan kami, begitu panjang pembahasan kami tentang pernikahan. Kepadanya saya menuangkan semua senang susah saya selama menjadi istri dan ibu. Saya yg dramatis dan melankolis selalu kalah oleh ia dengan pikiran yg selalu logis dan taktis. Saya ingat, tahun 2006 saat terjadi huru hara pertama dan mungkin terbesar dlm rumah tangga saya. Nangis-nangis saya cerita, ia cuma menjawab, “Sini kumpulin dulu tugas besar Rektrans, kalau udh ngumpulin terserah kamu mau pulang ke Tasik atau ke rumah suami kamu”. Tampak kejam, tapi berkatnya semester itu saya lulus semua mata kuliah.
Dua puluh satu tahun persahabatan kami. Sering sekali saya tiba2 mumet dgn pikiran saya sendiri, lalu memutuskan semua hubungan dgn dunia luar. Berbulan2 tak menghubungi, lalu dgn seenaknya tiba2 muncul kembali, menyapa seolah tak ada hal yg terjadi sebelumnya. Dan selalu setiap saya kembali, saya tahu ia akan menerima saya “pulang”, begitu saja dan tidak menghakimi.
Seluruh perjalanan rumah tangga saya mungkin adalah pelajaran penting utknya tentang pernikahan. Mungkin dari saya ia belajar, menikah itu ternyata bukan seperti kisah cinta Cinderella dan Pangeran, dimana dgn menikah semua masalah selesai lalu hidup bahagia selamanya. Justru sebaliknya, menikah adl awal dari semua masalah hidup yg sebenarnya. Menikah adl ikatan yg sanggup membangkitkan sisi gelap dalam diri yg tak pernah kamu tau bahwa itu ada. Menikah adl hal paling sulit dalam kerangka hubungan dua manusia.
Makanya ia santai saja, ketika usia merambat naik, namun belum kunjung jg menemukan pasangan hidup. Berkali mamahnya bilang, “Ayo, Nu, carikan calon suami”, saya hanya tersenyum simpul. Mah, menikah bukan tujuan akhir dlm hidup, dan juga bukan perlombaan. Bukankah lebih baik tidak menikah daripada menikah dgn org yg salah. Karena hidup ini terlalu singkat utk dihabiskan dgn org yg salah.
Dan waktu pun terus berlalu. Tak pernah sekali pun, saya bertanya padanya, “kapan kamu menikah?”. Saya hanya percaya, sahabat saya ini orang paling baik sedunia, tidak mungkin Tuhan membiarkan ia menjalani sisa hidup sendirian. Diam-diam saya berdoa, siapa pun suaminya kelak, ia harus laki2 terbaik, jangan sampai ia jatuh ke tangan laki2 semodel dakjal.
Dan hari ini ia menikah. Anehnya, separuh hati saya begitu kehilangan. Bagaimana pun juga, saya terlalu terbiasa dgn kehadiran dan kebaikannya. Separuh lagi, lega dan senang luar biasa.
Saya senang, karena meski ia tak pernah kesepian, ia tdk akan lagi sendirian di sore hari sepulang menjalani hari kerja yg padat. Saya senang, sahabat saya punya seseorang yg bisa diajak bergandeng tangan dan duduk berdua di akhir pekan yg sunyi. Saya senang, akhirnya ada seseorang yg mengambil perjanjian yg berat itu (mitsaqon ghalidza) kepada sahabat saya. Bagaimanapun, menikah itu fitrah. Seterjal apapun jalan di balik gerbangnya, bukankah pahalanya pun lebih besar.
Hari ini, mendengar tausiyah di pernikahannya, hati saya tersedu. Nasihat itu sesungguhnya bukan untuk pengantin baru saja, tapi juga berlaku utk pengantin bari. Dalam Al-Qur’an tidak ada kata cinta yg disandingkan dgn kata suami-istri. Yg ada adl kata mawadah warahmah. Cinta hanyalah bagian kecil dari mawadah warahmah ini. Dan mawadah warahmah ini kata kerja, jadi harus diupayakan.
Jadi, Ndah, selamat datang dan selamat bergabungđ.
“Bârakallâhu laka wa bâraka 'alaika wa jama'a bainakumâ fĂŽ khair”
Memoar 3 Nov 2024
-15 hari menjelang titi mangsa pernikahan saya yg ke 20-

Komentar
Posting Komentar