Minggu, 29 November 2015

TENTANG SEBUAH PERJALANAN


Perjalanan…

Selalu saja jadi bahan cerita yang menarik. Entah itu tentang kejadian yang terjadi selama perjalanan, kawan seperjalanan, atau sekedar mencari-cari bahan kritik untuk Menteri Perhubungan seputar moda transportasi yang digunakan selama perjalanan.

Dan menarik untuk diamati, perjalanan yang dilakukan dengan moda transportasi yang nyaman, cepat (dan berkonotasi mahal) memberikan cerita yang jauh lebih sedikit dari perjalanan yang dilakukan dengan moda yang murah.

Teman-teman yang menggunakan mobil pribadi, saya rasa lebih miskin cerita dari teman-teman yang naik angkot atau bus DAMRI. Seperti halnya Awan Diga yang menulis banyak Cerita-cerita Kereta selama ia naik kereta kaleng, tapi kemudian tak lagi berceloteh panjang lebar saat menggunakan moda lain yang jauh lebih baik.

Manusia, selamanya tentang manusia. Bukan tentang kesenangan dan kebahagiaan hidupnya. Tapi lebih kepada derita dan perjuangannya. Dan bagi sebagian orang, untuk melakukan perjalanan pun sudah menjadi perjuangan tersendiri.

Tak percaya?.

Cobalah untuk kawan yang kebetulan berada pada posisi saya (tinggal di Bandung tapi bekerja di Jakarta) untuk mengunjungi stasiun kereta Kiara Condong pukul 23.35 malam. Menurut jadwal, tepat pada jam itu kereta ekonomi menuju Jakarta akan transit di Stasiun Kiara Condong. Jangan heran jika kereta yang dimaksud baru tiba 2 jam kemudian, jangan heran juga jika setelah menunggu selama berjam-jam, kawan tak bisa naik karena kereta sudah penuh sesak dalam pengertian denotatif. Tapi jika kawan memaksa, masuk sajalah, tak usah bingung berpegangan dimana, karena guncangan kereta sehebat apapun tak akan sanggup membuat kawan terjatuh. Kawan akan ditahan oleh tubuh-tubuh yang berjajar rapat di sekelilingmu. Dan kawan harus bertahan dalam kondisi itu selama 4 jam hingga tak berhingga untuk sampai di stasiun Kota.

Dan herannya adaaaaa…. saja yang sanggup menahan kondisi itu dengan tetap memilih naik kereta penuh sesak itu...

Saya, jujur saja tidak. Alih-alih kereta ekonomi, saya lebih memilih naik bus AC ekonomi dari Cileunyi untuk menuju Jakarta. Memang cukup membosankan, mengingat kebanyakan penumpang (jika saya nilai dari pakaian dan bahasa tubuhnya), termasuk golongan menengah, tipikal pencari nafkah di ibukota, yang menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja, hingga tak punya cukup energi untuk melakukan hal-hal yang aneh.

Tapi kesan yang saya berikan untuk moda ini kemudian hancur berantakan oleh seorang wanita muda yang duduk persis di belakang saya. Sebut saja wanita ini bernama Y, saat pertama mendengar suaranya yang sedang berceloteh di belakang saya, saya menilai ia seorang peramah, ciri khas orang Priangan yang tak segan membuka percakapan dengan teman seperjalanannya. Setengah jam kemudian, dari logat dan topik yang ia pilih untuk dibicarakan, saya menilai ia seorang yang berpendidikan rendah. Mungkin ia bahkan tak tamat SMP. Dan satu jam kemudian, saya menilai ia mengalami gangguan jiwa.
 
Ia bernyanyi-nyanyi cukup keras dengan suara yang tak bernada, menirukan lagu-lagu dangdut terbaru yang ia dengar lewat earphone. Sayangnya ia tak sadar kalau dirinya buta nada. Suara cemprengnya yang meliuk datar dan hanya kenal keras dan pelan saja terasa begitu mengganggu di telinga saya, tapi ia tak peduli dan terus bernyanyi. Nyanyiannya baru berhenti ketika pria di pinggirnya mengajaknya ngobrol. Dan mengalirlah cerita itu.

Tentang ia yang ternyata orang Garut, yang ternyata janda dua kali dengan dua anak dari dua lelaki yang berbeda. Suami pertama meninggal karena kecelakaan, dan suami kedua kabur dengan wanita lain. Kedua anak menjadi tanggungannya, sedang ia sendiri tak punya ijazah cukup untuk melamar kerja. Akhirnya ia menjadi pegawai di sebuah tempat billyard di Jakarta. Dengan gaji tujuh ratus ribu rupiah per bulan, ia harus membayar sewa kamar, biaya makan selama di Jakarta sekaligus juga mengirimkan biaya untuk anaknya di kampung. Tujuh ratus ribu adalah jumlah yang absurd untuk mencukupi semua kebutuhan, maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menjual tubuhnya untuk mencari tambahan.

“Saya tak melakukannya tiap hari, hanya beberapa kali dalam seminggu itu pun dengan orang-orang tertentu saja”, katanya, mungkin diucapkannya untuk mencari pembenaran. Sambil sedikit mengeluh andai ada orang yang mau memperistrinya.

“Saya sengaja pulang karena ingin bertemu anak-anak saya, sudah hampir satu bulan saya belum menengok mereka. Kebetulan tadi siang saya menemani bos saya minum dan karaoke-an, saya dapat tips lima ratus ribu, cukup untuk ongkos pulang pergi dan bekal untuk kedua anak saya sekedarnya”.
Mendengar penuturannya, saya meralat penilaian saya, ia tak sakit jiwa, hanya sedikit mabuk tampaknya. Dan bukankah orang mabuk selalu bicara jujur.

Satu jam kemudian, saya tiba di tempat tujuan saya. Saat berdiri untuk mengambil barang bawaan di atas kursi, sedikit iseng saya melirik ke arahnya. Dan tampaklah ia menggelosor di kursinya, kini tertidur begitu pulas, rambutnya yang dicat merah menjuntai ke arah wajahnya yang tirus. Tak bisa dibilang cantik, tapi kaos ketat yang menonjolkan bagian dadanya mungkin bisa menutupi kekurangan wajahnya.

Alih-alih benci pada wanita ini yang mengaku terus terang dirinya adalah pelacur , saya merasa iba sekali. Mungkin ia pelacur, mungkin ia pendosa di mata alim ulama, tapi di mata saya ia hanyalah seorang ibu. Yang tak tahu lagi harus dengan cara apa menafkahi anak-anaknya. Maka dikorbankannya dirinya, perasaannya, demi beberapa lembar uang yang meski bukan segalanya, tapi dengan uanglah anak-anaknya bisa melanjutkan hidup.

Ia berkisah dengan nada yang datar, tak tersirat kegetiran sedikit pun. Tapi siapa yang tahu jika jiwanya hancur lebur. Tak ada wanita yang bercita-cita jadi pelacur. Meski pekerjaan ini sama tuanya dengan peradaban manusia. Ia contoh yang baik dari ”dialektika” yang disebut Walter Benjamin: seorang pelacur—seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri, seorang penjaja (Verkäuferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam satu tubuh. Ia buruh sekaligus bukan buruh.

Saat turun dari bis, satu perasaan sesak menghimpit hati saya. Tak berhak saya menghujat, apalagi menghina ia yang banyak dihujat sebagai seorang pendosa. Bukankah Allah sendiri yang berjanji, bahwa Ia tak akan membiarkan hamba-Nya yang menghina dosa saudaranya, mati sebelum diuji dengan dosa yang serupa. 

Saya tak menghina, tapi separuh hati saya bersyukur: Tuhan tak menempatkan saya dalam kondisi yang mendorong wanita itu menjadi seperti itu.

Lihatlah, bukankah jiwa ini begitu ringkih?.

PERTANYAAN TAK BERUJUNG


Seorang teman uring-uringan pada saya sepulang menghadiri acara keluarga yang rutin diadakan setahun sekali. Apa pasal?, sudah bertahun-tahun ini ia selalu datang sendirian dan menjadi sasaran empuk pertanyaan sadis berupa samurai berwujud kata-kata: “Kapan menikah?”.
Awal-awal mendapat pertanyaan begitu, ia masih bisa tersenyum geli dan berkelit dengan alasan masih ingin mengejar karir, tapi tahun demi tahun, saat usianya merambat naik tanpa disadari, saat satu persatu teman-teman seangkatan meninggalkannya menuju gerbang bernama pernikahan, saat ia menjadi satu-satunya orang yang datang sendirian dalam setiap acara yg selayaknya dihadiri bersama pasangan, ia pun perlahan kehilangan kata-kata untuk berdalih.
Dan acara keluarga menjadi prioritas terakhir dalam jadwalnya bahkan kalau memungkinkan tak perlulah untuk datang, yah untuk apa, ungkapnya padaku, jika setiap acara selesai, ia selalu merasa depresi dan ingin bunuh diri. Ia bahagia dengan kesendiriannya, enjoy dan santai saja, tapi jika ditanya langsung seperti itu ditambah dengan tatapan menuduh dan segudang saran untuk tidak terlalu pilih-pilih atau blablabla lainnya, mau tak mau kepikiran juga. Dan pertanyaan sederhana yang hampir berupa basa basi ringan itu justru menimbulkan tsunami di benak si tertanya, menimbulkan sederet tanda tanya lain yang mau tak mau memporakporandakan kepercayaan dirinya, “iya ya, kenapa aku belum menemukan pasangan jiwaku, apa aku akan selamanya hidup kesepian, apa aku tak layak dicintai, apa aku, bla bla bla….”.
Begitulah, pertanyaan berupa dua kalimat sederhana itu ternyata lebih dari cukup untuk membuatnya tak bisa tidur nanti malam, menghantuinya dengan bayang-bayang mengerikan tentang orang yang menikmati masa tuanya tanpa keluarga yang benar-benar dibangun dengan tali pernikahan.
Dan akulah yang menjadi tempat penampungan terakhir keluh kesahnya.
Oke…aku sudah menikah, aku belum pernah merasakan bagaimana menjengkelkannya ditodong dengan pertanyaan seperti itu, karena aku menikah di usia sangat muda. Tak banyak kata-kata yang bisa kuucapkan sebagai penawar kegalauannya. Tapi jika masih boleh berargumen, ingin sekali aku bilang : “Apakah setelah menikah lantas semuanya beres begitu saja”. Orang yang rajin menanyakan pertanyaan itu pun belum tentu lebih bahagia hidupnya dari yang ditanya, siapa tahu ternyata ia menikahi seorang psikopat atau diselingkuhi pasangan hidupnya atau apalah sederet masalah rumah tangga lainnya. Lantas kenapa pertanyaan itu seolah menjadi salah satu pendorong bagi banyak orang untuk terburu-buru menikah, hingga akhirnya malah menyesali pilihan yang memang diambil karena mengejar tenggat usia –ideal-untuk-menikah?. Kenapa demi menghindari sebutan bujang lapuk, perawan tua atau tak laku-laku, lantas harus mempertaruhkan kebahagiaan seumur hidup dengan menikahi siapa saja.
Padahal saya yakin pertanyaan itu tak lantas akan berhenti, karena setelah menikah pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan lainnya, “Kapan punya momongan?”, setelah lahir anak pertama akan muncul lagi pertanyaan :”kapan punya anak kedua?”, lalu jika si anak sudah tumbuh dewasa ada lagi pertanyaan: “kapan punya mantu?”, “Kapan punya cucu?”, meski saya yakin tak akan ada orang yang bertanya “Kapan mati?”.
Entahlah, pertanyaan-pertanyaan annoying ini kebanyakan hanya berupa basa basi dalam lingkup pergaulan kita, sebagian lebih karena tak ada lagi topik yang bisa dijadikan bahan perbincangan. Tapi betapa pertanyaan-pertanyaan sambil lalu ini ternyata bisa menjadi media bullying mental yang sangat ampuh, meskipun jika diambil sisi positifnya kita jadi tahu bahwa menikah, punya anak, punya cucu, adalah standar kesuksesan dalam hidup bagi banyak orang. Bukankah agak jarang juga kita ditanya :”Kapan naik gaji, kapan beli mobil baru, atau bahkan kapan ganti istri :-P”.
Perkara terganggu atau tidak terganggu bukan ditentukan oleh pertanyaan tersebut, tapi bagaimana pikiran kita me-manage hal itu dan tetap optimis bahwa jalan yang diberikan oleh Tuhan saat ini (sendirian atau berpasangan) adalah yang terbaik untuk kita.
Sebuah bantal melayang ke kepalaku, “Gampang bilang gitu kalau ngga ngerasain sendiri”, tuntutmu padaku.
Dan aku hanya bisa mengangkat bahu, “Kalau kamu ditanya lagi ‘Kapan menikah?’ seperti itu senyumlah dan jawab saja, ‘Masih belum dipercaya untuk dapat yang terbaik, mohon do’anya saja’ :-D”

Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI

Judul Buku                 : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Penulis                         : Yusi Avianto Pareanom Penerbit         ...