Perjalanan selalu saja menyediakan cerita.
Kadang tentang tempat yang dituju. Kadang tentang kejadian sepanjang jalan. Tapi sering kali justru tentang orang-orang asing yang kebetulan duduk beberapa jengkal dari kita selama beberapa jam, lalu setelah itu mungkin tidak akan pernah kita temui lagi seumur hidup.
Anehnya, perjalanan yang nyaman biasanya memberi saya lebih sedikit cerita. Mungkin karena ketika naik kendaraan yang nyaman, kita sibuk dengan dunia sendiri. Duduk, tidur, membaca, lalu tiba. Sementara dalam angkot, bus, atau kereta ekonomi, dunia orang lain seperti tidak punya cukup sekat untuk menjauh dari kita. Percakapan terdengar. Keluhan terdengar. Tangisan anak terdengar. Kadang bahkan kehidupan seseorang yang sama sekali tidak kita kenal ikut terdengar.
Dan pada suatu perjalanan Bandung–Jakarta, saya mendengar kehidupan seorang perempuan dari kursi tepat di belakang saya. Saya sebenarnya sudah cukup lama menjalani perjalanan Bandung–Jakarta. Kereta ekonomi pernah saya coba. Datang ke Stasiun Kiaracondong menjelang tengah malam, menunggu kereta yang entah kapan datangnya, lalu ketika akhirnya tiba mendapati gerbong begitu penuh sampai rasanya hukum gravitasi tidak lagi berlaku. Tidak perlu mencari pegangan. Tubuh-tubuh manusia di sekeliling sudah cukup untuk membuat kita tetap berdiri.Dan dalam kondisi seperti itu perjalanan menuju Jakarta masih harus ditempuh berjam-jam.
Saya menyerah. Saya memilih bus AC ekonomi dari Cileunyi. Lebih nyaman. Lebih manusiawi. Dan biasanya lebih membosankan. Sampai suatu hari seorang perempuan muda duduk persis di belakang saya. Sebut saja wanita ini bernama Y, saat pertama mendengar suaranya yang sedang berceloteh di belakang saya, saya menilai ia seorang peramah, ciri khas orang Priangan yang tak segan membuka percakapan dengan teman seperjalanannya. Setengah jam kemudian, dari logat dan topik yang ia pilih untuk dibicarakan, saya menilai ia seorang yang berpendidikan rendah. Mungkin ia bahkan tak tamat SMP. Dan satu jam kemudian, saya menilai ia mengalami gangguan jiwa.
Ia bernyanyi-nyanyi cukup keras dengan suara yang tak bernada, menirukan lagu-lagu dangdut terbaru yang ia dengar lewat earphone. Sayangnya ia tak sadar kalau dirinya buta nada. Suara cemprengnya yang meliuk datar dan hanya kenal keras dan pelan saja terasa begitu mengganggu di telinga saya, tapi ia tak peduli dan terus bernyanyi. Nyanyiannya baru berhenti ketika pria di pinggirnya mengajaknya ngobrol. Dan mengalirlah cerita itu.
Y berasal dari Garut. Ia pernah menikah dua kali dan mempunyai dua anak dari dua pernikahan tersebut. Suami pertamanya meninggal karena kecelakaan. Pernikahan keduanya berakhir setelah suaminya pergi dengan perempuan lain. Dua anaknya tinggal di kampung. Sementara Y bekerja di Jakarta.
Kedua anak menjadi tanggungannya, sedang ia sendiri tak punya ijazah cukup untuk melamar kerja. Akhirnya ia menjadi pegawai di sebuah tempat billyard di Jakarta. Dengan gaji tujuh ratus ribu rupiah per bulan, ia harus membayar sewa kamar, biaya makan selama di Jakarta sekaligus juga mengirimkan biaya untuk anaknya di kampung. Tujuh ratus ribu adalah jumlah yang absurd untuk mencukupi semua kebutuhan, maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menjual tubuhnya untuk mencari tambahan.
“Saya tak melakukannya tiap hari, hanya beberapa kali dalam seminggu itu pun dengan orang-orang tertentu saja”, katanya, mungkin diucapkannya untuk mencari pembenaran. Sambil sedikit mengeluh andai ada orang yang mau memperistrinya.
“Saya sengaja pulang karena ingin bertemu anak-anak saya, sudah hampir satu bulan saya belum menengok mereka. Kebetulan tadi siang saya menemani bos saya minum dan karaoke-an, saya dapat tips lima ratus ribu, cukup untuk ongkos pulang pergi dan bekal untuk kedua anak saya sekedarnya”.
Kalimatnya sederhana. Diucapkan datar. Tidak ada tangisan. Tidak ada permintaan dikasihani. Ia hanya sedang menceritakan hidupnya kepada seseorang yang kebetulan duduk di sebelahnya. Sementara saya yang duduk di depan malah tidak bisa berhenti mendengarkan.
Satu jam kemudian saya sampai di tujuan. Ketika berdiri untuk mengambil barang bawaan, untuk pertama kalinya saya menoleh dan benar-benar melihat perempuan yang sejak tadi hanya saya kenal melalui suaranya. Y sudah tertidur. Tubuhnya menggelosor di kursi. Rambut yang dicat kemerahan jatuh menutupi sebagian wajahnya. Dan entah kenapa, semua penilaian yang saya buat tentang dirinya sejak awal perjalanan terasa memalukan.
Beberapa jam sebelumnya saya sudah begitu sibuk mengategorikannya. Ramah. Tidak berpendidikan. Berisik. Aneh. Mabuk. Lalu setelah mengetahui pekerjaannya, saya hampir saja menambahkan satu label lagi. Satu kata yang begitu mudah diucapkan. Begitu pendek. Tapi rupanya terlalu kecil untuk menampung seluruh kehidupan seseorang.
Sebab perempuan yang tertidur di belakang saya itu juga seorang anak dari seseorang. Pernah menjadi istri. Pernah kehilangan suami. Pernah ditinggalkan. Dan yang paling memenuhi pikirannya dalam perjalanan itu ternyata sederhana: ia sedang pulang menemui anak-anaknya.
Saya tidak tahu seluruh cerita Y. Saya hanya mendengar percakapannya beberapa jam dalam sebuah bus. Mungkin ada bagian yang tidak ia ceritakan. Mungkin ada pilihan-pilihan dalam hidupnya yang tidak akan saya pahami atau setujui. Dan saya rasa saya juga tidak perlu mengubahnya menjadi tokoh suci hanya karena merasa iba. Tapi siang itu saya belajar betapa mudahnya menilai sebuah kehidupan ketika kita hanya melihat hasil akhirnya, tanpa mengetahui jalan panjang yang membawa seseorang sampai ke sana.
Kita melihat pekerjaan seseorang. Tidak melihat kelaparan yang mendahuluinya.
Melihat pilihan buruknya. Tidak melihat pilihan-pilihan yang tersedia ketika ia harus memilih.
Melihat dosanya. Tapi tidak tahu ketakutan apa yang ia bawa pulang setiap malam.
Bukan berarti keadaan selalu membenarkan setiap pilihan. Hanya saja, mengetahui sedikit lebih banyak tentang kehidupan seseorang sering membuat kata “menghakimi” terasa jauh lebih berat.
Selama perjalanan, Y berkisah dengan nada yang datar, tak tersirat kegetiran sedikit pun. Tapi siapa yang tahu jika jiwanya hancur lebur. Tak ada wanita yang bercita-cita jadi pelacur. Meski pekerjaan ini sama tuanya dengan peradaban manusia. Ia contoh yang baik dari ”dialektika” yang disebut Walter Benjamin: seorang pelacur—seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri, seorang penjaja (Verkäuferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam satu tubuh. Ia buruh sekaligus bukan buruh.
Selama ini saya menerimanya hanya sebagai teori belaka. Siang itu ia punya wajah. Seorang perempuan berambut kemerahan yang tertidur kelelahan di kursi bus Bandung–Jakarta, membawa sebagian uang hasil kerjanya pulang untuk dua anak yang sudah hampir sebulan tidak ditemuinya. Saya turun dari bus dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan karena tiba-tiba merasa memahami Y. Saya tidak memahami hidupnya. Barangkali saya tidak akan pernah bisa.
Saya hanya mendadak sadar betapa beruntungnya saya tidak pernah berada pada keadaan yang membuat pilihan-pilihan dalam hidup terasa sesempit itu. Dan kesadaran tersebut tidak membuat saya merasa lebih baik darinya. Justru sebaliknya.
Ia membuat saya bertanya: kalau kehidupan menempatkan saya pada tubuhnya, kemiskinannya, kehilangan-kehilangannya, dua anak yang harus diberi makan, dan pilihan-pilihan yang tersedia baginya— apakah saya yakin akan menjalani hidup dengan lebih baik?.
Saya tidak tahu.
Dan mungkin karena saya tidak tahu, saya sebaiknya lebih berhati-hati ketika hendak menilai hidup orang lain. Bus melanjutkan perjalanan setelah saya turun. Y ikut pergi bersamanya. Saya tidak pernah bertemu perempuan itu lagi. Tapi bertahun-tahun kemudian, saya masih mengingatnya. Bukan sebagai perempuan yang bernyanyi terlalu keras. Bukan sebagai perempuan dari tempat biliar. Bukan pula sebagai pekerja seks. Saya hanya mengingat seorang ibu yang sedang dalam perjalanan pulang menemui anak-anaknya.
Dan anehnya, dari semua orang yang pernah menjadi kawan seperjalanan saya, justru perempuan yang tidak pernah tahu bahwa saya mendengarkan ceritanya itulah yang mengajari saya untuk lebih rendah hati. Kita sering kali hanya melihat sepenggal kecil kehidupan seseorang, lalu merasa sudah cukup tahu untuk menilai keseluruhannya. Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu jalan seperti apa yang telah ia tempuh, pilihan apa yang tersedia baginya, atau luka apa yang diam-diam dibawanya.
Mungkin karena itulah, sebelum menghakimi seseorang, ada baiknya kita mengingat satu kemungkinan sederhana: seandainya hidup menempatkan kita persis di tempatnya, belum tentu kita akan menjalaninya dengan lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar