Minggu, 16 Agustus 2026

Resensi YANG TERSISA DARI KEMATIAN



 

Judul                                         : Yang Tersisa  dari Kematian                  

Penulis                                      : Chen Xue

Penerbit                                    : PT. Elex Media Kumputindo

Jumlah Halaman                      : 373 halaman

 

Biarlah begini saja, tetaplah di pelukanku. Biarlah begini saja untuk sesaat lagi agar aku dapat merasakan demi siapa jantung ini berdetak dan demi siapa aku ingin terus bertahan hidup. Hlm. 229.


Novel detektif pertama yang saya baca adalah Kasus-Kasus Perdana Poirot karangan Agatha Christie, berwujud buku tua tanpa halaman cover yang saya temukan di dasar lemari buku milik Aki ketika masih sekolah dasar dulu.  Dan saya terpesona oleh buku itu, mengagumi kecerdasan Poirot sampai pada satu titik sempat mengidolakannya. Setelah SMA, ketika akses terhadap buku-buku sudah lebih luas, saya masih mencari buku-buku Poirot. Barulah ketika kemudian saya berkenalan dengan Sherlock Holmes, saya mulai berpindah haluan.

Meski Poirot dan Holmes adalah dua kepribadian yang sangat berbeda, tapi ada benang merah yang hampir sama diantara kisah mereka berdua. Keduanya fokus pada metode penyelesaian masalah, pada pengungkapan siapa pelaku kejahatan sebenarnya, melalui petunjuk samar yang seringkali luput dari pengamatan polisi penyidik paling ahli sekalipun. Holmes terkenal dengan kemampuannya menarik kesimpulan dari hal-hal kecil yang ia sampaikan sendiri sebagai :”kamu hanya kurang memperhatikan”, sementara Poirot terkenal dengan obsesinya pada kerapian, pola, bentuk simetris dan metoda.

Tapi Yang Tersisa dari Kematian karya Chen Xue ini berbeda. Fokus pada buku ini bukan tentang metode pemecahan kasus meskipun yang diangkat adalah juga kisah pembunuhan. Novel yang ditulis Chen Xue ini juga berkisah tentang kematian, namun kematian tidak lantas direduksi menjadi sekedar kisah pengungkapan siapa pembunuhnya, dan dengan metoda apa ia dibunuh. Buku ini bicara jauh lebih dalam, tentang lapis-lapis psikologi manusia, tentang apa yang mendorong seseorang membunuh, dan bagaimana dampak pembunuhan itu sendiri bukan dari kaca mata keluarga korban, tapi justru dari lensa pihak-pihak lain yang terkait dengan kematian korban, termasuk anak tersangka pelaku pembunuhan, kekasih korban dan juga si pembunuhnya itu sendiri.

Cerita dibuka dengan kematian Ding Xiaoquan di kebun persik milik keluarga sahabatnya, Zhou Jiajun. Polisi kemudian menetapkan Zhou Fu, ayah Jiajun sebagai pembunuhnya. Kehidupan Jiajun hancur setelah kasus pembunuhan ini meledak, ia menjadi korban pembulian di sekolah karena dianggap sebagai anak pembunuh hingga kemudian ia dibawa bibinya untuk pindah ke tempat lain. Berkali-kali Jiajun harus menjalani pengobatan ke psikiater, dan baru membaik setelah melakukan operasi plastik dan berganti nama menjadi Li Haiyan. 

Empat belas tahun berlalu, sekuat tenaga Jiajun mengubur masa lalu, dan dengan identitas yang baru sebagai Li Haiyan,ia tumbuh menjadi gadis cantik yang ramah dan pintar bahkan kemudian mengukuhkan karirnya sebagai jurnalis investigasi yang mumpuni. Namun satu dering telepon di suatu malam mengembalikan bayang-bayang gelap masa lalu. Isi teleponnya singkat saja, hanya sebuah pernyataan bahwa si penelepon tahu Li Haiyan sebenarnya adalah Zhou Jiajun. 

Tak lama dari panggilan telepon anonim ini, terjadi lagi kasus pembunuhan dengan scene yang persis sama dengan pembunuhan Ding Xiaoquan. Merasa terpanggil untuk juga membersihkan nama baik ayahnya, Li Haiyan kembali ke Taolin untuk memulai penyelidikan. Tak disangka, dalam penyelidikan itu ia juga bertemu dengan Song Dongnian, yang dulu adalah kekasih Ding Xiaoquan dan hampir sama dengan Jiajun, juga meneruskan hidup dengan penuh luka dan penyesalan. 

Novel ini mungkin lebih tepat disebut sebagai novel psikologi alih-alih novel thriller, karena melalui penceritaan ‘dia’ yang berbeda-beda, kita akan diajak untuk menyelami sudut pandang Jiajun yang kemudian menjadi Li Haiyan, kita akan berkenalan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui kepalanya serta bagaimana pertanyaan itu kemudian bertransformasi menjadi keraguan kepada sosok ayahnya sendiri. 

Pada bab yang lain, kita akan diajak untuk ikut merasakan bagaimana menjadi Song Dongnian, yang seumur hidup dihantui bayang-bayang penyesalan: “seandainya dulu tidak mengajak Xiaoquan berkencan, ia tidak akan keluar rumah dan tidak akan terbunuh”. Tahukah kamu, bahwa sesal pun ternyata bisa membunuh pelan-pelan, menggerogoti dari dalam, menghakimi diri dengan skenario berulang, seandainya dulu tidak… maka sekarang tentu akan….

Pada bagian lain, kita juga akan diajak untuk ikut memahami bagaimana pola pikir si pembunuh. Kita akan bersimpati dan mengasihani meskipun tetap saja tidak bisa memaklumi latar belakang panjang yang membuat ia bertransformasi menjadi pencabut nyawa.

Memahami manusia memang tak hanya cukup dengan melihat dari satu sudut saja. Dan menjadi menarik karena kemudian kita akan sepakat, betapa luasnya spektrum kejiwaan manusia. Atas nama cinta, seseorang mampu membunuh. Dan karena cinta juga, seorang sakit jiwa bisa kembali waras.

Usai menamatkan buku ini, saya iseng kembali ke halaman pertama, ternyata saya melewatkan bagian Kata Pengantar yang ditulis oleh Chen Guowei. Bagian Kata Pengantar ini ternyata sangat menarik karena meresensikan bukunya sendiri dengan bahasa yang lugas dan sangat tepat. Satu paragraph berikut sepertinya sudah merangkum keseluruhan isi buku dan juga ikut mewakili pandangan saya:

…Chen Xue ingin mengingatkan kita bahwa keluarga sesungguhnya adalah tempat paling awal lahirnya para monster dan iblis. Di sanalah luka dan korban terus dipelihara dalam kebencian yang dibungkus atas nama cinta, dan dengan itu, monster pun tercipta. Bahkan, cukup dengan setia pada hasrat dan luka-lukamu sendiri, bisa jadi suatu hari kau akan melihat wajah iblismu dalam pantulan cermin.

Pada akhirnya, hanya dengan berani menghadapi semuanya, barulah penebusan dosa dan pemahaman akan diperoleh…

 

 

HIDUPLAH, TETAPLAH HIDUP...


Selama diklat PKP yang saya ikuti dalam waktu satu bulan ini, ada satu widyaiswara yang menurut saya sangat menarik. Namanya Pak Budi (there’s a lot of Pak Budi, oleh karena itu izin namanya saya cantumkan di blog ini ya Pak hehehe…).

Beliau menarik karena ternyata sangat suka baca buku. Range bacaan bukunya pun sangat random dan beragam, dari mulai epos Mahabarata sampai Sapiens-nya Yuval Noah Harari. Saya juga suka baca buku, tapi kemudian setelah bertemu dengan beliau, saya mengakui bahwa saya hanya sekedar “membaca” saja, menelusuri rangkaian alfabet yang tercetak di lembaran kertas, untuk kemudian sekedar tahu dan sekedar mengagumi kedalaman pikiran si penulis serta kemampuannya menuliskan isi pikiran ke dalam tulisan (yang saya tahu itu tak mudah). Sudah, sampai situ saja. 

Tapi Pak Budi ini lain. Beliau banyak membaca dan rangkaian pengetahuannya itu ia susun menjadi pemahaman yang mendalam, menjadi makna yang kemudian ia bagikan, sesederhana kepada peserta pelatihan atau jamaah solat jumat di mesjid. Butiran-butiran makna itu, saya yakin ada yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri pendengarnya, tapi saya yakin juga, ada yang kemudian terukir di benak, menggugah dan memotivasi. Dan saya sepertinya termasuk yang juga termotivasi.

Saya masih ingat, pertemuan kedua klasikal hari itu. Beliau memang kadang suka random, dimulai dari kisah apa lalu entah kemana arah ceritanya. Saat itu kebetulan yang diceritakan adalah satu ayat Qur’an yang kurang lebih artinya: “Dan tidaklah Kami menciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah”. 

Satu ayat itu ia maknai sebagai pemahaman bahwa sebenarnya perintah ibadah pertama yang harus kita jalani itu satu: untuk tetap hidup, karena nyawa adalah juga amanah, dan karena itu harus kita jaga sebaik mungkin. Itulah alasannya, kenapa orang sakit harus berobat dan kenapa orang sehat harus menjaga kesehatannya, karena itu adalah perintah pertama: untuk tetap hidup sampai ujung waktu yang ditetapkan Sang Pencipta.

Di penghujung kisah, Pak Budi cerita kalau ada salah satu jamaahnya yang selesai ceramah mendekati beliau dan mengucapkan terima kasih. Jamaah ini sudah bertahun-tahun cuci darah dan merasa hampir kehilangan semangat, dan apa yang disampaikan Pak Budi ini memberikan motivasi.

Sejujurnya untuk saya juga. 

Hidup kadang terasa seperti sesuatu yang diberikan begitu saja, sesuatu yang take it for granted. Hingga kadang ketika ada masalah yang menghimpit jiwa, solusi pertama yang terpikir ketika semua pintu seolah tertutup adalah mengakhiri hidup begitu saja. Dan disini saya tak hendak bicara tentang mental yang pengecut atau jauhnya jarak dari Tuhan, karena pada titik tertentu, membunuh diri sendiri atau memutuskan melanjutkan hidup, keduanya adalah alternatif pilihan yang sama-sama memerlukan keberanian yang tidak sedikit. 

Dan apa yang disampaikan Pak Budi siang itu sungguh menjadi pengingat untuk saya. 

Hiduplah dulu, apapun yang terjadi, berupayalah untuk tetap hidup. 

Resensi YANG TERSISA DARI KEMATIAN

  Judul                                         : Yang Tersisa  dari Kematian                   Penulis                                     ...