Jumat, 26 Desember 2014

Sinopsis Film THE HOBBIT: THE BATTLE OF THE FIVE ARMIES




"Apakah seluruh harta ini lebih berharga dari kehormatanmu, Thorin Oakenshield?"


'Film yang bagus selain menghibur, juga akan mendidik dan memperkaya jiwa dengan caranya sendiri'. Kutipan anonim ini entah kenapa adalah kalimat pertama yang muncul di benak saya setelah menonton film ini. Membuat saya memberikan applause (lagi) untuk Peter Jackson sang sutradara, karena seperti film-film lain besutan sebelumnya, The Hobbit:The Battle of the Five Armies ini pun sangat bagus dan terjaga konsistensi kualitasnya sejak trilogy film The Hobbit ini dikeluarkan.
Tak seperti dua film pendahulunya yang dimulai dengan flashback alur cerita, film ketiga dari trilogy The Hobbit ini langsung menampilkan adegan Laketown yang tengah dihancurkan oleh Smaug. Jeritan penduduk yang panik dan mencoba menyelamatkan diri tak dipedulikan oleh Master of Laketown yang malah memilih menyelamatkan diri sendiri beserta seluruh emas dan harta benda. Justru Bard yang dipenjarakan olehnya yang berjuang untuk mengeluarkan diri dari penjara dan mencoba untuk membunuh Smaug. Setelah mengetahui anak panah Bard tak mampu bahkan untuk menembus kulit sang naga, Bain membawakannya the Black Arrow dan menjadikan tubuhnya sebagai penahan busur Bard yang kemudian mampu membunuh Smaug.
Sementara itu, Gandalf yang dipenjara di Dol Gundur diselamatkan oleh Galadriel dan Radagast. Kemunculan Necromancer membuat mereka tersadar kekuatan gelap Sauron ada di balik ini semua. Kabar kematian Smaug akan segera menyebar ke seluruh Middle Earth dan ini akan menarik bahkan kekuatan jahat untuk menguasai Erebor. Bukan hanya karena harta yang tersimpan di perutnya, tetapi juga karena posisi Erebor yang strategis dan mampu menjadi jalan untuk bangkitnya Kerajaan Kuno Angmar. Gandalf kemudian diutus untuk memperingatkan para kurcaci akan bahaya yang tengah  mengintai Erebor.
Kematian Smaug juga ternyata tak menjadi penyelesaian masalah untuk penduduk Laketown, karena penduduk Laketown kini menghadapi masalah yang sebenarnya: seluruh kota mereka terbakar hingga tak ada makanan dan tempat tinggal untuk mereka berlindung menghadapi musim dingin yang akan segera datang. Tak ada pilihan lain untuk Bard selain memandu orang-orangnya menuju Erebor dan berlindung disana. 
Kili dan tiga kurcaci yang bergabung dengan teman-temannya di Erebor segera setelah kematian sang naga mendapati fakta pahit bahwa Thorin pemimpin mereka, telah terkena penyakit naga. Penyakit yang sebelumnya juga menyerang kakeknya, Thror. Penyakit naga ini merupakan penyakit gila dan obsesi terhadap semua emas dan harta yang telah membuat Thorin mengingkari janjinya sendiri untuk memberikan bagian kepada penduduk Laketown dan juga bangsa peri yang telah membantunya dalam perjalanan merebut Erebor. Tak hanya mengingkari janji, penyakit naga ini pun telah membuat Thorin meragukan kesetiaan teman-teman kurcacinya dengan menuduh salah satu dari mereka mengambil The Arkenstone: batu paling berharga dari semua harta yang terkubur di perut Lonely Mountain (yang padahal telah ditemukan dan disimpan oleh Bilbo Baggins dengan asumsi batu itu adalah 7% bagiannya sesuai perjanjian).
Thranduil, pemimpin bangsa peri akhirnya memutuskan untuk memulai perang setelah mendapati upaya Bard untuk berunding dengan Thorin mengenai pembagian harta yang telah dijanjikannya gagal. Thorin dengan keras kepala menolak menepati janji, jangankan memberikan pusaka kaum peri ia tak mau membagi bahkan sekeping koin emas pun kepada mereka.
Untuk menghindari terjadinya perang, diam-diam Bilbo mendatangi Bard dan Thranduil. Menyarankan agar Arkenstone yang dimilikinya dijadikan jaminan pengganti untuk memaksa Thorin menepati janji. Dan betapa murkanya Thorin saat  benteng Erebor dikepung, Bard menunjukkan batu itu, dan menyarankan penggantian yang adil untuk Arkenstone, yaitu harta yang telah dijanjikan Thorin. Bilbo hampir saja dilemparnya dari atas benteng jika saja tak ada Gandalf yang datang menyelamatkan. Dan yang paling mengecewakan, Thorin tetap menolak menepati janji bahkan dengan Arkenstone sebagai gantinya, bahkan dengan kedatangan bantuan yaitu pasukan sepupu kurcacinya, Thorin memutuskan perang.
Perang yang hampir terjadi untuk memperebutkan harta ini membuat mereka lengah terhadap bahaya yang sebenarnya: pasukan besar Orc yang telah datang untuk merebut Erebor. Peperangan besar pun terjadi. Kaum peri yang hampir mundur akhirnya beraliansi dengan bangsa manusia dan kurcaci untuk melawan Orc. Sayangnya kaum Orc yang dipimpin oleh Azog  lebih unggul, akibatnya banyak korban berjatuhan dari kaum peri, manusia dan kurcaci. 

Sementara itu Thorin malah menahan teman-temannya untuk tidak keluar dari benteng dan membantu pertempuran. Lihat, bagaimana harta telah begitu membutakan jiwanya. Ia telah mengingkari janji, meragukan kesetiaan kerabatnya sendiri dan kini ia hanya duduk-duduk saja saat bangsanya menghadapi pertempuran dan dibantai. 

Tapi Thorin beruntung, ia punya teman-teman sejati, Bilbo dan para kurcaci yang memarahinya, yang menunjukkan bahwa ia salah, yang mengingatkan bagaimana ia telah berubah jauh. Ia bukan lagi Thorin raja terakhir kaum kurcaci, tapi tak lebih dari Thorin yang mengenakan mahkota dan duduk di singgasana tapi rendah dan tak punya kehormatan diri. 
Dengan semua hujatan ini, Thorin yang memang pada dasarnya baik akhirnya harus bergumul dengan batinnya sendiri. Kecintaannya pada emas dan harta bertarung dengan akal sehat dan kehormatan dirinya. Dan akhirnya kesadaran bahwa ia tak ingin menjadi seperti kakeknya mengembalikan kewarasannya. Ia kembali kepada kawan-kawannya, dan memberikan perintah untuk ikut berperang melawan Orc. Perintah yang diterima dengan segenap hati oleh kawan-kawannya.
Gerbang dihancurkan, dan ketiga belas kurcaci ini (ditambah Bilbo) keluar menuju pertempuran. Jumlah yang tak signifikan sebenarnya, tapi kemunculan Thorin dan kawan-kawannya telah menyuntikkan semangat yang membalikkan arah pertempuran. Sementara seluruh pasukan manusia, peri dan kurcaci mencoba menahan para Orc, Thorin membawa Kili, Fili, dan Dwalin untuk membunuh Azog pemimpin kaum Orc yang memberikan perintah dari Ravenhill.
Bilbo menyusul ke Ravenhill, untuk memperingatkan Thorin bahwa itu adalah jebakan, karena Azog telah memanggil Wargs dari Gundabad untuk membantu Orc. Kabar itu diperolehnya dari Legolas dan Tauriel yang menyusup sampai Gundabad. Tauriel yang mencintai Kili akhirnya menyusul ke Ravenhill, dan Legolas yang di sisi lain mati-matian mencintai Tauriel mau tak mau mengikuti Tauriel ke Ravenhill.
Dan di Ravenhill, Kili terbunuh meskipun Tauriel membantunya habis-habisan. Tauriel sendiri tak akan selamat jika tak ditolong Legolas. Di saat yang sama, Thorin tengah dalam pertarungan yang dahsyat dengan Azog. Mereka memiliki riwayat dendam yang kelam. Untuk Thorin,  Azog telah membunuh ayahnya, sementara untuk Azog, Thorin adalah orang yang telah membuatnya kehilangan sebelah lengan kirinya.
Setelah pertarungan yang sengit, Azog berhasil dibunuh meski tak lama kemudian Thorin pun menemui ajal. Di saat-saat terakhir hidupnya, dengan Bilbo di sampingnya, Thorin mengucapkan permohonan maaf . Untuk baru menyadari bahwa semua tindakan Bilbo -termasuk tindakannya tentang Arkenstone- adalah tindakan yang hanya akan diambil oleh teman sejati. 
Dan akhirnya Thorin wafat, sebagai seorang raja sejati yang telah menunaikan janjinya untuk melindungi rakyatnya, sebagai seorang pahlawan, yang akan menjadi legenda dengan tindakan heroiknya membunuh Azog.
Pertarungan pun usai. Bilbo dan kedua belas kurcaci bersimpuh di sebelah jasad Thorin, memberikan penghormatan terakhir. 
Di bagian Ravenhill yang lain, Tauriel menangis dengan jasad Kili di pangkuannya. Dan entah kenapa adegan ini menjadi bagian yang sangat berkesan untuk saya.

"Jika ini memang cinta, aku tak menginginkannya. Ambilah…", kata Tauriel kepada Thranduil.
Dalam keheningan, dengan air mata yang tak berhenti mengalir di pipinya, ia berkata lagi: "Kenapa rasanya begitu menyakitkan?".
"Karena ini nyata", jawab Thranduil.
Dan Legolas yang menyaksikan ini semua, dalam diam yang terasa pahit akhirnya menyadari bahwa setelah kematian Kili pun ia tak mungkin merebut hati Tauriel. Yah, wanita… mereka selalu seperti ini. Mencari yang tak mungkin dimiliki, sementara yang jelas-jelas lebih baik dan di depan mata seolah tak nampak bagi mereka. Menerima kekalahannya dan menghargai cinta Tauriel, Legolas memutuskan untuk tak kembali ke negeri peri. Thranduil menyarankannya untuk pergi ke Dunedain dan mencari Strider. Ini adalah salah satu bagian cerita yang akan menjadi penghubung dengan kisah The Lord of The Rings.
Film berakhir dengan Bilbo yang kembali ke Bag Ends. Ada satu bagian yang berkesan untuk saya. Saat Gandalf menyampaikan salam perpisahannya pada Bilbo yang diantarnya sampai ke perbatasan, ia menyinggung sedikit tentang cincin yang dipegang Bilbo. Bilbo yang tak mau mengaku masih menyimpan cincin itu berbohong dengan mengatakan cincin itu jatuh dan hilang dalam pertempuran. Dan Gandalf hanya berkata: "Bilbo, seluruh perjalanan ini mungkin telah mengubahmu. Kamu bukan lagi orang yang sama dengan kamu yang sebelum memulai perjalanan ini. Tapi kamu tetaplah hanya seorang manusia kecil dalam dunia yang begitu luas". 
Dengan kecenderungan hobbit yang lugu, jujur dan tak serakah terhadap dunia, cincin itu memang kemudian terbukti tak berpengaruh jelek terhadap Bilbo selain menimbulkan keinginan untuk terus memilikinya. Hingga 60 tahun setelah petualangan ini berakhir, Bilbo yang berulang tahun ke-111 ditemui Gandalf dalam kondisi sehat dan awet muda.
Menurut saya ini film yang sangat bagus dan mampu mengadaptasi novelnya dengan begitu baik. Improvisasi yang ditambahkan Jackson dengan memunculkan tokoh Legolas dan Tauriel serta menambahkan kisah cinta di dalamnya semakin mempermanis film ini, menjadi jeda untuk ketegangan setelah perang dan intrik serta menjadi penghubung pada kisah selanjutnya tentang cincin yang dipegang Bilbo. Juga tokoh Alfrid, pecundang licik yang diperankan dengan begitu baik oleh Ryan Gage  menjadi kesatuan yang menunjang cerita.
Pergulatan batin Thorin pun ditampilkan dengan begitu apik. Bagaimana harta hampir membutakan jiwanya dan bagaimana kemudian ia sadar dan menemukan kembali hakikat dirinya dengan bantuan teman-temannya.
Ya, teman sejati, bukan hanya mereka yang akan selalu meng-iyakan apa katamu, sebaliknya teman sejati adalah ia yang meskipun akan terus berada disisimu, tapi ia yang akan menentangmu paling keras ketika kamu salah. Tanpa Bilbo dan kurcaci-kurcaci sahabatnya, mungkin Thorin tak akan sembuh dari penyakit gilanya. Meski di akhir cerita ia wafat, bukankah ia wafat dengan terhormat, dan bukankah itu adalah sesuatu yang tak bisa dinilai dengan harta meskipun itu berupa gunungan emas. Seperti apa yang dikatakannya sendiri di akhir hidupnya pada Bilbo: "If more of us, valued home above gold, it would be a merrier world".


*Note:

Judul The Hobbit: The Battle of The Five Armies ini diambil dari lima pasukan yang bertempur di Erebor yaitu bangsa manusia, kurcaci, peri, melawan orc dan wargs.

Oiya, mungkin akan sedikit sulit mengikuti jalan cerita film ini jika tidak menonton film pertama dan keduanya, jadi akan lebih asyik jika baca bukunya saja =D


Minggu, 21 Desember 2014

Tips Mengatasi Kloset Duduk yang Mampet

Aaaaaaaaaaaaaargh……….. sungguh bencana.

Kloset di rumah mampet.

Dan Bumi sebagai pengguna terakhir, mau tak mau langsung diinterogasi: "Nggak tau Umi, Bumi pakai seperti biasa kok, tapi pas Bumi udah pencet tombol siramannya, klosetnya malah mampet…", jawabnya takut-takut.

"Mainan Bumi dari saku jatuh mungkin, kelereng, stik atau apa?", tanyaku tak puas.

"Bumi ngga bawa-bawa mainan di saku, Umi…", jawabnya lagi.

Oke…oke…, mari kita atasi ya Nak. Pertama-tama, pakai masker. langkah kedua cari sesuatu, benda apapun yang bisa digunakan untuk mendorong  apapun itu yang mungkin nyangkut di saluran kloset. Akhirnya pilihan jatuh pada besi bekas potongan tulangan beton yang tidak terpakai. Sayangnya anatomi kloset duduk yang tidak saya pahami membuat besi tulangan tadi tak berguna meski sudah saya coba dorong berkali-kali.

Langkah terakhir: tanya Mbah Google. Dari hasil googling, saya baru tahu kalau ternyata ada beberapa alternatif untuk mengatasi kloset yang mampet.

Alternatif pertama: gunakan alat penyedot WC  bernama plunger.

Alternatif kedua: siram kloset dengan 1kg NaCl (garam dapur) yang dilarutkan dengan air panas.

Alternatif ketiga: dengan soda kue dan cuka.

Alternatif keempat: gunakan soda api.

Alternatif kelima: panggil tukang sedot WC.

Dari kelima alternatif ini, hanya alternatif ketiga yang paling memungkinkan untuk saya. Alasannya sederhana, saya tak punya plunger, ataupun satu kilogram garam yang bisa saya buang begitu saja ke kloset. Saya juga tak punya soda api di rumah dan menurut beberapa sumber, penggunaan soda api ini sebaiknya dihindari karena selain bisa merusak pipa saluran, juga bisa mematikan bakteri pengurai di septic tank. Untuk memanggil  tukang sedot WC pun rasanya saya terlalu malas. Sedangkan soa kue dan cuka adalah pelengkap masak standar yang kebetulan ada di dapur saya.

Dan mulailah saya bekerja dengan kedua bahan tersebut. Pertama-tama saya menuangkan soda kue ke dalam kloset (karena saya tak punya timbangan kue, akhirnya saya pakai ilmu kira-kira saja), kemudian saya tuangkan cuka (di petunjuknya disebutkan akan timbul gelembung-gelembung di kloset setelah tahap ini dilakukan,  tapi entah kenapa saya tak menemukan gelembung sama sekali),  dan terakhir siram dengan air panas setelah beberapa menit. Setelah dibiarkan selama kurang lebih 6 jam, kloset akan berfungsi lagi seperti semula (katanya).

Tapi.....

Ternyata saya belum beruntung, setelah saya biarkan bahkan sampai semalaman, kloset saya masih mampet, air pembuangannya tetap tak mau mengalir meski sudah saya coba bantu dengan pendorong berkali-kali. Putus asa dan pusing sendiri akhirnya kloset saya tutup dan saya tempeli pengumuman: "TIDAK DAPAT DIGUNAKAN".

Dan begitulah, kloset tersebut tetap tak berfungsi. Pikiran bahwa kami masih bisa menggunakan kamar mandi yang lain membuat urusan kloset ini terabaikan meskipun tetap saja ternyata mengganggu pikiran (semakin jadi pikiran dengan Abinya anak-anak yang terus-terusan nanya: "Mi, klosetnya udah bener?", huhuhu...)

Setelah dua hari, saya sedikit marah saat mendapati Bumi yang tengah iseng memencet-mencet tombol penyiramnya.

"Bumi, kan udah tau klosetnya mampet!", sembur saya.

"Ngga kok Umi, nih udah jalan lagi", jawabnya santai sambil memencet tombol penyiram dan terdengar suara air menyedot tanda klosetnya sudah tak mampet lagi. Seketika saya merasa lega dan senang sendiri.

"Sama Bumi diapain?", tanya saya penasaran.

"Nggak diapa-apain, Mi, cuman dipencet-pencet aja penyiramnya".

"Oh iya?", tanya saya tak percaya.

Tapi kemudian saya ngeh juga, mungkin soda kue dan cuka yang saya tuang sebelumnya akhirnya bereaksi dan menghasilkan gas yang mampu mendorong si penyebab mampet, tapi reaksinya sangat lambat sehingga perlu waktu yang cukup lama. 

Tapi bagaimana pun juga Alhamdulillah, berkurang satu pekerjaan rumah yang tak saya harapkan hari ini. =D



Sabtu, 20 Desember 2014

Tips Mengatasi Sakit Mata pada Bayi...

Melakukan perjalanan dengan membawa serta seorang bayi memang selalu menakjubkan. Entah kenapa, mungkin karena semua orang sepakat bahwa bayi adalah makhluk kecil yang menggemaskan hingga dengan satu kali pandang saja orang sudah merasa sayang. Tiba-tiba saja banyak orang yang menyapa dan menunjukkan keramahan pada makhluk mungil itu, sekedar bertanya pada ibunya: "Laki-laki atau perempuan?" dan pertanyaan standar: "Sudah berapa bulan usianya?". Dan obrolan pun akan berlanjut ke hal-hal kecil lainnya.

Pun kali itu, ketika pada suatu kesempatan saya terpaksa melakukan perjalanan ke luar kota dengan travel sambil membawa si bungsu yang baru berusia 15 hari. Wanita yang duduk di samping saya sudah mencuri-curi pandang pada si kecil bahkan sejak ia mulai meletakkan tasnya di samping saya. Sayangnya saya yang memang pada dasarnya malas mengobrol hanya tersenyum sopan dan memilih untuk berusaha tidur sepanjang perjalanan. Di pertengahan perjalanan, ia yang tahu saya ternyata tak bisa tidur, mulai menyapa si kecil. Dan mengalirlah obrolan itu, cerita hidup yang tak saya tanya tapi mengalir begitu saja. Tentang kehidupan rumah tangga yang sebenarnya cukup pribadi tapi dibaginya begitu saja dengan saya. Saya menanggapinya sekedar untuk sopan santun. Baru pada bagian beliau menceritakan pengalaman mengurus anak-anaknya saya mulai memasang perhatian lebih.

"Saya ini dulu orang ngga punya Neng, empat anak saya waktu masih kecil belum pernah ke dokter setiap kali sakit".

Dan saya langsung takjub mendengarnya, bagaimana bisa tak perlu ke dokter, padahal saya tahu persis,  usia 0-5 tahun kondisi kesehatan seorang anak berada pada masa rentannya. 

"Saya obatin sendiri kalau mereka sakit. Kalau demam dan panas, saya balur badannya dengan minyak kelapa yang sudah dicampur irisan bawang merah. Kalau badannya gatal-gatal saya balur bagian yang gatal dengan parut kunyit yang sudah dipanasin dengan sedikit minyak kelapa".

Wah, canggih juga ini ibu, pikir saya dalam hati.

"Kalau sakit mata saya tetesin ASI ke matanya", dan saya langsung tercengang mendengarnya, 

"Oh iya Bu?, bukannya katanya ASI itu tajem ya, emang ngga apa-apa di kematain?". 

"Coba aja sendiri", jawab beliau dengan yakinnya.

Dan begitulah berbekal sepotong pembicaraan dengan beliau, pada suatu pagi ketika saya mendapati si kecil bangun dengan mata yang merah dan kotoran mata yang saking banyaknya membuat matanya susah terbuka, saya mencoba mengobatinya sendiri. Saya menetesi kedua matanya dengan ASI. Tapi sampai siang kondisi mata adik belum juga membaik, masih merah dengan kotoran mata yang terus menerus ada lagi-ada lagi. Saya coba tetesi ASI sekali lagi. Dan ajaib, saat sore hari adik terbangun dari tidur siangnya matanya sudah sembuh.

Alhamdulillah

Senang sekali rasanya, mengetahui obat yang sederhana tapi ternyata sangat manjur ini. Sayangnya, dulu saya tak sempat minta contact person si Ibu untuk mengucapkan terima kasih (dan minta tips-tips canggih lainnya) =D.

Jumat, 19 Desember 2014

Sinopsis Novel SUPERNOVA: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh



"Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara
Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara

Kau hadir dengan ketiadaaan
Sederhana dalam ketidakmengertian
gerakmu tiada pasti
Namun aku terus disini
Mencintaimu
Entah kenapa"


- Dee -



Tiga belas tahun yang lalu, novel ini sudah membuat saya jatuh cinta bahkan sejak saya membuka halaman-halaman pertamanya dan menemukan puisi ini. 

Bahkan Kata Pengantar, bagian yang selalu saya lewati setiap membaca buku apapun tapi dalam novel ini menjadi bagian yang juga ikut saya baca sampai berulang kali. Bukan apa-apa, tapi pengantar penerbitnya sendiri yang memakan sampai empat halaman buku rasanya kocak dan unik. Membuat saya membayangkan sekumpulan anak muda energik yang berada di balik penerbitan novel pertama Dewi Lestari ini kelebihan energi hingga sempat-sempatnya mengeluarkan teka teki di bagian akhir kata pengantar (*kenapa domba bau?, jawabannya adalah karena domba keleknya empat hahahaha….).

Novel ini berkisah tentang Dhimas dan Ruben,  pasangan gay yang bertemu saat kuliah di Amerika. Pertemuan mereka dalam sebuah pesta (*narkoba?), berujung pada ikrar untuk menjadi pasangan dan juga ikrar bahwa sepuluh tahun kemudian mereka akan membuat sebuah karya yang merupakan gabungan antara science ilmiah dan sastra. Dan sepuluh tahun kemudian, penulisan karya itu dimulai, dalam bentuk sebuah novel dengan Ferre (CEO sebuah korporasi multinasional), Rana (jurnalis sebuah majalah bergengsi), dan Diva (model sekaligus pelacur papan atas), sebagai tokoh utamanya.

Konflik dimulai saat Rana mewawancarai Ferre untuk artikel yang akan dimuat di majalah. Tak disangka jika wawancara singkat itu menjadi awal terjalinnya kisah cinta terlarang di antara mereka berdua. Terlarang karena ketika itu, Rana sudah menikah dengan Arwin yang sama seperti Rana, juga berasal dari keluarga aristokrat bangsawan lama.

Tak ada justifikasi salah atau benar dalam kisah perselingkuhan ini. Arwin bukanlah pria jahat yang pantas untuk dikhianati, sebaliknya justru, Arwin digambarkan sebagai pria yang baik, soleh, bertanggung jawab, dengan latar belakang keluarga yang baik dan juga memiliki pekerjaan yang bisa dibanggakan. Dan seluruh kelebihannya itulah yang menjadi satu-satunya kesalahan Arwin untuk Rana. Karena dengan menjadi sosok yang sempurna, tak ada alasan untuk Rana berpaling dari Arwin. Pengkhianatan yang dilakukan Rana semata-mata karena Rana dan Ferre saling jatuh cinta, titik. Dan bisakah orang memilih pada siapa ia jatuh cinta?. 

Sayangnya, tak seperti kisah perselingkuhan lain yang mungkin hanya karena nafsu sesaat, cinta lokasi atau pelarian dari rumah tangga yang bermasalah, cintanya Rana dan Arwin adalah cinta dalam artian sebenarnya cinta. Rana melihat sosok Ferre sebagai seseorang yang mampu membangkitkan semangat dalam hidupnya yang membosankan. Pun demikian Ferre, ia melihat Rana sebagai sosok Puteri, yang selalu menjadi perwujudan obsesi dari dongeng masa kecilnya.

Ksatria jatuh cinta pada Puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari.
Sang Puteri naik ke langit.
Ksatria kebingungan.
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang,
tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu.
Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Ksatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara.
Ksatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi.
Ksatria sedih, tapi tak putus asa.
Ksatria memohon pada angin.
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi,
lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun Sang Puteri masih jauh di awang-awang,
dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa.
Sampai satu malam ada Bintang Jatuh yang berhenti mendengar tangis dukanya.
Ia menawari Ksatria untuk  melesat secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya,
maka ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,
menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.
Ksatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada Bintang Jatuh menjadi sebuah nyawa.
Dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada serpih detik yang mematikan.
Bintang Jatuh menggenggam tangannya.
“Inilah perjalanan sebuah Cinta Sejati,” ia berbisik,
“tutuplah matamu, Ksatria. Katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan keberadaannya.”
Melesatlah mereka berdua.
Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati ksatria mungil,
tapi hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan ia merasakannya… “Berhenti!”
Bintang Jatuh melongok ke bawah,
dan ia pun melihat sesosok puteri cantik yang kesepian.
Bersinar bagaikan Orion di tengah kelamnya galaksi.
Ia pun jatuh hati.
Dilepaskannya genggaman itu.
Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.
Ksatria melesat menuju kehancuran.
Sementara Sang Bintang mendarat turun untuk dapatkan Sang Puteri.
Ksatria yang malang.
Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan Aurora.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.

Sayang, Puteri yang selalu didambakannya ini sekarang adalah isteri orang lain. Tapi status kekasihnya ini membuat Ferre berpikir lebih dalam tentang cinta dan hubungan mereka. Tentang arti komitmen dalam pernikahan, tentang cinta yang "katanya" tak harus memiliki, tentang konsep cinta yang "katanya" seharusnya membebaskan. Dan untuk Ferre dan Rana, semua itu hanya konsep yang utopis karena mereka sendiri tak bisa mengingkari, cinta yang mereka punya menuntut sebuah kebersamaan, yang sangatlah tak mungkin dengan Arwin yang sudah lebih dahulu hadir dalam hidup Rana.

Dalam kebimbangannya, dari seorang teman Rana mendapat saran untuk mengkonsultasikan masalahnya dengan Supernova, Cyber Avatar yang bersedia menjawab semua permasalahan dan pertanyaan yang diajukan orang-orang. Tak ada yang tahu bahwa sosok Supernova di dunia maya ini sebenarnya adalah Diva di dunia nyata, tetangga depan rumah Ferre, yang adalah seorang model sekaligus pelacur papan atas, tetapi dengan kemampuan akademis melampaui bahkan para pakar di bidangnya. 

Tanya jawab yang dilakukannya dengan Supernova, membawa Rana pada pertanyaan yang sebenarnya: pertanyaan untuk mengenal dirinya sendiri. Tapi ia masih juga belum menemukan jawaban, apa yang harus ia lakukan, kabur dengan Ferre dan meninggalkan Arwin, atau terus bertahan dengan Arwin sementara dalam hati ia menyadari cintanya pada Ferre sudah kadung berlarat-larat.

Tak kuat menahan beban pikiran, akhirnya Rana masuk rumah sakit. Lemah jantung yang dideritanya sejak kecil menunjukkan keberadaannya lagi di tubuh ringkihnya. Dan momen saat kemudian Ferre menjenguk Rana di rumah sakit ternyata menjadi titik balik semuanya. Tanpa sengaja Arwin yang sudah tahu perselingkuhan istrinya menangkap pandangan mata Rana dan Ferre. Dan tiba-tiba ia menyadari, bahwa ia melihat cinta yang begitu besar di mata keduanya. Alih-alih marah dan cemburu, Arwin malah merasa ia telah menjadi penghalang untuk kebahagiaan keduanya. Dan akhirnya Arwin memutuskan setelah Rana keluar dari rumah sakit, ia akan menyerahkan Rana pada Ferre. Momen yang sebenarnya pas, karena disaat yang sama Rana pun sudah memutuskan bahwa sepulang dari rumah sakit ia akan meninggalkan Arwin demi Ferre.

Ferre sudah begitu bahagia, senang karena akhirnya ia akan bersatu dengan Puteri-nya, tak pernah ia sangka bahwa yang terjadi justru kebalikannya. Malam itu, Arwin menghampiri Rana. Malam itu, Arwin menyatakan bahwa ia sudah tahu semuanya, tentang Rana dan Ferre. Tak seperti yang selalu dibayangkan Rana, Arwin dengan mata merah dan kalap, dengan senjata di tangan, siap untuk mengejar dan membunuh Ferre di kediamannya. Sebaliknya, Arwin malah tampak begitu pasrah dan tenang, memeluk Rana dari belakang, sambil menyatakan bahwa ia sedemikian mencintai Rana, saking cintanya sampai ia tak ingin lagi menyiksa Rana dengan memaksakan kebersamaan yang semu. 

"Istriku atau bukan, kamu tetaplah Rana yang kupuja. Dan perasaan ini cukup besar untukku berjalan sendiri tanpa perlu kamu ada". 

Dan terkesiaplah Rana, menyadari bahwa cinta yang membebaskan itu ternyata Arwin yang punya, bukan miliknya bukan pula kekasihnya. Seketika itu pula Rana membalik badannya memeluk Arwin dengan pelukan orang yang kembali selepas akan beranjak pergi. 

Dan Ferre, akhirnya jatuh sedalam-dalamnya setelah membaca surat perpisahan dari Rana, patah hati sampai memutuskan bunuh diri dengan bermain rolet Rusia menggunakan satu peluru di pistolnya. Ia tinggal menarik pelatuk sebelum semuanya tamat. Dan dimulailah kilasan-kilasan hidupnya. Tentang ayahnya yang kabur dengan wanita lain hingga ibunya bunuh diri, tentang kakek dan nenek yang selalu ingin ia berdoa, dan satu ledakan, yang membuat ia tersadar bahwa hidupnya akan terus berlanjut, dan perasaannya untuk Rana sudah mengkristal dan akan selalu ia simpan.

Jujur, tak mudah untuk saya membuat sinopsis dari novel ini. Karena memang novel ini adalah novel yang sangat kaya, konflik yang terjalin, teori-teori sains yang ikut menjadi bagian dari cerita, penokohan dan konsep cerita di dalam cerita, membuat novel ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Bukan sekedar cerita picisan tentang perselingkuhan, tapi ada pencarian makna oleh tokoh-tokoh didalamnya. Tentang hakikat manusia, tentang hidup, tentang persahabatan, dan tentang cinta yang sering salah diinterpretasikan. Didukung oleh pilihan diksi yang kuat dan puisi-puisi yang indah, maka pantaslah jika novel ini memenangkan banyak penghargaan dan menjadi best seller.

Di akhir cerita, Dhimas dan Ruben yang menyusun cerita tentang Ferre, Rana, dan Diva akhirnya menyadari bahwa mereka berdua sama dengan tokoh cerita yang mereka susun, ada dalam molekul pikiran seorang pengarang yang lain. Mengingatkan saya akan ending dari buku Dunia Sophie yang juga fenomenal. Terkait dengan dugaan ini, penerbitnya sempat memberikan konfirmasi bahwa Dee belum pernah membaca buku Dunia Sophie. Tak masalah sebenarnya, karena bagaimanapun juga, novel ini disepakati banyak orang sebagai novel yang sangat keren. Bahkan untuk saya pribadi, yang menjadi penggemar karya-karya Dee selanjutnya gara-gara novel ini, tak bosan rasanya membaca novel ini hingga berulang-ulang. ^^


Kamis, 11 Desember 2014

Resensi Film SUPERNOVA; Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh; Great Novel, Poor Movie



Jujur saja, saya bukan termasuk orang yang hobi nonton. Karena itulah di kolom isian hobby pada form standar biodata, saya selalu mengisi "membaca" alih-alih "menonton".  Maka jangan harap saya akan rela berdesak-desakkan untuk mengantri tiket sebuah film yang baru tayang perdana, seheboh apapun pemberitaan tentang film tersebut. Tapi film SUPERNOVA: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, adalah film yang telah membuat saya rela mencuri waktu beberapa jam dari keseharian saya khusus untuk menonton bahkan pada hari tayang perdananya tanggal 11 Desember 2014 kemarin. Semata karena novelnya adalah salah satu buku favorit yang sangat saya suka dan mungkin telah saya baca ulang entah sudah berapa puluh kali hingga saat ini.

Tiket yang habis dan antrian yang cukup panjang mungkin menunjukkan animo mayarakat yang cukup baik, yang saya yakin juga serupa dengan saya, sudah jatuh cinta duluan pada bukunya hingga penasaran akan seperti apa jadinya jika difilmkan. Tapi sayang, novel dan film adalah dua hal yang sangat berbeda. Tak seperti novel yang memungkinkan imajinasi untuk berkembang seluas mungkin, film adalah karya seni yang berbatas durasi. Tak banyak film yang berhasil mengadaptasi versi bukunya dengan baik dan film SUPERNOVA: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh ini jelas bukan salah satu diantaranya.

Harapan saya yang sudah melambung tinggi saat opening film yang dimulai dengan penjelasan tentang order dan chaos serta turbulensi dihempas begitu saja saat tiba pada adegan Dhimas bertemu Ruben. Dialognya terdengar tak wajar, seperti pembacaan deklamasi saat di sekolah dasar dahulu. Saya masih mencoba untuk sabar, berasumsi keganjilan dialog ini hanya dilakukan oleh pemeran Dimas dan Ruben, tapi betapa kecewanya saya karena gaya deklamasi ini juga diperlihatkan oleh semua tokoh di film ini dari awal hingga akhir. Sayang sekali karena dialog-dialognya meskipun dicomot persis dari bukunya, tapi penuturannya tak mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari hingga membuat film ini kelihatan sangat absurd dan dibuat-buat.

Selain dialog yang monoton dan kualitas akting para aktornya yang parah, penokohannya pun agak kurang pas. Saya pikir tokoh Re akan kelihatan sedikit lebih maskulin, dan pilihan Herjunot Ali sepertinya agak terlalu klemek-klemek, mencerminkan pria urban memang, tapi tak menunjukkan sisi Ferre yang mencapai posisi CEO  dengan kerja keras hasil sendiri.

Sementara itu, pilihan untuk tokoh Ale pun tak membantu. Tokoh Ale di bukunya digambarkan sebagai sahabat terbaik Ferre yang sama-sama lulusan Amerika tapi berkecimpung di dunia otomotif, sosok Ale inilah yang mencerca keputusan Re untuk mencintai Rana, memaki sekaligus menasihati Re habis-habisan, tapi di sisi lain Ale adalah sosok yang tegas berkata akan tetap menjadi sahabat dan mendukung Re sebodoh apapun keputusan Re. Sementara di film, sosok Ale ini hanya menjadi penggembira yang tidak berkontribusi apapun untuk Re, selain menjadi pembanding yang mempertegas bahwa Re itu keren dan Ale itu konyol.

Dari semua tokoh di film Supernova ini, mungkin hanya Diva yang menurut saya paling mending. Sikap sinisnya cocok meski di akhir film lagi-lagi sayang sekali karena ia harus mengucap dialog bak deklamasi lagi. 

Soundtrack film yang dibawakan oleh Nidji mungkin adalah hal terbaik dalam film ini, meskipun karena karakternya yang terlalu kuat film dan soundtrack jadinya seperti berjalan sendiri-sendiri. Pengaruh sound effect juga saya rasa tak banyak membantu. Ada banyak adegan yang di buku bisa mengharu biru, ternyata malah menjadi adegan yang aneh dan datar di film. Contohnya adalah adegan ketika Arwin merayu Rana di kamar tidur. Getirnya hati Rana saat harus melayani Arwin sedangkan dalam hati ia memanggil-manggil Ferre gagal untuk dijelaskan dalam film dan malah menjadi adegan aneh yang entah harus disikapi bagaimana oleh penonton, lucu bukan, sedih juga ngga.

Juga pada malam saat Arwin mengatakan pada Rana bahwa ia akan merelakan Rana untuk Ferre. Tak ada pergulatan batin Arwin yang ditonjolkan, tentang bagaimana seorang suami yang dikhianati tapi alih-alih murka malah merelakan istrinya untuk pergi pada pria lain. Merelakan diri sendiri untuk menahan sakit semata demi kebahagiaan orang yang dicintai. Unconditional love, dengan dialog yang sangat indah di buku, terasa kering dan tidak real dalam filmnya. Arwin mengucapkan kalimat yang menyatakan betapa ia mencintai Rana hingga merelakan kepergian Rana  dengan cara yang tak jauh beda dari ketika ia mengabari Rana bahwa ia tak bisa pulang saat pesta ulang tahun Rana. Dan pelukan Rana pada Arwin usai Arwin berkata begitu pun tak mampu mencerminkan orang yang memutuskan untuk kembali saat hampir beranjak pergi.

Selain adegan-adegan yang aneh, juga ada banyak hal yang rasanya tak masuk akal dalam film ini. Tempat dalam film ini yang katanya pseudo Jakarta ternyata punya pantai sangat indah yang hampir menyerupai Bali. Juga saat Diva berkemah di gunung, bisa-bisanya sambil membuka internet yang membuat saya bertanya-tanya sendiri, memangnya ada sinyal ya?,

Dua jam saya menonton film ini, dua jam pula saya memaki-maki sendiri. Antara bosan setengah mati ingin segera meninggalkan ruangan bioskop dan gemas karena buku sebagus ini menjadi sangat dangkal ketika diangkat ke sebuah film. Menjadi tak lebih dari sekedar cerita selingkuh biasa  dan tak jelas pesan apa yang ingin disampaikan oleh film ini.

Saat dua jam habis dan film telah selesai diputar, saya menarik nafas lega karena bisa segera meninggalkan ruangan bioskop. Tapi jujur sempat terlintas pertanyaan dalam hati saya, apakah Dee sempat menonton filmnya sebelum film ini di-launching?, Jika ya, tidak kecewakah Dee?, karena saya sendiri yang hanya seorang penggemar bukunya pun amat sangat kecewa.

To: Indah_widya_a, trims udah bayarin nonton film ini karena sayang banget kalo harus bayar sendiri demi film seperti ini hahaha…., next time i'll treat you mate, ayo kamu mau nonton apa? ^^


Selasa, 02 Desember 2014

Kakek Tua Penjual Amplop

Hari ini memang istimewa, Alhamdulillah…

Macet parah dari rumah hingga perjalanan menuju kampus memerlukan waktu 30 menit lebih lama dari biasanya. Dan karena printer di rumah sedang cuti-sebab-habis-tinta, tiba di kampus saya masih harus berlari-lari ke UKSI untuk ngeprint tugas. Dalam hati sudah mereka-reka, apa jadinya jika setelah semua kerempongan ini saya tak boleh masuk kelas.

Tapi Alhamdulillah, siapa sangka jika dosen mata kuliah pagi ini baru tiba dari San Fransisco kemarin malam. Beliau mengaku masih jet lag dan jika biasanya sangat tepat waktu kali ini beliau memberi kelonggaran untuk menunggu semua peserta kuliah hadir semua sebelum mulai mengajar. Alhamdulillah…

Sembari menunggu, saya menemui Pak Undang, pesan nasi pepesnya yang sudah terkenal ke seluruh Sipil untuk dimakan siang nanti (berasaaa jadi mahasiswa =D). Usai kuliah 3 jam, dan berdadah-dadah dengan teman sekelas, saya langsung cabut ke Salman, ada buku yang harus dikembalikan ke Salman Reading Corner, sudah didenda pula.

Tapi saat tiba di jalan menuju kompleks Salman, saya tertegun.

Tak mungkin salah lagi, tas lusuh itu, tumpukan amplop dan kresek hitam itu…


Sesaat saya merasa terserang déjà vu.

Pak Darta, beliau adalah kakek penjual amplop yang sering saya temui berjualan di Salman semasa kuliah S1 dulu. Setiap melewati beliau saya tak bisa untuk tidak merasa iba. Bagaimana tidak, di usia yang sudah sepuh begitu, beliau masih memaksakan diri  untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan berdagang amplop, komoditas yang saya yakin kurang begitu laku di zaman korespondensi sudah serba elektronik begini. Bahkan untuk saya sendiri yang gemar bersahabat pena ketika berada di sekolah menengah dahulu, amplop kini hanya  dicari jika akan pergi ke kondangan atau takziyah saja. Ditambah lagi, saya ingat betul dulu harga satu bungkus amplop Pak Darta yang berisi 10 lembar adalah seribu rupiah. Pak Darta hanya mengambil keuntungan dua ratus rupiah saja dari setiap 10 lembar amplop yang terjual. Maka bagaimanakah beliau bisa memenuhi keperluan hidupnya dengan mengandalkan hasil penjualan amplop, jika secara matematis kecil sekali laba yang  bisa beliau dapat .

Dan serasa mengulang masa S1 dulu, saat melihat beliau berjualan kaki saya secara  otomatis akan melangkah ke arah beliau. Begitu pun kali ini, saya memilih beberapa bungkus amplop yang sebenarnya tak terlalu saya butuhkan.

“Janten sabaraha Pak?”, tanya saya, dan persis seperti dulu, ada jeda beberapa lama sebelum saya harus mengulang pertanyaan yang sama karena pendengaran Pak Darta yang sudah berkurang.

“Anu tilu 1.500an Neng, janten 4.500, anu alit ieu mah sarebu, janten sadayana 5.500, tapi sawios janten 5.000 wae”, masih suara lirih yang sama, dengan tangan gemetar yang sama,  mencoba memasukkan amplop yang saya beli kedalam sebuah kantong kresek hitam.

Lima tahun sudah saya meninggalkan kampus ini, lima tahun sudah juga saya tak berjumpa dengan Pak  Darta, tapi hanya 500 rupiah saja kenaikan dari harga amplopnya, Tak sebanding dengan kenaikan harga-harga bahan pokok yang selalu mengejar laju inflasi dari tahun ke tahun. Dan masih sempat-sempatnya beliau memberi diskon, 500 rupiah yang mungkin tak seberapa untuk kita tapi untuk beliau itu adalah laba entah dari berapa lembar amplop yang harus bisa beliau jual untuk bertahan hidup.

Entah bagaimana, tiba-tiba air mata saya menggenang begitu saja. Dan akhirnya saya memutuskan tidak menolak diskon 500 rupiah yang beliau beri untuk saya. Saya ingin memberi ruang untuk kebaikan Pak Darta, dengan harapan semoga diskon 500 rupiah itu menjadi berkah untuk saya, menjadi pengingat saat hati saya tamak mengejar dunia, bahwa di luar sana masih ada orang yang menjaga kehormatannya dengan tak meminta-minta selama mampu berusaha, bahwa diluar sana masih ada orang yang masih ingin memberi bahkan dalam kekurangannya.

Saya urung memberikan uang lebih yang sudah saya siapkan untuk beliau. Untuk saya ini bukan transaksi bisnis. Rasanya tak pantas mengembalikan diskon yang sudah beliau beri untuk saya dengan sejumlah uang.

Bentuk asimetris di ransel saya mengingatkan pada nasi pepes yang dibeli tadi pagi. Dan betapa bahagianya saya saat beliau berkenan menerima nasi pepes itu. Perasaan bahagia yang membuat saya tersadar bahwa saya membutuhkan orang-orang seperti Pak Darta, untuk berbagi sedikit kebaikan, untuk menjaga agar saya tetap bisa menyebut diri sendiri sebagai manusia, untuk mengobati entah apa dalam diri yang perlahan tapi pasti mulai menumpulkan matahati.

Saat pulang dari kampus saya dapati jalanan Bandung macet lagi, tapi kali ini saya pulang ke rumah menempuh jalanan yang macet ini sambil bersyukur dan bernyanyi dalam hati.

Note:
foto yang kedua saya ambil dari mbah google, ternyata sudah banyak yang mengulas tentang beliau, bisa dicek di:









Resensi RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI

Judul Buku                 : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Penulis                         : Yusi Avianto Pareanom Penerbit         ...