Selasa, 02 Desember 2014

Kakek Tua Penjual Amplop dan Lima Ratus Rupiah

Hari ini memang istimewa.

Alhamdulillah.

Macet parah membuat perjalanan dari rumah ke kampus tiga puluh menit lebih lama dari biasanya. Printer di rumah kebetulan sedang cuti—sebab kehabisan tinta—jadi begitu tiba di kampus saya masih harus berlari-lari ke UKSI untuk mencetak tugas. Sepanjang jalan saya sudah membayangkan kemungkinan terburuk:

Bagaimana kalau setelah semua kerempongan ini saya malah tidak boleh masuk kelas?

Ternyata dosen mata kuliah pagi itu baru tiba dari San Francisco malam sebelumnya. Beliau mengaku masih jet lag dan, tidak seperti biasanya yang sangat tepat waktu, pagi itu memilih menunggu sampai semua peserta hadir sebelum mulai mengajar.

Alhamdulillah.

Kadang-kadang kemalangan kecil kita memang bisa diselamatkan oleh jet lag orang lain. =D

Sambil menunggu kuliah dimulai, saya menemui Pak Undang dan memesan nasi pepesnya yang terkenal seantero Sipil untuk makan siang nanti.

Berasaaa jadi mahasiswa lagi. =D

Tiga jam kemudian kuliah selesai. Setelah berdadah-dadah dengan teman sekelas, saya langsung menuju Salman. Ada buku yang harus dikembalikan ke Salman Reading Corner. Sudah kena denda pula.

Tapi ketika berjalan menuju kompleks Salman, langkah saya mendadak berhenti. Tas lusuh itu. Tumpukan amplop. Kresek-kresek hitam. Saya mengenalnya. Tidak mungkin salah. Pak Darta.



Pak Darta adalah penjual amplop yang dulu sering saya temui di sekitar Salman ketika masih kuliah S1. Lima tahun saya meninggalkan kampus. Dan lima tahun pula saya tidak melihat beliau. Tapi siang itu rasanya seperti tidak banyak yang berubah. Beliau masih duduk dengan dagangan yang sama: amplop-amplop yang di zaman korespondensi serba elektronik seperti sekarang bahkan saya sendiri sudah jarang tahu harus digunakan untuk apa.

Dulu saya sering membeli dagangannya. Bukan karena membutuhkan amplop sebanyak itu. Kebutuhan saya terhadap amplop bahkan mungkin tidak sebanding dengan frekuensi saya membelinya. Tapi entah kenapa, setiap melewati Pak Darta, kaki saya hampir selalu berbelok ke arahnya. Dan lima tahun kemudian, rupanya kebiasaan itu belum hilang.

Saya memilih beberapa bungkus. “Janten sabaraha, Pak?”

Tidak ada jawaban. Saya menunggu sebentar, lalu baru teringat pendengaran beliau memang sudah berkurang sejak dahulu. Saya mengulang pertanyaan sedikit lebih keras.

“Anu tilu sarebu lima ratus, Neng. Janten opat rebu lima ratus. Anu alit ieu mah sarebu. Sadayana lima rebu lima ratus.”

Tangannya yang gemetar memasukkan amplop-amplop itu ke dalam kresek hitam. Lalu beliau menambahkan, “Tapi sawios, janten lima rebu wae.”

Saya terdiam. Lima tahun.

Dan ternyata yang berubah dari harga dagangannya hanya sedikit. Sementara beliau masih sempat memberi saya potongan lima ratus rupiah. Lima ratus rupiah. Nilainya mungkin tidak seberapa. Tapi tiba-tiba saya memikirkan berapa lembar amplop yang harus beliau jual untuk mendapatkan lima ratus rupiah itu. Dan entah kenapa, mata saya mulai panas.

Awalnya saya sudah berniat memberikan uang lebih. Tangan bahkan sudah bersiap mengambilnya. Tapi kemudian saya urungkan. Saya membayar lima ribu rupiah seperti yang beliau minta. Entah benar atau tidak, saat itu saya merasa ingin menerima pemberiannya.

Sebab mungkin kebaikan tidak selalu harus bergerak dari orang yang merasa punya lebih banyak kepada orang yang dianggap punya lebih sedikit. Pak Darta ingin memberi saya diskon lima ratus rupiah. Maka kali itu, biarlah saya menjadi orang yang menerima. Barangkali menerima dengan baik juga merupakan salah satu cara menghargai orang yang sedang ingin memberi. Saya memasukkan amplop ke tas.

Dan ketika itulah tangan saya menyentuh sesuatu. Nasi pepes Pak Undang.

Ah.

Makan siang saya.

Saya menatap bungkusan itu sebentar, lalu menatap Pak Darta. “Pak, parantos tuang?”

Belum.

Saya menawarkan nasi pepes itu kepadanya. Dan betapa leganya ketika beliau mau menerimanya. Tidak ada lagi hitung-hitungan tentang lima ratus rupiah. Tidak ada yang berutang kebaikan kepada siapa. Beliau memberi sesuatu kepada saya. Saya kebetulan punya sesuatu yang bisa diberikan kepadanya. Selesai. Sesederhana itu.

Saya melanjutkan perjalanan ke Salman dengan beberapa bungkus amplop di dalam tas dan tanpa nasi untuk makan siang. Anehnya, hati terasa penuh. Mungkin karena pertemuan dengan Pak Darta mengingatkan saya pada sesuatu yang sering terlupakan ketika hidup sedang terlalu sibuk.

Bahwa memberi tidak selalu menjadi hak istimewa orang yang punya lebih banyak. Orang yang hidup sederhana pun masih punya sesuatu untuk diberikan. Lima ratus rupiah. Senyuman. Potongan harga. Atau sekadar keinginan untuk tidak mengambil lebih dari yang menurutnya menjadi haknya.

Dan mungkin kita juga tidak selalu harus buru-buru membalas setiap kebaikan agar merasa impas. Kadang cukup diterima. Disimpan baik-baik. Lalu suatu hari diteruskan kepada orang lain.

Ketika pulang dari kampus, Bandung masih macet. Sama seperti pagi tadi. Mobil-mobil masih merayap. Klakson masih bersahutan. Tidak ada keajaiban besar yang terjadi hari itu. Saya cuma terlambat datang ke kampus. Mencetak tugas terburu-buru. Kuliah tiga jam. Kena denda buku. Membeli amplop yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Dan kehilangan jatah makan siang.

Tapi entah kenapa, hari itu terasa istimewa.

Mungkin karena pagi tadi saya memulai perjalanan dengan sibuk menghitung segala hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Sementara sore itu saya pulang dengan menghitung sesuatu yang berbeda. Dosen yang kebetulan jet lag. Pertemuan dengan seseorang yang sudah lima tahun tidak saya jumpai. Diskon lima ratus rupiah. Dan sebungkus nasi pepes yang ternyata menemukan orang yang lebih tepat untuk memakannya.

Hal-hal kecil. Tapi rupanya cukup untuk membuat perjalanan pulang dalam kemacetan Bandung terasa sedikit lebih menyenangkan. Saya menyetir sambil bernyanyi kecil. Dan sekali lagi berkata dalam hati: Alhamdulillah.


Note:
foto yang kedua saya ambil dari mbah google, ternyata sudah banyak yang mengulas tentang beliau, bisa dicek di:









1 komentar:

  1. KISAH NYATA..............
    Ass.Saya ir Sutrisno.Dari Kota Jaya Pura Ingin Berbagi Cerita
    dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
    saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
    saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
    internet dan menemukan nomor Ki Kanjeng saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya di kasih solusi,
    awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Kanjeng alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
    sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya silahkan hub Ki
    Kanjeng di nmr 085320279333 Kiyai Kanjeng,ini nyata demi Allah kalau saya tidak bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.

    KEMARIN SAYA TEMUKAN TULISAN DIBAWAH INI SYA COBA HUBUNGI TERNYATA BETUL,
    BELIAU SUDAH MEMBUKTIKAN KESAYA !!!

    ((((((((((((DANA GHAIB)))))))))))))))))

    Pesugihan Instant 10 MILYAR
    Mulai bulan ini (juli 2015) Kami dari padepokan mengadakan program pesugihan Instant tanpa tumbal, serta tanpa resiko. Program ini kami khususkan bagi para pasien yang membutuhan modal usaha yang cukup besar, Hutang yang menumpuk (diatas 1 Milyar), Adapun ketentuan mengikuti program ini adalah sebagai berikut :

    Mempunyai Hutang diatas 1 Milyar
    Ingin membuka usaha dengan Modal diatas 1 Milyar
    dll

    Syarat :

    Usia Minimal 21 Tahun
    Berani Ritual (apabila tidak berani, maka bisa diwakilkan kami dan tim)
    Belum pernah melakukan perjanjian pesugihan ditempat lain
    Suci lahir dan batin (wanita tidak boleh mengikuti program ini pada saat datang bulan)
    Harus memiliki Kamar Kosong di rumah anda

    Proses :

    Proses ritual selama 2 hari 2 malam di dalam gua
    Harus siap mental lahir dan batin
    Sanggup Puasa 2 hari 2 malam ( ngebleng)
    Pada malam hari tidak boleh tidur

    Biaya ritual Sebesar 10 Juta dengan rincian sebagai berikut :

    Pengganti tumbal Kambing kendit : 5jt
    Ayam cemani : 2jt
    Minyak Songolangit : 2jt
    bunga, candu, kemenyan, nasi tumpeng, kain kafan dll Sebesar : 1jt

    Prosedur Daftar Ritual ini :

    Kirim Foto anda
    Kirim Data sesuai KTP

    Format : Nama, Alamat, Umur, Nama ibu Kandung, Weton (Hari Lahir), PESUGIHAN 10 MILYAR

    Kirim ke nomor ini : 085320279333
    SMS Anda akan Kami balas secepatnya

    Maaf Program ini TERBATAS .

    BalasHapus

Resensi CINTA TAK ADA MATI

Judul buku                   : Cinta Tak Ada Mati Penulis                      : Eka Kurniawan Penerbit                    : Gramedia Pustak...