“Sering-seringlah sedekah.”
Nasihat itu rasanya cocok sekali diberikan kepada orang slebor, koplak, dan serampangan seperti saya. Entah sudah berapa banyak barang yang hilang sepanjang hidup saya. Mulai dari yang lumayan berharga seperti handphone dan perhiasan, sampai benda remeh-temeh seperti gantungan kunci dan pin.
Sebagian mungkin memang musibah, seperti dicopet orang. Tapi kalau mau jujur, sebagian besar lainnya ya murni karena kesalahan saya sendiri. Teledor. Ditambah pelupa yang cukup akut. Maka wajar kalau Abinya anak-anak sering marah karena perkara ini. Saking seringnya, setiap kali kehilangan sesuatu, yang pertama kali terlintas di kepala saya sekarang bukan lagi harga barangnya. Tapi: Aduh. Nanti dimarahin. =D
Bukannya saya tidak pernah berusaha berubah. Saya pernah mencoba membiasakan diri mengembalikan segala sesuatu ke tempatnya setelah digunakan. Benda pertama yang saya manage dengan serius adalah alat tulis. Saya bahkan membeli tempat pensil, benda standar yang entah kenapa tidak pernah saya punya sepanjang sejarah bersekolah. Biasanya saya cuma punya satu pulpen dan satu pensil yang dilempar begitu saja ke dasar tas. Tapi sejak punya tempat pensil, saya mendadak merasa membutuhkan stabilo, tip-ex, penghapus, cutter, sampai kalkulator scientific. Tempat pensil itu pun menggembung. Saya sayang sekali padanya. Setiap selesai memakai sesuatu, langsung saya kembalikan. Berbulan-bulan isinya lengkap. Tidak ada pulpen hilang. Tidak ada penghapus tercecer. Saya mulai merasa akhirnya berhasil menjadi manusia yang tertib. Lalu suatu hari saya pulang dari kampus dan baru sadar: tempat pensilnya hilang. Beserta seluruh isinya.
Ya sudah. =D
Pernah juga saya berjalan jauh-jauh dari tempat print di Gelap Nyawang menuju Tata Usaha Sipil untuk mengumpulkan tugas Gambar Rekayasa. Sampai di sana baru sadar tabung gambarnya tertinggal di tempat print. Kembalilah saya ke Gelap Nyawang diiringi tatapan aneh seorang teman. Sejak itu saya punya ritual kecil. Setiap hendak meninggalkan suatu tempat, saya menyapukan pandangan ke sekeliling.
Kursi.
Meja.
Lantai.
Siapa tahu ada bagian dari harta benda saya yang sedang bersiap pindah kepemilikan.
Lalu pada suatu masa, saya kehilangan sesuatu yang bukan benda. Saya kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya. Dan anehnya, setelah kehilangan itu, cara saya melihat benda perlahan berubah. Mungkin karena setelah mengalami kehilangan yang benar-benar tidak bisa diganti, kehilangan benda tidak lagi terasa semenakutkan sebelumnya. Barang bisa dibeli lagi. Uang bisa dicari lagi. Ada hal-hal dalam hidup yang ternyata kalau sudah pergi memang tidak bisa kita beli kembali dengan berapa pun uang yang dimiliki. Sejak itu saya mulai berpikir bahwa mungkin memang tidak ada yang benar-benar menjadi milik kita. Barang. Uang. Bahkan orang-orang yang kita sayangi.
Semuanya seperti dititipkan sebentar, entah untuk berapa lama.
Entah kenapa pemikiran itu membuat saya lebih ringan untuk berbagi. Bukan karena merasa punya banyak. Justru mungkin karena mulai sadar bahwa yang ada di tangan saya pun sebenarnya cuma sedang lewat.
Saya sering mendengar cerita tentang keutamaan sedekah. Tentang sedekah yang membuka rezeki atau menjadi jalan datangnya pertolongan. Saya tidak tahu bagaimana persisnya Tuhan mengatur semua itu. Dan saya juga tidak berani mengatakan setiap kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali dalam bentuk tertentu. Hidup tentu tidak sesederhana rumus matematika: memberi sekian, lalu menerima sekian.
Tapi ada beberapa kejadian dalam hidup yang, entah kebetulan atau bukan, membuat saya sering berhenti dan berpikir: Ya Allah, kok bisa? Pernah suatu hari saya menarik uang satu juta rupiah dari ATM. Kartu dan struk saya masukkan ke tas. Lalu saya keluar.
Uangnya?. Tertinggal di mesin ATM.
Entah sedang linglung atau memang kadar keteledoran saya sedang berada di puncaknya hari itu. Di luar ATM saya melihat seorang kakek menjual daun salam dan serai. Karena kasihan, saya berhenti dan membeli cukup banyak meskipun sebenarnya tidak terlalu membutuhkan. Beberapa saat kemudian, seorang ibu keluar tergopoh-gopoh dari gerai ATM. “Neng, ini uangnya ketinggalan.”
Ia menyerahkan segulung uang lima puluh ribuan sambil mengusap dada, mungkin ikut syok bertemu manusia seaneh saya. Lutut saya langsung lemas. Bagaimana kalau orang setelah saya memilih mengambil uang itu?. Bagaimana kalau saya tidak berhenti membeli daun salam dan serai sehingga sudah keburu pergi ketika ibu itu keluar?
Saya tidak tahu.
Saya hanya tahu, pagi itu saya sangat bersyukur karena sempat berhenti beberapa menit di depan seorang kakek penjual daun salam. Apakah membeli dagangan si Kakek yang menyelamatkan uang saya?. Entahlah. Saya tidak berani menyimpulkan sejauh itu. Tapi kejadian itu tinggal lama di kepala saya.
Kali lain, suami menitipkan uang dua puluh juta rupiah untuk dibawa ke pasar. Uangnya dimasukkan ke amplop cokelat, lalu dengan ketenangan luar biasa yang sekarang kalau dipikir-pikir agak mengerikan, saya masukkan begitu saja ke dalam ransel dan pergi naik motor. Sekitar dua puluh menit kemudian seorang bapak di belakang saya berteriak,
“Neng, tasnya kebuka!”
Saya menepi. Dan hampir terduduk. Ritsleting ransel terbuka sempurna. Sementara amplop-cokelat-dua-puluh-juta-rupiah itu masih ada di dalam, melambai-lambai ditiup angin. Kalau ada orang mengambilnya pun saya mungkin tidak akan sadar. Sisa perjalanan saya habiskan dengan istigfar dan hamdalah. Lagi-lagi saya berpikir tentang segala kemungkinan yang bisa saja terjadi tetapi ternyata tidak terjadi.
Dan pagi tadi, giliran dompet.
Dompet yang isinya bukan cuma uang, tapi KTP, SIM, STNK, kartu ATM, kartu kesehatan, dan berbagai kartu lain yang kalau hilang mungkin akan membuat saya menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengurusnya kembali. Saat pergi ke klinik, saya meninggalkannya di ruang tunggu. Tentu saja tanpa sadar. Baru ketika hampir sampai parkiran saya merasa ada yang kurang. Saya kembali ke ruang dokter. Tidak ada.
Lari ke resepsionis dan melihat ruang tunggu yang penuh orang, hati saya langsung mencelos. Sudah. Hilang.
Ternyata tidak.
Seseorang menemukannya dan menyerahkannya ke resepsionis. Lengkap. Tidak ada yang kurang. Saya cuma bisa berdiri di sana sambil mengucap syukur. Dan entah kenapa teringat bahwa pagi sebelumnya saya memberikan sekilo singkong dan sedikit cabai rawit dari kebun belakang kepada ibu penjual gorengan di depan rumah. Apakah dua kejadian itu berhubungan? Saya tidak tahu. Mungkin iya. Mungkin juga sama sekali tidak.
Saya tidak ingin menjadikan kebaikan seperti transaksi: hari ini memberi singkong, besok Tuhan mengembalikan dompet. Rasanya Tuhan tidak sedang menjalankan sistem cashback. =D
Tapi saya menyukai kemungkinan bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak pernah benar-benar sia-sia. Kadang ia kembali kepada kita. Kadang kepada orang lain. Kadang mungkin tidak pernah kita ketahui ke mana perginya. Dan mungkin memang bukan itu tujuan kita melakukannya.
Jadi kalau sekarang saya mendengar nasihat, “Sering-seringlah sedekah.” saya tidak lagi memahaminya sebagai cara supaya uang bertambah, barang yang hilang kembali, atau hidup dijauhkan dari semua musibah.
Saya hanya merasa hidup menjadi sedikit lebih ringan ketika kita tidak menggenggam semuanya terlalu erat. Karena toh saya sudah belajar dengan cara yang agak menyakitkan: yang kita miliki bisa hilang. Uang bisa pergi. Barang bisa rusak. Orang yang kita sayangi pun suatu hari bisa tidak lagi ada.
Maka selama sesuatu masih berada di tangan, barangkali tidak ada salahnya membiarkan sebagian berpindah ke tangan orang lain. Bukan supaya Tuhan merasa berutang kepada kita. Tapi karena kita sendiri sedang belajar bahwa tidak semuanya harus menjadi milik kita. Dan tentang berbagai barang saya yang berkali-kali nyaris hilang tetapi kembali lagi?
Saya tidak tahu apakah itu keajaiban sedekah. Saya hanya tahu saya sangat beruntung. Dan sangat bersyukur. Mungkin itu saja sudah cukup.
Oh, dan satu lagi: saya tetap harus belajar menutup ritsleting tas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar