Review A MAN CALLED OVE

Seorang Lelaki Bernama Ove yang Selalu Gagal Bunuh Diri




Ove tahu benar, teman-teman istrinya tak paham mengapa perempuan itu menikah dengannya (hlm 48).

Ove adalah lelaki hitam-putih. Sementara itu, istrinya berwarna-warni. Ialah seluruh warna yang dimiliki Ove (hlm 51).

Kau merindukan hal-hal teraneh ketika kehilangan seseorang. Hal-hal sepele. Senyuman. Cara perempuan itu berbalik ketika sedang tidur. Kau bahkan rindu mengecat ruangan ulang ruangan untuknya (hlm 76)

Kita bisa menyibukkan diri dengan hidup atau dengan mati, Ove. Kita harus melanjutkan hidup (hlm 265).

Setiap manusia harus tahu apa yg diperjuangkannya. Itulah kata mereka. Dan Sonja memperjuangkan apa yg baik. Demi anak-anak yg tdk pernah dimilikinya. Dan Ove berjuang untuk Sonja. Sebab itulah satu-satunya hal di dunia ini yg benar-benar dipahaminya (hlm 270)

 

Karena kau bukan orang yang benar-benar tolol (hlm 312).

 

Cerita dimulai dengan seorang pria 59 tahun bernama Ove yang sedang bersitegang di toko komputer. Ia hendak membeli iPad namun masih perlu diyakinkan, tetapi petugas toko sepertinya bingung bagaimana menjelaskan kepada pria tua nyaris gaptek ini, bahwa iPad benar-benar ‘barang bagus’. Kemudian kita dapat menyimpulkan bahwa Ove ini pria tua pemberang-pemarah, gampang ngambek, cenderung pelit (ia tak mau bayar parkir rumah sakit) dan kering kaku seperti kanebo. Tapi kita pun akan melihat bahwa Ove lelaki yang sangat terampil, sangat jujur dan hidup dengan lurus dan seharusnya.

Ove hanya ingin mati dengan tenang. Setelah istrinya Sonja meninggal dunia, dan ia dipensiunkan begitu saja oleh perusahaan tempatnya bekerja, Ove merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan hidup. Maka ia memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. Alasannya praktis: gantung diri tak akan membuat darah menciprat kemana-mana sehingga tak akan mengotori lantai. Tapi karena terbiasa selalu hidup tertib dan rapi, Ove tetap melapisi semua lantai dengan plastik. Ia hanya tinggal memasang sebuah pengait. Dan Demi Tuhan, karena Ove sangatlah terampil, itu haruslah pengait yang kokoh dan layak.

Sayangnya, rencana Ove untuk bunuh diri, selalu saja gagal, kali pertama, karena tetangga baru tak bisa memundurkan mobil karavannya sehingga menghantam kotak surat Ove, mau tak mau Ove harus keluar dan membantu. Saat akan melanjutkan aksinya, ternyata anak tetangga barunya mengintip dari jendela dan Ove tak ingin meninggalkan kenangan yang buruk tentang orang bunuh diri  di benak seorang anak.

Kali berikutnya ketika akan memasang pengait lagi, tetangga baru datang lagi mengantarkan makanan. Hari berikutnya, tetangga yg lain minta tolong Ove memperbaiki pemanasnya di rumah, berikutnya lagi, tetangga baru pinjam tangga dan kunci Allen, dan begitulah rencana bunuh diri Ove selalu gagal karena semua orang sepertinya sibuk merecoki Ove. 

Ketika pengaitnya yang kokoh sudah terpasang, betapa konyolnya karena tali yang Ove gunakan untuk gantung diri malah putus begitu saja, dan Ove mengumpat-ngumpat tentang betapa tidak ada barang yang bagus dan layak yang diproduksi orang jaman sekarang.

Berikutnya Ove mencoba mengganti metode bunuh diri dengan mengalirkan gas karbon monoksida dari mobil, tepat saat Ove akan melancarkan aksinya, tetangga baru lagi-lagi mengganggu Ove dengan memaksa Ove mengantarkan ke rumah sakit dan berakhir dengan Ove harus menjaga kedua anak perempuannya.

Begitulah Ove terus menerus terseret ke dalam situasi yang tak diinginkan bersama tetangga barunya. Dan seiring dengan semakin terinvasinya ruang pribadi Ove, perlahan-lahan, tetangga barunya pun mendapat gambaran utuh tentang bagaimana kehidupan Ove. Meski demikian, Ove tetap menjalani kehidupannya dengan rutinitas yang sama persis, bangun di jam yang sama, menginspeksi kompleks perumahan, mengunjungi makam Sonja (istrinya yang wafat karena kanker) setiap hari dan Ove masih berkeinginan bunuh diri.

Ove kemudian mencoba untuk bunuh diri dengan menabrakkan diri di jalur kereta api. Dilalahnya, bukannya bunuh diri, secara tak sengaja Ove malah jadi pahlawan karena menyelamatkan seorang pria yang tiba-tiba kejang-kejang dan jatuh ke jalur kereta.

Setelah itu, Ove menjadi sibuk luar biasa. Istri tetangga baru minta diajari menyetir, kedua anak perempuannya menjadi luar biasa dekat, lalu Ove terpaksa memelihara kucing, Ove membantu mantan murid istrinya memperbaiki sepeda dan membeli mobil, dan secara tak sengaja Ove mengumpulkan semua orang dari latar belakang berbeda (Pattrick-konsultan IT, Parvaneh-istri Pattrick, Nasanin putri Pattrick dan Parvaneh, Jimmy tetangga gendut yang adalah developer system Apple,  Anders si pesolek, Adrian mantan murid Sonja, Mirsad si gay, Anita istrinya Rune dan si kucing ) bersatu padu melawan petugas dari dinas sosial yang akan mengambil Rune (tetangga dan sahabat masa lalu Ove) ke panti jompo.

Di penghujung, Ove wafat dalam tidur dengan damai, alih-alih pemakaman yang sepi, hampir tiga ratusan orang mengantar Ove ke peristirahatannya yang terakhir. Satu benang merah yang kemudian saya tarik dari buku ini, meski galak dan tidak bisa basa basi, Ove sebenarnya adalah orang baik yang sangat peduli pada orang lain. Dalam satu bagian, Parvaneh berkata pada Ove bahwa Ove adalah orang paling lucu yang pernah ditemui putrinya, karena putrinya selalu menggambar semua orang dengan warna hitam, sementara Ove ia gambar dengan ledakan semua warna, merah, kuning, biru oranye, semua warna-warna ceria.

Buku ini saya selesaikan dengan hati yang rasanya ikut menghangat. Mau tak mau ikut sayang pada pria tua bangka pemarah ini. Dan sesuai dengan apa yang tertera di sampul bukunya: kau akan tertawa, menangis, bersimpati terhadap orang temperamen yang kau temui dalam kisah memesona ini.

 

Komentar

Postingan Populer