Sudah dua minggu tapi demam saya tak turun-turun. Pusing, lemas, dan paling parah ada benjolan besar di paha atas sebelah kiri. Tiap jalan saya kesakitan. Sudah ke dokter, dan obat juga sudah habis, tapi kepala saya tetap terasa seperti pendiangan yang menyimpan sekam, tulang-tulang rasanya ngilu, makan tak enak, dan entah bagaimana badan saya rasanya lelah tak berkesudahan, bahkan setelah tidur semalaman.
Tak enak karena sebelumnya juga sudah izin sakit, saya memaksakan tetap masuk kerja. Tapi jadinya begitu, sehari masuk besoknya tidak. Untungnya direktur saya luar biasa baik.
Hari Kamis di pekan kedua saat sedang demam-demamnya, sudah waktunya untuk saya kontrol kawat gigi ke dokter ortho. Dengan badan yang sudah tak karuan, saya memaksakan berangkat dari Jakarta ke RSGM Unpad. Entah bagaimana, sesampainya di rumah sakit gigi, saya merasa kedinginan. Padahal kata pasien sebelah, suhunya biasa saja. Saya coba tahan sampai selesai perawatan. Keluar dari ruangan, ternyata dinginnya menghebat, gigi saya gemeletuk dan badan menggigil.
Melihat panas terik di luar, dengan sengaja saya menantang matahari, berjemur di tempat paling panas sambil menunggu gojek. Anehnya, saya masih kedinginan, sampai handphone yang dipegang untuk melihat titik map babang gojek juga ikut gemetar. Dan begitulah, sampai rumah saya langsung ambruk.
Di tempat tidur, saya masih merasa luar biasa dingin padahal sudah pakai sweater dan kaos kaki sebelum dibalut tiga lapis selimut tebal-tebal. Anehnya, meskipun kaki saya dingin seperti orang mati, tetapi dahi dan nafas saya luar biasa panas. Ibu khadimat di rumah sudah menangis sambil mijitin kaki saya :”Teteh, jangan sakit kasihan anak-anak, hayu Ibu antar ke rumah sakit”, saya yang juga sibuk menahan ngilu dan sakit kepala tentu saja tidak bisa menenangkan Ibu. Anehnya lagi, saat itu saya juga malas ke rumah sakit, karena dua dokter sebelumnya yang saya kunjungi hanya memberi antibiotik dan penurun demam yang ternyata sama sekali tak mempan.
Entah bagaimana saya berhasil melewati malam itu, tapi di hari Sabtunya saya tak tahan lagi, dan akhirnya saya memaksakan diri langsung ke spesialis penyakit dalam. Baru dilihat sebentar, saya langsung dirujuk untuk opname hari itu juga.
Begitu masuk ruang opname, kondisi badan saya memburuk, tiba-tiba saja muncul bintik-bintik merah yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Bintik-bintik merah itu kemudian menjadi ungu, dan gatal-gatal mulai terasa terutama di daerah telapak tangan dan kaki. Dokter visit tak pernah bilang saya sakit apa, tapi rasanya setiap hari darah saya diambil untuk segala jenis tes.
Awalnya saya pikir penyebab penyakit saya adalah benjolan di paha. Sempat curiga, apakah mungkin itu tumor atau malah kanker. Karena dengan riwayat ibu kandung yang menderita penyakit kanker sampai wafat, saya memang cukup takut dengan penyakit itu. Alhamdulillah, ternyata bukan, meskipun kemudian vonis dokter tak bisa dibilang melegakan juga: saya divonis menderita autoimun dengan jenis vasculitis (radang pembuluh darah).
Dua minggu di rumah sakit, bintik-bintik ungu saya membaik, mulanya dari ungu kembali merah, sebelum kemudian memudar. Demam membandel yang tak turun-turun juga akhirnya menyerah dihantam obat yang terus menerus diberikan berjeda pada jadwal yang sama.
Keluar dari rumah sakit, ternyata badan saya tak langsung pulih, saya tak sanggup bahkan berjalan dari kamar ke ruang makan, jangankan berjalan, sekedar melipat selimut atau membuka tutup botol pun tenaga saya tak ada. Akhirnya hanya bisa rebahan saja di tempat tidur. Hampir dua bulan saya tak masuk kerja. Dan sejak saat itu, hidup saya berubah.
Hal pertama yang saya sadari, hidup saya kini bergantung pada obat. Ada dua jenis obat yang diberikan oleh dokter: metil prednisolone dan calcium lactate. Belakangan saya baru tahu bahwa metil prednisolone ini adalah obat jenis kartikosteroid yang berfungsi menekan produksi hormon kortisol dalam tubuh. Dan ternyata penggunaan dalam waktu panjang akan memberikan banyak efek samping, dan salah satu yang paling mengganggu adalah moon face serta meningkatnya nafsu makan.
Rasanya saya jadi lapar terus, hingga akhirnya makan dalam porsi banyak dengan frekuensi sering hingga otomatis berat badan saya naik. Tapi penggendutan paling signifikan hanya terlihat di perut dan muka saja. Awal masuk kerja, saya seperti perempuan yang sedang hamil 5 bulan, hingga akhirnya saya pakai gamis ke tempat kerja bukan karena mendadak sholehah, tapi karena baju-baju kerja saya tak muat terutama di bagian pinggang.
Muka saya juga membulat, istilahnya moonface, hidung saya yang memang tak mancung ini jadinya semakin membelesak karena pipi yang seperti bakpao. Gendut yang tak sehat karena entah bagaimana kulit saya jadi menghitam dengan bibir yang juga tampak gosong. Seorang professor farmasi yang menjadi salah satu direktur di kantor bahkan sampai komentar :“Badan kamu retensi air, karena minum obat kortikosteroid ya”.
Begitulah, pekan-pekan awal masuk kerja pun sebetulnya badan saya belum pulih sempurna, betul-betul saya menghemat tenaga, kemana-mana naik grabcar untuk menghindari jalan kaki. Saya menyadari betul bahkan sekedar membawa tas ransel berisi laptop dan tumbler minum saja, saya sudah kelelahan luar biasa, apalagi mengerjakan hal-hal lain yang mengeluarkan tenaga.
Perlu waktu berbulan-bulan untuk saya kembali percaya diri berjalan kaki lagi dan naik MRT ke tempat kerja. Pelan-pelan banget. Saya yang biasanya sebelum sakit selalu naik turun di seluruh tangga MRT yang curam dan banyak, pasca sakit terpaksa berdamai dengan naik eskalator atau lift. Perlahan, saya mulai menaikkan intensitas jalan kaki, sebelum kemudian saya bersyukur karena akhirnya sanggup untuk jogging lagi keliling GBK. Tentu hanya jalan kaki saja, karena untuk kembali berlari saya tak tahu, akankah saya diberi kekuatan untuk sanggup berlari lagi.
Dan kini tak terasa satu tahun sudah sejak vonis autoimun itu.
Tentu ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Obat yang tak boleh putus, makanan tertentu yang harus dihindari dan yang paling terasa aktifitas yang harus dijaga. Lelah berlebihan atau kurang tidur sedikit saja badan saya ambruk, dan selalu setiap saya bandel dan memaksakan diri di luar kemampuan, tubuh saya seperti robot yang dipencet tombol shut down, terpaksa harus bed rest dan perlu waktu sampai berhari-hari bahkan sampai satu minggu untuk pemulihan.
Meski demikian saya masih mencoba untuk gwenchana.
Selama masih bisa buka laptop dan bekerja, saya anggap masih oke, biarpun pada saat-saat tertentu harus sambil rebahan, biarpun harus sering terjeda untuk menghilangkan sakit kepala. Pekerjaan-pekerjaan kantor tetap saya upayakan untuk selesai dengan baik.
Tak dipungkiri ada saat saya ingin mengeluh bukan hanya karena kondisi tubuh, tapi juga karena ingatan dan ketajaman pikiran yang kini menurun jauh. Saya kesulitan untuk mengingat detail, dan banyak hal yang begitu saja menggelincir dari ingatan. Saya juga kesulitan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Jika sebelumnya saya sanggup berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dengan cepat, sekarang saya menyadari bahwa saya sudah tidak sanggup lagi seperti itu. Benar-benar hanya bisa mengerjakan pekerjaan satu demi satu sampai selesai.
Yang paling mengejutkan adalah bagaimana hal kecil sekalipun bisa mengganggu saya sedemikian. Misal, saya akan menulis jurnal, tiba-tiba saya sadar ballpoint saya hilang, pikiran saya akan terganggu sedemikian sampai ballpointnya ketemu atau saya diberikan ballpoint yang lain sebagai pengganti. Saya belum mendapatkan bahan analisis yang cukup untuk kemudian menyimpulkan apakah ini salah satu symptoms atau malah akibat dari autoimun meskipun sekilas saya pernah baca peradangan kronis akibat penyakit autoimun dapat memicu ketidakseimbangan neurotransmitter (zat kimia otak) dan hormon stress yang pada akhirnya memicu gangguan kecemasan.
Hal lain lagi yang saya sedihkan setelah sakit adalah sekarang saya sudah tidak bisa donor darah. Sebelumnya saya sangat rutin ikut donor, tapi belakangan secara tegas dokter menyatakan saya tak boleh sama sekali mendonorkan darah. Saya juga sudah tak bisa ikut olahraga Zumba lagi, padahal itu adalah hal yang paling saya sukai selain berlari. Sedih rasanya setiap harus melewatkan notifikasi ajakan Zumba dari instruktur saya yang luar biasa energik. Pernah sekali saya paksakan ikut, dan sesuai dugaan, sesudahnya saya langsung demam.
Dari buku When The Body Says No, Dr. Gabor Mate menyatakan bahwa penderita autoimun itu kebanyakan (hampir 80%) perempuan dan biasanya sebelum sakit ada empat karakteristik yang selalu muncul:
1. Lebih memikirkan perasaan orang lain daripada kebutuhan diri sendiri;
2. Terlalu fokus pada tugas dan tanggung jawab sampai mengabaikan kebutuhan sendiri;
3. Terlalu “baik’ dan cenderung menahan kemarahan yang sebetulnya ada;
4. Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.
Karakteristik diatas adalah sifat orang-orang yang selalu membantu orang lain, sulit mengatakan tidak dan akhirnya menanggung beban emosi terus-terusan.
Jika ditanya lebih lanjut, ya betul sekali, empat karakteristik ini semuanya ada pada diri saya. Bukan berarti saya mengklaim diri sendiri sebagai orang baik, tapi memang betul, saya kesulitan sekali mengatakan tidak pada permintaan orang lain dan saya punya kecenderungan untuk selalu “membantu” dan juga merasa bertanggung jawab terhadap perasaan orang lain.
Mental saya memang selemah permen Yupi, sampai pada satu titik saya sadar bahwa saya cenderung dimanfaatkan orang lain. Meskipun saya bersyukur kebanyakan teman-teman saya baik hati, tapi memang ada orang-orang tertentu yang dengan sadar selalu saya bantu sampai pada satu titik saya sakit dan stress sendiri.
Dan stress kronis ini sebetulnya sangat saya sadari sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tiba-tiba saja, saya menyadari, sudah bertahun-tahun sebenarnya saya mengalami kelelahan yang berlebihan, sudah bertahun-tahun juga sebetulnya saya mengidap penyakit kulit yang selalu saya nisbatkan akan kambuh setiap habis mencuci piring. Mungkin alergi sabun cuci piring, begitu pikir saya. Padahal mungkin itu adalah alarm pertama bahwa ada yang salah, tapi selalu saya abaikan sampai akhirnya tubuh saya tak mampu lagi menahan.
Seorang teman pernah berseloroh, mungkin sudah waktunya saya berusaha jadi Nikita Mirzani alih-alih terus soft spoken seperti Nikita Willy. Jika ingin marah, meledak saja, jika kecewa katakan saja terus terang, alih-alih selalu merasa bahwa semua ketidaksesuaian yang terjadi adalah salah saya sendiri.
Sampai sekarang, jujur saja, saya belum bisa, dan mungkin memang masih menjadi PR besar saya untuk menemukan cara bagaimana mengelola emosi, kecemasan dan stress yang berlarut-larut. Karena sudah terbukti secara klinis, stress kronis melemahkan imun tubuh dan penyebab penyakit saya sepenuhnya adalah stress yang berkepanjangan.
Saat ini yang bisa saya lakukan pertama-tama adalah menerima bahwa saya memang sakit. Kapasitas badan saya sudah tak bisa lagi seperti dulu, jika diumpamakan seperti batterai iPhone, sepertinya baterai health saya sekarang hanya 65%, tidak ada lagi super mom yang sanggup mengerjakan ini itu. Sudah waktunya untuk saya berhenti memaksakan diri.
Selanjutnya, saya akan belajar untuk mulai mengutamakan diri saya sendiri, belajar berkata tidak, dan meyakini bahwa perasaan orang lain bukan sepenuhnya tanggung jawab saya. Ini sulit, tapi saya akan belajar pelan-pelan.
Selanjutnya saya akan belajar untuk lebih banyak bersyukur. Dan ternyata memang banyak sekali hal yang harus saya syukuri. Lingkungan kerja yang menyenangkan, atasan yang luar biasa baik, pintar dan supportive. Anak-anak yang baik dan mandiri. Juga setiap hembusan nafas yang masih diberikan hingga detik ini.
Setidaknya saya masih bisa produktif, masih bisa membaca, masih bisa memenuhi semua kebutuhan dasar diri saya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain, masih bisa menyediakan makanan di meja untuk keluarga saya, masih punya orang-orang yang menyayangi dan saya sayangi. Masih bisa terbangun pagi ini, masih tersedia makanan di meja, di rumah yang aman dan tenang serta bukan dalam situasi perang yang mencekam. Serta merta saya jadi teringat pada sebuah hadits:
“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi).
Sekuat tenaga saya berupaya untuk berpikir bahwa tak ada lagi yang harus saya keluhkan. Mungkin ada banyak mimpi yang harus saya lepaskan, dan hal-hal yang harus saya relakan, tapi ya sudah, biarkan saja. Toh selama ini saya tidak sedang berlomba dengan siapa pun, selama ini saya hanya bertarung dengan standar dan target yang saya tetapkan sendiri.
Konon, autoimun tak bisa disembuhkan. Tapi tidak apa, bukankah hidup memang tak pernah berjalan sesuai dengan keinginan kita sepenuhnya. Seandainya hidup adalah sebuah meja judi raksasa, kita tak pernah tahu dan tak bisa memilih kartu seperti apa yang akan kita dapatkan dan harus kita mainkan, jadi ayo kita jalani dan syukuri saja.
*Sesungguhnya sampai hari ini saya masih berusaha bersikap begitu, sungguh masih terus berusaha.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar