Senin, 06 Juli 2026

Resensi MIDAH SIMANIS BERGIGI EMAS


 

Judul Buku                : Midah Simanis Bergigi Emas

Penulis                      : Pramoedya Ananta Toer

Jumlah Halaman      : 132 halaman

Penerbit                    : Lentera Dipantara

 

Ah, Sudara, manusia ini kenal satu sama lain, tapi tidak dengan dirinya sendiri. Kalau aku mencoba mengenal diriku, tentu saja perbuatanku akan lain dengan sekiranya engkau yang hendak mencoba.

 

Ini adalah novel ringan. Demikian kalimat pembuka pada bagian pengantar penerbit. Jika melihat tebal halaman, saya sepakat, buku ini memang terbilang tipis, apalagi jika dibandingkan dengan ketebalan karya-karya Pramoedya yang lain. Tapi jika bicara isi, mana ada sih bukunya Pramoedya yang ringan. Tambah lagi kriteria lain, mana ada sih buku Pramoedya yang akhirnya happy ending. Sepertinya Pram ini memang hoby membuat buku dengan akhir yang menyesakkan jiwa (saya masih merasa hampa setiap teringat ending Gadis Pantai atau Tetralogi Pulau Buru). Buku ini juga kurang lebih begitu, meski sesuai pengantar penerbit, intensitas kesesakan yang ditimbulkannya cukup ringan.

Buku ini berkisah tentang seorang perempuan manis bernama Midah, anak Hadji Abdul, orang Cibatok. Lahir dan besar di keluarga yang sangat religius, namun kemudian kesukaannya pada musik (yang disebut haram oleh ayahnya), membuat garis nasibnya berputar haluan 180 derajat.

Midah adalah gadis yang manis, anak kesayangan yang semula dimanja ayah dan ibu lalu dikawinkan dengan seorang kaya dari kampung asal bernama Hadji Terbus. Siapa sangka jika Midah kemudian berontak dan kabur dari suami dengan membawa kandungan yang baru berumur tiga bulan. Bukannya pulang ke rumah, Midah malah memutuskan untuk jadi pemusik keliling (jaman sekarang kita menyebutnya pengamen) bersama satu grup kroncong jalanan. 

Di tengah kesusahan hidup, Midah sangat teguh memegang prinsip. Ia tak terjerumus ke dalam pergaulan bebas, bahkan ketika semua di sekeliling bermaksud buruk kepadanya. Midah semata hanya menjual suara, meskipun karena itu ia dimusuhi oleh hampir semua anggota kelompok musiknya. Tak mudah untuk seorang wanita hamil mengikuti perjalanan sebuah grup musik untuk mengembara di jalanan ibu kota. Dan kesusahan itu semakin berlipat-lipat setelah Midah melahirkan. Pimpinan grup meminta Midah bersedia dinikahi sebagai ganti perlindungan yang bisa diberikan, namun Midah yang trauma dengan pernikahan  menolak keras meskipun karena itu, Midah harus angkat kaki.

Dalam perjalanan mengamen setelah memutuskan keluar dari rombongan, Midah bertemu kembali dengan polisi bernama Ahmad yang sebelumnya juga pernah menyelamatkan Midah. Dengan baik hati, Ahmad mencarikan kamar kontrakan, mengajari Midah bermusik dengan benar dan mengorbitkannya menjadi penyanyi di radio. Sejak awal Midah jatuh cinta pada Ahmad, sayangnya cinta Midah tak bersambut, Ahmad terus terang mengatakan tak mungkin ia menikahi Midah. Tapi pergaulan yang begitu erat meruntuhkan juga batasan di antara keduanya, sampai kemudian Midah hamil, dan di luar dugaan Ahmad tak mau bertanggung jawab.

Sementara itu, Hadji Abdul, ayah Midah,  ternyata jatuh sakit setelah mendengar kabar Midah yang melarikan diri dari suaminya. Ia mencari Midah kemana-mana, sementara itu perusahaannya runtuh, kekayaannya habis, akhirnya ibunyalah yang semula tak tahu menahu bagaimana mencari uang mulai menerima pesanan menjahit demi menyambung hidup. Ketika kemudian Midah menjadi penyanyi radio, ibu Midah menyusul ke stasiun radio, mendapatkan alamatnya dan kemudian sampai juga di rumah kontrakan Midah. Ditemukannya Djali anak Midah yang kurus tak terurus. Dengan naluri seorang nenek, dibawanya Djali pulang ke rumah. Midah yang baru pulang menyanyi akhirnya mau tak mau menyusul juga ke rumah orang tuanya.

Ayah dan ibu Midah menerima Midah sepenuh hati, sayangnya kondisi Midah yang tengah berbadan dua, di luar ikatan pernikahan pula, membuat hati Midah tak tenang. Tak ingin ia mencoreng muka kedua orang tuanya, hingga kemudian dengan berat hati, Midah memutuskan keluar lagi dari rumah, meninggalkan Rodjali dalam asuhan kakek neneknya. 

Karir Midah kemudian melesat, dengan paras yang memang cantik dan suara yang bagus, Midah  bukan hanya jadi penyanyi radio, tapi  menjadi bintang film dan juga pelacur papan atas.

Ceritanya selesai sampai disitu. Meninggalkan saya dengan hati yang hampa dan mulut yang gemas ingin memaki-maki. 

Midah ini bodoh atau nekat ya. Ia pergi meninggalkan rumah suami tanpa persiapan apa-apa, tanpa bekal yang memadai, tanpa rumah lain yang akan dituju (mengingat ia tak ingin pulang ke rumah orang tua), serta tanpa rencana akan bagaimana meneruskan hidup dalam kondisi berbadan dua. Terbiasa hidup dalam kemewahan, tak memberi gambaran kepada Midah, bisa sesusah apa hidup memperlakukan seorang perempuan tanpa uang dan tanpa bekal kemampuan apa-apa. Untunglah Midah cantik dan berbakat menyanyi, tapi bukankah tetap saja tak mudah untuk Midah menemukan jalan hingga jadi penyanyi radio. 

Dan alasan kabur dari suaminya pun tak jelas, hanya sedikit narasi bahwa suaminya ternyata beristri banyak, tapi tidak dijelaskan apakah Midah diperlakukan dengan buruk yang setidaknya bisa menjadi pembenaran untuk keputusannya meninggalkan rumah. Hanya ada sedikit keterangan mendekati akhir cerita bahwa ayah dan ibu Midah merasa dendam juga pada Terbus setelah kepergian Midah.

Dan Ahmad, kenapa laki-laki bisa sejahat itu. Membantu Midah sedemikian hingga Midah jatuh cinta. Sudah tahu mereka tak mungkin menikah karena perbedaan suku,  tapi masih juga meniduri Midah. Sialnya ketika Midah hamil, dengan mudah ia menuduh Midah sudah tidur dengan laki-lain hanya untuk menghindari tanggung jawab. Kurang brengsek apa coba. 

Sepanjang membaca buku ini, saya mencari-cari, alasan yang membuat buku-buku Pram digandrungi tapi sekaligus juga dianggap terlalu kiri. Dan kemudian rasanya saya paham, penuturan bahasa Pram sederhana tapi sangat nyata menyentuh hal-hal yang memang terjadi di sekitar kita, di kehidupan sehari-hari. Saking nyatanya sampai kita setuju, bahwa memang begitulah adanya kehidupan, dengan segala susah senangnya, dengan segala sifat kemanusiaannya manusia, yang khilaf, yang jahat, yang naif dan munafik. 

Kritik sosial yang disampaikannya pun sampai hari ini terasa masih relevan. Hadji Abdul digambarkan sebagai sosok religius yang sangat rajin beribadah dan berdzikir tapi sangat miskin citra kemanusiaan. Ia memandang hubungan dengan Tuhan sebagai hubungan transaksional, ketaatannya beribadah akan diganti Tuhan dengan kehidupan yang terhormat dan harta yang berlimpah. Kesalehannya juga membuat ia merasa menjadi manusia paling baik dibanding jiwa-jiwa lain yang tersesat dan penuh dosa. Kesombongannya sebagai hamba pilihan Tuhan baru berhenti ketika usahanya turun dan kesehatannya memburuk karena sakit jantung. Alih-alih meneruskan hidup, ia kemudian berlindung di balik sikap tasauf yang pada satu titik malah terasa seperti upaya melarikan diri dari masalah di sekeliling,

Sikap sinis teman-teman satu rombongan kroncong Midah juga sangat realistis. Anggota laki-laki benci pada Midah karena cintanya ditolak hingga tak bisa mencicipi tubuh Midah sedangkan yang perempuan merasa ketakutan akan kalah bersaing. Kebencian yang meski tak ditunjukkan dengan terang-terangan ini, tetap saja membuat mereka cukup tega membuat perempuan dengan bayi merah terlunta-lunta tanpa perlindungan.

Pada satu bagian juga diceritakan, bagaimana buruknya pelayanan rumah bersalin yang lebih mengutamakan hal-hal administratif di atas kemanusiaan. Dan dengan pelayanan demikian buruk, Midah masih harus membayar mahal.  Hati saya getir sekali membayangkan seorang perempuan lemah yang baru bersalin membawa pulang bayi telanjang karena baju yang dipakai si bayi adalah milik rumah sakit. Ingin sekali saya menghujat Midah yang bisa-bisanya tidak menyiapkan perlengkapan bayi barang baju orok selembar pun sebelum melahirkan. Di sisi lain, saya juga ingin memaki pihak rumah sakit,  ini serius rumah sakit  tega membiarkan bayi merah pulang dalam keadaan telanjang. Dari semua perawat yang digambarkan judes setengah mati, apa tidak ada satu orang pun yang memiliki sedikit kelembutan hati untuk memberikan sehelai baju, popok dan selimut bayi. 

Ah entahlah, di jaman seperti apa Pram hidup sampai karya-karyanya segetir ini. Membuat kita mempertanyakan masih adakah belas kasih untuk sesama manusia. Ketika rasanya semua orang digambarkan begitu banal terhadap penderitaan sesamanya.

Di ujung, Midah digambarkan menjadi pelacur papan atas, semata untuk mematikan rasa, karena kemana pun ia pergi selalu hanya Ahmad yang hadir di pelupuk mata. Sangat khas perempuan. Midah sanggup menanggung lapar dan sengsara, menjaga diri untuk tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas karena menganut nilai-nilai yang dibawanya dari rumah. Tapi ketika berhadapan dengan cinta, ia tak kuasa. Bahkan ketika di ujung ternyata cinta membuatnya hancur dan ditinggalkan.

Saya lalu teringat sebuah kutipan: “ We are all selective sinner. We choose the sins we are comfortable with and judge others for the ones we can’t accept”.

Pada hakikatnya kita semua adalah pendosa. Kita merangkul dosa yang paling nyaman untuk diri sendiri, lalu menjatuhkan vonis pada dosa orang lain yang tak bisa kita terima. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi MIDAH SIMANIS BERGIGI EMAS

  Judul Buku                : Midah Simanis Bergigi Emas Penulis                      : Pramoedya Ananta Toer Jumlah Halaman      : 132 hala...