Senin, 13 Juli 2026

Resensi SIHIR PEREMPUAN



Judul buku                : Sihir Perempuan

Penulis                      : Intan Paramadhita

Jumlah halaman      : 158 halaman

Penerbit                    : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

 

Kau dan aku memang makhluk-makhluk kesepian. Aku si pengisap penyedot kehidupan yang sekarat karena merah sudah nyaris habis punah berhenti titik.

Nak, demi sebuah kehidupan kau harus mematikan yang lain. Ada burung yang harus membakar diri untuk melahirkan generasi baru. Kita menganggap sudah kodratnya terlahir untuk berkorban, untuk menjadi mulia. Seperti Sinta, begitu. Dan hanya di situ nilaimu.

Jeritan Ibu mati bersama bayi mereka. Mereka tak mampu lagi bersuara karena tidak akan ada yang mau mendengar.


Buku ini tersusun dari sebelas judul.  Sebelas cerita dengan tokoh dan kisah yang berbeda-beda, tapi ada satu benang merah yang menghubungkan sebelas kisah ini: semuanya bercerita tentang perempuan, yang termarjinalkan oleh lembaga bernama perkawinan, yang kesepian, yang dituntut berperan ganda, yang harus mengorbankan diri agar sesuai dengan standar masyarakat, yang harus menanggung banyak luka dan beban. Semuanya perempuan.

Saya sudah jatuh cinta pada buku ini sejak halamannya yang pertama, meski kemudian saya menyadari ternyata gaya bahasa yang digunakan begitu penuh metafora dan perumpamaan. Ada sindir-sindir halus yang tersembunyi. Makna-makna tersamar yang tidak bisa diartikan letterlijk begitu saja. Buku ini memang ditulis dengan menggabungkan cerita thriller, dongeng, kisah hantu gotik dan takhayul. 

Beberapa bagian harus saya baca berulang-ulang untuk kemudian memahami maknanya. Dan semakin saya baca, semakin saya mendapati bahwa keseluruhan cerita adalah upaya mematahkan stigma, tentang bias gender, misogini dan patriarki yang begitu kental di masyarakat kita. 

Membaca cerita pertama yang berjudul Pemintal Kegelapan, entah bagaimana membuat saya malah teringat pada cerita pembantaian penyihir di abad pertengahan. Konon hampir 85% tersangka penyihir yang dibakar adalah perempuan. Dan kita tahu kosakata yang digunakan pun berbeda, witch untuk penyihir perempuan, kata ini dikonotasikan dengan tokoh-tokoh jahat, wanita tua buruk rupa yang iri dengan kecantikan dan kemudaan putri-putri cantik dalam dongeng-dongeng. Para penyihir perempuan ini dengan kekuatan sihirnya, merusak dan menghancurkan. Sementara wizard, sebutan untuk penyihir pria, sering digambarkan sebagai sosok bijaksana yang menggunakan kekuatan sihirnya untuk melindungi. Kita tentu ingat sosok Gandalf dalam The Lord of The Rings yang dicitrakan sebagai penyihir baik, sementara Mother Gothel dalam kisah Rapunzel menjadi penyihir bengis yang kejam.

Begitu pun dengan kisah-kisah hantu. Dalam cerita-rakyat ataupun cerita urban di Indonesia, hantu perempuan jenisnya lebih banyak dari hantu berjenis kelamin laki-laki. Dan hantu-hantu perempuan ini punya garis besar cerita yang sama: ketika hidup mereka adalah korban, setelah mati mereka menjadi monster yang hadir membalas dendam dengan perilaku mengancam jiwa atau sekedar menakut-nakuti.

Selanjutnya dari cerita berjudul Vampir, saya menemukan bahwa seksualitas perempuan juga akhirnya tunduk pada relasi kuasa, dalam hal ini atasan dan bawahan. Dan selalu perempuan bukan hanya sebagai objek tapi juga korban dan sekaligus pihak yang bersalah.

Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari menceritakan kisah Sindelarat (sepertinya plesetan dari Cinderella) namun dari sudut pandang saudara tiri yang selama ini kita ketahui berperilaku jahat dan tak rupawan. Pada cerita ini, kita dibawa memahami, kenapa saudara tiri menjadi jahat, dan si tokoh utama yang cantik jelita pun tak sepenuhnya tak bersalah. Dari semua cerita dalam buku ini, sepertinya cerita ini yang menyampaikan pesan paling jelas dan tak membuat kita mengerutkan kening. Dan dari sebelas cerita dalam buku ini, Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari menjadi favorit saya. 

Dari cerita Mak Ipah dan Bunga-bunga, kita akan menemukan bahwa bahkan sekedar menjadi seorang perempuan saja bisa mencelakakan nyawa, menjadi korban ruda paksa dan dibunuh begitu saja. (Cerita ini paling membuatku merasa jeri). 

Pada cerita Mobil Jenazah, ada seorang istri yang dituntut untuk berperan sempurna, tetap bekerja mencari uang tapi harus perform juga di rumah, dengan anak-anak yang harus pintar dan berbudi, serta rumah yang harus licin berkilau.

Pada cerita Misteri Polaroid, ada perempuan-perempuan yang dinilai berdasarkan fisiknya saja dan lagi-lagi ada hantu perempuan, yang menjadi hantu setelah pada masa hidupnya ia justru adalah korban.

Pada cerita Darah, kita akan bertemu dengan perempuan yang sedari awal sudah diajari bahwa menstruasinya sendiri kotor, menjijikkan namun disukai para demit. Di akhir cerita, sepertinya menjadi ironi karena para demit yang konon menyukai darah menstruasi ini malah menyampaikan alasan yang jauh lebih penuh penghargaan.

Mengapa kau begitu menyukai darah?

Suaramu serak dan pelan, begitu jauh, begitu purba, namun bisa kudengar kau berbisik,

Karena darah adalah hidup.

Sesederhana itu.

 

Usai menamatkan buku ini, entah bagaimana, saya merasa hampa yang tak berhingga. Beberapa bagian cerita seolah terus terngiang-ngiang di kepala. Lalu tidak bisa untuk tidak setuju, menjadi perempuan itu memang rumit dan terkadang menyesakkan. 

Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk juga kamu baca.

Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi SIHIR PEREMPUAN

Judul buku                   : Sihir Perempuan Penulis                      : Intan Paramadhita Jumlah halaman      : 158 halaman Penerbit  ...