Jangan Menikah Muda...
Usia saya masih 19 tahun kala itu, masih tahun kedua di program sarjana, masih dalam proses beradaptasi dengan kehidupan kampus yang sangat keras, karena entah kenapa, meskipun saya juara umum di sekolah asal saya, di kampus ini saya tak lebih dari anak cupu yang ternyata tak bisa apa-apa. Pernah sekali dapat nilai tertinggi pada praktikum Gambar Rekayasa dan UTS AnĂ¡lisis Statistik dan Probabilitas, tapi selebihnya nilai-nilai saya terjun bebas, jelek sekali, tak masuk hitungan sama sekali sebagai mahasiswa cemerlang.
Tapi saya juga tak pernah berencana sedikit pun untuk menikah di masa itu. Karena meskipun nilai saya tak cemerlang, itu semata karena saya memang kurang pintar dan kurang berjuang, bukan karena saya punya pacar sehingga konsentrasi belajar saya terpecah. Jadi percayalah, ketika kemudian saya menikah di pertengahan semester 3, itu bukan karena sebelumnya saya pacaran.
Kalau ditanya apa alasannya saya menikah muda, mungkin meskipun dengan rasa malu, harus saya akui bahwa saya tidak punya alasan apapun. Hidup bagi saya seperti sekumpulan kejutan yang saya serahkan sepenuhnya kepada Sang Pencipta, belakangan baru saya sadari bahwa kalimat ini sebenarnya hanyalah murni eufemisme dari "hidup tanpa rencana". Karena memang benar, saya hampir tak pernah merencanakan apapun dalam hidup saya, masuk kampus pun saya tak memilih jurusan dengan benar, maka salah saya sendiri jika ternyata jadinya saya terseret-seret mengikuti mata kuliah yang sama sekali tak bisa saya sukai.
Maka ketika pria ini datang lagi entah untuk keberapa puluh kalinya dalam lima tahun ini, mengajukan permintaan yang sama kepada Ibu dan Bapak untuk melamar saya, rasanya saya sudah kehabisan alasan untuk menolak. Sehingga ketika ibu saya berkomentar: "Sejujurnya Mamah belum pernah melihat laki-laki segigih itu, bertahun-tahun ditolak, balik lagi, balik lagi, kelihatan sekali kalau ia akan serius dan sangat sayang", akhirnya betul-betul iseng, saya terima saja. Siapa sangka jika ternyata langsung menetapkan tanggal akad dan meski masih terasa seperti mimpi, tiba-tiba saja saya sudah jadi istri seseorang.
Dan fase hidup yang baru pun dimulailah.
Siapa sangka jika kehidupan setelah menikah begitu indah, tapi sekaligus juga begitu banyak masalah. Indah karena mungkin sebelumnya kami tak pacaran, maka masa-masa awal pernikahan masih menjadi sekumpulan kesempatan bagi kami untuk saling mengenal. Saya masih sering terpesona pada sosok laki-laki yang menjadi suami saya (Mamah betul, ia memang sangat menyayangi saya). Tapi sebaliknya begitu banyak masalah, yang jika dikaji lagi saat ini setelah masing-masing dari kami sudah bertambah dewasa (dan bertambah tua bersama) semua masalah itu timbul dari satu sebab saja: kurang ilmu.
Benarlah ketika Rasulullah bersabda bahwa menikah adalah setengah dari agama, karena betapa peliknya hidup yang saya rasakan setelah menikah. Masalah bisa datang dari kanan kiri depan belakang. Dan lama sekali proses yang harus saya tempuh untuk sampai pada kesimpulan bahwa kekurangan uang ternyata bisa jadi masalah besar, meskipun selama masih berikhtiar, rezeki selalu datang entah dari mana saja.
Jika saya ditanya, semiskin apa yang pernah dialami selama menikah?, sepertinya pernah sampai tidak pegang uang sama sekali, ah bukan, ada sisa-kepingan uang logam yang ketika dikumpulkan hanya cukup untuk membeli kerupuk. Anehnya saat itu kami berdua tidak sedih, biasa saja, meskipun ada kekhawatiran berikutnya akan bagaimana, tapi saat itu, keyakinan bahwa kami saling memiliki, dan apa pun yang terjadi selama kami berdua hadapi bersama, semua akan baik-baik saja (ini adalah sejenis keberanian atau mungkin kebodohan pengantin baru).
Seiring waktu, keberanian (atau kata lain dari kebodohan) yang timbul dari cinta impulsif ini terbukti perlahan memudar, digantikan dengan pertimbangan dan sikap yang mungkin sama sekali tidak ideal namun lebih realistis. Karena untuk kami yang kemudian benar-benar menjalani hidup berdua tanpa dukungan keluarga besar, dalam kondisi yang satu masih kuliah S1 dan satu lagi kuliah S2 serta dikaruniai anak dalam waktu tiga tahun berturut-turut, hidup kemudian menjelma menjadi serangkaian ajang uji nyali. Karena ternyata bukan hal yang mudah, mengelola gaji dosen muda yang ternyata tak seberapa, dalam kondisi tiap tahun hamil dan dua-duanya masih kuliah.
Awal-awal pernikahan saya akui, sungguh kehidupan berumah tangga ini melenakan, saya terjebak dalam romansa, tak ingin kemana-mana, hanya ingin di rumah saja, menjadi ibu rumah tangga, mengerjakan semua pekerjaan yang itu-itu saja sambil menunggu suami pulang bekerja, sepertinya menyenangkan. Sampai kemudian satu kejadian besar menyadarkan saya, dan dengan berat hati saya meneguhkan hati untuk menyelesaikan kuliah S1 saya apapun yang terjadi. Belakangan, saya harus mengakui bahwa jika ada keputusan paling bagus yang pernah saya ambil dalam hidup saya yang serampangan, maka itu adalah keputusan untuk tetap berjuang memperoleh gelar S.T. Meskipun dalam prosesnya, tidak bohong jika saya bilang berkali-kali merasa ingin bunuh diri, saking beratnya.
Hal lain yang saya rasakan setelah menikah adalah saya kewalahan menyesuaikan diri dengan status saya yang baru. Banyak hal dari rutinitas saya yang harus berubah setelah hidup bersama pasangan. Adaptasi yang ternyata sangat tidak mudah, karena itu tadi: kami berdua masih kurang ilmu. Dalam perjalanan, saya temukan, cinta yang sangat besar saja ternyata tidak cukup untuk menjalankan rumah tangga. Sering sekali bahkan sekedar masalah sepele berujung pada percekcokan, bukan karena tak cinta, semata karena masalah komunikasi saja. Dan sering sekali percekcokan ini berujung pada permintaan saya untuk bercerai, duh. Untungnya, usia saya dan suami terpaut sebelas tahun (pada banyak kesempatan ia sering memperkenalkan saya sebagai anaknya yang pertama), maka dapat dipahami bahwa ialah yang selalu bersabar menghadapi semua tingkah laku saya yang ajaib. Tak pernah satu kali pun ia terpancing setiap saya meminta berpisah, dan mungkin itu salah satu faktor yang membuat kami bertahan sampai hari ini, karena ia menjelma dingin setiap saya jadi api, dan seberat apapun kesalahan saya, semurka apapun ia, sama sekali ia tak pernah menyinggung perpisahan dengan saya sebagai solusi.
Panjang sekali jika kemudian menceritakan bagaimana perjalanan rumah tangga kami selama 22 tahun ini. Namun belajar dari kesalahan-kesalahan saya, jika ada beberapa point yang bisa saya simpulkan dengan ringkas, maka kurang lebih akan seperti inilah:
1. Sebaiknya jangan menikah muda. Seandainya saya bisa mengulang waktu, saya tidak akan menikah di usia belasan, saya akan belajar saja dulu dengan tekun, kemudian bekerja dan mencari uang sebanyak-banyaknya. Bertamasya ke seluruh belahan dunia, melakukan semua hal yang ingin saya lakukan, mengupayakan mimpi-mimpi, lalu selesai dengan diri saya sendiri dahulu, baru kemudian memutuskan menikah. Menikah sambil kuliah itu berat sekali, tetangga saya gagal menyelesaikan kuliahnya dan ternyata kegagalan ini menjadi penyesalan seumur hidup, bukan hanya untuk tetangga saya, tapi juga untuk ayah ibunya.
2. Jangan salah pilih pasangan. Hidup seperti apa yang akan dijalani setelah menikah sangat tergantung dari pasangan seperti apa yang dipilih. Berapa banyak orang baik yang menjadi buruk karena menikah dengan pasangan yang salah, dan sebaliknya, banyak juga yang menjadi versi diri yang lebih baik setelah menikah. Jadi pastikan, jangan sampai salah pilih.
3. Menikahlah dengan ilmu, bukan sekedar hanya karena cinta. Tentukan tujuan menikah, untuk membangun peradaban atau tujuan lain yang lebih luhur. Seiring waktu saya menemukan, bahwa tujuan menikah untuk menghindarkan diri dari zina adalah selemah-lemahnya tujuan.
4. Menikahlah dengan orang yang benar-benar diinginkan. Saya melihat beberapa orang memutuskan menikah semata karena “kebetulan”. Kebetulan bertemu dengan seseorang pada keadaan dan kondisi yang dirasa pas, jadi ya sudah menikah saja. Mengira cinta akan tumbuh seiring waktu, tapi rasanya kurang etis juga ketika memutuskan hidup bersama, namun cinta hanya diterjemahkan sebatas tanggung jawab menafkahi dan menunaikan semua kewajiban rumah tangga lainnya.
5. Komunikasi adalah kunci, sekali lagi saya garis bawahi bahwa cinta yang besar saja tidak cukup untuk menjalani hidup berumah tangga.
6. Hati bisa berubah, maka sebaiknya perempuan tetap punya penghasilan sendiri biarpun sedikit, agar ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, perempuan punya pilihan yang hanya bisa diciptakan dari kondisi bebas secara finansial.
7. Jangan sampai pernikahan membuat kita kehilangan diri sendiri. Justru sebaliknya, menikah seharusnya membuat jiwa tenang sehingga termotivasi untuk bersama-sama menjadi versi diri yang jauh lebih baik.
Poin-poin ini bisa sangat panjang sebetulnya, mengingat pernikahan adalah hal paling rumit dalam kerangka hubungan dua manusia, makanya disebutkan bahwa pernikahan adalah ibadah seumur hidup, dan (saya lupa baca dimana), konon pernikahan adalah ikatan yang sanggup membangkitkan sisi gelap dalam jiwa yang tak pernah kita tahu ada.
Tapi saya bukan konselor, pernikahan saya sendiri masih sangat-sangat jauh dari sempurna, dan tujuan tulisan kali ini sebetulnya sederhana saja, untuk mengingatkan agar sebaiknya tidak menikah muda dan yang paling penting tidak menikah tanpa ilmu. Itu saja sebetulnya. Mohon maaf karena seperti biasa, tulisannya jadi panjang dan kemana-mana =D


Komentar
Posting Komentar