Pada Suatu Senin Dini Hari
Senin dini hari, alarmku berbunyi tepat jam setengah tiga.
Saat paling tepat untuk berkemas: mencuci muka seadanya, mengecek ransel dan barang bawaan. Dan terakhir, mengemasi air mata.
Telah kuulangi Senin seperti ini ratusan kali, tapi selalu tak pernah mudah, berpamitan dalam diam pada ketiga anakku yang tengah tertidur pulas. Menyampaikan rasa sayang dan kehilangan hanya lewat kecupan ringan di dahi. Si bungsu menggeliat dalam tidurnya, membuka mata sedikit, lalu tersenyum mengantuk sebelum kemudian tertidur lagi.
Ada perih mengendap di dasar hati. Saat kuhirup wangi kulit lembut mereka. Membiarkan kehangatannya merambat ke hati sebelum akhirnya mataku melelehkan air asin yang panas di pipi.
Dan sebelum semuanya menjadi tak tertahankan, kusandang ransel di bahu, melangkah cepat dan membuka pintu depan, menyambut kegelapan dan udara dingin di luar sana. Aku beruntung, jalanan lengang dan gelap. Aku bisa menangis sendirian sambil terus berjalan, tanpa khawatir pada teguran atau sapaan dari orang yang sekedar ingin tahu.
Suara sepatuku menggema di jalanan beraspal, dan dingin udara Bandung menggigilkan seluruh tubuhku. Sementara pertanyaan yang sama terus menerus bergema di hati ini.
Takdirkah?
Bekerja di ibu kota, semua demi masa depan yang lebih baik untuk anak-anak, sementara di saat yang sama aku meninggalkan mereka, tanpa pengawasan dari orang yang bisa kupercaya sepenuh hati.
Dan seandainya takdir tercipta di tanganku sendiri, maka ini hanyalah sederet konsekuensi logis dari pilihan yang kuambil.
Lagi-lagi air asin itu meleleh di pipiku.
Susah payah kuhentikan deraiannya sebelum sebuah angkot berhenti tepat di depanku. Cukup penuh ternyata, oleh pria-pria dengan ransel besar dan ibu-ibu dengan keranjang belanjanya.
Di pasar Subuh, para ibu ini turun. Bau amis daging, sayur mayur, dan becek sisa hujan semalam menari-nari, menyelinap ke dalam angkot. Sejenak kulihat diriku disana, setengah tahun yang lalu, dalam celemek dan golok, bersimbah darah ayam yang mengorbankan nyawanya demi menyambung hidup seorang anak manusia.
Diriku di sudut sana. Menghitung lembar-lembar lusuh yang kudapat sepagian itu. Darah dan amis menempel di ujung-ujung lembarannya. Tak seberapa, tak sebanding dengan waktu tidur yang terpotong, tak sebanding dengan kesabaran menghadapi pembeli yang rewel, tak sebanding dengan lelah, tak sebanding dengan beban moral tentang seorang sarjana teknik yang terpuruk menjadi pedagang ayam.
Dan ibu kota menjadi tumpuan terakhir. Setelah pening menghapal undang-undang, setelah malam-malam panjang dalam doa dibarengi tangis jiwa, namaku tercetak disana, satu orang yang terpilih dari ratusan pelamar, yang berjuang demi sebaris NIP , status aman dengan gaji tiap bulan dan uang pensiun.
Sejenak kepalaku pening akibat mabuk dalam euforia, sebelum kesadaranku tersentak menatap ketiga anakku yang masih balita. Si sulung dan si tengah belum masuk TK, sedang si bungsu sendiri belum bisa bicara dengan jelas. Mereka masih terlalu kecil untuk ditinggal. Dan aku, masih terlalu rapuh untuk melewatkan sehari saja tanpa mereka.
Bimbang dan ragu…
Lalu bagaimana?, kesempatan tak datang dua kali.
Kenangan itu lalu menyeruak, Kakak tersedu sepulang bermain.
“Kenapa Kak?”, tanyaku lembut.
“Kakak diejek Awa, Bu, katanya baju Kakak jelek”. Aku tertegun, mengangkat lembut dagunya, menentang matanya.
“Jangan sedih Kak, bilang pada Awa, baju Kakak jelek, tapi Kakak pintar”.
Ucapanku tak membantu. Ia tak mengerti apa itu pintar, ia hanya mengerti bajunya tak sebagus baju temannya.
Dan aku merasa jadi orang paling berdosa. Aku, sarjana institut terbaik negeri ini, tapi tak sanggup beri kehidupan lebih baik untuk anakku sendiri.
Maka kukeraskan hatiku. Kuyakinkan diri sendiri bahwa cinta tak berarti selalu dekat. Untuk apa cinta, jika saat mereka sakit aku tak bisa beli obat. Untuk apa cinta jika saat mereka ingin sekolah, aku tak punya uang untuk membeli buku. Sementara aku berdalih semua yang kulakukan untuk anakku, lalu apa artinya jika aku tak dapat membuat mereka berjalan dengan kepala tegak.
Maka disinilah aku sekarang. Di dini hari yang dingin ini, menanti bus malam menuju Jakarta, berebut kursi penumpang dengan pejuang-pejuang lain yang juga mencari nafkah disana.
Bayangan tentang si sulung yang ingin jadi dokter, si tengah yang ingin jadi pilot, dan si bungsu yang ingin jadi insinyur, sudah cukup menjadi energi untukku melewatkan 5 hari yang sepi di ibu kota. Kesepian, muak, jenuh. Melihat dahi-dahi yang berkerut, senyuman mekanis dan derap langkah yang selalu terburu-buru mengejar waktu.
Mungkin aku tak bisa mengubah dunia. Aku tak menyumbang apa pun untuk peradaban. Tapi setidaknya aku ingin, anak-anakku, darah dagingku, yang akan tinggal di masa depan, tidaklah menjadi generasi yang lemah. Aku tak ingin mereka jadi sampah peradaban yang hanya bisa mengandalkan hidup dari belas kasihan orang, aku tak ingin mereka menghabiskan waktunya hanya untuk sekedar berjuang untuk dapat hidup. Aku ingin mereka jadi orang besar, dengan jiwa dan pikiran yang juga besar. Dan pendidikan adalah salah satu jalan menuju kesana.
Bus melaju kencang di jalan yang lengang. Radio tapenya melantunkan sebuah lagu yang telah lama kukenal baik: Fix You, ColdPlay.
When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse
And the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
could it be worse?
Lights will guide you home
and ignite your bones
And I will try to fix you
High up above or down below
when you're too in love to let it go
but If you never try you'll never know
Just what your worth
Lights will guide you home
and ignite your bones
And I will try to fix you
Tears streaming down your face
When you lose something you cannot replace
Tears streaming down your face and I
Tears streaming down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down your face and I
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
Hatiku pilu, mendengar alunan musiknya, meresapi bait-bait lagunya. Tapi dukaku terasa terwakili. Dan kelegaan timbul begitu saja. Aku yakin anak-anakku mengerti, bahwa aku sedang berjuang untuk mereka. Dan aku yakin pula, mereka tak akan menyia-nyiakan perjuanganku.
Hingga pada suatu hari di masa depan, kami bisa membuktikan pada dunia tanpa perlu banyak kata, bahwa kami adalah penguasa bagi takdir kami sendiri. Kami adalah para pejuang, dan kami menang.
Nak, kita ditantang seratus dewa.
*Catatan saya pada Februari 2011, ditemukan dari file di komputer lama

Komentar
Posting Komentar