Senin, 11 Mei 2026

Sinopsis SEORANG ANAK YANG BERSEMBUNYI DI BALIK TOPENG SUPERHERO


Judul Buku            : Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero

Penulis                   : dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ

Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Jumlah halaman    : 246 halaman


Kamu mungkin bertanya, “Apakah aku pantas jadi superhero?”

serius, nih?

coba lihat ke belakang, ke semua perjalanan yang sudah kamu lalui,

orang yang sudah kamu bantu,

kata baik yang pernah kamu ucapkan,

hewan yang pernah kamu berikan makan,

tanaman yang pernah kamu siram,

dan diri sendiri yang telah kamu jaga selama ini.

Kamu sudah menjadi superhero. 

Kamu pun melakukan itu semua dengan segala keterbatasanmu. Itulah yang membuatmu menjadi super. (hlm. 246)

 

Dimulai dari buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring, akhirnya saya jadi penggemar bukunya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ. Jadilah setiap beliau mengeluarkan buku baru, saya pasti langsung beli. Judulnya memang selalu unik-unik, bukunya yang kedua berjudul Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya, dan buku yang ketiga: Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero. 

Buku ketiga ini bukan hanya judulnya saja yang menarik, tapi cover-nya juga, di bagian depan ada sesosok anak kecil yang sedang bermain superhero-superheroan, lengkap dengan pedang mainan, jubah dan ikat kepala.

Di sebelah anak kecil tersebut ada frame foto yang menampilkan superhero beneran. Menariknya ketika lembar cover dibuka ternyata frame foto itu adalah lubang yang menampilkan si superhero,  lembaran dibaliknya menampilkan gambar utuh si anak yang sama, namun terlihat sedang ketakutan dan berlindung pada si superhero yang melawan naga api. 


Menurut saya cover buku ini sudah dipilih dengan seksama dan terbukti sangat berhasil menggambarkan isi buku. Tak cukup sampai disitu, bahkan pembatas bukunya sendiri menyerupai topeng mainan yang banyak dijual depan sekolah SD dulu lengkap dengan lubang di kedua sisinya yang bisa dipasangi karet gelang untuk diselipkan di telinga.


Topeng mainan ini sengaja berwarna putih agar bisa digambar dan diwarnai sesuai dengan keinginan. Ini topeng saya yang sudah diwarnai =D


Hal lain yang mengesankan dari buku-bukunya dr. Andreas adalah Kata Pengantar, jika buku-buku lain biasanya dibuka dengan kata pengantar yang membosankan dengan template yang sama (biasanya saya cenderung skip bagian kata pengantar =D), tapi bagian kata pengantar dalam ketiga buku dr. Andreas selalu menjadi pembuka buku yang  menarik untuk dibaca, biasanya diawali dengan cerita yang kemudian benar-benar mengantarkan pembaca kepada isi buku. Saya menemukan satu bagian yang menarik dalam kata pengantar buku ini: Aku menyadari bahwa identitas bukan sesuatu yang ditemukan -itu adalah sesuatu yang kita bentuk dengan segala pilihan kita, dan pilihan orang-orang lain di sekeliling kita. Buku ini membahas tentang mengenali diri sendiri: kita ini siapa dan ingin menjadi seperti apa? (hlm xviii).

Masuk ke isi, buku ini terdiri dari dua belas bagian yang dimulai dengan angka 1 sampai 12, ditambah dengan empat bagian yang saya perhatikan menjadi bentuk baku dalam buku-bukunya dr. Andreas: (1) Epilog (dalam buku ini judulnya Tutorial Menulis Surat untuk Inner Child); (2) Bacaan Lebih Lanjut; (3) Ucapan Terima Kasih dan; (4) Tentang Penulis.

Bagian pertama berjudul Kenapa Harus Dilahirkan, pertanyaan ini ternyata adalah pertanyaan yang paling sering disampaikan pasien dalam sesi konsultasi, “Kenapa kita harus dilahirkan di dunia?, padahal kita tidak pernah minta dilahirkan”. Lalu dengan bijak buku ini akan menyarankan padamu bahwa mungkin kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tetapi kita memiliki kekuatan untuk menciptakan makna dan keberuntungan dalam hidup kita sendiri (hlm 19).

Bagian kedua berjudul Anak Kecil yang Nyasar di Rumah Sendiri,  bagian ini bercerita tentang salah satu pasien bernama Stelora, seorang ibu berusia 34 tahun dengan gangguan kecemasan yang ternyata merupakan peninggalan dari pola asuh dan luka masa kecil yang belum sembuh. Entah bagaimana, saya yakin banyak sekali dari kita (bahkan mungkin saya sendiri) yang sebetulnya merupakan Stelora-Stelora lain dengan luka yang beragam.

Bagian Ketiga berjudul Seorang People Pleaser yang Merasa Berdosa Saat Membangun Boundaries. Dari buku pertama, buku-bukunya dr. Andreas  banyak sekali bicara tentang teori-teori psikologis yang disampaikan dengan ringan dan mudah dicerna, sehingga sejujurnya saya banyak sekali belajar dari buku-bukunya beliau. Dari buku ini, saya menemukan bahwa menurut Adam Grant terdapat tiga jenis manusia: giver (pemberi) yaitu orang yang cenderung memberikan sesuatu atau membantu orang lain, taker (penerima) yang merupakan kebalikan dari giver dan selalu berusaha mendapatkan sesuatu dari orang lain, dan matcher (penyeimbang), karakter unik yang bisa memberi namun juga bisa menerima. Ini sebetulnya relate dengan ungkapan yang cukup sering beredar di sosmed: “orang ngga enakan biasanya ketemu sama orang ngga tau diri”, ditinjau dari teori Adam Grant ini, mungkin maksudnya giver yang selalu ingin memberi ketemunya sama taker yang selalu mau diberi. 

Dalam dunia kerja orang paling sukses dan paling tidak sukses ternyata adalah giver, yang membedakan adalah giver yang tahu batasan menjadi yang paling sukses sementara yang cenderung  mengorbankan diri dan menjadi people pleaser akan selalu jadi korban yang dimanfaatkan orang lain. Tanpa boundaries, giver ini menjadi people pleaser yang ternyata sangat tidak sehat. Maka berani mengatakan “tidak” pada permintaan orang lain sebetulnya adalah salah satu bentuk self respect, karena ternyata kemampuan untuk mengatakan “tidak” merupakan salah satu sikap yang harus dilatih. Intinya, buatlah boundaries, berani mengatakan tidak, tetaplah jadi orang baik tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Bagian Keempat berjudul Kita Semua Mengenakan Topeng, bab ini bercerita tentang pasien lain bernama Victor dan dalam bagian ini juga diterangkan konsep persona dan shadow yang digagas oleh Carl Jung. Dalam konsep persona, diri kita yang apa adanya disebut self, namun dalam interaksi dengan orang lain, kita perlu mengenakan sebuah topeng yang disebut sebagai persona, dan persona ini berubah-ubah bukan karena plin-plan melainkan fleksibel sesuai dengan peran kita, sebagai dokter atau guru, sebagai istri atau suami, sebagai anak atau orang tua.

Yang menjadi masalah adalah ketika beberapa topeng terasa lebih sesak untuk dikenakan dibanding topeng lainnya, ketika kita mengenakan topeng yang sama di semua situasi dan ketika kita mengenakan suatu topeng tanpa menyadari topeng apa yang dikenakan atau dengan kata lain kita  terlalu erat memegang topeng yang menurut Jung bukanlah diri sejati kita.  Dan mengenakan topeng ini ternyata tidak gratis, ada harga yang harus dibayar dan harga tersebut biasanya ditekan ke dalam suatu ruangan bernama shadow, contoh kecil: orang dengan topeng penyabar akan menekan marahnya ke dalam shadow, dan sayangnya shadow ini pun seperti gudang yang punya kapasitas penyimpanan dan dalam batas tertentu bisa meledak juga. Saran di akhir bagian menyatakan bahwa pada waktu-waktu aman, belajarlah untuk melepas semua identitas, untuk kemudian menyadari bahwa di balik semua label dan topeng, kamu adalah manusia yang sedang belajar menjadi utuh (hlm. 69).

Bagian Kelima berjudul Mencintai Orang Asing di Dalam Cermin. Pada bagian ini diceritakan bahwa pada tahun 1970 an seorang psikolog Austria bernama Heinz Kohut menyatakan bahwa seorang anak perlu memenuhi tiga kebutuhan agar menjadi utuh: mirroring needs (kebutuhan untuk divalidasi), idealizing needs (kebutuhan untuk memiliki role model), dan twinships needs (kebutuhan untuk menemukan kembaran). Ketika dalam perjalanan hidup ternyata kita tidak dibesarkan dalam lingkungan yang memenuhi ketiga kebutuhan itu, maka menjadi tanggung jawab diri kita sendiri untuk memenuhinya. ‘Mulailah dengan mencintai refleksi yang kamu temukan di dalam cermin. Mungkin kamu mengatakan, “Aku tidak tahu cara mencintaiku diriku!’ Jika demikian pun, tidak apa. Mulailah berkenalan dulu dengan sosok itu. Meminjam istilah Kunto Aji, temuilah kembali “Orang asing dalam cermin’ itu. Bukankah kita berkenalan dahulu, baru jatuh cinta?, hlm 81.

Bagian keenam berjudul Warisan Itu Bernama Trauma. Saya menemukan banyak sekali fakta menarik ketika membaca bagian yang ini, pertama saya baru tahu bahwa trauma ternyata berasal dari istilah medis, bukan istilah psikologis. Menurut kamus Merriam-Webster, trauma adalah sebuah cedera pada jaringan yang diakibatkan sebab dari luar. Trauma berarti luka atau benturan. Respons tubuh terhadap trauma yang diterjemahkan sebagai rasa sakit ternyata bertujuan untuk melindungi diri dan juga sebagai survival agar di kemudian hari kita tidak mengulangi tindakan serupa. Selain trauma fisik, trauma psikologis pun ternyata berdampak sama. Kedua, saya juga baru tahu bahwa ternyata ada kosa kata baru: menyakutkan yang merupakan gabungan dari menyakitkan dan menakutkan (ini kosa kata baru ciptaan dr. Andreas sendiri hehehe...). Ketiga, trauma menyebabkan suatu fenomena yang disebut speed-accuracy tradeoff, yang artinya kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa sejarah pasti berulang. Dengan kata lain kita terlalu cepat memprediksi sesuatu berdasarkan data dari masa lalu. Sayangnya otak manusia selalu membuat prediksi yang belum tentu benar, dan sayangnya ketika prediksi dibuat, tanpa sadar kita berusaha membuktikan prediksi tersebut. Contoh sederhananya, ketika saya pernah bertemu dengan orang berusia lanjut yang cenderung bawel dan ikut campur, dengan mudah saya akan membuat prediksi bahwa semua orang lanjut usia itu bawel dan ikut campur.

Kelima, saat menghadapi kondisi yang traumatis, ada tiga hal yang akan kita lakukan: satu, mencari bantuan atau dukungan sosial, kedua, ketika tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan kita akan masuk mode kedua: fight or flight, ketiga ketika tidak bisa melawan ataupun melarikan diri kita masuk ke kondisi freeze atau membeku.

Keenam, ada trauma yang diwariskan antar generasi, dan menjadi tugas kitalah untuk memutus trauma transgenerasi tersebut.

Bagian Ketujuh berjudul Tutorial Merapikan Rumah yang Berantakan, rumah yang dibahas pada bagian ini adalah rumah dalam arti fisik juga dalam arti psikis. Karena ternyata bukan hanya rumah fisik yang bisa terdiri dari kompartemen-kompartemen dan berantakan, tapi pikiran juga. Langkah-langkah untuk merapikan rumah adalah: (1) Merencanakan sebelum membersihkan; (2) Benda lama: simpan, buang atau ganti; (3) Selesaikan satu sudut dalam satu waktu; (4) Gunakan alat yang tepat sesuai masalahnya; (5) Cari bantuan, jangan lakukan sendirian; (6) Berikan sentuhan baru; (7) Rawat dan pertahankan kebersihan rumah.

Bagian kedelapan berjudul Seorang Pilot Helikopter yang Pelupa. Bagian ini menjelaskan tentang identitas dengan cara yang amat sangat tidak biasa. Kita sudah tahu bahwa dr. Andreas adalah seorang dokter jiwa dan penulis, tapi bagaimana kalau ia pun mengklaim sebagai seorang pilot helikopter?, bukankah sah saja ia mengaku sebagai pilot helikopter. Disini kita berkenalan dengan konsep identitas palsu atau asli, dalam hal identitas profesi, identitas real or fake ini dinyatakan salah satunya dengan sertifikat atau ijazah. Dalam psikologi, identitas merupakan gabungan dari persepsi diri dan perilaku yang konsisten. Contoh sederhananya ketika kita menyatakan bahwa kita pelupa, diikuti dengan perilaku sering ketinggalan barang, maka “pelupa’ sudah menjadi identitas kita. Namun jangan khawatir karena identitas bisa diubah.

Bagian kesembilan berjudul Cara Memaafkan Kesalahan Seorang Petani Stroberi. Sejujurnya saya agak kesulitan mensarikan bagian ini, tapi untuk cepatnya tiga kalimat berikut sepertinya mewakili:

  1. Generasi stroberi mungkin dicap lemah dan kurang tahan banting, tapi bukankah yang menciptakan mereka adalah petani stroberi (generasi sebelumnya) yang sudah mendidik mereka sehingga jadi seperti itu.
  2. Penderitaan = rasa sakit – penerimaan, salah satu teknik mengurangi penderitaan adalah dengan menerima rasa sakit itu sendiri tanpa bertanya mengapa.  (hlm 162)
  3. Penderitaan = rasa sakit x penolakan, semakin kita menolak realitas atau menolak rasa sakit tersebut, penderitaan yang kita alami jadi berlipat ganda. (hlm 162)

Bagian kesepuluh menceritakan tentang Seorang Dokter yang Membohongi Pasiennya, bagian ini untuk saya adalah bagian paling emosional dari buku ini, saya tidak akan ceritakan, karena khawatir rangkuman malah akan mengurangi makna dari keseluruhan cerita di bagian kesepuluh ini.

Selanjutnya bagian kesebelas Rantai Trauma yang Harus Diputus dan bagian ke dua belas Menjadi Inner Parent untuk Inner Child adalah bagian penutup buku yang menceritakan juga akhir kunjungan Stelora dan Victor, keduanya menunjukkan tanda-tanda sembuh dari trauma dan hal lain yang menyebabkan mereka harus datang berkonsultasi sebelumnya.

Bagian Epilog: Tutorial Menulis Surat untuk Inner Child berisi langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika kita ingin memberikan penjelasan kepada inner child di dalam diri kita tentang apa yang terjadi pada hidup kita selama ini. 

Usai menamatkan buku ini, saya rasa testimoni dari Disya Arinda yang tercetak di akhir buku memberikan gambaran yang paling sempurna: “Buku ini seperti seorang sahabat: memeluk sembari mengingatkan. Bertumbuh dengan luka masa lalu memang tidak terhindarkan, tapi tidak ada kata terlambat untuk berusaha pulih dan menentukan siapa dirimu hari ini." 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi SIHIR PEREMPUAN

Judul buku                   : Sihir Perempuan Penulis                      : Intan Paramadhita Jumlah halaman      : 158 halaman Penerbit  ...