Sabtu, 16 Mei 2026

Resensi THE BOOK OF LOST THINGS (KITAB TENTANG YANG TELAH HILANG)


 

Judul Buku                 : The Book of Lost Things (Kitab Tentang yang Telah Hilang)

Pengarang                  : John Connoly

Alih Bahasa                : Tanti Lesmana

Penerbit                      : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Jumlah Halaman        : 472 halaman

 

Dongeng ini diperuntukkan bagi orang dewasa, terutama yang masih ingat saat-saat ketika masa kanak-kanak mulai berlalu dan jalan menuju kedewasaan telah terbentang.

Buku ini saya dapatkan sebagai hadiah milad dari sahabat saya pada tahun 2015, dan yang saya ingat, ini buku dongeng paling aneh yang pernah saya baca. Jadilah ketika saya menemukan buku ini lagi saat membereskan rak buku, saya memutuskan untuk membaca ulang. Dan buku ini memang page-turner banget, seseru itu, saya menamatkannya hanya dalam waktu satu hari, itu pun karena disela kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah yang memang selalu ada, seperti memasak dan sebagainya. 

Kisah bermula tentang seorang anak laki-laki bernama David, yang kemudian ditinggalkan wafat oleh ibunya karena sakit. Kehilangan dan perasaan berduka yang amat sangat membuat David harus berkonsultasi dengan psikiater di kotanya (Dr. Moberley), namun dalam sesi-sesi konsultasinya, David tidak pernah mengatakan bahwa ia mendengar buku-buku berbicara. 

David memang sangat menyukai buku, untuk David, buku adalah hal yang menjaga ingatan tentang ibunya, karena sama seperti David, ibunya pun penyuka buku cerita dan dongeng-dongeng kuno, berkebalikan dengan ayahnya yang juga suka membaca namun bacaan dalam jenis lain. Baru saat membaca ulang buku ini lagi, saya paham ayah David adalah seorangan matematikawan dan pekerjaan ayahnya adalah memecahkan sandi pasukan Jerman. Cerita ini memang berlatar belakang Inggris saat terjadi perang dunia kedua.

Belum lama setelah ditinggal wafat oleh ibunya, David harus menerima bahwa ayahnya ternyata menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Rose dan ia akan segera punya adik. Dan mengantisipasi serangan Jerman, David kemudian harus ikut pindah ke rumah keluarga Rose yang jauh dari pusat kota, rumah besar yang bersebelahan dengan hutan, dan David mendapat kamar di lantai atas yang penuh dengan buku. Belakangan David mengetahui bahwa kamar yang ia tempati ternyata adalah kamar paman buyut Rose, Jonathan Tulvey yang telah lama menghilang bersama Anna, adik angkat perempuannya. Dan buku-buku di kamar itu sebagian besar memang buku-buku milik Jonathan.

Setelah pindah ke kamar itu, David merasa semakin sering mendengar gumam buku-buku berbicara, seolah kisah-kisah dalam buku-buku tersebut sedang menunggu untuk dihidupkan kembali. Dan ia pun sering bermimpi dan bahkan melihat sesosok aneh laki-laki bertubuh bungkuk. Tak jarang dalam mimpinya ia juga melihat sebuah negeri lain yang sedang menanti raja baru. Dan yang tak kalah aneh, David merasa mendengar suara ibunya memanggil-manggil, meminta diselamatkan.

Diceritakan pula bahwa David tak akur dengan Rose, dan ketidakakuran itu semakin menjadi-jadi setelah Rose melahirkan Georgie. Pertengkaran mereka kemudian mencapai puncaknya dan akhirnya mendorong David mengikuti suara ibunya yang memanggil-manggil dan menuntunnya ke dunia lain yang ternyata tersembunyi di balik kebun cekung rumah Rose.

Dan petualangan David pun dimulailah. Negeri lain ini ternyata sangat menakutkan, baru saja datang, ia yang kebetulan bertemu dengan seorang laki-laki yang kemudian disebut Si Tukang Kayu, sudah harus berhadapan dengan segerombolan manusia serigala yang disebut Kaum Loup. Selamat dari mereka, Si Tukang Kayu kemudian bercerita tentang makhluk-makhluk aneh yang tiba-tiba saja muncul, karena konon Raja yang menguasai negeri itu sudah hampir kehilangan pengaruhnya dan sedang mencari pengganti.

David dianjurkan untuk pulang, negeri itu tak aman untuk David, namun kemudian, pohon yang menjadi pintu masuk David ke negeri itu tak bisa ditemukan, sehingga si Tukang Kayu kemudian menyimpulkan, David adalah bagian dari cerita di negeri itu. Akhirnya Tukang Kayu memberikan saran, David harus menemui Raja, karena konon katanya Raja mempunyai sebuah Kitab yang berjudul Kitab tentang yang Telah Hilang, kitab itu sangat berharga untuk Raja, mungkin saja kitab itu berisi peta seluruh negeri yang bisa menunjukkan bagaimana cara agar David bisa pulang kembali ke rumahnya. (Belakangan baru diketahui bahwa kitab ini ternyata 'hanyalah' buku harian Jonathan ketika kecil sebelum masuk ke negeri ini).

Tukang Kayu memutuskan untuk mengantar David, namun baru saja memulai perjalanan, Tukang Kayu sudah harus mengumpankan dirinya kepada para Loup yang mengejar David, jadilah David harus melanjutkan perjalanannya seorang diri. Entahlah, jika ada dalam posisi David, mungkin saya tak akan sanggup, bayangkan saja, harus berjalan sendirian melintasi negeri asing yang aneh dengan banyak makhluk tak terduga,  tanpa bekal apapun.

Membaca buku ini kedua kali, mau tidak mau saya merasa kagum pada perkembangan karakter David, ia datang ke negeri itu sebagai seorang anak laki-laki kecil yang getir karena kehilangan ibunya, sedang sangat cemburu pada adik tirinya, penuh dengan kebencian dan kemarahan pada ibu tirinya. Namun dalam perjalanan penuh bahaya dan sendirian itu, ia bertransformasi menjadi sosok yang cerdik dan pemberani. Kesedihan dan kemarahannya entah bagaimana bertransformasi menjadi kekuatan yang menuntunnya untuk tetap tangguh dan berpikir jernih bahkan pada saat-saat genting yang mengancam nyawa. Dan terbukti, pengetahuan dari buku-bukunya membantu, pada beberapa kesempatan ia berhasil lolos dari kejadian berbahaya berbekal cerita dari buku-buku yang sebelumnya ia baca, contohnya saat ia harus memilih dari dua jembatan yang dijaga troll, mana jembatan yang harus dipilih ketika satu troll suka berbohong sementara troll yang lain jujur. Ia mengajukan pertanyaan pada salah satu troll itu: "Apa yang akan dikatakan temanmu di jembatan seberang jika kutanyakan, jembatan mana yang aman untuk dilalui?", membaca bagian ini saya jadi teringat bahwa ini memang cerita yang cukup terkenal, jika tidak salah, ini satu cerita yang kurang lebih sama dari kisah Abu Nawas.

Negeri ini ternyata memang sangat aneh, ketakutan-ketakutan bawah sadar mewujud menjadi makhluk-makhluk di dunia nyata: kaum Loup ternyata adalah wujud ketakutan Raja, dan David sendiri yang takut pada cacing besar raksasa, penyihir dalam kastil dan pria penyuka sesama jenis ternyata bertemu ketiganya di negeri ini. Dengan imbalan akan diantar sampai ke tempat Raja, David setuju menjadi pengawal seorang ksatria bernama Roland yang sedang dalam perjalanan mencari Raphael (pria muda yang ternyata sangat dicintainya), menuju kastil penyihir yang dituju Raphael untuk membuktikan diri, dan untuk mendapatkan bekal dalam perjalanan, mereka membantu penduduk desa untuk membunuh cacing raksasa.

Di balik bayang-bayang, ada satu tokoh antagonis yang ternyata mengendalikan jalannya keseluruhan cerita, ialah si Lelaki Bungkuk, makhluk tua yang punya banyak nama sekaligus juga mungkin tak punya nama, Tukang Kayu menyebutnya Makhluk Jail, tapi sesungguhnya ialah  penguasa sejati di negeri itu, bukan sang Raja.

Di penghujung cerita, David menemukan bahwa ternyata Raja adalah Jonathan Tulvey, ia menjadi penguasa bayangan di negeri ini sebagai pertukaran kesepakatan dengan Si Lelaki Bungkuk, ia hanya perlu menyebutkan nama Anna adiknya dengan penuh kebencian, dan membawa sang adik ikut ke negeri itu, tanpa tahu bahwa setelah itu, si Lelaki Bungkuk akan memakan jantung Anna, dan mendapat tambahan usia sebanyak jatah umur Anna.

Jonathan mendapatkan kekuasaannya dari pengkhiatan terhadap adiknya yang lebih lemah yang seharusnya dilindungi, maka meskipun menjadi raja, ia tak pernah merasa bahagia sepanjang hidupnya. Dan kini Jonathan sudah mendekati akhir usianya, begitu pun si Lelaki Bungkuk yang terikat pada usia Jonathan, maka untuk dapat meneruskan hidup, si Lelaki Bungkuk harus mencari korban lainnya, seorang anak yang memiliki cukup kebencian sehingga sanggup menyerahkan sasaran kebenciannya sebagai pertukaran terhadap kekuasaan sebagai raja.  Melihat kondisi David yang hampir sama dengan Jonathan, sama-sama punya adik baru yang dianggap akan merebut kasih sayang orang tua, si Lelaki Bungkuk pun menawarkan posisi raja kepada David dengan syarat yang sama, David harus membawa Georgie dan menyebutkan namanya sebagai syarat kesepakatan. Sayangnya David yang sudah mengetahui keseluruhan fakta, memutuskan menolak tawaran itu pada detik-detik yang menentukan, sehingga Lelaki Bungkuk yang tak memperoleh perpanjangan usia lalu musnah, dan begitu pun kastilnya. 

Singkat cerita, David akhirnya bisa kembali pulang, bertemu kembali dengan ayahnya, dan jadi begitu menyayangi Rose dan Georgie. Diceritakan bahwa David meneruskan hidup sampai tua dan di ujung usianya ia memutuskan kembali masuk ke negeri aneh itu, di negeri itu ia bertemu kembali dengan Tukang Kayu yang ternyata adalah ayahnya sendiri, dan juga bertemu dengan istri dan anaknya yang telah wafat lebih dulu. 

Buku ini  termasuk ke dalam salah satu buku yang mengesankan untuk saya. Meskipun beberapa cerita di dalamnya sangat gelap, namun cerita itu menetap di sudut kepala, memesona dengan caranya sendiri. 

Oh ya, sebelum lupa saya ingin menyampaikan informasi tambahan yang 'penting banget': dalam buku ini sama sekali tidak ada kata pengantar, ucapan terima kasih penulis, pengantar penerbit atau glossary atau tambahan apa pun sebagaimana umumnya sebuah buku, buku ini benar-benar berisi keseluruhan inti cerita saja tanpa tambahan apapun selain halaman judul, informasi penerbitan, dan dua puisi pembuka di halaman pertama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi SIHIR PEREMPUAN

Judul buku                   : Sihir Perempuan Penulis                      : Intan Paramadhita Jumlah halaman      : 158 halaman Penerbit  ...