Punya banyak anak di zaman sekarang ini adalah sebuah anakronisme a.k.a menentang kelaziman a.k.a siap-siap untuk dicemooh. Setidaknya begitulah yang kadang saya rasakan. Ungkapan “banyak anak, banyak rezeki” yang dahulu begitu akrab di telinga, sekarang lebih sering digantikan dengan berbagai pertimbangan yang sebenarnya sangat masuk akal: biaya pendidikan, kesehatan, waktu, perhatian orang tua, sampai pertanyaan apakah kita sanggup memberikan kehidupan yang layak kepada setiap anak. Maka ketika saya hamil anak kelima, komentar pun berdatangan.
“Memangnya enggak KB?”
“Lho, hamil lagi? Repot banget dong.”
Ada pula yang lebih menusuk:
“Kamu kayak kucing ya, beranak terus.”
Atau,
“Ya ampuuun, hamil lagi? Enggak kasihan sama kakak-kakaknya? Mereka kan masih butuh perhatian.”
Ada juga komentar yang mungkin sebenarnya disampaikan karena perhatian.
“Hamil anak kelima? Wah, kamu kaya ya. Saya punya anak dua saja khawatir terus.”
Atau nasihat seorang Uwa:
“Punya anak mah dua saja tapi berkualitas dan jadi orang semua. Daripada banyak tapi enggak keurus. Biaya sekolah makin ke sini makin mahal, De.”
Kalau dipikir sekarang, mungkin sebagian orang memang tidak bermaksud jahat. Dan sebagian kekhawatiran mereka bahkan masuk akal. Punya banyak anak memang membutuhkan biaya, tenaga, waktu, dan perhatian yang tidak sedikit. Masalahnya, ketika sedang hamil, lelah, dan diam-diam saya sendiri sedang mempertanyakan kemampuan menjadi ibu, kalimat-kalimat itu masuk ke tempat yang paling rapuh.
Iya ya.
Kenapa saya hamil lagi?
Apa anak-anak saya kurang terurus?
Apa saya terlalu ceroboh?
Apa saya sebenarnya ibu yang buruk?
Pertanyaan orang lain akhirnya berubah menjadi pertanyaan saya kepada diri sendiri. Dan sejujurnya, memang tidak mudah. Saat itu kuliah S2 saya belum selesai. Pekerjaan rumah dikerjakan tanpa khadimat. Suami punya pekerjaan dan kesibukan lain. Anak-anak masih kecil dan membutuhkan hal berbeda pada waktu yang sering kali bersamaan.
Ada hari ketika cucian menumpuk, si sulung minta dibuatkan kostum untuk tugas seni, anak kedua mencari pensil warna, anak ketiga berteriak mencari kaus kaki, sementara si bungsu menangis minta ASI. Di saat yang sama, tugas kuliah mengejar deadline. Dan saya sedang hamil lagi.
Pada hari-hari seperti itu saya sering menangis sendirian. Bukan tangisan penuh hikmah. Bukan pula tangisan seorang ibu hebat yang kemudian tersenyum dan berkata semua akan baik-baik saja. Saya cuma capek. Kadang bahkan sangat capek.
Ada saat ketika saya bertanya kepada Tuhan: Kenapa Engkau menitipkan anak lagi ketika yang sudah ada saja rasanya belum mampu kujaga sebaik-baiknya?
Ketika anak pertama tidak menjadi juara kelas, saya berpikir mungkin kalau anak saya cuma satu atau dua, saya akan punya lebih banyak waktu menemaninya belajar. Ketika anak kedua terlalu banyak bermain game, saya membayangkan seandainya punya lebih banyak waktu, mungkin saya bisa lebih sering mengajaknya beraktivitas.
Begitu terus.
Setiap kekurangan anak terasa seperti bukti kegagalan saya sebagai ibu. Dan setiap kegagalan saya hubungkan lagi dengan jumlah anak. Mungkin karena itulah komentar orang begitu mudah melukai. Sebab jauh sebelum mereka meragukan kemampuan saya, sebenarnya saya sendiri sudah lebih dulu meragukannya.
Butuh waktu bagi saya untuk melihat semuanya dengan sedikit lebih jernih. Saya tidak harus berpura-pura bahwa mempunyai banyak anak selalu menyenangkan. Memang repot. Memang mahal. Memang melelahkan. Dan perhatian orang tua memang harus dibagi.
Mengakui semua itu tidak berarti saya kurang bersyukur kepada Allah atas kehadiran anak-anak saya. Justru mungkin saya baru bisa benar-benar bersyukur ketika berhenti memaksa diri mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Karena di tengah semua kerepotan itu, ada begitu banyak hal yang ternyata berjalan baik. Kehamilan-kehamilan saya bisa dilewati. Persalinan saya dimudahkan. Anak-anak lahir dan tumbuh.
Dan rumah yang kadang begitu berisik sampai membuat kepala rasanya mau pecah itu, ternyata juga rumah yang dipenuhi manusia-manusia yang sangat saya sayangi. Saya tidak perlu membandingkan keberuntungan saya dengan kesulitan perempuan lain untuk mengetahui bahwa semua itu adalah karunia. Cukup melihat kehidupan saya sendiri. Dan berkata: Alhamdulillah.
Saya juga perlahan belajar bahwa anak bukan medali keberhasilan orang tua. Punya satu, dua, lima, atau tidak punya anak sama sekali tidak membuat seseorang lebih baik daripada orang lain. Setiap keluarga mempunyai cerita, pertimbangan, kemampuan, bahkan luka yang tidak selalu kita ketahui. Maka saya tidak ingin menjadikan pengalaman saya sebagai argumen bahwa punya banyak anak lebih baik. Tidak juga ingin mengatakan bahwa kekhawatiran tentang biaya, pendidikan, atau kesiapan orang tua tidak penting. Semuanya penting.
Saya hanya sedang mencoba berdamai dengan kehidupan yang kebetulan diberikan kepada saya. Kehidupan dengan rumah yang ramai. Cucian yang sepertinya berkembang biak sendiri. Barang sekolah yang selalu hilang lima menit sebelum berangkat. Anak yang memanggil “Mamah” hampir bersamaan dari empat penjuru rumah. Dan seorang ibu yang berkali-kali merasa tidak sanggup, tapi besok pagi tetap bangun dan mencoba lagi.
Ada satu ayat yang sering saya pegang ketika merasa kewalahan: bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dulu saya memahaminya dengan sangat sederhana: Kalau Allah memberi saya semua ini, berarti saya pasti mampu. Sekarang saya rasa maknanya bagi saya sedikit berbeda. Mampu bukan berarti tidak pernah lelah. Bukan berarti tidak boleh menangis. Bukan berarti rumah harus selalu rapi, anak-anak harus selalu berprestasi, makanan harus selalu tersedia sempurna, dan seorang ibu harus sanggup mengerjakan semuanya sambil tetap tersenyum.
Mungkin “mampu” kadang cuma berarti diberi kekuatan untuk menjalani hari ini. Besok, minta kekuatan lagi. Saya juga tidak tahu apa hikmah dari setiap kehamilan yang datang ketika saya merasa belum siap. Saya tidak ingin sok tahu menebak-nebak maksud Tuhan. Yang saya tahu, anak-anak itu sudah ada di sini. Dan mereka adalah orang-orang yang saya cintai.
Maka tugas saya sekarang bukan membuktikan kepada siapa pun bahwa saya sanggup mempunyai banyak anak. Bukan pula membuktikan bahwa komentar orang lain salah. Tugas saya jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih sulit: belajar menjadi ibu yang lebih baik untuk mereka. Tidak harus ideal. Tidak harus sempurna. Cukup terus belajar.
Kadang berhasil.
Kadang salah.
Kadang sabar.
Kadang setelah marah malah masuk kamar lalu menyesal sendiri. =D
Dan ketika rasanya terlalu berat, saya masih mengatakan doa yang kurang lebih sama seperti dulu: Ya Allah, berat sekali amanah yang Engkau titipkan. Tapi mereka sudah Kau hadirkan dalam hidup saya dan saya mencintai mereka. Maka ketika saya lelah, beri saya kekuatan. Ketika saya salah, beri saya kesempatan memperbaiki. Dan ketika saya merasa tidak mampu, tolong ingatkan bahwa saya tidak harus menjalani semuanya sendirian.
Mungkin itu saja. Bukan pembelaan tentang kenapa saya punya banyak anak. Bukan pula ajakan agar orang lain melakukan hal yang sama.
*Hanya catatan seorang ibu yang pernah berkali-kali bertanya apakah dirinya sanggup dan sampai hari ini masih terus belajar menjawabnya.
**Edisi mengingatkan diri sendiri.

Subhaanallaah, inspiratif :""")
BalasHapusAlhamdulillah :) saya sangat senang dengan ungkapan ini mba, memang sebaiknya segala urusan dikembalikan kepada yang punya, Allah SWT. Terima kasih tulisannya :) ;)
BalasHapusAss.alhamdulillah, saya sangat senang dengan ungkapan bunda, memang itu sudah dia tur sama alloh, istri saya juga punya 8 anak , tapi saya percaya alloh akan jamin kehidupan keluarga saya alloh maha tau akan segala kejadian yang akan datang aminn
BalasHapusAss.alhamdulillah, saya sangat senang dengan ungkapan bunda, memang itu sudah dia tur sama alloh, istri saya juga punya 8 anak , tapi saya percaya alloh akan jamin kehidupan keluarga saya alloh maha tau akan segala kejadian yang akan datang aminn
BalasHapusLagi takut punya anak 😫😭 dan nyari artikel, "kenapa harus berani punya anak"
BalasHapusSampailah sy diartikel ini: bahwa allah lebih tahu kemampuan hambanya. Dia SWT. Akan memberikan segala sesuatu karena kesanggupan hambanya. 🙏