Selasa, 24 Februari 2015

Siapa Tahu?

Saya pernah punya teori yang sangat tidak ilmiah tentang laki-laki Garut. Teori itu bermula dari tiga orang. Yang pertama, seorang tokoh publik asal Garut yang waktu itu sedang ramai diberitakan karena perkara pernikahan dan perceraiannya. Yang kedua, seorang laki-laki asal Garut yang kebetulan saya kenal dan, kalau meminjam kosakata anak gaul, masuk kategori bad boy. Yang ketiga lebih personal. Sepupu saya baru saja patah hati setelah mengetahui calon suaminya—yang juga orang Garut—ternyata punya kelakuan yang membuat rencana pernikahan mereka berantakan.

Maka otak saya yang gemar mencari pola segera bekerja. Orang pertama: Garut, bad boy. Orang kedua: Garut, bad boy. Orang ketiga: Garut, bad boy.

Hmmm. Saya mulai curiga. =D

Kalau suatu hari sepupu saya berkenalan lagi dengan laki-laki asal Garut, bolehkah saya buru-buru berbisik, “Hati-hati. Orang Garut.” Tentu saja tidak.

Tiga orang jelas terlalu sedikit untuk mewakili seluruh laki-laki dari sebuah kabupaten. Bahkan kalau saya bertemu sepuluh orang dengan kelakuan serupa sekalipun, tetap tidak ada alasan yang cukup untuk menyimpulkan bahwa laki-laki kesebelas pasti sama. Kedengarannya sangat sederhana.

Anehnya, dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan hal seperti itu. Satu kali ditipu pedagang, lalu kita curiga kepada pedagang berikutnya. Pernah dikhianati seseorang, lalu orang yang datang setelahnya harus ikut menanggung kecurigaan atas dosa yang bahkan tidak ia lakukan. Mengenal dua atau tiga orang dari suatu kelompok dengan karakter tertentu, lalu diam-diam kita merasa sudah memahami seluruh kelompok itu.

Dari sedikit pengalaman, kita membangun sebuah pola. Lalu pola itu kita perlakukan seperti kebenaran. Dalam logika, ini dekat dengan apa yang disebut hasty generalization: mengambil kesimpulan umum dari contoh yang terlalu sedikit atau tidak cukup mewakili. Kalau mau meminjam sedikit bahasa statistik, masalahnya sebenarnya sederhana: sampelnya terlalu kecil dan belum tentu representatif.

Tiga laki-laki Garut yang kebetulan saya kenal tidak memberi saya hak untuk menghakimi ribuan laki-laki Garut yang bahkan belum pernah saya temui. Tapi kemudian saya berpikir, barangkali persoalannya tidak berhenti pada laki-laki Garut.

Bukankah kita juga sering melakukan hal yang sama terhadap seseorang berdasarkan masa lalunya?

Orang yang pernah berbohong akan berbohong lagi.

Orang yang pernah selingkuh pasti akan mengulanginya.

Orang yang pernah melakukan kejahatan, kalau diberi kesempatan kedua, hanya akan melakukan kejahatan yang sama.

Mungkin memang ada pengalaman, bahkan penelitian, yang bisa membantu kita memperkirakan risiko seseorang mengulangi perilakunya. Masa lalu tentu tidak perlu diabaikan begitu saja. Kalau seseorang berkali-kali melakukan hal yang sama, rasanya naif juga kalau kita berpura-pura tidak melihat polanya. Tapi memperhitungkan risiko dan memvonis masa depan seseorang adalah dua hal yang berbeda.

Itulah sebabnya saya tidak sepenuhnya sepakat ketika seseorang begitu yakin bahwa “penjahat ketiga” pasti akan mengulangi kejahatannya hanya karena dua orang sebelumnya melakukan hal yang sama setelah diberi kesempatan. Mungkin ia benar. Orang ketiga itu bisa saja mengulanginya. Bahkan mungkin probabilitasnya cukup besar.

Tapi tetap ada satu kata yang mengganjal bagi saya: bisa. Bukan pasti.

Sebab manusia bukan angka yang tinggal dimasukkan ke dalam rumus. Ada begitu banyak hal yang tidak kita ketahui tentang apa yang terjadi di dalam diri seseorang: penyesalan, pengalaman, usia, kehilangan, cinta, ketakutan, bahkan satu peristiwa kecil yang entah bagaimana mengubah cara seseorang melihat hidupnya.

Saya tidak tahu apakah semua orang layak diberi kesempatan kedua. Ada kesalahan yang terlalu berat. Ada kepercayaan yang setelah rusak mungkin memang tidak bisa dikembalikan. Dan memberi seseorang kesempatan kedua juga tidak berarti kita harus mengabaikan risiko atau menyerahkan diri untuk disakiti lagi.

Tapi saya ingin percaya bahwa manusia masih mungkin berubah. Bukan karena semua orang pasti berubah. Justru karena tidak ada yang bisa memastikan siapa yang akan berubah dan siapa yang tidak. Siapa tahu orang yang kita kira tidak punya harapan justru suatu hari menjadi jauh lebih baik daripada dirinya yang dahulu. Bahkan, siapa tahu, lebih baik daripada orang yang pernah begitu yakin menghakiminya.

Siapa tahu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi CINTA TAK ADA MATI

Judul buku                   : Cinta Tak Ada Mati Penulis                      : Eka Kurniawan Penerbit                    : Gramedia Pustak...