Judul buku : Metamorfosis
Penulis : Franz Kafka
Alih bahasa : Sigit Susanto
Penerbit : Kakatua
Jumlah halaman : 84 halaman
“Bagaimana kalau aku kembali tidur sedikit lebih lama dan melupakan semua hal yang tidak masuk akal ini, hlm. 3”
“Apakah dia seekor binatang jika musik bisa begitu memikatnya? Baginya, seolah-olah ia sedang ditunjukkan jalan menuju santapan tak dikenal yang selama ini ia dambakan, hlm 70. ”
Jika kamu ingin tahu bagaimana rasanya jadi seorang laki-laki, kamu harus baca buku Metamorfosisnya-Kafka.
Rekomendasi ini saya baca di medsos sudah lama sekali, tapi baru kemarin saya berkesempatan membaca buku ini. Kebetulan buku Metamorfosis yang saya baca adalah terbitan PT. Anak Hebat Indonesia. Sayangnya, menjelang halaman-halaman terakhir, saya merasa kesulitan menangkap makna utuh dari banyak rangkaian kalimatnya. Setengah terobsesi, saya teringat pada sebuah utas di twitter yang menyatakan bahwa untuk buku-buku terjemahan, penerbit Kakatua mencetak buku-buku dengan kualitas terjemahan sangat bagus, jadilah saya secara spesifik mencari lagi buku ini tapi yang diterbitkan oleh Kakatua.
Dan dapat.
Metamorfosis terbitan Kakatua ini dibuka dengan Pengantar Penerjemah, yaitu Pak Sigit Susanto yang menerjemahkan buku ini dari bahasa Jerman dengan judul asli Die Verwandlung. Bagian paling menarik dari pengantar penerjemah adalah bagian akhir yang menceritakan bahwa pada tahun 1917, Kafka menerima surat dari pembacanya: “ Tuan yang terhormat, Anda telah membuat saya menderita. Saya telah membeli buku Anda Metamorfosis dan saya berikan kepada saudara sepupu saya. Ia tahu ceritanya, tetapi tidak mampu menjelaskan, Ia berikan novelet itu kepada ibunya, juga ibunya tak bisa menjelaskan. Karena saya seorang doktor, maka saya disuruh menerangkan kepada mereka, tetapi saya bingung. Tolong, jelaskan, apa yang harus saya utarakan kepada sepupu saya. Hormat saya, Dr. Siegfried Wolff.”
Ternyata saya juga sama seperti Pak Wolff, setelah menamatkan novelet ini, saya kebingungan sendiri, bagaimana cara untuk menulis resensinya.
Cerita dibuka dengan satu adegan ketika Gregor Samsa bangun dari tidur dengan mimpi menyeramkan dan tiba-tiba menemukan bahwa tubuhnya sudah berubah sepenuhnya menjadi serangga menjijikkan.
(Penerjemah menyebutkannya sebagai kecoak raksasa, namun di bagian pengantar ada keterangan yang mencantumkan bahwa Kafka menggunakan kata ungeziefer yang bisa berarti kumbang, kecoak, lalat, intinya binatang kecil yang mengganggu atau menjijikkan. Sedangkan pembantu keluarga Samsa spesifik menyebutnya sebagai Mistkafer yang berarti kumbang yang hidup di rabuk).
Dan yang menurut saya paling aneh, bukannya panik karena sudah beralih wujud menjadi kecoak raksasa, yang terlintas di pikiran Gregor justru bagaimana harus berangkat bekerja dengan wujud bukan manusia, dan bagaimana harus menghadapi kemarahan atasan karena ia melewatkan keberangkatan kereta untuk perjalanan dinas hampir dua jam yang lalu. Lebih aneh lagi, ketika Kepala Kepegawaian berkunjung ke rumah, Samsa masih berpikir bahwa kemungkinan dipecat lebih mengerikan dibanding menunjukkan wujudnya yang sekarang menjadi kecoak raksasa.
Saya memahami penuh perasaan Gregor, tapi sungguh saya kesulitan mendeskripsikannya. Bagaimana ketika beban dan tekanan pekerjaan sudah merasuk sampai ke tulang sampai pada satu sisi bahkan sampai menggeser hal lain yang sebetulnya lebih urgent dan mendesak meskipun bersifat pribadi. Bukankah sudah sering begitu, kita dipaksa untuk tetap profesional, mengenyampingkan perasaan, hati yang sedang hancur atau bahkan badan yang sedang tidak enak semua demi pekerjaan.
Tapi yang paling menyakitkan dari keseluruhan cerita mungkin adalah respon keluarga Gregor sendiri. Gregor adalah pencari nafkah utama yang menanggung sepenuhnya hidup ayah, ibu dan adik perempuannya. Tetapi setelah Gregor berubah wujud dan tak bisa lagi mencari uang, ia diabaikan begitu saja. Adiknya, Greta, yang di awal masih memberikan perhatian dengan memastikan Gregor mendapat makanan dan juga membersihkan kamar Gregor, lama-lama bosan dan justru jadi orang pertama yang mengusulkan untuk menyingkirkan Gregor. Pada satu momen, ayahnya bahkan melempar apel yang menancap di punggung Gregor, yang kemudian melukai dan lukanya membusuk pelan-pelan.
Gregor yang malang, pencari nafkah utama yang kemudian diabaikan dan ditinggalkan begitu saja setelah dianggap tak berguna. Tak ada jejak kebaikan sama sekali dari keluarganya padahal bertahun-tahun sudah ia menyediakan rumah, makanan hangat di meja dan kehidupan yang nyaman untuk keluarganya. Padahal bahkan dalam wujud serangga pun, Gregor masih tak enak hati memikirkan bagaimana kehidupan keluarganya kedepannya tanpa ia yang mencari nafkah. Tapi keluarganya alih-alih mencoba memahami bahwa kondisi ini pun tak mudah bagi Gregor (siapa sih yang ingin tiba-tiba jadi serangga), malah bersikap seolah Gregor adalah beban yang membuat ketiganya kini harus bekerja mati-matian agar tetap hidup layak.
Kehilangan sosok Gregor si pencari nafkah bukannya membuat mereka mensyukuri peran Gregor sebelumnya dan bersikap baik pada Gregor saat ia tertimpa musibah, tapi justru malah membuat keluarganya membenci Gregor ketika sekarang Gregor dianggap tak berguna. Karena keluarganya merasa gara-gara Gregor jadi serangga, beban nafkah yang semula ditanggung Gregor sendiri kini berpindah dan ternyata hasil kerja mereka bertiga pun tak bisa menyamai hasil yang diperoleh Gregor seorang diri.
Di akhir cerita, Gregor mati dalam hening, setelah berbulan-bulan kehilangan selera makan, karena luka yang infeksi, karena pengabaian. Ia mati sendirian, tanpa isak tangis kehilangan dari keluarganya. Alih-alih berduka karena kehilangan (hei, Gregor sebelumnya adalah anak kebanggaan), ketiga keluarga Gregor ternyata malah merasa lega setelah kematian Gregor. Mereka bahkan berencana menjual apartemen peninggalan Gregor, untuk kemudian merancang kehidupan baru di tempat lain dan merencanakan pernikahan Greta.
Buku ini tipis saja, hanya 84 halaman. Buku yang selesai dibaca hanya dalam sekali duduk. Tapi saya tercenung lama sekali setelah membaca buku ini. Sejujurnya jiwa saya terguncang, akhirnya saya memahami apa maksud kalimat yang temukan di medsos: Jika kamu ingin tahu bagaimana rasanya jadi seorang laki-laki, kamu harus baca buku Metamorfosisnya-Kafka.
Pernyataan ini saya ralat, bukan hanya untuk laki-laki ternyata, tapi ini berlaku untuk semua pencari nafkah di keluarga. Kafka menggambarkan semuanya dengan begitu komprehensif. Dari mulai beban pekerjaan yang menghilangkan identitas sebagai individu, sampai pada pengabaian dari keluarga setelah sakit atau jadi anomali dan tak bisa lagi mencari uang. Saya tak bisa menjelaskan, tapi saya paham sekali rasanya menjadi Samsa, dan ini menyakitkan.
Buku ini dinobatkan sebagai buku Kafka yang paling banyak mendapat sambutan publik. Di sampul belakang bukunya, tertulis bahwa Vladimir Nabokov menyebut: “Siapa melihat sesuatu pada Metamorfosis yang lebih dari sekedar sebuah fantasi serangga, saya anggap sebagai pembaca yang berhasil”.
Mungkin saya, termasuk salah satu pembaca yang berhasil itu, meskipun seperti Pak Wolff, saya juga tak berhasil menjelaskan dengan baik bagaimana isi buku ini. Oleh karenanya, kamu harus baca sendiri. Dan ingat penjelasan saya di awal, jika kamu akan membaca seri terjemahannya, carilah buku edisi terjemahan Kakatua.
*Terima kasih kepada Pak Sigit Susanto yang telah menerjemahkan dengan sangat baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar