Sudah beberapa waktu ini saya berhenti membuka media sosial. Tidak ada alasan yang terlalu dramatis. Saya hanya merasa perlu mengambil jarak dari begitu banyak hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya.
Awalnya terasa sedikit aneh. Ada kebiasaan yang hilang. Biasanya, setiap ada waktu luang, tangan secara otomatis mencari ponsel, membuka aplikasi, lalu menggulir layar entah untuk mencari apa. Melihat kehidupan orang lain, membaca pendapat orang yang bahkan tidak saya kenal, mengikuti perdebatan yang sebenarnya tidak perlu saya ikuti. Kadang ikut senang, kadang kesal, kadang tanpa sadar membandingkan kehidupan sendiri dengan potongan kehidupan orang lain yang muncul di layar. Dan semua itu sering dilakukan tanpa tujuan yang jelas.
Lalu saya berhenti.
Ternyata, tidak apa-apa. Tidak ada yang kehilangan saya. Tidak ada yang mencari-cari ke mana saya menghilang. Tidak ada peristiwa penting yang terlewat sampai membuat hidup saya berantakan. Dunia masih terus berputar seperti biasa. Orang-orang tetap menjalani kehidupannya. Ada yang menikah, berlibur, memperoleh pekerjaan baru, bertengkar, jatuh cinta, patah hati, atau sekadar mengunggah foto makanan. Semuanya tetap berlangsung, dengan atau tanpa kehadiran saya sebagai penonton. Dan anehnya, menyadari bahwa ketidakhadiran saya tidak mengubah apa-apa justru terasa melegakan.
Rupanya, saya tidak harus mengetahui semua hal. Tidak harus mengikuti setiap kabar, membaca setiap pendapat, atau merasa perlu memberikan tanggapan terhadap sesuatu yang sedang ramai dibicarakan. Saya juga tidak harus selalu terlihat untuk memastikan bahwa saya masih ada. Belakangan saya juga menyadari satu hal. Media sosial bukan sekadar tempat kita melihat apa yang diunggah orang lain. Ada algoritma yang bekerja di belakangnya, memilihkan apa yang akan muncul di layar berdasarkan perilaku kita sebelumnya.
Apa yang kita tonton lebih lama, apa yang kita sukai, apa yang membuat kita penasaran, bahkan apa yang membuat kita kesal, dapat menjadi sinyal bagi algoritma untuk menyajikan lebih banyak konten serupa. Akibatnya, tanpa benar-benar kita sadari, kita bisa terus-menerus terpapar pada jenis informasi, pendapat, atau emosi yang sama.
Dalam psikologi, ada konsep mere-exposure effect, yang diperkenalkan Robert Zajonc pada 1968. Secara sederhana, semakin sering kita terpapar pada sesuatu, semakin besar kemungkinan kita merasa akrab atau menyukainya. Tentu efek ini tidak berlaku mutlak untuk semua hal, tetapi cukup menarik jika dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi konten digital.
Bayangkan jika setiap hari kita terus-menerus disuguhi pandangan tertentu. Lama-kelamaan, sesuatu yang awalnya hanya merupakan pendapat orang lain bisa terasa semakin wajar, semakin masuk akal, bahkan seolah mewakili kenyataan secara keseluruhan.
Ada pula konsep confirmation bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan dan menerima informasi yang mendukung keyakinannya sendiri. Ketika kecenderungan ini bertemu dengan algoritma yang terus merekomendasikan konten berdasarkan minat dan interaksi kita, ruang untuk menemukan sudut pandang berbeda bisa semakin menyempit.
Tentu algoritma tidak selalu menciptakan ruang gema atau echo chamber. Namun, dalam keadaan tertentu, keduanya dapat saling memperkuat. Saya jadi berpikir, jangan-jangan selama ini ada banyak hal yang memenuhi kepala saya bukan karena saya benar-benar ingin memikirkannya, melainkan karena terlalu sering disodorkan kepada saya. Kita mungkin hanya ingin mencari hiburan selama beberapa menit, tetapi kemudian menghabiskan waktu membaca perdebatan, mengikuti konflik orang lain, atau memikirkan persoalan yang sebelumnya bahkan tidak kita ketahui. Tanpa terasa, sesuatu yang awalnya tidak penting menjadi terasa mendesak. Sesuatu yang sebenarnya jauh dari kehidupan kita mendadak ikut menentukan suasana hati sepanjang hari. Dan itu tidak selalu baik.
Terutama ketika paparan yang berulang membuat kita lebih mudah marah, cemas, curiga, atau membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain. Penelitian psikologi juga mengenal social comparison theory dari Leon Festinger (1954), yang menjelaskan kecenderungan manusia mengevaluasi dirinya melalui perbandingan dengan orang lain.
Di media sosial, bahan perbandingan itu tersedia nyaris tanpa batas. Padahal yang kita lihat sering kali hanya bagian kehidupan yang dipilih seseorang untuk ditampilkan. Saya tidak sedang mengatakan bahwa algoritma sepenuhnya mengendalikan pikiran manusia. Kita tetap memiliki kemampuan untuk menilai, mempertanyakan, dan menentukan sikap. Tetapi saya mulai menyadari bahwa apa yang terus-menerus kita konsumsi dapat memengaruhi apa yang kita anggap penting, bagaimana kita melihat dunia, dan apa yang kita rasakan. Kadang pengaruhnya bahkan lebih intens daripada yang sebenarnya kita inginkan. Dan mungkin, sesekali menjauh adalah cara sederhana untuk mengambil kembali kendali atas perhatian kita sendiri.
Ada kehidupan yang jauh lebih nyata di luar layar. Buku-buku yang belum selesai dibaca, pekerjaan yang perlu diselesaikan, makanan yang ingin dimasak, orang-orang terdekat yang bisa diajak bicara, dan waktu yang bisa dinikmati tanpa harus dibagikan kepada siapa pun. Yang paling saya rasakan, hati saya menjadi lebih tenang.
Bukan berarti kehidupan mendadak bebas dari masalah. Persoalan tetap ada, hari-hari yang melelahkan juga masih datang. Tetapi setidaknya, saya tidak lagi menambahkan begitu banyak kebisingan yang sebenarnya tidak perlu ke dalam kepala saya sendiri.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa media sosial itu buruk. Ada banyak manfaatnya. Kita bisa memperoleh pengetahuan, menemukan teman, memperluas wawasan, bahkan mendapatkan dukungan dari orang-orang yang tidak pernah kita temui secara langsung. Hanya saja, seperti banyak hal lain dalam kehidupan, sesuatu yang bermanfaat pun tidak selalu baik jika dikonsumsi tanpa batas.
Lucu juga, selama ini kita mungkin terlalu sibuk ingin mengetahui apa yang sedang terjadi dalam kehidupan orang lain, sampai lupa memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan sendiri. Dan setelah beberapa waktu tidak membuka media sosial, saya menemukan sesuatu yang sederhana, tetapi cukup menyenangkan.
Ternyata tidak apa-apa kalau saya tidak tahu segalanya. Tidak apa-apa kalau saya tidak selalu terlihat. Tidak apa-apa kalau dunia berjalan tanpa saya ikut menyaksikannya.
Saya tidak harus mempunyai pendapat tentang setiap persoalan. Tidak harus mengikuti setiap perdebatan. Bahkan tidak harus memikirkan sesuatu hanya karena algoritma berkali-kali menampilkannya di hadapan saya. Dunia memang tidak kehilangan apa-apa ketika saya berhenti membuka media sosial. Tetapi saya justru mendapatkan sesuatu yang belakangan terasa semakin mahal: ketenangan.
Dan barangkali, yang selama ini saya perlukan bukan lebih banyak informasi tentang kehidupan orang lain, melainkan lebih banyak ruang untuk menjalani kehidupan saya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar