Judul buku : Cinta Tak Ada Mati
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit : 2018
Jumlah halaman : 153 halaman
Cinta Tak Ada Mati merupakan kumpulan tiga belas cerpen Eka Kurniawan yang pernah diterbitkan di berbagai media sepanjang tahun 2000 hingga 2011.
Tidak ada satu tema besar yang benar-benar mengikat seluruh cerita dalam buku ini. Masing-masing memiliki tokoh, persoalan, dan keanehannya sendiri. Tetapi seperti yang saya tangkap dari karya-karya Eka Kurniawan lainnya, ada kesan yang kurang lebih sama: lugas, ganjil, dan mengganggu. Cerita boleh saja sudah selesai, tetapi ada sesuatu yang masih tertinggal di kepala. Kadang berupa pertanyaan, kadang rasa tidak nyaman, atau sekadar perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan manusia-manusia dalam cerita tersebut.
Saya jadi teringat Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma yang baru saya baca minggu lalu. Meskipun gaya bercerita kedua penulis ini berbeda, keduanya meninggalkan kesan yang hampir serupa: membuat saya terus memikirkan tokoh-tokohnya, bahkan setelah buku ditutup.
Lalu saya mulai bertanya-tanya, apakah memang demikian salah satu kekuatan karya sastra?. Apakah sebuah cerita dianggap berhasil justru ketika ia tidak memberikan kenyamanan, tidak selalu menawarkan tokoh yang bisa disukai, dan tidak merasa berkewajiban menyelesaikan semua persoalan dengan baik-baik?. Dan sebenarnya, apa yang membedakan sebuah karya sastra dengan roman picisan?. Apakah kerumitan cerita, kedalaman karakter, keindahan bahasa, atau kemampuannya membuat pembaca mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa?. Entahlah. Mungkin ini bisa menjadi bahan penelitian yang menarik.
Satu hal yang saya sukai dari kumpulan cerpen ini adalah bagaimana setiap cerita memiliki ciri khasnya sendiri. Eka tidak hanya menghadirkan tokoh dan konflik yang berbeda-beda, tetapi juga bermain-main dengan bentuk tulisan, pilihan bahasa, hingga cara mengakhiri cerita. Dalam Bau Busuk, misalnya, keseluruhan cerita ditulis dalam satu paragraf panjang. Kalimat-kalimatnya terus mengalir, dipisahkan oleh koma, dan baru menemukan satu titik di ujung cerita. Bayangkan membaca satu cerpen tanpa diberi kesempatan berhenti pada tanda titik!.
Awalnya saya merasa bentuk penulisan semacam ini cukup melelahkan. Tetapi kemudian saya berpikir, mungkin justru itulah efek yang ingin diciptakan. Pembaca seolah dipaksa mengikuti aliran cerita tanpa jeda, tanpa kesempatan benar-benar menarik napas. Entah apakah itu memang maksud Eka, tetapi saya menyukai keberaniannya mempermainkan sesuatu yang biasanya kita anggap sebagai aturan dasar dalam menulis.
Lain lagi dengan Pengakuan Seorang Pemadat Indis. Cerpen ini menggunakan ejaan dan susunan kalimat yang mengingatkan kita pada bahasa Indonesia sebelum Ejaan yang Disempurnakan. Pilihan tersebut membuat cerita terasa seperti berasal dari masa yang berbeda, seolah kita sedang membaca sebuah pengakuan yang ditulis jauh sebelum zaman sekarang. Saya rasa ini menarik. Sebab ternyata bukan hanya isi cerita yang dapat membangun suasana, melainkan juga bagaimana kata-kata dituliskan. Ejaan yang biasanya kita anggap sekadar urusan teknis ternyata dapat menjadi bagian dari pengalaman membaca.
Kemudian ada Penjaga Malam, yang justru membuat saya penasaran karena akhir ceritanya menggantung. Apa sebenarnya yang terjadi pada keempat orang yang sedang berjaga malam itu?. Saya menunggu penjelasan yang lebih terang, tetapi cerita keburu selesai. Dan begitulah, pembaca ditinggalkan bersama pertanyaan yang harus dijawab sendiri. Saya tidak selalu menyukai akhir cerita yang menggantung. Kadang rasanya seperti diajak masuk ke sebuah ruangan, diperlihatkan sesuatu yang ganjil, lalu ditinggalkan begitu saja sebelum sempat bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tetapi harus diakui, cara seperti ini cukup berhasil membuat sebuah cerita terus hidup dalam pikiran pembacanya.
Cerpen Surau meninggalkan kesan yang berbeda lagi. Kali ini bukan semata-mata karena bentuk penulisannya, melainkan karena ironi pada akhir cerita. Seorang anak sejak kecil terus-menerus diperintahkan untuk salat, bahkan menerima hukuman keras jika tidak melakukannya. Tetapi ketika dewasa, ia justru tidak pernah lagi salat, bahkan sampai lupa bacaan-bacaannya. Saya merasa akhir cerita ini begitu miris.
Ada sesuatu yang patut direnungkan tentang cara orang dewasa mengajarkan agama kepada anak-anak. Apakah kepatuhan yang dibangun melalui rasa takut benar-benar akan tumbuh menjadi keyakinan?. Atau justru ada kemungkinan bahwa ketika seseorang akhirnya terbebas dari hukuman, ia ikut meninggalkan seluruh kebiasaan yang dahulu dipaksakan kepadanya?. Tentu tidak berarti setiap anak yang dididik dengan keras akan meninggalkan agamanya ketika dewasa. Tetapi melalui cerita ini, Eka seperti memperlihatkan ironi bahwa sesuatu yang terus-menerus dipaksakan belum tentu benar-benar tertanam. Barangkali anak itu dahulu salat bukan karena memahami atau menghayati ibadahnya, melainkan karena takut dihukum. Dan ketika rasa takut itu tidak lagi ada, tidak ada pula sesuatu yang membuatnya ingin mempertahankan kebiasaan tersebut. Setidaknya, itulah yang saya tangkap.
Empat cerpen ini saja sudah memperlihatkan betapa beragamnya cara Eka Kurniawan bercerita. Ada yang bereksperimen dengan tanda baca, ada yang menggunakan ejaan lama, ada yang sengaja membiarkan pembacanya penasaran, dan ada pula yang menutup cerita dengan ironi yang terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dua cerpen lainnya, Kutukan Dapur dan Si Lesung Pipit, menarik perhatian saya karena sama-sama mengangkat persoalan perempuan dan penindasan yang mereka alami. Saya menyukai bagaimana Eka Kurniawan, sebagai penulis laki-laki, mampu menghadirkan persoalan tersebut tanpa semata-mata menjadikan perempuan sebagai objek dalam cerita. Setidaknya, itulah kesan yang saya tangkap dari kedua cerpen ini.
Perempuan tidak hanya hadir untuk melengkapi kehidupan tokoh laki-laki. Pengalaman, penderitaan, dan ketidakadilan yang mereka hadapi justru menjadi persoalan yang patut diperhatikan. Bagi saya, cara seorang penulis menggambarkan perempuan dalam karyanya bukan perkara sepele. Sastra memang tidak harus menjadi alat pendidikan moral, dan tokoh-tokohnya pun tidak wajib berperilaku baik. Tetapi pilihan sudut pandang seorang penulis tetap dapat memperkuat atau justru mempertanyakan cara masyarakat memandang kelompok tertentu.
Karena itu, saya cukup menyukai ketika Eka memilih menghadirkan cerita yang memungkinkan pembacanya melihat ketidakadilan terhadap perempuan, alih-alih sekadar mengulang penggambaran perempuan sebagai objek hasrat atau pelengkap cerita laki-laki. ini menjadi penting karena sebuah karya yang dilemparkan ke khalayak memiliki gaung yang harus dipertanggungjawabkan. Dan tak seperti penulis laki-laki lainnya yang sering menampilkan perempuan dalam karyanya sebagai objek semata, Eka Kurniawan memilih untuk menyuarakan sebaliknya.
Namun, dari ketiga belas cerpen tersebut, yang paling membekas bagi saya justru cerita yang menjadi judul buku ini: Cinta Tak Ada Mati. Cerpen ini berkisah tentang Mardio, seorang lelaki tua yang selama enam puluh tahun mencintai perempuan yang sama. Enam puluh tahun!.
Bayangkan, menghabiskan hampir seluruh kehidupan dengan perasaan yang tidak pernah benar-benar memperoleh balasan. Sekilas, kisah semacam ini mungkin terdengar romantis. Tentang kesetiaan, keteguhan hati, dan cinta yang tidak lekang oleh waktu. Tetapi semakin jauh membaca, saya justru mulai mempertanyakan apakah perasaan Mardio masih bisa disebut cinta, atau sebenarnya telah berubah menjadi obsesi. Sebab ada perbedaan antara mencintai seseorang dengan terus mempertahankan perasaan terhadap seseorang, bahkan ketika kenyataan sudah berkali-kali menunjukkan bahwa cinta tersebut tidak bersambut. Apakah kesetiaan selalu merupakan sesuatu yang patut dikagumi?. Atau pada titik tertentu, kesetiaan justru bisa menjadi bentuk ketidakmampuan menerima kenyataan?. Saya rasa Eka sengaja membiarkan pembacanya berada di wilayah yang tidak nyaman itu. Dan ketika tiba di penghujung cerita, sebuah kejutan membuat saya benar-benar tercengang. Saya tidak akan membocorkannya di sini. Rasanya lebih menyenangkan jika pembaca menemukan sendiri bagaimana Eka mengakhiri kisah Mardio. Tetapi satu hal yang menarik: setelah mengetahui akhir ceritanya, saya justru terdorong memikirkan kembali seluruh perasaan Mardio sejak awal. Barangkali memang itulah kelebihan Eka Kurniawan.
Ia tidak selalu menuliskan cerita yang membuat kita menyukai tokohnya. Tidak pula berusaha menjadikan setiap peristiwa mudah diterima atau dipahami. Kadang tokoh-tokohnya begitu ganjil, tindakannya sulit dibenarkan, dan akhir ceritanya malah membuat kita semakin banyak bertanya. Tetapi justru karena itulah ceritanya sulit dilupakan. Saya juga menyukai gaya bahasa Eka yang relatif lugas. Bahkan ketika bereksperimen dengan bentuk tulisan, ia tetap mampu menghadirkan cerita yang terasa hidup. Ada humor, kejanggalan, kekejaman, dan ironi yang disampaikan seolah-olah semua itu merupakan bagian biasa dari kehidupan. Padahal, setelah direnungkan, banyak hal dalam ceritanya yang sama sekali tidak biasa.
Setelah menamatkan Cinta Tak Ada Mati, saya tidak merasa memperoleh tiga belas cerita yang seluruhnya memberikan jawaban atau kesimpulan yang jelas. Sebaliknya, saya justru mendapatkan lebih banyak pertanyaan. Tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lain, tentang ketidakadilan yang kadang dianggap wajar, tentang cinta yang mungkin tidak selalu seindah yang dibayangkan, dan tentang batas yang begitu tipis antara sesuatu yang kita anggap mulia dengan sesuatu yang sebenarnya merusak.
Saya kembali teringat pertanyaan di awal: apakah karya sastra yang baik memang harus meninggalkan kegelisahan?. Tentu tidak selalu. Ada banyak karya bagus yang justru memberikan kehangatan, penghiburan, atau kegembiraan. Tetapi saya mulai berpikir bahwa salah satu hal yang membuat sastra menarik adalah kemampuannya memperlihatkan kehidupan manusia tanpa harus selalu membuatnya tampak indah.
Manusia bisa mencintai sekaligus menyakiti. Bisa merasa benar ketika sedang berbuat salah. Bisa begitu setia, tetapi sebenarnya tidak mampu melepaskan. Bisa pula menjalankan sesuatu dengan patuh selama bertahun-tahun, tanpa pernah benar-benar memahami mengapa ia melakukannya. Dan mungkin karena itulah tokoh-tokoh Eka Kurniawan terasa mengganggu. Bukan semata-mata karena mereka aneh, melainkan karena sebagian keanehan itu sesungguhnya tidak terlalu jauh dari kehidupan manusia yang kita kenal.
Buku ini selesai saya baca, tetapi rupanya tidak semua ceritanya ikut selesai di kepala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar