Akhir pekan ngapain aja?,
Jawaban saya: “seperti biasa: memasak dan tetap bekerja dengan laptop di akhir pekan”.
Saya memang sangat suka memasak, meskipun belum percaya diri untuk membuka rumah makan sendiri, tapi rasanya hasil masakan saya sudah bisa dikategorikan lumayan. Dan setiap akhir pekan selalu menjadi kesempatan untuk saya mencoba resep-resep baru sekalian menyiapkan stok makanan di rumah untuk satu minggu ke depan. Karena penyakit saya kebetulan sedang kambuh lagi, yang saya buat akhir pekan ini lebih sedikit dari biasanya: rendang, opor ayam, baso tahu, kentang mustopa, capcay, bolu keju, pempek beserta cukonya, dan roasted milk tea.
Sambil memasak dan membereskan ini-itu, di sela-selanya saya membuka kembali tulisan di blog yang sudah lama tidak saya tengok. Niat awalnya cuma ingin merapikan beberapa tulisan lama. Ternyata saya malah menemukan banyak sekali hal yang perlu dikoreksi. Bukan salah ketik. Bukan tanda baca. Bukan pula kalimat yang kepanjangan. Tapi refleksi dari diri saya sendiri yang ternyata harus diperbaiki 😂.
Ya ampun.
Ternyata saya dulu sombong sekali. Beberapa kali saya berhenti membaca hanya untuk bertanya kepada diri sendiri, ini serius dulu saya nulis begini: Memangnya kamu tahu apa, sih?.
Ada begitu banyak kalimat yang ditulis dengan keyakinan luar biasa. Seolah hidup hanya punya satu cara untuk dipahami dan, entah dapat kepercayaan diri dari mana, cara sayalah yang paling benar. Begitu mudah menilai keputusan orang lain. Begitu cepat menyimpulkan. Begitu ringan menggunakan kata “seharusnya” untuk hal yang bahkan tidak sepenuhnya saya pahami.
Lucunya, ketika menulisnya dulu, saya mungkin merasa sedang menjadi orang yang kritis. Sekarang ketika membacanya kembali, rasanya lebih terdengar seperti seseorang yang belum banyak tahu tentang hidup tapi sudah sibuk membuat kesimpulan. Mungkin memang ada semacam kesombongan yang lahir bukan karena kita tahu terlalu banyak, tetapi justru karena belum mengalami cukup banyak hal.
Dunia terlihat sederhana ketika kita hanya pernah melihatnya dari satu sisi. Lalu umur bertambah. Hidup membawa kita ke tempat-tempat yang dulu tidak pernah kita bayangkan. Kita melakukan kesalahan. Mengambil keputusan yang dahulu mungkin akan kita cela jika dilakukan orang lain. Mencintai orang yang mungkin dulu kita anggap tidak seharusnya dicintai. Bertahan ketika menurut teori mestinya pergi. Pergi ketika orang lain berpikir mestinya bertahan. Lalu bertemu manusia-manusia dengan cerita yang ternyata jauh lebih rumit daripada yang terlihat dari luar. Dan perlahan-lahan kata “seharusnya” menjadi tidak semudah itu diucapkan.
Bukan karena sekarang saya sudah lebih tahu tentang hidup. Justru mungkin karena semakin ke sini saya semakin sadar betapa banyak yang tidak saya tahu. Akhirnya saya mengoreksi beberapa tulisan itu. Sebagian kalimat saya hapus, sebagian saya lunakkan. Bukan karena ingin menghapus siapa saya dahulu. Justru rasanya menyenangkan menemukan bukti bahwa cara pandang saya ternyata berubah.
Blog ini akhirnya seperti mesin waktu kecil.
Di sini saya bertemu diri sendiri dari berbagai umur: yang pernah sok tahu, pernah merasa paling benar, pernah mudah menghakimi, pernah terluka, pernah bahagia, dan pernah menulis sesuatu dengan keyakinan penuh yang bertahun-tahun kemudian ternyata saya pertanyakan sendiri.
Aneh rasanya membaca diri sendiri. Sedikit memalukan. Tapi juga menyenangkan. Karena ternyata berubah pikiran tidak selalu berarti kita dahulu sepenuhnya salah dan sekarang sepenuhnya benar. Kadang itu cuma berarti hidup telah memberi kita beberapa halaman tambahan. Akhir pekan ini, di antara masakan yang matang dan tulisan-tulisan lama yang dibongkar kembali, saya menemukan satu hal: ternyata bertambah dewasa bukan berarti semakin banyak tahu. Kadang justru ditandai dengan semakin sering kita berkata, “Oh… ternyata saya memang tidak tahu apa-apa.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar