Minggu, 04 Oktober 2026

Resensi CIRCE: Sihir Terbesar adalah Menemukan Diri Sendiri




Judul buku                            : Circe

Penulis                                  : Madeline Miller

Alih Bahasa                          : Lulu Wijaya

Penerbit                                : PT. Gramedia, Jakarta

Jumlah Halaman                  : 542 halaman


Mudah sekali berbicara begitu terbuka kepadanya. Wajahnya seperti kolam tenang yang bisa menyimpan segala sesuatu dengan aman didasarnya, hlm. 190.

Daedalus pernah berkata: Besi terbaik  sekalipun akan rapuh kalau terlalu sering dipukul. Hal. 292.

Tidak ada yang harus pada hidup manusia, kecuali kematian.

 

Buku ini saya selesaikan dalam waktu sesiangan saja, karena memang seseru itu. Rasanya seperti diajak mengembara ke negeri dongeng, tempat para dewa dalam mitologi Yunani ikut mengatur dan ikut campur dalam takdir manusia. Saya menggemari kisah-kisah ini ketika masih remaja dulu, tapi buku-buku yang saya baca kala itu lebih seperti buku sejarah yang sekedar menyampaikan rangkaian kejadian tanpa ruh dan tanpa emosi. Padahal, para dewa justru bisa lebih sarat emosi daripada manusia.

Ini buku kedua Madeline Miller yang saya baca setelah Achilles dan saya masih terpesona dengan gaya berceritanya. Kita diajak bukan hanya turut merasakan emosi Circe, tapi juga serasa ikut hadir di istana dewa-dewa dan indahnya pulau Aiaia. 

 Circe adalah putri pertama Helios si Dewa Matahari dengan nymph yang bernama Perses. Sayangnya, ia selalu dianggap sebagai putri yang paling tak berguna.  Sampai pada suatu hari Circe jatuh cinta setengah mati pada seorang manusia biasa yang bernama Glaucos. Tak tahan membayangkan suatu hari Glaucos akan mati sedangkan ia akan hidup abadi dengan kedewaannya, Circe mencari pharmaka dan kemudian mengubah Glaucos menjadi dewa. Tapi seperti halnya banyak manusia lain yang tak  tahu terima kasih,  setelah menjadi dewa, Glaucos lupa diri dan malah menyukai Scylla, sepupu Circe sendiri.  Merasa cemburu dan marah, Circe menggunakan pharmaka lagi untuk mengubah Scylla menjadi bentuk sejatinya yang ternyata adalah monster  berkepala enam.

Merasa bersalah setengah mati, Circe minta dihukum, namun Helios berkeras, bahwa itu adalah takdir para dewa, karena pharmaka tak sesakti itu sampai bisa mengubah manusia menjadi dewa. Aetees adik Circe ternyata malah memberikan dakwaan yang berbeda, Glaucos menjadi dewa dan Scylla menjadi monster bukan karena pharmaka bukan juga karena takdir para Dewa, tapi semata karena kekuatan Circe sendiri. Sama seperti dirinya, Circe juga seorang penyihir dan kekuatan utamanya adalah merubah bentuk.

Untuk menghindari perang antar klan, akhirnya Helios menghadap Zeus untuk negosiasi dan diputuskanlah bahwa Circe harus dibuang, dan begitulah awal cerita Circe menjadi pemilik dan penghuni satu-satunya pulau Aiaia. 

Menariknya, justru sejak dibuang itulah cerita Circe bagi saya benar-benar dimulai.

Pada buku The Song of Achilles, Madeline Miller mengambil Patroclus—seseorang yang selalu berada di bayang-bayang Achilles—lalu memberinya suara, kali ini ia melakukan hal yang kurang lebih sama kepada Circe. Dalam kisah-kisah mitologi Yunani yang pernah saya kenal, Circe hanya muncul sebagai penyihir perempuan yang mengubah para lelaki menjadi babi dan kemudian menjadi salah satu perempuan yang ditemui Odysseus dalam perjalanannya pulang ke Ithaca. Ia ada, tapi seperti sekadar persinggahan dalam petualangan seorang laki-laki. Di buku ini ceritanya dibalik. Odysseuslah yang hanya singgah. Circe yang tinggal. Dan ketika cerita dilihat dari sisi Circe, bahkan kisah tentang para lelaki yang diubahnya menjadi babi terasa berbeda.

Circe pada awalnya menerima para pelaut yang datang ke Aiaia dengan kebaikan. Ia memberi mereka makanan dan minuman, seperti layaknya tuan rumah menerima tamunya. Tapi kebaikan itu justru dibalas dengan kekerasan. Laki-laki yang datang ke pulaunya dan menikmati keramahannya kemudian memperkosanya. Setelah itu Circe berubah. Pelaut-pelaut berikutnya yang datang ke Aiaia tidak lagi bertemu perempuan yang sama. Circe memberi mereka makan, membiarkan mereka menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya, lalu ketika mereka mulai mengancamnya, ia mengubah mereka menjadi babi.

Saya suka bagian ini bukan karena pembalasannya, tapi karena tiba-tiba cerita lama tentang “penyihir jahat yang mengubah laki-laki menjadi babi” tidak lagi sesederhana itu. Selama ini kita hanya mendengar cerita dari mereka yang diubah menjadi babi. Tidak banyak yang bertanya apa yang terjadi sebelumnya sampai seorang perempuan merasa perlu melakukan kekejaman sebesar itu untuk melindungi dirinya sendiri.

Dan ternyata dunia para dewa tidak lebih ramah kepada perempuan. Mereka abadi, memiliki kekuatan yang tidak dimiliki manusia, tapi dunia mereka tetap dunia yang kekuasaannya sebagian besar berada di tangan laki-laki. Helios menentukan nasib anak perempuannya. Zeus menentukan hukum. Poseidon mengambil apa yang ia inginkan. Para nymph belajar bahwa kecantikan mereka bisa menjadi berkah sekaligus ancaman. Bahkan dewi sekalipun harus memahami kepada siapa ia boleh melawan dan kepada siapa ia harus tunduk.

Circe hidup di tengah dunia seperti itu. Mungkin itu sebabnya salah satu bagian yang paling membekas bagi saya adalah ketika ia turun ke dasar laut menemui Trygon. Ia membutuhkan racun dari ekor makhluk purba itu dan tahu bahwa Trygon jauh lebih kuat darinya. Circe datang dengan niat mengambil racunnya, tetapi Trygon mengatakan bahwa racun itu hanya bisa didapatkan jika Circe bersedia menerima sengatannya terlebih dahulu. Dan Circe bersedia.

Ada sesuatu yang sangat Circe dalam adegan itu. Ia takut, tentu saja. Tapi keberanian ternyata memang bukan tentang tidak merasa takut. Ia tahu sengatan itu mungkin membawa rasa sakit yang bahkan seorang dewi pun belum tentu sanggup menahannya, tetapi Circe tetap mengulurkan tangannya.

Pada akhirnya Trygon tidak menyengatnya. Kesediaan Circe menanggung sendiri rasa sakit yang hendak ia gunakan kepada orang lain sudah cukup untuk membuat Trygon menyerahkan racunnya.

Ketika Telegonus pergi mencari ayahnya, Circe membekalinya dengan sebuah tombak yang ujungnya sudah dipasangi sengat Trygon yang beracun. Senjata itu dimaksudkan untuk melindungi anaknya dalam perjalanan, bukan untuk membunuh Odysseus. Tapi pertemuan yang seharusnya menjadi pertemuan antara ayah dan anak justru berakhir tragis. Odysseus tidak mengenali Telegonus, dan tanpa sengaja tombak itulah yang akhirnya membunuhnya.

Ada ironi yang terasa kejam di sini. Circe turun ke dasar laut dan menghadapi Trygon karena ingin memiliki kekuatan untuk melindungi anaknya. Tapi kemudian, sesuatu yang diperolehnya dengan keberanian sebesar itu justru menjadi penyebab kematian laki-laki yang pernah dicintainya dan ayah dari anak yang mati-matian ingin ia lindungi.

Racun yang sama kemudian membawa Circe kembali kepada kesalahan lamanya: Scylla. Bagi saya ini penting, karena Scylla adalah salah satu dosa yang terus dibawa Circe sepanjang hidupnya. Ia menciptakan monster itu karena cemburu. Setelah itu Scylla terus hidup, memangsa pelaut-pelaut yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang Glaucos, Circe, atau kecemburuan yang membuatnya tercipta.

Pada akhirnya Circe memilih kembali menghadapinya. Dengan racun Trygon itulah ia membunuh Scylla. Ada semacam lingkaran yang akhirnya tertutup di sana. Circe tidak bisa menghidupkan kembali orang-orang yang telah dimakan Scylla. Ia juga tidak bisa menghapus kesalahan yang pernah dilakukannya. Tapi ia bisa berhenti membiarkan kesalahannya terus memakan korban.

Mungkin berdamai dengan masa lalu memang bukan berarti membuat seolah-olah semuanya tidak pernah terjadi. Kadang-kadang kita hanya bisa mengakui: aku yang melakukan ini, maka aku pula yang harus mengakhirinya. Keberanian yang sama muncul lagi ketika Athena datang mengincar Telegonus.

Ini Athena. Dewi perang. Anak kesayangan Zeus. Sementara Circe hanyalah dewi kecil yang bahkan keluarganya sendiri dulu menganggapnya tidak berguna. Secara kekuatan mereka tidak sebanding. Tapi kali ini yang berdiri di hadapan Athena bukan lagi Circe yang dahulu memohon kasih sayang kepada ayahnya. Ia seorang ibu. Circe menutup pulaunya dengan sihir dan menantang Athena demi melindungi anaknya. Bukan karena ia yakin akan menang, tapi karena ada hal-hal yang baginya lebih penting daripada kemungkinan kalah.

Hubungan Circe dengan Telegonus sendiri mungkin salah satu bagian yang membuat karakter Circe semakin manusiawi. Setelah semua cerita tentang dewa, sihir dan monster, ternyata menjadi ibu membuat Circe berhadapan dengan sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia bisa menghadapi Trygon, Scylla bahkan Athena, tetapi ia tidak bisa selamanya melindungi anaknya dari dunia.

Dan pada akhirnya ia harus belajar melepaskannya. Ada ironi yang indah ketika Telegonus akhirnya justru memilih pergi mengikuti Athena ke negeri yang jauh. Dewi yang dulu hendak membunuhnya kemudian menjadi sosok yang diikutinya. Circe bisa saja melarang. Setelah segala yang ia lakukan untuk mempertahankan anak itu tetap hidup, rasanya sangat manusiawi kalau ia ingin menyimpannya tetap dekat.

Tapi ia tidak melakukannya. Ia membiarkan Telegonus pergi. Mungkin keberanian memang berubah bentuk ketika kita menjadi seorang ibu. Awalnya keberanian berarti melawan siapa pun yang hendak mengambil anak kita. Pada satu titik, keberanian justru berarti membuka tangan dan membiarkan anak itu pergi ketika ia sudah memilih jalannya sendiri.

Saya juga menyukai bagaimana Madeline Miller mempertemukan Circe dengan Penelope. Kalau cerita ini ditulis dengan cara yang lebih sederhana, keduanya seharusnya menjadi musuh. Penelope adalah istri Odysseus. Circe adalah perempuan yang pernah dicintai Odysseus dan melahirkan anaknya. Terlalu mudah membuat dua perempuan ini saling membenci karena seorang laki-laki.

Tapi Miller tidak memilih jalan itu. Penelope datang ke Aiaia bersama Telemachus setelah kematian Odysseus, dan perlahan keduanya justru bisa saling memahami. Mereka mengenal Odysseus dalam versi yang berbeda. Mereka sama-sama pernah mencintainya, sama-sama pernah ditinggalkannya, dan barangkali sama-sama tahu bahwa mencintai seorang pahlawan tidak selalu berarti hidup bahagia bersama seorang pahlawan.

Saya justru merasa hubungan Circe dan Penelope menjadi semacam perlawanan kecil terhadap dunia yang sejak awal cerita begitu patriarkal. Mereka tidak membiarkan hubungan mereka ditentukan hanya oleh seorang laki-laki yang sudah mati. Tidak ada perebutan siapa yang lebih dicintai Odysseus. Tidak perlu ada perempuan baik dan perempuan jahat. Mereka berdamai dengan sejarah masing-masing, kemudian memilih hubungan mereka sendiri.

Semakin jauh membaca, semakin saya merasa bahwa buku ini sebenarnya bukan cerita tentang penyihir. Ini cerita tentang seorang perempuan yang sepanjang hidupnya diberitahu bahwa ia tidak cukup cantik, tidak cukup kuat, tidak cukup penting, bahkan suaranya pun dianggap buruk. Ia pernah begitu ingin dicintai sampai rela mengubah seorang manusia menjadi dewa. Ia pernah begitu cemburu hingga tak sengaja menciptakan monster. Ia pernah menjadi korban kekerasan. Ia pernah mencintai orang yang salah. Ia menjadi ibu yang begitu takut kehilangan anaknya sampai berani menantang seorang dewi.

Dan setelah semua itu, ia belajar bahwa menjadi kuat tidak selalu berarti melawan. Kadang berarti mengakui kesalahan dan membunuh monster yang pernah kita ciptakan. Kadang berarti berdamai dengan perempuan yang seharusnya, menurut cerita-cerita lama, menjadi saingan kita. Dan kadang berarti membiarkan anak yang mati-matian kita lindungi pergi jauh mengikuti jalan hidup pilihannya sendiri.

Jika The Song of Achilles bagi saya adalah cerita tentang mencintai seseorang bahkan ketika kita tahu cinta itu akan berakhir dengan kehilangan, maka Circe terasa berbeda. Ini lebih seperti cerita tentang menemukan diri sendiri setelah terlalu lama membiarkan orang lain menentukan siapa diri kita. Pada awal buku, Circe begitu mudah merasa dirinya tidak berharga hanya karena keluarganya mengatakan demikian. Ia mengejar cinta Glaucos seolah cinta seorang laki-laki akan membuktikan bahwa dirinya layak. Tetapi perempuan yang sama kemudian turun ke dasar laut menghadapi Trygon, membunuh Scylla yang pernah ia ciptakan, berdiri di hadapan Athena demi anaknya, berdamai dengan Penelope, dan akhirnya sanggup melepaskan Telegonus pergi.

Ia tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk memberitahunya siapa dirinya. Dan saya kira di situlah bagian paling indah dari cerita ini. Circe bisa saja tetap menjadi dewi. Tetap abadi. Tetap tinggal di Aiaia sementara dunia berubah dan manusia datang kemudian mati satu per satu. Tetapi setelah melihat kehidupan manusia dari dekat, ia justru memahami sesuatu yang mungkin tidak pernah benar-benar dipahami para dewa: bahwa hidup menjadi berharga justru karena ia akan selesai.

Tidak ada yang harus pada hidup manusia, kecuali kematian.

Aneh, tapi setelah 542 halaman mengikuti seorang dewi yang tidak bisa mati, kalimat itu malah tidak terdengar menakutkan. Justru terasa seperti kebebasan. Dan seperti The Song of Achilles, Madeline Miller berhasil membuat tokoh yang sudah berumur ribuan tahun terasa hidup dan bernyawa kembali. Bedanya, kali ini bukan seorang pahlawan besar yang menjadi pusat cerita.

Ini tentang perempuan yang pernah dianggap tidak berarti, hidup di dunia yang berkali-kali berusaha menentukan apa yang boleh terjadi pada tubuhnya, cintanya, anaknya dan hidupnya, tetapi kemudian perlahan mengambil semuanya kembali. Dan mungkin, pada akhirnya, sihir terbesar Circe memang bukan kemampuannya mengubah manusia menjadi babi atau monster menjadi batu. Tapi keberaniannya adalah menentukan sendiri akan menjadi perempuan seperti apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ah, Sudah Biasa

  Saya sangat suka membaca dan memasak. Untuk urusan yang kedua, saya bukan juru masak hebat. Masih sering membuka resep, masih suka mengira...