Minggu, 04 Oktober 2026

The Taxi Cab Theory: Tentang Cinta, Timing, dan Perempuan yang Menunggu

Saya baru tahu ada istilah The Taxi Cab Theory.

Teorinya sederhana, tapi kalau dipikir-pikir agak menyebalkan.

Konon, laki-laki itu seperti taksi. Selama lampunya belum menyala, ia akan terus berjalan. Bisa bertemu banyak perempuan, jatuh cinta, menjalin hubungan bertahun-tahun, bahkan mungkin bertemu seseorang yang sebenarnya sangat ia inginkan. Tapi kalau saat itu ia belum ingin menikah, ya tidak akan menikah.

Lalu suatu hari lampunya menyala.

Available.

Ia merasa sudah cukup bermain-main, kariernya sudah lumayan, hidupnya sudah lebih tenang, teman-temannya satu per satu menikah, atau entah apa yang akhirnya membuat seorang laki-laki berpikir: kayaknya gue mau nikah. Dan menurut teori ini, perempuan yang kemudian dinikahinya belum tentu perempuan yang paling ia cintai sepanjang hidupnya. Bisa jadi ia hanya perempuan yang kebetulan ada di sana ketika lampu itu menyala. Dan ini ternyata bukan omong kosong, dalam kehidupan nyata, saya menemukan bukan hanya satu fenomena seperti ini, saya menemukan beberapa laki-laki yang mengakui bahwa mereka menikah bukan dengan orang yang betul-betul diinginkan, mereka menikah semata karena alasan: sudah ingin dan sudah siap menikah, lalu kebetulan ada dia disana, dan ya sudah, taraaa... menikah deh.

Nah, bagian ini yang menurut saya agak kejam.

Karena berarti kita bisa menjadi perempuan yang sangat dicintai pada waktu yang salah, lalu melihat laki-laki yang sama menikahi perempuan yang baru dikenalnya karena perempuan itu datang pada waktu yang tepat.

Kita mungkin pernah bersamanya bertahun-tahun. Menemaninya ketika hidupnya belum jelas. Tahu makanan kesukaannya, hafal kebiasaan buruknya, mengenal keluarganya, tahu bagaimana wajahnya ketika marah dan bagaimana suaranya ketika baru bangun tidur. Tapi ketika ditanya soal pernikahan, jawabannya: Aku belum siap.

Lalu hubungan itu berakhir.

Beberapa waktu kemudian kita mendengar dia menikah dengan perempuan lain.

Rasanya tentu ingin protes.

Lho? Katanya belum siap?

Tapi mungkin waktu bersama kita dulu, dia memang benar-benar belum siap.  Dan mungkin ini bagian dari Taxi Cab Theory yang cukup masuk akal: cinta dan kesiapan ternyata dua hal yang berbeda. Kita bisa mencintai seseorang tanpa siap membangun kehidupan bersamanya. Dan ketika akhirnya kesiapan itu datang, orang yang dahulu kita cintai mungkin sudah tidak ada di sana.

Tapi ada sesuatu dari teori ini yang mengganggu saya.

Kenapa hatrus laki-laki yang menjadi taksi?.

Kenapa laki-laki digambarkan punya kemewahan untuk terus berjalan, mencoba berbagai hubungan, membangun karier, menikmati hidup, lalu suatu hari memutuskan sendiri kapan lampunya akan menyala?.  Sementara perempuan seperti orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Menunggu. Berharap kebetulan berada di sana ketika sebuah taksi akhirnya available.

Ada asumsi yang sangat patriarkal di balik gambaran sederhana itu: seolah laki-laki punya waktu yang hampir tidak terbatas untuk menentukan kapan ia siap, sementara perempuan punya tenggat. Laki-laki berusia tiga puluh sekian dan belum menikah dianggap masih ingin menikmati hidup. Perempuan pada usia yang sama mulai ditanya kapan menikah, disuruh jangan terlalu pemilih, diingatkan tentang umur, tentang anak, tentang kesuburan, seakan-akan ada jam besar yang terus berdetak di belakang kepalanya.

Dan mungkin karena itulah perempuan sering kali lebih mudah terjebak dalam hubungan yang tidak jelas.

Barangkali tahun depan dia siap.

Mungkin setelah pekerjaannya lebih mapan.

Mungkin setelah masalah keluarganya selesai.

Mungkin kalau aku sedikit lebih sabar.

Lalu satu tahun menjadi dua. Dua menjadi lima. Tanpa sadar kita tidak lagi menjalani hidup sendiri. Kita sedang menunggu lampu orang lain menyala. Saya rasa di sinilah Taxi Cab Theory menjadi berbahaya kalau diterima mentah-mentah. Karena perempuan bisa dibuat percaya bahwa tugasnya adalah bertahan sampai seorang laki-laki akhirnya siap.

Apalagi ada ketakutan yang sangat manusiawi: Bagaimana kalau aku pergi sekarang, lalu perempuan berikutnya justru yang dinikahinya?

Sakit, tentu saja. Membayangkan kita menemani seseorang bertahun-tahun, kemudian perempuan yang datang setelah kita mendapatkan rumah, pernikahan, dan kehidupan yang dulu pernah kita bayangkan bersamanya.

Tapi semakin saya pikirkan, mungkin pertanyaannya memang bukan: Bagaimana kalau setelah aku pergi dia menikahi perempuan lain?

Pertanyaannya justru: Berapa banyak hidup saya sendiri yang bersedia saya habiskan menunggu seseorang memutuskan apakah ia menginginkan kehidupan yang sama dengan saya?.

Karena kesiapan dia adalah haknya. Tapi menunggu bukan kewajiban kita.

Kalau seseorang mengatakan ia belum siap menikah, mungkin kita memang harus mempercayainya. Bukan menerjemahkannya menjadi tunggu aku, bukan pula menjadikannya proyek yang harus kita selesaikan sampai suatu hari ia berubah pikiran. Ia boleh belum siap. Dan kita boleh pergi.

Kalau lima tahun kemudian dia menikahi perempuan lain, itu tidak otomatis berarti perempuan itu lebih baik daripada kita. Tidak juga membuktikan bahwa selama ini kita kurang cantik, kurang sabar, kurang pengertian, atau kurang layak untuk dipilih.

Mungkin hidupnya memang sudah berubah. Mungkin dirinya sudah berubah. Mungkin lampunya baru menyala saat itu. Dan mungkin kita memang datang terlalu cepat. Atau mungkin sesederhana; "memang bukan jodohnya".

Tapi ada satu hal yang rasanya perlu dikoreksi dari teori ini. Perempuan bukan seseorang yang berdiri di pinggir jalan menunggu taksi mana yang akhirnya berhenti di depannya. Dia juga punya kendaraan sendiri. Punya tujuan sendiri. Punya waktu sendiri. Punya jalan-jalan yang ingin ditempuh dan tempat-tempat yang ingin dituju. Kadang kita bertemu seseorang dan ternyata ingin pergi ke arah yang sama. Menyenangkan sekali kalau waktunya juga tepat. Tapi kalau ternyata tidak, mungkin kita tidak perlu terus berdiri di persimpangan sambil berharap suatu hari ia akan berbalik arah. Biarkan dia pergi. Kita juga punya perjalanan. Karena pada akhirnya, mungkin masalahnya bukan siapa yang berdiri di sana ketika lampu taksinya menyala. Tapi apakah kita benar-benar mau menghabiskan hidup dengan menunggu taksi seseorang, sementara kendaraan kita sendiri sejak tadi sudah siap berangkat.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ah, Sudah Biasa

  Saya sangat suka membaca dan memasak. Untuk urusan yang kedua, saya bukan juru masak hebat. Masih sering membuka resep, masih suka mengira...